25 May 2018

Tak Bisa Menangis

dan rupanya aku tak bisa lagi menangis

setumpah ruah apapun kesedihan yang tergarit
tangisan terpenjara di suatu ruang yang entah

bahkan,
lagu-lagu menyedihkan itu pun tak mampu
luapkan seluruh kesedihan

pertanda makin kuatkah hatiku
atau ini hukuman
sebab,
aku menangisi sesuatu
yang kata orang tak disukai tuhan

18 May 2018

15 Mei 2018

Ini hari selasa. Pagi-pagi jam 4an aku sudah siap2 berangkat ke Bandara. Ya, hari ini aku akan berangkat ke Jakarta.
Selain mau bersihin karang gigi yg sudah numpuk bertahun2, aku juga ingin minum teh jahe kantin dan makan Genki Sushi sebelum mulai puasa.
Prosesi keberangkatan berjalan seperti biasa, kecuali segelas teh teh sereh yang baru kuminum seperempat karena keburu dipanggil masuk pesawat. Hiks. Padahal mahal.
Jam 7 pagi, aku sudah sampai di Soekarno Hatta dan sempat ngemil sepotong roti bread talk. Aku segera naik damri arah blok M, dan sekitar satu jam kemudian, sampailah aku di kantor pusat.
Setelah mampir ke koperasi, ketemu Mbak Ida sekalian ngambil tapcash merchandise RAT buat Priam, Dawi, dan Dewi yg udh mau ikut bantu main peran di iklan RAT.
Lalu, aku segera ke lantai 13. Naruh barang, beramah tamah, dan ketawa-ketiwi. Setelah itu, aku segera ke dokter gigi dan antre giliran. Gak lama kemudian, Priam datang. Waini.. haha. akhirnya bisa ketemu di kantor sama nih bocah. Pernah kucertain kan, bahwa Priam itu temen baruku di Solo, yang ternyata banyak terkoneksi dgn teman-temanku, tapi gak sekalipun aku pernah kutemui. Bahkan di insiden vokal grup awal 2017 lalu, yg sempat menyita perhatianku, ternyata dia ada di situ. Gak cuma itu, wong yg akhirnya beli motor si Arif itu ternyata dia. Trus, banyak lagi lah kebetulan2 lainnya, yang baru kutahu setelah ketemu dia.
Ya makanya, bagiku dia itu teman yg unik. Kayak disembunyikan dulu sama Tuhan, baru dimunculkan di Solo dan bikin hari2ku jadi lebih seru. Soale, dia yg banyak ngasih tahu tempat ini itu, kuliner ini itu, event ini itu, di Solo. Padahal, jelas2 aku yg lebih lama di Solo. Wkwkwkk.

Nah, kali ini kami ketemu di Jakarta. Di kantor, yg mungkin aja dulu kami pernah berpapasan tapi nggak saling kenal. Dan mana ada yang pernah meramal bahwa seseorang akan jadi teman kita di masa mendatang.

Setelah dari dokter gigi, aku kembali ke lantai 13, numpang makan siang mie. hehe. lalu, aku janjian dengan Kak Fietri di kantin untuk bergunjing. Tak lama, Priam muncul. Ngobrol2 bertiga. Tentunya tentang pertesisan.
Habis itu bubar, aku dan Priam mau lanjut ke Genki Sushi Plasa Senayan, my favorite.
Sebelumnya, aku mampir dulu ke lantai 13 ngambil tas dan pamitan. Lalu, mampir ke lantai 11. Setelah itu, aku mampir ke SDM, mau ketemu mbak inar. Tp mbaknya lagi pumping. Lalu, aku nunggu temenku di tangga darurat, yg dulu sering dijadiin orang tempat ngudut yang mudorot. Hahaa. Dan, cuzzz deh ke Genki.
Sungguh kayak di surga. Ha ha ha. Maklum, di Solo aku belun nemu tempat sushi yg enak bgt. Adanya yg kurang gimana gitu.
Setelah kenyang dengan gunjingan dan sushi, kami bubar jalan. Tak lupa kupotret langit sore, yang akan kupajang di IG sebagai kenangan.
Aku bergegas ke fx, nyari travel untuk pulang ke Bandung. Di Fx ternyata aku bertemu dengan atlet Ayuh. Wkwkwkk.
ya... gitulah...

Kali ini, di Jakarta nambah cerita baru, dengan orang baru, yang bagiku harusnya ditemukan sejak dulu. Hehe.

14 April 2018

14 April 2018

Ini hari Sabtu, dini hari.
Aku, Dawi, dan Priam masih di suatu kedai kopi sekitaran Slamet Riyadi.
Baru saja ada perayaan kecil-kecilan (yang geje) untuk hari jadi kawanku, Priam.
Happy birthday and wish you all the best.









Sayangnya, project gambar vector yang tadinya mau kukasih malam ini, rupanya belum selesai. Sebab, beberapa jam lalu, kami hanging out sejak bada maghrib, sampai sekarang. Maka, setelah sampai, barulah kulanjutkan gambar itu, dan segera kukirimkan pada sang birthday boy.













Jam 3 tidur. Dan aku harus bangun pagi, sebab akan antre di open house perdana TUMURUN Private Museum.

ZZZZZZZZZZZ

Ini hari Sabtu, pagi hari.
Aku antre duluan di TUMURUN. Beruntung, aku bisa dapat tiket untuk 3 orang. Satu untukku, satu untuk Dawi, dan satu untuk Priam. Setelah sarapan pagi di Galeri Pedas, kami kembali antre dan masuk museum.



























Siang.
Kami makan di kedai Iboe. Ditraktir Priam.


Setelah itu, aku dan Priam mampir ke Stasiun Solo Balapan. Kami berencana beli tiket. Tapi, batal. Sebab kami harus antre sangat lama. Sementara Dawi dan Dewi sudah menunggu di Paragon.

Sore ke Malam
Kami karaoke di Syahrini KTV. Ditraktir lagi. Tempatnya kurang memuaskan. Sorenya, kami bubar jalan, dan aku harus siap-siap karena besok akan berangkat ke Yogya.

Btw, happy birthday, my friend. All the best for you.

29 March 2018

29 Maret 2018

Ini hari Kamis.

Dengan semangat menggebu, aku berencana bertemu para dosen pembimbing. Setelah ditolak oleh dosen pembimbing 1 kemarin, aku yakin hari ini pasti bertemu. Astaga, aku sudah seperti Milea yang rindu bertemu Dilan.

.....dan kini kamu ada di mana.... 
dan ini rindu, apa kabarmu....
dan ingin lagi....
dan ingin lagi...
jumpa....

(Ayah Pidi Baiq)

Sialan, pake soundtrack segala.

Berdasarkan statement Bapak Pembimbing kemarin, ya aku memutuskan untuk ikut serta dengan para rombongan penunggu  Beliau, menunggu di lorong depan ruang Dekan. Berharap cemas, semoga beliau segera datang.
Sementara, Dosen Pembimbingku yang nomor 2 sedang mengajar di kelas adik tingkat, ya di kelasnya Lingua (Priam, Dewi, dan Dawi).
Aku galaw. Mau nyusulin ke kelas Dosen Pembimbing 2, atau menanti kedatangan Dosen Pembimbing 1 sajakah?

Mbak WUlan lalu mengajakku mencari Bapak Pembimbing 1 keliling-keliling Fakultas (what the...). Suwer, seumur-umur, baru sekarang mengalami pengalaman yang aheng begini. Nanya ke sekretarisnya, malah enggak tahu. Nanya ke panitia acara rapat fakultas, katanya Bapaknya enggak itu rapat. Nanya ke anak-anak FISIP S1, katanya tidak ada kuliah Bapaknya. Sampai akhirnya Mbak Wulan nanya ke Pak Satpam. DIa minta tolong stalkingin, mobilnya Bapak ada apa tidak. Ternyata, TIDAK ADA.

Tidak apa-apa... Tidak apa-apa... Tidak apa-apa... tererekterk DUNG!

Mbak Wulan memutuskan untuk menunggu Bapaknya di lorong Dekanat seperti biasa. Sementara, aku yang dilatih untuk selalu progresif dan revolusioner oleh BEM KM FPBS UPI belasan tahun lalu, akhirnya memutuskan untuk nyegat Pembimbing 2 di depan kelasnya Priam.
Dan, setelah sampai di depan kelasnya, mereka sudah bubar....Bapak pembimbing 2 sudah pergi. Dan aku tahu Bapaknya setelah ini beliau ada kelas di gedung Pascasarjana. Mau nyusulin, energiku keburu habis... mau ngontak via WA, takut menganggu. Aku ada di era serba sungkan.

Yasudah lah.

AKhirnya aku ke ruangan Prodi di lantai 2. AKu ketemu Mas Jefri. Info dari Mas Jefri, Bapak Pembimbing 1 yang saat ini masih dinanti Kak Wulan katanya sedang ke luar kota. WHaattttt
Makin pupus dan layu. Aku lelah, teman-teman.
Lalu, Priam nongol, balikin kunci kelas. Dia ngajakin makan bareng Dawi Dewi dan teman-teman kelas mereka yang lain.
TITIK CERAH: MAKANAN.
Aku manut mau ikut. Dan karena mobilnya penuh, aku mau nyusul pakai gojek saja. Aku pamit dulu sama Mbak WUlan, yang masih setia nunggu di lorong MASUK ANGIN.
Ternyata benar, Bapak Pembimbing 1 sudah pulang. Bahkan, kakak senior kami yang mau ketemu dia pun, katanya mau ke rumahnya. HMMMM. Liat ntar aja deh.
Aku langsung cao, ke tempat pecel Jalan Juanda sesuai arahan Priam.
Lalu, aku makan, kenyang, dan bahagia kembali.
Setelah beberapa menit duduk di bagasi mobilnya Dewi (karena penuh), kami tiba-tiba sampai di Palur Plaza (apa palur mal ya?).... ngapain? Karoke dong. Ha ha ha.
Setelah Karoke, mood kembali ngedrop. Hadeh kenapa aku ini.

Maka, aku dan Priam mampir ngobrol-ngobrol di kedai spaghetti dekat kuburan. Ha ha ha. Ngobrol sampai senja. Sampai lupa bahwa aku sedang marah pada proses bimbingan tesis yang rrrrrr ini. Selepas magrib, bubar jalan. Pamitan dengan Priam, sebab dia akan mudik.

Pulang ke kosan sebentar. Lho? Iya, sebab, mas Andin ngajak COD die cast di Gudek Ceker Pasar Kembang, sekalian ketemu sama Mbak Ari teman kantor kami. Kebetulan Ari kenal juga dengan Priam dan Dawi, jadi kuajak mereka sekalian. Astaga, sudah pamit bubar jalan, malah ketemu lagi. Ha ha ha.
Selain itu, ada hal kocak lainnya. Jadi, akhir-akhir ini, aku sedang senang pakai jaket jeans hoodie, yang bahkan lupa kucuci. Nah, Priam juga punya jaket semacam itu. Dan dia ogah kalau kita pakai bersamaan. Wkwkwkwkk.
Jadi, malam itu, sebelum berangkat ke Gudeg Ceker Pasar Kembang, Priam bertanya, apakah aku akan pakai jaket jeans atau tidak. Kalau tidak, dia ingin pakai jaket jeansnya. Aku enggak tega. Jangan-jangan selama ini dia ingin pakai jaket jeansnya, tapi dia urung niat sebab aku selalu pakai jaket jeans. Ha ha ha. AKhirnya aku mengalah, kupilih jaket dragon ball (walaupun lagi enggak suka jaket itu), soalnya setelah kupikir-pikir, warnanya merah. Terlalu mencolok.
Sampailah kami di gudeg ceker. Ngobrol-ngobrol dengan teman-temand dari kantor perwakilan semarang yang kebetulan setim dengan Mas Andin dan Mbak Ari.
Dawi dan Priam datangnya telat. Sempat enggak enak. Soale takut teman-temannya Mbak Ari ingin segera pulang. Tapi, syukurlah mereka mau menanti. Bahkan, anak-anak mahasiswa kere ini, ditraktir makan Gudeg Ceker, kecuali Dawi yang baru makan nasi Padang.
Selesai ngobrol-ngobrol, kami bubar jalan. Kali ini benar-benar pamitan dengan Priam. Ha ha ha. Semoga besok enggak ketemu lagi. Tunggu aja.

Wwkwkwkk


28 March 2018

28 Maret 2018

Ini hari Rabu.

Ke kampus, letih ngantre mau ketemu Dosen Pembimbing. Sebelum giliranku, gilirannya Mbak Wulan. Dia diterima konsultasi. Eh, saat giliranku, Bapak Pembimbing yang "baik hati" itu (kembali) menolakku, dengan alasan mau rapat. Yoweslah, untung aku sudah membawa draf bab 3. Sekalian saja kumasukkan di konsep revisi Bab 1 dan Bab 2. Rasanya pengen jerit-jerit kayak ayam makanan bikinan Titi Kamal (Ayam Jerit) (maksa). Bapaknya bilang," besok saja." Ya sudah. Kupegang omongan Bapake. Besok ya... janji yaa....

Bukannya apa-apa. Aku sangat ingin segera maju seminar proposal. Kalo begini caranya, kapan aku lulus masbro.
Setelah itu, untuk melepas mumet, aku, Mbak April, Mbak Wulan, dan Mas Didik makan di SS. Aku gak selera makan, cuma makan sepotong ayam. Lagian, perut kok rasanya penuh ya. Yaiyalah, sebelum berangkat ke SS, sambil nunggu Bapak Pembimbing, aku kan makan pagi rapel siang di kantin. Ini pake nambah ke SS pula. Ha ha ha.

Sorenya, mampir ke tempat Priam. Tapi dia gak ada, langsung balik deh. Tidur, dan melupakan semua hal menyebalkan hari ini.

13 March 2018

13 Maret 2018

Ini hari Selasa.
Hari ini Marta, sepupuku, ulang tahun. Tapi, bilangnya ke mana ya? Aku udah enggak punya nomor kontaknya.

Malamnya bareng Priam, ikut lari malam-malam sama Solo Runners. Ha ha ha... finally I did it. Lari lumayan jauh banget, dan yang paling nyebelin saat ada mobil berasap di dekatku.
Setelah lari, selain dikasih air minum, dikasih pear juga. Di sana kenalan sama banyak orang, and I know they didnt recognize me as 'mature man'. Mereka pasti nganggep gue masih seumuran atau di bawah mereka. Ha ha ha.

Selesai lari dan beramah tamah, ada undian doorprize. Si Priam dapet hadiah dong.
Setelah pamitan dan bubaran, aku dan Priam mampir ke Shijack. Minum susu, ngobrol-ngobrol, ngemil-ngemil.
As always, kalau udah dapet temen ngobrol yang klik, aku betah banget. Padahal aku gak tahu, lawan ngobrolku udah pengen pulang apa gimana. Haha. Maafkan.

11 March 2018

11 Maret 2018

Ini hari Minggu.
Saatnya refreshing.....
Jalan-jalan sendirian, mulai makan gelato di Jalan Setiabudi, lanjut ke Solo Square, cuma minum susu di Mom Milk, terus lanjut ke Matahari Solo Grand Mall, beli kaos, sampe malem, ditutup dengan makan ayam dan burger AW.
Hahaha... sehari yang luar biasa. Sebab, aku merasa seperti dulu di Jakarta.

10 March 2018

10 Maret 2018

Ini hari Sabtu.
Pagi sampai sore pindahan kamar.
Gila. Udah direm agar barang2 enggak terlalu numpuk di kamar, tetep aja. Kupikir episode ngekos di Solo ini aku bakal serba minimalis. Rupanya... haha... mugkin sudah kebiasaan laten.

Malamnya, ikut acara lari UNS Glow Run di Kampus. Habis magrib berangkat dari kosan dan mampir dulu ke tempat Priam nitip tas dan jaket. Lanjut ke kampus, ketemu Mas Didik (yang ternyata jadi ikut) dan Mas Yon.
Lalu, lari-lari sekitar 3-4 km. Lumayan ngos-ngosan, tapi aku semangat lari. Semangat sekali. Entah energi apa yang menggiringku untuk semangat. Semangat yang sudah terkubur bertahun-tahun. Astaga.

Setelah lari, nongkrong di depan tulisan UNIVERSITAS SEBELAS MARET sambil menunggu pengumuman door prize yang ZONK banget. Acara panggungnya juga enggak banget deh. Maka, kami pun ngobrol, ngobrol, dan ngobrol.
Sekitar jam 10 malam, acara bubar. Doorprize utama sudah dibagikan. Obrolan masih banyak sisa. Lalu, kami mampir makan nasi goreng yang MURAH dan BANYAK. Gila. Benar-benar murah dan banyak, dan aku enggak habis.

Hampir tengah malam, setelah mengambil barang di tempat Priam, aku segera pulang.

09 March 2018

9 Maret 2018

Ini hari Jumat.
Ada yang 'cari ribut' dan bikin aku enggak senak sama pengelola. Untuk yang lain sudah sama-sama paham tentang tabiatnya.
Entah, masih aja nemu tipikal orang yang mau serba enak, serba cepet. Wong selama dua tahun ini sudah dibiayai negara. Gak mau berproses. Gak mau susah. Karepne opo?

Sorenya, ke The Park. Rencananya, aku mau nonton konser musik. Bintang tamunya Maliq and the Essential. Sejak lama suka sama lagu-lagunya sih. Tapi aku enggak terlalu hapal. Dulu pun pernah diajak nonton di Kompas TV. Kesanku, easy listening, nadanya unik, dan liriknya dalem.
Nah, kali ini nonton dengan Dawi dan Priam. Kami sempat makan marKobar. Tapi, sebelum konser dimulai, Dawi malah pulang duluan. Jadi, aku lanjut nonton konser berdua dengan Priam.
Konsernya seru. Dan karena enggak terlalu padat, aku jadi bisa menikmati konser itu.
Sepulang nonton konser, aku dan Priam mampir makan nasi liwet. Karena selera makanku sedang sedikit hilang, nasinya tidak kuhabiskan.

Setelah itu pulang. Istirahat. Bersiap untuk membuat cerita selanjutnya besok.

08 March 2018

8 Maret 2018

Ini hari Kamis. Rencananya nanti aku mau ke kampus. Rencananya mau bawa semua draf lengkap proposal tesis. Tapi, ya kok belum selesai juga.

Pagi-pagi, tiba-tiba tergerak ingin bikin puisi dan ngirim ke media online. Sambil buka laptop, sambil langsung buka youtube, play lagu Barasuara - Bahas Bahasa. Ya, lagi suka lagu itu. Sejak diputar sebagai playlist karoke oleh kawanku, aku jadi suka lagu itu.
Nah, saat lagi dengar lagu itu sambil lihat video liriknya, tiba-tiba aku kleyengan. Kayak hilang keseimbangan. Sama kayak waktu di kantor beberapa tahun lalu. Waktu jatuh di tangga. Untung dipegang sama siMbah.
Nah, barusan, spontan aku pegangan ke kasur. Aku genggam kuat-kuat sambil memejamkan mata. Sementara badanku kayak sempoyongan ke arah kiri.
Itu kenapa ya? Gak ada rasa sakit apa-apa awalnya, tapi sekarang ada semacam rasa nyut-nyutan di kepala kiri.

Embuh. Lanjut ae lah. Moga gak apa-apa. Ha ha ha.