30 November 2017

Rantai Keinginan

Sumber gambar: https://pixabay.com/p-257490/?no_redirect



Aku seperti terkurung di tengah-tengah rantai keinginan. Keinginan dari orang-orang yang menginginkanku, juga keinginanku sendiri terhadap orang-orang yang kuinginkan.


Mereka menginginkanku, ingin bersamaku. 
Tetapi, aku menginginkanmu, ingin bersamamu. 

Lalu, siapakah sebenarnya yang kau inginkan?

Rantai keinginan ini tak ada habisnya.
Sebab, terkadang kita tak menginginkan orang-orang yang menginginkan kita, atau kita tidak diinginkan oleh orang-orang yang kita inginkan.

Akhir November, 2017

19 November 2017

A Letter to a Friend




This is Jakarta. A noisy city inhabited by so many humans. Since a few years back, I became one of the inhabitants. Every day, memories scatter on new sheets of paper. Sometimes it stays forever in memory, sometimes decays, forgotten along with time that keeps rolling. Some fragments are scattered, scattered into a series of characters, then blend into a teapot, and ready to fill empty cups.

There are many stories I want to share with you, my friend. The story of a perplexing purple sky, or the story of a fire that once burned my poems. All I had prepared in a pitcher of memorable, carved curves of leaves, which once had fallen on our heads.

You must have forgotten, when I asked which way to go to Kampung Rambutan, or when I asked about the reason for the closing of the filthy cinema, Downstream Bend Market. Also, when you guess right that I'm the first child, and I'm guessing you as the youngest child who is very spoiled. Questions and guesses just flew out just to be the opening of the next chats. Such questions and guesses that in later times we will be held together together as a very, very stale ado.


It's not easy to make a conversation you. People used to say you're a shy man. They said, there's also a suspicion that your silence is a reflection of your arrogance. But that's very different from what I think. And with patience, I like to get around, to catch your sign. Being an ear for each of your stories, becomes your hand when the pile of work takes over the whole work table. 
It feels great fun, though beyond that, we will going back to share laughter with our own world. Our own privacy.

Then, we've been stuck in the same confinement. We are both still and stiff, awkward in front of the window waiting for a gentle breeze to wipe the face. Until the conversation about cigarettes and matches opens the next story. Laughter unstoppable, scorn against the world, and our conspiracies further color the days. Together we laugh at many humans, cursing, and then reflect into our hearts. We are both trying to find, what kind of man we are. All conversations are memorable, especially when under the sky there is only us. There seems to be no reason not to be yourself, even in the most annoying configuration.

My days in Jakarta are becoming more colorful. Because, we see it with a different perspective. At least, happy is real in our own version. The empty load is like loose in the air. Gone like a smoke flue from a cigarette. Also my iced ginger tea and iced coffee mix are repeatedly filled. In fact, in our silence in front of a green round table, I was like finding the right place to rest. Is not this kind of friendship that many people want? Yes, share laughter and restlessness, then keep the distance from the privacy domain that sometimes do not have to be shared. In the end, though, with childishness I break those distances because of curious curiosity. Apparently, I've hurt this friendship.

Friend, as I said in our conversations, nothing lasts. When I ask about this friendship in the future, you can only shrug, as a gesture of keenness. That's where sometimes I feel that this is just a spoiled tale of a friend who feels underestimated. Sometimes it hurts me. For, there is a side of the soul that is not willing if this friendship is snatched back by the pride of time.

And all proven. Our silly conversations must be stopped. Changed with an uncertain mystery story. Our friend book is like meeting the closing paragraph. Not when your back away from my days, but afterwards, after various seasons stop by and change our point of view. Change all of us.

Friend, are you still in town? Just slicing the streets, with your favorite motorcycle, through the congestion that makes the body achy. Are we still standing on the same ground with parallel coordinates? Or you fly with a dream, disappear in the dense hope, and settle on many questions.

Wherever you are, you have to know about this, Jakarta, me, and a whisper of conscience. A conscience that can only be presented as words, but has not been poured into empty cups on the table. Because, this kind of heart is impossible to spend alone by me.




Pejompongan, 2013-2017

Rindu

Terkadang, rindu tak punya hak apa-apa atas cinta.

12 September 2017

Catatan di Balik Awan - Buku "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta"

Sumber: Ellunar Publisher


Ada rasa seperti lompat dari hulu air terjun, ketika saya sadar bahwa saya telah -kembali- menerbitkan buku tunggal. Rasanya sudah lama sekali, sejak "Seteko Kata Hati" saya terbitkan melalui nulisbuku.com pada tahun 2013. Dan kini, di tahun 2017, empat tahun setelah saya lahirkan project luapan rasa hati saya saat itu, saya kembali meluapkan rasa hati, lebih deras dan membasahi, sebab kata-kata itu berjatuhan dari langit Jakarta.

Buku "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta" adalah babak kedua dari luapan perasaan saya di "Seteko Kata Hati". Dapat diumpamakan bahwa "Seteko Kata Hati" adalah rintik gerimis yang romantis, sedangkan "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta" adalah hujan dalam volume yang lebih deras, namun masih dalam rasa gigil dan rindu yang sama.

Fiuuuh... akhirnya selesai juga. Luapan-luapan kata hati itu bisa saya kumpulkan dalam sebuah buku, dengan harapan banyak orang-orang yang semakin optimistis dalam penantian, apapun bentuk penantian itu. Setelah melalui berbagai drama kegalauan, khususnya dalam penentuan judul, "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta" ini bisa saya lahirkan. Entah kenapa, rasanya berat sekali menerbitkan buku ini. Seperti ada beban rasa yang tak ingin dipublikasikan. Tapi, saya mencoba kuat hati. Penerbitan buku ini ya harus tahun ini, dan syukurlah, Tuhan merestui.

Tak ada yang saya harap, selain semangat menulis saya yang akan senantiasa terpelihara dan tetap ada, untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaan melahirkan karya yang masih tertunda.

Salam semangat.

16 February 2017

Incognito (1)

Ternyata hampir 8 tahun. 
Rasanya, semua hal yang pernah terjadi selama delapam tahun ke belakang ini seperti ilusi. Seperti mimpi-mimpi ketika kutidur, dan aku terjaga di sini, di rumah keluargaku. Rumah ini telah lama kutinggalkan, dan kali ini aku merasa benar-benar pulang.

Hampir genap 8 tahun aku tinggal di Jakarta. Hidup sebagai aku yang kini rasanya berbeda. Seperti bukan aku. Kadang, aku bertanya, itukah aku? Lalu, samakah dengan aku yang sekarang, yang saat ini mengurung di sebuah kamar dengan dinding bercat biru?
Lalu, siapakah sosok di depan cermin itu? Raut wajah yang masih sama, namun bentuk tubuh yang telah berbeda Akukah?

Lalu, siapakah orang-orang itu? Rasanya mereka pernah mampir di detik-detikku? Juga, kekasih yang di akhir penggal cerita jadi pendamping sejati dalam langkahku. Siapakah mereka? 

Siapakah aku? Dengan jejak-jejak hebat yang terpatri di mana-mana. Itukah aku yang nyata? 
Hebat apanya? Aku tertidur selama ini. Lelap dan terbuai. Larut dalam bingar tawa gemerlap kota. 
Aku hanyut dalam euforia. Merasa bisa jadi raja selamanya. Sementara, di belakang punggungku, waktu diam-diam mengkhianati.

Sungguh, kali ini aku tak bisa mengenali diriku sendiri ketika kutengok deret masa lalu.

Lantas, peran apa lagikah yang akan kumainkan dalam penggal hidup kali ini? Sisi mata uang mana lagikah yang akan memilihku.

Sumber gambar: http://thewillnigeria.com/news/wp-content/uploads/2016/02/coin-flip-hrms-performance-reviews.jpg

18 July 2016

Pengkhianat

Setiap melihat foto-foto itu... 
foto yang bercerita tentang pertemanan saya dengannya, rasanya ada sakit menancap di dada. Ada sesal yang pekat membuncah. 
Kenapa dulu saya begitu baik kepadanya. Terlalu baik. Saya rela berbagi dunia dengannya. Berbagi hangat persahabatan, berbagi teduh keluarga, bahkan mengajaknya kembali merasakan cinta seorang bunda. 

Sampai-sampai saya lengah bahwa saya sedang dikhianati. 


Sumber gambar: 
http://3.bp.blogspot.com/-lhf8Xgh98ns/UZYWNywVdPI/AAAAAAAAVIE/l9BhWPCD5z0/s640/Ang-Kiukok-Man+on+Fire.jpg

17 May 2016

Ada Apa dengan Saya? -review singkat AADC 2-

"
...
tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama 
untuk mempertanyakan kembali cintanya
bukan untuknya, bukan untuk siapa 
tapi untukku
karena aku ingin kamu
itu saja"

Sejak tahun 2002, petikan puisi Rangga untuk Cinta dalam film "Ada Apa dengan Cinta" terpajang dalam binder note kuliah saya. Tentu setelah saya salin sendiri. Puisi itu saya taruh di halaman pertama, bukan di halaman terakhir seperti di buku catatan Rangga.
Beberapa teman yang melihat, sempat mengira bahwa itu adalah puisi tulisan saya sendiri. Syukurlah saya bukan plagiator yang suka nyuri-nyuri karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri.

Ada apa dengan saya? Sebegitu sukanya kah saya pada puisi-puisi Rangga? Lalu, di halaman-halaman berikutnya, bertebaran gambar-gambar Dian Sastrowardoyo sebagai pembatas halaman. Lagi, ada apa dengan saya? Rupanya saya suka sama Dian Sastrowardoyo sejak lama. Film-filmnya tandas saya lahap. Mulai "Pasir Berbisik", "Bintang Jatuh", "Ungu Violet", "Belahan Jiwa", "Banyu Biru", "3 Doa, 3 Cinta" (Dian Sastro jadi penyanyi dangdut Dona Satelit), "7 Hari, 24 Jam", serial "DTK" yang ternyata kurang diminati orang Indonesia: para penyuka sinetron ala ala India, bahkan, mungkin enggak banyak yang ngeh kalau Dian Sastrowardoyo ada sebagai cameo di film "Arisan" bersama Nicholas Saputra. Sayangnya, sampai sekarang saya belum dapat kesempatan nonton film "Drupadi".  Oiya, Dian Sastrowardoyo juga pernah main film di Malaysia, judulnya "Puteri Gunung Ledang."


Penampakan "Rangga"dan "Cinta"di film "Arisan" (2003)
Dian Sastrowardoyo dalam film "Puteri Gunung Ledang"

Dulu, teman-teman seangkatan saya berbondong-bondong nonton AADC di bioskop. Waktu itu, saya masih kelas 3 SMA. Sama seperti tokoh-tokoh dalam AADC yang diceritakan sebagai siswa kelas 3 SMA. Jadi, jika dulu sudah ada istilah 'baper', teman-teman seangkatan saya yang nonton AADC pasti pada baper dan merasa kalau film AADC itu gue banget. 

Saya masih ingat, dulu hari peluncuran film AADC berbarengan dengan festival kabaret remaja se-Jawa Barat di SMA 11 Bandung. Selain ikut bermain kabaret, saya juga menjadi salah satu penulis cerita, yang saat itu mendapat juara sebagai cerita terbaik. Judulnya, "Ada Apa dengan Iteung?". Ya, lumayan lah, walaupun cerita kabaret itu sempat 'dihina' oleh salah satu senior kami di ekskul teater, toh ternyata bisa jadi cerita terbaik. 

Beberapa teman saya nonton AADC di bioskop. Ulis, Uwhen, Amie, dan Upi sama-sama nonton AADC di Cimahi 21. Saya tidak. Maklum, enggak punya uang buat nonton bioskop. Haha. Saya nonton AADC melalui VCD bajakan (maaf ya, hiks) dengan kualitas gambar yang jelek dan di bagian akhirnya tidak terbajak. Jadi, endingnya hanya berupa ketikan tulisan, seperti ini:
"Lalu, Cinta dan Rangga berpelukan dan berpisah di bandara. Rangga memberi Cinta sebuah puisi yang ada dalam sebuah buku agenda... dst..." Jayus banget ya? Ha ha ha.

Setelah itu, lagu-lagu karya Melly Goeslaw dalam film AADC itu saya putar berulang-ulang pada tahun 2003. Lagu-lagu yang masih berupa kaset itu dipinjami oleh teman kuliah saya, Ulie. Ya, lagunya baper semua sih. Tapi, saat itu lagu Ada Apa dengan Cinta memang seperti menjadi ruh film. Nempel banget dan sangat berkesan di hati.
Sumber gambar:
https://ecs7.tokopedia.net/img/product-1/2015/5/17/205585/205585_02445cd2-fca7-11e4-94a0-b6da64efb121.jpg

Sejak itu, saya lumayan sering mengulang nonton AADC. Usia dan pola pikir berubah, tapi kesan nyaman dan bahagia saat menonton AADC tidak pernah hilang.
Puisi-puisi Rangga dan Cinta? Tanpa saya sadari, saya nyaris hapal 100% di luar kepala. Begitu juga dialog-dialog authentic, terutama yang booming diujarkan, misalnya...

"Salah gue, salah temen-temen gue?"

atau

"Elo mau diwawancara sekarang? Basi! Madingnya udah siap terbit!"

Ya, film AADC memang jadi salah satu film yang saya suka. Bukan karena saya merasa seperti Rangga lho ya. Yang jelas, saya sangat mengapresiasi film yang jelas-jelas mengangkat puisi dan musik menjadi salah satu bagian penting dalam cerita.

Cover AADC
Sumber gambar: http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/839830/big/134bb8ab65122fdcfccb5385529bd060-041791100_1427710774-aadc_3.jpg

***


Tahun 2016
Belasan tahun setelah itu, setelah wajah Dian Sastrowardoyo saya lihat lagi di iklan LINE dan film "7 Hari, 24 Jam", muncul kabar bahwa AADC akan dibuat sekuelnya. DEG! Ada perasaan berdebar. Ada pikiran yang menerka-nerka tentang kelanjutan cerita mereka.
Mulanya, saya mendapat kabar dari twitter Mira Lesmana, yang baru saja meluncurkan film Pendekar Tongkat Emas (2014). Katanya, kalau Pendekar Tongkat Emas (yang juga dibintangi Nicholas Saputra) sukses, AADC 2 akan dibuat. Dan alhamdulillah, Mbak Mira Lesmana berbeda dengan para politikus yang katanya janji mau digantung di monas. AADC officially akan dibuat.
Melalui instagram @therealdisastr saya mengintip-ngintip kegiatan persiapan pembuatan AADC 2. Bahkan, ada salah satu video Dian Sastrowardoyo sedang deg-degan saat 'duduk semobil' dengan naskah skenario AADC 2. Katanya, belum siap dia baca.
Lalu, hari-hari berikutnya, ada juga kontes menyanyi untuk mencari teman duet Melly Goeslaw dalam penggarapan original sound track AADC 2. Salah satu teman saya ikut kontes itu, namun tidak terpilih. Dan, beberapa bulan setelahnya muncullah lagu "Ratusan Purnama" yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw dan Martino Lio.

Puisi? Wah, jangan ditanya. Puisi tentu ada dalam AADC 2. Kali ini, hanya Rangga yang membuat puisi. Puisinya dibuat oleh salah satu pernyair, yaitu M. Aan Mansur. Jauh hari sebelum penayangan film, bahkan sebelum ada trailer resmi AADC 2, telah ada sebuah tayangan teaser yang menampilkan cuplikan puisi tersebut.

"Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku 
memilikimu sekali lagi....

Dan sejak itu, penantian pun dimulai. Penantian yang dihiasi kemunculan foto-foto di Instagram Dian Sastrowardoyo.

**


Nonton Ada Apa dengan Cinta 2

Nah, ini. Bagian ini nih. Saya harus menahan diri berminggu-minggu untuk menulis bagian ini, karena tidak tega menjadi spolier yang keji, kejam, dan munkar. Tapi, hari ini kayaknya isi cerita AADC 2 sudah banyak diberitakan di mana-mana. Bahkan, ada yang blo'on merekam video adegan romantis Cinta dan Ranga, lalu mengaplotnya di Youtube yang di-monetize. Yang mereka lakukan itu JAHAT!
Oke kita lanjutkan.
Kamis, 28 April 2016, pukul 11.30, saya masuk ke dalam bioskop yang berada di Plaza Semanggi. Selembar tiket yang bertuliskan judul film "Ada Apa De..." (lho?) ya memang seperti itu tulisannya. Deg-degan filmnya seperti apa. Saya nonton sendirian. Saya malas mengajak orang lain, karena bagi saya film AADC ini punya kenangan personal yang mendalam (eaaa), dan saya hanya ingin menikmatinya sendirian, walaupun ternyata setelahnya saya menonton kembali film AADC 2 dengan gerombolan teman yang berbeda.
Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu menaruh harapan besar pada film tersebut. Saya hanya ingin bertemu Rangga dan Cinta di masa kini. Tapi, beberapa teman yang sudah melihat trailernya, menyampaikan kekecewaan mereka. Ada yang mengomentari trailernya yang terlalu simple, ada yang mengomentari pengambilan gambarnya biasa saja, dan lain-lain. Semua komentar itu saya abaikan. Mengapa? Karena saya senang dengan AADC, dan ingin melihat AADC 2. Sederhana saja. 

Lalu, JEDHER. Akhirnya lagu "Demikianlah" yang dulu menutup AADC, kini dijadikan lagu pembuka dengan tampilan animasi yang unik dan lucu. Animasi itu seolah meringkas kisah dalam AADC pertama. Laluuuuu..... muncullah scene pertama genk cinta yang sedang berkumpul di sebuah cafe, yang selanjutnya saya tahu adalah sebuah galeri milik Cinta. (Waw, keren kan di masa depan si madam on time Cinta punya sebuah art galery). Tokoh yang muncul dalam adegan itu adalah Cinta, Maura, Milly, Mamet, dan dua orang laki-laki yang diperankan oleh Christian Sugiono dan Ario Bayu. Christian Sugiono menjadi suaminya Maura, sementara Ario Bayu menjadi calon suaminya Cinta (AAAAKKKKKK!!! TIDAAAAKKK!!!!). 
Ternyata, mereka sedang menanti kedatangan anggota geng lain, yaitu Karmen (atau Carmen?). Karmen dikisahkan baru saja rehab karena menggunakan narkoba. Nah ini! Membidik situasi masa kini, bahwa siapa saja rentan menjadi pengguna narkoba, bahkan orang yang sporty seperti Karmen. Masih ingat kan di AADC Karmen menjadi atlet basket sekolah yang galak sama cowok? Lalu, kenapa Karmen seperti itu? Ya, perjalanan hidup. Kekecewaan dalam percintaan yang berimbas pada salah pergaulan. Detailnya? Nonton saja sana ya. 

Alya? Semua juga tahu, Ladya Cheryl tidak bisa ikut serta dalam AADC 2 karena harus menuntut ilmu. Tapi, tidak ada yang tahu tokoh Alya yang berkarakter bijaksana akan diapakan. 
Dalam AADC, Alya adalah tokoh anak manis dan baik hati yang jadi korban KDRT. Walau 'paling' bermasalah di antara teman-temannya, Alya tetap jadi tempat curhat yang setia. Bahkan, saat dirinya ingin curhat pada Cinta, dia menanyakan terlebih dahulu kondisi Cinta yang saat itu sedang sangat sebal pada Rangga.
Lalu, Alya pun diceritakan berusaha bunuh diri karena tidak tahan menghadapi kekerasan demi kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya terhadap dirinya dan ibunya. 
Alya si problem solver juga pernah membantu Cinta saat sedang mengejar Rangga di Bandara. Dalam film AADC digambarkan dia mengajak bicara petugas bandara sehingga akhirnya Cinta diizinkan masuk ke area keberangkatan. Sebetulnya saya masih penasaran, Alya ngapain sih? Apa dia ngaku-ngaku sebagai anak pejabat? Atau Alya punya kemampuan menghipnotis? Atau Alya main sulap-sulapan di depan si Bapak penjaga Bandara? Entahlah, yang jelas, Alya saya bayangkan ketika dewasa nanti akan menjadi diplomat atau psikolog.
Dan.... di AADC 2, ternyata.... ada adegan di mana Cinta, Mili, Karmen, dan Maura mengunjungi kuburan Alya. AAAK.. penggemar Alya pasti akan sangat sedih. Tapi ya sudah lah ya, jangan baper.
Berdasarkan info dari beberapa media online, tadinya tokoh Alya masih ada. Tetapi, karena Ladya tidak bisa ikut gabung, skenario awal diubah. Sebetulnya, bisa saja pemeran Alya digantikan. Tapi, sang sutradara dan pembuat cerita pasti punya alasan spesial kenapa Alya ditiadakan saja. Mungkin simbak dan simasnya ingin menyampaikan bahwa dalam hidup ini ada juga kematian.
Sumber gambar: www.hipwee.com
Hmmm... lalu, saya jadi tahu bahwa Alya itu lahir di bulan Desember 1986 dan meninggal bulan September 2010. Sempat bingung sih. Dulu, di AADC 2 (rilis 2002), mereka kan kelas 3 SMA, sama seperti saya. Nah, saya pikir, Cinta dan kawan-kawan itu kelahiran 1984 - 1985. Hmmm... anggap saja, Alya pintar dan dapat percepatan kelas di sekolah. 
He he he.




Lalu, di mana Rangga?
Rangga masih tinggal di New York dan punya kedai kopi yang dibangun dengan temannya, Rob. Selain menjadi pebisnis kopi, Rangga juga jadi penulis yang keren. Hal tersebut ditunjukkan oleh tulisan Rangga yang dimuat dalam sebuah majalah. 
Sumber gambar: https://aws-dist.brta.in/2016-03/original_980/0_0_1000_563_8e8e53aa80e549f7c777873f681a93a97cdeacec.jpg


Ayahnya, Yusrizal, yang dulu sering manggil Rangga dengan sebutan monyet, sudah meninggal. Sejak ayahnya meninggal, Rangga berjuang untuk bertahan hidup di NY. 
Nah, dalam AADC 2, ibu dan kakak-kakak Rangga yang hanya diceritakan sekilas di AADC, kembali dimunculkan. Bahkan, kali ini sosok ibu yang selama ini pergi meninggalkan Rangga divisualisasikan oleh aktris Sharlita. Lalu, ada juga Mbak Dewi yang entah diperankan oleh siapa. Tidak hanya itu. Ternyata Rangga punya adik! Cewek yang figurnya mirip Alya, diperankan dengan manis oleh Dimi Cindyastira. Melalui tokoh adiknya Rangga inilah sisi lain kehidupan Rangga diangkat.  

So, here they are, Ghiw! Mereka sudah beda kan dengan yang dulu pakai seragam putih abu-abu? Kini geng Cinta berkumpul dan berencana akan liburan ke Yogyakarta, sementara Rangga akan menemui ibunya ke Yogyakarta. Ya, begitulah cerita awalnya. Walau kata orang-orang ftv banget, tapi ya tetep manis lah. Karena ada detail-detail akting para pemainnya yang sangat segar dan menggelitik, bahkan hanya dari kerlingan mata ngambek Cinta yang diperankan dengan manis oleh Dian Sastrowardoyo.

Jadi, ada apa dengan saya? Sampai segitunya nonton AADC empat kali. Sederhana. Saya suka. Tapi, sesuka-sukanya saya, saya enggak mungkin nonton film yang sama sampai empat kali di bioskop. Jadi, sebenarnya saya suka atau gimana sih? Ya, enggak tahu. Mungkin takdir yang mengantar saya untuk menyambangi dunianya Cinta sebanyak empat kali.  Hehe... makin enggak jelas.

Apapun, yang jelas, setelah film ini ditonton orang-orang, tempat-tempat yang didatangi Rangga dan Cinta pasti akan semakin banyak diserbu pengunjung, termasuk gereja ayam Punthuk Setumbu. Tempat-tempat yang bisa diidentifikasi adalah sebagai berikut.

1. Bandara Sokearno Hatta yang telah berubah jadi 'bandara masa kini' 
Pernah lihat adegan Cinta ngejar-ngejar Rangga di bandara? Kali ini, Rangga cengo, karena tidak ada Cinta mengejarnya. Nah, setting-an bandaranya sudah beda, sudah lebih modern. Mungkin kalau dulu shooting-nya di terminal 2, sekarang shooting-nya di terminal 3. Ha ha ha.
Sumber gambar: 
https://1.bp.blogspot.com/-ENjLMZ-FFVs/VuAk_SALGJI/AAAAAAAAESc/pdpWO0RpXws/s1600/ada-apa-dengan-cinta-1.jpg

2. Sellie Coffee
"Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu JAHADD...had.. had..."
Pasti pada ingat dengan kalimat kemarahan Cinta yang berkesan dingin dan penuh dendam itu. Nah, ternyata adegan itu diambil di Sellie Coffee, yang ada di jalan Gerilya, Parowitan. Di Sellie Coffee tentu banyak sekali menu-menu enak, walaupun Cinta hanya memesan air putih. #pertemanansehat #jangankasihkendor :D :D
Sumber gambar:
http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1184906/big/084886900_1459167072-PP__771_of_952___Large_.jpg




3. Keraton Ratu Boko 
Nah, tempat yang diceritakan sebagai tempat favorit mendiang ayahnya Rangga ini pernah saya datangi di tahun 2014. Tempatnya nyaman sih, tapi saat saya ke sana, kok rasanya tidak seteduh dalam film AADC ya? Waktu saya ke sana panas menyengat. Bahkan, teman saya sampai menutupi sekujur tubuhnya dengan jaket. Lebay.
Cieee... senyam-senyum
Sumber gambar:
http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1184911/big/085333800_1459167072-PP__830_of_952___Large_.jpg

This is me.
Sumber gambar: 
http://pelancongbumi.blogspot.co.id

3. Malioboro
Pasti sudah banyak banget orang-orang yang pernah ke Malioboro. Di Malioboro, Maura  minum es teh manis. Sementara, Cinta, teh panas! Wow, teh panas. Saya banget.
Sumber gambar: 
http://retnamudiasih.com/wp-content/uploads/2016/05/ada_apa_dengan_cinta_dua.jpg



4. Penginapan Rangga
Awalnya, saya ngira Rangga menginap di daerah Sosrowijayan atau Dagen. Itu tempat saya biasa menginap kalau main ke Yogyakarta. Wow, Rangga mirip saya banget! #apasih
Ternyata, info dari Diah Eksanti, anak Madiun yang sedang menetap di sekitar Kaliurang, ternyata Rangga menginap di daerah Prawirotaman, arah Parang Tritis. Wow, enggak mirip saya banget.
Sumber gambar:
https://images.detik.com/content/2015/11/11/229/cinta.png

5. Sate Klathak Pak Bari
Sumber gambar:
http://www.pegipegi.com/travel/wp-content/uploads/2016/05/642x425xsate-klathak-pak-bari-aadc2.jpg.pagespeed.ic.FTjDm0yo3_.jpg


Cieee... di sini Rangga nraktir Cinta makan sate Klathak. Sate yang ditusuki pakai jari-jari sepeda. Ya, tapi di film AADC 2 ini enggak terlihat sih Cinta menggigiti sate kayak Susana di film horor.
Sumber gambar:
http://i.imgur.com/acwPCl6.jpg



7. Papermoon Puppet Theater
Di film AADC 2, ini chapter yang cukup mengharukan. Jadi, Rangga dan Cinta nonton wayang boneka yang sangat romantis dan menyayat hati. Saat menyaksikan pertunjukan boneka itu, mata Cinta berkaca-kaca. Omaygat.

Pappermoon Puppet, Secangkir Kopi dari Playa
Sumber gambar:
https://images.detik.com/content/2013/10/07/1059/151759_editpapermoonpuppet.jpg



Cinta selalu berkaca-kaca dan penuh penghayatan setiap nonton pertunjukan kesenian, termasuk saat ada penampilan Mian Tiara yang membawakan lagu "Disapih" di galeri milik Cinta.
Mian Tiara
Sumber gambar:
https://www.facebook.com/AADC2movie/photos/


6. Klinik Kopi
Nah, Cinta sempai ngambek tuh sama Rangga. Sebagai iming-iming agar berdamai lagi, Rangga menjanjikan akan memberi hadiah. Cinta setuju, asalkan tempat penyerahan hadiahnya adalah tempat pilihan Cinta.
Jreng, jreng... tibalah mereka di warung kopi yang dikelola oleh ownernya langsung. Namanya Mas Pepeng. Saya pikir beliau adalah aktor Yogyakarta yang berperan sebagai penjual kopi. Ternyata, pemilik kedai kopi beneran. Waw, keren! Yakin deh, setelah penayangan AADC 2, kedai kopi yang katanya memang telah ramai itu, pasti makin ramai.
Sumber gambar:
http://assets.kompas.com/data/photo/2015/03/23/0924007klinik-kopi780x390.jpg


Klinik Kopi ini terletak di Kaliurang KM 8 (ini info dari Mbak Diah juga lho ya). Katanya, setiap ke sana kita akan di-service satu-satu. Ditanya dulu, biasanya ngopi apa, suka yang seperti apa, lalu nanti Mas Pepeng memberi rekomendasi. Nah, dari rekomendasi kopi itu, nanti dia membuatkan kopinya sambil cerita dari mana kopi berasal, bagaimana proses menanamnya, dan bagaimana prosesnya bisa sampai ke Yogyakarta.
Kopi yang dijual Mas Pepeng, bukan kopi-kopi mainstream yang banyak dijual di pasaran. Penyajiannya enggak pakai gula, enggak ada kopi susu, adanya hanya kopi item asli.  Harganya flat semua Rp15.000 per gelas. Di sana disediakan snack gratis.
Astaga, ini Mbak Diah Rukminingtyas fasih banget jelasin Klinik Kopi. Persis seperti tayangan di film AADC 2 kan, saat Rangga dicegat oleh Mas Pepeng,


7. Punthuk Setumbu
Hmmm... ini nih tempat yang sampai sekarang masih bikin saya penasaran. Kalau lihat di filmnya, lokasinya ada di dataran tinggi. Di sana kita bisa melihat matahari terbit. Di sana juga ada sebuah bangunan yang lebih dikenal sebagai gereja ayam.
Bagus sih tempatnya. Walaupun film ini enggak dipakai sebagai set AADC 2, kayaknya saya akan mencoba mampir ke sana.
Amazing Punthuk Setumbu
Sumber gambar: www.1001malam.com
Gereja Ayam
Sumber gambar:\http://assets.kompas.com/data/photo/2015/11/08/1217199Gereja-Ayam-08780x390.jpg


Nonton Empat Kali
Nah, ini. Saya juga perlu memberi apresiasi (atau cibirian) buat saya sendiri. Ini benar-benar film pertama saya dalam sejarah nonton bioskop, yang saya tonton sampai 4 kali.
Kali pertama, 28 April 2016, saya nonton sendirian di Theater Cinemaxx, Plaza Semanggi.
Kali kedua, 29 April 2016, saya nonton segerombolan dengan teman-teman sekantor plus bos saya.
Kali ketiga, 2 Mei 2016, sepulang ngajar di Kelas Inspirasi, saya nonton di Cinemaxx, Plaza Semanggi (lagi) bersama Dimas dan Harry Sanjaya.
Kali keempat, 6 Mei 2016, saya nonton dengan kawan-kawan sepermainan di Kelas Inspirasi, yaitu Eko, Deni, dan Asma Nadia... eh... Intan.
Hampir saja saya terjerumus nonton yang kelima kalinya. Tapi, hop hop hop. Civil War saja yang post credit scene-nya terlewatkan, belum saya tonton.


Jadi.... ya, buat yang enggak punya 'kepentingan sejarah', maksudnya kenangan historis (apasih) dengan film AADC 1, atau belum nonton AADC, atau yang sudah nonton AADC, tapi kesannya biasa saja, film AADC 2 akan menjadi sangat biasa.
Namun, bagi saya, karena saya punya kenangan istimewa dengan Dian Sastro, eh... dengan film AADC, walaupun saya baru menghayati film AADC setelah saya dewasa, AADC 2 itu ruarrr biasak.
Walau lagu soundtrack-nya enggak seberkesan AADC dulu, tapi rasanya masih okelah digarap sama Melly Goeslaw dan Anto Hoed.
Puisinya... saya punya buku puisinya, Tidak Ada New York Hari Ini karya Aan Mansyur. Isinya menghanyutkan dan saya suka -ulasan puisinya singkat saja karena tidak sedang ada di wilayah apresiasi puisi-. Hanya saja rasanya kurang menyatu dengan Rangga dan Cinta. Kurang paham sih bagaimana cara menyatukannya, tapi dibanding AADC, si puisi dalam AADC 2 kurang nemplok di jidat Rangga dan Cinta kali ya.

Aduh, makin lama, makin ngaco ya.

Yah, pokoknya, saya senang melihat kerlingan mata Cinta saat Rangga membujuknya untuk baikan. Saya juga suka dengan cara gentle Rangga dalam meminta maaf. Saya suka dengan interaksi Rangga dan Cinta sehari penuh yang terasa romantis tapi dewasa. Saya juga suka alasan Rangga meninggalkan Cinta yang sangat realistis dan enggak ngawur kayak di sinetron. Saya suka dengan kelucuan yang natural dari Mily, Karmen, dan Maura.

Saya tetap suka AADC, walaupun sempat ditolak saat minta foto bareng Dian Sastro di Senayan City, bulan puasa tahun 2016 lalu. Ha ha ha.

Saya suka. Ada apa dengan saya? :)

Hujan Abadi di Semesta Mimpi


adalah dekapmu
hujan abadi di semesta mimpi
adalah sentuhmu
pekat kabut menyayat
jantung yang terbelah
di lembar-lembar puisiku

lalu,
angin mengembuskan kata-kata
serupa bisik rindu
dengan wangi taman dan
kelucak air di kolam itu

17/05/16

19 April 2016

the land that becomes red

unusual weather
hazily, hungry babies cry
angry people are cursing the destiny

the blood rain
fall down on their face
people missing directions
they lose their way
they walk on the land that becomes red
their faces look tired
their eyes bleary and their eyelids blackened

dear, my country
now, angry people just live in there
beloved motherland no longer becomes their home
just a barren field
with soil that becomes red

Jakarta, 2016

Tanah Jadi Merah


cuaca tak lagi sama
ketika tangis bayi-bayi lapar melesap
bersama pekik amarah orang-orang yang
memaki takdir

hujan darah,
jatuh di muka-muka tengadah
orang-orang yang hilang arah
mereka berjalan di atas tanah yang jadi merah
dengan wajah lesu
pula mata nanar dengan hitam di kelopak yang melebar

oh, negeriku
kini dihuni orang-orang yang marah
pertiwi kesayangannya tak lagi jadi rumah
hanya sehampar ladang gersang
dengan tanah yang jadi merah

Jakarta, 2016

sumber gambar: http://cdn.images.express.co.uk/img/dynamic/128/590x/secondary/mars-2-290633.jpg