10 January 2009

Kawah Putih Season 2: Lebih seru!





Tanggal 4 Januari yang lalu, aku dengan temen-temen kantor jadi main-main ke Kawah Putih Ciwidey. Bagiku, ini adalah kali kedua mengunjungi tempat wisata yang keren banget lah. Tapi, bagi Nurul, temenku yang menggagas acara ini, ini adalah kali pertama... (kamana wae atuh, Ne?)
Nah, kali ini peserta yang ikut, yaitu diriku si Igit McCartney, Nurul, Indra Gokil, Indra Dwi, Hada, Aci, adikku Mardian, Dian Hartati, dan Mambo. In the morning, kami semua kumpul di depan kantor GMP, tepatnya di warung Pak Engkos. Kami kumpul sekitar jam delapan karena khawatir akan terjebak kemacetan yang edan. Maklum, ini kan lagi masa-masanya liburan sekolah adik-adik kita yang lucu... YUUU...
Jam delapan lebih sedikit, kami semua sudah kumpul, kecuali Dian Hartati yang konon terjebak macet dan hanya bisa pasrah di dalam angkot, kemudian Mambo yang akan menunggu kami di depan Margahayu Permai. Akhirnya, Dian Hartati datang juga! (asa nama acara TV). Lalu, kami pun segera berangkat. Aku semotor dengan adikku, Gokil semotor dengan Nurul, Hada semotor dengan Dian Hartati, lalu Indra Dwi semotor dengan Aci.

Dari jalur Soekarno-Hatta, kami ngambil jalur Cibaduyut yang tembus ke Sukamenak. Katanya sih biar nggak terlalu macet seperti di Kopo. Tapi memang terbikti kok waktu aku dan kawan-kawan pulang dari nikahan Anggita. Memang aku sampai lebih cepat dibanding kawankawan lain yang lewat Kopo, yang setahuku sebelumnya ada jauh di depanku. Nah, di Margahayu Permai, Mambo pun turut serta.
Alhamdulillah, hari sangat cerah, ya secerah hatiku dong, The Green Jomblo yang lagi merumuskan gelar baru dalam bidang perjombloan (naooooon deuih?). Perjalanan pun lumayan lancar, walaupun lebih padat dibandingkan saat perjalanan Kawah Putih sebelumnya (dengan Brel, Ria, Ojak, dan Uli). Maklum, seperti kubilang tadi, lagi musim liburan sekolah dan baru aja libur panjang tahun baru 2009. Betul?
Daaaaan.... kami pun sampai di lokasi Kawah Putih sekitar jam 11 (silakan koreksi kalo salah). Waw, rame banget. Ya iyalah rame, kalo mau sepi, liburannya ke makam aja.... hehehhe....







Oiya sekedar mengingatkan, Kawah Putih ini terletak di Gunung Patuha. Setahuku, kalau tidak salah, Gunung Patuha ini ada di sebelah barat Pegunungan Malabar, di mana terdapat Gunung Puntang dan Curug Siliwangi. Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua atau ”Patua”. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh. Dulu, kawasan ini dianggap angker, lho. Bahkan, nggak ada seorang pun yang berani datang. Hiiiy.....Nah, di Gunung tersebut ada dua kawah, yaitu Kawah Putih dan Kawah Saat.
Tetapi, pada 1837, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman melakukan penelitian di kawasan ini. Setelah menelusuri hutan Gunung Patuha, akhirnya ia menemukan sebuah danau kawah yang suaaaangaaat indah. Dari kawah itu keluarlah belerang beserta gas yang baunya sangat menusuk hidung (aku juga sempet batuk gara-gara ngisep uap belerang, tauuu).

Oleh karena itulah, kemudian di tempat itu sempat dibuat pertambangan belerang bernama Zwavel Ontgining ‘Kawah Putih’ yang pada zaman Jepang,berganti nama menjadi Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey.


Katanya sih, di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Tapi, kami belum sempat ke sana.
Nah, di tempat itu konon sering dijadikan tempat pertemuan para leluhur. Tepatnya di Puncak Kapuk, salah satu puncak Gunung Patuha. Selain itu, di tempat ini katanya sih terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang disebut domba lukutan. Hummm..... jadi asa muringkak....

Bay de weeeey..... kami pun membeli tiket. Satu orang harus membayar 11 ribu. Motor 2 ribu rupiah. Ntar di atas, harus bayar parkir lagi 2 ribu.
Seru banget lah acara Kawah Putih kali ini. Selain menjalani rutinitas utama, yaitu FOTO-FOTO (TOWEEEWWW!), kami juga melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan, yaitu mengelilingi seluruh wilayah Kawah Putih. Kami menyusuri jalan-jalan berbatu di pinggiran kawah.

Jika dilihat dari sisi yang paling dekat dengan pintu masuk, kupikir dinding gunung yang ada di bagian utara kawah tidak bisa dilalui. Ternyata, bisa. Hanya saja, saking jauhnya, jadi tidak terlihat bahwa di ditu ada jalan kecil yang dikelilingi bebatuan. Kami yang belum tahu, memberanikan diri. Mambo memimpin kami di depan. Sementara, di belakang, jauh tertinggal teman-teman yang lain, aku sibuk mengambil foto dan video di sekitar. Nggak lupa donk, foto-foto sendiri (KEMPLAAAANGGGG!). Di belakang, aku jalan bareng Indra Dwi.

Aku menemukan beberapa celah yang mengeluarkan asap. Setelah kuhampiri, ternyata asap itu berbau belerang (sempet batuk-batuk dan sesak napas taWu gara-gara menghirup asap itu). Nah, aku juga menemukan beberapa lubang yang cukup besar. Ternyata di dalam lubang itu ada air yang terlihat mendidih. Hummm.... nggak ngerti juga sih, kok bisa. Bahkan di sebelah sono noh... ada selingkaran, kayak kolam, yang masih nyatu sama kawah keseluruhan, tapi airnya terlihat mendidih dan berasap. Sementara di sisi lainnya, ada lagi semacam kolam, tapi pas aku sentuh airnya, ternyata dingin banget. Aneh, kok bisa beda-beda ya? Entah.

Di perjalanan itu, kami melihat batu-batu yang suaaangat gede. Wah, bahkan ada beberapa yang terlihat hampir jatuh menggelinding ke arah kawah. Sementara, kami dengan cueknya lewat gitu aja di bawah batu-batu itu. Tapi, alhamdulillah, so far so good. Walaupun beberapa kali aku melihat bongkahan batu jatuh karena terinjak. Setelah berjam-jam melakukan perjalanan itu, kami pun sampai di sisi kawah semula, yup yang deket dengan pintu masuk.







AKhirnya, karena semakin sore, kami memutuskan untuk pulang. Mana belum sholat Zuhur. Kami pun menuju tangga keluar. Kami berpapasan dengan sebuah gua tambang belerang yang bauuu banget. Di mulut gua ada semacam warning yang mengatakan bahwa kami tidak boleh terlalu lama berdiam di mulut gua karena it’s very dangerous please do not try this at home (NAOOON SEEEH?)






DI dekat pintu gerbang utama, yang ada plang Kawah Putih gude, kami sholat zuhur. Setelah itu, beberapa di antara kami ada yang belanja strawbery dengan harga murah, yaitu 5000 per bungkus (ukuran besar). Nah, abis itu, kami pun melanjutkan perjalanan pulang.

Tadinya, kami mau makan dulu di tempat yang direkomendasikan Aci, namanya kalo nggak salah... Saung Liwet. Tetapi eh tetapi... Aci lupa tempatnya. Jadi weh, kami makan di tempat lain. Namanya Rumah Makan Sindang Ponyo 2 yang menyajikan menu andalannya Sambel Hejo. Kenapa aku tahu itu menu andalan? Soalnya, di plang rumah makan itu ada tulisan “Sambel Hejo” ngajeblag. Kami pun makan ayam bakar, ayam goreng, tempe, tahu, perkedel kentang, lalab, dan secengkir teh panas. MUANTAP! MAKNYOSS!!! Per orang menghabiskan dana sekitar 14 ribuan. Hummm...

Nah, aku juga nggak lupa beli oleh-oleh buat my mother dan my sister. Aku beli kalua jeruk dan manisan stroberi. Heeeu... all about stroberi euy... WAH kayaknya harus mulai ngelirik “The Strawberry Jomblo” Wk wk wk... cewek pisaaaan...




Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami singgah dulu di stadion Jalak Harupat geura gede geura lumpat....(apa seeeh?). Ngomong-ngomong tentang jalan Cipatik di mana stadion ini berada, aku jadi inget masa lalu. Yup, di prjalanan Ciwidey sebelumnya, aku sempet nyasar in the night ke daerah ini. Syukurlah aku cukup cerdas dalam mencari jalan pulang, hehehe... itu dulu, waktu aku masih cakep (NAOON DEUIH?)



Lalu, kami pulang melewati rute yang tak biasa... maksudnya jalan yang belum pernah kami lewati. Kami lewat daerah CItarum gituh. Kayaknya sih aku lewat daerah yang sering disebut sebagai Kampung Mahmud. Soalnya aku ngeliat tempat ngetem angkot Mahmud – Tegalega.

Oiya, aku juga sempat melihat lanskap keren dari Gunung Burangrang dan Tangkuban perahu. Keren juga kalau dilihat dari Soreang.
Naaah... ternyata eh ternyata, jalan yang kami tempuh tembus ke Margahayu Permai. Yup, deket rumahnya Mambo dan Kang Adi yang beberapa waktu lalu dijadikan tempat buka puasa bersama kawan-kawan GMP.







Udah itu... terus deh ngacir nyampe rumah sambil singgah dulu menikmati senja di tempat favoritku, Bandara Husein Sastranegara.
Pokoknya, Ciwidey season 2 ini seru banget. Full of smile dan nggak ada satu hal pun yang bikin bete. Aye aye... Nah.. coming soon.... CURUG SILIWANGI (Insya Allah, manawi pareng)

Tentang Malam Tahun Baru 2009

Malam tahun baru 2009, aku nggak ke mana-mana. Cuma kumpul-kumpul aja di rumah sama keluarga dan temen-temen GMP. Ada Bayu, Gokil, Indra Dwi, Cimey, dan Toni. Selain itu, ada juga sepupu-sepupuku dari Jakarta dan Bekasi. Ada Anis, Reva, dan Ayu.






Tadinya sih, aku mau ikut acara temen-temen di rumahnya Engkom (temen kuliah) di Punclut. Itulah rencana Nondik Satrasia 02. Tapi, sampai tanggal 30, aku belum dapat kepastian tentang rencana itu. Sementara, aku juga harus mastiin acara kumpul-kumpul sama temen-temen kantor di rumahku, jadi apa nggak.
Nah, tanggal 30 pagi, Ria nge-sms ngasih tau “Reka ngajak ke Pangandaran pake mobilnya, tapi cuma cukup buat 8 orang”. Humm... finally kami merumuskan usulan bahwa pergi ke Pangandaran hari Jumat sore. Tapi pake bus, soalnya ternyata Reka nggak siap kalau bawa mobil sejauh ke Pangandaran. (NAH LHO... JADI KABAR TENTANG MOBIL UNTUK 8 ORANG DARI MANA?). Tapi no problemo... masih bisa pake bus. Itulah pembicaraan terakhir aku dengan Ria.

Ya sudah, berdasarkan pembicaraan itu, aku ambil kesimpulan, kalo acara kumpul-kumpulnya digeser jadi pas ke Pangandaran. AKu pun muguhkeun ke si Gokil kalo malem tahun baru bisa kumpul di rumah aku. FIX.
Eh, tiba-tiba aku dapat kabar, kalo kumpul di rumah Engkom jadi. Wah wah wah... gimana neeh....? AKu terlanjur muguhkeun. Lagian Mama juga udah siap-siap di rumah. Jadi we nggak ikut.

Euheu... udah mah nggak ikutan, aku dianggap nggak sabaran lagi. Padahal, aku bukan nggak sabaran. Aku mengemban kepentingan orang banyak. Aku bukan orang free yang bisa di”pake” kapan aja. Wak... wak.. wak.... emangna naon? Yups, itu dia masalahnya... kepastian dari Ceu Panitia tentang acara di Engkom datangnya telat. Dan aku nggak mugkin nunggu lebih lama lagi karena ada pihak lain yang juga nunggu kepastian dari aku. Harap maklum. Yah, kalo pada ngerti itu juga seeh... kalo nggak mah, TAFADHOL we nya...

Tapi alhamdulillah.... tahun ini aku bisa nemenin keluargaku di rumah. Kebayang, tahun lalu, aku ke Sumedang, Rani ke Purwakarta. Di rumah, ibu dan adik bungsuku bersama keluarga bibi only. Hummm. berarti emang tahun ini aku harus kumpul sama keluarga pelangiku dan beberapa temanku.
Nah, sorenya, aku jalan-jalan dulu ke Braga Festival dengan Indra Dwi. Nggak lama kemudian, Gokil nyusul. Abis itu, kami ketemuan dengan Bayu di masjid al-Ukhuwah dan langsung caw ke Sarijadi.

Tawu nggak, malam itu banyak jalan yang ditutup. Gara-gara itu, kami sempet muter-muter kukurilingan di daerah Pasar Sederhana dan Cipaganti. Tapi, alhamdulillah salameeuuut.




Malemnya, Toni dan Cimey dateng. Teruss,,, ya gitu we biasa.... bakar2 ayam dan sosis pake resep Kang Adi. Terus ikut raramean sama tetangga-tetangga. Ada yang bakar petasan, kembang api, bahkan Mang Ade tetangga depan rumahku bikin petasan pake karbit. Hasilnya? Mirip ledakan bom yang GOKIL bikin kaget. Bahkan, getarannya sampe ke kaki. Hiiiy.. ngeri... jadi ngebayangin bom beneran. Naudzubillah.
Nah abis itu.... kami nonton DVD deh di kamarku. Tapi Gokil mah ngorok duluan. Wah, biasa pagulung-gulung coz kamarku kan sempit banget.







Hummm... alhamdulillah... nyampe juga di tahun 2009. Ya Allah, semoga tahun ini lebih baik dibanding sebelumnya dalam segala hal. Amiin.