28 May 2015

Bahagia, Walau Hanya Satu Hari -Workshop Cerpen Kompas, 25 Mei 2015-

Penampilan seru Kang Adew Habtsa & Peri Sandi
Pengarahan Bli Putu Fajar Arcana
Wejangan berharga dari Pak Putu Wijaya, idola saya.


Pencerahan tak biasa dari Kang Ahda Imran.
Teh Lucky asik dengan wawancaranya


Tim Braga
Tim Braga

Para penyair keren sedang serius belajar cerpen.


Saya dan Pak Putu Wijaya



Peserta Workshop Cerpen Kompas 2015 Bandung dengan Pengajar dan Panitia

26 May 2015

Kabar untuk Ayah

Mana mungkin aku tega berkabar pada Ayah tentang dunia yang telah bertahun-tahun ditinggalkannya. Dunia yang katanya diciptakan oleh Tuhan untuk berbagi napas kehidupan. Dunia yang seharusnya membuat semua makhluk penghuninya merasa nyaman. Dunia yang telah mempertemukan dia dengan belahan jiwanya.
Apa yang harus kukatakan pada Ayah? 
Haruskah kukatakan, rasa cinta tak lagi pekat terasa. Orang-orang membawa benci di kepala mereka ke mana-mana. Mereka berjalan dengan jumawa, tapi penuh ketakutan. Mereka pongah, tapi berdiri di atas rasa putus asa. 
 
Haruskah kubilang, kini pemimpin hanya dijadikan tontonan. Siapa saja bisa cinta buta, bisa juga meghujat sekejam mereka suka. 
 Berkali-kali aku pusing membedakan fakta dan realita. Aku tak tahu mana yang sinema, mana yang nyata.
Tak hanya aku, rekah ceria remaja-remaja yang baru saja membuka mata, kini terasa jadi hantu. Sebab, melihat masa depan, aku selalu bergidik ngeri. Seperti tak ada warna-warni mimpi.
Lalu, bocah-bocah yang lucu itu mendadak jadi sekawanan vampir yang menyukai bau anyir. Rasanya tak ada luhur cita-cita seperti yang selama ini dipelihara. Tak ada lagi kebanggaan seperti saat Ayah menatap kibar bendera di gantar bambu, di halaman rumah kita. 

"Ayah, aku minta maaf. Kali ini ceritaku gelap semua. Sebetulnya tak pantas kukisahkan padamu yang telah lama tenang di sana."

Tak ada yang sanggup kukabarkan pada Ayah, selain senyum hangat Bunda yang sejak dulu selalu setia dan penuh cinta.

23 May 2015

Mari, Mendongeng

Di luar dugaan, saya dapat tawaran ngisi materi di Komunitas Great Muslimah. Materinya adalah "MENDONGENG".
Saya sempat terkejut melihat flyer acara tersebut. Sebab, di sana tertulis nama saya sebagai penulis dan pendongeng. Ini kali pertama saya tampil dengan 'jabatan' PENDONGENG. Walaupun saya pernah beberapa kali praktik mendongeng buat anak-anak dan sangat tertarik pada dunia mendongeng, belum pernah terpikir sedikit pun saya memproklamirkan diri sebagai pendongeng.

Siang itu, 23 Mei 2015 di kantor Great Muslimah di Jalan Cihaurgeulis Bandung, saya cuap-cuap sharing pengalaman tentang dunia mendongeng di hadapan para peserta yang seluruhnya adalah muslimah. Mereka tergabung dalam komunitas Great Muslimah.

Selain berbagi cerita tentang dunia mendongeng, saya juga sedikit menularkan kegilaan melalui kegiatan olah tubuh, olah ekspresi, olah vokal, dan lain-lain. Semuanya dilatih agar peserta semakin mantap berekspresi saat praktik mendongeng, baik untuk buah hati sendiri, atau untuk siswa-siswa yang mereka bimbing.
Alhamdulillah, semoga pertemuan singkat ini bergizi dan mendatangkan kebaikan, baik bagi saya, maupun bagi pesertanya. Aamiin..






22 May 2015

Transkrip Kesunyian

 *dimuat di Sastra Mata Banua 15 Mei 2015




Transkrip Kesunyian
 
lamat isyarat melesap ke celah-celah nadi
terurai jadi aksara yang berkisah tentang sunyi
lampu kota meredup
menyihir jiwa-jiwa menyurup
yang terluka
dan terpasung di jumawa ibu kota

telinga terbuka menganga
tapi tak bisa menangkap suara
tak bisa dengar apa-apa
tak bisa bedakan gaduh dan sunyi yang purba

kini hanya kekata
tersaji sebagai transkrip kesunyian
di ujung hujam cahaya yang sisakan hampa

2015








21 May 2015

Ketakutan

Di sela riuh aroma tawa,
aku menangkap seulas senyum yang dipenuhi ketakutan.
Takut tak diterima, takut jadi tua, takut dijungkirbalikkan dunia,

Ketakutan.
Takut pada sesuatu yang terasa mengancam.
Takut pada sesosok tubuh yang sebetulnya ketakutan juga.

Pernahkah kamu merasa takut?
Lalu, pada siapakah rasa takut itu kamu adukan
selain pada Yang Maha Menjaga?