04 May 2014

Enigma Benih Api

 Air masih mengalir di sepanjang lembah yang dihuni ikan-ikan.
Tapi api ciptakan kehampaan, mengusir teduh hati yang berdiri sepi. 


I
Setangkai demi setangkai kukebumikan seikat edelweis yang dulu tak jadi kuberikan.
Kisah merekah, mereka tertawa. Seseorang menyeringai melihatku terkapar tanpa jiwa.
                  Mungkin ini maunya.
Aku dihujani batu. Panas karena percik api. Mereka masih tertawa. Berguyon sambil menyusun kata demi kata lelucon yang selalu lucu dan tak monoton, meskipun prosesi jumawa dilaksakan di atas batu nisan, bertulis namaku.
             Seseorang selalu menyeringai melihatku menyulam sayap-sayap yang patah.
Lalu, aku berjalan. Biarkan mereka tertawa sampai dada mereka berlubang. Menganga.

Pelan-pelan aku bertengadah.
Matahari masih berpendar.
Pada waktunya, seluruh rasa meluruh bersama setiap bidik mata.

Mereka masih tertawa. Mungkin dia juga ikut tertawa. Berkata, "akulah sang pecundang"
        Dia masih tak mengerti bagaimana terseok kakiku melewati semua.
Lalu, dia bercengkerama. Mimpi mewujud nyata. Di sampingnya, ada seseorang yang seharusnya tak asing bagiku.


II
Dia berkoar, ini cinta.
Dikabarkannya renjana untukku pada seluruh penjuru mata angin.
Sementara, separuh nyawaku tercabik oleh tawa, seringai, dan kenangan tentang bunga edelweis.
Aku dihujaminya dengan rindu menderu. Dengan rasa tak biasa. Dengan benci yang tak terprediksi.

Jiwaku terbelah dua.
Di kanan, kusimpan kasihan. Kusemat hangat sebagai sahabat. Kuharap itu cukup hangat.
Di kiri, kutanam benci menjadi. Dendam yang kelam. Muak yang semerbak.

Lalu, disia-siakannya tumbuh pendar di lengan kananku.

Dalam cinta membuatnya tenggelam pada air mata yang diperasnya sendiri.

Dia pun tak henti menebar kisah tragis tentangnya. Sementara, matanya tertutup sebelah. Dia tak melihatku sebagai manusia berhati. Lalu, dia menanam dendam, berserapah. Karena hatiku tak bisa ke mana-mana.

Aku diam. Menunggu waktu. Menunggu dia tersadar, atau menutup kisah persahabatan yang dibuatnya memudar.

Dia PEMBOHONG.
Bukan cinta yang dia bawa, tapi hasrat yang torehkan luka.
Bukan hati yang dia kasihi, tapi kepuasan yang terus dicari.
Bukan rasa yang ingin dia bagi, tapi kebencian yang selamanya akan tertanam.
Bukan kasih yang membuatnya perih, tapi dengki yang masih menggerogoti.

Lalu, aku meminta,
pada Tuhan yang paling tahu segala isi hati
pada Pencipta yang tahu sebenar-benarnya kata hati

Sang PEMBOHONG akan segera dijadikan tiada, dengan caranya yang tak biasa.



III
Ada yang menghardik, "anjing". Menembus kuping, meresap di celah darah.
Suatu ketika, seusai matahari tidur. Di ujung lorong, di balik terali besi.
Satu kata jadi mantra. Menghancurkan setangkup kisah yang pelan-pelan dan diam-diam kutuliskan di lembaran sejarah.
Dia marah. Lalu menghukumku dengan caranya.

Dia lupa... benar-benar lupa pada geliat tawa raya.
Di mataku selalu istimewa.
Dia lupa.
Dia hanya ingat bahwa aku bukan sesiapa.

IV
Aku mencoba menulis kisah tentang matahari setelah hujan.
Tetapi, kisah itu memudar bersama lukisan yang tak terselesaikan.
Kenangan meluruh di sungai musi.
Hatiku tenggelam dan tak mungkin kembali.

V
Matanya mendelik, di ujung jalan yang remang.
Benih api dia taburkan di setiap sudut hutan yang tenang.
Pelan-pelan api itu membakar, sisakan jelaga di bening mata.
Selamanya jadi dendam, selamanya jadi kebencian.

Dari mulutnya berhambur kekata mantra,
yang jadikan udara pengap tak terkira.
Diam-diam, dia mencuri cahaya matahari, yang diincarnya sejak lama.
Lalu, dia jumawa sebagai raksasa yang usai merusak segala.


VI
Terseok, aku meramal masa depan.
Tubuhku dan dia, yang tak akan pernah bisa disatukan.
Pelan-pelan, dalam tangis dan kerinduan,
seteko kata hati kulahirkan.
Kubangun monumen sekelumit perjalanan,
kisa tentang cinta yang tak pernah diizinkan Tuhan.

Aku menangis, hanya untuk melupakan.

2013