22 January 2015

Lupa Bersyukur atas Turunnya Hujan

Mengeluh. Itu kebiasaan kita sehari-hari. Ngedumel. Panas menyengat, ngedumel. Hujan deras mendera, marah-marah.
Pula halnya dengan saya.
Lalu, dalam salah satu grup whatsapp, yang sedang ramai disambangi anggotanya, ada satu postingan teman yang saya garis bawahi.
"Hujan itu berkah, doa-doa saat hujan turun akan diijabah."

'JLEB!'
Dada saya seperti ditusuk. Saya malu. Sejak kejadian banjir 22 Desember 2012 lalu, saya mendendam pada hujan. Saya yang dulu bersahabat dengan hujan mendadak tidak suka hujan. Saya lupa, hujan itu memang salah satu bentuk kasih sayang Tuhan. Saya lupa pernah menulis kalimat itu di salah satu novel saya.

Saya lupa bersyukur atas turunnya hujan. Hujan yang diberi oleh Tuhan secara gratis.
Saya tak sempat berdoa ketika hujan turun. Saya hanya sibuk mengurusi tubuh yang takut kebasahan. Astaghfirullah.

19 January 2015

Figur Terjahat

Pernahkah kamu, dalam hidupmu, merasakan hal ini.

Kamu berteman baik dengan seseorang. Kamu merasa semuanya baik-baik saja. Setiap ada permasalahan, selalu ada titik temu. Setiap perbedaan, bisa dituntaskan melalui jalan tengah. Saling memberi dukungan. Saling percaya dan menjaga rahasia. Pertemanan itu tak lekang oleh waktu. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, seiring datang-perginya orang-orang, pertemanan tetap terjaga.

Semua terasa begitu sempurna.

Tetapi, di luar batas tahumu, ada yang disembunyikan oleh temanmu. Kamu hampir lupa bahwa dia adalah lawan jenismu. Bisa jadi diam-diam kamu atau dia menumbuhkan rasa tak biasa. Kamu tak merasakan apa-apa, selain hangat tulus pertemanan.

Diam-diam, sebagai seorang lawan jenis yang nyaman denganmu, dia jatuh hati padamu. Di sela-sela kisah percintaanmu yang kau luapkan kepadanya, dia juga ingin menjadi salah satu pemeran utama. Dia diam-diam menyukaimu. Dia yang tahu banyak tentang kisah percintaanmu, diam-diam mencoba menyingkirkan orang-orang yang mencintaimu, atau orang yang kamu cintai... dengan caranya, yang diam-diam mematahkan. Pelan-pelan melumpuhkan. Tapi, selalu dan selalu, dia berperan sebagai tempat terbaik untuk becerita.

Di kisah-kisah tentang orang-orang yang kamu cintai, dia berikan bumbu keputusasaan di dadamu. Dia tak inginkan kamu jatuh cinta pada siapa-siapa.
Di kisah-kisah tentang orang-orang yang mencintaimu, dia terbarkan aroma kebencian. Di dada orang-orang itu, dia menanamkan kebencian padamu. Dia tak ingin ada orang lain yang jatuh cinta kepadamu.
Dia tak akan pernah bisa menerima rasa kecewa saat ada orang yang mencintaimu. Lalu, diam-diam dia akan mengusir mereka dengan caranya.

Lalu, pada kisah cinta yang terpaksa dibuatnya dengan kekasih pilihannya, dia mati-matian mencari titik cemburumu. Dia tak bahagia dengan kekasihnya jika kamu tak cemburu. Lalu, dia tak pernah berhasil ciptakan cemburumu. Maka, dia ciptakan intrik-intrik penuh fitnah agar kamu dan kekasihnya bersinggungan dalam titik kebencian.
Kekasihnya dijadikan senjata untuk menunjukkan padamu bahwa di dunia ini ada orang yang begitu posesif padanya. Tapi, bagimu itu tak terasa seperti apapun. Tak ada rasa kesal atau cemburumu. Tak ada sama sekali. Yang ada, hanya dia yang kesakitan sendiri karena dunianya makin membingungkan, dan makin dipenuhi oleh wujudmu yang semakin sempurna.

Tak cukup di situ.

Di sisinya sebagai teman baikmu, kadang dia memendam iri padamu, atas capaian-capaianmu, atas banyaknya temanmu, atas semua hal yang membuatmu tampak begitu bersinar di matanya. Dia menyukaimu, tapi dia tak suka karena dia tidak bisa jadi seperti kamu.
Lalu, diam-diam, dia menginginkan posisimu. Bahkan, dia ingin menjadi orang yang lebih hebat dari kamu. Sementara, kamu masih seperti biasa. Tidak merasa hebat, tidak merasa punya apa-apa, dan masih memegang teguh persahabatanmu dengannya. Ya, dengan dia, yang diam-diam ingin selalu menyaingimu.

Lalu, akhirnya kamu tahu semua.
Dia salah satu figur terjahat dalam kisah hidupmu.
Tetapi, bukannya memberikan peringatan atau hukuman, kamu diam saja, dan tetap menjaga pertemanan yang telah terjaga bertahun-tahun.

Pernahkah kamu merasa seperti itu?

_di samping jendela berpemandangan hujan_

26 November 2014

Kamu Bukan Sekotak Martabak

Setiap orang tentu punya keinginan untuk membuat orang lain bahagia. Keluarga, sahabat, teman, pacar, tetangga, atasan, gebetan, dan lain-lain. So, lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakan mereka. 

Tapi, ingatlah, kamu bukan sekotak martabak yang bisa membuat semua orang bahagia dan menyukaimu. Kamu tetaplah kamu. Di luar sana, akan selalu ada orang yang tak puas dengan caramu. Mereka berdampingan dengan orang-orang yang menyukaimu, yang bahagia karena kamu. Mereka ada dan selalu memandangmu sebagai figur yang kaya akan kesalahan.

Jadi, tak perlu berusaha terlalu keras untuk membahagiakan semua orang. Tak perlu mengikuti keinginan semua orang. Itu bisa menyakitimu. Cukup lakukan dengan hatimu. Dia akan menggiringmu untuk membagikan kebahagiaan dengan orang-orang yang telah digariskan oleh Tuhan.

Selalu lakukan yang terbaik, tapi jangan lupa, kamu bukan sekotak martabak kesukaan semua orang.

Sumber gambar: http://www.freetotag.com/wp-content/uploads/2014/06/IMG20140526220429079.jpg

24 October 2014

Api Dendam

Dia bukan Drupadi ataupun Drestajumena yang diciptakan dari api untuk memuaskan dendam kekalahan Drupada. Tetapi, tingkah polah dunia dan cecunguk-cecunguk ganjen yang tak henti menyebar aroma taik selalu membuatnya terbakar, sesekali mendendam bermandi luap serapah.

Dia bukan Pandawa yang ditakdirkan berperang melawan Kurawa. Tetapi, manusia-manusia di sekelilingnya senang membuat ulah. Ciptakan turbulensi dan peperangan di kepalanya.

Dia bukan Bisma, tapi dia mencoba berkompromi dengan amarah. Diredamnya semua kebencian.
Tapi cecunguk tak mau diam.
Kebencian pun mereka diam-diam.

Dendam.
Yang suatu saat akan diluapkan dalam kepung api.

Polusi Suara

Pernahkah kamu merasa, suara-suara yang terdengar di sekelilingmu terasa bagai polusi yang merusak ketenangan pikiran?

Semisal, di ruang kerjamu, ada delapan orang. Mereka berkelompok, 3-3-2. Lalu, setiap kelompok itu berbicara dengan tema berbeda, tetapi berada pada ruang dimensi yang sama. Sementara, kamu, di salah satu sudut di sekitarnya sedang berusaha berkonsentrasi saat mengerjakan sesuatu. Semua suara teman-temanmu terasa melayang berebutan ke lubang telingamu, dan semua percakapan mereka bisa kamu cerna bersamaan.  Lubang telingamu terasa dikoyak. Suara-suara mereka memaksa masuk ke sana. Tanpa toleransi, tanpa peduli jika otakmu sedang bekerja keras menghimpun konsentrasi.
Lalu, dalam hitungan detik, suara telepon berbunyi. Karena asyik berbincang, mereka malas mengangkat telepon. Suara telepon diabaikan. Mungkin pesawat telepon marah. Suaranya terasa meninggi dan mulai mengincar lubang telingamu. Lalu, dia ikut bergabung dengan suara-suara lain menyerang lubang telingamu.
ARRRGGGH...

Seperti itulah polusi suara. Kamu mencoba berlari ke luar gedung. Suara-suara tadi melesap, lalu hilang. Tapi, di sana suara-suara kendaraan menanti kedatanganmu dan sepasang lubang telingamu. Dalam sekejap, sesaat setelah pintu gedung kamu buka, suara-suara itu langsung memburu lubang telingamu.

Kamu menyerah dalam gerah.
Dunia memang tak tahu diri. Diam-diam mereka menzalimi. Tapi, tak akan ada hukum manapun yang membuat mereka bisa dipersalahkan. Segala sesuatu di muka bumi punya hak untuk mengeluarkan suara.

Beruntunglah kamu. Semesta telah menciptakan lagu. Nada-nada merdu yang ditunggu-tunggu lubang telingamu untuk menggantikan polusi suara yang sangat tak kamu inginkan adanya.

#catatan di pagi yang sangat berisik dan menyebalkan

25 September 2014

Keinginan yang Melompat-Lompat

Di dalam kepala kita ada yang melompat-lompat. Itu bukan kutu, apalagi kecoa. Lalu apa? Orang-orang biasa menyebutnya dengan KEINGINAN.
Begitu banyak yang kita inginkan. Semua keinginan itu menyembul dari rasa dan pikiran, sebagai proses dari tangkapan mata, telinga, dan mungkin seluruh panca indera. Seluruhnya diserap dan diramu, lalu disajikan sebagai sembulan-sembulan keinginan.
Sesampainya di kepala, mereka melompat-lompat, diwarnai ego, ambisi, cita-cita, harapan, dan mimpi. Semua sama, minta didahulukan. Minta dilenyapkan. Kenapa? Mungkin mereka tersiksa di dalam tempurung kepala. Sementara, keinginan terus bertambah. Terlampau banyak jika dibandingkan keinginan yang mewujud jadi nyata. Ya, tidak setiap keinginan dapat menjadi kenyataan. 
Lalu, keinginan-keinginan itu berontak. Melompa-lompat, tak sabar menanti diwujudkan. 
Di kepala, kadang mereka bertabrakan dan ciptakan turbulensi. Jika tak segera diatasi, akan ciptakan ledakan di kepala yang membuat gila.

Jadi, hanya kesadaran akan keadaan yang dapat menyelamatkan tempurung kita dari ricuh keinginan yang melompat-lompat.
Gagang Pintu Hollycow Steak Jakarta Barat

Mereka yang Pergi

Mereka yang pergi bukan dibuang,
tapi dibebaskan dari kubangan yang direnangi babi.

25/09/14

19 September 2014

Mereka yang Diam-Diam Menikmati

Kembali, ada hal yang tidak saya pahami.
Ini tentang orang-orang yang tidak menyukai sesuatu, tetapi mereka tidak berusaha menarik diri atau menjauhi hal-hal yang tidak disukainya itu.
Sambil sesumbar kekata tentang benci dan kekesalan, mereka berdiam di lingkaran itu, bahkan mereka tak berusaha menghindar saat harus ditarik ke dalamnya.
Apa sebenarnya diam-diam mereka menginginkannya? Atau mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar? Entah.


Saya jadi teringat kutipan puisi Toeti Heraty berjudul "Saat-Saat Gelap". Entah relevan atau tidak, tapi hanya puisi itu yang berkumandang di kepala saya saat saya memikirkan orang-orang itu.

Manusia yang menyerah pada keangkuhan tunggal,
tetapi diam-diam menikmati
Jari membelai, meneguk dari sumber kehidupan....

Jadi, apa iya sebetulnya mereka sendiri yang sebenarnya merasa nyaman berada di lingkaran itu?
Karena, jika mereka tidak suka, kenapa tidak mereka jauhi saja tempat itu?

Yang jelas, selama ini saya sudah bersungguh-sungguh menjauhi lingkaran itu, dan saya berhasil. Baiklah, kita lihat siapa lagikah orang-orang yang berapi-api ingin jauh dari situ, tapi justru mendekati lingkaran itu seperti serangga yang terhipnotis cahaya lampu.

13 September 2014

Rela Mundur Selangkah

Kadang kita harus rela mundur selangkah,
memberi jalan pada orang lain yang dihimpit gelisah
agar bisa maju melangkah.

Tapi, ketika orang itu jadi bertingkah,
rasanya sungguh ingin muntah.


Sebaik Apapun Perbuatan Kita

Sebaik apapun perbuatan kita, sebanyak apapun benih-benih kebaikan yang kita tebar di pelik kehidupan, akan selalu ada manusia lain yang memendam ketaksukaan. Ketaksukaan yang bisa bermetamorfosis jadi rasa iri, benci, merasa ditandingi, dan berbagai perwujudan sisi negatif lainnya.
Subjektivitas yang akan banyak berbicara dan abai terhadap hal-hal baik yang dilakukan oleh orang lain.

Lalu, apakah kita harus berhenti? Apakah kadar perbuatan baik itu harus dikurangi?
Tentu tidak. Lanjutkan hal-hal baik dalam hidup, berbagi dengan sesama, dan menebar benih-benih cinta di muka bumi.
Tak ada urusan dengan pandangan negatif orang lain, selama kita tidak merugikan siapapun.
TETAP BERPIKIR POSITIF dan melangkah beralaskan niat baik yang tertancap di hati.
Jangan berpikir tak akan ada kaum pembenci. Mereka akan selalu ada, dalam berbagai rupa, dalam berbagai wujud orang yang tak terduga. Dari mereka kita bisa belajar banyak hal, dari kita semoga mereka bisa belajar untuk menjadi lebih baik.

Pembenci? Biarlah kebencian mereka bertemu dengan akhir tragisnya sendiri.