13 May 2020

Tak Terganti

Kembali aku ingin bilang, 
kalau kita mati...
kantor akan segera mendapatkan pengganti,
teman akan segera menemukan pengganti.
kekasih akan menemukan pelipur hati.

Tapi bagi keluarga, dapatkah kita diganti?
Adakah yang menjual cadangan Ayah, Ibu, Adik, atau Kakak?

Arti

Sering aku bertanya, apa arti adaku bagi alam semesta. 
Saking seringnya, aku lupa bertanya, 
apa artiku bagi rumah ini dan semua cerita yang pernah jadi bagiannya.

Adakah?


09 May 2020

Patah dalam Diam

Manusia selalu punya cara untuk menjadi jahat,
tanpa menyadari
bahwa mereka
telah berbuat jahat.

Di kotak kuning sempit ini
aku hanya bisa tenggelam

aku patah dalam diam.


29 April 2020

Charity with Family

Hari ini seneng banget.
Di tengah pandemik covid yang makin lama bikin aku makin merasa muak, aku berusaha melakukan hal-hal baik dan membahagiakan di sela-sela work from home. Ya, wfh-nya tempat kerjaku itu beneran, bukan kaleng-kaleng. Seriusan kerja dan sampai lembur kayak barusan.

Nah, sejak beberapa hari lalu sudah janjian sih sama Mama dan Mardian, kita mau bagi-bagi makanan buat orang-orang yang lewat di depan jalan.
Akhirnya, hari ini terwujud, walaupun sempat ada kendala.
Kendala pertama, Mardian lama banget nggak balik-balik dari pagi. Padahal rencananya mau pakai motor buat bagi-bagi makanan berbukanya. Nah, daripada kelamaan nunggu Mardian balik, aku dan mama memutuskan untuk jalan kaki saja ke depan jalan raya.
Kendala kedua, sampai jam empat sore lebih, aku masih terjebak di virtual meeting dengan bos dan kawan-kawan kantor. Padahal, aku harus bantuin Mama.
Syukurlah jam 16.30 rapat beres. Setelah salat ashar, aku dan mama segera turun ke jalan.

Senang rasanya bisa merasakan bagi-bagi makanan berbuka dengan Mama. Biasanya aku melakukanya dengan kawan-kawan. Mungkin ini juga adalah pengalaman pertama Mama melakukan hal tersebut. Apalagi makanan yang kami bagikan adalah masakan Mama sendiri, yang juga kumakan saat berbuka. Masyaa Allah.

Aku berdoa, semoga kegiatan hari ini bukan yang terakhir. Semoga kami sekeluarga diberi kelapangan pintu rezeki agar bisa terus berbagi dengan orang lain, khususnya orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amiin.

Oiya, hari ini juga ada yang baru di rumah mama. Tadi pagi, mama minta tolong Mang Adang, yang datang bersama sepupuku Najla, untuk mengganti bingkai lampu di ruang makan. Tadinya almarhum Papa memasang lampu raksasa, mirip di kantor-kator. Akhirnya aku dan mama sepakat untuk mengganti dengan lampu gantung minimalis yang cantik.

Sedetik Setelah Ini

Setiap hari, ketika kita bangun tidur, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi sehari ke depan. Bahkan walau kita udah punya segudang rencana.
Kita nggak akan tahu bahwa kita akan gembira, bersedih, kecewa. Kita juga nggak akan pernah tahu apa akan ada orang yang membuat kita bahagia, membuat kita kecewa, bahkan sengaja menyakiti kita.
Semua serba tak terduga. Bahkan, kita tak akan tahu, sedetik setelah kita membaca tulisan ini akan ada apa.

Just be kind to others.
Jangan sekalipun terlintas keinginan untuk menyakiti orang lain.

19 March 2020

Keputusan untuk Pulang

Sedari pagi aku bingung, pulang apa tidak...
Aku juga kepikirian rumah, di sana apa orang-orang rumah udah menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah dengan benar?
Mardian pakai masker enggak kalau pergi? Mama masih ke pasar? Di rumah ada desinfectan? Ada hand sanitizer? Vitamin gimana?
Ada yang sakit atau enggak?
Semua pertanyaan itu muter di kepalaku.
Maka, sambil menuntaskan pekerjaan dan menbereskan cucian, menaruh sebagian pakaian di laundry, dan lain-lain, aku akhirnya memutuskan akan pulang ke Bandung malam ini.
Sementara, orang kantor sudah menunggu kelengkapan dataku untuk pengajuan WfH dari kampung halaman, khusus untuk pegawai yang pulang kampung.

Aku pulang pakai travel CT Trans jam 7 malam. Beruntung, malam ini penumpangnya hanya aku dan satu orang lain. Di waktu-waktu yang menuntut adanya physical distancing ini, aku harus memilah2 transportasi yang cenderung sedikit penumpang.

Sekitar jam 10 malam aku sampai di rumah. Ada Mardian. Dia membukakan pintu. Tadinya dia akan membawakan barang-barang bawaanku. Tapi aku cegah dia.
Lalu, aku segera bersih-bersih, mandi, mencuci baju dan tasku. Jam 12 tengah malam lewat aku baru selesai.
Aku tidur, dan mulai besok aku akan menjalani cerita baru, walau itu di kota lahirku sendiri.
All is well.. all is well..
and now I'm home.

17 March 2020

Hari Pertama WfH

17 Maret 2020
Alhamdulillah, atasan-atasanku sudah ngasih izin untuk pulang ke Bandung, dengan syarat jangan kelayapan.
Aku masih ragu. Masih nyari info prosedur kesegatan, sambil menjalankan work from home hari pertama. Sungguh aku gak mau bawa virus ke Bandung.
Di Bandung, Zea nginap di rumah. Kabarnya dia lagi sakit. Aku beneran khawatir dan berdoa semoga Zea cepat sembuh.
Situasi wabah corona ini bikin parno. Orang yang sakit batuk flu biasa aja dikira kena covid.

Aku di kosan masih bebenah dengan meja baru. Kuharap bisa bikin nyaman dan betah selama aku WfH di kosan. Aku juga nyempetin nyuci pakaian, mumpung matahari lagi genit-genitnya.
Atasanku mengira aku sudah ke Bandung. Padahal aku masih galau di sini. Mikir terus tiap detik.
Pulang jangan... pulang jangan...
Sementara udah ada edaran bahwa perantau yg wfh di kampung halaman wajib lapor ke atasan secara tertulis.
Ini aku mau laporan gimana kan belum pasti mau ke Bandung apa enggak. Sungguh pertentangan batin.
Siangnya aku janjian maksi dengan kawanku Fitri, dia mau pinjam novel buat isi waktu selama WfH. Kukasih pinjam novel "Pangeran dari Timur" karya Mas Kurnia Effendi dan Mas Iksaka Banu. Padahal belum sempat kubaca. Tapi yasudah, daripada nganggur, kupinjamkan dulu saja pada Fitri.

Sepulang dari maksi, aku mikir... gimana caranya bertahan di kosan dengan kondisi ini? Warteg2 bisa jadi akan segera tutup. Kalau ngandelin Go Food, untuk makan sehari tiga kali, rasanya over budget buatku. Gimana caranya hemat? Sementara kosan ini belum kuisi dengan alat masak dan kulkas seperti biasanya. Ya, sejak pindah dari Solo, aku berusaha ngekos minimalis. Makanya barang-barang banyak yang masih kutinggal di Bandung. Tadinya kupikir kalau rumah yang di SanurValley sudah jadi tahun depan, barang-barangku yang nyempitnyempitin rumah Mama bisa langsung kuangkat dari Bandung saja langsung ke calon rumah.

Aku lihat portingan WA story kawanku, Fatikah. Dia akan Wfh di kosan saja. DIa baru beli magi com di JDID. Aku terpikir untuk beli juga. Sebab punyaku masih disimpan di Bandung.
Tapi rencana itu kutunda dulu. Aku belum memutuskan akan bertahan di kosan atau akan pulang.

Sementara di luar sana, berita tentang COrona makin santer. Bahkan aku nguping Mbak Suli (Mbak Kosan) ngobrol tentang Corona dengan anaknya,
Selain itu, ada kawan kosanku yang batuk-batuk terus. Makin parno lah aku. Itu bakal jadi alasan kuat untuk pergi dari kosan, menuju rumah.

16 March 2020

Last Day of Work from Office

16 Maret 2020
Ini hari terakhir bertemu teman-teman di kantor. Sebab mulai besok akan diberlakukan work from home.
Pagi menjelang siang sampai benar-benar siang, aku kumpul di kantin dengan Dawi, Priam, dan Dewi. Sambil maksi, kami bagi-bagi hand sanitizer.
Setelah itu kami berpisah, entah kapan akan bertemu lagi.
Sore sekitar jam 4, hasil Sidang Badan diumumkan, dan fix kami akan WfH hingga dua minggu.
Aku galau. Entah akan pulang ke Bandung atau tidak.
Atasanku sempat melarangku ke Bandung, takut terjadi penularan ke orang rumah. Sementara Minggu kmrn aku sempat beli meja belajar ke GI, dan Sabtunya sempat main ke rumah Priam sekalian ke AEON.
Kupikir-pikir dulu sambil mempelajari prosedur kesehatan yang seharusnya.

21 January 2020

Kelana Sebah

Pernahkah kamu merasakan ini?

Ditinggalkan oleh orang yang paling kamu percaya, tanpa alasan yang masuk di nalar.

20 May 2019

Aku Masih di Sini. Di Solo.

Dan aku masih di sini. Di Solo. Berjuang menyelesaikan tesis, dan segala 'atributnya'. Berusaha memupuk semangat dan merengkuh harap tentang hari nanti yang lebih berarti.

Hari-hari berganti. Progres tesisku mungkin lamban, namun berarti. Bersama kawan dan doa bunda yang melekat di hati.
Aku masih di sini.
Terus memupuk semangat,
dan diam-diam melupakan rasa patah sebab jatuh hati.

Kau.
Hentikanlah.
Jangan memupuk harap rindu,
jika tak ada rasa yang kaupunya untukku.