25 December 2014

The Sweetiest 30th :D :D

  
Birthday cake dari temen-temen Persidangan

Birthday cake dari Mama

Birthday cake dari sahabat-sahabatku (si Harry sih yang beliin, hehe)    





Dinner with my lovely friends


hurray I've got these all..


di lantai 13


26 November 2014

Kamu Bukan Sekotak Martabak

Setiap orang tentu punya keinginan untuk membuat orang lain bahagia. Keluarga, sahabat, teman, pacar, tetangga, atasan, gebetan, dan lain-lain. So, lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakan mereka. 

Tapi, ingatlah, kamu bukan sekotak martabak yang bisa membuat semua orang bahagia dan menyukaimu. Kamu tetaplah kamu. Di luar sana, akan selalu ada orang yang tak puas dengan caramu. Mereka berdampingan dengan orang-orang yang menyukaimu, yang bahagia karena kamu. Mereka ada dan selalu memandangmu sebagai figur yang kaya akan kesalahan.

Jadi, tak perlu berusaha terlalu keras untuk membahagiakan semua orang. Tak perlu mengikuti keinginan semua orang. Itu bisa menyakitimu. Cukup lakukan dengan hatimu. Dia akan menggiringmu untuk membagikan kebahagiaan dengan orang-orang yang telah digariskan oleh Tuhan.

Selalu lakukan yang terbaik, tapi jangan lupa, kamu bukan sekotak martabak kesukaan semua orang.

Sumber gambar: http://www.freetotag.com/wp-content/uploads/2014/06/IMG20140526220429079.jpg

24 October 2014

Api Dendam

Dia bukan Drupadi ataupun Drestajumena yang diciptakan dari api untuk memuaskan dendam kekalahan Drupada. Tetapi, tingkah polah dunia dan cecunguk-cecunguk ganjen yang tak henti menyebar aroma taik selalu membuatnya terbakar, sesekali mendendam bermandi luap serapah.

Dia bukan Pandawa yang ditakdirkan berperang melawan Kurawa. Tetapi, manusia-manusia di sekelilingnya senang membuat ulah. Ciptakan turbulensi dan peperangan di kepalanya.

Dia bukan Bisma, tapi dia mencoba berkompromi dengan amarah. Diredamnya semua kebencian.
Tapi cecunguk tak mau diam.
Kebencian pun mereka diam-diam.

Dendam.
Yang suatu saat akan diluapkan dalam kepung api.

Polusi Suara

Pernahkah kamu merasa, suara-suara yang terdengar di sekelilingmu terasa bagai polusi yang merusak ketenangan pikiran?

Semisal, di ruang kerjamu, ada delapan orang. Mereka berkelompok, 3-3-2. Lalu, setiap kelompok itu berbicara dengan tema berbeda, tetapi berada pada ruang dimensi yang sama. Sementara, kamu, di salah satu sudut di sekitarnya sedang berusaha berkonsentrasi saat mengerjakan sesuatu. Semua suara teman-temanmu terasa melayang berebutan ke lubang telingamu, dan semua percakapan mereka bisa kamu cerna bersamaan.  Lubang telingamu terasa dikoyak. Suara-suara mereka memaksa masuk ke sana. Tanpa toleransi, tanpa peduli jika otakmu sedang bekerja keras menghimpun konsentrasi.
Lalu, dalam hitungan detik, suara telepon berbunyi. Karena asyik berbincang, mereka malas mengangkat telepon. Suara telepon diabaikan. Mungkin pesawat telepon marah. Suaranya terasa meninggi dan mulai mengincar lubang telingamu. Lalu, dia ikut bergabung dengan suara-suara lain menyerang lubang telingamu.
ARRRGGGH...

Seperti itulah polusi suara. Kamu mencoba berlari ke luar gedung. Suara-suara tadi melesap, lalu hilang. Tapi, di sana suara-suara kendaraan menanti kedatanganmu dan sepasang lubang telingamu. Dalam sekejap, sesaat setelah pintu gedung kamu buka, suara-suara itu langsung memburu lubang telingamu.

Kamu menyerah dalam gerah.
Dunia memang tak tahu diri. Diam-diam mereka menzalimi. Tapi, tak akan ada hukum manapun yang membuat mereka bisa dipersalahkan. Segala sesuatu di muka bumi punya hak untuk mengeluarkan suara.

Beruntunglah kamu. Semesta telah menciptakan lagu. Nada-nada merdu yang ditunggu-tunggu lubang telingamu untuk menggantikan polusi suara yang sangat tak kamu inginkan adanya.

#catatan di pagi yang sangat berisik dan menyebalkan

25 September 2014

Keinginan yang Melompat-Lompat

Di dalam kepala kita ada yang melompat-lompat. Itu bukan kutu, apalagi kecoa. Lalu apa? Orang-orang biasa menyebutnya dengan KEINGINAN.
Begitu banyak yang kita inginkan. Semua keinginan itu menyembul dari rasa dan pikiran, sebagai proses dari tangkapan mata, telinga, dan mungkin seluruh panca indera. Seluruhnya diserap dan diramu, lalu disajikan sebagai sembulan-sembulan keinginan.
Sesampainya di kepala, mereka melompat-lompat, diwarnai ego, ambisi, cita-cita, harapan, dan mimpi. Semua sama, minta didahulukan. Minta dilenyapkan. Kenapa? Mungkin mereka tersiksa di dalam tempurung kepala. Sementara, keinginan terus bertambah. Terlampau banyak jika dibandingkan keinginan yang mewujud jadi nyata. Ya, tidak setiap keinginan dapat menjadi kenyataan. 
Lalu, keinginan-keinginan itu berontak. Melompa-lompat, tak sabar menanti diwujudkan. 
Di kepala, kadang mereka bertabrakan dan ciptakan turbulensi. Jika tak segera diatasi, akan ciptakan ledakan di kepala yang membuat gila.

Jadi, hanya kesadaran akan keadaan yang dapat menyelamatkan tempurung kita dari ricuh keinginan yang melompat-lompat.
Gagang Pintu Hollycow Steak Jakarta Barat

Mereka yang Pergi

Mereka yang pergi bukan dibuang,
tapi dibebaskan dari kubangan yang direnangi babi.

25/09/14

19 September 2014

Mereka yang Diam-Diam Menikmati

Kembali, ada hal yang tidak saya pahami.
Ini tentang orang-orang yang tidak menyukai sesuatu, tetapi mereka tidak berusaha menarik diri atau menjauhi hal-hal yang tidak disukainya itu.
Sambil sesumbar kekata tentang benci dan kekesalan, mereka berdiam di lingkaran itu, bahkan mereka tak berusaha menghindar saat harus ditarik ke dalamnya.
Apa sebenarnya diam-diam mereka menginginkannya? Atau mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar? Entah.


Saya jadi teringat kutipan puisi Toeti Heraty berjudul "Saat-Saat Gelap". Entah relevan atau tidak, tapi hanya puisi itu yang berkumandang di kepala saya saat saya memikirkan orang-orang itu.

Manusia yang menyerah pada keangkuhan tunggal,
tetapi diam-diam menikmati
Jari membelai, meneguk dari sumber kehidupan....

Jadi, apa iya sebetulnya mereka sendiri yang sebenarnya merasa nyaman berada di lingkaran itu?
Karena, jika mereka tidak suka, kenapa tidak mereka jauhi saja tempat itu?

Yang jelas, selama ini saya sudah bersungguh-sungguh menjauhi lingkaran itu, dan saya berhasil. Baiklah, kita lihat siapa lagikah orang-orang yang berapi-api ingin jauh dari situ, tapi justru mendekati lingkaran itu seperti serangga yang terhipnotis cahaya lampu.

13 September 2014

Rela Mundur Selangkah

Kadang kita harus rela mundur selangkah,
memberi jalan pada orang lain yang dihimpit gelisah
agar bisa maju melangkah.

Tapi, ketika orang itu jadi bertingkah,
rasanya sungguh ingin muntah.


Sebaik Apapun Perbuatan Kita

Sebaik apapun perbuatan kita, sebanyak apapun benih-benih kebaikan yang kita tebar di pelik kehidupan, akan selalu ada manusia lain yang memendam ketaksukaan. Ketaksukaan yang bisa bermetamorfosis jadi rasa iri, benci, merasa ditandingi, dan berbagai perwujudan sisi negatif lainnya.
Subjektivitas yang akan banyak berbicara dan abai terhadap hal-hal baik yang dilakukan oleh orang lain.

Lalu, apakah kita harus berhenti? Apakah kadar perbuatan baik itu harus dikurangi?
Tentu tidak. Lanjutkan hal-hal baik dalam hidup, berbagi dengan sesama, dan menebar benih-benih cinta di muka bumi.
Tak ada urusan dengan pandangan negatif orang lain, selama kita tidak merugikan siapapun.
TETAP BERPIKIR POSITIF dan melangkah beralaskan niat baik yang tertancap di hati.
Jangan berpikir tak akan ada kaum pembenci. Mereka akan selalu ada, dalam berbagai rupa, dalam berbagai wujud orang yang tak terduga. Dari mereka kita bisa belajar banyak hal, dari kita semoga mereka bisa belajar untuk menjadi lebih baik.

Pembenci? Biarlah kebencian mereka bertemu dengan akhir tragisnya sendiri.

12 September 2014

Episode Ikan Asin

Astaga, pandangan itu.
Seperti kucing yang takut tak kebagian ikan asin. Mengikuti ke mana tubuh ini pergi dalam hujam curiga. Takut ikan asin kuhabiskan sendiri.
Padahal, diam-diam di balik badannya, dia menyembunyikan ikan asin yang sama sekali tak ingin dibagi dengan orang lain.


Astaga, pandangan itu.
Selalu tak senang jika orang lain lebih mendapat kemudahan.

2014

"Siapa-siapa" dan "Apa-apa"

Pernahkah Anda merasa seperti ini?

Kadang, kita merasa tak ingin jadi siapa-siapa, tak ingin terlihat memiliki apa-apa. Ingin rendah hati, ingin biasa-biasa saja, dan tidak menonjolkan diri.
Tapi, situasi di sekeliling kita berbeda. 
Orang-orang yang saling berlomba untuk terlihat menjadi siapa-siapa. Rekan kerja yang rajin unjuk kabisa. Sikat-sikut mencari kedekatan dengan bos incaran. Sanak saudara yang sibuk memperlihatkan diri sebagai sesuatu yang berarti. Tetangga-tetangga yang terus unjuk gigi bahwa mereka memiliki apa-apa.

Akhirnya, tanpa disadari kita terdorong, lalu jadi bagian dari mereka.
Bukankah itu pertanda bahwa hidup kita diatur oleh kondisi orang lain, oleh standar ideal yang diciptakan oleh orang lain?
Semacam jadi ibadah untuk dilihat, pintar untuk menjabat, supel untuk menjilat,  kaya untuk dianggap hebat.

Itukah esensi ribuan hari yang telah kita lalui di muka bumi?
 

09 September 2014

Taping Acara "Tepas" TV I-Channel Bandung

Lega. Itulah rasa pertama yang saya rasakan setelah menerbitkan buku "Kisah Sobat"-nya Geng Nulis Sapulidi. Setelah berbulan-bulan berjuang untuk merampungkan buku ini, akhirnya saya bisa menarik napas lega.
TADAA...! Inilah buku Kisah Sobat yang diluncurkan beberapa bulan yang lalu di Kedai Sambel Duren Jakarta. Buku yang kami tulis sebagai salah satu wujud nyata dari keinginan untuk belajar dan berbagi.

Daaaan... pada Sabtu, 6 September 2014 lalu, saya dan beberapa perwakilan Geng Nulis Sapulidi, memenuhi undangan dari I-Channel, salah satu stasiun tv di Kota Bandung, untuk taping acara TEPAS. Acara tersebut adalah salah satu program seru dari I-Channel yang mengangkat komunitas-komunitas kreatif di Kota Bandung. Shooting-nya dilaksanakan di Jack Runner Roastery Ciumbuleuit Bandung.
Hahay, akhirnya, Geng Nulis Sapulidi bisa eksis di TV.
Anggota geng yang berkesempatan hadir, yaitu saya, Kang Deden, Harry Sanjaya, Arief Hadiwibawa, Ira Rachmawaty, Rani Wulandari. Kami ngobrol-ngobrol seru deh dengan presenter cantik Rima dan produser keren Helga.
Masing-masing anggota geng dapat kesempatan untuk bicara tentang proses kreatif menulisnya. Selain itu, kami 'diinterogasi' juga tentang asal-usul keterlibatan kami di projects-nya Geng Nulis Sapulidi... :) :)
Awalnya pada grogi, lama-lama nagih dan nggak rela kalau kamera nggak ON lagi. Hahaha..

Thanks i-channel, thanks Geng Nulis Sapulidi, thanks Jack Runner Roastery.



27 August 2014

Keranjang Kenangan


menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka


Adakah yang bisa mengukur kadar luap cintaku pada pekat hitam di matanya?
Setiap hari, sepanjang musim, selalu kusimpan cerita di keranjang yang kusembunyikan di bawah tempat tidur. Kutata baik-baik, agar tak mudah ditemukan orang, agar tak sulit kuraih jika sewaktu-waktu aku ingin bermain-main dengan kenangan.

Kepada alir sungai di belakang rumah, aku pernah bercerita bahwa tak ada rasa hati yang abadi. Seperti sungai, dia juga akan mengalir indah, susuri terjal bebatu, hingga sampailah dia di kebebasan samudera. Tetapi, di sepanjang sungai yang ditinggalkan, akan selalu ada cerita yang membekas sebagai ingatan.

Seperti itulah cintaku kepadanya.
Mengalir bagai sungai, membekas sebagai ingatan yang kusembunyian di dalam keranjang, di bawah tempat tidur.
Tak ada yang tahu, tak ada yang merasa, tetapi nyata dan begitu renyah.

Tak ada yang tahu, aku selalu berkompromi dengan kehendak hati. Kubiarkan cinta ada jika memang masih ingin ada, kubiarkan dia sembunyi jika memang dia ingin bersembunyi, kubiarkan bangkit bergelora jika memang dia ingin jadi hasrat api. Kubiarkan saja. Bahkan, ketika dia memang digariskan untuk mati. Kubiarkan saja. Kunikmati.


Sehingga, saat dia berpaling arah, tak ada yang perlu ada hati yang tersakiti.
Lalu, saat dia kembali, tak ada yang harus repot-repot menghindari atau sekadar jadi basi menanti-nanti.

Kubiarkan saja.

Kubiarkan pertemuan kami dikendalikan oleh Sang Mahakendali.

menikmati kepurbaan di wajahmu
selalu sama
tak beda, terasa tak ada jeda
seperti tak pernah ada kisah luka

Siang ini, celotehmu mengalir ke telinga dan tak ada lagi risau saat kita berjabat tangan untuk sebuah drama perpisahan.

Pertemuan ini akan kusimpan sebagai kenangan, lalu kusimpan dalam keranjang di bawah tempat tidur.

sumber gambar: http://www.terminally-incoherent.com/blog/wp-content/uploads/2013/08/memory-corruption.jpg

19 August 2014

Sahabatmu Bukan Piala Persahabatan untuk Dimenangkan

"Sahabatmu bukan piala persahabatan untuk dimenangkan"

Kalimat yang sederhana, tetapi malam itu terasa begitu menohok jantung saya. Bagaimana tidak? Akhirnya saya sampai di suatu titik sadar. Saya merasa seperti baru ditampar.
Selama ini, saya merasa sudah jadi sahabat yang baik bagi orang-orang yang saya anggap sebagai sahabat. Sisi jahanam saya membuat saya merasa sangat sempurna sebagai sahabat, sebagai teman dekat. Saya merasa diri saya adalah orang yang paling tulus memberi pada sahabat tanpa keinginan kuat untuk menerima.

Suatu masa, saya merasa mulai bersahabat dengan seseorang. Nyaman, dekat, saling percaya. Saya juga tanpa sungkan berbagi cerita tentang apa saja. Bahkan, tentang hal-hal rahasia yang seharusnya tidak diceritakan kepada siapapun. Saya mempercayai dia sepenuhnya.

Tapi, ternyata saya lupa satu hal: mendengarkan kehendak terdalam sahabat saya itu. Ya, saya merasa jadi penceloteh yang baik, tetapi buruk dalam hal mendengarkan. Boleh dibilang, saya seperti orang yang selfish. Hanya berorientasi kepada ke-aku-an, dan mengabaikan konsep 'kita' dalam sebuah pertemanan.

Lalu, saya merasa orang-orang di sekelilingnya seperti berambisi untuk bisa mendekati. Semua orang yang ada di sekitarnya terasa begitu bersemangat untuk berteman dengannya. Bahkan, teman lamanya terlihat begitu 'protektif'.
Sejak itu, bersahabat dengannya seakan menjadi prestasi. Kebersamaann dengannya seakan jadi anugerah yang tidak dimiliki orang lain. Bisa menjadi teman dekatnya seperti menjadi juara yang mendapat hadiah berupa piala.

Sampai saya melakukan hal bodoh yang bisa jadi telah merusak jalin kepercayaan yang seharusnya dimiliki oleh sebuah kisah persahabatan. Lalu, dia terasa lepas dari genggaman dengan begitu mudah. Tak sesulit saat saya mulai membangun persahabatan itu. Saya seperti telah jauh-jauh berjalan dari gunung ke pantai, sekadar mengambil segenggam pasir, lalu pasir itu lepas dari genggaman saya dan terbang bersama angin.

Di suatu titik saya sadar. Saya terlalu banyak bicara, tapi jarang mendengar. Saya merasa dia sahabat saya, tetapi dia tidak. Saya merasa nyaman bercerita, dia mungkin lelah terus mendengar dan sesekali ingin juga didengar.

Saya mengabaikan isi hatinya. Saya tak sadar kalau selama ini dia merasa seperti sebuah piala yang diperebutkan orang-orang.
Saya lupa, dia juga manusia, yang punya kehendak, yang punya keinginan sendiri.
Ya, dia itu bukan buku diary, dia juga bisa jadi pasien yang membutuhkan kita jadi dokternya. Sewaktu-waktu, dia butuh ada kita, dan dia akan mencari kita, tetapi di waktu lain, dia sangat ingin sendiri dan menjaga privasi.

Ya, dia bukan piala untuk dimenangkan. Dia adalah segumpal hati yang seharusnya dijaga dan disayangi.

Sahabat, maafkan saya.

*Kantin Kantor, 19 Agustus 2014 17:26


Bangkit dari Kubangan Duka

Teringat kisah seorang teman.
Inti dari kisah itu, yang ingin saya share di sini adalah bahwa sebesar apapun keinginan kita untuk bisa bersama seseorang, atau sekuat apapun keteguhan kita untuk bisa bersama orang itu, kadang ada hal-hal lain di luar kendali kita yang memaksa kita untuk berhenti memperjuangkan.

Menyakitkan, tentu. Berat, sudah pasti. Tetapi pada akhirnya, kita memang harus ditaklukan oleh garis takdir yang sudah dirancang oleh Tuhan.

Mungkin, kalau boleh sok tahu, tinggal kita percayakan saja sepenuhnya pada Sang Maha Pencinta. Dia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh dan terpuruk dalam jelaga. Tentu saja, di diri kita juga harus ditanamkan rasa syukur dan terus berdoa agar semua baik-baik saja.

Jika waktunya tiba, kita akan bangkit dari kubangan duka, lalu siap kembali bercorat-coret di lembar kisah baru. Time will heal.


19/08/2014
01.10 AM

18 August 2014

Dari Balik Jendela

Dari balik jendela, aku mengintip suatu dunia yang tak biasa. Dunia yang dipenuhi penjagal-penjagal. Pemangsa. Peminum darah bangsanya sendiri.
Tak biasa bagiku, tapi di sana tak ada sungkan. Tanpa ragu, tawa tamak semerbak di antara pekat aroma bangkai.

Dari balik jendela, aku menerka-nerka, mungkinkah aku salah satu dari mereka?

16 August 2014

Salad Salmon Saus Lemon


Makan malam yang 'sok sehat'. Niatnya sih buat pengganti menu makan malam yang dikhawatirkan akan menggemukkan. 
TADAAA... Salad salmon saus lemon (saya lupa nama asli menunya apa) di Pasta de Waraku, Mall Taman Anggrek.
Enak. Ikannya enggak amis. Sayurannya segerrr karena dikasih dressing lemon yang suegerr.
Sayangnya setelah menyantap hidangan appertizer ini, saya tetep lapar. Say goodbye sama diet karena setelah ini langsung nyari tempat makan lain.
Hihihihi....

09 August 2014

Kura-Kura Ninja Kreme


Cemilan di malam yang dingin ini enak sekali. Kreasi dari Krispy Kreme.
Bentuknya lucu. Nyontek karakter Raphael Kura-Kura Ninja (Teenage Mutant Ninja).
Isinya maknyos, rasa lemon.
Saya ngemil ini di Lotte Shopping Avenue Ground Floor.
Makin enak, karena ditraktir sama Irfan. Ha ha ha.

27 July 2014

Catatan Balkon

*untuk sahabat yang benar-benar telah pergi

Aku tak ingin meminta waktu diputar balik, karena belum tentu aku jadi lebih baik.
Tapi, di depan mataku, ada sepetak lahan yang harus kuhijaukan. Kutanami dengan macam-macam cinta dan pengetahuan.
Lalu, aku akan belajar menghargai persahabatan secara lebih luas.


Sahabat bukan piala yang diperebutkan, tapi sahabat adalah percaya yang harus dijaga. Sahabat adalah tulus yang alirnya terus-menerus. Sahabat adalah matahari dan oksigen yang kadang tidak kita hargai arti adanya.

Di balkon, aku menatap langit. Kisah itu mengangkasa. Aku dan sahabatku.
Lalu, angin berbicara. Katanya, hidup tak akan pernah sempurna. Kadang jadi realita yang harus pahit, namun begitu menakjubkan untuk dikenang.

Dingin cuaca, hujam kenangan, kunikmati dengan tenang, meski tanpa asap rokok yang dulu pernah dihisap sama-sama.

Hidup tak melulu tentang itu, dan waktu tak akan berhenti walau kita terjebak dalam kenangan yang perih.



# Malam Idul Fitri 1435 H
27 Juli 2014

09 July 2014

Sketsa Sejarah

tak ada yang pernah menghitung, 
berapa jumlah garis di wajahmu 
seluruh musim ada di situ 
bersama datang pergi dewa dewi 
yang bermain-main dalam labirin 

pernah, kamu coba merapal mantra 
agar jasadmu bertemu dengan keabadian 
di suatu masa, 
saat api membakar pematang sawah 
dan ciptakan merah di langit penuh marah
 
usang sudah lembar-lembar sketsa sejarah 
karena dendam yang kau umbar 
di semesta yang tak lagi dibanjiri doa


*dimuat di Ogan Ilir Ekspres, 8 Juli 2014 

07 July 2014

Pesta Demokrasi Bikin Lupa Diri

Pada pesta demokrasi kali ini, saya bukan golput. Alhamdulillah. Setidaknya, jika 'golput' memang dianggap sebagai semacam 'malfunction' bahkan dianggap 'dosa', kali ini saya tidak melakukannya.
Sebagai salah satu penduduk tanah Indonesia, tanpa harus saya proklamirkan atau digembar-gemborkan, sejujurnya saya menyayangi negeri ini. Saya cinta Indonesia. Itu nyata terasa di dalam hati. Dan saya pikir, cukup saya tanamkan di hati, lalu saya lakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan, sesuai kemampuan saya, untuk Indonesia ini. 

Jadi, pada 9 Juli nanti, saya sudah punya rencana untuk memilih salah satu calon pemimpin Indonesia. Walaupun, di antara kedua pasangan yang ada, tidak ada pasangan yang benar-benar saya dambakan. Maksud saya, saya 'ngefans' pada salah satu di antara mereka. Hanya saja, saya kurang suka dengan pasangan pendampingnya. Tapi, ya setelah dilihat, ada hal baiknya dibandingkan dengan pasangan yang satu lagi.
Oalah... sudah, sudah... tak perlu membahas apa pilihan saya.  Biarkan hanya saya dan Tuhan yang tahu. 
Yang saya sayangkan adalah geliat tingkah orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai pendukung salah satu calon pemimpin itu. Saling hujat, saling menjelekkan capres idola, saling merasa diri paling dekat dan kenal pada calon presiden pilihannya... dan lain-lain.
Padahal, seheboh apapun kita mendukung capres, ya tetap saja nanti setelah mereka terpilih, kita ya tetap harus cari makan sendiri. Berjuang sendiri demi keluarga.

Sekarang kita koar-koar. Maki sana maki sini.. Memutuskan pertemanan demi capres. Oh MG. Pertemanan saja dikorbankan. Wew, jangan sampai deh, kehilangan teman gara-gara capres di pesta demokrasi yang kadang bikin lupa diri.

JADI, apa pilihanmu? Rahasia kan ya, enggak usah bilang-bilang...

Satu Scene dengan Seno Gumira Ajidarma


 Satu scene dengan salah satu tokoh sastra idola itu rasanya BAHAAAAGIAAAA sekali.
Jadi, pada Sabtu 5 Juli 2014 lalu, saya diajak untuk menyaksikan acara "Pitching Forum Eagle Awards" di Metro TV. Hari itu, salah satu kawan kreatif saya, yaitu Kang Deden, jadi salah satu finalisnya.
Saya pun pergi ke studio Metro TV bersama sahabat saya, Fietri Yulia. Di studio, kebetulan, saya dapat tempat duduk yang 'strategis', tepat di belakang sastrawan idola saya, Seno Gumira Ajidarma.
Daaaaan.... saat rekaman acara tersebut ditayangkan di Metro TV, heboh deh se-RW di rumah Mama. Soalnya, ada saya nongol cengar-cengir jadi background-nya juri. Sumpah, saya bukan penonton bayaran grupnya Bu Eli Sugigi. Saya kebetulan aja dapet tempat yang pas dan dapet peluang ngeksis di TV nasional cukup lama. Ha Ha Ha.
Sahabat saya, Fietri Yulia, pasti iri deh, soalnya enggak kelihatan. :p :p








12 June 2014

Puisi Sigit Rais - Senja di Pulau Kemaro

(Koran Ogan Ilir Ekspres Edisi 10 Juni 2014)



Senja di Pulau Kemaro

geliat angin di sepanjang Musi
mengantarku pada kunang-kunang di matamu
setiap senja mereka bermain
dengan kerling genit kekasih yang merayu untuk didekap

sepanjang jalan air yang terus bercerita
diam-diam hati kita saling menggenggam
lalu jiwa kita merapat, saling menyentuh
tenggelam bersama matahari
yang pendarkan cahaya keemasan pada dinding kuil



11 June 2014

Menunggu - cerpen Sigit Rais a.k.a. Raisal Kahfi -

(Majalah Cerita Kita Vol 11 Tahun 2006)

Aku kembali terpaku pada panorama yang tak asing lagi. Sebuah panorama yang selama ini begitu akrab dengan kehidupanku di kampus hijau ini. Di depanku berdiri kokoh sebatang pohon palem yang tegar dalam kesendirian. Pohon itu dikelilingi rumput basah  yang bermandi matahari. Perlahan sisa tetesan embun yang hinggap di atasnya sirna seiring dengan pagi yang semakin tua. Di tempat yang penuh kenangan ini aku masih menunggunya dengan setia, bagiku setia tidak pernah sia-sia.
 
Masih bisa kuhirup aroma pagi walau matahari sudah agak meninggi. Pukul sepuluh, saat yang tepat untuk menunggunya di sini, selasar sebuah mesjid yang selalu teduhkan jiwaku. Melapangkan pikiranku dari jenuhnya suasana perkuliahan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk segera kembali ke tempat ini begitu perkuliahan usai. Begitu juga dengan teman-temanku yang saat ini, di belakangku, sedang asyik membicarakan rencana perjalanan kami ke Jakarta beberapa minggu lagi. Seusai kuliah tempat ini selalu jadi tujuan mereka. Dan kini aku masih asyik sendiri, nikmati matahari dan berbagai aktivitas kehidupan yang saat ini terpajang di depan mataku. Tanpa henti aku memohon pada Tuhan agar pagi ini aku depertemukan dengannya, mahluk indah yang akhir-akhir ini telah mendobrak semesta hatiku dan membuatku jatuh cinta.
Kutebar pandanganku. Di kananku sebuah mesjid berdiri dengan megah walau tak semegah mesjid raya yang ada di alun-alun kotaku. Mesjid itu bernama Al-Furqon. Tempat ini adalah salah satu tempat yang paling sering kusinggahi. Di beranda mesjid kulihat beberapa mahasiswa sedang membaca Al-Qur’an. Aku terenyuh melihatnya. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini aku begitu jarang menyentuh kitab suci. Sungguh, aku benar-benar merasa berdosa.
Tak jauh dari situ kulihat seorang lelaki yang sedang duduk termenung menatap ke arah pohon palem, seperti aku. Tetapi setelah kuamati, sesekali lelaki itu tersenyum kecil seakan sedang bercakap-cakap dengan rumput. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Mungkinkah dia sedang terperosok ke dasar lembah cinta sepertiku? Entahlah, yang jelas wajahnya tampak tersenyum. 

Di depanku, di seberang lapangan rumput, seorang penjual kue donat sedang melayani pembelinya, dua perempuan berjilbab dengan pakaian serba ketat. Dengan genitnya mereka memilih-milih donat yang ada di dalam box, sepertinya si penjual donat cukup gerah juga pada dua perempuan centil itu. Tetapi mereka membuatku teringat pada seseorang yang saat ini masih kutunggu. Apa yang sedang dilakukannya di pagi yang semakin tua ini? Kuharap dia tidak sedang menggoda lelaki lain seperti yang dilakukan oleh dua perempuan itu. Bicara soal jilbab, memang akhir-akhir ini banyak sekali muslimah yang berjilbab bukan karena panggilan hati, melainkan karena panggilan mode. Hal inilah yang terkadang membuatku dan beberapa temanku merasa prihatin. Ya, itu memang hak asasi mereka. Tetapi sejujurnya aku lebih menghormati wanita baik-baik tanpa jilbab daripada wanita berjilbab yang masih gemar mempertontonkan auratnya. Seperti bidadari yang saat ini semakin membuat kesabaranku nyaris habis. Ia tidak berjilbab. Rambutnya bergelombang bagai ombak di samudera. Hatinya begitu indah untuk dicinta. Dan dari cahaya di matanya aku tahu bahwa dia adalah hawa yang tercipta dari rusukku. Tetapi mengapa dia belum muncul juga?
* * *
Tanpa terasa matahari semakin tinggi, hampir tepat di atas kepalaku. Langit yang menyajikan pemandangan biru muda nyaris tak dihinggapi awan. Udara sudah mulai panas. Kulepaskan sweater putih yang kupakai sejak pagi. Ternyata leherku basah karena keringat. Suasana di sekelilingku semakin ramai saja. Berbondong-bondong para mahasiswa dari berbagai arah menyerbu selasar mesjid yang sebelumnya tampak lengang. Teman-temanku tak lagi membicarakan rencana perjalanan kami ke Jakarta. Beberapa di antara mereka ada yang pulang ke kost-an dan baru akan kembali pukul satu nanti karena masih ada mata kuliah Kajian Drama. Sedang yang lainnya terlihat sedang tidur-tiduran, mengerjakan tugas, mengobrol, makan, dan bahkan dua orang temanku yang kebetulan berpacaran sedang duduk berdua sekitar tujuh meter dari samping kiriku. Huh, jujur saja aku sedikit iri pada mereka. Sepertinya mereka sangat menikmati cinta. Tidak seperti aku yang terkadang begitu merana karena cinta. Seperti saat ini, aku dibuat merana oleh sebuah penantian sambil mendengarkan lagu-lagu Melly Goeslow yang  ada dalam album Ada Apa dengan Cinta dengan menggunakan walkman milik temanku.
aku tak bisa jelaskan mengapa bisa begini. Aku s’lalu rindu pada malamku bersamamu……
kuhanya ingin mencintai, aku hanya ingin dicintai. Walaupun banyak yang menentangku, kuhanya ingin bahagia……
***
Siang semakin garang. Mengucurkan keringat di sekujur tubuhku. Saat ini aku sudah bisa mencium aroma siang. Kurasakan panas pada kulit tanganku yang terjemur langsung di bawah terik matahari. Aku berpindah tempat duduk, mencari tempat yang lebih teduh. Kini aku bersandar di sebuah lemari kayu yang biasa dijadikan tempat penitipan sepatu. Orang-orang lalu lalang  di depan wajahku. Tiba-tiba seorang anak menghampiriku dengan membawa sebuah kecrek yang terbuat dari kayu dan tutup botol soft drink yang dipipihkan. Kukecilkan suara walkman untuk mendengarkan bocah yang seumuran dengan adik bungsuku bernyanyi, “libuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati lintangan demi aku anakmu.”
Hatiku benar-benar tersentuh. Bagaimana bisa seorang bocah yang belum bisa mengucapkan huruf “R” berada di sini mencari makan? Bukankah seharusnya mereka berada di bangku sekolah? Inikah tanda-tanda ketidakadilan dunia? Lalu bagaimana dengan masa depan mereka? Ah, kurasa inilah salah satu penyebab keterbelakangan bangsa kita disbanding bangsa lain. Tapi mau bagaimana lagi? Apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa miskin seperti aku selain berdo’a, berdo’a, dan berdo’a. Mudah-mudahan kelak tak ada lagi anak yang kurang beruntung seperti dia.
Setelah kukeluarkan uang receh secukupnya anak itu berlalu. Ia berkumpul dengan teman-temannya di dekat menara putih yang menjulang tinggi di depan mesjid ini. Mereka terlihat begitu menikmati penatnya siang. Seakan tanpa beban mereka berlarian di bawah jemuran matahari. Sementara itu aku kembali menebar pendanganku. Masih dalam rangka mencari sosoknya yang selama ini kurindukan.
Adzan Dzuhur berkumandang, menyerukan panggilan untuk segera menghadap-Nya. Sebagian mahasiswa segera mengambil air wudhu dan sebagian lagi terlihat masih duduk-duduk memenuhi selasar mesjid untuk menunggui tas dan sepatu teman-teman mereka yang pergi sholat terlebih dahulu. Di mesjid ini berkali-kali terjadi kasus kehilangan barang, baik itu tas, sepatu, jaket, atau handphone. Oleh karena itulah sholat bergantian dianggap sebagai solusi terbaik untuk menghindari kehilangan barang. Begitu juga dengan aku, dua tahun yang lalu aku sempat menjadi korban kehilangan tas di mesjid ini. Betapa kesalnya aku saat itu. Isi tas memang tidak bernilai jual tinggi bagi orang lain, tetapi bagiku sangat berarti. Isinya disket-disket tugas akhir semester yang belum sempat di-print, dan foto-foto kenanganku bersama kekasihku yang pergi menghadap-Nya tiga tahun yang lalu. Gambar-gambar wajah teduhnya seringkali membuatku merasa bahagia karena pernah dicintai oleh mahluk seindah dirinya. Dan sejak aku bertemu dengan seseorang yang saat ini sedang kutunggu, aku seakan dipertemukan kembali dengan reinkarnasi dirinya. Sungguh, kedua gadis itu terkesan sama bagiku. Tetapi mengapa dia belum datang juga?
Segera kumatikan walkman, setelah menitipkan tas dan sepatu pada temanku yang kebetulan sedang “libur sholat”, aku segera mengambil air wudhu dan sholat berjama’ah. Seusai sholat aku berdo’a pada Tuhan agar aku bisa dipersatukan dengannya, aku ingin menjadikannya sebagai matahari cintaku. Kemudian aku segera kembali ke selasar mesjid. Aku masih berharap bisa bertemu dengannya siang ini, atau paling tidak aku bisa melihatnya walaupun dari kejauhan. Yang jelas di dasar hati terdalamku aku ingin menyatakan isi hatiku untuknya siang ini juga.
Pukul setengah satu, matahari benar-benar tak selembut tadi pagi. Suasana di sekelilingku semakin ramai. Para penjual makanan mulai berdatangan untuk menyajikan hidangan makan siang berupa batagor, siomay, cuanki, es cendol, cincau, dan berbagai makanan lain dengan harga murah tentunya. Tetapi aku sedikitpun tidak tergerak untuk makan. Entah kenapa.
Beberapa temanku mulai beranjak meninggalkan selasar mesjid ini dan segera menuju ruang kuliah yang letaknya cukup jauh dari sini. Untuk sampai di sana kami harus melewati perpustakaan, Balai Bahasa, dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Apalagi di bawah terik yang menyengat ini. Mungkin beberapa teman perempuan yang kolokan akan mengeluh sepanjang jalan. Takut kulitnya terbakar-lah, takut hitam-lah. Menyebalkan.
Aku segera merapikan barang bawaanku, lalu segera kupakai sepatuku. Tetapi aku tidak segera beranjak. Aku masih begitu ingin bertemu dengannya. Sekali lagi kuamati sekelilingku. Masih bisa kurasakan suasana ramai khas tempat ini yang terjadi setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu. Apalagi hari Senin seperti sekarang ini, biasanya kampusku lebih ramai dibanding hari-hari lainnya.
Dan akhirnya penantianku tidak sia-sia. Tepat di depanku, di dekat gerbang kampus aku melihatnya berjalan menuju tempat parkir motor. Tetapi jantungku seakan berhenti berdegup. Dia tidak sendiri. Seorang lelaki mendampingi langkahnya. Tak lama kemudian mereka berlalu, melaju dengan sebuah sepeda motor. Dia mendekap erat lelakinya. Wajah cantiknya melekat pada punggung lelaki itu. Menara putih dan pohon palem runtuh dalam semesta lukaku. Rumput terbakar terik matahari seperti hatiku yang terbakar api yang tak kumengerti. Kering dan layu. Dalam hitungan detik segalanya berubah jadi debu. Tak ada lagi Mawar atau Kanigara. Yang ada hanyalah bangkai berbau amis.
Aku berlalu meninggalkan selasar mesjid yang masih dipenuhi manusia. Kutinggalkan sebuah pertanyaan, “mengapa dia tak menjadikan aku sebagai mataharinya?” Pertanyaan itu terjawab setelah aku tahu bahwa lelaki itulah matahari pilihannya. Dan aku, masih akan selalu menunggu di selasar mesjid ini. Bukan lagi menunggu kedatangannya tetapi menunggu kematian sebuah pijaran jiwa yang kini telah diliputi luka menganga. Aku terluka.


***