Hai.. Aku Kembali Bicara Padamu

 Hai, aku kembali bicara padamu. Setelah puing-puing hidupku yang berserakan kususun kembali satu per satu. Sampai aku kembali merasa nyaman dan bisa sebaik-baiknya hidup, walau tanpa harapan lagi untuk bisa bertemu denganmu.


Ini hari Minggu, di Jakarta, yang masih tanpa adamu. Ah, seperti inilah rupanya hidupku -yang kini tak ada kamunya, walau kamu masih ada dan sepertinya masih akan disembunyikan oleh semesta dariku dalam waktu lumayan lama.

Sore ini, di depan segelas kopi japanese segar, dengan beans pegasing takengon, yang digiling halus, aku melamun, sambil sesekali mencecap cokelat matcha cake yang manis.

Aku berpikir tentang isi pikiranku, yang masih saja bersisa kenangan denganmu, juga seskali berkisah tentang harap untuk bertemu kamu-yang tak punya keinginan menemuiku. Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat, bukan. Tiga belas tahun lalu, tahun yang berat namun membentukku jadi kuat. Tahun yang benar-benar mewujudkan kekhawatiranku, ketika aku tak bisa lagi bertemu kamu. Tahun yang pernah terasa bagai mimpi buruk, karena aku merasa ditinggalkan. 

Pernah, tujuh tahun lalu kita bertemu, dalam ketakterdugaan. Namun, pertemuan yang seharusnya jadi satu yang kutunggu, berubah jadi rapal mantra penghindar, sebab aku takut akan luka. Takut tenggelam dalam harap, lalu menguap sebagai kecewa. Maka, kupahatkan kisah pertemuan itu sebagai cerita biasa. Agar tak ada doa berlebih untuknya, sehingga hari ini aku masih merasa lega, walau sesekali ada kelucak rindu ingin bertemu.

Sudahlah, mari ita pulang

Comments

Popular Posts