12 August 2007

Mengeja Hujan

gelantung hujan di celah-celah langit
senja percakapan makin sengit
balutan kelumit rasa sakit
meliuk di bukit-bukit
di igau musim sepanjang usia parit
hujan menyimpan pesan
tentang bebintang yang enyah dari gugusan
runjau pepohon menjarah rindang awan
abadi muram membungkus kemukus yang intan
di pualam sendu perbatasan
nama kita pernah tergarit di batang akasia
berserak dedaun ranggasan usia
jejamur kala menukar cemas dengan sekotak bahagia
kini
lelapku di rempuh keruh keluh
ritual riak danau mengeja hujan yang berjatuh

2007

Da, Demimu Kubui Nada Degup Dada

menghitung angka
bergelantung tanggal-tanggal di sebuah pohon kisah
rekah anggrek
bibir memelintir ucap yang teramu di batas pikir
panah matamu melesat
menderas sungai nadi
hanyut sampan-sampan berisi memoar matahari
entah ke mana
kau terlalu hijau bagi landai gurun
di mana berserak debu pepasir
kau terlalu mawar bagi pedih bangkai
di mana bertabur nganga luka cabikan
hanya diam bumi yang kusapa dengan kicau kolibri
teduh pagi terbit dari wewangi anginmu
tetapi aku tak ingin meranca pendakian keluk rasa ini
hanya, kutidurkan sejumput api
kubui nada degup dada
demi redup pemaknaan jalanmu

2007

Riak Nyeri

pergilah dirinya meringkas jarak
kekasih,
kesumat rindu menderu
malam bergelayut di rongga dada
begitu palung
dihimpit bayang bukit
tibalah wajahnya di depan jendela muram
di luar, jemawa gerimis
membasah rambut
dia duduk di sudut keterpurukan
hangat lilin menggoda
di dalam gubuk tercipta siluet pekat
kisahkan sepasang kijang di musim kawin
kekasih,
ada segumpal hati yang teriris
berlarilah dia di deras banjir air mata
buih-buih kedukaan terapung di genangan luka
sapu badai usai lalu
wajah bulan mengambang di sebuah riak nyeri
2007

01 August 2007

Kerinduan di Selimut Malam


melindap dalam dekap selimut malam

benamkan diri dalam pusara mimpi

rengkuhan sinar bintang meredam nyinyir

bibir sesumbar

untai kalimat pisau mengintai

kerling langit di timangan sunyi


separuh malam nyaris usai

bersama kata-kata berputar di lumbung dingin cuaca

meretas rinai sengit rasa sakit

tiupkan hijau di muara sesungai


sajadah menghampar di bawah sinar lusuh

ayat-ayat menyanjung nama-nama

selubung rindu penuh tanya


isi kepalaku masai

di ujung pisau detik-detik

kening tertambat di padang sujud

menderas alir kepedihan

dari sebuah kerinduan


2007

Siluet Tubuh di Ceruk Perjumpaan



lipatan ombak bersisa buih di bias jingga matahari

perahu menyeruak

pecahlah wajah lembayung


di matamu

aku hanya sebait sajak di putih pepasir

pula lukisan senja di ruang pikirmu


jauh di ujung jangkau mata

hitam pulau terhuyung di luas lautan

mengabur

garitkan samar bayang di batas horison


jejalan terbingkai

isyarat terabai

hanya siluet tubuhku

terpaku bisu karang-karang

di ceruk perjumpaan


2007