11 December 2010

Fragmen Gerimis dan Penunggang Kuda



"hujan turun tak deras, tapi rindang tipis-tipis"

Selalu dan selalu. Kalimat yang menjuntai di benakku saat hujan turun membasuh tanya dan curiga. Tanya tentang rahasia yang ingin disampaikan hujan, curiga pada ringkai cuaca ganas yang menghujam bertubi-tubi.
Lamat, kudengar suara langkah kuda yang menghentak di gigil kabut. Di ujung jalan, seseorang dengan jubah berpenutup kepala menghunuskan pedangnya dan ciptakan peperangan.

Pada gelagatmu, aku selalu bertanya-tanya, apa yang telah kulakukan pada semesta hancur hatimu?
Sehingga ada api yang kausemat pada dinding kesedihanku.
Aku tahu, kau tak akan tahu, ada deret rasa sakit yang sedang kutimbun di balik senyuman. Ada pedih kekisah yang kutanam di atas bebunga bahagia.
Dan datangmu membuat segalanya terasa lebih berat.

Tatap mataku dalam-dalam.
Adakah pendar dan inginku untuk menyakiti?
Tangkap kekataku dalam diam.
Adakah isyarat yang menghujamkan sembilu ke arah matamu?
Ke arah bibirmu yang dilumuri merah bulir darah.

Lihat aku, lalu genggam tanganku.
Akan kutarik tubuhmu dari malap cahaya mati bulan.
Dari peperangan yang bersemayam di jagat pikirmu.
Dari curiga yang mendekam dan membunuh bahagiamu.
Dari jumawa yang membuatmu merasa jadi pemenang dalam sebuah kompetisi yang sebetulnya tak pernah kuhadiri.

Lihat aku, rasakan gerimis yang rindang tipis-tipis.
Akan kupahatkan sayap, agar kau bisa segera melesat bebas dengan kudamu. Melejit di awan yang berjinjit. Dan tertawa riang di sekujur atmosfir cahaya.
Pergilah dengan tengang. Beristirahatlah dengan tenang tanpa rasa dendam.

08 December 2010

Fragmen Larut Malam

Sudah larut malam. Sangat larut. Sudah jauh aku melangkah meninggalkan pesan terakhir tentang keluh kesah yang kusampaikan padamu dalam rasa marah.

Tak usai kuberpikir tentang ratusan hari yang telah kulewati dengan tubuhmu yang cadas. Dengan beku gigil yang selalu kau sampaikan lewat dingin tatapan. Saat-saat seperti itulah aku merasa seperti diasingkan di kedua kutub bumi dalam waktu bersamaan.

Dan kemarin, candradimuka di dadaku meluap. Meletus serupa merapi. Dan di sana kau menjadi petugas penunggu seismograf yang memantau dan mencatat getaran gempa yang kusampaikan lewat kata-kata.

Mungkin bintang-bintang letih dengan kebekuan. Pula matahari yang tak sabar ingin membakar. Tak terima dengan kekata dingin yang kau lontarkan bertubi-tubi di setiap laju gelitik detik yang terus mengusik.

Setelah itu, kembali kau ciptakan misteri. Ada pendar aurora yang mengikis luka di wajah langitku. Ada pendar abstrak nyala cahaya yang diam-diam secara lamat kau sampaikan ke laju darahku.

Aku terdiam. Merenung. Mulai mencari-cari beda hitam putih, setan malaikat, dan kau selalu memilih untuk berada di wilayah abu-abu.

Kau di mana? Di ujung mimpikah?

Sekarang hanya ada penat di kepala yang terus diisi oleh kertas-kertas bergambar sketsa hujan.



Ini sudah larut malam,

dan aku tak ingin tertidur tanpa jawaban kepastian yang menegaskan arti keberadaan hitam di lanskap langit malam.

02 December 2010

1 Desember 2010

Hayah, kepalaku sing pusing wae taiyeu... Beuh, efek kepusingan kerjaan beberapa minggu ini ternyata belom ilang. Nyat nyut nyat nyut... begitulah rasanya kepala ini. Kerjaan remeh temeh yang kalo dikalkulasiin lumayan banyak juga ini bikin puyeng. Ditambah lagi ke-crowded-an ruangan yang bikin nggak fokus sehingga kerjaan gak beres-beres. Di sini aku sadar kalo suatu kerjaan itu, sebaik apapun usaha kita untuk segera menyelesaikannya, tetep aja bakal berhadapan dengan kepentingan pihak lain.
Dan lain2 dan lain2 yang berakumulasi.

Pas aku lagi nganter dokumen ke lantai 9, tones 'hariku bersamanya' Nokia E71-ku berbunyi. Ternyata temenku, Rivan. Ohoho, hampir aja aku lupa, kemaren, tanggal 30 November, aku smpet meracau ngomel2 via sms ke hapenya. Maklum, urusan kepusingan kerjaan kek gini, aku lebih ngerasa klop kalo cerita sama dia. Dan kemaren aku lumayan kalut karena membaca sms dua huruf yang tidak enak dibaca (saat itu)dalam kondisi mental yang sensi. Haha. Karena gak sempet angkat, kukirim sms bertema 'ada apa?' karena aku memang lupa sama percakapanku dengannya yang terakhir kemaren.
Deredet, dia mengirimkan sisa-sisa percakapan via sms secara utuh. Kayak dosen yang ngasih kisi-kisi sama mahasiswanya menjelang ujian.
Setelah sadar diri (mungkin disadarkan) bahwa kemaren udah lebay berkeluh kesah, kuakhiri saja keos internal itu dengan mengirim sms yang bertema "semua sudah membaik". Halah. Semoga lu cepet datang cuy, ribet juga ngurusin gawean ini sendirian.

Nah, setelah mengatur agar pekerjaan hari ini "baik-baik saja", aku segera pulang ke kosan. Nggak lupa makan dulu di warteg deket kandang kera yang nasinya anget dan enak. abis itu, tidur sampe sore. Saking pusingnya.
Sorenya, hapeku bunyi lagi. Kali ini ANgga yang ngajakin nonton. Tadinya mau nonton Babies. Tapi rencana diubah. Jiffest jadi tujuan. Walau masih pusing, aku hayu hayu aja. Semoga ini bisa meredakan kepusingan.
Pas twilight, alias senja, aku dan Angga berangkat ke Pasific Palace. Kami lanjut sholat di parkiran (bingung, kenapa tempat ibadah selalu di parkiran). Abis itu, kami langsung nyusul Fitri dan Mba Eny yang udah nungguin di tempat makan yang namanya ada secret2nya gitu.
Lalu, kamu nonton film SIngapur yang judulnya forever. Unik filmnya. Aku suka sama karakter ceweknya yang psikopat tapi ngomik dan lucu banget. Dia ngelakuin banyak cara buat dapetin cowok yg diinginkannya. Pokonya, di endingnya tuh cewek masuk rehabilitasi mental, dan pas keluar, dijemput sama cowok impiannya itu. Haha. Sebage cowok, serem juga ya kalo ada cewek yang ngincer kita sampe stres gitu.

Abis itu, setelah 'rebutan magnum' di Kem Chicks, kami pulang ke pusara masing2. HAH??
sayangnya, kepalaku masih nyut nyutannnn............

01 December 2010

Stop diskriminasi terhadap ODHA


“Stop diskriminasi terhadap ODHA!” Kalimat semacam itulah yang sering menggema di setiap belahan dunia setiap awal Desember tiba. Pembagian pita merah dan acara-acara renungan yang diterangi nyala lilin pun kini telah membudaya. Semua terwujud atas nama kepedulian terhadap para ODHA, khususnya, dan umumnya pada keberlangsungan hidup umat manusia yang sedang diintai oleh penyakit mematikan, HIV/AIDS. Penyakit ini begitu marak dibicarakan dan jadi pusat perhatian masyarakat dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa saat ini HIV/AIDS telah jadi sesuatu yang besar di muka bumi dan wajib diwaspadai. Bagaimana tidak? Epidemi HIV/AIDS telah meluas ke seluruh dunia dan siap jadi dewa kematian terganas sepanjang masa.
Epidemi ini mengingatkan kita pada wabah penyakit yang terjadi di benua Eropa beberapa abad yang lalu, yaitu wabah Black Death. Wabah ini telah merenggut jutaan jiwa dalam waktu singkat. Penyebab utamanya adalah sejenis bakteri bernama yersinia pestis. Bakteri ini ditularkan oleh kutu yang berkembang biak di bulu-bulu tikus, kemudian ditularkan pada manusia. Penderita mendadak lumpuh dan mengeluarkan darah kehitaman dari lubang-lubang di tubuhnya termasuk organ vitalnya. Menurut catatan sejarah, pada salah satu perkampungan di Inggris yang dijangkiti wabah ini, seluruh warganya tewas dalam kondisi mengenaskan. Sekelompok biarawan yang lewat perkampungan itu hanya menemukan tulang belulang yang tersebar di seluruh penjuru perkampungan. Lalu mereka membumi hanguskan kampung itu agar wabah tersebut musnah tanpa sisa.
Begitu pula halnya dengan epidemi HIV/AIDS, makin hari pertumbuhannya makin cepat saja. Ibarat pohon yang awalnya hanya setangkai tunas kini HIV/AIDS telah tumbuh jadi sebuah pohon kokoh yang sulit untuk ditebang. Pohon itu tumbuh dengan cepat tanpa mengenal cuaca. Tanpa pandang bulu siapapun bisa dijangkiti oleh penyakit mematikan ini. Yang jelas HIV/AIDS adalah salah satu ancaman berbahaya bagi keberlangsungan populasi manusia dan sudah menjadi pandemi.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome disebabkan oleh virus yang bernama Human Immunodeficiency Virus. Virus ini bekerja dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh. Orang yang hidup dengan AIDS akan terus menjadi lemah, daya tahan tubuhnya berangsur-angsur berkurang, tubuhnya kehilangan kemampuan untuk melawan penyakit. Adapun penularannya dapat terjadi melalui beberapa cara. Pertama, penularan melalui jarum suntik yang dipakai secara bergantian dengan orang yang telah terinfeksi. Kedua, penularan melalui aktivitas seksual dengan orang yang telah terinfeksi. Ketiga penularan dari seorang ibu yang terinfeksi terhadap janin yang sedang dikandungnya dan melalui ASI yang dikonsumsi bayi.
Di Indonesia. HIV/AIDS telah jadi salah satu ancaman berbahaya bagi keberlangsungan hidup bangsa. Sejak pertama kali ditemukannya kasus HIV/AIDS pada tahun 1987 di Bali hingga saat ini tercatat sedikitnya telah ada sekitar 8.000 kasus, yaitu 4.065 kasus HIV dan 4.186 kasus AIDS. Ini adalah angka yang cukup mengkhawatirkan terlebih sebagian besar penderitanya ada dalam tingkatan usia produktif. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat dengan pesat di kalangan usia 15-24 tahun.
Ada tiga penemuan utama yang berkaitan dengan HIV/AIDS di Indonesia, yaitu pertama, peningkatan penyebaran HIV/AIDS di kalangan penggunan narkotika suntik yang kian akrab dengan dunia remaja. Kedua, peningkatan penyebaran HIV/AIDS di kalangan pekerja seks komersial dan konsumennya. Ketiga, catatan bahwa di Papua HIV/AIDS telah masuk ke lingkungan masyarakat biasa. Untuk menyikapi kekhawatiran ini tidak cukup hanya dengan berdiam diri. Dalam hal ini diperlukan adanya kerjasama dari pemerintah dan masyarakat. Langkah awal yang harus ditempuh adalah penyuluhan mengenai seluk beluk penyakit HIV/AIDS serta bagaimana cara menyikapinya. Kemudian perlu adanya pemerluasan informasi mengenai bagaimana proses penularan HIV/AIDS dan bagaimana cara menghindarinya. Contohnya yaitu tidak menggunakan jarum suntik bekas dan menggunakan alat kontrasepsi yang dianjurkan oleh pemerintah. Kemudian pemerintah pun harus memberikan bantuan pada para penderita berupa obat antiretroviral (ARV) agar harapan hidup penderita bertambah. Dan satu hal yang tak kalah pentingnya yaitu meluruskan pemahaman masyarakat tentang bagaimana cara menyikapi penderita.
Selama ini HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit menakutkan yang kotor dan terkutuk oleh sebagian masyarakat. Hal ini terjadi karena telah terbentuk semacam pandangan bahwa HIV/AIDS identik dengan dunia hitam, yaitu dunia yang dihujat keras dalam kitab suci setiap agama (pelacuran dan perzinahan). Pandangan tersebut memang tidak bisa disalahkan walaupun itu adalah pandangan yang terlampau dangkal dan sempit. Pandangan seperti inilah yang telah memarginalkan para ODHA walaupun pada kenyataannya tidak semua ODHA berawal dari perilaku seks yang salah, misalnya yang ditularkan dari suami atau ibu kandungnya. Selain itu ada juga anggapan yang mengatakan bahwa HIV/AIDS bisa ditularkan melalui kontak fisik biasa dan kontak udara sehingga ODHA pantas untuk dikucilkan. Anggapan ini adalah anggapan yang benar-benar salah. HIV/AIDS tidak menular melalui bersalaman, berciuman pipi, berpelukan, gigitan nyamuk, dan kegiatan kontak fisik biasa lainnya karena HIV hanya terdapat dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI.
Dalam hal ini masyarakat perlu diberikan pengarahan agar tidak melakukan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap penderita HIV/AIDS. Karena Indonesia pun turut serta dalam penandatanganan deklarasi Paris, Desember 1994, yang berisi kesepakatan untuk selalu mendukung penderita HIV/AIDS, mendukung anti diskriminasi, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan asas-asas etis, serta menjadi bagian dari upaya penanggulangan HIV/AIDS. Dengan begitu penderita tidak merasa kehilangan martabatnya sebagai manusia dan memiliki semangat hidup.
***
Peringatan hari AIDS se-dunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember merupakan salah satu wujud nyata dari upaya kita dalam memerangi HIV/AIDS. Dengan adanya peringatan ini diharapkan masyarakat senantiasa “melek” dan selalu waspada terhadap bahaya HIV/AIDS. Selain itu peringatan ini pun diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan sehingga tidak ada lagi pengecualian terhadap orang-orang yang hidup dengan AIDS dan mereka pun dapat menjalani sisa hidup dalam naungan kedamaian. Karena yang paling dibutuhkan oleh para ODHA adalah perhatian, dorongan semangat, cinta, dan kedamaian, selain harapan akan sebuah kesembuhan. Semoga.***

04 November 2010

Foto-foto di Kalimantan Selatan

Hampir lupa posting foto-foto jepretan isengku waktu di Kalimantan Selatan 19 - 22 Oktober 2010 kemaren... hehe


Pasar Terapung Sungai Barito


Jembatan Barito





Resume perjalanan

Selasa, 19 Oktober 2010
Sekitar Jam 9 pagi WIB, aku berangkat dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta dengan Nofrizal dan Mas Agung diantar sama mas-mas driver kantor. Kami terbang dengan pesawat Lion Air jam 11.15 WIB.
Karena ada perbedaan waktu, kami sampai di Bandara Udara Syamsudin Noor, Banjarmasin sekitar pukul 14.30 WITA.
Setelah itu, kami langsung meluncur ke Kantor BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan di Kota Banjarbaru. Tanpa teralu banyak basa-basi, kami langsung deh bertugas nyiapin kegiatan untuk hari Kamis, tanggal 21 Oktober 2010.
Sorenya (maghrib), kami langsung check in di Hotel Permata In, Banjarbaru. Nah, setelah itu aku dan Nofrizal ngelayap. Jalan kaki nyari cemilan. Kami dapet gorengan dan es jeruk doang. Haha... Setelah itu, barulah kami makan besar dengan 'tuan rumah' di salah satu restoran masakan Sunda yang katanya paling oke di Banjarbaru. Beuh, jauh-jauh ke Kalimantan eh makan makanan Sunda. Hahay.
Abis itu, kami langsung istirahat di penginapan.

Rabu, 20 Oktober 2010
Pagi-pagi menjelang siang, kami langsung ke kantor perwakilan buat gladi resik acara besoknya. Setelah gladi resik selesai, aku diajak jalan-jalan ke Martapura dengan Bu Etty, Pak Cornel, Nof, Mas Agung, dan Pak Galih driver rental mobil. Di sana belanja belanji deh. Aku beli kalung, gelang, kain, pajangan, bahkan aku beli mandau, senjata khas Kalimantan dan tameng miniatur berhias gigi sapi (hiiy) yang sering kulihat di film-film dokumenter tentang suku Dayak.
Nggak lupa kami ke toko kain Sahabat Sasirangan. Setelah itu, kami lanjut ke Cempaka untuk liat-liat pertambangan intan berlian. Waw, ternyata mencari intan atau berlian itu bukan hal yang gampang lho. Mungkin kayak nyari jarum di tumpukan jerami. Halah. Sialnya, di sana sepatu kerjaku kena lumpur deh. Padahal itu sepatu semata wayang buat acara besoknya. Tapi, tak apalah, pasti bisa dibersihin.
Nah, berhubung hari menjelang malam, kami langsung pulang ke penginapan.
Setelah istirahat sebentar, kami langsung rapat koordinasi di kantor sambil makan malam: Nasi Padang! Buset. Kemaren masakan SUnda, sekarang masakan Padang. Kedua makanan yang sering disantap setiap hari. Ini Kalimantan coooyyy... haahaha... Tapi ya namanya juga tamu, ya harus nerima dan menghargai hidangan dari tuan rumah. Harus bersyukur coz masih dapet makan. hehe...
Abis itu, kami kembali ke penginapan. Sementara, aku dan Nof lanjut ngelayap lagi nyari tukang mie rebus. Akhirnya dapet mie rebus di deket pom bensin yang beberapa jam lalu antreannya ruarrr biasa!
Stelah itu, tidur deh...

Kamis, 21 Oktober 2010
Acara pun terlaksana dengan lancar. Pimpinan keknya puas denga acara hari ini.
Selanjutnya, aku dan gerombolan lanjut makan Soto Banjar. Setelah itu, dilanjut dengan kunjungan ke Jembatan Barito yang cukup panjang. Bener deh, seumur-umur keknya baru kali ini liat jembatan yang panjang. Haha... paling2 di Jakarta liat fly over doaang.
Nah, abis itu, karena satu dan lain hal, kami turun di pom bensin perbatasan Banjarmasin dan Banjarbaru. Sopir kantor kami minta lanjut pulang. Sementara kami dianter sama temennya Mas Agung. Pertama-tama kami belanja oleh-oleh dulu di Banjarmasin. AKu sih cuma beli ikan saluang goreng kering dan kacang-kacangan. Abis bingung, takut ribet bawanya.
Abis itu, kami diajak makan LOntong Orari yang porsinya muantab abis gan.
Setelah itu, kami langsung kembali ke penginapan dan... ZZzzzzzzz (saking capeknya)

Jumat, 22 Oktober 2010
Subuh-subuh buta telepon di kamar penginapan berdering. Ternyata Mas Wahyu yg mau ngasih tau kalo aku dan Nof harus siap-siap untuk berangkat ke pasar terapung di Sungai Barito.
Tanpa mandi, aku dan Nof langsung ke lobi karena pak driver udah nungguin. Nah, sekitar 1 jam perjalanan, kami pun sampai di pasar terapung. Aku jadi inget tayangan opening salah satu tv swasta yang shooting di pasar terapung.
Unik dan bikin takjub. Baru sekarang aku liat orang-orang lalu lalang bertransaksi di pasar terapung itu. Kerennya, saat kulihat ibu-ibu naik perahu sendirian, dayung sendirian, dan kecepatannya lumayan... kerennn..

#bersambubg ya gan

kesempatan (atau kamu) yang tak pernah adil

ini mungkin tentang kita.
tentang kesempatan bagiku yang tak pernah adil dan sempurna untuk bisa bersamamu.
ya, rasanya tidak adil...

tapi, kesempatankah atau kamukah yang sebetulnya tidak adil?
entah...

semula, ingin kutagih keadilan itu
tetapi, aku tahu...
akhirnya

kututup mata dan rasa agar tak ada lagi rasa dahaga...

Bencana dan Doa

Tentang bencana yang akhir-akhir ini terjadi, aku yakin banget itu adalah ujian dan petunjuk dari Tuhan buat manusia. Liat deh, alam udah mulai renta, udah tua, terus dieksploitasi. Ibarat besar pasak daripada tiang, pemanfaatan SDA terlalu lebay dibanding upaya untuk melestarikan. Hmmh.. padahal, dari zaman SD, istilah "Buanglah Sampah pada Tempatnya" dan "Reboisasi" udah sering banget kudengar. Tapi pada kenyataannya? Ya gitudeh... masih banyak banget orang-orang yang buang sampah sembarangan. Udah gitu, pepohonan habis ditebangi. Mana gedung-gedung beton merata di mana-mana. Nutupin tanah yang harusnya jadi tempat air meresap sehingga tanah nggak akan amblas meskipun air tanah disedot. Lha ini? Penyerapan air kurang, air tanah dipake abis-abisan.... ya udah... tanahnya kayak tulang yang kekurangan kalsium. Betul?

Lucunya, di sisi sono lagi gempa, tsunami, gunung meletus... di sisi lain, orang-orang tetep sibuk ngumpulin duit, ngumpulin kekayaan duniawi.. ya itu sih gak apa-apa... Wajar. bukankah kiat memang dianjurkan untuk kaya? Tapi, kaya yang berguna bagi orang lain. APa sih artinya kaya kalo cuma buat kepentingan diri sendiri. Keknya nggak barokah deh. Alangkah lebih good kan kalo dibagi juga dengan sesama, terutama mereka yang sangat membutuhkan.
Alangkah better juga kalo sejenak aja, di tengah kesibukan kita mengurusi dunia, kita diem sejenak. Sekadar merenung. APa makna di balik semua pertanda ini? Okelah kalo bencana itu gak menimpa kita secara langsung. Tapi setidaknya kita musti sedikit berempati. Ikut merasakan dan semaksimal mungkin mencoba untuk meringankan beban mereka. Masalah cara? Nggak usah tanya2... banyak cara. Dan setiap orang punya caranya masing-masing. Toh, apapun caranya, insya ALlah akan menjadi ladang kebaikan bagi kita. Paling nggak, kita musti berdoa buat mereka... buat semua... semoga kita semua dapet yang terbaik dari Tuhan.
Yuk, kita berdoa... gratis. Bisa di manapun. Kapanpun. Insya ALlah menjadi baerkah bagi semua, asal dilakukan denga ikhlas....

03 November 2010

Mood, Semangat, dan Apalah Itu Namanya

Kali ini cuma mau bilang, mood, semangat, dan apalah itu namanya, yang seharusnya melesat, mendadak seperti hilang. Bawaannya males kerja. Males banget. Nggak enak badanlah. Dan lain sebagainya.
Bingung apa penyebabnya.
Tapi ya sudahlah. Nanti juga akan segera pulih seperti biasa. I hope.. I wish.. I pray..

01 November 2010

Mungkin Akan Segera Tiba

Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat aku tak lagi menatapmu sebagai kamu yang dulu: pendar bintang di antara gelagat kelam langit hitam.

Akan kutinggalkan setiap jengkal isi hati ini, isi hati kita yang tak pernah terungkap dalam satu definisi. Isi hati kita yang diam-diam terkubur dalam pekat laju detik yang berdetak. Isi hati kita yang terpasung oleh dogma. Oleh dangkal pikiran orang-orang. Bahkan, mungkin oleh ketakutan kita menantang matahari.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat sebongkah tubuh yang selalu kurindu menyata di depan mata. Saat tak ada lagi ingin dan doa untuk dapat merengkuh segenapmu. Saat bisa kutatap dengan lega gambar-gambarmu dalam serpih kenangan yang bisa jadi akan melekat selamanya.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat tawa yang kita bagi tak lagi digores oleh curiga dan tanya. Saat bahagia yang kita bagi menetes semurni embun di pucuk pagi. Tanpa hasrat, tanpa ambisi untuk memiliki, tanpa pretensi, dan tanpa pahit kemauan untuk saling melukai.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat tak ada lagi melodi degup nadi yang menghujam euforia saat kutatap tajam tatap tajammu. Saat diam-diam kita saling menatap dan menelusuri setiap lekuk sejarah masa lalu kita dengan berbagai cara. Saat aku menemukanmu di berbagai istana yang tak jarang menyimpan sosokmu sebagai pemiliknya.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat aku menghentikan penantian menunggu jawaban. Saat aku berhenti berharap kautemani menyulam matahari. Saat masing-masing tubuh kita telah berpindah tangan pada pemilik hati yang lain.



Semoga segera tiba saat itu. Saat pagi mengurai jumpa dan senja menutup deret kisah suka cita. Saat binar matamu mampu ketangkap sebagai cahaya sederhana. Saat inginku tak lagi berontak melonjak-lonjak.

Dan saat itu, aku akan berhenti menjadi penimbun rindu.

31 October 2010

Berbagi

bahkan dengan buku harian pun aku tak sanggup untuk berbagi tentang ini...
tentangmu

14 October 2010

Cemas

kali ini ada cemas. Jauh lebih dahsyat dari cemas yang berbulan-bulan lalu kurasakan.
mendadak tumbuh rasa takut. Dunia terasa sunyi. Terasa ada cengkeraman rasa kuatir. ENtah.

tak bisakah kukatakan padanya, kali ini aku takut (lagi)

20 September 2010

Tersinggung Karena Saran dari Orang Lain?

Aku bingung. DI dunia ini kok sering terjadi kesalahpahaman ya? Khususnya dalam hal menerima saran atau kritik dari orang lain. Seringkali, orang yang dikasih saran atau kritik itu nganggap kalo dirinya telah digurui. Parahnya kalo orang tersebut ngerasa lebih hebat dari orang yang ngasih kritik atau nasihat. Heu, kalo udah gitu yowis, salah nerima. Nggak rela kalo dikasih wejangan. Ngerasa direndahkan. Padahal, bisa jadi saran, kritik, wejangan, atau apalah itu namanya, yang dikasih sama orang lain itu tentu aja didasari dengan niat baik: saling mengingatkan. Ya, mungkin emang ada juga sih orang yang ngasih kritik itu buat ngejatuhin seseorang. Tapi, aku yakin banget, di dunia ini masih ada kok orang cerdas dan bijak yang mau tulus ngasih saran atau kritik yang bisa berdampak positif.



Yah, namanya juga manusia. PAsti ngerasa diri paling hebat, paling bener, paling dekat sama Tuhan, paling alim. Sementara, orang-orang di sekelilingnya dianggap nggak penting sehingga setiap petuah dari mereka, terutama yang dianggap nggak ngenakin hatinya, dianggap sebagai pisau yang mengancam hidupnya. Lain halnya kalo ada saran yang sejalan dengan pola pikir dan keinginan dirinya. Barulah yang kayak gitu dianggap sebagai saran dari ce es (temen kompak).Padahal, terkadang perasaan yang kita yakini itu nggak mutlak lho sifat kebenarannya. Terlalu banyak hal yang nyampur. Pola pikir, ideologi, rasa hati, bla bla bla... banyak deh. Itulah yang bikin hati kita yang murni saat lahir menjadi butek nyampur aduk.



Nah, dalam hal ini, kita sebagai manusia yang pasti pernah bikin dosa, perlu nyikapin saran, kritik, nasihat, dll dari orang lain secara bijak dan terbuka. Di sini nih perlu adanya kecerdasan otak supaya bisa mandang sesuatu dari banyak sisi. Nggak cuma dari sisi keegoisan paradigma personal soang.. eh.. doang. Tiap ada saran atau kritik, bagusnya sih dikaji lebih dalam di dalam otak kita yang konon lebih berakal dari makhluk mamalia lainnya. Dipertimbangkan baik buruknya. Diserap energi positifnya. Dicerna... nah, kalo ada hal-hal yang terasa negatif, dicerna lagi, lalu kalo terasa nggak bermanfaat ya monggo dibuang. Nggak usah dibikin menjadi sesuatu yang bikin bete dan sakit hati.



Aku juga dulu pernah tersinggung sama kritikan orang. Sampe2 kami berantem kata-kata hanya karena aku nggak terima sama omongan dia. Jelas, keegoisan aku muncul sejadi-jadinya. Aku ngerasa jadi orang paling suci sedunia dan nganggap orang itu 200% salah. Tapi, setelah setuasi mereda (dalam jangka waktu yang cukup lama lho), finally aku menyadari sesuatu, yaitu aku udah salah mengartikan omongan orang itu. Ya jelas itu semua karena ego dan merasa paling benar sendiri. Padahal, setelah dipikir-pikir, omongan orang tadi itu ada benernya juga. AKunya aja yang buta mata hati karena merasa jadi manusia paling bersih sedunia.Makanya, sekarang tiap ada kritik, saran, atau wejangan, dari siapapun, nggak pernah tuh aku telen bulet2. Selalu aku cerna baik-baik karena aku yakin kritikan juga adalah ajang pembelajaran yang berharga untuk introspeksi diri, untuk semakin mengenali siapa diri kita. APa tujuan kita.... Nggak ada salahnya kan kalo nerima semua itu secara terbuka, berlapang dada, dan lebih 'dewasa'. Lagian, selama hidup di dunia ini, salah satu perantara Tuhan dalam ngasih peringatan pada kita saat kita salah adalah sesama manusia. Bisa orang tua, teman, sahabat, pacar, musuh, tetangga, pak polisi, pak RT, tukang semir sepatu, penjual gorengan... banyak lha. Jadi, bersyukurlah kalo ada sesama manusia yang negor kita. Pelajari semua itu, serap hal baiknya, lalu buang hal negatifnya. Jangan dibikin sakit hati. Yakinlah kalo itu adalah salah satu cara Tuhan untuk ngingetin kita sehingga ke depannya kita bisa jadi orang yang lebih baik. Betul?



Jadi, hari gini masih suka tersinggung dengan saran dari orang lain? Jadul ah... :D

Eh, maaf ya kalau ada yang tersinggung dengan tulisan ini. cuma curhatan tengah malem kok. :) :)

01 September 2010

Tentang Momen dan Kamera

Akhir-akhir ini ada temenku yang tampak heboh ingin 'berdekatan' dengan dunia fotografi. Malah, sepertinya dia udah nyiapin budget sejumlah sekian untuk membeli kamera canggih yang terlihat keren dan stylish sehingga bisa membuat pemegangnya terlihat seperti seorang fotografer sejati.
Sebenernya, aku juga pengen punya kamera-kamera dengan lensa canggih. Tapi, aku selalu ingat perkataan seorang temanku di tempat kerja...
katanya, percuma aja kalo punya kamera bagus dan 'gaya', tapi kita nggak bisa nangkap momen. Intinya, apapun kameranya, mau kamera SLR, kamera poket, bahkan kamera HP, kalo kita bisa nangkep momen yang oke, kita udah bisa kok berkarya di bidang fotografi.

Jadi, buat kamu-kamu yang doyan motret tapi nggak punya kamera 'keren', don't worry. Kamu masih bisa berkarya dengan kamera yang sekarang kamu pegang. Yang penting, pinter-pinter aja nangkep momen.
Okey, selamat berkarya!

31 August 2010

Saat-saat yang Kuinginkan

aku hanya ingin saat-saat itu...
saat angin senja menerpa tubuhmu yang menantiku di ujung pintu
saat deras cuaca merekam gestur tubuhmu yang riang di hadapanku
saat malam nyaris menutup perjamuan kita yang diwarnai tawa

aku hanya ingin saat-saat itu...
setiap hari,
mengganti letih jiwaku yang melihat murung di wajahmu
menukar setiap pancar kebencian yang kau hujam dan kuterima dengan curiga

aku hanya ingin saat-saat itu...
saat bahagiamu mengiris cemas, membelah rasa takut
dan mengubur curiga

aku hanya ingin saat-saat itu...
yang mungkin tak akan pernah datang setiap kau berkata 'kapan-kapan'

Sikap Buruk

Gw sama sekali nggak pernah kepikiran buat bikin orang lain bingung, apalagi membuat mereka sakit hati karena sikap gw. Bukannya sok baik, tapi gw emang selalu ingin orang lain nyaman saat ada di dekat gw. Gw ingin selalu memanusiakan mereka sebagai mestinya.
Tapi gw bingung sama sikap orang yang kerap bikin hati gw cemas dan agak bingung. Bikin gw bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan diri gue? Haha.. konyol. Sikap yang terkesan antipati terhadap gw sejak awal bertemu. SIkap menyebalkan semacam itu datang dan pergi. Nggak jelas.
Mungkin, lama-lama gw bisa bertoleransi. Bisa mulai memahami sikap itu. Tapi, terkadang gw lelah. Bahkan, saat dia bersikap baik, yang ada hanya tanya dan curiga.
Entah.

15 August 2010

Ramadhan Tahun Ini

cuma mau bilang,
Ramadhan kali ini rasanya kok ada sedikit nelangsa. Haha. dasar si gue memang berlebihan. Tapi, jujur ini kali pertama lewati shaum Ramadhan sebagai anak kost. Sore dan menjelang sahur musti hunting makanan.
Ya, sekadar meriwind kenangan, dulu waktu masih di Bandung, pulang kerja nyampe rumah menjelang maghrib. Di meja makan, masakan mama yang enak-enak udah nungguin. Sementara, tahun lalu itu masih ada diklat auditor ahli. Makanan tersedia di ruang makan. Tinggal makan saja.
Sekarang? Heu, beginilah. Udah beberapa hari ini makan sahur pake mie instan karena males jalan nyari warung. Ini dia masalahnya, RASA MALAS. Cuma itu kok.
Ya, ditambah sedikit rasa kehilangan lha karena nggak bisa tiap hari kumpul-kumpul sama Mama dan adik-adik di rumah. Hahay, bikin tulisan ini gue ngerasa lebih muda bertahun-tahun. Yu Marii...
btw...
met puasa ya semua,.,,,
SEmangaAT!!!!

Antara Saya, Aku, dan Gue

ini sekadar menjawab pertanayaan beberapa teman yang bilang kalo saya (aku atau gue) kok gonta-ganti kata ganti?
haha... ya gimana ya, saya mah nulis gimana enaknya aja. kadang pake saya, aku, atau gue. Yang jelas, gak ada perubahan makna kan, walaupun mungkin ada perbedaan rasa. Jadi, apapun kata gantinya, ini masih tulisan saya (aku tau gue) kok.. he he he

30 July 2010

Aku, Dia, Lorong, dan Lanskap Itu

Diam-diam, ternyata ada secarik sejarah yang terpahat dalam beberapa bagian kecil memoriku. Ini tentang aku, dia, dan lanskap yang (mungkin) pernah kami lihat dari jendela yang sama.
Satu demi satu kutiti langkah di lorong yang sama, yang dulu (mungkin) pernah mempertemukan aku dan dia dalam situasi yang serba terpaksa sampai pada akhirnya (mungkin)kami saling menemukan di sana.

Kuamati kakiku. Kaki yang memijak lantai masih sama. Masih kakiku yang akhir-akhir ini mulai kehilangan arah. Masih kakiku yang sejak kali pertama perjumpaan itu bergetar tanpa kendali. Masih seperti itu, terutama setiap ada bidikan sepi yang dia hujamkan melalui gestur tubhnya.

Kuamati dinding-dinding yang mengapit kedua sisi pandang mataku. Lalu, takjubku bertumbuh saat visualisasi aku dan dia berkelebat. Datang silih berganti. Ya, menyerupai hantu yang sedikit transparan. Lalu-lalang, terkadang melesat ke arahku, lalu menghilang setelah sejenak kupejamkan mata.

Begitu pula dengan lanskap khas yang akan kuingat selamanya. Lanskap yang (seingatku) pernah kami lihat bersama. Pernah, dia torehkan lucu tingkah di depan lanskap itu.
Dan aku hanya bisa menyimpan sendiri kisah itu karena (setahuku) dia tak mungkin ingat hal-hal sepele semacam itu.

Ternyata memang benar. Ada secarik lembar sejarah yang telah kupahat di lorong-lorong itu. Sejarah yang mungkin tak akan pernah diingat oleh sesiapa, (mungkin) termasuk dia. Sejarah itulah yang akan selamanya melekat di kelopak mataku sehingga tiap aku kembali menyusuri tempat itu akan selalu ada visualisasi yang kerap menumbuhkan kerinduan purba.

Perlahan, kupejamkan mata. Kuhirup udara dengan aroma khas yang telah berganti dengan aroma detik-detik baru. Ada euforia. Ada rasa lega karena aku pernah memiliki rasa bahagia dengan sejarah itu. Ya, sejarah yang (mungkin) tak pernah dia ingat sama sekali.

Aku mulai melangkah, mengukir sejarah baru tentang semua itu.
Aku tak tahu warna apa yang akan menghiasi aku, dia, lorong, dan lanskap baru yang ada di depan sana. Aku juga tak tahu, adakah serpih kenangan tentang lorong dan lanskap itu dalam benaknya. Aku tak tahu. Tak pernah tahu.
Yang aku tahu, aku bahagia karena pernah ada serpih kisah antara aku, dia, lorong, dan lanskap itu.
Dan aku akan selalu menjaga rasa bahagia ini walau ada pisau yang (mungkin) sengaja dia hujamkan ke hatiku yang terkadang merapuh karena kenangan.

20 July 2010

Tak Ada Lagi

sekarang aku tak bisa lagi menegakkan kepala
untuk menatapmu, menantang tatapan nyalang itu dengan setitik semangat dan kegembiraan

tak ada lagi celoteh kisah-kisah yang sebelumnya mungkin tak pernah bisa kaubayangkan...
tak ada lagi

kini lesu langkah kutiti
kuhitung ubin-ubin kecemasan
yang kerap mendera saat wajahmu tersaji di lanskap-lanskap tak terduga

Kurusetra yang Tak Terdefinisi

Lagi-lagi, ada rasa gelisah tak jelas saat ku terjaga di pagi hari....
Ada deret mimpi yang mengubah rasa, mewarnai citraan, dan menguasai pikiran....
Entah tentang apa... entah karena apa dan siapa...
entah apa ada yang salah... di batas fajar dan pagi aku hanya bisa melihat cemas yang membuat lemas....
mungkin sebenarnya aku tahu, apa itu, siapa itu... Tetapi, ada benteng pengingkaran yang secara tak sadar kudirikan untuk melindungi pulau hijauku dari gelisah ombak-ombak, dari kejam hujaman hujan, dari nyalang mata elang yang menghantuiku setiap pagi dan petang.

Aku ingin semua cemas ini segera usai dan pergi dari kurusetra yang tak terdefinisi sampai saat ini.

16 July 2010

Akun Palsu

Heu.. kali ini gw mau ber-GR GR ria. Ada yang iseng bikin akun FB spesial buat gw.
Ceritanye, beberapa minggu lalu, ujug-ujug ada yang nyapa via message FB. Id-nya waktu itu M. Nah, dalam hari yang sama, dia ngupdate FB-nya. Dari mulai nge-add friend, ngelengkapin data dirinya, sampe ngeganti nama akunnya pake "K", sebuah nama yang dia comot dari salah satu status FB gw.
Haha, gw sih lempeng-lempeng aja. Malah, gw asyik nge-hoax nanggepin messages dari dia.
Anggap aja, dia itu orang yang cinta mati sama gw dan malu buat ngungkapinnya.Ha ha ha...
Oi, kalo orang yang gw maksud itu baca tulisan ini, salam 'MMMMMUUUUAAAAH' dari gw...
;)

07 July 2010

Jeprat Jepret di Semarang (4 s.d. 6 Juli 2010)

Ini nih hasil jeprat jepret isengku waktu tugas ke Semarang tanggal 4 s.d. 6 Juli 2010. Hehehe... selamat liat-liat ya... :)

Lawang Sewu








Taman Tugu Muda








Simpang Lima



Bandara Internasional A. Yani

22 June 2010

Fragmen II

Fragmen Bintang (yang Tak Kunjung) Jatuh

When U wish upon a star....

Hanya kalimat itu yang kuingat dari lagu Gita Gutawa.

Rasanya sudah lama aku menunggu bintang berjatuhan dari wajah langit. Konon, setiap melihat bintang jatuh, kita dapat mengajukan permintaan yang dapat segera dikabulkan.

Lama aku menunggu bintang jatuh itu. Ya, ada satu keinginan yang ingin kusampaikan. Ada yang ingin kupinta. Tapi rahasia. Tak ada yang boleh tahu. Jika ada yang tahu, tentunya aku akan merasa malu. Rasa malu itu bisa menumbuhkan rasa tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri itu tentu saja akan semakin menjauhkan aku dari kemungkinan untuk mendapatkan kamu. Berbagi rasa hati denganmu. Ups... nyaris saja kukatakan keinginan rahasiaku.

Sekarang, di atap perkantoran ini kutadahkan wajah. Kutatap langit. Aku ingin melihat bintang jatuh. Tetapi sayang, bagaimana bisa kulihat bintang jatuh sedang hujan nyaris saja turun dari lanskap mendung itu.


Fragmen Mati Karena Kerinduan

Ada yang mati karena kerinduan, tetapi aku tak ingin jika itu adalah aku.



Fragmen Hujan

Jejatuh hujan tak deras, tetapi rindang tipis-tipis...
Ciptakan siluetmu yang tak nyata di pucuk-pucuk waktu


Fragmen Terkaan Jauh
Dari jauh... aku menerka-nerka, musim apa yang kini sedang bermukim di hatimu?

Fragmen I

Fragmen Mula
Ini semacam fragmen. Bisa jadi ini adalah keping puzzle yang tercerai-berai karena turbulensi di dalam kepalaku. Sesekali, aku adalah orang tangguh yang mampu memikul batu seberat apapun. Tetapi, ada kalanya juga aku hanya sehelai daun saga yang mengering di luas gurun, lalu terinjak dengan suara kersak.
Kau tahu? Jatuh cinta di kepalaku buka sekadar kisah berembel-embel monyet yang penuh dengan rayu kemayu atau sanjungan menjijikan. Itu hanya bulu-bulu halus yang membuat perutku kegelian.
Aku heran, terkadang manusia berkoar-koar bicara cinta, tapi mind set mereka terpagari dogma dan pengultusan tentang cinta itu sendiri. Ya, cinta yang sebatas hubungan dekat antara sepasang manusia yang kebetulan dinamai lelaki dan perempuan.
Padahal, cinta bukan hanya itu. Tak sadarkah mereka pada setiap tarikan nafas? Di situ ada cinta. Pada setiap tetes hujan yang jatuh membasahi bumi, pada cahaya mata bunda yang baru saja melahirkan seorang bayi, pada setiap tetes darah pejuang kemerdekaan yang membanjiri bumi, bahkan pada jentik nyamuk yang menanti waktu untuk tumbuh menjadi serangga.
Pikiran-pikiran sempit tentang cinta hanya membuat cinta menjadi sosok yang menggelikan. Tak ubahnya seperti badut panda berwarna pink yang berkeliaran setiap tanggal 14 Februari.

Tetapi, mungkin isi kepalaku itu terlalu berantakan. Tidak tertata sama sekali seperti lembar-lembar kertas dalam file map kabinet di kantor-kantor. Bisa jadi, lebih parah dari daratan Aceh pascaTsunami. Porak-poranda. Luluh lantak. Amburadul. Pabalatak. Sial, bantar gebang!
Mungkin ini juga yang membuatku kehabisan vocabullary untuk mendefinisikan setiap jengkal gelisah, gemas, gereget yang mulai bergentayangan sejak wajahmu mulai jadi objek terdahsyat di depan lensa mataku.



Fragmen Cermin

Kau datang mengejutkan diriku
Menikam hatiku...
Detak jantungku
Sesungguhnya ku tak inginkan dirimu di saat ini... di tempat ini...
(Padi)


Dia tertunduk di puncak bukit. Diamatinya lanskap kota yang dibatasi garis horison bersemburat jingga. Perlahan, cahaya langit mulai surup. Dan aku ada di situ untuknya.

Angin mendekap tubuhku yang melunglai. Berabad rasanya aku menungguinya dalam sunyi. Siapa aku hari ini? Mungkin berbeda dengan aku yang kemarin datang membawakan flower bucket untuk kekasihku. Atau, jangan-jangan ini adalah aku yang sempat meluapkan rasa marah pada setangkai bunga lily di taman sunyi. Entah. Akukah aku?

Angin pun mengoyak jingga di wajah matahari senja.

Kini di hadapanku ada sebuah cermin besar. Jernih dan nyata. Dari situ tampak refleksi dunia yang mencengkeramku. Lamat-lamat, cermin itu berbisik. Tapi tak kudengar. Kini dia bosan. Dia marah. Lalu, cermin itu berteriak lantang ke arah kupingku. Cermin itu berkata: Dia adalah aku.
Aku marah. Bagiku, aku adalah aku. Bukan dia, bukan pula sesiapa yang menguasai keantah-berantahan dunia. Kulempar cermin itu dengan sebelah sepatuku. Pecahlah dia. Ternyata, di balik cermin ada tubuh lain. Ya, lelaki yang sejak tadi tertunduk di atas bukit dan mengamati lanskap kota. Dia menoleh ke arahku, lalu melompat ke arah yang entah bersama angin.



Fragmen Kemurungan
Serupa perawan di pematang senja, matahari mulai kehilangan daya. Perlahan, malam mencengkeramnya dalam sunyi. Mengurungnya dalam kemurungan purba. Ya, kemurungan yang berabad menghantui.

20 June 2010

Medley di Bawah Bulan Sabit


hujan menghentak waktu
ada aliran deras merasuk di telingaku
bertubi menghujam jantung payahku:

"mengapa tak bisa dirimu yang mencintaiku
tulus dan apa adanya
aku memang bukan manusia sempurna
tapi kulayak dicinta karena ketulusan
kini biarlah waktu yang jawab semua tanya hatiku"

(Pasto-Tanya Hati)


"Yang kaulihat senyumku, tak kau sadari pedihku
namun hancurnya hariku kau tak perlu tahu
kuharap engkau bahagia, walau hatiku terluka
akan kusimpan cerita, kau tak perlu tahu"

"Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu
engkau di sana, aku di sini
meski hatiku memilihmu"

"haruskah kuakhiri, aku tak tahu
apakah nyata ataukah prasangka
tak mungkin kuhindari, sanggupkah aku terus melangkah
atau kupergi saja"

(Kahitna-"Insomnia", "Mantan Terindah". "Hampir Jadi")


"bila aku tak berujung denganmu
Biarkan kisah ini ku kenang selamanya
Tuhan tolong buang rasa cintaku
Jika tak kau izinkan aku bersamanya.."

(She - "Apalah Arti Cinta")

lalu berkelebat lirik-lirik
diam-diam menggelitik
sedang di wajah bayanganmu aku masih asik


(Hitomi No Jyunin - Laruku)

(Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian)

(John Mayer - Heartbreak Warfare)


lamat
makin mengabur
makin melebur
bersama remah-remah jiwa yang hancur


(Muse - Resistance)

perlahan
makin membaur
kenangan yang merambat bagai sulur-sulur
kali ini, tawa kawan tak mampu melipur

bahkan,
bintang jatuh yang dibebani keinginan orang-orang itu
kupastikan tak mampu wujudkan keinginan terdalamku
hasrat tertinggiku tentangmu tentang dunia yang
selalu diisi sumpah serapah ini

sudahlah...

(Bondan Prakoso - Ya Sudahlah)

(Closehead - Berdiri Teman)

(The Beatles - Blackbird)

(Core of Soul - Purple Sky)


kaukah yang tak lama lagi akan menemuiku dalam mimpi gelisah?


diam-diam
kupunggungi setangkup kisah yang berabad membebani biru bahuku


aku ingin melupakanmu
hanya itu


kini, nyanyian Sondre Lerche mengalun teduh dan hangat


lalu
pelan-pelan kututup mata yang entah kenapa rasanya basah

17 June 2010

Kahitna - "Hampir Jadi"


apa ini jelaskan padaku
ku pikir hampir jadi
masih saja salah langkahku

meski impianku hancur di depan mata
masih saja ku tunggu jawabmu
ku bertahan

haruskah ku akhiri
aku tak tahu apakah nyata
atau kah prasangka

tak mungkin ku hindari
sanggupkah aku terus melangkah
atau ku pergi saja

sampai hati statusku tak jelas
kini impianku hancur di depan mata
masih saja ku tunggu jawabmu
ku bertahan


mau atau tak mau
suka atau tak suka
kan ku cari jalan sendiri
jalan sendiri


atau ku pergi saja

download here:
http://www.index-of-mp3.com/download-Kahitna_-_Hampir_Jadi_%28Lebih_Dari_Sekedar_Cantik%29-fs217525736-29cc6414.html

sumber foto:
http://www.flickr.com/photos/alving/2665955909/

05 May 2010

Jangan Biarkan (Hanya) Waktu yang Menjawab

Terkadang, dalam hal melupakan sesuatu, terutama kenangan buruk, orang-orang beranggapan waktulah yang akan menjawab semuanya. Dalam konsep seperti ini, seseorang diset agar berpasrah diri dan membiarkan waktu yang menghilangkan kenangan buruk itu.

Misalnya, saat kita diputuskan oleh kekasih, ditinggalkan oleh sanak keluarga yang meninggal dunia, atau hal-hal lain yang menumbuhkan kesedihan. Saat itu, kita memang harus memiliki kekuatan untuk ikhlas dan berserah diri karena Tuhan telah mengatur semua. Tapi, itu tidak cukup. Ada satu hal yang tidak kalah pentingnya, yaitu semangat dan usaha kita untuk melepaskan diri dari jeratan kesedihan. Kita tidak bisa membiarkan waktu saja yang menjawab segala kegelisahan kita. Memang, suatu saat nanti, kesedihan itu akan sirna, tapi semua itu tidak akan terjadi dengan sendirinya jika kita menutup diri dari hal-hal lain di luar kita.



Sebagai contoh, saat kita bersedih, apakah kita akan membiarkan diri kita mendekam di kamar tidur sambil menangis atau kita akan menemui teman-teman kita untuk merasakan kebersamaan sehingga tidak ada perasaan bahwa kita sedang sendiri.

Jadi, selain berpasrah pada Tuhan (Dialah yang mengatur semuanya, termasuk rasa hati kita), kita juga harus berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan kesedihan itu. Mungkin itu akan mempercepat proses pemulihan kita dari rasa sakit dan sedih. Caranya, salah satunya mungkin bisa dengan mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang berguna. Kita juga bisa bertemu teman-teman kita. Bukan mencari solusi, karena untuk urusan solusi terhadap permasalahan, bagiku hanya orangnyalah yang bisa menemukan solusi. Kita bisa sekadar sharing atau melewati hari dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti berlibur.

Jadi, saat ada yang bertanya kepada kita: "kapan kamu bisa melepaskan diri dari kesedihan ini?" jangan dijawab dengan: "Hanya waktu yang bisa menjawab". Tetapi, jawablah, "seiring berjalannya waktu, saya akan berusaha untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan yang singkat ini..."



sumber gambar:
http://hensyam.wordpress.com/2009/02/19/bila-waktu-berjalan-mundur/
http://blogs.discovermagazine.com/cosmicvariance/2008/11/24/what-if-time-really-exists/

04 May 2010

Hal yang Paling Kuingat Saat Diklat di Kalibata

- Telat nyampe di Pusdiklat. Aku nyampe menjelang makan malam.

- Waktu pertama kalinya diajarin “DUDUK SIAP GRAK!”

- Duduk di barisan kelas “Angkatan 2” paling belakang pas perkenalan di Auditorium plus belajar nyanyi mars dan hymne BPK, juga latihan upacara pembukaan.

- Bikin Abu, Dimas, dan Bayu (temen sekamarku) bingung nyari kunci kamar yang tanpa sengaja terbawa.

- Hari pertama udah diomelin sama duo S (Pak Supangat dan Saiful) gara-gara kemejaku dilinting.

- Bikin yel-yel. Di kelasku dibagi jadi 5 kelompok. Aku sekelompok sama Bram, Resi, Yeni, Febi, Danu, dan Bayu. Karena yang lain masih malu-malu kucing untuk joget ala penari Sunda, kepaksa aku joget heboh sendiri. Kelompok kami jadi pemenang kedua.

- Waktu introduce yel-yel kelas di Auditorium mendadak kesetanan dan joget-joget jaipong sendiri di depan tanpa direncanain. Aduh, entah ya.

- Gantiin tugas Yeni yang lagi sakit jadi piket. Dihukum push up berkali-kali karena salah ngitung jumlah siswa dan ada siswa yang nggak kebagian lauk.

- Jalan-jalan ke Pusat Grosir Cililitan sama Edo, Bram, Damar, Pa Diding, Fitria, dan Dewi.

- Erna sering manggil-manggil aku dan memperlakukan aku seperti anak kecil.
- Waktu digendong sama Edo.



- Sering dikasih oleh-oleh sama temen-temen yang pulang kampung.

- Ada siswi yang mirip Asmiranda, Aura Kasih, dan Putri Huan Zhu. Wkwkwkwk.

- Ngenet Sabtu pagi di lobi gedung Suprayogi.

- Mengendap-ngendap ngambil air dini hari ke lantai 3 atau 4 karena di lantai 2 nggak ada air panasnya.

- Waktu ada siswa yang nggak hafal Pancasila.

- Tiap abis senam pagi, selalu pengen duluan nyampe kamar, biar bisa mandi duluan.

- Waktu Riza Faridhan mimpin lagu jadi dirigent.

- Waktu ngecengin seseorang dan didukung penuh sama koncoku, Bram. Tapi sayang, sasaran telah dipinang hati yang lain. Halaaah.

- Waktu bantuin Desi Tampubolon ngambil jemurannya yang terbang ke atas genteng.

- Saat kelas lain punya nama Pinkers, Mamujuers, Kopompong, dan Laskar Ijo, kelasku namanya MQ. Tentunya karena ada AA GYM a.k.a. Doddy Pranata ikutan diklat juga.

- Waktu ngejajah kamar 211 bareng anak-anak angkatan 2 yang lain.

- Tiap kumpul sama Edo, Dera, dan Alex suka nyanyi-nyanyi sok jadi vokal grup.

- Waktu liburan ke Bogor dengan anak-anak Angkatan Dua.

- Waktu perlombaan antarkelas. Ada lomba yel-yel, nyanyi paket lagu BPK, tebak-tebakan, dan lomba masukin pensil ke botol saat kelasku jadi yang paling pertama menyelesaikan game.

- Nonton “Bukan Cinta Biasa” berdua sama Edo.

- Jadi nyamuk pas nonton Angel and Demon dengan Bram dan Rani. Hehehe.

- Waktu main ke CIwidey.

- Waktu ngasih hadiah puisi buat Bu Ririn, Dosen SIA di kelas Auditor Ahli Nonbe. Sorenya kelas kami ditraktir kue yang enak. Hehehe.


- Bramantya dan hampir semua anak yang hobi tidur terus di kelas.



- Waktu dipanggil ke depan gara-gara pulang larut malem setelah nonton KCB dengan Edo, Fitri, Rani, dan Bram. Tapi Bram nggak ‘tampil ke depan’. Huuu curang.

- Durhaka pada dosen-dosen ‘unik’ dengan membuat karikatur mereka ala kartun Beni & Mice (dikasih keterangan ini itu).

- Kaget sama ‘daya tarik’ dosen komputer. :P

- Dosen Bahasa Indonesia yang ngajar sambil ngitung ubin.

- Hasil diklat Auditor Ahliku: Cerita BABAD TANAH NONBE yang dibintangi oleh artis-artis nonbe, dari mulai Romehul sampai Siluman Duyung Bertangan Cumi-cumi. Ditulis dalam buku kelas yang dikompilasi dengan karya-karya kreatif anak-anak nonbe lain. Oi… bukunya sekarang di manaaaaaa?

- Waktu Pak Supangat nyuruh aku dan Desta tampil berdua ke depan berdua.

- Di kelas nonbe banyak pasangan Maho. :P yang dipelopori oleh Rensy Cute. Hiiiy….

- Siswa kelas nonakun A sakit hampir setengah kelas.

- Her hampir tiap Jumat, sampe-sampe batal ke Semarang sama Bram dan Rani.


- Ketiduran di kamar menjelang her Analisis Biaya. Untung dibangunin sama Mas Ecko. Alhasil, ngulang lagi taun depan. :P

- Tiap ujian, kalo nggak bisa, yaudah kujawab soal secara improvisasi. Kalo lupa rumusnya, yaudah aku bikin rumus sendiri suka-suka aku.

- Nonton sinetron “kisah kasih di sekolah” dari jendela kelas yang kayak aquarium.

- Diem-diem nonton sinetron “Cinta Fitri” di Lantai 7 bareng Mbak Citra dan Resi. Kadang-kadang bareng Bayu Agosta dan Abu. Hahahaha.

- Waktu ditinggal Abu, Dimas, dan Bayu yang ditempatin duluan. Di lantai dua tinggal aku di 215 dan Ahim di 201. Akhrinya kami memutuskan untuk hidup bersama di kamar 305. Hahahaha. Ternyata, Andera pun ikut gabung.

- Kegep ake celana pendek pas makan sahur. Pagi-paginya dibahas sama Om Supangat pas apel pagi. Sial.

- Waktu main bareng ke Ciater sama anak-anak kelas lain pake mobilnya Fitri.

- Main Futsal campuran anak-anak cowok dan cewek.


- Main UNO di depan lift lantai 4. Kami lupa kalo sewaktu-waktu sang pengawas bisa tiba-tiba muncul. Ternyata benar. Untunglah yang jadi tumbal hanya Rohul dan Sutiah. Hahaha.



- Bu Anon a.k.a Natasha. Pengajar tercantik yang pernah kulihat, selain dosen komputer itu lho. Hahahahaha.

- Tengah malem ada suara kucing kayak yang disiksa. Pas mau makan sahur, kotoran kucing berserakan di tangga, dekat kamarku.

- Melihat kucing tampak marah pada sesuatu di lorong. Saat kuhampiri, nggak ada apa-apa cuy! Hiiiy….

- Iseng nyemprot badan kucing (si Udin) pake Parfum.

- Sok sokan main tenis. Biasanya sih sama Dini, Wahyu, Sutiah, dan lain-lain.

- Waktu pertandingan olah raga antar kelas. Seru banget lah.



- Waktu ikutan lomba paduan suara antarkelas. Tim kelasku jadi juara II walaupun konon ada yang cuma lipsing. Hahahahaha.



- Waktu iseng foto-foto di depan Pizza Hut, eh ada salah satu pimpinan Pusdiklat lagi makan di sana. Malu deeeh…

- Waktu Nurul Ikhwan menjepitkan kepalanya sendiri di pintu lift. Gokil.

- Waktu ngedengerin curhatnya Dita dan Dini di Hokben Kalibata. Ihiiiiy…

- Waktu ada gempa Tasikmalaya. Terjadi kekonyolan di antara aku, Dera, dan Ahim. Hihi… ntar aja ah nyeritainnya.

- Main petasan sehabis sahur.

- Naik kereta api Parahyangan dengan gerombolan anak asal Bandung.

- Waktu main ke Taman Mini bareng anak-anak NONBE

- Waktu ada dosen nyasar ke kelas Nonbe.

- Katering yang bikin anak-anak pusing karena menu semacam sponsbob dkk.

- Tentunya apel pagi dan malam plus baris-berbaris sebelum melakukan sesuatu.

- Waktu pengumuman penempatan.

03 May 2010

Telah Setahun

Wah, setahun terakhir ini udah jadi setahun yang terasa super cepat buatku. Tepat setahun yang lalu, 3 Mei 2009, untuk pertama kalinya aku masuk Pusdiklat BPK di Kalibata. Mungkin itulah awal langkahku dalam petualangan di BPK. Hahaha...

Aku masih inget, sore itu, sekitar jam 5 sore, aku nyampe di stasiun Jatinegara dengan membawa tas dan koper. Ceritanya sih aku mau ikut serangkaian diklat yang dilaksanain sampe bulan September 2009.

Aku dijemput sama sepupuku, Hari, yang memang udah lama tinggal dan kerja di Jakarta. Tapi baru aja nyampe, aku udah dapet pengalaman seru. Kami nyasar. Saya pikir Hari tahu jalan, ternyata nggak.
Jelas, aku diledek sama Fitri, temenku yang juga keterima di BPK. Soalnya, dia udah ngajakin aku pergi bareng keluarganya, tapi aku nolak. Bukanya apa-apa, aku pengen menikmati pemandangan yang indah dari kereta api. Hahahay.

Akhirnya setelah sasar-sasaran dan 'kapegat' hujan, sampe juga bocah botak ini di wisma Pusdiklat Kalibata. Bocah mungil ini sempet shock karena di lobi wisma orang-orang (tentunya peserta diklat juga) udah pada ngumpul dan katanya sih mau siap-siap makan malam. Walah, piye iki? Aku baru nyampe. Hal lain yang bikin shock adalah saat melihat tubuh mereka yang besar-besar (padahal nggak semuanya besar-besar, kebetulan aja yang kulihat mereka).

Singkat cerita, aku minta kunci sama mas-mas resepsionis. Aku dapet kamar 215. Berhubung belum tau di lantai berapa letak kamar 215 (dudul), aku minta anter Fitri yang kebetulan mau ngambil barang di kamarnya (lantai 4).



Masuklah aku ke kamar 215. Di sana udah ada berbagai barang tergolek. Ada tas, koper, topi. Hmm... artinya udah ada orang yang datang ke sini.

Nah, abis mandi dan ritual bersih-bersih menjaga ketampanan lainnya, aku lanjut ke ruang makan. Beuh, ternyata di ruang makan orang-orang udah pada duduk di mejanya. Dan yang bikin ngeri, semua dipandu sama dua orang berbaju loreng. Hiiiy... firasat buruk. Jangan-jangan bakal terjadi sesuatu. Bakal ada perploncoan kayak mahasiswa baru. Waaaa....

"DUDUK SIAP, GRAAAK!"

Gitu deh beliau nyiapin kami semua yang duduk di meja makan.
Nah, abis makan, kami langsung diarahin ke ruang auditorium. Letakknya ada di atas ruang makan.
Aku kebagian kursi paling belakang bareng dua orang peserta. Namanya Danu Tirtayana Permadi dan Andri Ariwibowo. Nah, nggak lama kemudian datang seorang cewek berjilbab. Namanya Aulia Rosemary.

Nah, jam sepuluh lewat, acara kenalan dan latihan nyanyi Mars dan Hymne selesai. Aku balik ke kamar. Ternyata, di depan kamar udah ada 3 orang nungguin aku. Haha... ternyata seharusnya kunci kamar kutitip di resepsionis setiap mau pergi ke luar. Eh, ini malah kubawa. Jadi, ternyata mereka nyari-nyari kunci kamar. Mereka adalah temen sekamarku. Namanya Abu, Bayu, dan Dimas.

Nah, malam itu kami berkenalan. Yah, perkenalan standar lha. Nanyain asal, latar belakang pendidikan, dan lain-lain lha. Yang jelas kami nggak terlalu banyak ngobrol coz udah malem dan besok harus bangun pagi banget. Besoknya kami harus ikut diklat Prajabatan selama dua minggu. Nah, aku masuk ke kelas Angkatan 2.


Yups, itulah hari pertamaku di tempat diklat. 3 Mei 2009. Setelah itu, ada banyak kejutan yang terjadi sampai aku dan temen-temenku ditempatin di 'habitat'nya masing-masing di seluruh Indonesia.

Mau tau cerita-cerita seru di Wisma Kalibata?
Coming soon....
hahahaha..

08 April 2010

Melewati Flu


(sumber gambar: http://www.health-niche.com/174/flulaval-%E2%80%93-fighting-against-influenza/)

Pernah merasakan 'nikmatnya' influenza? Hehehe... wah, memang, salah satu penyakit yang 'akrab' dengan kehidupan sehari-hari ini sering bikin jengkel. Apalagi di awal mula terjangkit virus ini. Beuh... kepala rasanya berat banget. Selain itu, hidung rasanya nggak enak dan lama-lama indera penciuman kita jadi berkurang fungsinya.
Mamangnya, apa sih influeza itu? Yuks, kita simak tulisan ringkas, padat, dan bermanfaat yang saya ambil dari http://medicastore.com/penyakit/32/Influenza.html ....


Influenza (flu) adalah suatu infeksi virus yang menyebabkan demam, hidung meler, sakit kepala, batuk, tidak enak badan (malaise) dan peradangan pada selaput lendir hidung dan saluran pernafasan. Virus ditularkan melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk atau bersin; atau melalui kontak langsung dengan sekresi (ludah, air liur, ingus) penderita. Influenza berbeda dengan common cold.
Gejalanya timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba.Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza.Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4?Celsius.

Banyak penderita yang merasa sakit sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai.
Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala. Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak.
Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan.
Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak.

Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari.***

Nah, gimana? Tentunya pada ngeh kan sama penyakit flu? Apalagi setelah membaca penjelasan tadi.
Memang, sebetulnya, yang namanya penyakit atau virus itu ada di mana-mana. Kita memang nggak sadar karena nggak terlihat. Diam-diam, jutaan virus jahat mengincar kita dan bersiap masuk ke tubuh kita, lalu berevolusi menjadi bibit penyakit. Di sinilah pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Jika, daya tahan tubuh kita oke, sebanyak apapun virus yang mengintai, tentunya mereka nggak akan berani masuk ke tubuh kita. Kalaupun sempat masuk, si daya tahan tubuh kita, yang bisa kita visualisasikan sebagai superman mini di dalam tubuh, akan membunuh bibit-bibit penyakit yang berbahaya itu.
Jadi, perkuatlah daya tahan tubuh kita dengan makan secara teratur, mengonsumsi vitamin, makan makanan bergizi, cukup istirahat, dan banyak minum air putih yang dapat membuang toksin dari dalam tubuh kita.
Terkadang, cuaca juga berpengaruh lho terhadap daya tahan tubuh kita. Pergantian cuaca selama ini diyakini dapat menjadi penyebab timbulnya flu. Sekali lagi, di sinilah pentingnya menjaga daya tahan tubuh.

Nah, kalau flu sudah mulai menyerang,jika cocok, kita dapat mengonsumsi obat-obatan anti flu. Sebaiknya sih atas restu (halah, restu) atau petunjuk dari Dokter. Tapi, kalau kita termasuk orang yang jarang mengonsumsi obat-obatan semacam itu, bisa juga kok diobati secara alami. Konon, kata Ibuku, kita harus buaaanyak minum air putih. Kalau perlu sih segalon dalam sehari.
Yang nggak kalah pentingnya, yaitu TIDUR. Yups. Tidurlah agar tubuh kita fit. Terus, kita nggak boleh angin-anginan apalagi hujan-hujanan.

Nah, kalau sakit berlanjut, hubungi dokter, kayak yang ada di iklan-iklan TV. Hahahaha...

Pokoknya, menurutku tindakan antisipasi pertama saat flu atau menjelang flu itu adalah istirahat dan minum air putih sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, terserah Anda... mau ke dokter, mau minum obat warungan, mau makan buah-buahan, mau apapun.. bebas lah... :)

Semoga lekas sembuh!

link terkait:


07 April 2010

hanya sedikit luapan rindu

suatu hari, tiba-tiba jamari saya tanpa kendali menari-nari di atas keypad handphone saya. Lalu, saya posting sebagai status di fesbuk tanggal 6 April 2010. Haha.. mungkin ini hanya sedikit ungkapan dari luapan rindu yang hakikinya meluap-luap seperti magma gunung berapi.. halah..
this is it! selamat membaca...


(sumber gambar: http://www.bmtfm.com/?/379)

mungkin wajah dunia memang baik-baik saja tanpa adamu... Tetapi, ada sepetak lahan tandus yang sesekali perlu kau jenguk, kau sirami dengan air sehingga tertebuslah setiap kersak deraan rindu..
Sejauh apapun kapalmu berlayar, kembalilah pada pelabuhan yang selalu melepas pergimu sampai kau sirna di balik kabut waktu..

April, 2010

09 February 2010

Ulang Tahun Ariefnuno 2010







Jadi, ceritanya Arief ulang tahun yang ke sekian dasa warsa lah. Lalu, dia mentraktir kami, anak-anak Kosan Mas Karno. Dia nraktir KFC. Alhamdulillah kan, ada yang traktir makan gratis. KFC pula. Kalau zaman kuliah dulu, ya paling mahal, trakrit cimol yang dimakan berjamaah di selasar Al-Furqon.
Kali ini? Dengan kelakuan yang masih bocah, kami yang statusnya pegawai, tetap saja seseruan berebutan makanan.
Saya? Masih malu-malu, dan memilih jadi tukang foto saja.



Lokasi eksekusi: Kamar Agus.

19 January 2010

Jatuh Hati dengan Rasa Bahagia

Ini tentang dia yang jatuh hati kepada seseorang.


Kali pertama dia berjumpa dengan orang itu adalah saat yang istimewa baginya, walaupun mungkin bagi orang yang membuatnya jatuh hati, itu adalah saat-saat yang biasa.
Diam-diam, mulai mencari tahu segala hal tentang orang yang disukainya itu. Dia berusaha meng-add facebook-nya dan berusaha mendapatkan nomor teleponnya. Awalnya, dia ragu untuk mulai menjalin hubungan pertemanan. Perlahan, dia mulai menghimpun keberanian.
Suatu malam, saat dia melalui malam dalam sunyi, wajah orang itu melintas di benaknya. Lalu, secara spontan dia menyapanya lewat status facebook. Dia tidak berharap apa-apa selain sebuah interaksi yang dapat melipur sunyi yang terkadang membuatnya sesak.
Sejak saat itu, terkadang dia mengirim pesan basa-basi atau sekadar 'say hai' melalui status facebooknya. Kau tahu? Itu adalah saat-saat yang membahagiakan dan mendebarkan baginya. Lalu, terciptalah euforia saat pujaan hatinya membalas pesan2nya itu, meskipun jawaban yang datar dan biasa. Bahkan terkadang, sapaannya tak pernah dibalas. Dia tak mau bersedih, dibangunnya pikiran positif agar hatinya tidak gelisah. Misalnya, "mungkin habis pulsa", padahal itu terjadi berulang-ulang. Tapi dia berusaha untuk tidak bersedih.

Akhirnya dia sadar, dia sedang jatuh hati. Awalnya, dia berusaha mengingkari kata hatinya. Dia tidak mau jatuh hati kali ini. Apalagi pada orang yang kerap tidak pernah menggubrisnya, bhakan mungkin menganggapnya tidak pernah ada. Hatinya bergejolak. Ada pertentangan yang menciptakan turbulensi.
Dia frustasi karena gagal mengendalikan keinginannya yang berbaur dengan teriakan isi kepala yang mengatakan bahwa dia tidak ingin jatuh hati.

Lalu, dia berusaha keras untuk berkompromi. Dia mendamaikan pikiran dan kata hatinya. Dia mulai menerima kenyataan bahwa dia sedang jatuh hati. Dengan susah payah, akhirnya dia mengaku bahwa dirinya sedang jatuh hati. Tetapi, lagi-lagi dia kembali berbenturan dengan realita: bahwa orang yang disukainya itu tidak meresponnya secara positif.
Dia pun mencari cara untuk terus merasakan kebahagiaan saat mengarungi fase jatuh hati ini. Dia tidak ingin sedikitpun merasakan kekecewaan dan penyesalan karena jatuh hatinya yang mungkin tidak bisa dikendalikan.

Saat bertemu dengan orang yang disukainya, ada gugup menghantuinya. Dia takut salah bicara. Berkali-kali dia berusaha bicara sewajarnya. Tetapi, dari nada suaranga, terdengar jelas bahwa dia sangat gugup. Terkadang, pembicaraannya ditanggapi dengan hangat, tetapi lebih sering ditanggapi biasa saja, bahkan diabaikan. Tetapi, dia berusaha untuk tidak bersedih. Lagi-lagi dia membangun pikiran positif. Dia tidak mau menghancurkan rasa bahagia yang kini sedang dirasakannya.
Kau tahu? Berbicara dengannya adalah hal yang dapat menumbuhkan semangatnya setiap hari, meskipun itu hanya pembicaraan basa-basi yang tidak penting dan terkesan sepele, atau pembicaraan mengenai pekerjaan yang tidak menarik. Yang jelas, baginya pembicaraan apapun itu, akan selalu berkesan sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Saat pujaannya itu tersenyum, dia akan merasa bahagia. Saat pujaannya bermuram durja, dia tetap tak ingin bersedih. Dia yakin, itu tak kan lama. Dia yakin, pujaannya itu akan memberinya hadiah terindah berupa senyuman.


***

Diam-diam, dalam riuh orang-orang, dia selalu mencari keberadaan pujaan hatinya itu. Dia tak peduli meskipun saat dia melihat orang itu, tak ada sapaan hangat atau seulas senyuman bersahabat. Tetapi dunianya akan menjadi terasa begitu berarti jika sosok yang dicarinya itu ada dan menatap ke arahnya.
Lalu, saat malam datang dan dia ditikam sunyi, hati kecilnya menjerit ingin bertemu. Tetapi, dia berusaha menahan keinginan dahsyatnya itu. Dia tahu, jika keinginannya itu terus dipelihara, dia akan semakin tersiksa oleh realita yang berkata bahwa kasihnya tak akan menjadi nyata.
Dia hanya bisa berdoa agar gejolak dalam hatinya tidak membuatnya larut dalam semu... Dia hanya ingin merasa tenang dan melalui semua itu dalam rasa bahagia yang terpelihara...


***

Saat orang itu tak ada di sekitarnya, dia tak pernah usai memikirkannya. Bahkan terkadang ada rasa cemas berlebihan. Sementara, di sana, tidak ada yang bisa menjamin apakah seseorang yang dipikirkannya itu memikirkannya atau tidak.

Saat beradu pandang, meskipun dari kejauhan, adalah saat yang paling menyenangkan sekaligus mendebarkan baginya. Ada rasa takut menghampiri. Ada rasa cemas merengkuh. Lalu, lagi-lagi ada euforia yang membuatnya ketagihan untuk terus menatapnya. Letupan kegembiraannya akan meluap saat orang itu menghampirinya dan memulai sebuah pembicaraan. Lagi-lagi dia merasa mendapatkan momen yang sangat berharga.

Suatu ketika, di luar garis-garis rencana dan perkiraan, seseorang itu meneleponnya. Dia bahagia, meskipun tak ada kata-kata yang mengisyaratkan hal istimewa dalam pembicaraan itu. Dia benar-benar bahagia dan mulai menantikan telepon-telepon selanjutnya. Tetapi, itu mungkin kali terakhir yang entah akan datang kembali atau tidak. Tak masalah baginya. Dia hanya bersyukur karena pernah merasakan saat-saat bahagia itu. Dia terus berusaha menyelimuti penantiannya dengan rasa bahagia.

Kini, apapaun yang terjadi, sebruruk apapun kisah cinta yang dialaminya, dia terus berusaha menumbuhkan rasa bahagia. Dia yakin, rasa bahagia itulah yang akan menjadi semangat dan kekuatannya dalam melalui gejolak jatuh hati yang terkadang sulit diprediksi dampak atau akibatnya bagi hidupnya sehari-hari dan hubungan baiknya dengan orang yang dicintainya itu.

01 January 2010

Malam Tahun Baru Pertama di Jakarta


Mungkin sejak sekarang sampai beberapa tahun ke depan, saya 'resmi' jadi warga Jakarta. Walau enggak punya KTP buatan sini, saya menghirup oksigen tiap detik di sini, sejak Mei 2009 lalu. Jadi, ya kita berdoa saja semoga Jakarta selalu memberikan space-nya untuk saya, agar saya bisa bertahan di sini.

Malam tahun baru 2010, saya meninggalkan 2009 bersama teman-teman kosan. Ada Agus, Ina, dan Hadi. Kami jalan kaki dari Sudirman ke Monas. Tadinya, dari benhil kami naik bus. Tapi ternyata jalanan macet. TOTAL. Maklum, karena masih pemula, kami belum tahu situasi. 
Akhirnya kami sepakat turun dari bus, lalu jalan kaki sambil ketawa-ketiwi. Di bunderan HI kami sempat berhenti. Foto-foto, tiup-tiup terompet, dan iseng memperhatikan peliput televisi. Maklum, kami orang desa, main ke kota besar, lihat kamera tivi rasanya gatal sekali ingin unjuk gigi. 
Saya? Hmmm... jangan salah. Saya telepon Mama. Mama sedang kumpul-kumpul juga di rumah. Lalu, saya minta mama nonton tv, di channel tv swasta yang saya lihat kebetulan sedang siaran live di sini. Siapa tahu saya kapilem. Ha ha ha.

Seusai itu, kami lanjut jalan ke arah Monas. Di sana ramai, tak karuan, bau pesing, dan banyak sampah. Rumput-rumput diinjak. Banyak muda-mudi pelukan sambil tiduran di sana. Iyyyuh... menjijikan. 
Lalu, moment pergantian tahun tiba. Kami tiup-tiup terompet sampai bengek. Lalu, karena letih, kami pun pulang.

Jadi, bagaimana first impression tahun baruan di Jakarta? Hmmm... LIEUR... banyak jelema. Hahaha... anyway, semoga saya selalu betah di Jakarta.