19 April 2016

the land that becomes red

unusual weather
hazily, hungry babies cry
angry people are cursing the destiny

the blood rain
fall down on their face
people missing directions
they lose their way
they walk on the land that becomes red
their faces look tired
their eyes bleary and their eyelids blackened

dear, my country
now, angry people just live in there
beloved motherland no longer becomes their home
just a barren field
with soil that becomes red

Jakarta, 2016

Tanah Jadi Merah


cuaca tak lagi sama
ketika tangis bayi-bayi lapar melesap
bersama pekik amarah orang-orang yang
memaki takdir

hujan darah,
jatuh di muka-muka tengadah
orang-orang yang hilang arah
mereka berjalan di atas tanah yang jadi merah
dengan wajah lesu
pula mata nanar dengan hitam di kelopak yang melebar

oh, negeriku
kini dihuni orang-orang yang marah
pertiwi kesayangannya tak lagi jadi rumah
hanya sehampar ladang gersang
dengan tanah yang jadi merah

Jakarta, 2016

sumber gambar: http://cdn.images.express.co.uk/img/dynamic/128/590x/secondary/mars-2-290633.jpg

28 March 2016

Jika Kamu Jadi Alien

Pernahkah kamu merasa tak sepadan dengan sekumpulan orang-orang? 
Kamu merasa mereka sedang tinggi, merasa sangat lebih hebat dari kamu. Lalu, diam-diam, kamu mendengar mereka membicarakan kamu. Pembicaraan yang sangat negatif. Isinya begitu menohok dan meng-underestimate kamu. Tetapi, di depan kamu mereka bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa. 
Awalnya, kamu hanya mengira itu salah duga. Salah paham. Salah mengerti. Kamu tak ingin berprasangka buruk. Lalu, teruslah berprasangka baik. Lindungi hatimu.

Tapi, makin lama, kamu makin sadar, bahwa mereka benar-benar memandangmu sebelah mata. Nyata-nyata mereka menyepelekanmu. Diam-diam mereka inginkan kejatuhanmu. Mereka tertawa, tapi kamu tak merasa jadi bagian dari tawa itu. Maka, kamu merasa jadi alien. Merasa asing di tengah mereka. Merasa jengah dengan perilaku munafik mereka yang bersikap baik di hadapanmu, sedangkan di belakangmu mereka menjelekkanmu.

Tenang. Jika memang begitu adanya, sudahlah. Lanjutkan pekerjaanmu: berbuat baik.
Tak apa kan, kamu menjadi alien di tengah-tengah orang yang tidak baik. Artinya, kamu orang baik. Peliharalah itu.   


Sumber gambar:
http://i3.mirror.co.uk/incoming/article6455166.ece/ALTERNATES/s615b/Aliens.jpg

Kamu Keren Karena Dirimu Sendiri

Saya jadi ingat figur seorang teman di masa lalu. Dia selalu merasa keren karena bisa kenal dan merasa dekat dengan figur-figur yang cukup ternama dalam bidang sastra. Bahkan, disapa sekilas pun akan jadi kesan mendalam baginya.
Jika malam ini dia datang ke suatu acara sastra, lalu besoknya bertemu teman-teman sejawat, dia akan terus mengulang-ngulang cerita bahwa dia bertemu dengan seorang tokoh. Anehnya, saat teman lain lewat, cerita itu kembali diulang sehingga hampir semua orang yang lewat mendengarkan. Bahkan, saat dia menyebutkan nama tokoh yang dijumpainya, power suaranya dinaikkan. Mungkin kalau disetarakan dengan ketikan di MS Word, huruf-huruf yang merangkai nama tokoh itu di-bold agar mencolok, bahkan mungkin diberi warna merah. Ha ha ha.
Hal yang membuat saya yakin bahwa teman saya itu merasa keren adalah dia melakukannya setiap 'bersinggungan' dengan tokoh tertentu. 

Lantas, apa imej bahwa kita dekat atau akrab dengan seseorang yang keren akan membuat kita jadi keren juga? 

Bagi saya, yang membuat kita keren itu bukan tentang siapa yang kita kenal, tapi tentang apa yang bisa kita lakukan. 

Pula halnya di area pekerjaan. Apakah kita kenal baik dengan seorang Manajer atau dengan pejabat tinggi akan membuat quality kita jadi keren? Bergantung. Bergantung pada apa tujuan kita dekat-dekat dengannya. Okelah dekat-dekat secara profesional dan berupaya menimba ilmu dari orang-orang yang kita anggap keren. Tapi, kalau kita dekat-dekat dengan tokoh-tokoh, atasan-atasan, dan lain-lain sekadar menjaga imej dan agar tampak lebih keren di antara teman-teman sejawat, lupakanlah. Kamu enggak keren sama sekali.

So, jadilah keren karena dirimu sendiri! :) 
Sumber gambar: http://images.firstcovers.com/covers/b/be_yourself-4957.jpg



25 February 2016

Tanpa Rasa Bersalah



Ini zaman apa?
Orang-orang jumawa dengan ketamakan. Orang-orang bangga dengan keserakahan.
Orang-orang yang berbohong.
Orang-orang yang mengkhianati.
Orang-orang yang menyakiti hati.
Orang-orang yang korupsi.
Orang-orang yang ingkar janji.
Orang-orang yang mencurangi.
Membunuh.
Menghakimi.
Mencuri.

Tanpa rasa bersalah.

17 February 2016

Apa yang Telah Kuperbuat di Negerimu

Apa yang telah kuperbuat di negerimu? Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benakku untuk menyerang atau merusaknya. Bahkan, sejak lama kupelihara negeri itu agar kau selalu bahagia.
Setiap hari, negeri itu kutanami bunga-bunga, kutaburkan serbuk kebahagiaan, dan kuembuskan wangi yang mawar.
Kujaga sepenuh jiwa.
Kurawat dengan seluruh sisa rasa.
Selalu, dengan alasan agar kau bahagia.

Sungguh, aku selalu inginkan bahagia dalam negerimu. Hatimu, jiwa dan raga.

Tetapi, apa yang telah kuperbuat di negerimu?
Sehingga jumawamu melumat negeriku. Hatiku, jiwa dan raga.

Pada akhirnya selalu kaurusak negeriku. Kau tabur batu-batu langit.
Kau tiupkan panas matahari. Maka, terbakarlah sekujur negeriku dalam pilu.
Dikoyaknya bahagia yang berabad kujaga.
Diempasnya mantra-mantra pelumpuh rasa.

Di wajah negeri ini, aku tersungkur.
Tanpa cinta.
Tanpa harapan.
Tanpa kesempatan.

Hanya bersisa: kematian.

02 February 2016

Ratusan Hari -untukmu-

Pagi ini, tetiba aku ingin bertemu kamu. Ingin memelukmu erat. Tak akan kukendorkan sama sekali. Ingin kuusap kepalamu dan kubenamkan dalam hangat pelukan itu.

Aku ingin mengatakan terima kasih. Atas ratusan hari yang penuh warna denganmu.  Ratusan hari yang mungkin dulu jadi salah satu keinginan dalam doa-doaku. Ratusan hari yang dihadiahkan oleh Tuhan sebagai penebus sunyi dan kecewa yang sebelumnya pernah kurasakan.
Ya, kehadiranmu anugerah dari Tuhan. Salah satu hal terbaik yang pernah kucecapi dalam hidup yang terkadang menyebalkan ini.



Terima kasih.
Kamu selalu jadi tempat untukku berbagi segala hal. Bukan hanya bahagia, pula luka, kesedihan, dan berbagai warna hidup yang penuh kejutan.
Kamu sepaket lengkap. Tak sekadar kekasih dan sahabat, kamu belahan jiwa yang membuat ku merasa utuh. Lalu, kamu jadi saudara, jadi adik, kakak, ibu, ayah, semua. Lengkap ada padamu.

Terima kasih atas kesabaranmu. Kesabaran tak berbatas yang selalu berusaha memahami polahku. Kesabaran yang selalu jadi pemenang melawan emosi dan keegoisanku. Kesabaran yang selalu meredam gelombang api yang kadang tak kupahami dari mana datangnya.

Terima kasih, telah menemaniku. Dalam pagi, siang, senja, malam. Semua terasa begitu kromatis penuh warna. Terasa penuh bahagia. Sehingga, jiwaku yang telah banyak ditinggalkan orang-orang tak pernah merasa sendirian. Tak pernah merasakan kehampaan. Karenamu. Karena teduhmu.

Terima kasih, atas semua kebahagiaan yang membuatku ingin ada selamanya. Terima kasih atas semua air mata yang membuatku semakin dewasa. Terima kasih atas kesabaranmu yang menggiringku untuk menjadi bijaksana.

Maafkan aku.
Maafkan atas semua ketakdewasaanku. Atas lemahku dalam mengendalikan marah dan cemburu. Atas semua kekuranganku dalam menjamumu di hidup yang begitu singkat ini.
Atas semua hal, baik dan buruk, yang pernah kulakukan padamu, aku hanya ingin menyimpulkan satu hal, bahwa aku menyayangimu. Selalu menyayangimu.

Hari terus berlari.
Mungkin, di depan sana akan ada ratusan hari lain yang harus kita tempuh sendiri-sendiri.
Tetapi, selagi kita bersama, untuk apa kita berduka?
Bukankah hari-hari yang tersisa harus kita nikmati? Sebelum kita menempuh jalan berbeda arah. Sebelum kita menemukan jalan lain untuk berbahagia.

Apapun yang terjadi, kita tidak boleh lupa bahagia, dan membagikan kebahagiaan itu dengan orang-orang yang kita sayangi.

Berlarilah. Masa depan menanti.
Kini, mungkin kita akan menikmati gerbong terakhir dari serangkaian ratusan hari yang pernah kita lewati.Tapi itu bukan berarti kita harus bersedih. Akan ada begitu banyak kado kebahagiaan di depan sana. Di hadapan jalan-jalan yang ditakdirkan oleh Tuhan, jalan yang tentu saja
kita pilih sendiri.

Aku percaya, semua akan baik-baik saja, dan selamanya kita akan saling menguatkan. Saling memberikan dukungan. Saling menanamkan keyakinan, bahwa semua yang pernah terjadi, memang sudah seharusnya terjadi.

Jadi, selama kita masih bersama, untuk apa bersedih? Karena sejak awal, kita tahu bahwa perjalanan kita akan dipertemukan dengan akhir. Akhir yang bahagia, tentu saja, walau kita berjalan masing-masing.

Tersenyumlah, selalu, seperti itu.

*26 Oktober 2013 till now

Sumber gambar:
http://smashingtops.com/wp-content/uploads/2013/04/Top-68.jpg
 

01 February 2016

Bahagia

Saya bahagia. Itu saja.
Jadi, biarkan saya bahagia. Jangan usik kebahagiaan itu.
Itu saja.

29 January 2016

Cinta dan Persahabatan Seharusnya Melahirkan Kebahagiaan

Hampir saja kumelepasmu dalam benci. Sebab, terkadang kebencian lahirkan kekuatan di luar prediksi. Dengan menumbuhkan benci, tekadku semakin kuat untuk merelakan kau pergi.
Tetapi, tangan-tangan takdir kembali membuatmu hadir. 

Alhamdulillah...
Semua tak serumit yang kupikir. Kelapangan dada lah yang bisa membuat petaka berakhir. 
Kita sama-sama belajar menerima. Sama-sama belajar tentang kenyataan yang tak selamanya indah. Tentang bagaimana berdamai dengan hal tak biasa. Tentang bagaimana selalu bahagia walau ada air mata.
Tentang cinta dan persahabatan yang seharusnya melahirkan kebahagiaan.

Jumat, 29 Januari 2016
Pertemuan dengan seorang kawan di Goedkoop, Benhil.

28 January 2016

Bayangkan, Sanggupkah Kamu?

Bayangkan.
Kamu dibenci oleh orang yang kamu anggap sebagai sahabatmu.
Kamu dibencinya karena sahabatmu itu mencintai kekasihmu.
Kamu dibencinya karena kekasihmu seperti memberi harapan palsu kepadanya.
Kamu dibencinya karenarasa cintanya tak dibalas oleh kekasihmu,

Kamu yang dibenci.
Kamu yang ikut disalahkan.
Padahal, mati-matian kamu menahan cemburu.
Mati-matian kamu menjaga perasaan sahabatmu agar tak cemburu.

Kamu bertarung dengan api.
Sedangkan kekasihmu dan sahabatmu diam-diam membakar ranting.

Kamu dibenci.
Kamu dijauhi.
Kamu ditinggalkan.
Kamu ikut disalahkan.

Bayangkan.
Tulus persahabatan yang kau beri terasa dicampakkan.
Dibuang.
Disia-siakan karena cinta yang besar sahabatmu untuk kekasihmu.

Bayangkan.
Kamu berdoa diam-diam.
Mendoakan kebahagiaan semua.
Melupakan semua kebohongan.
Melepaskan marah dalam titik keikhlasan.

Bayangkan.
Sanggupkah kamu melakukan semua itu?

Semua berkoar-koar, cinta tak bisa disalahkan.
Seperti gagak memangsa matamu yang tercungkil.

Bayangkan.
Mereka tak ingin disalahkan, tapi terus membuatmu merasa bersalah.
sahabatmu seperti anjing


Sumber gambar: keeppy.com