09 September 2007

Untuk Tiga Sahabatku (1)

Untuk Sinta
Ta, delapan tahun sudah kita arungi kisah. Entah apa yang membuat kita dapat bertahan dengan keadaan ini, terutama aku. Ta, bukankah jalan yang kita lalui sering terhambat oleh tajam kerikil? Suara kersak dedaun terdengar begitu ngilu. Inilah aku, pejuang sejati atas nama persahabatan. Kutahan nyeri dan luka. Kuhirup aroma kelam napas kota. Untukmu, untuk sebuah kenangan di bawah siraman hujan.

Ta, kali ini aku akan menyerah. Ya, menyerah....

(bersambung)

Pelik Hidup Masyarakat: Kisah Sedih yang Tak Berujung

Berbagai permasalahan datang bertubi-tubi menimpa bangsa kita. Bencana alam, wabah penyakit, kelangkaan BBM, korupsi, ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, terorisme, kesenjangan dalam masyarakat, meningkatnya angka kemiskinan, dan berbagai permasalahan pelik yang kian akrab dengan nafas kehidupan. Berbagai permasalahan itu menimbulkan kecemasan yang membuat bangsa kita terombang-ambing dalam ketidakmenentuan keadaan. Serba tidak pasti. Berbagai permasalahan tersebut, baik besar ataupun kecil, terkadang membuat kita buta mata hati. Bukannya melakukan introspeksi diri, kita malah menunjuk wajah orang lain dan mencari-cari kambing hitam. Akibatnya kita tidak akan pernah bisa belajar dari pengalaman. Kita tidak mampu memetik esensi yang terkandung dalam setiap pelik hidup yang terjadi, dan tentunya kita tidak akan pernah bisa menemukan solusi terbaik.
Saat ini, belum habis kesedihan menyelimuti wajah pertiwi akibat bencana besar gempa, banjir, tanah longsor, dan lain-lain, kita kembali dihadapkan dengan berbagai permasalahan lainnya seperti kecelakaan pesawat, kelangkaan yang diikuti oleh kenaikan harga BBM, merebaknya berbagai penyakit, dan berbagai musibah lainnya. Hal dilematis ini selalu diwarnai dengan kemunculan kambing hitam, baik itu manusia ataupun alam. Parahnya, untuk orang-orang golongan tertentu momen-momen ini seringkali dijadikan sebagai ajang untuk menyudutkan golongan lain demi kepentingan tertentu.
Berbagai permasalahan yang selama ini menjadi teror menakutkan bagi masyarakat sebetulnya tidak semata-mata bergantung begitu saja terhadap takdir Sang Pencipta. Karena segala sesuatu tentu ada penyebabnya.
Pertama, permasalahan di bidang kesehatan, seperti flu burung, demam berdarah, antrax, dan lain sebagainya adalah akibat dari kurangnya kesadaran kita untuk senantiasa menjaga kebersihan. Kebersihan tersebut meliputi kebersihan fisik secara pribadi dan kebersihan lingkungan. Kedua, permasalahan yang berkaitan dengan bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Fenomena tersebut diakibatkan oleh ketidakdisiplinan kita dalam mengelola alam. Alam terlalu parah dijarah dan dieksploitasi tanpa pembaruan yang signifikan. Kemudian yang ketiga, permasalahan di bidang pendidikan seperti menjamurnya anak-anak yang putus sekolah, kurangnya tenaga pengajar di daerah, serta minimnya fasilitas pendidikan. Padahal. jika pendidikan di Indonesia dinomorsatukan, mungkin permasalahan di bidang pendidikan tidak akan separah seperti saat sekarang ini. Keempat adalah permasalahan di bidang sosial. Boleh dikata bangsa kita ini termasuk bangsa yang memiliki permasalahan sosial yang cukup rumit. Korupsi yang masih mengakar dan terus tumbuh ibarat pohon kokoh yang sulit untuk ditebang, narkoba, free sex, pengangguran, meningkatnya kuantitas kriminalitas, meningkatnya angka kemiskinan, dan berbagai masalah sosial lain yang sangat memprihatinkan. Kelima, permasalahan di bidang ekonomi. Seperti kita ketahui bersama bahwa beberapa waktu yang lalu sempat terjadi permasalahan di bidang ekonomi, yaitu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sempat melemah serta kelangkaan BBM. Bahkan, ada yang memprediksikan bahwa ini akan menjadi masa-masa pengulangan dari masa pra-reformasi antara tahun 1997-1998 lalu. Permasalahan ini tentu saja berdampak buruk juga terhadap sektor-sektor lainnya, terutama di sektor perdagangan. Harga-harga pun tak bisa luput dari pelambungan harga. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah pun seperti.menaikkan harga BBM menimbulkan permasalahan baru, terutama bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah yang semakin hari semakin merasa dicekik oleh rumit kehidupan. Sungguh rumit dan dilematis.
Satu hal yang dapat memperburuk keadaan adalah jika masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin yang kini sedang berpusing-pusing memikirkan solusi terbaik bagi keberlangsungan bangsa.

September

sepi yang tertidur di riuh cuaca kota

dan tidurlah sepimu di riuh cuaca kota
letih mengumbang
di pisau-pisau ajal, akar menjalar
seruak musim pekuburan

serak bunga di tikungan itu
melukis wajah matahari
dengan jarak ketidakpastian

angin menyemai rindu, di ceruk pagi
tak lama, garang siang jadi gelinjang
pergumulan abad dengan penggal kisah-kisah
irama nadimu bertemu dengan letihnya

kini,
sepimu tertidur di riuh cuaca kota

2007