27 August 2014

Keranjang Kenangan


menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka


Adakah yang bisa mengukur kadar luap cintaku pada pekat hitam di matanya?
Setiap hari, sepanjang musim, selalu kusimpan cerita di keranjang yang kusembunyikan di bawah tempat tidur. Kutata baik-baik, agar tak mudah ditemukan orang, agar tak sulit kuraih jika sewaktu-waktu aku ingin bermain-main dengan kenangan.

Kepada alir sungai di belakang rumah, aku pernah bercerita bahwa tak ada rasa hati yang abadi. Seperti sungai, dia juga akan mengalir indah, susuri terjal bebatu, hingga sampailah dia di kebebasan samudera. Tetapi, di sepanjang sungai yang ditinggalkan, akan selalu ada cerita yang membekas sebagai ingatan.

Seperti itulah cintaku kepadanya.
Mengalir bagai sungai, membekas sebagai ingatan yang kusembunyian di dalam keranjang, di bawah tempat tidur.
Tak ada yang tahu, tak ada yang merasa, tetapi nyata dan begitu renyah.

Tak ada yang tahu, aku selalu berkompromi dengan kehendak hati. Kubiarkan cinta ada jika memang masih ingin ada, kubiarkan dia sembunyi jika memang dia ingin bersembunyi, kubiarkan bangkit bergelora jika memang dia ingin jadi hasrat api. Kubiarkan saja. Bahkan, ketika dia memang digariskan untuk mati. Kubiarkan saja. Kunikmati.


Sehingga, saat dia berpaling arah, tak ada yang perlu ada hati yang tersakiti.
Lalu, saat dia kembali, tak ada yang harus repot-repot menghindari atau sekadar jadi basi menanti-nanti.

Kubiarkan saja.

Kubiarkan pertemuan kami dikendalikan oleh Sang Mahakendali.

menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka

Siang ini, celotehmu mengalir ke telinga dan tak ada lagi risau saat kita berjabat tangan untuk sebuah drama perpisahan.

Pertemuan ini akan kusimpan sebagai kenangan, lalu kusimpan dalam keranjang di bawah tempat tidur.

sumber gambar: http://www.terminally-incoherent.com/blog/wp-content/uploads/2013/08/memory-corruption.jpg

19 August 2014

Sahabatmu Bukan Piala Persahabatan untuk Dimenangkan

"Sahabatmu bukan piala persahabatan untuk dimenangkan"

Kalimat yang sederhana, tetapi malam itu terasa begitu menohok jantung saya. Bagaimana tidak? Akhirnya saya sampai di suatu titik sadar. Saya merasa seperti baru ditampar.
Selama ini, saya merasa sudah jadi sahabat yang baik bagi orang-orang yang saya anggap sebagai sahabat. Sisi jahanam saya membuat saya merasa sangat sempurna sebagai sahabat, sebagai teman dekat. Saya merasa diri saya adalah orang yang paling tulus memberi pada sahabat tanpa keinginan kuat untuk menerima.

Suatu masa, saya merasa mulai bersahabat dengan seseorang. Nyaman, dekat, saling percaya. Saya juga tanpa sungkan berbagi cerita tentang apa saja. Bahkan, tentang hal-hal rahasia yang seharusnya tidak diceritakan kepada siapapun. Saya mempercayai dia sepenuhnya.

Tapi, ternyata saya lupa satu hal: mendengarkan kehendak terdalam sahabat saya itu. Ya, saya merasa jadi penceloteh yang baik, tetapi buruk dalam hal mendengarkan. Boleh dibilang, saya seperti orang yang selfish. Hanya berorientasi kepada ke-aku-an, dan mengabaikan konsep 'kita' dalam sebuah pertemanan.

Lalu, saya merasa orang-orang di sekelilingnya seperti berambisi untuk bisa mendekati. Semua orang yang ada di sekitarnya terasa begitu bersemangat untuk berteman dengannya. Bahkan, teman lamanya terlihat begitu 'protektif'.
Sejak itu, bersahabat dengannya seakan menjadi prestasi. Kebersamaann dengannya seakan jadi anugerah yang tidak dimiliki orang lain. Bisa menjadi teman dekatnya seperti menjadi juara yang mendapat hadiah berupa piala.

Sampai saya melakukan hal bodoh yang bisa jadi telah merusak jalin kepercayaan yang seharusnya dimiliki oleh sebuah kisah persahabatan. Lalu, dia terasa lepas dari genggaman dengan begitu mudah. Tak sesulit saat saya mulai membangun persahabatan itu. Saya seperti telah jauh-jauh berjalan dari gunung ke pantai, sekadar mengambil segenggam pasir, lalu pasir itu lepas dari genggaman saya dan terbang bersama angin.

Di suatu titik saya sadar. Saya terlalu banyak bicara, tapi jarang mendengar. Saya merasa dia sahabat saya, tetapi dia tidak. Saya merasa nyaman bercerita, dia mungkin lelah terus mendengar dan sesekali ingin juga didengar.

Saya mengabaikan isi hatinya. Saya tak sadar kalau selama ini dia merasa seperti sebuah piala yang diperebutkan orang-orang.
Saya lupa, dia juga manusia, yang punya kehendak, yang punya keinginan sendiri.
Ya, dia itu bukan buku diary, dia juga bisa jadi pasien yang membutuhkan kita jadi dokternya. Sewaktu-waktu, dia butuh ada kita, dan dia akan mencari kita, tetapi di waktu lain, dia sangat ingin sendiri dan menjaga privasi.

Ya, dia bukan piala untuk dimenangkan. Dia adalah segumpal hati yang seharusnya dijaga dan disayangi.

Sahabat, maafkan saya.

*Kantin Kantor, 19 Agustus 2014 17:26


Bangkit dari Kubangan Duka

Teringat kisah seorang teman.
Inti dari kisah itu, yang ingin saya share di sini adalah bahwa sebesar apapun keinginan kita untuk bisa bersama seseorang, atau sekuat apapun keteguhan kita untuk bisa bersama orang itu, kadang ada hal-hal lain di luar kendali kita yang memaksa kita untuk berhenti memperjuangkan.

Menyakitkan, tentu. Berat, sudah pasti. Tetapi pada akhirnya, kita memang harus ditaklukan oleh garis takdir yang sudah dirancang oleh Tuhan.

Mungkin, kalau boleh sok tahu, tinggal kita percayakan saja sepenuhnya pada Sang Maha Pencinta. Dia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh dan terpuruk dalam jelaga. Tentu saja, di diri kita juga harus ditanamkan rasa syukur dan terus berdoa agar semua baik-baik saja.

Jika waktunya tiba, kita akan bangkit dari kubangan duka, lalu siap kembali bercorat-coret di lembar kisah baru. Time will heal.


19/08/2014
01.10 AM

18 August 2014

Dari Balik Jendela

Dari balik jendela, aku mengintip suatu dunia yang tak biasa. Dunia yang dipenuhi penjagal-penjagal. Pemangsa. Peminum darah bangsanya sendiri.
Tak biasa bagiku, tapi di sana tak ada sungkan. Tanpa ragu, tawa tamak semerbak di antara pekat aroma bangkai.

Dari balik jendela, aku menerka-nerka, mungkinkah aku salah satu dari mereka?

16 August 2014

Salad Salmon Saus Lemon


Makan malam yang 'sok sehat'. Niatnya sih buat pengganti menu makan malam yang dikhawatirkan akan menggemukkan. 
TADAAA... Salad salmon saus lemon (saya lupa nama asli menunya apa) di Pasta de Waraku, Mall Taman Anggrek.
Enak. Ikannya enggak amis. Sayurannya segerrr karena dikasih dressing lemon yang suegerr.
Sayangnya setelah menyantap hidangan appertizer ini, saya tetep lapar. Say goodbye sama diet karena setelah ini langsung nyari tempat makan lain.
Hihihihi....

09 August 2014

Kura-Kura Ninja Kreme


Cemilan di malam yang dingin ini enak sekali. Kreasi dari Krispy Kreme.
Bentuknya lucu. Nyontek karakter Raphael Kura-Kura Ninja (Teenage Mutant Ninja).
Isinya maknyos, rasa lemon.
Saya ngemil ini di Lotte Shopping Avenue Ground Floor.
Makin enak, karena ditraktir sama Irfan. Ha ha ha.