11 December 2010

Fragmen Gerimis dan Penunggang Kuda



"hujan turun tak deras, tapi rindang tipis-tipis"

Selalu dan selalu. Kalimat yang menjuntai di benakku saat hujan turun membasuh tanya dan curiga. Tanya tentang rahasia yang ingin disampaikan hujan, curiga pada ringkai cuaca ganas yang menghujam bertubi-tubi.
Lamat, kudengar suara langkah kuda yang menghentak di gigil kabut. Di ujung jalan, seseorang dengan jubah berpenutup kepala menghunuskan pedangnya dan ciptakan peperangan.

Pada gelagatmu, aku selalu bertanya-tanya, apa yang telah kulakukan pada semesta hancur hatimu?
Sehingga ada api yang kausemat pada dinding kesedihanku.
Aku tahu, kau tak akan tahu, ada deret rasa sakit yang sedang kutimbun di balik senyuman. Ada pedih kekisah yang kutanam di atas bebunga bahagia.
Dan datangmu membuat segalanya terasa lebih berat.

Tatap mataku dalam-dalam.
Adakah pendar dan inginku untuk menyakiti?
Tangkap kekataku dalam diam.
Adakah isyarat yang menghujamkan sembilu ke arah matamu?
Ke arah bibirmu yang dilumuri merah bulir darah.

Lihat aku, lalu genggam tanganku.
Akan kutarik tubuhmu dari malap cahaya mati bulan.
Dari peperangan yang bersemayam di jagat pikirmu.
Dari curiga yang mendekam dan membunuh bahagiamu.
Dari jumawa yang membuatmu merasa jadi pemenang dalam sebuah kompetisi yang sebetulnya tak pernah kuhadiri.

Lihat aku, rasakan gerimis yang rindang tipis-tipis.
Akan kupahatkan sayap, agar kau bisa segera melesat bebas dengan kudamu. Melejit di awan yang berjinjit. Dan tertawa riang di sekujur atmosfir cahaya.
Pergilah dengan tengang. Beristirahatlah dengan tenang tanpa rasa dendam.

08 December 2010

Fragmen Larut Malam

Sudah larut malam. Sangat larut. Sudah jauh aku melangkah meninggalkan pesan terakhir tentang keluh kesah yang kusampaikan padamu dalam rasa marah.

Tak usai kuberpikir tentang ratusan hari yang telah kulewati dengan tubuhmu yang cadas. Dengan beku gigil yang selalu kau sampaikan lewat dingin tatapan. Saat-saat seperti itulah aku merasa seperti diasingkan di kedua kutub bumi dalam waktu bersamaan.

Dan kemarin, candradimuka di dadaku meluap. Meletus serupa merapi. Dan di sana kau menjadi petugas penunggu seismograf yang memantau dan mencatat getaran gempa yang kusampaikan lewat kata-kata.

Mungkin bintang-bintang letih dengan kebekuan. Pula matahari yang tak sabar ingin membakar. Tak terima dengan kekata dingin yang kau lontarkan bertubi-tubi di setiap laju gelitik detik yang terus mengusik.

Setelah itu, kembali kau ciptakan misteri. Ada pendar aurora yang mengikis luka di wajah langitku. Ada pendar abstrak nyala cahaya yang diam-diam secara lamat kau sampaikan ke laju darahku.

Aku terdiam. Merenung. Mulai mencari-cari beda hitam putih, setan malaikat, dan kau selalu memilih untuk berada di wilayah abu-abu.

Kau di mana? Di ujung mimpikah?

Sekarang hanya ada penat di kepala yang terus diisi oleh kertas-kertas bergambar sketsa hujan.



Ini sudah larut malam,

dan aku tak ingin tertidur tanpa jawaban kepastian yang menegaskan arti keberadaan hitam di lanskap langit malam.

02 December 2010

1 Desember 2010

Hayah, kepalaku sing pusing wae taiyeu... Beuh, efek kepusingan kerjaan beberapa minggu ini ternyata belom ilang. Nyat nyut nyat nyut... begitulah rasanya kepala ini. Kerjaan remeh temeh yang kalo dikalkulasiin lumayan banyak juga ini bikin puyeng. Ditambah lagi ke-crowded-an ruangan yang bikin nggak fokus sehingga kerjaan gak beres-beres. Di sini aku sadar kalo suatu kerjaan itu, sebaik apapun usaha kita untuk segera menyelesaikannya, tetep aja bakal berhadapan dengan kepentingan pihak lain.
Dan lain2 dan lain2 yang berakumulasi.

Pas aku lagi nganter dokumen ke lantai 9, tones 'hariku bersamanya' Nokia E71-ku berbunyi. Ternyata temenku, Rivan. Ohoho, hampir aja aku lupa, kemaren, tanggal 30 November, aku smpet meracau ngomel2 via sms ke hapenya. Maklum, urusan kepusingan kerjaan kek gini, aku lebih ngerasa klop kalo cerita sama dia. Dan kemaren aku lumayan kalut karena membaca sms dua huruf yang tidak enak dibaca (saat itu)dalam kondisi mental yang sensi. Haha. Karena gak sempet angkat, kukirim sms bertema 'ada apa?' karena aku memang lupa sama percakapanku dengannya yang terakhir kemaren.
Deredet, dia mengirimkan sisa-sisa percakapan via sms secara utuh. Kayak dosen yang ngasih kisi-kisi sama mahasiswanya menjelang ujian.
Setelah sadar diri (mungkin disadarkan) bahwa kemaren udah lebay berkeluh kesah, kuakhiri saja keos internal itu dengan mengirim sms yang bertema "semua sudah membaik". Halah. Semoga lu cepet datang cuy, ribet juga ngurusin gawean ini sendirian.

Nah, setelah mengatur agar pekerjaan hari ini "baik-baik saja", aku segera pulang ke kosan. Nggak lupa makan dulu di warteg deket kandang kera yang nasinya anget dan enak. abis itu, tidur sampe sore. Saking pusingnya.
Sorenya, hapeku bunyi lagi. Kali ini ANgga yang ngajakin nonton. Tadinya mau nonton Babies. Tapi rencana diubah. Jiffest jadi tujuan. Walau masih pusing, aku hayu hayu aja. Semoga ini bisa meredakan kepusingan.
Pas twilight, alias senja, aku dan Angga berangkat ke Pasific Palace. Kami lanjut sholat di parkiran (bingung, kenapa tempat ibadah selalu di parkiran). Abis itu, kami langsung nyusul Fitri dan Mba Eny yang udah nungguin di tempat makan yang namanya ada secret2nya gitu.
Lalu, kamu nonton film SIngapur yang judulnya forever. Unik filmnya. Aku suka sama karakter ceweknya yang psikopat tapi ngomik dan lucu banget. Dia ngelakuin banyak cara buat dapetin cowok yg diinginkannya. Pokonya, di endingnya tuh cewek masuk rehabilitasi mental, dan pas keluar, dijemput sama cowok impiannya itu. Haha. Sebage cowok, serem juga ya kalo ada cewek yang ngincer kita sampe stres gitu.

Abis itu, setelah 'rebutan magnum' di Kem Chicks, kami pulang ke pusara masing2. HAH??
sayangnya, kepalaku masih nyut nyutannnn............

01 December 2010

Stop diskriminasi terhadap ODHA


“Stop diskriminasi terhadap ODHA!” Kalimat semacam itulah yang sering menggema di setiap belahan dunia setiap awal Desember tiba. Pembagian pita merah dan acara-acara renungan yang diterangi nyala lilin pun kini telah membudaya. Semua terwujud atas nama kepedulian terhadap para ODHA, khususnya, dan umumnya pada keberlangsungan hidup umat manusia yang sedang diintai oleh penyakit mematikan, HIV/AIDS. Penyakit ini begitu marak dibicarakan dan jadi pusat perhatian masyarakat dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa saat ini HIV/AIDS telah jadi sesuatu yang besar di muka bumi dan wajib diwaspadai. Bagaimana tidak? Epidemi HIV/AIDS telah meluas ke seluruh dunia dan siap jadi dewa kematian terganas sepanjang masa.
Epidemi ini mengingatkan kita pada wabah penyakit yang terjadi di benua Eropa beberapa abad yang lalu, yaitu wabah Black Death. Wabah ini telah merenggut jutaan jiwa dalam waktu singkat. Penyebab utamanya adalah sejenis bakteri bernama yersinia pestis. Bakteri ini ditularkan oleh kutu yang berkembang biak di bulu-bulu tikus, kemudian ditularkan pada manusia. Penderita mendadak lumpuh dan mengeluarkan darah kehitaman dari lubang-lubang di tubuhnya termasuk organ vitalnya. Menurut catatan sejarah, pada salah satu perkampungan di Inggris yang dijangkiti wabah ini, seluruh warganya tewas dalam kondisi mengenaskan. Sekelompok biarawan yang lewat perkampungan itu hanya menemukan tulang belulang yang tersebar di seluruh penjuru perkampungan. Lalu mereka membumi hanguskan kampung itu agar wabah tersebut musnah tanpa sisa.
Begitu pula halnya dengan epidemi HIV/AIDS, makin hari pertumbuhannya makin cepat saja. Ibarat pohon yang awalnya hanya setangkai tunas kini HIV/AIDS telah tumbuh jadi sebuah pohon kokoh yang sulit untuk ditebang. Pohon itu tumbuh dengan cepat tanpa mengenal cuaca. Tanpa pandang bulu siapapun bisa dijangkiti oleh penyakit mematikan ini. Yang jelas HIV/AIDS adalah salah satu ancaman berbahaya bagi keberlangsungan populasi manusia dan sudah menjadi pandemi.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome disebabkan oleh virus yang bernama Human Immunodeficiency Virus. Virus ini bekerja dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh. Orang yang hidup dengan AIDS akan terus menjadi lemah, daya tahan tubuhnya berangsur-angsur berkurang, tubuhnya kehilangan kemampuan untuk melawan penyakit. Adapun penularannya dapat terjadi melalui beberapa cara. Pertama, penularan melalui jarum suntik yang dipakai secara bergantian dengan orang yang telah terinfeksi. Kedua, penularan melalui aktivitas seksual dengan orang yang telah terinfeksi. Ketiga penularan dari seorang ibu yang terinfeksi terhadap janin yang sedang dikandungnya dan melalui ASI yang dikonsumsi bayi.
Di Indonesia. HIV/AIDS telah jadi salah satu ancaman berbahaya bagi keberlangsungan hidup bangsa. Sejak pertama kali ditemukannya kasus HIV/AIDS pada tahun 1987 di Bali hingga saat ini tercatat sedikitnya telah ada sekitar 8.000 kasus, yaitu 4.065 kasus HIV dan 4.186 kasus AIDS. Ini adalah angka yang cukup mengkhawatirkan terlebih sebagian besar penderitanya ada dalam tingkatan usia produktif. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat dengan pesat di kalangan usia 15-24 tahun.
Ada tiga penemuan utama yang berkaitan dengan HIV/AIDS di Indonesia, yaitu pertama, peningkatan penyebaran HIV/AIDS di kalangan penggunan narkotika suntik yang kian akrab dengan dunia remaja. Kedua, peningkatan penyebaran HIV/AIDS di kalangan pekerja seks komersial dan konsumennya. Ketiga, catatan bahwa di Papua HIV/AIDS telah masuk ke lingkungan masyarakat biasa. Untuk menyikapi kekhawatiran ini tidak cukup hanya dengan berdiam diri. Dalam hal ini diperlukan adanya kerjasama dari pemerintah dan masyarakat. Langkah awal yang harus ditempuh adalah penyuluhan mengenai seluk beluk penyakit HIV/AIDS serta bagaimana cara menyikapinya. Kemudian perlu adanya pemerluasan informasi mengenai bagaimana proses penularan HIV/AIDS dan bagaimana cara menghindarinya. Contohnya yaitu tidak menggunakan jarum suntik bekas dan menggunakan alat kontrasepsi yang dianjurkan oleh pemerintah. Kemudian pemerintah pun harus memberikan bantuan pada para penderita berupa obat antiretroviral (ARV) agar harapan hidup penderita bertambah. Dan satu hal yang tak kalah pentingnya yaitu meluruskan pemahaman masyarakat tentang bagaimana cara menyikapi penderita.
Selama ini HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit menakutkan yang kotor dan terkutuk oleh sebagian masyarakat. Hal ini terjadi karena telah terbentuk semacam pandangan bahwa HIV/AIDS identik dengan dunia hitam, yaitu dunia yang dihujat keras dalam kitab suci setiap agama (pelacuran dan perzinahan). Pandangan tersebut memang tidak bisa disalahkan walaupun itu adalah pandangan yang terlampau dangkal dan sempit. Pandangan seperti inilah yang telah memarginalkan para ODHA walaupun pada kenyataannya tidak semua ODHA berawal dari perilaku seks yang salah, misalnya yang ditularkan dari suami atau ibu kandungnya. Selain itu ada juga anggapan yang mengatakan bahwa HIV/AIDS bisa ditularkan melalui kontak fisik biasa dan kontak udara sehingga ODHA pantas untuk dikucilkan. Anggapan ini adalah anggapan yang benar-benar salah. HIV/AIDS tidak menular melalui bersalaman, berciuman pipi, berpelukan, gigitan nyamuk, dan kegiatan kontak fisik biasa lainnya karena HIV hanya terdapat dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI.
Dalam hal ini masyarakat perlu diberikan pengarahan agar tidak melakukan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap penderita HIV/AIDS. Karena Indonesia pun turut serta dalam penandatanganan deklarasi Paris, Desember 1994, yang berisi kesepakatan untuk selalu mendukung penderita HIV/AIDS, mendukung anti diskriminasi, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan asas-asas etis, serta menjadi bagian dari upaya penanggulangan HIV/AIDS. Dengan begitu penderita tidak merasa kehilangan martabatnya sebagai manusia dan memiliki semangat hidup.
***
Peringatan hari AIDS se-dunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember merupakan salah satu wujud nyata dari upaya kita dalam memerangi HIV/AIDS. Dengan adanya peringatan ini diharapkan masyarakat senantiasa “melek” dan selalu waspada terhadap bahaya HIV/AIDS. Selain itu peringatan ini pun diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan sehingga tidak ada lagi pengecualian terhadap orang-orang yang hidup dengan AIDS dan mereka pun dapat menjalani sisa hidup dalam naungan kedamaian. Karena yang paling dibutuhkan oleh para ODHA adalah perhatian, dorongan semangat, cinta, dan kedamaian, selain harapan akan sebuah kesembuhan. Semoga.***