26 November 2014

Kamu Bukan Sekotak Martabak

Setiap orang tentu punya keinginan untuk membuat orang lain bahagia. Keluarga, sahabat, teman, pacar, tetangga, atasan, gebetan, dan lain-lain. So, lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakan mereka. 

Tapi, ingatlah, kamu bukan sekotak martabak yang bisa membuat semua orang bahagia dan menyukaimu. Kamu tetaplah kamu. Di luar sana, akan selalu ada orang yang tak puas dengan caramu. Mereka berdampingan dengan orang-orang yang menyukaimu, yang bahagia karena kamu. Mereka ada dan selalu memandangmu sebagai figur yang kaya akan kesalahan.

Jadi, tak perlu berusaha terlalu keras untuk membahagiakan semua orang. Tak perlu mengikuti keinginan semua orang. Itu bisa menyakitimu. Cukup lakukan dengan hatimu. Dia akan menggiringmu untuk membagikan kebahagiaan dengan orang-orang yang telah digariskan oleh Tuhan.

Selalu lakukan yang terbaik, tapi jangan lupa, kamu bukan sekotak martabak kesukaan semua orang.

Sumber gambar: http://www.freetotag.com/wp-content/uploads/2014/06/IMG20140526220429079.jpg

24 October 2014

Api Dendam

Dia bukan Drupadi ataupun Drestajumena yang diciptakan dari api untuk memuaskan dendam kekalahan Drupada. Tetapi, tingkah polah dunia dan cecunguk-cecunguk ganjen yang tak henti menyebar aroma taik selalu membuatnya terbakar, sesekali mendendam bermandi luap serapah.

Dia bukan Pandawa yang ditakdirkan berperang melawan Kurawa. Tetapi, manusia-manusia di sekelilingnya senang membuat ulah. Ciptakan turbulensi dan peperangan di kepalanya.

Dia bukan Bisma, tapi dia mencoba berkompromi dengan amarah. Diredamnya semua kebencian.
Tapi cecunguk tak mau diam.
Kebencian pun mereka diam-diam.

Dendam.
Yang suatu saat akan diluapkan dalam kepung api.

Polusi Suara

Pernahkah kamu merasa, suara-suara yang terdengar di sekelilingmu terasa bagai polusi yang merusak ketenangan pikiran?

Semisal, di ruang kerjamu, ada delapan orang. Mereka berkelompok, 3-3-2. Lalu, setiap kelompok itu berbicara dengan tema berbeda, tetapi berada pada ruang dimensi yang sama. Sementara, kamu, di salah satu sudut di sekitarnya sedang berusaha berkonsentrasi saat mengerjakan sesuatu. Semua suara teman-temanmu terasa melayang berebutan ke lubang telingamu, dan semua percakapan mereka bisa kamu cerna bersamaan.  Lubang telingamu terasa dikoyak. Suara-suara mereka memaksa masuk ke sana. Tanpa toleransi, tanpa peduli jika otakmu sedang bekerja keras menghimpun konsentrasi.
Lalu, dalam hitungan detik, suara telepon berbunyi. Karena asyik berbincang, mereka malas mengangkat telepon. Suara telepon diabaikan. Mungkin pesawat telepon marah. Suaranya terasa meninggi dan mulai mengincar lubang telingamu. Lalu, dia ikut bergabung dengan suara-suara lain menyerang lubang telingamu.
ARRRGGGH...

Seperti itulah polusi suara. Kamu mencoba berlari ke luar gedung. Suara-suara tadi melesap, lalu hilang. Tapi, di sana suara-suara kendaraan menanti kedatanganmu dan sepasang lubang telingamu. Dalam sekejap, sesaat setelah pintu gedung kamu buka, suara-suara itu langsung memburu lubang telingamu.

Kamu menyerah dalam gerah.
Dunia memang tak tahu diri. Diam-diam mereka menzalimi. Tapi, tak akan ada hukum manapun yang membuat mereka bisa dipersalahkan. Segala sesuatu di muka bumi punya hak untuk mengeluarkan suara.

Beruntunglah kamu. Semesta telah menciptakan lagu. Nada-nada merdu yang ditunggu-tunggu lubang telingamu untuk menggantikan polusi suara yang sangat tak kamu inginkan adanya.

#catatan di pagi yang sangat berisik dan menyebalkan

25 September 2014

Keinginan yang Melompat-Lompat

Di dalam kepala kita ada yang melompat-lompat. Itu bukan kutu, apalagi kecoa. Lalu apa? Orang-orang biasa menyebutnya dengan KEINGINAN.
Begitu banyak yang kita inginkan. Semua keinginan itu menyembul dari rasa dan pikiran, sebagai proses dari tangkapan mata, telinga, dan mungkin seluruh panca indera. Seluruhnya diserap dan diramu, lalu disajikan sebagai sembulan-sembulan keinginan.
Sesampainya di kepala, mereka melompat-lompat, diwarnai ego, ambisi, cita-cita, harapan, dan mimpi. Semua sama, minta didahulukan. Minta dilenyapkan. Kenapa? Mungkin mereka tersiksa di dalam tempurung kepala. Sementara, keinginan terus bertambah. Terlampau banyak jika dibandingkan keinginan yang mewujud jadi nyata. Ya, tidak setiap keinginan dapat menjadi kenyataan. 
Lalu, keinginan-keinginan itu berontak. Melompa-lompat, tak sabar menanti diwujudkan. 
Di kepala, kadang mereka bertabrakan dan ciptakan turbulensi. Jika tak segera diatasi, akan ciptakan ledakan di kepala yang membuat gila.

Jadi, hanya kesadaran akan keadaan yang dapat menyelamatkan tempurung kita dari ricuh keinginan yang melompat-lompat.
Gagang Pintu Hollycow Steak Jakarta Barat

Mereka yang Pergi

Mereka yang pergi bukan dibuang,
tapi dibebaskan dari kubangan yang direnangi babi.

25/09/14

19 September 2014

Mereka yang Diam-Diam Menikmati

Kembali, ada hal yang tidak saya pahami.
Ini tentang orang-orang yang tidak menyukai sesuatu, tetapi mereka tidak berusaha menarik diri atau menjauhi hal-hal yang tidak disukainya itu.
Sambil sesumbar kekata tentang benci dan kekesalan, mereka berdiam di lingkaran itu, bahkan mereka tak berusaha menghindar saat harus ditarik ke dalamnya.
Apa sebenarnya diam-diam mereka menginginkannya? Atau mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar? Entah.


Saya jadi teringat kutipan puisi Toeti Heraty berjudul "Saat-Saat Gelap". Entah relevan atau tidak, tapi hanya puisi itu yang berkumandang di kepala saya saat saya memikirkan orang-orang itu.

Manusia yang menyerah pada keangkuhan tunggal,
tetapi diam-diam menikmati
Jari membelai, meneguk dari sumber kehidupan....

Jadi, apa iya sebetulnya mereka sendiri yang sebenarnya merasa nyaman berada di lingkaran itu?
Karena, jika mereka tidak suka, kenapa tidak mereka jauhi saja tempat itu?

Yang jelas, selama ini saya sudah bersungguh-sungguh menjauhi lingkaran itu, dan saya berhasil. Baiklah, kita lihat siapa lagikah orang-orang yang berapi-api ingin jauh dari situ, tapi justru mendekati lingkaran itu seperti serangga yang terhipnotis cahaya lampu.

13 September 2014

Rela Mundur Selangkah

Kadang kita harus rela mundur selangkah,
memberi jalan pada orang lain yang dihimpit gelisah
agar bisa maju melangkah.

Tapi, ketika orang itu jadi bertingkah,
rasanya sungguh ingin muntah.


Sebaik Apapun Perbuatan Kita

Sebaik apapun perbuatan kita, sebanyak apapun benih-benih kebaikan yang kita tebar di pelik kehidupan, akan selalu ada manusia lain yang memendam ketaksukaan. Ketaksukaan yang bisa bermetamorfosis jadi rasa iri, benci, merasa ditandingi, dan berbagai perwujudan sisi negatif lainnya.
Subjektivitas yang akan banyak berbicara dan abai terhadap hal-hal baik yang dilakukan oleh orang lain.

Lalu, apakah kita harus berhenti? Apakah kadar perbuatan baik itu harus dikurangi?
Tentu tidak. Lanjutkan hal-hal baik dalam hidup, berbagi dengan sesama, dan menebar benih-benih cinta di muka bumi.
Tak ada urusan dengan pandangan negatif orang lain, selama kita tidak merugikan siapapun.
TETAP BERPIKIR POSITIF dan melangkah beralaskan niat baik yang tertancap di hati.
Jangan berpikir tak akan ada kaum pembenci. Mereka akan selalu ada, dalam berbagai rupa, dalam berbagai wujud orang yang tak terduga. Dari mereka kita bisa belajar banyak hal, dari kita semoga mereka bisa belajar untuk menjadi lebih baik.

Pembenci? Biarlah kebencian mereka bertemu dengan akhir tragisnya sendiri.

12 September 2014

Episode Ikan Asin

Astaga, pandangan itu.
Seperti kucing yang takut tak kebagian ikan asin. Mengikuti ke mana tubuh ini pergi dalam hujam curiga. Takut ikan asin kuhabiskan sendiri.
Padahal, diam-diam di balik badannya, dia menyembunyikan ikan asin yang sama sekali tak ingin dibagi dengan orang lain.


Astaga, pandangan itu.
Selalu tak senang jika orang lain lebih mendapat kemudahan.

2014

"Siapa-siapa" dan "Apa-apa"

Pernahkah Anda merasa seperti ini?

Kadang, kita merasa tak ingin jadi siapa-siapa, tak ingin terlihat memiliki apa-apa. Ingin rendah hati, ingin biasa-biasa saja, dan tidak menonjolkan diri.
Tapi, situasi di sekeliling kita berbeda. 
Orang-orang yang saling berlomba untuk terlihat menjadi siapa-siapa. Rekan kerja yang rajin unjuk kabisa. Sikat-sikut mencari kedekatan dengan bos incaran. Sanak saudara yang sibuk memperlihatkan diri sebagai sesuatu yang berarti. Tetangga-tetangga yang terus unjuk gigi bahwa mereka memiliki apa-apa.

Akhirnya, tanpa disadari kita terdorong, lalu jadi bagian dari mereka.
Bukankah itu pertanda bahwa hidup kita diatur oleh kondisi orang lain, oleh standar ideal yang diciptakan oleh orang lain?
Semacam jadi ibadah untuk dilihat, pintar untuk menjabat, supel untuk menjilat,  kaya untuk dianggap hebat.

Itukah esensi ribuan hari yang telah kita lalui di muka bumi?