30 April 2008

Beribu Detik Kurayapi Sepi














Kali ini, aku hanya ingin menyampaikan geliat resah yang merambat di ceruk pori waktu. Di sini, kutebar jala, kurangkum keping tanya yang sulit dijawab. Ya, memang tak sanggup kuterjemahkan. Aku terus bertanya. Otakku menyampaikan curiga ke relung hati. Tetapi, yang kudapat hanya sekelumit hampa. Tanpa jawaban. Tanpa kata. Tanpa frasa. Tanpa klausa. Tanpa kalimat. Tanpa dongeng-dongeng indah tentang cinta. Diam-diam, semua menggerogoti bahagiaku.
Bahkan, hingga kau pergi dengan angkuh di bawah rimbun gerimis.

Sakitku bukan bagian hidupmu. Bukan novel atau cerita lucu yang ingin kaubaca. Ini hanya setangkup rasa ngilu yang sebenarnya ingin kubagi. Tetapi, tiada sesuatu yang dapat kubagi. Aku hanya takut kau berlari setelah menelan kisah yang terurai dari mulut lesuku.

Bahagiaku adalah milikimu. Bahkan, saat waktu kutelusuri di sungai bahagia, kubagi sampan ini bersamamu. Aku ingin kau bahagia saat kudirengku suka cita. Meskipun, aku tahu, bahumu akan sirna di bawah redup cahaya bulan saat bahagiaku mati.

Kaukah "xavier" yang selama ini kutunggu? Atau kau hanya "pavacada" yang lenyap dalam embus sunyi bersama terbit embun di bibir pagi. Atau kau hanya jingga yang sirna di jilatan lidah senja.

AKu mencintai pisau yang berkali-kali kauhujamkan di dadaku.
Parah. Merasuk terlalu dalam sehingga aku jadi batu.

Aku ingin pergi dari teduh wajahmu karena teduhmu menyakiti bungaku.

Aku ingin kautahu, aku kesakitan malam ini saat kupandangi layar handphone yang tak menampakkan namamu.

Beribu detik kurayapi sepi. Kau tak akan pernah ada meskipun hanya sekadar menggenggam bahuku dan memberikan kekuatan di tengah letih hidupku.

- Sigit Rais , April 2008-