27 August 2014

Keranjang Kenangan


menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka


Adakah yang bisa mengukur kadar luap cintaku pada pekat hitam di matanya?
Setiap hari, sepanjang musim, selalu kusimpan cerita di keranjang yang kusembunyikan di bawah tempat tidur. Kutata baik-baik, agar tak mudah ditemukan orang, agar tak sulit kuraih jika sewaktu-waktu aku ingin bermain-main dengan kenangan.

Kepada alir sungai di belakang rumah, aku pernah bercerita bahwa tak ada rasa hati yang abadi. Seperti sungai, dia juga akan mengalir indah, susuri terjal bebatu, hingga sampailah dia di kebebasan samudera. Tetapi, di sepanjang sungai yang ditinggalkan, akan selalu ada cerita yang membekas sebagai ingatan.

Seperti itulah cintaku kepadanya.
Mengalir bagai sungai, membekas sebagai ingatan yang kusembunyian di dalam keranjang, di bawah tempat tidur.
Tak ada yang tahu, tak ada yang merasa, tetapi nyata dan begitu renyah.

Tak ada yang tahu, aku selalu berkompromi dengan kehendak hati. Kubiarkan cinta ada jika memang masih ingin ada, kubiarkan dia sembunyi jika memang dia ingin bersembunyi, kubiarkan bangkit bergelora jika memang dia ingin jadi hasrat api. Kubiarkan saja. Bahkan, ketika dia memang digariskan untuk mati. Kubiarkan saja. Kunikmati.


Sehingga, saat dia berpaling arah, tak ada yang perlu ada hati yang tersakiti.
Lalu, saat dia kembali, tak ada yang harus repot-repot menghindari atau sekadar jadi basi menanti-nanti.

Kubiarkan saja.

Kubiarkan pertemuan kami dikendalikan oleh Sang Mahakendali.

menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka

Siang ini, celotehmu mengalir ke telinga dan tak ada lagi risau saat kita berjabat tangan untuk sebuah drama perpisahan.

Pertemuan ini akan kusimpan sebagai kenangan, lalu kusimpan dalam keranjang di bawah tempat tidur.

sumber gambar: http://www.terminally-incoherent.com/blog/wp-content/uploads/2013/08/memory-corruption.jpg

19 August 2014

Sahabatmu Bukan Piala Persahabatan untuk Dimenangkan

"Sahabatmu bukan piala persahabatan untuk dimenangkan"

Kalimat yang sederhana, tetapi malam itu terasa begitu menohok jantung saya. Bagaimana tidak? Akhirnya saya sampai di suatu titik sadar. Saya merasa seperti baru ditampar.
Selama ini, saya merasa sudah jadi sahabat yang baik bagi orang-orang yang saya anggap sebagai sahabat. Sisi jahanam saya membuat saya merasa sangat sempurna sebagai sahabat, sebagai teman dekat. Saya merasa diri saya adalah orang yang paling tulus memberi pada sahabat tanpa keinginan kuat untuk menerima.

Suatu masa, saya merasa mulai bersahabat dengan seseorang. Nyaman, dekat, saling percaya. Saya juga tanpa sungkan berbagi cerita tentang apa saja. Bahkan, tentang hal-hal rahasia yang seharusnya tidak diceritakan kepada siapapun. Saya mempercayai dia sepenuhnya.

Tapi, ternyata saya lupa satu hal: mendengarkan kehendak terdalam sahabat saya itu. Ya, saya merasa jadi penceloteh yang baik, tetapi buruk dalam hal mendengarkan. Boleh dibilang, saya seperti orang yang selfish. Hanya berorientasi kepada ke-aku-an, dan mengabaikan konsep 'kita' dalam sebuah pertemanan.

Lalu, saya merasa orang-orang di sekelilingnya seperti berambisi untuk bisa mendekati. Semua orang yang ada di sekitarnya terasa begitu bersemangat untuk berteman dengannya. Bahkan, teman lamanya terlihat begitu 'protektif'.
Sejak itu, bersahabat dengannya seakan menjadi prestasi. Kebersamaann dengannya seakan jadi anugerah yang tidak dimiliki orang lain. Bisa menjadi teman dekatnya seperti menjadi juara yang mendapat hadiah berupa piala.

Sampai saya melakukan hal bodoh yang bisa jadi telah merusak jalin kepercayaan yang seharusnya dimiliki oleh sebuah kisah persahabatan. Lalu, dia terasa lepas dari genggaman dengan begitu mudah. Tak sesulit saat saya mulai membangun persahabatan itu. Saya seperti telah jauh-jauh berjalan dari gunung ke pantai, sekadar mengambil segenggam pasir, lalu pasir itu lepas dari genggaman saya dan terbang bersama angin.

Di suatu titik saya sadar. Saya terlalu banyak bicara, tapi jarang mendengar. Saya merasa dia sahabat saya, tetapi dia tidak. Saya merasa nyaman bercerita, dia mungkin lelah terus mendengar dan sesekali ingin juga didengar.

Saya mengabaikan isi hatinya. Saya tak sadar kalau selama ini dia merasa seperti sebuah piala yang diperebutkan orang-orang.
Saya lupa, dia juga manusia, yang punya kehendak, yang punya keinginan sendiri.
Ya, dia itu bukan buku diary, dia juga bisa jadi pasien yang membutuhkan kita jadi dokternya. Sewaktu-waktu, dia butuh ada kita, dan dia akan mencari kita, tetapi di waktu lain, dia sangat ingin sendiri dan menjaga privasi.

Ya, dia bukan piala untuk dimenangkan. Dia adalah segumpal hati yang seharusnya dijaga dan disayangi.

Sahabat, maafkan saya.

*Kantin Kantor, 19 Agustus 2014 17:26


Bangkit dari Kubangan Duka

Teringat kisah seorang teman.
Inti dari kisah itu, yang ingin saya share di sini adalah bahwa sebesar apapun keinginan kita untuk bisa bersama seseorang, atau sekuat apapun keteguhan kita untuk bisa bersama orang itu, kadang ada hal-hal lain di luar kendali kita yang memaksa kita untuk berhenti memperjuangkan.

Menyakitkan, tentu. Berat, sudah pasti. Tetapi pada akhirnya, kita memang harus ditaklukan oleh garis takdir yang sudah dirancang oleh Tuhan.

Mungkin, kalau boleh sok tahu, tinggal kita percayakan saja sepenuhnya pada Sang Maha Pencinta. Dia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh dan terpuruk dalam jelaga. Tentu saja, di diri kita juga harus ditanamkan rasa syukur dan terus berdoa agar semua baik-baik saja.

Jika waktunya tiba, kita akan bangkit dari kubangan duka, lalu siap kembali bercorat-coret di lembar kisah baru. Time will heal.


19/08/2014
01.10 AM

18 August 2014

Dari Balik Jendela

Dari balik jendela, aku mengintip suatu dunia yang tak biasa. Dunia yang dipenuhi penjagal-penjagal. Pemangsa. Peminum darah bangsanya sendiri.
Tak biasa bagiku, tapi di sana tak ada sungkan. Tanpa ragu, tawa tamak semerbak di antara pekat aroma bangkai.

Dari balik jendela, aku menerka-nerka, mungkinkah aku salah satu dari mereka?

27 July 2014

Catatan Balkon

*untuk sahabat yang benar-benar telah pergi

Aku tak ingin meminta waktu diputar balik, karena belum tentu aku jadi lebih baik.
Tapi, di depan mataku, ada sepetak lahan yang harus kuhijaukan. Kutanami dengan macam-macam cinta dan pengetahuan.
Lalu, aku akan belajar menghargai persahabatan secara lebih luas.


Sahabat bukan piala yang diperebutkan, tapi sahabat adalah percaya yang harus dijaga. Sahabat adalah tulus yang alirnya terus-menerus. Sahabat adalah matahari dan oksigen yang kadang tidak kita hargai arti adanya.

Di balkon, aku menatap langit. Kisah itu mengangkasa. Aku dan sahabatku.
Lalu, angin berbicara. Katanya, hidup tak akan pernah sempurna. Kadang jadi realita yang harus pahit, namun begitu menakjubkan untuk dikenang.

Dingin cuaca, hujam kenangan, kunikmati dengan tenang, meski tanpa asap rokok yang dulu pernah dihisap sama-sama.

Hidup tak melulu tentang itu, dan waktu tak akan berhenti walau kita terjebak dalam kenangan yang perih.



# Malam Idul Fitri 1435 H
27 Juli 2014

07 July 2014

Pesta Demokrasi Bikin Lupa Diri

Pada pesta demokrasi kali ini, saya bukan golput. Alhamdulillah. Setidaknya, jika 'golput' memang dianggap sebagai semacam 'malfunction' bahkan dianggap 'dosa', kali ini saya tidak melakukannya.
Sebagai salah satu penduduk tanah Indonesia, tanpa harus saya proklamirkan atau digembar-gemborkan, sejujurnya saya menyayangi negeri ini. Saya cinta Indonesia. Itu nyata terasa di dalam hati. Dan saya pikir, cukup saya tanamkan di hati, lalu saya lakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan, sesuai kemampuan saya, untuk Indonesia ini. 

Jadi, pada 9 Juli nanti, saya sudah punya rencana untuk memilih salah satu calon pemimpin Indonesia. Walaupun, di antara kedua pasangan yang ada, tidak ada pasangan yang benar-benar saya dambakan. Maksud saya, saya 'ngefans' pada salah satu di antara mereka. Hanya saja, saya kurang suka dengan pasangan pendampingnya. Tapi, ya setelah dilihat, ada hal baiknya dibandingkan dengan pasangan yang satu lagi.
Oalah... sudah, sudah... tak perlu membahas apa pilihan saya.  Biarkan hanya saya dan Tuhan yang tahu. 
Yang saya sayangkan adalah geliat tingkah orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai pendukung salah satu calon pemimpin itu. Saling hujat, saling menjelekkan capres idola, saling merasa diri paling dekat dan kenal pada calon presiden pilihannya... dan lain-lain.
Padahal, seheboh apapun kita mendukung capres, ya tetap saja nanti setelah mereka terpilih, kita ya tetap harus cari makan sendiri. Berjuang sendiri demi keluarga.

Sekarang kita koar-koar. Maki sana maki sini.. Memutuskan pertemanan demi capres. Oh MG. Pertemanan saja dikorbankan. Wew, jangan sampai deh, kehilangan teman gara-gara capres di pesta demokrasi yang kadang bikin lupa diri.

JADI, apa pilihanmu? Rahasia kan ya, enggak usah bilang-bilang...

12 June 2014

Senja di Pulau Kemaro

(Koran Ogan Ilir Ekspres Edisi 10 Juni 2014)



Senja di Pulau Kemaro

geliat angin di sepanjang Musi
mengantarku pada kunang-kunang di matamu
setiap senja mereka bermain
dengan kerling genit kekasih yang merayu untuk didekap

sepanjang jalan air yang terus bercerita
diam-diam hati kita saling menggenggam
lalu jiwa kita merapat, saling menyentuh
tenggelam bersama matahari
yang pendarkan cahaya keemasan pada dinding kuil



11 June 2014

Menunggu - cerpen Sigit Rais a.k.a. Raisal Kahfi -

(Majalah Cerita Kita Vol 11 Tahun 2006)

Aku kembali terpaku pada panorama yang tak asing lagi. Sebuah panorama yang selama ini begitu akrab dengan kehidupanku di kampus hijau ini. Di depanku berdiri kokoh sebatang pohon palem yang tegar dalam kesendirian. Pohon itu dikelilingi rumput basah  yang bermandi matahari. Perlahan sisa tetesan embun yang hinggap di atasnya sirna seiring dengan pagi yang semakin tua. Di tempat yang penuh kenangan ini aku masih menunggunya dengan setia, bagiku setia tidak pernah sia-sia.
 
Masih bisa kuhirup aroma pagi walau matahari sudah agak meninggi. Pukul sepuluh, saat yang tepat untuk menunggunya di sini, selasar sebuah mesjid yang selalu teduhkan jiwaku. Melapangkan pikiranku dari jenuhnya suasana perkuliahan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk segera kembali ke tempat ini begitu perkuliahan usai. Begitu juga dengan teman-temanku yang saat ini, di belakangku, sedang asyik membicarakan rencana perjalanan kami ke Jakarta beberapa minggu lagi. Seusai kuliah tempat ini selalu jadi tujuan mereka. Dan kini aku masih asyik sendiri, nikmati matahari dan berbagai aktivitas kehidupan yang saat ini terpajang di depan mataku. Tanpa henti aku memohon pada Tuhan agar pagi ini aku depertemukan dengannya, mahluk indah yang akhir-akhir ini telah mendobrak semesta hatiku dan membuatku jatuh cinta.
Kutebar pandanganku. Di kananku sebuah mesjid berdiri dengan megah walau tak semegah mesjid raya yang ada di alun-alun kotaku. Mesjid itu bernama Al-Furqon. Tempat ini adalah salah satu tempat yang paling sering kusinggahi. Di beranda mesjid kulihat beberapa mahasiswa sedang membaca Al-Qur’an. Aku terenyuh melihatnya. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini aku begitu jarang menyentuh kitab suci. Sungguh, aku benar-benar merasa berdosa.
Tak jauh dari situ kulihat seorang lelaki yang sedang duduk termenung menatap ke arah pohon palem, seperti aku. Tetapi setelah kuamati, sesekali lelaki itu tersenyum kecil seakan sedang bercakap-cakap dengan rumput. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Mungkinkah dia sedang terperosok ke dasar lembah cinta sepertiku? Entahlah, yang jelas wajahnya tampak tersenyum. 

Di depanku, di seberang lapangan rumput, seorang penjual kue donat sedang melayani pembelinya, dua perempuan berjilbab dengan pakaian serba ketat. Dengan genitnya mereka memilih-milih donat yang ada di dalam box, sepertinya si penjual donat cukup gerah juga pada dua perempuan centil itu. Tetapi mereka membuatku teringat pada seseorang yang saat ini masih kutunggu. Apa yang sedang dilakukannya di pagi yang semakin tua ini? Kuharap dia tidak sedang menggoda lelaki lain seperti yang dilakukan oleh dua perempuan itu. Bicara soal jilbab, memang akhir-akhir ini banyak sekali muslimah yang berjilbab bukan karena panggilan hati, melainkan karena panggilan mode. Hal inilah yang terkadang membuatku dan beberapa temanku merasa prihatin. Ya, itu memang hak asasi mereka. Tetapi sejujurnya aku lebih menghormati wanita baik-baik tanpa jilbab daripada wanita berjilbab yang masih gemar mempertontonkan auratnya. Seperti bidadari yang saat ini semakin membuat kesabaranku nyaris habis. Ia tidak berjilbab. Rambutnya bergelombang bagai ombak di samudera. Hatinya begitu indah untuk dicinta. Dan dari cahaya di matanya aku tahu bahwa dia adalah hawa yang tercipta dari rusukku. Tetapi mengapa dia belum muncul juga?
* * *
Tanpa terasa matahari semakin tinggi, hampir tepat di atas kepalaku. Langit yang menyajikan pemandangan biru muda nyaris tak dihinggapi awan. Udara sudah mulai panas. Kulepaskan sweater putih yang kupakai sejak pagi. Ternyata leherku basah karena keringat. Suasana di sekelilingku semakin ramai saja. Berbondong-bondong para mahasiswa dari berbagai arah menyerbu selasar mesjid yang sebelumnya tampak lengang. Teman-temanku tak lagi membicarakan rencana perjalanan kami ke Jakarta. Beberapa di antara mereka ada yang pulang ke kost-an dan baru akan kembali pukul satu nanti karena masih ada mata kuliah Kajian Drama. Sedang yang lainnya terlihat sedang tidur-tiduran, mengerjakan tugas, mengobrol, makan, dan bahkan dua orang temanku yang kebetulan berpacaran sedang duduk berdua sekitar tujuh meter dari samping kiriku. Huh, jujur saja aku sedikit iri pada mereka. Sepertinya mereka sangat menikmati cinta. Tidak seperti aku yang terkadang begitu merana karena cinta. Seperti saat ini, aku dibuat merana oleh sebuah penantian sambil mendengarkan lagu-lagu Melly Goeslow yang  ada dalam album Ada Apa dengan Cinta dengan menggunakan walkman milik temanku.
aku tak bisa jelaskan mengapa bisa begini. Aku s’lalu rindu pada malamku bersamamu……
kuhanya ingin mencintai, aku hanya ingin dicintai. Walaupun banyak yang menentangku, kuhanya ingin bahagia……
***
Siang semakin garang. Mengucurkan keringat di sekujur tubuhku. Saat ini aku sudah bisa mencium aroma siang. Kurasakan panas pada kulit tanganku yang terjemur langsung di bawah terik matahari. Aku berpindah tempat duduk, mencari tempat yang lebih teduh. Kini aku bersandar di sebuah lemari kayu yang biasa dijadikan tempat penitipan sepatu. Orang-orang lalu lalang  di depan wajahku. Tiba-tiba seorang anak menghampiriku dengan membawa sebuah kecrek yang terbuat dari kayu dan tutup botol soft drink yang dipipihkan. Kukecilkan suara walkman untuk mendengarkan bocah yang seumuran dengan adik bungsuku bernyanyi, “libuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati lintangan demi aku anakmu.”
Hatiku benar-benar tersentuh. Bagaimana bisa seorang bocah yang belum bisa mengucapkan huruf “R” berada di sini mencari makan? Bukankah seharusnya mereka berada di bangku sekolah? Inikah tanda-tanda ketidakadilan dunia? Lalu bagaimana dengan masa depan mereka? Ah, kurasa inilah salah satu penyebab keterbelakangan bangsa kita disbanding bangsa lain. Tapi mau bagaimana lagi? Apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa miskin seperti aku selain berdo’a, berdo’a, dan berdo’a. Mudah-mudahan kelak tak ada lagi anak yang kurang beruntung seperti dia.
Setelah kukeluarkan uang receh secukupnya anak itu berlalu. Ia berkumpul dengan teman-temannya di dekat menara putih yang menjulang tinggi di depan mesjid ini. Mereka terlihat begitu menikmati penatnya siang. Seakan tanpa beban mereka berlarian di bawah jemuran matahari. Sementara itu aku kembali menebar pendanganku. Masih dalam rangka mencari sosoknya yang selama ini kurindukan.
Adzan Dzuhur berkumandang, menyerukan panggilan untuk segera menghadap-Nya. Sebagian mahasiswa segera mengambil air wudhu dan sebagian lagi terlihat masih duduk-duduk memenuhi selasar mesjid untuk menunggui tas dan sepatu teman-teman mereka yang pergi sholat terlebih dahulu. Di mesjid ini berkali-kali terjadi kasus kehilangan barang, baik itu tas, sepatu, jaket, atau handphone. Oleh karena itulah sholat bergantian dianggap sebagai solusi terbaik untuk menghindari kehilangan barang. Begitu juga dengan aku, dua tahun yang lalu aku sempat menjadi korban kehilangan tas di mesjid ini. Betapa kesalnya aku saat itu. Isi tas memang tidak bernilai jual tinggi bagi orang lain, tetapi bagiku sangat berarti. Isinya disket-disket tugas akhir semester yang belum sempat di-print, dan foto-foto kenanganku bersama kekasihku yang pergi menghadap-Nya tiga tahun yang lalu. Gambar-gambar wajah teduhnya seringkali membuatku merasa bahagia karena pernah dicintai oleh mahluk seindah dirinya. Dan sejak aku bertemu dengan seseorang yang saat ini sedang kutunggu, aku seakan dipertemukan kembali dengan reinkarnasi dirinya. Sungguh, kedua gadis itu terkesan sama bagiku. Tetapi mengapa dia belum datang juga?
Segera kumatikan walkman, setelah menitipkan tas dan sepatu pada temanku yang kebetulan sedang “libur sholat”, aku segera mengambil air wudhu dan sholat berjama’ah. Seusai sholat aku berdo’a pada Tuhan agar aku bisa dipersatukan dengannya, aku ingin menjadikannya sebagai matahari cintaku. Kemudian aku segera kembali ke selasar mesjid. Aku masih berharap bisa bertemu dengannya siang ini, atau paling tidak aku bisa melihatnya walaupun dari kejauhan. Yang jelas di dasar hati terdalamku aku ingin menyatakan isi hatiku untuknya siang ini juga.
Pukul setengah satu, matahari benar-benar tak selembut tadi pagi. Suasana di sekelilingku semakin ramai. Para penjual makanan mulai berdatangan untuk menyajikan hidangan makan siang berupa batagor, siomay, cuanki, es cendol, cincau, dan berbagai makanan lain dengan harga murah tentunya. Tetapi aku sedikitpun tidak tergerak untuk makan. Entah kenapa.
Beberapa temanku mulai beranjak meninggalkan selasar mesjid ini dan segera menuju ruang kuliah yang letaknya cukup jauh dari sini. Untuk sampai di sana kami harus melewati perpustakaan, Balai Bahasa, dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Apalagi di bawah terik yang menyengat ini. Mungkin beberapa teman perempuan yang kolokan akan mengeluh sepanjang jalan. Takut kulitnya terbakar-lah, takut hitam-lah. Menyebalkan.
Aku segera merapikan barang bawaanku, lalu segera kupakai sepatuku. Tetapi aku tidak segera beranjak. Aku masih begitu ingin bertemu dengannya. Sekali lagi kuamati sekelilingku. Masih bisa kurasakan suasana ramai khas tempat ini yang terjadi setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu. Apalagi hari Senin seperti sekarang ini, biasanya kampusku lebih ramai dibanding hari-hari lainnya.
Dan akhirnya penantianku tidak sia-sia. Tepat di depanku, di dekat gerbang kampus aku melihatnya berjalan menuju tempat parkir motor. Tetapi jantungku seakan berhenti berdegup. Dia tidak sendiri. Seorang lelaki mendampingi langkahnya. Tak lama kemudian mereka berlalu, melaju dengan sebuah sepeda motor. Dia mendekap erat lelakinya. Wajah cantiknya melekat pada punggung lelaki itu. Menara putih dan pohon palem runtuh dalam semesta lukaku. Rumput terbakar terik matahari seperti hatiku yang terbakar api yang tak kumengerti. Kering dan layu. Dalam hitungan detik segalanya berubah jadi debu. Tak ada lagi Mawar atau Kanigara. Yang ada hanyalah bangkai berbau amis.
Aku berlalu meninggalkan selasar mesjid yang masih dipenuhi manusia. Kutinggalkan sebuah pertanyaan, “mengapa dia tak menjadikan aku sebagai mataharinya?” Pertanyaan itu terjawab setelah aku tahu bahwa lelaki itulah matahari pilihannya. Dan aku, masih akan selalu menunggu di selasar mesjid ini. Bukan lagi menunggu kedatangannya tetapi menunggu kematian sebuah pijaran jiwa yang kini telah diliputi luka menganga. Aku terluka.


***
 


Sie Liebdt Dich - cerpen Sigit Rais -

(Majalah HAI, 23 Februari - 1 Maret 2009/ TH XXXIII No.8)




“Halah! Dasar kuya batok! Masa sih tugas bikin puisi minta tolong sama gue? Please deh! Secara gitu loh!” ujarku kesal.
“Ayo dong fren, please, masa sih lo tega ngebiarin Bu Tuti nulisin angka jelek buat nilai Bahasa Indonesia gue, ayo dong Ka,” bujuk Ikhsan sambil menarik-narik jaketku.
“Ga, ini bukan soal nilai, ini soal karya nih! Enggak bisa sembarangan!”


“Sekali ini aja Ka, lagian cuman puisi doang kok!”
“Eh! Sembarangan! Cuma puisi doang kata lo? Waduh! Lo mau ditabokin penyair se-Jawa Barat ya? Lo pikir puisi tuh kacang goreng yang bisa diperlakukan seenaknya? Puisi tuh karya seni Man! Nggak cukup dikasih nilai 123 atau ABCD doang! Puisi tuh hasil pemikiran, perasaan, dan….”
Euleuh-euleh, lagak lo, udah sok kayak sastrawan besar aja. Please dong Ka, kali ini aja, please, please…” Ikhsan terus memohon-mohon. Akhirnya aku menyerah. Bukannya apa-apa, konsentrasiku terus terganggu oleh rengekannya. Kalau begini terus, kapan tugas makalah Sosiologi ini bisa kuselesaikan? Bisa-bisa besok aku kena marah Bu Mince lagi.
“Ya udah, tapi inget, kali ini aja!” 
Ikhsan mengangguk-angguk seperti anak kecil yang dilarang jajan sembarangan oleh mamanya.
Thanks bro! Jasamu tak akan kulupakan, karena engkau adalah sahabat yang…..” ujar Ikhsan sambil berlagak seperti seseorang yang sedang membaca puisi.
“Apaan sih? Udah deh sana pulang! Udah malem nih!
“Aduh, segitunya. Ngusir nih Mas?”
“Iya!”
“Ya udah, gue caw dulu ya! Good luck fren! Jangan lupa lusa harus udah dikumpulin, okey?”
“UH! Pake merintah lagi! Sialan!” ujarku sambil melempar ballpoint ke arah Ikhsan.
“Eit, nggak kena! Inget Man, ikhlas! Dadah!”
“ARRRRGGHH!!”

***

            Kantin Mang Rojak penuh sesak. Anak-anak bejubel memadati kantin mungil yang ada di pojok sekolah. Ada yang memesan mie ayam, kupat tahu, nasi kuning, bahkan ada beberapa anak yang memborong banyak makanan untuk dimakan di dalam kelas. Di depanku, segelas susu soda dan dua potong brownies kukus menemaniku mendengarkan lagu-lagu The Beatles dalam MP4 playerku. Sejak tadi sudah tiga lagu yang masuk ke dalam telingaku, I Want To Hold Your Hand, Hey Jude, dan kali ini lagu berbahasa Jerman, judulnya Sie Liebdt Dich. Tiba-tiba Ikhsan datang merusak ketenanganku.
            “DARR!” Ikhsan menggetkan aku dari arah belakang.
            “Buset! Dasar kuya batok! Kutukupret gonjring! Kalo gue jantungan terus mati gimana?” ujarku kesal.
            “Aduh sori Ka! Tapi yah, kalo lo mati ya dikuburlah, paling gue berdoa supaya dosa lo diampuni, hehehe!”
            “Sialan!”
            “Eh Ka, gue udah dapet info nih tentang Atra, kecengan lo!”
            Mendadak aku bersemangat. Kulepas earphone agar aku bisa mendengar ucapan Ikhsan lebih jelas.
            What? Terus, terus?” ujarku penuh semangat.
            Tapi Ikhsan malah memalingkan wajahnya sambil bersiul.
            “Terus Ga?” tanyaku penasaran.
            “Eh, ehem, tapi aku haus nih Ka, gimana ya?” ujarnya sambil melirik gelas berisi susu sodaku. Aku segera menyodorkan susu soda itu ke arahnya. Dengan sigap Ikhsan segera menyeruput susu soda yang tadinya masih memenuhi volume gelas.
            “AH! Segeerrrrr!” Ikhsan berhenti sejenak. Ia melap mulutnya dengan tangan lalu melanjutkan pembicaraannya, “ternyata si Atra belum punya cowok, Ka! Masih jomblo gitu deh!”
            Mendadak muncul euforia! Aku merasakan kebahagiaan. Hatiku berbunga-bunga. Dunia ini terasa seperti gurun pasir yang baru disirami hujan deras.
            “Beneran Ga?” tanyaku menggebu-gebu.
            Ikhsan mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi aku segera berlari menuju kelas. Aku harus segara “berburu”.
            “Reka! Mau ke mana? Ini brownies sama susu sodanya gimana?”
            “Buat lo aja! Udah gue bayar kok! Perjuangan harus dimulai nih!”  

***

            Dua hari kemudian aku mulai dekat dengan Atra, walaupun saat ini statusku masih sebagai teman biasa. Anehnya Atra langsung akrab denganku. Bahkan sepertinya Atra yang mau mendekatiku.
            “Wah, ternyata kamu nyenengin juga ya Ka,” ujarnya sambil mengunyah permen karet. Pipi Atra yang cukup chubby membuatku gemas, ditambah lagi lesung pipit yang membuatnya terlihat semakin manis. Ingin sekali rasanya kucubit pipi itu. Mungkin nanti setelah aku berhasil merebut cintanya.
            “Ka, lo tuh kompak banget ya sama si Ikhsan, mirip Desta sama Vincent Club Eighties gituh,” ujarnya.
            “Ah, masa sih?” tanyaku sambil pura-pura heran.
            “Beneran. Malah kadang-kadang, kalian kayak anak kembar lho, abisnya, udah tingginya sama, bentuk rambutnya sama, sering bareng pula.”
            “Ah, itu mah dia aja yang ngikut-ngikut gaya gue. Tapi tetep gue kan yang paling keren, hehehe…” Aku tersenyum lebar, mungkin selebar Joker si musuh Batman.
            Tiba-tiba Atra batuk. Ia tersedak dan permen karetnya tertelan.
            “Ya ampun Mil!” Aku segera memijat-mijat lehernya sampai akhirnya permen karet melompat dari mulutnya. Tiba-tiba Atra tertawa geli. Aneh.
            “Mil, kamu kenapa?”
            “Engga, hihihi, cuma geli aja, abisnya kamu narsis banget sih!”
            Tiba-tiba mukaku memerah, entah kenapa. Yang jelas kali ini aku benar-benar bahagia. Harapanku pada Atra pun semakin besar. Aku yakin hati Atra bisa kudapatkan.
***
            Jam dinding terus mengeluarkan irama detiknya. Ia bersimfoni dengan suara jangkrik yang bernyanyi di luar kamarku. Aku merasa bahagia. Puisiku terpilih sebagai puisi terbaik oleh Bu Tuti dan dipajang di mading mulai tadi siang. Tapi sayang, puisi yang terpilih adalah puisi yang dikumpulkan atas nama Ikhsan. Sedang puisi atas namaku malah tidak masuk urutan lima besar. Tapi biarlah, toh itu masih karyaku, lagipula mana mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Bu Tuti, bisa-bisa Ikhsan dihukum. Untunglah Ikhsan teman yang baik, ia tidak banyak tingkah walaupun banyak anak yang mengaguminya karena puisi itu. Aku mengerti posisinya, ia tidak mungkin jujur pada semua orang bahwa itu karyaku, nilai Bahasa Indonesianya bisa terancam.
            “Ga, gimana ceritanya sampe kamu bisa bikin puisi sebagus puisi Dia Mencintaimu? Dapet dari mana inspirasinya?” tanya seorang wartawan ekskul buletin tadi siang sepulang sekolah.
            Ikhsan bingung harus jawab apa. Kami hanya saling tatap. Beberapa kali Ikhsan memberikan isyarat dan aku hanya bisa mengangkat bahuku. Mendadak Ikhsan berdiri, dia lalu berlari ke arah toilet.
            “Aduh, sori, si Ikhsan kayaknya kebelet. Mau tahu sumber inspirasinya?  Gue tahu kok, soalnya kemaren dia cerita.”
            “Oh ya? Gimana katanya?
            “Dia tuh suka sama seorang cewek, nah, tapi sayang si cewek malah suka sama temennya. Nah, itu puisi ditujuin buat temennya itu, gitu. Dia bilang sih itu puisi terinspirasi sama salah satu judul lagunya The Beatles, Sie Liebdt Dich, artinya dia mencintaimu, gitu!”
            “Oo…” ujar wartawan cilik itu sambil manggut-manggut seperti wayang golek Si Cepot yang sering muncul di salah satu televisi swasta lokal.
            Begitulah, mendadak Ikhsan jadi seseorang yang dicari-cari. Dia seperti selebritis yang dikejar infotaintment karena melakukan sesuatu yang menghebohkan. Aku jadi kasihan juga. Gara-gara itu, dia jadi tidak tenang, serba salah, dan dikejar-kejar rasa takut.
            Tiba-tiba Mama memanggil-manggil namaku.
            “Reka, ada telfon! Katanya Atra!”
            Aku segera berlari ke luar kamar menuju meja telfon. Ternyata memang Atra.
            “Mil, ada apa?”
            “Sori ganggu, ada yang mau gue omongin, besok bisa nggak pulang sekolah kita mampir dulu ke taman Ganesha?”
            “Oh, boleh aja. Emang ada apa Mil?”
            “Ya udah, besok aja ya, oke, malem…”
            “Yu….”
            KLIK!
            Kututup telfon dengan kepala yang masih dipenuhi tanya. Entah apa yang akan terjadi besok. Kuharap Atra memberikan lampu hijau padaku untuk mendapatkan cintanya. I hope, I wish, I pray.

***
            Suara burung melatari suasana siang menuju sore di taman ganesha. Matahari sedikit condong. Mungkin sudah pukul tiga sore. Aku dan Atra duduk di sebuah bangku besi yang dinaungi sebuah pohon besar. Beberapa ekor burung melintas di atas kepala kami. Mereka lalu lalang di udara, entah sedang apa, mungkin sedang mencari makan untuk anaknya.
            “Ka, gue mau jujur nih,” ujarnya sedikit tersipu. Mukanya memerah.
            Dadaku mendadak berdegup makin kencang. Aku merasa setelah ini aku akan berhasil mendapatkan cintanya.
            “Gue…”
            “Kenapa Mil?”
            “Gue…gue…gue…suka..”
            “Kenapa? Suka apa?” tanyaku sembari berharap Atra berkata ‘aku suka sama kamu’. Detik demi detik rasanya berlalu dengan sangat lambat. Ini seperti adegan slow motion yang ada dalam sinetron saat akan usai dan menampilkan tulisan ‘bersambung’ di bagian bawah layar tv.
            “Gue suka sama Ikhsan, Ka. Tapi gue nggak berani bilang ke dia.”
            JELEGER! Halilintar seakan menyambar jantungku. Perasaanku campur aduk. Ternyata Atra menyukai Ikhsan. Aku kehabisan kata-kata. Aku kehilangan harapan.
            “Sejujurnya, gue deketin lo tuh biar gue tahu lebih banyak tentang Ikhsan Ka.”
            JELEGER! Halilintar kembali menyambar, kali ini menyambar ubun-ubunku. Aku mati kutu. Aku hanya bisa mematung.
            “Terus, kemaren pas gue baca puisi dia yang nongol di mading, gue makin cinta sama dia Ka, gue nggak sanggup nahan perasaan gue lagi. Gue takut kehilangan dia, apalagi setelah gue denger kabar bahwa makin banyak cewek yang suka sama Ikhsan gara-gara puisi itu.”
            Aku terdiam. Entah harus bicara apa.
            “Ka, lo mau kan bantuin gue? Please, lo kan temen gue yang paling baik. Please comblangin gue sama Ikhsan. Lo mau ya?”
            Perlahan kuanggukkan kepalaku. Hatiku benar-benar kosong. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Ikhsan. Setelah ini aku tidak tahu apakah aku bisa menerima kekalahan ini? Tapi kekalahan apa? Toh aku dan Ikhsan tidak sedang bersaing. Jadi ini apa namanya? Ah, aku pusing. Kacau!
            Setelah supir Atra datang menjemput, Atra pun segera pulang dengan menyimpan harapan besar di pundakku, harapan untuk bisa memiliki Ikhsan. Harapan itu benar-benar membebaniku. Aku benar-benar bingung. Kupasang saja earphone di telingaku. Kembali lagu-lagu The Beatles melatari suasana hatiku di sore yang semakin jingga ini. Kutekan tombol play, dan…..
            Sie liebdt dich, je je je
            Sie liebdt dich je je je
            Sie liebdt dich je je je je….

***