25 September 2014

Keinginan yang Melompat-Lompat

Di dalam kepala kita ada yang melompat-lompat. Itu bukan kutu, apalagi kecoa. Lalu apa? Orang-orang biasa menyebutnya dengan KEINGINAN.
Begitu banyak yang kita inginkan. Semua keinginan itu menyembul dari rasa dan pikiran, sebagai proses dari tangkapan mata, telinga, dan mungkin seluruh panca indera. Seluruhnya diserap dan diramu, lalu disajikan sebagai sembulan-sembulan keinginan.
Sesampainya di kepala, mereka melompat-lompat, diwarnai ego, ambisi, cita-cita, harapan, dan mimpi. Semua sama, minta didahulukan. Minta dilenyapkan. Kenapa? Mungkin mereka tersiksa di dalam tempurung kepala. Sementara, keinginan terus bertambah. Terlampau banyak jika dibandingkan keinginan yang mewujud jadi nyata. Ya, tidak setiap keinginan dapat menjadi kenyataan. 
Lalu, keinginan-keinginan itu berontak. Melompa-lompat, tak sabar menanti diwujudkan. 
Di kepala, kadang mereka bertabrakan dan ciptakan turbulensi. Jika tak segera diatasi, akan ciptakan ledakan di kepala yang membuat gila.

Jadi, hanya kesadaran akan keadaan yang dapat menyelamatkan tempurung kita dari ricuh keinginan yang melompat-lompat.
Gagang Pintu Hollycow Steak Jakarta Barat

Mereka yang Pergi

Mereka yang pergi bukan dibuang,
tapi dibebaskan dari kubangan yang direnangi babi.

25/09/14

19 September 2014

Mereka yang Diam-Diam Menikmati

Kembali, ada hal yang tidak saya pahami.
Ini tentang orang-orang yang tidak menyukai sesuatu, tetapi mereka tidak berusaha menarik diri atau menjauhi hal-hal yang tidak disukainya itu.
Sambil sesumbar kekata tentang benci dan kekesalan, mereka berdiam di lingkaran itu, bahkan mereka tak berusaha menghindar saat harus ditarik ke dalamnya.
Apa sebenarnya diam-diam mereka menginginkannya? Atau mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar? Entah.


Saya jadi teringat kutipan puisi Toeti Heraty berjudul "Saat-Saat Gelap". Entah relevan atau tidak, tapi hanya puisi itu yang berkumandang di kepala saya saat saya memikirkan orang-orang itu.

Manusia yang menyerah pada keangkuhan tunggal,
tetapi diam-diam menikmati
Jari membelai, meneguk dari sumber kehidupan....

Jadi, apa iya sebetulnya mereka sendiri yang sebenarnya merasa nyaman berada di lingkaran itu?
Karena, jika mereka tidak suka, kenapa tidak mereka jauhi saja tempat itu?

Yang jelas, selama ini saya sudah bersungguh-sungguh menjauhi lingkaran itu, dan saya berhasil. Baiklah, kita lihat siapa lagikah orang-orang yang berapi-api ingin jauh dari situ, tapi justru mendekati lingkaran itu seperti serangga yang terhipnotis cahaya lampu.

13 September 2014

Rela Mundur Selangkah

Kadang kita harus rela mundur selangkah,
memberi jalan pada orang lain yang dihimpit gelisah
agar bisa maju melangkah.

Tapi, ketika orang itu jadi bertingkah,
rasanya sungguh ingin muntah.


Sebaik Apapun Perbuatan Kita

Sebaik apapun perbuatan kita, sebanyak apapun benih-benih kebaikan yang kita tebar di pelik kehidupan, akan selalu ada manusia lain yang memendam ketaksukaan. Ketaksukaan yang bisa bermetamorfosis jadi rasa iri, benci, merasa ditandingi, dan berbagai perwujudan sisi negatif lainnya.
Subjektivitas yang akan banyak berbicara dan abai terhadap hal-hal baik yang dilakukan oleh orang lain.

Lalu, apakah kita harus berhenti? Apakah kadar perbuatan baik itu harus dikurangi?
Tentu tidak. Lanjutkan hal-hal baik dalam hidup, berbagi dengan sesama, dan menebar benih-benih cinta di muka bumi.
Tak ada urusan dengan pandangan negatif orang lain, selama kita tidak merugikan siapapun.
TETAP BERPIKIR POSITIF dan melangkah beralaskan niat baik yang tertancap di hati.
Jangan berpikir tak akan ada kaum pembenci. Mereka akan selalu ada, dalam berbagai rupa, dalam berbagai wujud orang yang tak terduga. Dari mereka kita bisa belajar banyak hal, dari kita semoga mereka bisa belajar untuk menjadi lebih baik.

Pembenci? Biarlah kebencian mereka bertemu dengan akhir tragisnya sendiri.

12 September 2014

Episode Ikan Asin

Astaga, pandangan itu.
Seperti kucing yang takut tak kebagian ikan asin. Mengikuti ke mana tubuh ini pergi dalam hujam curiga. Takut ikan asin kuhabiskan sendiri.
Padahal, diam-diam di balik badannya, dia menyembunyikan ikan asin yang sama sekali tak ingin dibagi dengan orang lain.


Astaga, pandangan itu.
Selalu tak senang jika orang lain lebih mendapat kemudahan.

2014

"Siapa-siapa" dan "Apa-apa"

Pernahkah Anda merasa seperti ini?

Kadang, kita merasa tak ingin jadi siapa-siapa, tak ingin terlihat memiliki apa-apa. Ingin rendah hati, ingin biasa-biasa saja, dan tidak menonjolkan diri.
Tapi, situasi di sekeliling kita berbeda. 
Orang-orang yang saling berlomba untuk terlihat menjadi siapa-siapa. Rekan kerja yang rajin unjuk kabisa. Sikat-sikut mencari kedekatan dengan bos incaran. Sanak saudara yang sibuk memperlihatkan diri sebagai sesuatu yang berarti. Tetangga-tetangga yang terus unjuk gigi bahwa mereka memiliki apa-apa.

Akhirnya, tanpa disadari kita terdorong, lalu jadi bagian dari mereka.
Bukankah itu pertanda bahwa hidup kita diatur oleh kondisi orang lain, oleh standar ideal yang diciptakan oleh orang lain?
Semacam jadi ibadah untuk dilihat, pintar untuk menjabat, supel untuk menjilat,  kaya untuk dianggap hebat.

Itukah esensi ribuan hari yang telah kita lalui di muka bumi?
 

27 August 2014

Keranjang Kenangan


menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka


Adakah yang bisa mengukur kadar luap cintaku pada pekat hitam di matanya?
Setiap hari, sepanjang musim, selalu kusimpan cerita di keranjang yang kusembunyikan di bawah tempat tidur. Kutata baik-baik, agar tak mudah ditemukan orang, agar tak sulit kuraih jika sewaktu-waktu aku ingin bermain-main dengan kenangan.

Kepada alir sungai di belakang rumah, aku pernah bercerita bahwa tak ada rasa hati yang abadi. Seperti sungai, dia juga akan mengalir indah, susuri terjal bebatu, hingga sampailah dia di kebebasan samudera. Tetapi, di sepanjang sungai yang ditinggalkan, akan selalu ada cerita yang membekas sebagai ingatan.

Seperti itulah cintaku kepadanya.
Mengalir bagai sungai, membekas sebagai ingatan yang kusembunyian di dalam keranjang, di bawah tempat tidur.
Tak ada yang tahu, tak ada yang merasa, tetapi nyata dan begitu renyah.

Tak ada yang tahu, aku selalu berkompromi dengan kehendak hati. Kubiarkan cinta ada jika memang masih ingin ada, kubiarkan dia sembunyi jika memang dia ingin bersembunyi, kubiarkan bangkit bergelora jika memang dia ingin jadi hasrat api. Kubiarkan saja. Bahkan, ketika dia memang digariskan untuk mati. Kubiarkan saja. Kunikmati.


Sehingga, saat dia berpaling arah, tak ada yang perlu ada hati yang tersakiti.
Lalu, saat dia kembali, tak ada yang harus repot-repot menghindari atau sekadar jadi basi menanti-nanti.

Kubiarkan saja.

Kubiarkan pertemuan kami dikendalikan oleh Sang Mahakendali.

menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka

Siang ini, celotehmu mengalir ke telinga dan tak ada lagi risau saat kita berjabat tangan untuk sebuah drama perpisahan.

Pertemuan ini akan kusimpan sebagai kenangan, lalu kusimpan dalam keranjang di bawah tempat tidur.

sumber gambar: http://www.terminally-incoherent.com/blog/wp-content/uploads/2013/08/memory-corruption.jpg

19 August 2014

Sahabatmu Bukan Piala Persahabatan untuk Dimenangkan

"Sahabatmu bukan piala persahabatan untuk dimenangkan"

Kalimat yang sederhana, tetapi malam itu terasa begitu menohok jantung saya. Bagaimana tidak? Akhirnya saya sampai di suatu titik sadar. Saya merasa seperti baru ditampar.
Selama ini, saya merasa sudah jadi sahabat yang baik bagi orang-orang yang saya anggap sebagai sahabat. Sisi jahanam saya membuat saya merasa sangat sempurna sebagai sahabat, sebagai teman dekat. Saya merasa diri saya adalah orang yang paling tulus memberi pada sahabat tanpa keinginan kuat untuk menerima.

Suatu masa, saya merasa mulai bersahabat dengan seseorang. Nyaman, dekat, saling percaya. Saya juga tanpa sungkan berbagi cerita tentang apa saja. Bahkan, tentang hal-hal rahasia yang seharusnya tidak diceritakan kepada siapapun. Saya mempercayai dia sepenuhnya.

Tapi, ternyata saya lupa satu hal: mendengarkan kehendak terdalam sahabat saya itu. Ya, saya merasa jadi penceloteh yang baik, tetapi buruk dalam hal mendengarkan. Boleh dibilang, saya seperti orang yang selfish. Hanya berorientasi kepada ke-aku-an, dan mengabaikan konsep 'kita' dalam sebuah pertemanan.

Lalu, saya merasa orang-orang di sekelilingnya seperti berambisi untuk bisa mendekati. Semua orang yang ada di sekitarnya terasa begitu bersemangat untuk berteman dengannya. Bahkan, teman lamanya terlihat begitu 'protektif'.
Sejak itu, bersahabat dengannya seakan menjadi prestasi. Kebersamaann dengannya seakan jadi anugerah yang tidak dimiliki orang lain. Bisa menjadi teman dekatnya seperti menjadi juara yang mendapat hadiah berupa piala.

Sampai saya melakukan hal bodoh yang bisa jadi telah merusak jalin kepercayaan yang seharusnya dimiliki oleh sebuah kisah persahabatan. Lalu, dia terasa lepas dari genggaman dengan begitu mudah. Tak sesulit saat saya mulai membangun persahabatan itu. Saya seperti telah jauh-jauh berjalan dari gunung ke pantai, sekadar mengambil segenggam pasir, lalu pasir itu lepas dari genggaman saya dan terbang bersama angin.

Di suatu titik saya sadar. Saya terlalu banyak bicara, tapi jarang mendengar. Saya merasa dia sahabat saya, tetapi dia tidak. Saya merasa nyaman bercerita, dia mungkin lelah terus mendengar dan sesekali ingin juga didengar.

Saya mengabaikan isi hatinya. Saya tak sadar kalau selama ini dia merasa seperti sebuah piala yang diperebutkan orang-orang.
Saya lupa, dia juga manusia, yang punya kehendak, yang punya keinginan sendiri.
Ya, dia itu bukan buku diary, dia juga bisa jadi pasien yang membutuhkan kita jadi dokternya. Sewaktu-waktu, dia butuh ada kita, dan dia akan mencari kita, tetapi di waktu lain, dia sangat ingin sendiri dan menjaga privasi.

Ya, dia bukan piala untuk dimenangkan. Dia adalah segumpal hati yang seharusnya dijaga dan disayangi.

Sahabat, maafkan saya.

*Kantin Kantor, 19 Agustus 2014 17:26


Bangkit dari Kubangan Duka

Teringat kisah seorang teman.
Inti dari kisah itu, yang ingin saya share di sini adalah bahwa sebesar apapun keinginan kita untuk bisa bersama seseorang, atau sekuat apapun keteguhan kita untuk bisa bersama orang itu, kadang ada hal-hal lain di luar kendali kita yang memaksa kita untuk berhenti memperjuangkan.

Menyakitkan, tentu. Berat, sudah pasti. Tetapi pada akhirnya, kita memang harus ditaklukan oleh garis takdir yang sudah dirancang oleh Tuhan.

Mungkin, kalau boleh sok tahu, tinggal kita percayakan saja sepenuhnya pada Sang Maha Pencinta. Dia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh dan terpuruk dalam jelaga. Tentu saja, di diri kita juga harus ditanamkan rasa syukur dan terus berdoa agar semua baik-baik saja.

Jika waktunya tiba, kita akan bangkit dari kubangan duka, lalu siap kembali bercorat-coret di lembar kisah baru. Time will heal.


19/08/2014
01.10 AM