14 December 2015

Lihatlah Kini

Lihatlah kini, kawan. Ketaknyamanan menahunmu akhirnya kualami juga. Titik muak dan jenuh terus melaju menuju puncaknya. Kejahatan-kejahatan yang lembut, api-api yang terasa hangat namun sejatinya menghanguskan, air-air yang terasa sejuk namun sejatinya menghanyutkan. AKU BERADA DI TEMPATMU DULU. 
Dulu, tanpa kau minta, tanpa kau terima, aku ada. Jadi pendengar, jadi tempat berbagi, jadi segalanya. Tak berarti. Tapi yang jelas, KAU TIDAK SENDIRIAN.

Tapi, lihatlah kini, kawan. AKU SENDIRIAN. Di titik yang pernah jadi tempatmu berdiri. Di titik bebal yang sulit didefinisi. Orang-orang itu menghadapiku dengan begitu banyak senjata di belakang mereka. Orang-orang itu seperti melihatku sebagai ancaman berbahaya. Lalu, dengan berbagai cara, mereka patahkan sayap dan tangan kaki yang aku punya. Dan, mereka melakukannya sambil tersenyum hangat bersahabat. Persahabatan palsu.

Aku dipenjara.
Di depan mataku, tak ada apa-apa, selain rasa dingin.
Ini di mana? 
Ini tempat mereka, bukan aku. 

Sumber gambar:
http://www.plannedscape.net/Fiala/wp-content/uploads/2015/02/home-alone-loneliness-seascape-paintings-screen-319027.jpg

10 December 2015

Fotografer Pernikahan

Sepertinya, akhir-akhir ini saya memang sedang sering mempertanyakan sesuatu, khususnya tang berkaitan dengan perilaku seseorang atau cara seseorang memperlakukan orang lain.
Kadang, pertanyaan-pertanyaan itu muncul untuk sebuah peristiwa di masa lalu, jauh sekali di masa lalu.

Kali ini saya teringat pada pengalaman buruk keluarga saya yang telah beberapa kali ditipu oleh orang lain. Oleh orang yang kami percaya.
Heran. Apa isi kepala mereka saat mereka mengkhianati kepercayaan itu? 

Bahkan, fotografer pernikahan adik saya, yang saya kenal dari teman saya, bisa-bisanya dia mengkhianati kepercayaan saya. Padahal, saya sudah memperlakukannya dengan baik. Saya memenuhi kewajiban saya sebagai customer dengan baik, bahkan lebih dari yang seharusnya. Karena, saat itu dia 'perlu uang', jadi biaya paket fotografi yang seharusnya dilunasi setelah acara selesai, dengan senang hati saya lunasi di muka. Tanpa syarat , tanpa banyak meminta. Saya hanya membiarkan dia bekerja sesuai tanggung jawabnya.
Tapi, apa yang dia lakukan terhadap saya, juga keluarga saya?
Lama sekali saya tunggu hasil kerjanya. Semua tidak selesai pada waktunya. Ada apa?
Kemudian, foto tak seluruhnya dia cetak. Hanya sebuah album dengan banyak sekali halaman yang masih kosong. Apa maksudnya? Mana video yang dijanjikannya? Bahkan, saya harus repot-repot meminta dia menyalin data fotografi hasil kerjanya ke dalam DVD, walaupun belum dia edit semua, termasuk mentahan videonya. Pesanan saya tiba. Tapi, lagi-lagi saya dibuat jengkel. Isinya hanya foto, tidak ada video.  Dia tuli, buta, atau bego? Itu pertanyaan yang terlintas.
Lalu, dia menghilang. Kontak BBM dan telepon selularnya tidak bisa dihubungi. Dia kabur? Entah.


Saya tidak habis akal. Di perjanjian kerjasama yang pernah dia kirim melalui email, ada alamatnya. Lengkap.
Saya datangi rumahnya. Oke, fine. 
Lalu, lagi-lagi saya bertanya, kenapa saya jadi kasihan kepadanya? Kondisi rumahnya yang kurang nyaman, apalagi saat itu ada dua putrinya yang masih kecil. Juga ada seorang bapak yang sepertinya sedang sakit.

Masalah himpitan ekonomi. Itu simpulan saya. Ada rasa simpati, prihatin, tak tega, dan lain-lain.
Tapi, apa masalah yang dihadapi oleh seseorang lantas bisa jadi alasan bagi orang itu untuk merugikan orang lain?
Saya pikir, jika dia sukses membuat calon pelanggannya puas, bukankah usaha fotografi pernikahannya akan semakin banyak mendapat peluang karena adanya rasa percaya? Mungkin saya juga tak akan ragu merekomendasikan dia pada teman-teman saya, atau saya gunakan untuk pernikahan saya sendiri kelak. Bukankah semua itu bisa membantunya dari himpitan ekonomi yang dialami? Itu jika memang benar, adalannya adalah himpitan ekonomi.
Tapi, melihat low respon darinya, saya jadi mengira bahwa dia memang tidak qualified. Juga setelah saya lihat hasil editan fotonya, maaf, sebagai penggemar editing foto, menurut saya nilainya masih biasa saja. Tidak membuat saya berdecak kagum. Lalu, kenapa dia berani mengajukan diri sebagai fotografer pernikahan? 
Astaga, makin banyak saya bertanya-tanya.

Lantas, saya menyalin semua data mentah foto dan video dari laptopnya ke dalam hardisk eksternal yang saya bawa. Nohope. Hanya itu hal terbaik yang bisa saya lakukan. Saya lihat nuansa penyesalan di raut wajahnya.  Setelah sebelumnya, saat pertama melihat kedatangan saya, dia bagai melihat hantu di siang hari. Shocking. 
Banyak hal yang saya pikirkan dan sempat terlintas untuk saya lakukan. Apa saya perlu melaporkannya ke polisi karena menipu saya? Astaga, kasihan anak-anaknya.
Atau saya maki-maki dia di rumahnya sendiri sehinngga sekampung tahu kelakuan dia yang kurang baik? Bikin rusuh di kampung orang? Aduh, apa itu bisa membuat foto dan video adik saya beres sesuai pesanan?

Sebisanya saya berlapang dada. Saya memberinya kelapangan juga agar kewajibannya bisa diselesaikan. Lalu, akan saya tunggu apakah dia benar-benar menyesal dan akan bertanggung jawab.
Jika tidak dia kerjakan? Ya sudah, saya kerjakan sendiri. Hasil editan foto dan video saya juga enggak jelek kok.
Selanjutnya, ya sudah, siapa tahu saja malaikat penjaga kuburnya nanti lupa bahwa dia pernah mencurangi pelanggannya. Atau mungkin algojo-algojo di neraka nanti kehilangan daftar dosa-dosa dia, sehingga dia bebas dari azab.
Tapi ya, semoga saja dia mendapat hidayah dan kesempatan untuk memenuhi kewajibannya sebelum saya atau dia mati. Akan saya tunggu tanpa beban, sampai kapanpun.

Sumber gambar:
http://photography-cameras.org/images/stories/photography-beginner.jpg

09 December 2015

Menur -another side of Cassia-

Sepeninggal Kanjeng Ratu Gelorongan,  Negeri Cassia kembali damai.
"Semua berkat kebaikan para Raja Deva di atas awan," ucap Seriti pada Ponggawa Tujuh yang kini tinggal enam.
"Lantas, apa yang selanjutnya perlu kita lakukan, Kanjeng Seriti?" tanya salah satu ponggawa setianya.
"Kita tarik kembali Rufiso, kita cabut sihir Gelorongan dari tubuhnya. Kita akan bersama-sama lagi seperti sedia kala," ucap Seriti.
"Tetapi, bukankah Rufiso telah mengkhianatimu, Kanjeng Sriti?" tanya Maraka heran.
"Dia khilaf. Terpedaya oleh sihir Gelorongan. Lagipula, aku masih memerlukan keahliannya dalam mengelola navigasi negeri Cassia, agar tidak kita tidak sesat arah.
Semua Ponggawa Tujuh tertunduk. Meski tak setuju, mereka selalu manut pada keinginan Seriti. Semoga kembalinya Rufiso bisa mendatangkan hal baik bagi distrik utama Negeri Cassia.
Div, sang Ponggawa Tujuh penengah teringat pada Menur, sang abdi setia Ratu Gelonggongan. Tiba-tiba api dendam meletup dari dadanya. Hitam kenangan tentang negeri Cassia yang pernah diporak-porandakan Kanjeng Ratu Gelorongan membuatnya marah.

"Kanjeng Seriti, bagaimana dengan Menur?" tanya Adiv.
Sriti termenung sejenak, lalu sekilas muncul senyuman tajam sebagai pertanda bahwa dia sudah dapat ide.
"Kalau Menur berbeda. Dia harus diberi hukuman."
"Apa hukuman yang pantas untuknya, Kanjeng?"
"Kita asingkan dia. Kita jauhkan dia dari pusat pemerintahan Cassia. Akan segera kusampaikan pada Raja Attila," ujarnya.

Maka, sejak saat itu, Menur harus menjalani hukuman, sementara Rufiso, rekan seperkongkolannya mendapat tiket masuk gratis ke Negeri Cassia dari Sriti. Meskipun, beberapa anggota Tujuh Ponggawa keberatan, akhirnya mereka menerima kembali Rufiso, sang pengkhianat, sebagai salah satu saudara mereka.

**

Cassia kembali pulih. Setelah Raja Rambut Peri dari negeri Karobis menggantikan Gelorongan untuk sementara waktu, Raja Kanaja kembali lagi menduduki singgasananya dengan restu para Raja Deva. 
Kala itu, kedatangannya disambut bahagia oleh seluruh rakyat Cassia. 
Adiv, yang saat kepemimpinan Raja Rambut Peri didaulat jadi Ponggawa Istimewa, kembali pada posisinya sebagai Ponggawa Tujuh.
Waktu bergulir, Cassia tentram, walau ulah Sriti, yang sejak dulu memang jadi biang masalah, terus menciptakan api-api kecil permusuhan. Pada akhirnya, api-api kecil permusuhan itu bisa diredam.
Sebagai pembimbing para Ponggawa Tujuh, Sriti berhati dengki selalu tak suka jika salah satu ponggawanya selangkah lebih maju darinya. Maka, dia merekayasa peristiwa agar para ponggawanya selalu patuh berada di bawah ketiaknya. 
Tetapi sayang, dua dari ponggawanya itu telah ditakdirkan oleh Sang Mahakuasa untuk jadi bagian dari laskar pengubah negeri. DI darah mereka mengalir darah leluhur pendiri negeri yang selalu inginkan perubahan untuk negerinya. Berbeda dengan ponggawa lain yang sepanjang hidupnya harus terus patuh dan setia pada Sriti.
Kadang Sriti merasa geram. Bahkan, beberapa kali Sriti menggunakan Kesaktian Kegelapan untuk meredam lesat quantum potensi yang dimiliki oleh dua ponggawanya yang revolusioner. 

..bersambung

04 December 2015

Kenapa Harus?

Kenapa harus? Kenapa harus menginjak orang lain agar kita bisa nyaman berjalan?
Kenapa harus? Kenapa harus mengecilkan arti ada seseorang agar kita bisa berarti?
Kenapa harus? Kenapa harus menjadikan kepala orang lain sebagai pijakan saat kita ingin menggapai bintang?
Kenapa harus?

Kenapa harus jadi figur menyebalkan bagi orang lain saat takdir menggiring kita untuk berjalan bersama-sama?

01 December 2015

Cerita Pendek "Partitur Audia"



Partitur Audia
cerita pendek Ighiw



Sumber gambar:
https://thumbs.dreamstime.com/z/partiture-book-02-168737.jpg
Mendung menyelimuti kepala Divan. Setiap petik kalimat yang tadi siang berhamburan dari mulut Bu Broto terus berputar ulang secara otomatis dalam benaknya. Di tangannya sebundel partitur yang beberapa minggu lalu dibagikan oleh Audia, teman satu timnya.
“Pokoknya, kalau tim paduan suara kalian tahun ini tidak juara, semua biaya pelatih dan seragam yang saya kasih harus dikembalikan!” ujar Bu Broto dengan mata mendelik judes.
Jelas, ucapan Bu Broto itu jadi tamparan buat Divan dan teman-temannya yang tergabung dalam paduan suara Bianglala. Bukannya makin semangat, mereka malah merasa makin terbebani. Masalahnya, tahun lalu paduan suara Bianglala mengalami penurunan prestasi. Mereka yang semula mendapat juara 3 dalam lomba paduan suara antarmahasiswa se-Indonesia, tiba-tiba tersungkur di posisi juara harapan I.
Walau awak paduan suara Bianglala bukan orang-orang yang ambisius dalam berebut piala dan kebanggaan, mereka selalu termotivasi untuk menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Semua mereka lakukan karena rasa cinta mereka terhadap dunia tarik suara.
“Kalian sudah memberikan yang terbaik, teman-teman, tahun depan pasti kalian bisa jauh lebih keren,” ujar Paundra sang pelatih yang selama ini selalu bersemangat melatih Divan dan teman-temannya.
Kalimat apresiasi seperti itulah yang bisa membesarkan hati Divan dan teman-temannya. Bukan kalimat intimidasi yang membuat mereka malah down dan kehilangan rasa percaya diri seperti yang diujarkan oleh Bu Broto.
Tahun ini, tiba-tiba Bu Broto, dari bagian kemahasiswaan, mengambil alih komando di tim paduan suara Bianglala. Lantas, dirinya memproklamirkan diri sebagai manajer paduan suara. Semua diambil alih olehnya, termasuk urusan seragam. Padahal, latihan sudah berlangsung selama tuga bulan. Lagipula, tidak seorang pun pernah menugaskan Bu Broto untuk melakukan semua itu.
Awalnya, Divan dan teman-temannya merasa senang. Tahun lalu, segala sesuatunya mereka persiapkan sendiri. Akibatnya, konsentrasi mereka dalam latihan vokal cukup terganggu, sehingga pementasan tidak maksimal. Tadinya, Divan berpikir, jika dimanajeri oleh seseorang, dia dan teman-temannya bisa maksimal memperbaiki kualitas vokal dan harmoni. Audia, yang biasa diberi tugas oleh Paundra membuat partitur bisa makin cepat menggarap partitur.
Tetapi, beberapa hari dimanajeri oleh Bu Broto, seluruh anggota paduan suara Bianglala sudah mulai merasa gerah. Selain galak dan senang melontarkan kritik pedas, Bu Broto sesuka hati melakukan eksperimen dalam hal pemilihan kostum. Dia memilih kostum yang aneh dan kurang sesuai dengan tema lagu pilihan Paundra. Selain itu, Bu Broto juga melontarkan ancaman-ancaman yang menghilangkan kepercayaan diri tim kebanggaan kampus Bianglala.
“Van, gue out aja ya. Serem ah sama Bu Broto,” ujar Fernando. Dia merasa tak nyaman dengan berbagai aturan yang dibuat oleh Bu Broto.
“Nyantai aja, bro. Sabar. Ambil baiknya aja,” jawab Divan.
“Tapi Bu Broto udah keterlaluan. Masa Julia yang ngasih masukan tentang kostum anak-anak perempuan diancam bakal dikeluarkan dari tim?” gerutu Sanjaya.
Itu baru sebagian kecil dari keluh-kesah para anggota paduan suara Bianglala. Belum lagi beberapa anggota yang baru saja bergabung dengan tim paduan suara seperti Rinova, Okitio, Dini, Novia, dan Elia. Belum apa-apa, mental mereka sudah dibuat drop oleh aturan-aturan Bu Broto.
Dan malam ini, setelah kenyang dengan keluh-kesah teman-teman satu timnya, Divan mencoba memejamkan mata. Dia berharap suasana hatinya besok pagi bisa kembali dipenuhi semangat dan harapan.
**

“Van! Divan!” seru Audia yang sejak tadi menunggu kehadiran Divan di tempat parkir.
“Di, kenapa?” tanya Divan sambil menaruh helm di atas motornya.
“Lagu kita, Van. Aku dapet whatsapp dari Bu Broto, katanya dia lebih setuju kalau kita pakai lagu Manuk Dadali, daripada lagu Gundul-Gundul Pacul,” papar Audia terengah-engah.
“Astaga. Tuh emak-emak rempong banget ya. Alasannya apa?”
“Katanya, dia dapat bocoran kalau kampus saingan bebuyutan kita mau membawakan lagu yang sama. Jadi dia pengen bikin saingan gitu.”
“WHAT?!”
Divan jengkel bukan main mendengar penjelasan Audia.
“Enggak penting banget kan? Partiturnya, Van. Masa aku harus bikin awal. Lagian Paundra kan sudah bikin aransemen yang matang. In mah yang ada, anak-anak makin pengen out dari tim kita, Van.”
“Yaudah Di, siang ini kita rapat rahasia ya. Jangan sampai diketahui Bu Broto. Kamu tolong kontak anak-anak. Jangan lewat grup whatsapp lho. Bu Broto kan ada di situ.”
“Oke Van. Atau aku bikin grup whatsapp lain ya, yang isinya hanya kita dan teman-teman.”
Divan mengangguk setuju lalu bergegas menuju ruangan kelas untuk mengikuti perkuliahan.

**

Di samping gedung auditorium, Divan, Audia, dan beberapa teman mereka berkumpul. Bagaimanapun, kabar buruk tentang perubahan lagi harus disampaikan kepada teman-teman tim yang lain.
“Keterlaluan deh Bu Broto,” ujar Elia mendumel.
“Iya, ini kita sudah latihan oke. Tinggal polas-poles, terus mikirin seragam, eh, malah mau diacak-acak. Alasannya aneh banget lagi. Masa, cuma untuk dibandingkan dengan tim kampus lain.” Fernando tak mau kalah.
Tiba-tiba, smartphone Divan berbunyi. Rupanya ada pesan dari Paundra.
Paundra:
Van, gue lagi menghadap Bu Broto.
Doain ya biar aransemen karya kita enggak perlu diubah lagi.
Divan berusaha menenangkan teman-teman satu timnya. Divan yakin, Paundra bisa mengubah permintaan aneh Bu Broto. Tetapi, sayang, Bu Broto tetap bersikukuh bahwa tahun ini tim paduan suara Bianglala harus membawakan lagu pilihannya.

**
Beberapa hari setelah keputusan sepihak dari Bu Broto mulai diberlakukan, tim paduan suara Bianglala sudah kehilangan dua personelnya bersuara tenor. Mereka sudah tidak sanggup menghadapi Bu Broto yang semena-mena.
“Duh, bahaya nih, suara tenor berkurang,” Sanjaya kelabakan.
“Bener-bener ya. Tim kita sukses dibuat berantakan. Mana partitur belum beres pula,” gerutu Dini jengkel.
“Sabar ya teman-teman, sekarang Audia dan Paundra lagi kerja keras nih nyusun ulang partitur kita. Moga-moga bisa kekejar, dan semuanya berjalan lancar,” ujar Divan berusaha menenangkan teman-temanya.
Tiba-tiba, Paundra datang dengan wajah yang kurang enak dilihat. Dia terlihat kucel, tak bersemangat, dan seakan kehilangan motivasi.
“Mas Undra, kenapa? Kok tampak lelah begitu?” tanya Dini.
“Iya, mas. Lalu, mana partitur baru kita?” Elia menambahkan.
Paundra menggelengkan kepala.
“Audia baru aja masuk rumah sakit. Dia kena vertigo, guys,” jawab Paundra sedih.
Semua anggota tim paduan suara yang hadir tercengang. Mereka kaget mendengar cerita dari Paundra. Pupus sudah harapan mereka untuk bisa unjuk gigi dalam lomba paduan suara tahun ini.
**

Untuk sedikit melepas penat karena huru-hara di tim paduan suaranya, Divan dan Sanjaya mampir ke kedai kopi Mr. Green. Di sana, tanpa sepengetahuan mereka sudah ada Bu Broto dan seorang temannya. Mereka juga sedang menikmati kopi di kedai itu. Kebetulan, posisi duduk Divan tepat berada di belakang Bu Broto.
Divan terkejut mendengar percakapan orang di belakangnya. Dia akhirnya sadar bahwa di belakangnya itu adalah Bu Broto yang sedang membahas tim paduan suara Bianglala bersama temannya,
“Iya Jeng, akhirnya keinginan terpendam saya kesampaian juga. Akan saya habisi dia dengan kemenangan paduan suara Bianglala. Habis, gimana ya, kekesalan saya sama Bu Merlina, dosen seni di kampus sebelah itu, masih terasa. Jadi, ya sudah saya manfaatkan saja keberadaan paduan suara di kampus saya untuk balas dendam.”
Divan dan Sanjaya terhenyak mendengar kata-kata Bu Broto. Ternyata, keterlibatan Bu Broto selama ini dalam tim paduan suaranya hanya untuk memenuhi dendam masa lalunya.
“Iya, Jeng. Siapa sih yang tidak kesal. Di hari-hari genting tim paduan suara saya dulu, tiba-tiba Bu Merlina pergi ke luar negeri tanpa pamitan. Padahal saat itu dia dikasih tugas membuat partitur.”
Divan kehabisan rasa sabar. Dia berdiri, lalu menghampiri meja Bu Broto.
“Bu, mohon maaf jika saya lancang. Tapi, saya akhirnya tahu semua encana Ibu, dan ini tidak bisa dilanjutkan!” seru Divan.
“Kamu? Ngapain di sini?” tanya Bu Broto yang kaget bukan kepalang.
“Bu, kami ini bernyanyi, bukan semata-mata ingin memenangkan predikat juara. Lebih dari itu. Kami bernyanyi sepenuh hati. Kami berusaha memberikan yang terbaik. Bukan hanya untuk juri, tapi untuk penonton.”
Bu Broto terdiam. Matanya berkaca-kaca karena malu.
“Kami tidak punya tanggung jawab apa-apa atas dendam masa lalu ibu. Dan adal Ibu tahu, gara-gara dendam masa lalu Ibu, Audia, penulis partitur kebanggaan kami, sekarang terbaring di rumah sakit. Sekarang terserah Ibu, apakah Ibu akan melaporkan kami karena melawan, atau apalah terserah...”
Bu Broto terkejut.
“Iya, Bu. Ibu perlu tahu, membuat partitur itu tidak semudah menyalin isi buku ke papan tulis. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Lalu, dengan seenaknya Ibu meminta kami mengganti aransemen secara instan... padahal...”
“Cukup, Nak. Cukup. Ibu minta maaf. Ibu benar-benar minta maaf. Ayo, sekarang antar Ibu ke rumah sakit. Ibu ingin bertemu dengan Audia.”
Divan dan Sanjaya berpandangan. Lalu, ada senyum mereka di wajah mereka. Senyum yang juga mungkin akan merekah di wajah seluruh anggota paduan suara Bianglala. Lagu “Dan Bernyanyilah” yang dilantunkan oleh Musikimia pun melatari kebahagiaan mereka sore itu.***

Selesai