02 October 2013

Seteko Kata Hati

"Siapa yang pernah lancang meminta pertemuan itu? Pertemuan yang tak pernah kurapal sebagai doa di malam-malam yang bergelintin.

Di ranah raja-raja, sesaat setelah matahari sedikit bergeser ke tepi awan, mataku digiring untuk bersinggungan dengan tubuhnya.  Di satu titik kami bertemu. Sama-sama menjadi tamu dalam sekumpulan orang yang saling menjamu.

Kami lewati detik, dalam gelitik celoteh yang berhamburan saling menghangatkan. Dia terus bertanya tentang cuaca yang selama ini bermukim di atap negeriku.

Ada angan yang diam-diam merambat hebat."

Seteko Kata Hati - Sigit Rais



Seteko Kata Hati 
Tulisan yang sangat cerdas, renyah, dan sangat menggoda. Bahkan, seolah merasakan nikmatnya tegukan pahit dan manisnya kehidupan. Rangkaian tulisan dari awal hingga akhir mencerminkan rangkaian perjalanannya dalam menyusuri sepotong demi sepotong hidup. Entah kenapa, saya langsung menikmati cucuran demi cucuranan, tegukan demi tegukan, yang dituangkannya dalam lembaran buku ini. 
Fantastis!

(Yadi Mulyadi, Editor dan Pemerhati Bahasa) 



"Seteko Kata Hati adalah luapan isi hati yang menginspirasi. Tidak hanya menyajikan secangkir kata hati yang beragam rasa, tapi juga menginspirasi pembaca untuk turut serta berbagi rasa yang selama ini tersimpan di jiwa" 

(Erick Priambodo, aktivis Geng Nulis Sapulidi) 

07 July 2013

Pengembara yang Tersesat

Dia pengembara ulung, seluruh ujung mata angin dijelajahinya tanpa ragu mengurung. Tetapi, dia tersesat di tanah lahirnya. Meski telah lelah dia rapal mantra, kabut pikir tak relakan pendar bintang sampai ke penglihatannya. Lalu, dia membaca angin. Diikutinya gestur cuaca kota yang mendadak terasa gulita. Asing. Bagai tiada jejak sejarah bahwa alam telah jadi saksi atas kelahirannya.
Dia nyaris cucurkan air mata. Tetapi, suara bunda lamat merambat telinga. Dibisikannya kidung pemecah awan mendung.

"Ini tanahmu, arungi dengan berani dan rendah hati. Cuaca jiwa penghuni-penghuninya tak menentu. Tanamkan bahwa hangat mentari akan selalu kembali."

Pengembara menengadahkan kepala. Ditatapnya sehampar jejak Sangkuriang dan telungkupan perahu yang dulu pernah ditendang.
Dia tersenyum. Pepohon masih merunduk di sepanjang jalan yang dipenuhi gemerlap yang entah.
Dia pun melesat. Kembali jadi penguasa jagatnya sendiri yang dulu pernah dia ciptakan beralaskan mimpi.
 
Gedung Sate Bandung
7 Juli 2013
10.23 PM

05 July 2013

Gigil

Sudah dua hari kamu dijauhkan dari pendar matahari. Sejak itu, gigil jadi kancamu sehari-hari. Angin terasa menusuk benci. Pula udara lembap yang sisakan sesak pengap di hati. Tapi kamu lagi-lagi berakting jadi si tangguh bernyali. Rintik gerimis kamu terobosi. Ciprat kubangan di jalanan tak bertepi berkali-kali menampar pipi. Kamu tak peduli dan terus berlari.
Tempat berhias teduh pepayung jadi tujuanmu kali ini. Selalu. Di hari sakral ini, di mana kamu dengannya terbiasa berbagi janji, walau sesekali kalian saling meyembunyikan diri.
Selalu. Seperti hari-hari lainnya, kamu memesan minuman yang sama. Dan kali ini, pesananmu adalah penyelamat ngilu di sekujur gigil tubuhmu yang meringkih dalam senja.
Tetapi, kamu bingung sendiri. Untuk apa adamu di lanskap ini? Bukankah matahari telah mendeklarasikan kealpaannya dua hari ini? Takkah kamu bisa menangkap isyaratnya yang berpendar jelas menusuk mata? Matahari tak akan sekonyong-konyong tiba, jadi hangat bagi tubuh rapuhmu yang gigil. Kamu perlu menunggu sampai nanti tiba waktunya. Bisa besok, lusa, minggu depan, bulan atau tahun depan, tak terprediksi, karena sesaat lagi malam akan menelan sore tanpa iba.
Tunggulah, tapi jangan diam di tempat yang sama. Teruslah menarikan tarian pemanggil matahari. Cepat atau lambat, matahari yang kau damba akan kembali. Dan bisa jadi, saat dia kembali, tubuh gigilmu yang dipenuhi biru sudah pulih dan baik-baik saja.
Tunggulah, tapi jangan berduka. Jangan biarkan gigil bekukan nadi.
Tunggulah di depan perapian. Mungkin kelak kamu pun akan lupa bahwa kamu pernah menunggu. Ya, menunggu sesuatu yang jelas dan nyata tak akan kembali saat ini.

Sekarang. Habiskan minumanmu, lalu merapatlah ke hingar-bingar dunia yang kadang bisa pendarkan hangatnya sendiri, walau tanpa matahari.


Kantin
5 Juli 2013 
5.44 PM

02 July 2013

Tatap Mata Pertama

http://www.free-desktop-backgrounds.net/free-desktop-wallpapers-backgrounds/free-hd-desktop-wallpapers-backgrounds/832137234.jpg
 
Dia terlalu hebat, terlalu kuat dan tak sadari bahwa ada luka meradang di hati dan otaknya. Dia terus menggenggam tatap mata pertamamu.

Dia tak pernah sekalipun meminta pada Tuhan untuk dipertemukan denganmu, orang yang pada akhirnya jadi tempat cintanya bermuara. Begitu juga dengan kamu. Tak pernah sekalipun kamu berfirasat atau bermimpi akan kedatangan seorang yang memiliki cinta terhebatnya untukmu.

Kalian bertemu dalam sebuah sistem rencana Tuhan. Persinggungan tatap matamu dengan matanya telah lama dipersipkan dalam rancangan penciptaan semesta. Tanpa diminta, tanpa dikendalikan kekuatan manusia manapun, kalian bertemu untuk kali pertama.

Lalu, energi di masing-masing tubuh kalian bereaksi. Dia menjadikan tatapan pertama itu sebagai salah satu memori terbaik di sepanjang usia tubuhnya. Sementara, kamu juga mengagumi tatapan mata pertamanya. Tetapi, kamu berbeda. Dengan segunung arogansi, kamu meredam euforia. Kamu menyimpan tatapan itu di ladang-ladang sejarah biasa, yang tak terawat dan tandus, lalu terlupakan. Tapi, bertahun-tahun setelah itu. sesekali kamu mengakui bahwa kamu juga merasakan keindahan yang nyata.

Bertahun-tahun sejak itu, dia selalu menyimpan tatapan mata pertamamu. Dibawanya tatapan itu bersama terbit tenggelam matahari. Ditafsirkannya kelucak bahagia tiap ada kamu sebagai rona cinta, sebagai jernih renjana yang terus mengaliri sungaimu. Tetapi, sungai keringmu terlalu batu untuk bermain dengan riak air. Kau bergeming, tak berhasrat menghijaukan dunia yang dilalui oleh aliran kasih sayangnya.

Kamu selalu tak peduli, tetapi dia juga selalu tak peduli pada ketakpedulianmu itu. Dia mencintaimu tanpa ekspektasi. Itu yang bisa membuatnya berdiri. Dia selalu bisa bertahan dengan penolakan-penolakan yang kamu obral di sepanjang jalan. Dia mengerti bahwa tidak setiap hati bisa terkoneksi secara sempurna. Ya, sesempurna cerita-cerita cinta yang selalu berakhir dengan bahagia. Dia berfirasat bahwa kisah ini tak mungkin bisa berakhir bahagia. Apalagi responmu yang batu dan konon telah menghancurkan banyak hati sang pencinta. Tapi, dia masih saja jadi orang hebat yang terus tanpa henti mengalirkan seluruh nyawanya untuk mencintaimu. Dia yang diam-diam menyeka lukamu, dia yang diam-diam mengirim bunga, yang selalu hadirkan bahagia di dadamu, tapi selalu kau sembunyikan.

Bodohnya kamu. Dengan angkuh di ubun-ubun, kamu pernah mencampakkan bunga itu di jalanan. Dia menangis. Kamu menyesal. Tapi, kamu berpura-pura. Dia juga berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia terus memendarkan cintanya untukmu.

Sekarang, dia melemah. Hatinya diselimuti lubang dan duka. Sementara, otaknya dipenuhi virus kenangan bergambar muka sombongmu. Tapi dia tidak menyadarinya, bahkan sampai kamu pergi.

Kini, setiap hari dia duduk di jendela. Menerawang menunggumu datang sambil menyimpan segenggam ingatan tentang tatapan mata pertamamu waktu itu.

25 June 2013

Tenanglah

Kadang, ada perasaan bahwa orang-orang di sekeliling kita membenci kita. Kadang kita curiga, mata mereka mendelik tajam sambil saling berbisik mengisahkan hal-hal buruk tentang kita. Kadang, ada perilaku orang lain yang mengusik, walaupun kita sedang bergeming. Kadang, orang-orang itu terasa menertawai. Kadang, mereka seperti marah melihat letup bahagika kita. Kadang, mereka terlihat jumawa saat menemukan kekurangan kita sebagai manusia.
Kadang, kita merasa mereka sedang berusaha membuat kita marah, karena kemarahan kita adalah hiburan gratis bagi mereka. Kadang, ada curiga, orang-orang di sekeliling kitalah yang justru menjatuhkan nama baik kita.
Kadang kita merasa orang-orang di sekeliling kita itu adalah keseluruhan semesta raya yang membuat kita tak sanggup berkutik.

Tenanglah. Kupirkir, biarkanlah.
Luaskan pikiran. Dalam jarak 1 meter di sekeling kita mungkin ada 2 orang yang kita kenali dan juga mengenali kita, lalu dalam jarak 1 kilometer, 1000, kilometer, dan seterusnya... apakah semuanya kita kenali dan mengenali kita?

Ternyata tidak.
Pikiran kita merumit, karena terkurung di suatu area dunia. Dan itu kita proyeksikan sebagai wakil dari alam semesta. Oleh karenanya, saat ada energi-energi negatif yang kita tangkap, kita langsung menerjemahkannya sebagai energi negatif dari seluruh sisi bumi. Padahal tidak.

Jadi,
saat kita merasa orang-orang di sekeliling kita bergelagat tidak menyenangkan dan begitu mengganggu ketenangan hati kita, yang jelas-jelas tak ingin megganggu orang lain, cukup pejamkan mata. Lalu, bayangkan bahwa kita dan orang-orang di sekitar kita itu hanya sepetak kecil dalam atlas pulau yang kita pijak, hanya titik tak terlihat dalam globe, dan hanya entah apa di sehamparan tata surya, apalagi di galaksi bimasakti.
Alam raya sangat luas dan tak terjangkau. Jadi, sangat rugi jika emosi fluktuatif hanya karena seupil hal kecil di hamparan alam semesta.
Pandanglah lebih luas. Orang-orang menyebalkan itu hanya debu. Cukup lihat hal baik saja dari mereka.

Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-wHSphRihsvE/Tl3Zy_p9jmI/AAAAAAAAAC8/vL_cc4axl3E/s1600/milky-way1.jpg

Cukup Prihatin

Cukup prihatin jika ada sebuah hubungan yang dirangkai dengan salah satu niatan memanas-manasi orang lain atau sekadar ditepuktangani dunia yang mengelilingi, bahkan hanya mengejar status yang dianggap olehnya prestisius: 'sedang menjalin hubungan'.
Beberapa orang mungkin akan iri, cemburu, atau menepuktangani sesuai dengan ekspektasinya. Mungkin dia telah berhasil. Tapi sayang, akan ada putih hati kecil yang dibohongi. Akan selalu ada kepuasan yang tak ada habisnya dicari. Itu sangat mengkhawatirkan dan kelak akan menyakiti diri.

Sumber gambar: http://x80.xanga.com/ce2e312058234279900685/z222978646.jpg

24 June 2013

Suatu Malam, Tubuh yang Berlumur Darah

Kota ini masih gempita. Masih setia dengan cahaya. Pula angin yang dibingkiskan oleh cuaca, makin meruah di celah rimbun pepohon yang tidur. 

Tadi, seorang bapak tergolek bersimbah darah. Tepat di tengah jalan, bersama sebuah motor tua yang mungkin telah cukup setia mendampinginya. 
Ngeri. Darah bercucuran dari banyak lubang di kepalanya. Pula dari matanya yang larut terpejam. 
Seketika, orang-orang mengerumuni. Laju mesin-mesin distop sementara waktu. Sebagian mengerti, sisanya ngomel-ngomel karena tertunda sudah hasrat tiba di rumah. 
Maka, terdengarlah orkestra klakson pekak yang membuatku ingin lempar granat ke arah mereka.

Tapi, itu tak lama. Sang bapak bermandi darah segera diangkat hati-hati ke trotoar. Tak lupa, sepeda motor hitamnya didorong seorang satpam ke tepian.
Di samping sebuah mobil, seorang wanita ketakutan. Mungkin melihat tumpahnya darah. Pula aku. Pusing rasanya melihat darah mengalir tak henti.

Aku menepi. Berusaha mencerna tiap gelagat yang masih jadi teka-teki. 

Belum sempat kuhampiri, sang bapak sudah dibawa pergi. Bibirku komat-kamit sendiri. Ada harap sederhana, semua baik-baik saja. 

Di belakangku, sebuah Xenia merasa terhalangi. Pekak lagi kupingku dibuat oleh klakson berisik itu. Segera kumelaju, tinggalkan riuh yang masih belum utuh kucerna.

Kota ini akan selalu gempita. Berbagai cerita akan ada di setiap genit detik yang kadang ternoda.
Dan aku masih akan bermain-main dengan angin.

Semanggi menuju Blora
24 Juni 2013
12.03 AM

23 June 2013

Pada Penantian Terakhir

Kamu masih saja menunggunya. Di sebuah meja yang dikelilingi kursi-kursi kayu. Seperti biasa, kamu sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sehingga senja tak akan menyisakan duka.

Tapi, kali ini kamu berhak atas sepaket bahagia yang dibingkis bersama kedatangannya. Pada penantian terkahir ini, dia datang untukmu, sesuai dengan janjinya, walaupun pikirannya sudah ingin segera enyah dari dunia yang sama-sama kalian huni.

Dalam sebuah rendezvous kalian berbagi udara. Sesekali celotehmu jadi umpan yang terpaksa harus dilahap olehnya. Sesekali pula dia berkata-kata sambil menatap matamu. 
Kamu sebetulnya hampir layu. Ada yang berbeda dalam perjamuan itu. Ada atmosfir yang membuat kalian seperti tenggelam di palung lautan. Kamu berusaha berenang ke permukaan. Kamu menarik tubuhnya. Tetapi, tubuhnya beku dan berat. Kamu tak sanggup membawanya, lalu kalian sama-sama tenggelam dalam hitam dasar laut yang diam.
Ada sekeranjang kalimat bersarang di mulutmu. Tetapi, kamu memeramnya di kedalaman hati. Ada cahaya lilin yang harus kamu jaga. Kamu takut nyala lilin itu padam sebelum waktunya.

Kamu dan dia terus saling diam. Tetapi gestur kalian saling bicara. Saling mengerti bahwa ini adalah momen yang tak biasa.
Kalian tetap diam. Entah bagaimana diam ini akan bertemu dengan akhirnya. Lalu, kamu berimaji, tentang punggung yang menjauh, lalu hilang di balik pohon.


Markas Jompers
23 Juni 2013
1.26 AM

20 June 2013

Di Ujung Rokok

Aku ingin berhenti merokok.

Kalimat itu yang berkali-kali kucoba untuk kutanamkan, walau masih sulit. Kalimat itu juga pernah kusampaikan padanya.

"Berhentilah jika memang mau," ujarnya lembut.
Kukatakan padanya, "sulit, karena sampai saat ini belum ada yang melarangku."

Aku terdiam. Dia juga.

"Kamu mau jadi pelarangku untuk merokok?" tanyaku lirih.
Banyak harap tumbuh di dada. Aku ingin dia memintaku berhenti merokok. Aku ingin dia jadi motivasi yang menyelamatkan degup jantungku.

"Sebaiknya keinginan dan kekuatan untuk berhenti merokok itu datang dari diri sendiri," jawabnya lembut.
"Kenapa? Bukankah usaha akan semakin berenergi jika ada dorongan?" tanyaku sambil mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan cricket-nya dari saku celana.
"Kelak, jika kita sudah tidak bersama, pendorongmu juga akan tak ada. Pada akhirnya, kamu akan kembali bersahabat dengan asap itu," paparnya sambil tersenyum lembut.

Rasanya ingin lanjut bertanya, "memangnya kamu mau kemana? Apa yang akan jadi pemisah kita?" Tetapi, kupikir itu akan sangat memperluas ranah pembicaraan.

"Oke kalau begitu. Sepertinya sekarang aku belum bisa merokok," ujarku sedikit tergesa sambil memantik cicket.

Api menyala, lalu menjalar di ujung rokok yang satu sisinya sudah melekat di bibirku.