29 January 2013

Chromatic Notes #4

Lelaki yang Diburu


Di tengah hutan kehidupan, dia terengah menghimpun sisa-sisa oksigen.
Pepohon layu, dedaun kering berserak di jalan setapak.
Dia lelaki yang diburu.
Penyihir-penyihir cinta berkeliaran, bersiap dengan rapal mantra-mantra.
Di rimbun sunyi yang menggerayangi, mereka mengintai, siapkan sereguk reramu untuk bersensasi.

Dia lelaki yang diburu.
Setiap gerhana adalah tawa. Penyihir-penyihir haus cinta yang terkadang nyinyir.
Wanita-wanita yang tak menua dengan melapuknya senja. Abadi dalam mimpi.
Setiap kecupan angin tak hentikan labirin. Dingin, tetapi terus ciptakan ingin.
Dan penyihir-penyihir merapalkan mantra tentang akhir yang tak mungkin.

Dia lelaki yang diburu.
Di setiap celah berpenghuni hantu, ada satu matahari yang dia tuju.
Matahari yang terus membuatnya memburu.

potret diri yang tersesat di hutan sunyi


Pada Mata yang Pendarkan Cemburu

Kupikir, aku tak akan pernah melihat lagi lanskap hantu pada mata itu. Setelah musim berganti, cuaca terus mewanti-wanti, dan setelah kunyalakan sebuah lilin kecil yang hadirkan sederhana kehangatan.
Nyaris saja aku lupa, dahulu pernah ada seorang penunggang kuda yang muncul dari ceruk kegelapan. Dihunuskannya pedang yang menyayat jubah putihku. Ada api di matanya. Orang-orang menyebutnya cemburu.
Musim berlalu. Dedaun layu telah meresap bersama tanah dan jadi sajian lezat bagi akar pepohon yang akan tumbuhkan dedaun baru.
Tetapi, setelah berkali-kali kuturunkan salju, ternyata api itu masih ada. Dari isi kepala, ia meluap terpancar melalui matanya.
Payung-payung murung, juga semak tajam yang menyelubung.
Terdengar nyanyian tentang ketaksempurnaan manusia. Ketaksempurnaan yang melekat padaku, dia, dan kau.
Ketaksempurnaan kita memaknai isyarat kata hati yang terus-menerus diingkari.
Senja nyaris berakhir. Dan kita masih di tempat yang sama. 
Kita beranjak, tinggalkan tanya dan jejak. Lamat kukurimkan doa pada bahunya, pada bahumu, pada setiap langkah kita yang selalu terkoneksi dengan cara yang tak biasa. 

*saat hadirku kupikir jadi sebuah kejutan menyebalkan di suatu senja 
21 Januari 2013



Seperti Ada yang Menghilang dan Bersembunyi

Ada tubuh yang menghilang ditelan awan. Mungkin ditelan serapah bocah-bocah gelisah yang berharap alam meramah.
Ini Jakarta dan masih hujan. Masih saja hujan dan masih terus hujan. Kita lalui perkasa matahari bersama, pula dengan hujan yang terus.

Sehari ini, aku terus direkatkan dengan firasat yang melekat pada tubuh dinginmu. Di situlah bisa kulacak dia yang menghilang dan sembunyi. Mungkin sengaja. Mungkin kau tahu dan ikut menyembunyikan.
Kadang aku tak peduli. Tetapi, sesekali bayangan kelam itu menghantui.

Kau tahu? Aku ketakutan setengah mati.
Seperti ada orang yang menginginkanku mati.
Kau peduli? Aku tak peduli.
Tetapi ini tentang kita. Bisa jadi, tanpa kau sadari, ada yang mengintai. Ya, dia yang menghilang dan bersembunyi.

Atau bisa jadi pula, kaulah bagian dari pekat kegelapan yang diam-diam datang menakuti.
Sepertinya banyak cerita yang bisa kuurai tentang ini.

Kau tahu? Aku ketakutan.
Ingin sembunyi di balik utuh dekapanmu.
Tetapi, kadang hadir imaji kau menyeringai sembari mendekapku.

Lalu itu siapa? Seperti ada yang menghilang dan bersembunyi. Mengintai kita dari balik jeruji.

Kau peduli? Aku tak peduli.
Tetapi, bisakah sekali waktu kita saling berkisah agar musnah seluruh bulir gelisah?
Adakukah yang sebenarnya jadi warna kromatis di geliat detikmu?

*pertanyaan 22 Januari 2013



26 January 2013

Nggak Setiap Hati Bisa Terkoneksi Secara Spesial

Sampe sekarang, masih suka ngerasa miris nyes nyes nyes, bahkan geram kalo denger cerita atau ngalamin sendiri tentang sesuatu yang mau saya tulis sekarang. Yups, kisah tentang sepasang teman (cowok dan cewek) yang akhirnya jadi 'musuh' cuma gara-gara kisah cinta bertepuk sebelah tangan.

Rasanya, sayang aja, sebuah pertemanan, yang awalnya dibangun dengan ketulusan, keceriaan, saling berbagi, saling cerita, mendadak jadi ruwet karena salah satu orang di situ mendadak numbuhin ekspektasi lebih dan mulai jatuh cinta dalam porsi yang dahsyat.

Bagi saya, setiap orang itu memang punya hak untuk jatuh cinta. Sama siapapun, bahkan sama apapun. Tetapi, orang yang dicintainya itu kan nggak berkewajiban buat jatuh cinta balik. Betul, nggak?
Saya pikir, nggak setiap hati bisa terkoneksi secara spesial. Koneksi rasa hati yang spesial itu tumbuh secara natural. Bukan sekadar karena jedar-jedor dicomblang-comblangin sama temen-temen, juga bukan karena kedekatan yang menahun.
Ya, semuanya emang nggak bisa diatur, kecuali dalam suatu hubungan yang penuh kepura-puraan ya.

Jadi, saat kita jatuh cinta sama temen kita, dan ternyata temen kita juga punya perasaan yang sama, ya syukur alhamdulillah. Artinya cocok.
NAH, tapi, kalau temen kita itu ternyata memang murni nganggap kita sebagai temennya, gak adil dong kalo kita jadi ngemusuhin dia karena dia nggak bisa bales cinta yang udah kita kasih. Kita sama sekali nggak punya hak buat maksa dia agar jadi pacar atau someone spesial kita. Dia juga punya kehidupan percintaan sendiri, punya seseorang yang dicintai, punya mimpi dan ekspektasi pada orang lain. Bahkan, bisa jadi dia juga ngalamin rasa kecewa seperti yang kita rasain karena cinta bertepuk sebelah tangan.

Yups, di sinilah sebuah pertemanan diuji. Pertemanan kita itu dibangun atas dasar kudus ketulusan atau berdiri atas nama ekspektasi lain, yang bisa bikin luka hati saat kita nggak bisa legowo nerima kenyataan.

Kayaknya sebelum kita mau benci sama orang yang nggak bisa bales cinta kita, khususnya kalo dia itu temen baik kita, kita musti mikir dua kali dan inget-inget lagi deh, bahwa dulu itu kita ketemu sama dia itu kan dalam rangka 'nambah temen' bukan 'nyari pacar' (gak tahu ya kalo yang udah ngebet pengen dapet pasangan).

Ya, saya cuma sayang aja sama sebuah pertemanan yang rusak gara-gara hal pribadi semacam itu.

^^
#senyum
26 Januari 2013

22 January 2013

Dulu.... Sekarang....


Dulu, aku hanya bisa menatap punggungmu dari sebuah persembunyian kecil.
Sekarang, aku bisa melihat wajahmu, membaca setiap gerak bibirmu, menatap ke dalam mata hitammu, 
juga bercerita pada telingamu.

Tetapi, rasanya tak ada yang berubah, 
termasuk euforia saat aku sedang bersamamu. 

21-22 Januari 2013

20 January 2013

Chromatic Notes #3


Cerita Kereta 

Aku sedikit marah, karena hujan tak mau bersepakat dengan waktu yang terus diburu.
Lalu, kita memilih kereta, untuk menyusup ke dalam misteri hujan yang luar biasa.
Ada sekepal jingga yang kubawa. Nanti, akan kutempel di langit yang terus kelabu sedari dini sehingga kita bisa sedikit berbagi tawa.

Ini Jakarta. Selalu ada hal tak terprediksi.
Seperti hujan yang datang dan pergi, atau jadwal kereta yang membuat sangsi.
Pula semacam nenek sihir yang sempat bergentayangan menakuti.

sumber gambar: http://autobildindonesia.com
Konon, sang kereta tak singgah di stasiun yang kita pijaki.
Lalu, dari Gambir kita bergegas ke Cikini.
Menanti-nanti bersama orang-orang dan sejumput mimpi.
Dan di negeri hujan itu, juga ada yang menanti.

Belum tuntas mengasap pada batang kedua, kereta tiba.
Kau berkemas, dengan sepatu yang belum kautali tuntas.
Segera kita berdiri di depan gerbong dengan pintu yang perlahan terbuka.
Kita dipersilakan masuk, duduk di gerbong-gerbong yang dipenuhi orang-orang mengantuk.
Tetapi, itu gerbong khusus wanita, katanya.
Sebelum diusir, segeralah kita menjauh dari sana.
Dan inilah gerbong kita, gerbong yang ternyata juga dihuni wanita.

Tak ada kursi tersisa. Hanya berdirilah pilihan kita.
Pada kue donat plastik yang menggelantung, kita menjaga diri.
Lengang gerbong memudar, satu demi satu orang-orang ikut serta memadati.

Manggarai - Tebet - Cawang - Duren Kalibata - Pasar Minggu Baru - Pasar Minggu -
Tanjung Barat - Lenteng Agung - Universitas Pancasila - UI - Pondok Cina - Depok Baru

Sesekali mulutmu komat-kamit berceloteh. Beradu dengan suara kromatis orang-orang di sekitar.
Sementara, mata liarku menyapu seisi gerbong dan lebih sering kutabrak pandang jendela sehingga bisa kulihat lanskap yang melesat.
Semua bergumul di sel otak. Berfusi jadi hidangan dahsyat, pengganti sarapan pagiku yang belum sempat.
Kuperam. Kusimpan. Kuramu. Kelak, aku akan berkisah pada semesta.

Di Depok, pintu terbuka. Dengan sedikit ragu, kuturuti gelagat punggungmu.
Memijalkah kakiku di ranah yang masih jauh dari negeri hujan.
Laju baru separuh dan ada gerbong lain yang bersiap untuk kita huni.
Semenit duduk di kursi besi, lalu kita beranjak menghampiri jalur seharusnya.
Seperempat batang tembakau telah kita asapkan sebelum seorang petugas terlambat datang melarang.

Kereta kedua tiba.
Nuansa lengang tinggal impian.
Pintu terbuka. Didorong dan tanpa sengaja mendorong, kita masuk ke dalam gerbong.
Orang-orang berisik, takut kehabisan. Padahal, hari masih bersisa berjam-jam.
Tapi inilah hidup. Ada ketakutan mengintai, meskipun belum pasti wujud apa yang kita takuti.

Sial, aku kehabisan donat plastik untuk berpegangan, dan lenganmu menjadi satu-satunya pilihan.
Sementara, orang-orang itu mondar-mandir tak mau diam.
Di gerbong kedua ini, makin banyak lakon yang bisa kusaksikan.
Sepasang kekasih yang sibuk dengan handphone masing-masing, bapak tua yang letih ingin duduk, ibu-ibu yang mengamatimu secara rinci, pula suara headset bocor yang sampai akhir kauperhatikan.

                 Citayam - Bojong Gede - Cilebut

Masih saja kutabrak jendela yang sajikan lanskap bergerak. Sesekali kuterpejam. Tajamkan pendengaran sehingga makin banyak suara yang bisa kupilah.
Dan kau terdiam dalam pengamatan jeli, pula sepertiku.
Dengan jas hujan orange dan sabuah kantong plastik berisi ini-itu, kau lebih mirip dengan petugas kebersihan atau petugas pemadam kebakaran yang lupa berganti kostum sebelum pulang.

Lalu, sampailah kita di Buitenzorg, si negeri hujan.
Dan aku teringat pada celotehku tentang pawang hujan. Tentu kini dia sedang bekerja keras menahan hujan.
Mengusahakan kebun raya terlindungi sampai nanti siang kita kembali lagi ke stasiun ini.

Melangkahlah kita susuri negeri hujan, menuju padang rumput teletubies di dekat kolam teratai, lalu bermain peran dalam lakon riuh yang penuh kejutan.


perjalanan singkat dari Jakarta ke Bogor dengan RA pada suatu pagi yang basah
13 Januari 2013



Bidadari yang Membidik

Ada bidadari-bidadari,
diam-diam membidik anak kelinci jantan
dengan panah-panah cintanya.

Tujuannya sama:
memiliki kelinci-kelinci itu, tanpa peduli apa yang diinginkan sang kelinci.


14 Januari 2013



Saat Kau Jadi Lampu

Begitu banyak laron yang mengerubutimu saat kau jadi lampu.
Saat lampu dinyalakan, laron-laron itu langsung tersihir dan menyambangimu.
Aku heran. Sihir apa yang kau punya?

Aku? Hanya serangga penyendiri yang menghampirimu dalam nyala dan tiada.
Tentu, saat laron-laron itu pergi karena puas bermandi cahaya.

14 Januari 2013



Ternyata Cemburu

Mungkin cemburu, degup dada tak menentu, saat kepala dibayangi curiga tentangmu.
Apakah cemburu? Tak terima bayangkan tubuhmu bersanding dengan kekasihmu yang bukan aku.
Ini cemburu, saat udara kuraba, mencari adamu, berharap dia tak bersama kamu.

Ternyata cemburu, yang jadi bukti nyata bahwa aku cinta kamu.

Atas nama cemburu yang melanda.
Kamis, 17 Januari 2013



Bintang Hai Bintang

Bintang kembali datang. Indah. Gemerlapan, meskipun di sekitarnya masih ada kelam awan-awan.
Bintang hai bintang. Aku lupa bagaimana caranya menjamu kamu.
Bintang hai bintang.
Aku hanya ingin menyampaikan, berkali-kali kutatap dalam matamu,
selalu ada kebencian yang meluruh, dan selalu ada cinta yang kembali tumbuh.

seusai makan malam dengan FA
18 Januari 2013



Cerita Luapan Air

Jika ada dua unsur dibandingkan, yaitu air dan api, orang-orang biasanya memandang air sebagai 'superhero' dan api sebagai 'villain'. Air dinilai tenang, menyejukkan, sementara api dinilai penuh emosi, gelora, kemarahan, panas, berbahaya.
Padahal, setiap hal itu tentu ada sisi baik dan buruknya, termasuk air dan api.
Lihatlah, air danau yang dinilai tenang, gerimis yang dinilai romantis, hujan yang bagi beberapa orang menawan, ternyata bisa jadi 'musuh' yang mengerikan. Membuat kita takluk dan merasakan penderitaan.

Ini Jakarta.
Hampir empat tahun aku hari-hari kuhabiskan dengan memijak tanahnya.
Panas, hujan, mendung, berawan, cuaca biasa yang sering kujumpa.
Pula, kabar tentang banjir. Sekadar kuamati melalui cerita atau gambar di layar kaca.
Tetapi, akhir-akhir ini, cerita luapan air itu seperti menyata di depan mata. Mendekat dan merapat.
'Kekuatan jahat' air mulai unjuk gigi, mengambil peranan di degup-hidup kromatis yang kini terasa miris.

Kota ini deganangi air di mana-mana. Jejalan yang biasa kulalui, mendadak seperti sungai yang dihuni kendaraan-kendaraan dan orang yang lalu-lalang di atasnya.
Ada gemas meraja saat hujan turun tak mengenal henti. Berhari-hari, tak ada matahari. Udara terasa lembap, dingin, seperti kota Forks dalam film Twilight. Seperti negeri kelam yang dihuni makhluk-makhluk dingin yang tak saling peduli.

Area ibaku tersita. Tenda-tenda pengungsi menjamur di mana-mana. Pula bayi yang diselamatkan dengan baskom, serta nenek-nenek tua yang berkumpul dalam sebuah gerobak, melintasi terjangan luapan air.
Tak lama, dari berita televisi, yang akhirnya kunyalakan juga setelah berbulan-bulan mendekam diam, ada tangis kematian dari seorang ibu yang ditinggal mati anaknya. Anak yang dilahirkannya itu mati tenggelam di area bassement sebuah gedung bertingkat. Reporter-reporter tv selalu menyebutnya UOB building.

Luapan air ini berbeda dengan bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, atau angin puting beliung. Karena, selain hujan yang memang milik alam, tangan-tangan manusia pun ambil bagian menjadi penyebabnya.
Kini semua telah terjadi, perbaikilah yang salah, berharap dampak lain dapat diminimalisir.

Aku? Masih mendekam dalam dendam karena luapan air yang dengan curangnya pernah merusak hari Sabtu hijauku, pada suatu masa.

18-19 Januari 2013


12 January 2013

Chromatic Notes #2

Cerita Dus

Sederhana. Hanya sebuah dus kamera berisi kartu garansi, yang hilang dengan cara sederhana: terbuang.
Tetapi, saat kali pertama kutahu dus itu raib, dunia terasa runtuh. Terasa ada kiamat kecil bagi persahabatanku dengan "si 550".
Padahal, selama ini mana pernah dus itu kulirik? Tentu aku lebih jatuh cinta pada isi dusnya, yang sehari-hari selalu bermain akrab dengan jemari. Dengan benda bernama kamera itu aku bisa membidik semesta raya. Itu menyenangkan. Sementara, si dus itu hanya bisa terdiam di pojok tumpukan saudara-saudaranya. Mungkin sesekali dia meratapi nasibnya yang seolah tak seberharga kamera yang pernah mendekam di dalamnya, sebelum akhirnya mereka sama-sama kupinang.

Lalu, hujam kemungkinan-kemungkinan buruk menghantui. Astaga. Berlebihan, bahkan sempat kucari ladang untuk pelampiasan kemarahan.
Lalu, aku sadar. Itu memang hanya dus, tetapi juga punya arti dan fungsi.

Tapi, ya sudahlah. Toh, kamera masih bisa dipakai. Perkara garansi, cukup pakailah kamera itu secara bijak dan berhati-hati. Karena, mau bagaimana lagi? Dus impian raib meski ke celah-celah tanah telah kucari.
Jadi, ya sudahlah. Cukup kubagi kisah, agar penyimak kisah jadi lebih berhati-hati menjaga apa yang dia miliki, walaupun itu hanya sebuah dus berisi kartu garansi.

kamar yang meratap, 6 s.d. 8 Januari 2013



Teriakan Si Lelaki Hebat

Senang. Kata itu kupikir cukup untuk mewakili ke-chromatic-an hari ini. Rasanya berabad, setelah kali terakhir aku berdiri di atas panggung, mengumbar gestur yang dikehendaki hati, lalu berteriak lantang pada dunia bahwa aku ada. Tak peduli, walau kali ini aku mewujud atas nama nada. Kupadukan nyanyian sederhana dengan kepiawanku berbagi cerita dengan raut wajah tak biasa.
Kawan-kawan berkumpul. Selintas, mereka terlihat senang. Tak pedu pada apa komentar juri, aku puas dengan hari ini. Yang pasti aku telah meluapkan teriakan si Lelaki Hebat. Puas dan lega.

Lalu, aku mendapat bonus. Ya, ada monumen kecil yang tak lama lagi akan kusetorkan pada Mama, yang selalu menungguku pulang bingkiskan kabar gembira.

behind the scene, 7 Januari 2013



Kamis Menghitam

#1
Kupikir, selalu ada tawa yang bisa kita susun bersama setiap hari. Sejak pagi hingga senja menggelinding.
Tetapi, tidak.
Dan kau mendekam dalam keasikan sendiri, tanpa sedikitpun melirik pada malaikat tanpa sayap di atas bukit.
Kau menutup mata, telinga... kau bungkam, dan mebiarkan hati membuta.

#2
Sepanjang jalan, kunikmati geliat hangat awan nimbus.
Seharusnya, kubagi awan-awan itu denganmu.
Tapi kau telah jadi jenazah di bawah terik eksotik.

#3
Ada yang menghilang saat nyaris kuhampiri.
Seperti buronan yang lari untuk sembunyi.
Seperti kelinci saat harimau mengintai.
Tetapi, jejak pantat di kursi yang pernah diduduki tak pernah bisa membohongi.
Mangkuk es yang dibiarkan sendiri, juga segelas kopi yang dibawa tergesa.
Aku tak percaya.
Tetapi, di kedalaman mata yang kugali dengan intuisi,
ada jejak hasrat tersembunyi, ada gelora asmara yang ciptakan muak.
Dan lagi-lagi ada rekaman wajah penunggang kuda yang luapkan dendam mengabadi.

Saat teka-teki yang kaucipta bisa kupecahkan,
akan kukabarkan kemenangan pada dunia, dan
atas nama dendam, akan kuajukan permintaan terkejam pada awan nimbus.
Kalian akan berlutut di genangan air mataku.

saat dendam membuncah, 
10 Januari 2013



Doa yang Disesali

aku pernah berdoa
tentangmu
untukmu
demimu

semesta raya bersaksi
saat doa mewujud nyata

tetapi,
apiku kini tak kuasa menahannya:
               c e m b u r u
saat sepasang kelinci menari-nari di
padang rerumput hujau yang kutata rapi

pernah,
aku menyesal karena aku pernah berdoa
tentangmu
untukmu
demimu
     dengan bersimbah air mata




#ceritatwit ‏@ighiw

"ada banjir air mata saat kuminta perpanjangan waktu ini pada Tuhan, dan Tuhan mengabulkannya.
But after all, just a silly pain that I get"

Kamis, 10 Januari 2012



Tentang Marah yang Tak Tahan Lama

Aku sedang marah. Tetapi, itu tak bertahan lama.
Ya, padamu aku tak bisa marah berlama-lama.
Jangan tanya kenapa. Mungkin ini cinta atau sejenisnya.
Tapi waspadalah, marahku akan melumpuhkanmu.

Jumat, 11 Januari 2012

05 January 2013

Chromatic Notes #1


"Are You OK?"

"Are you OK?" begitulah kalimat yang ditanyakan seorang kawan saat melihatku 'di-bully' di tengah canda tawa yang baginya sudah di luar batas.

Aku selalu menunjukkan wajah "I'm OK". Aku sudah lupa bagaimana rasanya benci terhadap candaan-candaan itu. Aku juga sudah lupa bagaimana sebaiknya aku bersikap. Maka, ikut arus sungai candaan mereka, sederas apapun itu, adalah hal ternyaman bagiku saat itu.

~Gancit, 30 Desember 2012


Menerawang di Sela-sela Datangnya Pelanggan

Orang-orang menyebutnya waria. Aku juga. Di mana-mana mereka ada, di belahan bumi manapun. Tentu dengan berbagai nama yang berbeda. Pandang mata untuk mereka sangat kromatis. Ada yang jijik atas nama gender, menghujat atas nama agama, tertawa atas nama hiburan, melenguh atas nama libido, tercengang atas nama ketertarikan, terenyuh atas nama kemanusian, dan sebagainya.

Aku? Berusaha tak munafik, kukatakan beberapa persen kusimpan takut, terutama pada pengamen yang terkadang mengganggu ketenangan makan malamku di warung-warung makan pinggir jalan. Mungkin pikiranku terhipnotis berita media tentang tindak kriminal yang kerap terjadi oleh 'oknum' mereka. Pula beberapa pengalaman kawanku yang dicolek, digerayangi, atau dipalak oleh 'oknum' mereka itu. 
Tetapi, kupikir, mereka tak ada bedanya dengan manusia-manusia lain yang mengkultuskan dirinya sebagai orang normal. Mereka tentu ada yang baik, ada yang berperilaku jahat. Itu bukan karena gender atau pilihan orientasi seksual semata. Jadi, tak adil rasanya jika kusamaratakan bahwa waria itu 'jahat'. 
***
Ini adalah salah satu sisi dari degup hidup mereka yang juga penuh dinamika.
Malam semakin tua. Fajar semakin mengincar. Waktu seakan nyaris habis. Beberapa di antara mereka terlihat cukup gelisah. Maklum, belum dapat pelanggan satupun. Padahal banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Sebagian lainnya, ada yang sudah mendapat beberapa pelanggan. Bahkan, ada yang sudah kali ketiga 'menghibur' orang-orang linglung yang tak tahan untuk mendapat kepuasan.

Bajunya hitam. Pula rok dan sepatunya. Entah apa nama model baju itu. Sepatunya berhak tinggi seperti Lady Gaga. Rambutnya juga tergerai hitam. Badannya semampai, tapi tetap saja bahu khas laki-lakinya itu tak bisa membohongi bahwa dia pernah terlahir dan menjalani hidup sebagai seorang laki-laki.
Dari sebuah taksi yang berhenti tepat di hadapanku, dia keluar dengan seorang laki-laki berperut buncit. Aku dan beberapa orang lainnya di warung kopi itu menerka-nerka, apa yang mereka lakukan di dalam taksi yang sejak tadi berputar-putar di jalan yang sama. 
Setelah bertransaksi, lelaki yang sudah puas itu melanjutkan perjalanannya dengan taksi. Sementara, waria itu ditinggalkannya sendiri, tentu dengan sejumlah uang hasil 'kerjanya'. Lalu, dia berjalan ke arahku. Dia agak sempoyongan lemas. Dipegangnya pundakku.
"Permisi, Mas," ujarnya datar.
Dibelinya sebungkus rokok. Lalu, dia melangkah ke tepi jalan gelap yang dipayungi sebuah pohon besar.
Dia duduk di atas trotoar. Pada pohon besar itu dia bersandar. Tatapannya nanar. Sebatang rokok dihisapnya dalam gusar.
Tak lama, datang sebuah mobil mewah. Karena asik mengobrol dengan Bapak yang sama-sama ngopi juga, waria dan mobil itu lenyap dalam sekejap tanpa bisa kudeteksi ke mana perginya.
Dua puluh menit usai setelah itu. Waria itu kembali dengan wajah murung. Dia kembali duduk di bawah pohon besar dengan ekspresi menerawang. Entah apa yang dia pikirkan. Pendapatannya malam inikah? Atau ketakpuasannya terhadap pelanggankah? Atau gegaris takdir yang telah dihadiahkan kepadanya malam ini? Entah. Dan aku hanya bisa menerka-nerka.

Jam berlalu. Lalu lalang kendaraan tak ada habisnya di tempat itu. Sesekali mereka melambatkan laju, lalu tertawa-tawa setelah membuka jendela. Sementara, di tepian jalan, waria-waria berbaris memperagakan kemolekan tubuhnya yang telah 'dibangun' berbulan-bulan demi kepuasan pelanggan.
Sebuah mobil berhenti di depan waria yang sedang duduk menerawang tadi. Waria itu menghampiri pengemudi. Dibukanya jendela mobil, lalu diputarnya lagu-lagu disko masa kini. 
Waria itu diminta berlenggak-lenggok mengikuti ketukan musik. Lelaki itu dipuaskan dengan cara sederhana, dengan cara yang lebih mudah dibanding pelanggan-pelanggan sebelumnya. Ya, hanya menari-nari, meliuk-liukkan tubuh. Tetapi, ternyata tidak hanya itu. 'Permainan' beranjak lebih jauh. Dan ada visualisasi yang malas kukisahkan.

Sang pelanggan ketiga terpuaskan. Waria itu kembali membenamkan diri dalam kegelapan. Dari jauh, aku melihatnya menyeka air mata.

~Jalan Sumenep Jakarta, 31 Desember 2012 dini hari



Mama dan Kenangan tentang Kembang Api

Tengah malam, suara petasan membangunkanku. Penasaran, kusambangi atap rumah. Ternyata, Mama sudah ada di sana. Mukanya sumringah menikmati kembang api penanda datangnya tahun baru. 
Belum sempat berkata-kata, aku tahu, Mama kangen pada Papa yang pernah menyulut kembang api di malam tahun baru terakhir yang mereka lalui bersama.

~Bandung, 1 Januari 2013 dini hari



Terima Kasih Leluhur

Di hadapan makam kakek dan nenek, tak henti-hentinya aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada kakek dan nenek, juga semua leluhurku. Bagaimanapun, adaku di dunia adalah akumulasi dari beberapa bagian perjalanan hidup mereka di masa lalu.
Semoga setiap hal baik yang kutorehkan di parjalanan hidup ini juga jadi ladang kebaikan bagi mereka. Sementara, setiap hal buruk yang kuperbuat sepenuhnya menjadi tanggung jawabku sendiri. 

~Cibarunai, 1 Januari 2013 siang 


Ekspektasi Hati pada Hati

Setiap orang yang jatuh hati, pasti menyimpan banyak ekspektasi terhadap kelanjutan rasa hatinya yang dipupuk dan dipelihara. Ekspektasi untuk bisa selalu bersama, keinginan terpendam untuk mengungkapkan rasa, naluri kuat untuk memiliki, pendaran tulus untuk menyayangi
Setiap orang berhak jatuh hati, pada siapapun tanpa terkecuali. Tetapi, nggak setiap orang yang dijadikan sasaran jatuh hatinya secara otomatis jadi punya kewajiban untuk membalas rasa hati itu.
Ya, nggak semua hati saling terkoneksi. Nggak semua hati bisa saling memenuhi ekspektasi. Itulah alasan kenapa ada istilah 'cinta bertepuk sebelah tangan'.

~salah satu obrolan dengan AH
   Roppan Semanggi, 1 Januari 2013



Surat Untukmu
Ini aku dan kamu. Masih sama seperti bulan-bulan yang lalu, yang pernah kita lalui dalam tawa, kemarahan, dan diam yang tak terdefinisi.
Tapi satu hal yang telah berubah, setelah mati-matian aku berkontemplasi. Ya, ekspektasi liarku yang terus menggerogoti, ombak tangguh yang perlahan mengikis karang. 
Kini aku merasa lebih tenang. 
Merasa harus beranjak dari fantasi yang kadang membuat frustasi.
Aku dan kamu masih akan selalu seperti ini. Seperti biasanya. Hanya saja, ada sayap kebebasan yang rasanya baru kutemukan

2-3 Januari 2013


Kejutan di Tengah Penat

Penat datang dari olah pikiran sendiri, dan cerah hati terkadang datang sebagai kejutan dari orang-orang  yang tak pernah terprediksi.

~kado berwarna biru dari WN
  meja kerja, 3 Januari 2013


Awan Nimbus

Senja ini terasa lebih panjang, seperti mengikuti mauku yang ingin berlama-lama di tempat ini.
Aku merasa nyaman memandang awan-awan. 
"Awan Nimbus," kata kawanku.

Kukatakan padanya, setiap ada awan nimbus seperti itu, aku selalu mengajukan permohonan seperti orang-orang meyakini bintang jatuh yang bisa mengabulkan permintaan.
Sore itu, sambil menghabiskan sisa teh jahe, kugantungkan harapan di awan nimbus yang beranjak pergi. Kuharap, senja yang indah ini bisa kembali kujumpai di hari lain.

~kantin, di tengah percakapan dengan FA
  3 Januari 2013


Senja Segera Tiba

Teh jahe yang nyaris habis. Sisa-sisa asap yang akan selamanya melekat di saluran pernapasan. Racun.
Senja segera tiba. Perlahan, dia akan meringkus terang, lalu mendatangkan malam sebagai sang pengganti. Di sanalah sunyi mendekam. Lalu, aku ditakut-takuti oleh lolongan anjing dan koar gagak yang melontarkan dengki dan benci.
Saat itulah aku ingin berlari. Membunuh rasa takut dan sesak. Melepas semua penat dan emosi yang terbenam dalam sekapan kelam.

~keisengan dalam diam saat semeja dengan FA dan RAN yang sibuk dengan ponsel, rokok, dan es kopi masing-masing.
  Kantin, 4 Januari 2013



Pendar Warna

Malam ini aku bersyukur karena masih banyak kawan yang menerima pendar warnaku apa adanya.

~Sevel Benhil. 4 Januari 2013, larut malam