29 December 2008

BIRTHDAY GREETING FOR ME

Ini nih... keluarga dan temen-temen yang ngasih ucapan "selamat ulang tahun" di usiaku yang ke-24. Ada yang via SMS, live (jabat tangan dan telepon), juga lewat testimonial Friendster. Kayaknya sih ada juga yang ngucapin dalam hati karena malu... wak.. wak.. naooon deuih...
THANKS FOR ALL...


LEWAT SMS


21-12-08
Fina Sato
14:20

Wilujeng milangkala nu ka-24. Mugia disarengan bahagia dunia akherat. Amin...



22-12-08
Taufiq Nurdiansyah
00:00

H@ri ini milikmu sepenuhnya selamanya... jalani semua dengan semangat & senyuman
“Met Ult@h!!”


Indra Gokil
04:28

Igiw..
hari ini ulang tahun ya...?
met ultah ya....
moga panjang umur dan lancar rezeki...
met hari ibu juga, he2




Uliw
05:52

Giw, kemaren Allah bersama Giw. Hari ini Allah bersama Giw dan esok pun Allah tetap bersama Giw. Met Milad. Semoga Giw selalu disayang Allah , dapat yang terbaik dalam hidup Giw dan usianya barokah. Keep smiley... ;)




Nci Watiah
05:53

Wah, yang bener Giw! Status Green jomblo, dah siap kamu lepas?
Si mamat lagi ulangan di kebun. Selamat ulang tahun... Semoga dapat yang terbaik...





Henni
08:39

Hari ini bertambah 1 tahun usiamu. Semoga berkah dan karunia-Nya tetap tercurah untukmu. Lancar rezeki n cepet nikah, hehe... (salam buat mamah, met hari ibu!)






Ria
09:03

Igiw is coming... to 24 :)
congratulation!!
May Allah bless U with a success n prosperous life... Happy Birthdat :)



Fina Sato
09:05

Igiiiw! Met ultah ya, today? Congratulation!
(kemarin aku kecepetan ya ngasih ucapan selamatnya. Dah nggak tahan sih!, hehe)



Irceu
16:37

Git met b’day ya... Moga kau +jaya +sukses +berkah hidupmu dunia akhirat. Happy b’day



Tresna Ismaya
17:57

Git, punten ga bisa dateng lagi belanja alat sekolah untuk yang dapet beasiswa. :)
Selamat ultah!



Bajay
19:28

Met ultah ya...
semoga sukses dalam karir, lancar dalam keuangan, selamat dunia akhirat. Amiin.




Tias
20:30

Git, sori. Baru beres dirapatin. Kerjaannya dikasih ke yg lain. Kendalanya jarak kmu kejauhan dari sini.
Met ultah ya.
(dikutip dengan penyesuaian)




LEWAT JABAT TANGAN DAN TELEPON


Mama



Rani



Mardian



Mamih



Bi Yayah



Mang Enung



Nurul



Fitri



Rojak




LEWAT FRIENDSTER


ve NEW


Posted 12/21/2008 2:48 pm
wish u the best git,,, ;D


umar

Posted 12/22/2008 5:08 am
Diantos makan-makannya ya ghiw.....i am waiting...ghiw..ghiw ..mana? Btw kamu ke mana aja sih seharian aku gak liat...makan-makan dunk. Bae di baso semangat ge...hehehe ^_^


kristine

Posted 12/22/2008 8:44 am
Met milad ghiw. Smga Allah mmbrkahi usia mu. Makin bijak & hati2 dlm bertndak, mkin dwasa dlm berpikir. Aminn...



amie

Posted 12/22/2008 9:21 am
Ha, igit.. hepi bdae yaa...moga makin dewasa (halah..) dan sehat slalu yaaa... salam sukses! ditunggu makan2 nya huihihihiii....



MyImmortal

Posted 12/22/2008 10:39 am
Happy b'day igit!!wish ur life full of HIS blessing!
Ttp lutu.... Ya!


Reny


Posted 12/23/2008 3:51 am
reny dan iyep nunggu makan2nya yak



Tiii_taa

Posted 12/23/2008 4:35 am
Wilujeng tepang taun, sorry telat sehari tp moga makan2 gratisnya ga tlat hihihi
Wish all d best 4 u.

26 December 2008

Estro, Inikah Akibat Pengkhianatanmu?


(Sumber gambar:www.flippermusic.it)

Estro..
malam hanya bersisa curiga dan ragu
saat bintang mengkhianati perjanjiannya dengan angin
saat kontemplasiku sulit menembus imajinasi

ada rintih luka yang enggan kusepakati selamanya

Estro, inikah akibat dari pengkhianatanmu terhadap bumi dan langit?

21 December 2008

Titik ke-24

Assalamualaikum...
Akhirnya, sampailah aku di titik ke-24. Bayang-bayang masa lalu berkelebat. Banyak hal yang membuatku takjub tentang hidup ini. Subhanallah. Aku bisa sampai di titik ini tentunya karena rengkuh cinta-Nya.
Ya Allah...
Kali ini aku hanya ingin memanjatkan syukur atas segalanya. Atas kesempatan, cinta,keluarga, semangat, persahabatan, dan semua hal yang pernah ada.

Ya Allah...
Terima kasih karena Engkau menjadikan aku terlahir dari rahim Mama. Dibesarkan oleh cintanya dan kebijakan almarhum Papa yang akan terus hadirkan kejutan di langkah-langkahku selanjutnya. Ya, terkadang ada banyak hal yang dulu tak kupahami dan kusepakati, kini baru kusadari maknanya.
Terima kasih karena Engkau memberiku kesempatan untuk berbagi kasih sayang dengan kedua adikku. Terima kasih atas indah pelangi di rumah singgah yang akan selamanya membekas di jagat hati.

Ya Allah...
Terima kasih karena Engkau memberiku kesempatan untuk belajar memaknai arti persahabatan dengan semua kawan-kawan yang selama ini mengiringi langkahku. Mereka kawan-kawan terindah dalam hidupku.

Ya Allah...
terima kasih atas segalanya

mereka cintaku, mereka kekuatan dan semangat hidupku....

Terima kasih Ya Allah...
Semua yang telah kualami tidak akan tergantikan oleh apapun.

Semoga cinta-Mu selalu melindungi kami di jejalan batu terjal kehidupan.

Salam semangat!

Ighiw...

14 December 2008

Kabut di Curug Cijalu

13 Desember 2008

Nggak nyangka... hari ini bakal jadi hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Yups, aku ikut temen-temen berkunjung ke Curug Cijalu. Pesertanya, yaitu Bayu, Indra Dwi, Gokil, Hada, dan Cimey. Tadinya kami hanya mau survey lokasi untuk kegiatan tadabur alam (cieh) dengan teman-teman lain (mungkin sekantor). Tapi, yah, kalaupun kelak kegiatan itu nggak jadi, yang penting kami udah sempat menikmati keajaiban alam di sini.

Curug Cijalu... sebetulnya bukan nama yang asing buatku. Tiga tahun yang lalu, aku sempat berencana berkunjung ke tempat itu dengan temen-temen KKN. Tapi, alhamdulillah aku baru bisa ke sana saat ini.
Lokasinya ada di Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang. Ya, cukup bertetanggaan dengan Desa Cikujang, tempat KKN-ku dulu. Seingatku, bagian selatan Desa Cikujang berbatasan dengan Desa Cipancar.
Curug Cijalu ini terletak pada ketinggian 1.30m dpl, konfigurasi lapangan umumnya bergelombang. Kawasan ini mempunyai curah hujan 2.700mm/th dengan suhu udara 18-26C.



Pukul 10.00 pagi kami berkumpul di depan gerbang kampusku (UPI). Aku sedikit terlambat karena harus menyelesaikan dulu pekerjaan (ada deeeh... hehehe). Kami berangkat mendaki gunung lewati lembah (NINJA HATORI KALEEE)... Kami menyusuri jalan Dr. Setiabudi ke arah Lembang. Terus... terus... terus... sampai deh di Subang (masih cukup jauh dari kota). Lalu, kami mengambil jalan memotong melewati Desa Cicadas hingga sampailah kami di alun-alun Kecamatan Sagalaherang. Wah, sedikit-sedikit, ingatanku tentang pengalaman KKN 3 tahun yang lau berkelebat. UUHH... kangen suasananya... kangen aroma rumput di sore hari... kangen jalan gelap melewati kuburan dan hutan bambu di malam hari hanya dengan berbekal senter. Kangen anak-anak yang mengerubutiku saat kami berlatih kabaret, kangen aroma hawu, dan sambal buatan Bu Sekses, daaaan setumpuk kenangan-kenangan lainnya....






Sampailah kami di sebuah warung di salah satu jalan menuju Curug Cijalu. Kami beristirahat sejenak sambil ngemil semangkuk mie ditambah bakso (ngemil? maksud looo??). Terus ada yang pipis sembarangan lagihh... (FOTONYA AKU PASANG YAAAA? hahahaha!). Bensinku nyaris habis. Aku lupa mengisinya. Tapi ya nggak masalah... kalo abis tinggal nyelang dari motornya si Gokil, kan tangkinya GUDE... hehehehe.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Di pintu gerbang, kami membeli tiket. Harganya satu motor Rp10.000. Tapi, jika satu motor ditumpangi 2 orang, bayarnya Rp16.000. Jadi, aku harus membayar Rp8000.

Di sisi kiri dan kanan jalan, aku sering melihat bongkahan batu besar. Entah batu kali atau apa. Tapi, batu-batu itu mengingatkanku pada letusan Gunung Sunda (yang konon menjadi cikal bakal Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Burangrang) ribuan tahun lalu. Jangan-jangan, batu-batu yang ukurannya sebesar 5 sepeda motor ditumpuk itu adalah muntahan dari perut bumi saat sang gunung raksasa meletus. Atau bisa jadi itu adalah hasil dari letusan Gunung Tangkuban Perahu yang terjadi setelahnya. Setahuku, gunung itu sudah tiga kali meletus (sumbernya kudapat Bandoeng Tempo Doeloe, alm. Haryoto Kunto). Terus apa letusan kedua gunung itu ada kaitannya dengan terbentuknya curug Cijalu? Entah... wah, kadang pengen banget cari tahu. Tapi, aku nggak punya skill dan kapasitas untuk itu, hehehe...). Aku hanya sebatas penikmat keajaiban alam. Paling-paling hanya bisa kuungkapkan lewat tulisan (itu juga kalo mood).

Jalan menuju kawasan curug cijalu, asik-asik gimanaaaa gitu. Motor aku sampe koclak-koclak karena jalan yang kami lewati full of rocks! Penuh bebatu! Berkali-kali aku tergelincir dan Mas Indra Dwi yang kubonceng terpaksa harus turun berkali-kali, sekadar meringankan beban yang diderita motorku atau mendorong motorku yang rodanya terganjal batu-batu mbo papo.

Aku ingat, ada dua ibu pemetik teh yang ikut prihatin (maksud looo?) melihat penderitaanku.

"Aduuh, kasep tong dicandak atuh motorna mah... palaur... bilih geubis...!"

artinya...

"Aduuh, ganteng... jangan dibawa donk motornya... serem ih... takut jatooh tauuu..." (buset, gaul pisan si ibu... mana bilang aku ganteng lagi.... WAK WAK WAK!)

Setelah berjuang sekuat tenaga, finnaly sampe juga ke parkiran motor.
Sialan, aku dibilang mirip wayang golek sama Bayu. Bukan wayang golek tauuu... tapi bebegig! Wak222! Motor pun kami parkirin. Yah, si merah au suruh istirahat dulu. Kasian. Lagipula besoknya mau aku ajak ke nikahan Kang Oman di Majalaya.



Nah, akhirnya kami semakin dekat curug Cijalu. Setelah selesai sholat Duhur di mushola kecil yang dihinggapi banyak jaring laba-laba, kami pun kembali melangkah.
Daaan... sampailah kami di curug Cijalu.
Wah, subhanallah.. indah sekaaaaaliiii (pake logat Ulie). Udah lama banget aku nggak main ke waterfall kayak gini. Jangan-jangan terakhir aku main ke air terjun 8 tahun yang lalu pas ke curug Siliwangi Gunung Puntang. Lupa.
Di tempat itu aku sempat terganggu juga sama sepasang kekasih yang lagi pacaran. YEEE... yang ada juga mereka yah yang keganggu oleh kehadiran cowok-cowok keren dari Bandung ini. Secara... THe Green Jomblo suka agak terganggu dan senewen aja kalo liat orang pacaran di tempat umum. Hahaha... terganggu atau sirik niiihhh?

Di sana... saking senengnya, aku basah-basahan. Pokoknya aku abisin dah! Dingin, dingin, nggak peduli. Eh, tapi ternyata... beberapa puluh meter masih ada air terjun lain yang lebih dahsyat! Euh... hanas bebeakan...

Tapi, ya ampun... Allahu Akbar. Bener-bener karunia illahi. Air terjunnya sangat indah. Lebih indah dari air terjun pertama tadi.


Tentang Gadis-Gadis Pramuka

Biasa, kelakuan cowok-cowok jomblo. Di manapun NGECENG sampe puyeng. Apalagi si gokil bin omes. Hehehe. Yups, di sana ada sekelompok anak-anak abg cewek yang pada pake baju pramuka. Kayaknya siy balik sekolah langsung pada main. Hum... nggak salah lagi, langsung deh para paparazi manfaatin kesempatan untuk ngambil gambar "para bidadari yang lagi mandi".


Setelah cukup puas dan lelah menikmati (sebenernya malah sibuk foto-foto) keindahan alam Cijalu, kami mutusin untuk pulang. BRRRR... dingin banget. Mana celanaku basah pula.

Kami melalui jalur yang sama kaya pas berangkat. Tapi, di alun-alun Kecamatan Sagalaherang, kami memilih jalur menuju jalan Cagak, bukan jalur desa Cicadas lagi. Ya, jarak memang terasa lebih jauh, tapi lebih nyaman aja.

Kami kemudian singgah di warung bandrek langganan yang ada di pinggir jalan raya Lembang-Subang. Aku makan semangkuk mie goreng telur dan minum segelas bandrek susu. MANTAAAAP!!! Berselimut kabut pula!

Wah, pokona mah lumayan rame lah... Meskipun kabut merengkuh, ada sejumput pendar hangat penuh bahagia yang bisa kurasakan. Hahahaha!!!

09 December 2008

Puisi Sigit Rais (Desember 2008)

Perempuan Dusta dan Lelaki Buta

menjulurlah lidahnya di bawah purnama
suaranya adalah lolong anjing betina di gelisah estrus
matanya nyalang mencari mangsa
mencari bocah cacat yang perlahan dicabiknya dengan buas

dari sela giginya lahir kata-kata dusta
yang disulap dari setangkup kisah tentang matahari palsu
tentang lelaki yang murung di bawah lipatan muram bumi
yang dimasukkannya ke dalam legenda sebagai dedemit pelahap anak kecil

dipasangnya wajah gelisah di tepi jalan kisah
orang-orang yang singgah berikan iba
nyalanglah mata mereka menatap sang lelaki yang buta
seisi bumi larut dalam sajak-sajak palsu tentang pengultusan harga diri

lelaki buta melangkah sendiri
menghimpun lilin yang dituainya di jalan-jalan sunyi
sehingga bisa terkumpul sebagai terbit fajar

perempuan dusta makin menjadi
tebarkan gara-gara di sepanjang usia hijau rerumput
bersanding iblis tiada beda
dan lelaki buta hanya bisa melahap curiga

lalu
sampailah mereka di bagian akhir cerita
lelaki buta tak kan selamanya buta
lilin-lilin yang dituainya menjelma gemerlap angkasa raya
jadi petunjuk malaikat atas kepalsuan yang meradang
terbukalah busuk hati sang perempuan dusta

diam-diam
tanpa disadarinya, lelaki itu telah menjadi arjuna
pasupati yang dulu dicuri dan dihujamkan ke arahnya
berbalik mencabik kejemawaan sang pendusta

kini,
lelaki yang tak lagi buta itu menanti akhir rengkuhan kelam malam
dalam lembut ombak di halus permukaan samudra hatinya

2008



Para Lelaki Penjelajah Rasa

kami baru saja bermandi terik matahari
tapi penjelajahan belum usai
di belakang kami berderet purba kenangan yang
melekat di legam waktu

riuh kota tak lagi kami cari
semerbak mawar kami biarkan usai bersama geliat angin
tak ada lagi waktu untuk bersimpuh di sungai rasa sakit

maka
berlarilah kami ke arah rimbun bukit-bukit
kami ksatria berkuda yang beriringan ke medan perang
saat sampai di puncak, kami bersulang rayakan kemenangan

di batas petang yang menjingga
luka masa lalu hanya lelucon yang pantas ditertawakan

2008



Estro, Aku Akan Bercumbu dengan Angin

bernyanyiku pada keping jejatuh hujan
angin menggodaku
ia menyentuh kulit sehingga terbitlah hasrat di sekujur rasa

estro, tidakkah kau tanam akar-akar cemburu?
bercokol sebagai parasit
tumbuh ke arah lagit yang dipenuhi rindu dendam

angin buatku menggelinjang
menarikan tarian rekah bebunga di taman
dan melepas kesumat gelisah di bawah tetesan darah

estro, masihkah kau bertahan?
lihatlah, aku akan bercumbu dengan angin
luapkan angan di sepanjang halusinasi tentang musim
membakar diri dalam turbulensi kata hati

estro, akuilah kalau kau sedang menuai cemburu
lalu kembalilah padaku
karena angin tak mampu puaskan dahagaku di gurun cinta

2008



Medusa

kumandangkanlah ke setiap penjuru mata angin
tentang sakitku yang membuatmu jemawa
atau taburkanlah ke hamparan ladang gersang
kisah aku yang kau lumuri dengan bisa ular-ular di kepalamu

berabad aku tertatih
membangun istana indah beratapkan ketulusan
mawar tumbuh di taman
menjalar, sampai ke kolam berisi jernih air

tapi gilamu, medusa
runtuhkan istana sampai berkeping-keping
layukan tetumbuh mawar di batas hidup dan mati

napasmu

tebarkan aroma hasut di telinga setiap peri
ular di kepalamu menjulur-julurkan lidahnya

jangan pikir kau bisa lolos dari kurusetra
hujaman curiga selamanya akan menghunus ke arahmu

2008




Hujan Itu Telah Kau Bawa Pergi

sayup kudengar ocehan malam
tentang hidup yang tergaris pada kerut wajah seorang bunda
lamat suaramu terbit di horison percakapan hangat itu
ingin kupastikan bahwa itu adalah dirimu
yang selalu datang membawa pendar kegembiraan
meskipun tersungkur di bawah geliat hujan

ingin kudatangi gigilmu
memelukmu dengan kehangatan semesta raya
tumbuhkan tunas di kepala batumu
nyalakan lilin di beku hatimu

dan di bibirmu ingin kusimpan kisah yang
terurai dari ranum bibirku sendiri

aku terbangun dari mimpi
suaramu menyata
tetapi, di segala ruangan kosong yang kusiapkan kau tak ada
kau telah pergi
dan
hujan itu telah kau bawa pergi

2008




Hujan di Hamparan Hijau

kau membawaku ke hamparan hijau yang
kumaknai sebagai mula permainan hati
ketika terik mentari bercampur gelisah
diam-diam hujan mengintai di balik awan

aku menengadah
sambil menarikan tarian pemanggil hujan
agar hujan hentikan pengintaian
agar hujan jatuh sebagai penepis ragu dan cemas
agar hujan menjadi kawan bagi gurun yang sepi

dan hujan pun turunlah
mengantarkan kisah tentang ribuan musim yang usai dilalui
kepingan mimpi yang terurai menjadi pendar harapan
semangat muda yang meletup bagai dentum petasan

hujanmu ternyata hanya dongeng pengantar tidur
buaian sebelum aku larut dalam mimpi

hujan turun dengan sejuta makna
dan hujanmu adalah untaian kisah tentang dua bocah yang
saling menemukan dalam rajut persahabatan

2008

22 November 2008

Penyegaran Antusiasme Terhadap Sastra

oleh Sigit Rais


(sumber gambar: http://www.archaeologyonline.net/indology/sastra-reading.jpg)


Ada kekosongan penelitian tentang pembelajaran transformasi cerita rakyat ke dalam sastra modern di sekolah. Sepertinya hal itulah yang hendak disampaikan oleh Pak Sumiyadi (dosen pembimbing skripsi saya) dalam tulisannya yang berjudul “Cerita Rakyat dan Masalah Pembelajarannya” pada lembar Khazanah, Pikiran Rakyat 12 Maret 2005 beberapa tahun yang lalu. Penempatan cerita rakyat ke dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah memang dilematis. Di satu sisi, cerita rakyat sebagai sastra daerah adalah bagian yang juga harus diperkenalkan pada siswa dalam rangka mengenal khazanah sastra Indonesia. Dalam hal ini, tranformasi bahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia sebagai penasionalisasian sastra daerah sangat perlu digiatkan, mengingat hanya sedikit sastra daerah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, kemunculan sastra-sastra modern yang berintertekstual dengan cerita rakyat, memang membantu memublikasikan sastra daerah yang selama ini “bersembunyi”. Akan tetapi, berbagai modifikasi yang ada di dalamnya, baik berupa watak tokoh, akhir cerita, dan aspek lainnya bisa membingungkan siswa karena tidak sesuai dengan cerita aslinya (tidak bertransformasi secara normatif). Mungkin yang dapat dijadikan contoh adalah cerita pendek “Malin Kundang 2000”. Perbedaan ending antara cerpen ini dengan cerita aslinya dapat membingungkan siswa yang belum diberikan pemahaman tentang intertekstual, hipogram, dan berbagai istilah lain yang berkaitan dengan transfomasi teks.
Seperti yang dikemukakan oleh Pak Sumiyadi, dalam menyikapi masalah ini memang diperlukan pemetaan karya sastra Indonesia yang bersumber dari cerita rakyat sehingga ada semacam pemisahan (klasifikasi) dari segi genre, media, dan hipogram yang dilanjutkan dengan penelitian lapangan agar diperoleh model tepat.
Berbagai upaya untuk memperbaiki sistem pengenalan dunia sastra kepada masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah, yang salah satunya dikemukakan oleh Pak Sumiyadi memang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan kesusastraan di Indonesia. Karena melalui kesusastraan akan tampak sejauh mana keanekaragaman budaya bangsa kita. Dengan kata lain, sastra mencerminkan kekayaan kebudayaan yang mengindikasikan maju tidaknya peradaban bangsa kita.
Yang jadi permasalahan adalah antusiasme masyarakat (termasuk siswa sekolah) terhadap sastra. Apakah dewasa ini sastra masih jadi salah satu sumber yang memberikan pelajaran tentang kehidupan? Karena pada kenyataannya hanya sebagian masyarakat saja yang masih setia jadi penikmat sastra. Terutama di masa kemajuan dunia pertelevisian seperti sekarang ini. Berbagai tayangan televisi di mana tidak semuanya baik untuk dilahap telah jadi idola di tengah-tengah masyarakat dan membuat kesusastraan cukup termarjinalisasikan. Oleh karena itulah diperlukan adanya penyegaran antusiasme terhadap sastra. Beruntung masih begitu banyak aktivis sastra, baik sastrawan, penyair, novelis, cerpenis, kritikus sastra, peneliti sastra, penggiat pagelaran sastra, komunitas penulisan sastra, dan penggiat sastra lainnya, yang secara sadar atau tidak telah sedikit demi sedikit membangkitkan kembali dunia sastra di Indonesia. Dan kelak tidak tertutup kemungkinan bahwa sastra akan jadi salah satu idola banyak masyarakat macam dunia selebritis sekarang ini.
Begitu pula halnya dengan sastra di kalangan siswa sekolah. Karena siswa adalah bagian dari masyarakat, maka gejala yang terjadi pun tidak jauh-jauh dari gejala masyarakat yang penulis kemukakan di atas. Saat ini begitu banyak hal yang eye catching di mata siswa yang membuat mereka mengesampingkan sastra. Padahal penyampaian materi sastra dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sangat bermanfaat dalam menerampilkan berbahasa, meningkatkan cipta dan rasa, menghaluskan watak, dan menambah pengalaman budaya siswa (Moody, 1971), hal ini juga disampaikan oleh Pak Sumiyadi. Sebagai bukti, lihat saja watak siswa zaman sekarang ini.
Dalam hal ini yang dibebani tugas adalah para pengajar. Merekalah yang dituntut untuk bisa menyegarkan antusiasme siswa terhadap sastra serta menumbuhkan ketertarikan dan kedekatan mereka tarhadap sastra (prosa dan puisi). Karena kedekatan siswa dengan sastra pun adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan dari berbagai penelitian pembelajaran sastra di sekolah yang dikemukakan di awal. Sehingga kelak sastra akan muncul sebagai sesuatu yang menarik untuk didekati oleh siswa dan umumnya oleh masyarakat.
Akhirnya, segala sesuatunya akan terlaksana apabila kita bisa mulai dari diri sendiri, minimal dengan membaca karya-karya sastra.***

ABSTRAK SKRIPSI-ku (2006)

Penelitian ini berjudul POTRET PERBURUHAN DALAM TEKS DRAMA SOBRAT KARYA ARTHUR S. NALAN. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Pertama, adanya sebuah kesadaran bahwa setiap karya sastra, termasuk drama, memiliki kaitan erat dengan realitas sosial yang ada, baik realitas sosial saat karya tersebut ditulis maupun fakta-fakta sejarah dari masa lampau yang mempengaruhi isinya. Kedua, potret perburuhan adalah salah satu wacana menarik yang direpresentasikan oleh Arthur S. Nalan ke dalam teks drama Sobrat. Potret perburuhan yang ada di dalam teks tersebut telah memberikan gambaran mengenai buramnya potret perburuhan masa kini meski teks tersebut menampilkan latar zaman penjajahan Belanda. Ketiga, karya-karya drama Arthur S. Nalan belum banyak diteliti meski sebagai seorang penulis drama karyanya telah ikut memperkaya khazanah sastra Indonesia. Keempat, kurangnya ketertarikan masyarakat terhadap teks drama sebagai karya sastra dibanding genre sastra lainnya. Drama lebih diminati oleh masyarakat dalam bentuk pertunjukan. Padahal seperti juga prosa dan puisi, drama merupakan salah satu lahan bagi pengarang untuk mengekspresikan kegelisahan serta pandangan sosialnya sehingga memiliki manfaat bagi masyarakat pembacanya, yaitu berupa pelajaran tentang kehidupan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Tujuan dari penelitian ini, yaitu pertama, untuk memperoleh gambaran mengenai struktur teks drama Sobrat. Kedua, untuk mengetahui masyarakat perburuhan yang digambarkan dalam teks drama Sobrat. Ketiga, untuk mengetahui cara pengarang merepresentasikan potret perburuhan yang tercermin dari teks drama Sobrat.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu menggambarkan dengan jelas dan terperinci berdasarkan data-data yang terkumpul. Metode tersebut dilakukan dengan cara mendeskripsikan data-data yang terkumpul kemudian disusul dengan analisis. Langkah pertama penelitian ini adalah menganalisis unsur-unsur yang ada dalam teks drama Sobrat, kemudian dilakukan analisis terhadap hubungan antar unsur yang ada dalam teks tersebut. Kedua langkah tersebut dilakukan dengan menggunakan kerangka semiotik sehingga tampak unsur-unsur sosiologisnya. Setelah itu unsur-unsur sosiologis tadi dikaitkan dengan fakta tentang perburuhan di masyarakat dengan menggunakan pendekatan sosiologi karya sastra.
Berdasarkan hasil analisis, dalam teks drama Sobrat ditemukan beberapa hal yang erat kaitannya dengan fenomena perburuhan di Indonesia. Teks drama Sobrat menggambarkan masyarakat buruh yang hidup di zaman penjajahan Belanda, tetapi berbagai konflik seputar perburuhan yang ada di dalamnya dapat mencerminkan kondisi masyarakat perburuhan saat ini. Melalui teks drama tersebut pengarang bermaksud mengemukakan bahwa kehidupan kaum buruh di zaman pascakemerdekaan ini sama terjajahnya dengan kehidupan kaum buruh di zaman penjajahan Belanda.

Mencemaskan Masa Lalu

puisi Sigit Rais

(sumber gambar: www.miraclemountainimages.com)


hujan turun tak deras,
tapi rindang tipis-tipis
tebarkan aroma debu dan rumput
yang tadi siang terjemur terik matahari

kelebat masa lalu datang
terbitkan cemas
gelisah sepekat awan
tentang detik-detik yang tak mungkin datang lagi

hujan mereda
butir halus air langit
pecah tertiup angin

sungguh,
masa lalu tak kan kembali
dan tak perlu kucemaskan lagi

Selasar, 26 Oktober 2008

19 November 2008

Jangan Jadi Jomblo Desperado!

by Ighiw



Pernah nggak ngerasa gengsi dan malu hidup sebagai jomblo? Saking malunya, kita so so-an punya pacar atau someone special di depan temen-temen? Hahaha... kalo gue sih, jujur aja... PERNAH TAUUUU....
Ya, tapi gue nggak sampe ribet gimanaaaa gitu.... gue cuma sebatas punya rasa rendah diri aja karena masih jadi jomblo (GUE BEGO BANGET YA DULU?). Abisnya, sebagian besar orang-orang di sekeliling gue kayak bikin semacem pegangan bahwa orang yang punya pacar itu lebih keren dan lebih 'terhormat' daripada seorang jomblo yang mbo papo. Mungkin, ada juga orang yang karena terbiasa hidup 'berpasangan', jadi nganggap kalo jomblo itu adalah suatu ketabuan. Atau ya emang cuma perasaan gue aja kaleee... ya ya ya ya.

Nah, kayanya udah ada semacam... apa ya namanya... entah dogma atau whatever namanya... jadi ada anggapan kalo kita jomblo tuh hina banget, kayak orang terkutuk yang najis tralala dan pantes diledek dan diketawain (SIALAN TUH ORANG YANG PUNYA ANGGAPAN KAYAK GITUH...)
Hasilnya... ya muncullah orang-orang jomblo yang desperado.Yup, para jomblo yang gelisah dengan kejombloan mereka dan ancur kemakan pikiran sendiri. Hehehehe...(JUJUR, GUE JUGA SEMPET KAYAK GITU)

Jomblo-jomblo desperado sama gue dikategoriin ke dalam beberapa golongan....(apaan seeeh)

Pertama, karena desperado, dia jadi gelisah... uring-uringan... dan marah-marah nggak karuan. Biasanya sih dimunculin di film-film komedi sebagai tokoh perawan tua yang judes dan galak.

Kedua, ada yang malu ketauan jomblo, jadi we berlagak banyak fans biar orang di sekelilingnya nganggap dirinya laku (donat kaleee). Caranya? ya macem-macem... ada yang SUHERI (suka heboh sendiri) saat ada sms di hapenya... dan bilang... "aduh, fans aku yang mana yaaaa? dari kemaren miskol terus, sms terus, misterius... pinjem hape lo dong... kali aja nomor ini ada di hape elo.."

Ketiga, ada yang belaga salah sms ke sohibnya dengan sms "tunggu aku, yang", "aku lagi bedua sama Solihin di kafe", "De, udah nyampe belum?" dan lain-lain. Otomatis sohibnya yang baca sms nyasar itu punya pikiran "wah, temen gue udah punya pacar nih". Atau kalo sohibnya cerdas, pasti udah bisa nebak..."hmm.. dasar jomblo, pasti pura-pura salah sms biar gue ngasih acungan jempol, cara basi ah..."

Keempat, kalo si desperado ini baru diputusin sama pacarnya dan nggak rela diputusin, saking desperadonya, dia beli kartu perdana, dia teror mantannya dengan sms-sms bulshitnya yang berperan sebagai orang lain. Tujuannya adalah ngebagus-bagusin dirinya sendiri agar si mantan feel guilty karena udah diputusin. Misalnya,
"Gue sodaranya mantan lo, lo bakal nyesel mutusin dia"
atau
"Dia tuh terlalu baik buat lo, nggak pantes buat lo! Kelaut aja deh lo"
atau
"Saran gue, lo minta maaf sama dia. Terima dia lagi, atau lo bakal nyesel seumur hidup:

dan muslihat-muslihat lain yang NGGAK LUCU! Dia bakal terus gitu sampe bosen dan capek sendiri.

Kelima, ada yang berimajinasi kalo dirinya punya pacar (WAH RADA AKUT KAYAK GUE NIH)hehehe... no problemo... itu dulu.. hahahaha

Keenam, ada yang berusaha kelihatan sok akrab sama kecengannya. Tujuannya, ya apa lagi selain dianggap ada kemajuan sama temen-temen yang laen (hehehehe)

Ketujuh, ada juga tipe jomblo desperado yang gokil nyebelin. Dia so so-an punya someone special cuma buat manas-manasin temen seperjombloannya yang lain. Biar temen-temennya pada iri dan nganggap dirinya yang paling hebat. Padahal, sesama jomblo kan nggak boleh saling nyakitin... hahahaha...

Kedelapan, ini nih jomblo desperado yang keren. DIa berhasil menuangkan kedesperadoannya itu ke dalam buku harian, puisi, bahkan novel... WOW. Justru cara itulah yang bikin dia nggak jadi desperado lagi. Jadi jomblo terhormat. Jomblo mahal (istilah temen-temen gue). Jomblo-jomblo Butuh N........ (JJBN)....

Kesembilan, jomblo desperado yang jadi males berjuang dapetin someone special. Gara-gara patah semangat, ya udah, nggak mau peduli lagi sama cinta. HUm... bisa jadi, pada akhirnya orang kayak gini akhirnya menemukan makna cinta sejati, cinta hakiki Sang Maha Kuasa.Jadi udah nggak peduli lagi sama cinta semu, cinta sesama jenis... eh... manusia.


Kesepuluh, jomblo suheri berselingkuh. Wah, emang jomblo bisa selingkuh? Ih, dasar ikut-ikutan orang-orang yang punya pasangan aja. Suka heboh sendiri. Saking pengen dianggap laku, dia suka sok punya selingkuhan. Misalnya, "ih, selingkuhan aku ngesms mulu". Orang-orang yang ngga kenal dirinya bakal terheran-heran, "wah, punya selingkuhan...". Tapi orang yang udah kenal pasti mikir, "selingkuhan gimana? pacar aja nggak punya" sambil nunjukin tampang bergaris-garis kayak di komik Jepang. Atau ada semacam tetesan air di pipinya kayak Nobita dan kawan-kawan pusing ngedenger Giant nyanyi.

dan tipe-tipe lainnya (tar kalo nemuin, gue tambah lagi)

Hummm.. gitu ya... lalu apa yang harus kita lakukan? Gampang, berbanggalah sebagai jomblo. Tapi bukan berarti nggak usaha dapetin pasangan. Inget, Allah nyiptain manusia itu berpasang-pasangan. Insya Allah setiap orang udah ada jodohnya. Masalahnya, nggak ada yang tau siapa dan kapan bakal ketemu jodohnya.
Makanya bagi yang sampe sekarang masih jomblo, enjoy aja. Jangan malah desperado dan berbuat yang aneh-aneh. Salurkan kejombloan kita pada hal-hal yang positif. Misalnya, nulis atau ngelukis atau teriak-teriak di gunung (positif? positif crazy!) hehehe... becanda. Yaaa apa ajalah yang positif, tiap orang tentunya beda-beda dan lebih tahu apa yang harus dilakukan.

Jangan minder di sekitar temen-temen yang udah punya pacar. Sesekali pasti ada sih rasa iri, tapi atasi aja dengan numbuhin pikiran positif. Misalnya, "wah enakan jadi jomblo, ke mana aja, ngebonceng siapa aja, nggak ada yang marah" atau saat ngeliat orang yang lagi pacaran berantem, ucapkan alhamdulillah. Maksud gue, bukan nyukurin yang lagi berantem, tapi mensyukuri kejombloan sendiri. Alhamdulillah, belum punya pacar, jadi belum dapet giliran berantem kayak gituh. (WAKWAKWAKWKA!)

Nah, kalo ada temen yang bilang..."payah lo, jomblo mulu" Jangan dimasukin ke ati tapi ke jantung dan simpen sebagai dendam kesumat (APAAA?!!!). Nggak denk... udah jangan digubris. Bales aja... "kasian banget lo nggak berani jadi jomblo" (hahahaha, GOKIL pisan!)

Nah, gimana? Capek kan jadi jomblo desperado... idup rasanya nggak tenang. Mending kayak gue... nyantaaaaiiii... nggak grasak grusuk dan of course nggak pengen tampak laku di mata temen-temen (EMANG GAK LAKU KALEEE!!) (SIALAN!).
Yang pasti, jomblo-jomblo juga, gue masih nunggu seorang bidadari mengisi satu ruang kosong yang selama ini belum pernah diisi... ayao... ayoo.. siapa yang mau... silakan silakan... (ENAK AJA, KAYAK BARANG OBRALAN). Kata Mambo juga kitaharus jadi jomblo mahal, tauuuuuu! hehehe... Mam, masih jomblo teu? Wah,sekarang udah jauh dari gue, jadi nggak ketularan jomblo lagi, ya? Hahaha...

Begitu kawan-kawan.. jadilah jomblo mbo papo yang penuh semangat dan ceria. Anti desperado dan anti mempermalukan diri sendiri dengan mengingkari status jomblo kita.

Sekali lagi gue tegasin, jangan minder jadi jomblo! Ntar juga kalo udah tiba waktunya, kita bakal diwisuda dan lulus dari kampus jomblo mbo papo. Jomblo itu bukan kutukan, tapi proses diri dalam mematangkan pribadi (naon deuih). Jomblo juga bukan penyakit berbahaya yang perlu ditakuti.

Nah, daripada desperado, mending kita isi masa-masa jomblo kita dengan hal-hal yang bermanfaat dan menyenangkan lah. Sejomblo-jomblonya kita, masih banyak kan teman seperjombloan di dunia ini? Hahaha....

So, masih gengsi ngakuin kalo diri ini jomblo? (NO KOMEN AH, GEUS CAPE NGACAPRUK!) YUUUUU....

hidup GREEN JOMBLO!!!

16 November 2008

Manisnya Buah dari Kesabaran

Oleh Sigit Rais




Keajaiban memang selalu datang di luar dugaan. Ia datang bersama gemerlap pendar cinta Sang Maha Kuasa. Di atas bumi, jutaan orang menantikan datangnya keajaiban di tengah hiruk pikuk degup hidup yang terkadang terasa amat menyakitkan. Begitu juga denganku. Berkali-kali aku didera berbagai pelik hidup yang terkadang kurasa sulit untuk dilalui. Dan berkali-kali pula kurasakan keajaiban. Keajaiban itu kumaknai sebagai salah satu wujud cinta-Nya, cinta hakiki yang tak akan pernah mati. Cinta itu pun terpancar melalui ketulusan kasih sayang kedua orangtua yang selalu jadi cahaya penerang jalan hidupku.
Aku terlahir sebagai anak kedua dari rahim ibuku. Akan tetapi, tangan-tangan takdir telah memberiku kesempatan untuk berperan sebagai anak sulung yang menggantikan almarhum kakakku. Sebagai seorang anak, seperti juga anak-anak pada umumnya, sejak kecil aku dirawat oleh kedua orangtuaku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Meski pun aku harus berbagi kasih sayang dengan kedua adikku yang tentunya lebih mendapat curahan perhatian, bagiku tidak masalah. Tak sedikit pun aku merasakan kekurangan kasih sayang karena orangtuaku memang pandai membagi-bagi kasih sayang. Hal ini justru menumbuhkan rasa kasih sayangku pada kedua adikku, bahkan beberapa sahabatku pun tak luput dari bidikan kasih sayangku. Ya, didikan orangtuaku yang dilimpahi cinta dan kasihsayang telah membuatku menjadi manusia penyayang.
Karena rasa kasih sayang itulah aku selalu ingin agar keluargaku selalu menemukan kebahagiaan. Tak sedikit pun terbesit keinginan dalam benakku untuk membuat mereka kecewa. Itulah yang menjadi salah satu motivasiku dalam menuntut ilmu. Sejak SD hingga Perguruan Tinggi aku selalu berusaha agar masuk sekolah negeri. Aku tidak ingin orangtuaku terbebani. Dan alhamdulillah aku selalu berhasil masuk ke sekolah negeri meski selalu jatuh pada pilihan kedua. Tak masalah. Bagiku ini adalah salah satu cara untuk meringankan beban mereka sebelum aku bisa hidup mandiri dan membantu mereka secara ekonomi. Satu hal yang selalu kucoba untuk kupegang teguh adalah ketaatan pada nasihat kedua orangtuaku. Aku yakin setiap nasihat yang mengalir dari mulut mereka selalu disertai cinta dan do’a untuk setiap jengkal langkah yang kutiti.
Aku masih ingat saat krisis ekonomi melanda bangsa Indonesia yang juga berimbas pada kehidupan keluargaku. Perekonomian keluargaku pun cukup terpuruk. Saat itulah berkali-kali kulihat langit menindih tubuh mereka yang harus berjuang untuk membesarkan aku dan adik-adikku. Tak terhitung tetes peluh dan air mata mereka. Aku tak tahan juga melihat beban dalam sorot wajah mereka. Akan tetapi, dari keterpurukan itulah kutemukan indahnya kebersamaan dalam sebuah keluarga. Kebersamaan yang harus dipertahankan meski badai menghadang jalan.
Aku masih ingat saat orangtuaku harus merelakan rumah yang telah mereka bangun bertahun-tahun jatuh ke tangan orang lain. Rumah itu mereka kontrakkan selama dua tahun. Sementara itu keluarga kami mengontrak di rumah yang lebih sederhana. Selama setahun kami tinggal di rumah susun yang ukurannya jauh lebih kecil dari rumah terdahulu. Berkali-kali aku mengeluh. Aku tak nyaman dengan keadaan itu. Akan tetapi, dengan penuh cinta dan kesabaran, orangtuaku, terutama ibuku, mencoba untuk merangsang kesabaran dalam diriku.
“Sabar, ini tak akan lama,” ujar ibu setiap kali aku mengeluh.
“Orang sabar insya Allah akan selalu diberi kebahagiaan,” ujarnya lagi.
Aku bertahan. Aku berjuang untuk menjadi anak yang sabar. Bahkan saat keluarga kami harus menyantap semangkuk bubur nasi encer karena beras telah habis dan tak ada bahan makanan lain. Aku pun bersabar saat pemilik rumah kontrakan kami mengusir kami secara halus sehingga dengan sangat terpaksa kami harus pindah ke rumah kontrakan lain. Ya, seperti kesabaran yang dimiliki ayah dan ibuku.
Setelah setahun kami tinggal di rumah susun itu kami pun menempati rumah baru. Rumah tersebut lebih besar dari rumah sebelumnya. Ukurannya hampir sama dengan rumah keluargaku. Hanya saja rumah tersebut tidak cukup baik dari rumah sebelumnya. Atap bocor, lantai semen yang kotor, dan kamar mandi yang sangat kotor bahkan tak lebih baik dari wc umum yang ada di terminal. Tapi alhamdulillah aku bisa bersabar. Tak hentinya ibuku memintaku untuk selalu berdo’a pada Sang Maha Kuasa agar aku kuat menghadapi cobaan ini. Agar aku yang mulai tumbuh terus melangkah di jalan yang lurus meski saat itu ayahku sempat terlihat putus asa. Aku paham. Ayah juga manusia biasa yang memiliki amarah dan hawa nafsu. Aku mengerti tentang rumit hidup yang melilitnya. Ia harus membiayai sekolahku dan adik-adikku, membiayai keperluan dapur, dan keperluan-keperluan lainnya. Aku mencoba untuk mengerti ayah meski ia sempat menendang mangkuk bekas mie instant yang baru saja disantapnya. Aku masih ingat saat adik pertamaku menangis ketakutan.
“Biar hanya ayah saja yang marah-marah seperti itu, kalian harus sabar,” ujar ibu padaku dan adik pertamaku yang juga mulai beranjak remaja.
Sementara itu cobaan terus datang bagai luapan aliran sungai di musim hujan. Bagai badai di tengah lautan yang menerjang kapal yang hampir karam. Tapi aku terus bersabar. Aku lebih berkonsentrasi pada sekolahku. Alhamdulillah di tengah-tengah cobaan tersebut aku bisa meningkatkan prestasi akademikku. Entah kenapa aku sendiri pun heran saat menyadari bahwa semangat belajarku justru meningkat, meluap-luap. Mungkinkah karena rasa khawatir akan gagal masuk SMA negeri jika nilai akhirku kurang baik? Entahlah. Yang jelas aku hanya ingin melaksanakan apa yang dinasihatkan oleh orangtuaku, dan tentunya aku pun tak ingin membuat mereka semakin terbebani jika aku masuk sekolah swasta yang rata-rata memerlukan biaya lebih mahal.
Di rumah kontrakan itu adik bungsuku pun tak luput dari bidik cobaan. Di rumah itu adikku mendadak sering sakit-sakitan. Saat suhu tubuhnya tinggi adikku selalu menangis menjerit-jerit sambil menunjuk salah satu sudut rumah.
“Berdo’alah,” pinta ibu sambil menggendong adikku dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Demikianlah kehidupan keluargaku di rumah baru. Selalu dipenuhi dengan cobaan. Akan tetapi, lagi-lagi pelik hidup mendorongku untuk bersabar. Ya, aku selalu menuruti nasihat orangtuaku untuk terus bersabar. Bahkan saat kami diusir untuk yang kedua kalinya karena ayahku tak sanggup membayar biaya kontrakan bulanan. Tak hentinya aku bersabar dan berdo’a hingga pada akhirnya Allah menunjukkan jalan terang-Nya. Kakek dan nenekku mengajak tinggal bersama untuk sementara sampai masa kontrak rumah kami selesai. Selama lima bulan keluargaku tinggal di rumah kakek dan nenek. Di rumah itulah kulalui ujian akhir SMP. Alhamdulillah, aku berhasil masuk ke sekolah negeri seperti cita-citaku. Ya, aku berhasil bisa turut membantu meringankan beban orangtuaku, terutama ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan syukurlah saat kami tinggal di rumah kakek dan nenek ayah sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia tak lagi jadi pemarah. Badai mungkin sudah reda.
Akhirnya lima bulan berlalu dengan cepat. Kami pun kembali ke rumah yang kami rindukan. Badai sedikit reda. Keluargaku bagai memulai kehidupan baru. Benar-benar dari nol. Harta benda yang sejak dulu dikumpulkan ayah dari hasil kerja kerasnya telah habis. Rumah kami kosong dan sunyi. Berbulan-bulan aku tidak menyaksikan tayangan televisi. Bahkan radio tape yang ayah beli dari salah seorang pamanku pun rusak dan harus diperbaiki. Akan tetapi, tak hentinya orangtuaku memintaku untuk bersabar. Mereka bilang dunia ini bagai roda. Terus berputar. Kita tidak mungkin ada di atas selamanya. Kadang di atas, kadang di bawah. Begitulah roda kehidupan. Seseorang yang bisa bersabar dalam menyikapi berbagai keadaan insya Allah akan mendapatkan kebahagiaan lahir batin, kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan sampai keterpurukan hidup menjerumuskan kita sehingga jauh dari Sang Penaung. Karena segala hal yang terjadi dalam hidup kita telah jadi ketentuan-Nya.
Demikianlah, aku tumbuh menjadi seseorang yang selalu berlapang dada. Aku selalu berbesar hati. Aku selalu ingat pada nasihat orangtuaku, yaitu agar aku selalu bersabar, baik saat berada dalam kesenangan maupun saat aku berada dalam kesusahan. Dengan bersabar, kita akan bisa mengendalikan hawa nafsu dan berpikir jernih. Sehingga batin kita akan selalu tenang meski kita berhadapan dengan badai kehidupan. Dan akhirnya, berangsur-angsur perekonomian keluargaku pun membaik. Mungkin inilah yang dinamakan dengan buah manis dari kesabaran.
Berbagai peristiwa yang kualami saat aku masih remaja ternyata telah membimbingku untuk menjadi seseorang yang sederhana dan hemat dalam memanfaatkan uang. Setiap kali aku memegang uang dan akan menggunakannya , hal yang paling kuingat adalah bagaimana perihnya kedua orangtuaku dalam membesarkanku dan adik-adikku. Akhirnya aku mulai bisa paham mengapa Allah memberikan cobaan pada keluarga kami. Seandainya hidupku selalu berada dalam kesenangan mungkin aku akan tumbuh menjadi seseorang yang boros, bahkan mungkin aku tak akan pernah bisa mengerti bagaimana perjuangan kedua orangtuaku dalam membesarkan aku. Aku pun tak akan pernah mengenal tentang keutamaan bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan.
Akan tetapi sebagai seorang remaja sempat kurasakan sesuatu yang berubah dalam diriku. Saat SMA berkali-kali kurasakan ketidaksetujuan pada setiap keputusan orangtuaku termasuk pada nasihat-nasihat yang mereka berikan. Tapi aku selalu berusaha untuk menahan diri. Selalu kutanamkan dalam diri bahwa apa yang mereka nasihatkan padaku adalah semata-mata untuk kebaikanku. Meski terkadang aku merasa tak bersepakat dengan mereka, aku selalu berusaha untuk selalu melangkah di jalan yang benar. Ya, meski aku sudah mulai belajar untuk menentukan pilihanku, nasihat mereka tak pernah kuabaikan meski harus kucerna terlebih dahulu. Hal tersebut berlangsung hingga aku duduk di perguruan tinggi.

***



Saat aku menginjak batas akhir perkuliahan aku merasakan kegelisahan luar biasa, terutama saat aku berhadapan dengan tugas akhirku, yaitu skripsi. Selama berbulan-bulan kuabaikan tugas itu hanya karena aku merasa belum siap. Skripsi terasa bagai mimpi buruk yang merusak ketenangan batinku. Ditambah lagi ucapan ayah dan ibuku yang dibumbui keinginan dan harapan agar aku bisa lulus tahun ini. Benar-benar dilematis. Di satu sisi aku merasa belum sanggup untuk menuntaskan kuliahku. Akan tetapi, di sisi lain aku pun tak ingin mengecewakan kedua orangtuaku. Lagi pula bukankah sejak kecil, saat melihat salah satu tetanggaku lulus kuliah dan mengikuti acara wisuda, aku berjanji dalam diriku bahwa aku pun bisa seperti dia. Terutama saat kulihat pijaran kebahagiaan pada wajah orangtuanya, muncul keinginan dalam diriku untuk membahagiakan kedua orangtuaku.
Usiaku 22, mungkin aku sudah cukup untuk mendapatkan gelar sarjana. Akan tetapi, lagi-lagi berbagai pikiran kacau meredupkan semangatku. Aku begitu pesimis. Aku merasa tidak siap untuk menjadi seorang sarjana. Aku merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan skripsi. Sementara itu, waktuku semakin sempit. Lagi pula setelah aku jadi sarjana aku merasa tak bisa apa-apa. Aku merasa buta, bahkan aku lupa pada prestasi-prestasiku yang sejak dulu seringkali membuat orangtuaku bangga. Aku sendiri tak tahu apa yang menyebabkan aku merasa tidak berguna.
Kegelisahanku memuncak saat hari-hari terakhir pengumpulan skripsi. Aku berhadapan dengan berbagai kendala, pertama aku belum memiliki biaya untuk ujian sidang. Uang pemberian ayahku tidak cukup. Ingin sekali aku meminta lagi padanya, tapi aku ragu karena beberapa hari sebelumnya adik bungsuku memerlukan dana yang tidak sedikit untuk membayar uang pangkal SMP. Kendala lainnya adalah skripsiku belum selesai. Pembimbingku belum memberiku izin untuk maju ke ujian sidang. Ternyata aku memang tak sanggup. Ujian sidang pun dilaksanakan meski tanpa kehadiranku sebagai salah satu pesertanya. Miris rasanya hati ini melihat beberapa kawan seperjuanganku yang telah maju sidang terlebih dahulu. Tetapi lagi-lagi teduh lisan ibuku menumbuhkan motivasi yang terkubur oleh keraguanku. Nasihatnya lagi-lagi membuatku bertahan sehingga bisa mencoba untuk berdiri.
“Sabar, jangan putus asa, tetap optimis, terus berikhtiar dan berdo’a,” ujarnya.
Ayahku pun tak hentinya mengingatkan aku agar aku selalu mengingat Allah. Ayah menasihatiku agar aku makin rajin beribadah dan berdo’a. Ia pun meminta agar aku rajin mengerjakan sholat malam. Awalnya aku sempat ragu dan pesimis. Tapi akhirnya setelah kuturuti nasihat ayah, batinku terasa lebih lega. Skripsi tak lagi kulihat sebagai mimpi buruk, tetapi sebagai pekerjaan yang harus segera kutuntaskan. Lagi pula aku tidak sendiri, masih banyak kawan seperjuanganku yang juga belum menuntaskan skripsinya. Lalu kenapa di hari-hari sebelumnya aku merasa sendiri? Entahlah.
Kemudian pada suatu hari, salah seorang kawanku membawa kabar yang sangat menggembirakan. Ternyata satu bulan setelah ujian sidang yang baru saja selesai deilaksanakan akan dilaksanakan ujian sidang gelombang ke-2. Aku bagai bunga yang bangkit dari layu. Semangatku kembali menyala. Kini aku tinggal mencari dana untuk membayar biaya sidang. Aku tak ingin menyusahkan ayahku.
Syukurlah, dalam waktu yang hampir bersamaan, ternyata 2 cerpen karyaku dimuat di dua majalah remaja. Alhamdulillah, aku bisa membayar biaya sidang dan membeli berbagai keperluanku. Aku pun maju sidang dengan dinaungi do’a kedua orangtuaku. Bahkan sehari sebelum pelaksanaan sidang ayah membelikan aku sebuah kemeja untuk dipakai saat ujian sidang. Kemeja itu pun kupakai dengan rasa bahagia. Sidang pun berlalu bagai sehelai angin yang tak mungkin kembali. Aku benar-benar merasa lega. Salah seorang dosen penguji yang awalnya kukira akan ‘membantai’ skripsiku ternyata secara terang-terangan menyatakan bahwa beliau senang dengan skripsi karyaku. Padahal saat masa-masa kuliah dulu aku selalu saja salah di matanya. Bahkan nilai mata kuliahku yang didoseni olehnya pun kebanyakan mendapat nilai C. Alhamdulillah, Allah telah mebukakan jalan-Nya bagiku untuk bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan rasa lega pada kedua orangtuaku. Mereka berhasil memberiku pendidikan layak meski keluarga kami seringkali diterpa badai kehidupan. Mereka pun telah menanamkan sikap sabar dalam diriku sehingga berkali-kali bisa kunikmati buah manis dari kesabaran itu.
Akhirnya aku sadar bahwa dengan taat pada nasihat orangtuaku, yaitu untuk selalu bersabar dalam berkhtiar, tidak boleh pesimis dan berputus asa, serta selalu mendekatkan diri pada Allah, insya Allah keajaiban akan datang. Keajaiban tersebut adalah salah satu wujud cinta dari Allah Yang Maha Kuasa.
Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menunjukkan bagaimana manisnya buah dari kesabaran. Terima kasih karena telah membuatku merasa menjadi salah satu anak yang paling beruntung di dunia karena memiliki orangtua terbaik seperti kedua orangtuaku. Ya Allah, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku saat aku masih kecil. Amin.***

Obituari Kata Hati (Drama pendek Sigit Rais)

*mengenang seorang kawan yang konon mati karena cinta



SUARA ALAT MUSIK PUKUL (BEDUG/ JIMBE/ AQUA GALON/ DLSB) + SUARA ANGIN BADAI
MUNCUL ORANG-ORANG BERPAKAIAN LUSUH. MEREKA DISERET OLEH ORANG-ORANG BERBAJU MERAH MEMAKAI TOPENG. MEREKA KESAKITAN. MENJERIT SEPERTI ORANG GILA / TAWANAN YANG DISIKSA. SEPERTI ORANG YANG KEHAUSAN DI GURUN PASIR.
TABLO.

TOPENG : Cinta datang untuk tak melukai tapi kepergiannya akan tinggalkan bekas luka. Tak ada cinta sejati selain cinta hakiki., cinta abadi. (DIULANG BEBERAPA KALI)
ORANG LUSUH 1 : AAARGGGH! Inikah cinta? Jiwaku direngkuh sampai jadi lepuh. Sesaat aku melesat dengan sayap, lalu jatuh di bawah langit runtuh.
TOPENG : Cinta datang untuk tak melukai tapi kepergiannya akan tinggalkan bekas luka. Tak ada cinta sejati selain cinta hakiki., cinta abadi. (DIULANG BEBERAPA KALI)
ORANG LUSUH 1 : HENTIKAN! HENTIKAN!
TOPENG : Cinta datang untuk tak melukai tapi kepergiannya akan tinggalkan bekas luka. Tak ada cinta sejati selain cinta hakiki., cinta abadi. (DIULANG BEBERAPA KALI)
ORANG LUSUH 1 : HENTIKAN! HENTIKAAAAAN! (PINGSAN)

SEMUA KELUAR. DISAMBUNG DENGAN KEDATANGAN ORANG-ORANG BERBAJU HITAM YANG MENGGOTONG JENAZAH.
ORANG-ORANG: Dia lahir atas nama cinta, tumbuh dalam naungan cinta, dan mati karena cinta. (DIULANG BEBERAPA KALI)
SEMUA DIAM. TERDENGAR NYANYIAN MUSIKALISASI PUISI “AKU INGIN” (SAPARDI DJOKO DAMONO).
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

SETELAH NYANYIAN SELESAI. DATANG SEORANG LAKI-LAKI BERSERAGAM SMA, NAMANYA ARJUNA. DIA DATANG DENGAN LUNGLAI. SEDIH, NANAR, HATINYA TERIRIS-IRIS. DIA MENGHAMPIRI JENAZAH DENGAN PENUH PENYESALAN
ARJUNA : Dan terciptalah wujudmu dalam benderang siang. Bibir darahmu masih terpahat pada tulangku, wahai perempuan. Tubuhmu terbaring kering di gurun tak bernama. Satu-persatu pepasir bergilir menyelimuti pualam kulitmu.
ORANG-ORANG: Dia lahir atas nama cinta, tumbuh dalam naungan cinta, dan mati karena cinta.. ..
ARJUNA : Padaku! (KE PENONTON) Dialah Srikandi, perempuan bermata bening sebening sikap dan lakunya. Dari jemari lembutnya mengalir Seine yang kulayari dengan kejujuran hati. Kuseberangi sungai itu dengan cinta lewat jembatan Mirabeau yang mengiris sungai bagai pelangi di permadani biru. Aku telah menemukannya sebagai cinta, cinta yang meluap deras menerjang jiwa sunyiku. Dia begitu tulus mempersembahkan cintanya padaku, begitu membara, bahkan terlalu bergelora dan jadi nyala api yang membakar jiwa rapuhnya.
ORANG-ORANG: Dia lahir atas nama cinta, tumbuh dalam naungan cinta, dan mati karena cinta...
ARJUNA : Dia lahir atas nama cinta, tumbuh dalam naungan cinta, dan mati karena cinta...karena aku!
ORANG-ORANG TERBARING DI SEKITAR JENAZAH.

DATANG MAHLUK MERAH. SEPERTI SETAN. MUKANYA BENGIS, GARANG, JAHAT, DAN LICIK.
MERAH : Ya, karena kau! Karena kau! Kau harus tahu bagaimana dia mati dalam genggamanmu setelah telingaku menganga untuk secarik dongeng tentang puri-puri cinta yang dihinggapi gagak hitam.
Diam-diam dilukisnya bibirmu dengan tinta darah pada kafan yang melilit jasadnya.
Ditulisnya berbait-bait luka pada selembar bayanganmu
Di sebuah ruang, cahayamu menelusuk dalam malam hitamnya.
melebur bersama mimpi abadi.
Dia mati karenamu! Maka tebuslah rasa sakitnya dengan kematianmu!

ARJUNA : Dia lahir atas nama cinta, tumbuh dalam naungan cinta, dan mati karena cinta...karena aku!

MERAH : Dulu kau bilang kaulah malaikat yang akan bingkiskan ciuman pertama untuknya. Setelah itu kau melarikan diri dari hatinya. Kau tertawa bangga di balik cinta palsu. (TERTAWA)

ARJUNA : Dia lahir atas nama cinta, tumbuh dalam naungan cinta, dan mati karena cinta...karena aku!
MERAH : Perempuan itu telah mati dengan mata basah untuk melupakanmu.

ARJUNA : Asap hitam langit kelam di senja muram. Aku hampir ditikam malam
O, rintih pedih jiwa tertindih. Aku menjerit sakit terhimpit sempit.
Tikus-tikus berbadan busuk menelusuk tubuh remuk.
Kutu-kutu terkutuk tebarkan amuk di sekujur hancur.
Aku tak berdaya!
O, rintih pedih jiwa tertindih.
Aku menjerit sakit terhimpit sempit.
Adakah aku harus mati saat ini juga?

MERAH : Ya! Mati! Mati! Kau akan bebas! BEBAS!
MERAH MENYERAHKAN SEBILAH PISAU/PEDANG/APAPUN PADA ARJUNA. ARJUNA AWALNYA RAGU. TAKUT. TAPI BAGINYA TAK ADA JALAN LAIN. DIAMBILNYA PISAU ITU. DIA AKAN BUNUH DIRI.
TIBA-TIBA ADZAN BERKUMANDANG. LALU TERDENGAR SUARA-SUARA. BANYAK!! SEPERTI SUARA PULUHAN ORANG.
ORANG-ORANG : Cinta hakiki!! Cinta hakiki!!
ARJUNA : (MENGHENTIKAN NIATNYA BUNUH DIRI)
Apa? Siapa kalian? Apa itu cinta hakiki? Apa?! Jawab!?JAWAB!!!
ORANG-ORANG : Cinta abadi. Cinta Illahi. Cinta Sang Maha Indah. Cinta yang tak akan pernah mati!! Lillahita’ala!! Cinta karena Allah!!

ARJUNA MELEPASKAN PISAUNYA. MERAH MERASA KALAH. LALU PERGI.
MUSIK.
MUNCUL BEBERAPA ORANG BERPAKAIAN SERBA PUTIH. MEMBAWA KAIN PUTIH. LALU MENGELILINGI ARJUNA. ARJUNA DIANGKAT. WAJAHNYA BAHAGIA. DIA TELAH MENEMUKAN CINTA SEJATI. CINTA HAKIKI. CINTA ILAHI.
SELESAI*
=02/03/06=

12 November 2008

Tentang "Seblak Kering"

Yang kumakan bernama seblak. Kerupuk renyah berbumbu bubuk cabai dengan aroma bawang. Kenapa disebut seblak? Mungkin karena rasa pedasnya yang 'nyeblak' dan membuat ketagihan. Ya, meskipun rasa pedas ini cukup menyiksa lidah, aku enggan berhenti sampai bungkus plastik berisi seblak seharga 500 rupiah ini kosong tanpa isi. Bahkan, aku kesampingkan kekhawwatiranku terhadap masa depan perutku yang beberapa jam lagi akan terasa sakit dan panas. Yang jelas, saat ini aku hanya ingin menikmati seblak kering nan gurih ini sampai puasss...

Menikmati seblak, menurutku hampir sama dengan jatuh cinta. Terkadang, kekecewaan membuat hati tersiksa. Ya, kekecewaan yang hampir sama dengan rasa pedas pada seblak. Tetapi, meski berkali-kali tersakiti, aku tidak pernah berhenti. Lagi.... lagi... dan lagi.... Entah apa yang dapat membuatku jera. Jangan-jangan, jika tiba waktunya nanti, aku akan lelah dan berenti.
Entah....

23 Juli 2008 10:15


09 November 2008

(lagi) tentang hujan




Minggu ini adalah minggu yang 'kaya akan hujan'. Setiap hari, Bandung diguyur oleh deras hujan. Di beberapa media, kuperoleh kabar mulai terjadi banjir di mana-mana.

Aku? Ya, aku memang salah satu 'mantan' penikmat hujan yang kini kerap gelisah karena datangnya hujan. Minggu ini, jaketku basah semua karena hujan. Sepatu, celana, dan tentunya motor merahku basah karena hujan. Sampai-sampai aku malas mencuci motor karena akan kembali kotor dengan cepat karena hujan.

Apa aku manusia yang kurang bersyukur? Bukankah hujan adalah salah satu wujud cinta Sang Pencipta?

entah...

Hari Senin, aku bermandi hujan
Hari Selasa, bersama Indra Dwi aku menanti hujan reda di sebuah masjid hingga malam tiba.
Hari Rabu, aku menikmati hujan di koridor masjid al-Furqon UPI bersama Tresna dan Rojak.
Hari Kamis, entah aku lupa. Yang jelas masih dalam rangka hujan-hujanan.
Hari Jumat, hujan masih turun.
Hari Sabtu, diawali pagi yang cerah, lalu hujan datang.
Hari Minggu, mendung.

Cuplikan “Divan dan Hujan” - Novel Ighiw



(sumber foto: mudabentara.files.wordpress.com)


......
“Tadi itu nggak seperti apa yang kamu lihat ,Van!”
“BERISIK! Aku nggak peduli yang aku lihat tadi bener atau nggak. Yang jelas aku muak sama kamu, sama Mita, sama cinta, sama segala hal yang berhubungan dengan itu! Aku nggak mau lihat kamu dan Mita lagi!!!!!!!”
“VAN! Denger aku sekali aja! Aku deketin Mita tuh buat kamu aku pengen nyomblangin kalian. Masalah Mita yang suka sama aku, itu bukan kehendak aku. Itu di luar batas inginku, Van! Kamu harus ngerti posisiku!”
Divan tercengang pada penjelasan Yudi. Ingin rasanya dia mendengar kembali penjelasan Yudi agar dia masih bisa mempertahankan pijaran persahabatannya untuk Yudi. Divan gamang. Dia bingung harus berbuat apa. Dia tidak tahu apakah harus percaya pada Yudi atau pada isyarat curiga yang tertanam di hatinya. Tapi belum sempat dia mendapatkan jawaban itu, tiba-tiba dia terpeleset. Kepalanya membentur batu. Tubuhnya berguling di sepanjang tebing lalu tercebur ke dalam aliran sungai.
“AAAAAAAAHHHH!”
“ASTAGHFIRULLAH! DIVAN! VAAAAAAAN!”
Yudi berlari ke arah sungai. Tapi tanah sangat licin. Yudi pun terpeleset dan ikut tercebur ke dalam sungai.
Sungai memang tidak terlalu dalam. Tetapi, Divan dan Yudi tidak mampu menahan deras arusnya. Tubuh mereka berkali-kali membentur batu-batu di sungai itu.
“HAH! HAH! TOLOONG!” Divan berteriak-teriak meminta bantuan.
Kini Divan berada di batas kesadaran. Tak ada yang dia lihat selain cahaya kunang-kunang yang mengeliliginya. Tiba-tiba dia melihat Yudi. Yudi ada bersamanya! Yudi merangkul tubuhnya. Dia menggiringnya untuk keluar dari deras air. Mulutnya seakan terkunci. Keram di sekujur tubuhnya. Dia tidak berdaya. Dia pasrah. Tubuhnya lunglai di pangkuan Yudi.

***

Perlahan Divan membuka mata. Dia terbaring di sebuah batu besar yang ada di tengah deras aliran sungai. Dia masih tidak berdaya. Lemas meraja di sekujur tubuhnya. Beberapa meter di dekatnya Yudi terjepit di sela-sela batang pohon yang tumbang. Tubuh itu diombang-ambingkan oleh arus sungai. Tangan Divan berusaha untuk menggapai-gapai tubuh Yudi. Tapi tidak sampai. Bahkan Divan tidak sanggup mengangkat tangannya. Seluruh tulangnya terasa beku. Tak bisa digerakkan.
“Yud, Yudi,” panggilnya dengan suara parau. Suaranya tergilas oleh suara gemuruh air. Ternyata beberapa meter dari situ terdapat air terjun. Melihat keadaan itu Divan berusaha keras untuk membangunkan Yudi. Dia menggapai-gapai batu kecil yang ada di dekatnya. Dia mencoba melempar batu itu ke arah Yudi. Tapi dia tidak mampu mengangkat tangannya.
“Yud, Yudi!”
Divan putus asa. Dia hanya bisa menangis.
“Tolong! Tolong!” Divan berusaha meminta tolong, tapi sayang suaranya tidak terdengar oleh siapapun, bahkan oleh teman-temannya yang sebetulnya ada di sekitar situ.
“Yudi bangun! Bangun!” Divan menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba tubuh Yudi mulai menunjukkan reaksi. Mata Yudi perlahan terbuka. Yudi terbangun.
“Van? Kamu nggak apa-apa?”
“Yud, sakit neehhh...,” Divan merengek seperti anak kecil.
Yudi terkejut melihat tubuh Divan dihinggapi banyak luka dan dilumuri darah. Dia semakin terkejut setelah menyadari bahwa tubuhnya pun dihinggapi banyak luka, bahkan lebih parah dari Divan. Yudi mencoba untuk melepaskan diri dari jepitan pohon. Tapi dia tidak sanggup. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya Yudi menyerah. Kini dia pasrah menunggu bantuan datang.
Di tengah kepasrahannya itu Yudi mencoba berbicara pada Divan. Mendadak suara gemuruh air sirna.
“Van, aku nggak mungkin nyakitin kamu. Aku nggak mungkin tergoda sama Mita.”
Divan menangis. Dia mencoba untuk mengangguk. Setangkup penyesalan membebani batinnya.
“Ya, aku tau Yud, seandainya aku sadar lebih awal, mungkin kita nggak bakal kayak gini,” ujar Divan penuh penyesalan.
“Yud, aku pengen semua ini berakhir, aku pengen cepet-cepet masuk sekolah lagi. Aku janji, aku nggak bakalan pindah tempat duduk. Nanti kita pulang bareng, kita juga bisa ngeceng bareng, sama Andry, Beni, Riyan, sama semuanya Yud! Kita bakal pulang bareng lagi kan jalan ke Pasteur, atau kalau perlu kita jalan aja sampai rumah.”
Yudi mengangguk. Dia tertawa geli karena kepolosan Divan. Ada cahaya dalam kilas senyumnya. Dia menggigiti bibirnya karena kedinginan.
“Berdoa aja Van, berdoa agar Tuhan ngasih jalan yang terbaik buat kita. Apapun yang terjadi itu adalah yang terbaik buat kita. Itu adalah pertanda keberadaan cinta-Nya, cinta hakiki yang selama ini kita cari, Van.”
“Yud, jangan ngomongin cinta terus, aku pusing.”
Yudi tertawa kecil.
“Divan, Divan. Van, aku ngerasa beruntung banget punya sahabat kayak kamu. Tanpa kamu kayaknya hidupku di SMU Maju Terus bakalan garing tau!”
“Aku juga Yud, ya, walaupun kamu sering minjem duit, he he he.” Divan tertawa kecil. Beberapa saat suasana sunyi.
“Van, jujur aja, buat aku kamu tuh pengganti adikku yang udah meninggal, Van. Jadi, kamu harus tahu bahwa aku nggak mungkin ngerampas kebahagiaan kamu. Van, kamu harus janji. Kamu jangan pernah putus asa. Kamu harus percaya kalau Tuhan Maha Adil!”
“Ya, makasih Yud.”
Tiba-tiba Yudi batuk-batuk. Dari mulutnya menyembur darah. Yudi batuk darah!
“Yud, kamu kenapa?”
“Nggak apa-a….”
Mendadak pohon yang menjepit Yudi bergerak. Yudi benar-benar kaget. Tak lama pohon itu terhempas oleh arus sungai. Yudi yang terjepit pohon itu ikut terbawa arus menuju air terjun! Suara gemuruh air bah kembali meraja. Kali ini gemuruh yang mencekam.
“Yud! YUDI!!!!”
Tak ada jawaban dari Yudi. Bahkan, sampai pohon itu jatuh di air terjun.
“YUDI! TOLOOONG! YA ALLAH SELAMATKAN YUDI! YUDI!!!!” Divan menjerit histeris, tapi tidak ada yang mendengar. Dia ingin menolong Yudi, tapi tubuhnya terkunci. Perlahan gemuruh sungai mereda. Divan kelelahan, lanskap langit yang membentang di pelupuk matanya mengabur. Samar dia mendengar jerit tangis dan suara langkah orang-orang. Entah siapa dan apa yang sedang mereka lakukan. Ada suara jerit histeris yang tidak asing baginya, suara Sinta. Suara itu perlahan menghilang. Kini dia hanya bisa melihat hamparan pemandangan yang serba putih. Sunyi, senyap, dan hening.
***

06 November 2008

Turbulensi Kata Hati


Di dadaku ada sesuatu yang bergemuruh. Mungkin kata hati.
Terbitlah cemas. Bangkitlah gelisah. Berkeliaranlah euforia...

dan berbagai bentuk gelagat jiwa yang lain

semua bertabrakan
ciptakan turbulensi kata hati yang tak kumengerti.

;;;;;;;

aku mencintainya, meski hanya dalam selimut malam
aku menginginkannya, meski hanya sebatas angan yang tak mampu kurealisasikan
aku ingin mengisi salah satu ruang kosong hatiku dengan sosoknya yang bisa terbitkan semangat di mula pagiku

aku ingin dia datang sebagai mentari bagi hamparan hijau hatiku


;;;;;;;

Di dadaku ada sesuatu yang bergemuruh. Mungkin kata hati.
Terbitlah cemas. Bangkitlah gelisah. Berkeliaranlah euforia...

dan berbagai bentuk gelagat jiwa yang lain

semua bertabrakan
ciptakan turbulensi kata hati yang tak kumengerti.

;;;;;;;

dia buatku limbung
pikiranku terpaku pada muram hujan di wajahnya

dia buatku gelisah
degup dadaku enggan mengetukkan nada-nada berirama

dia buatku gerah
kesumat hasrat meluap dengan rindu dendam

dia hanya malam
dan aku lelaki buta yang melangkah di bawah rengkuh pasi bulan pucat

''''''


mungkinkah? tanyaku.
entahlah. jawabku.
benarkah? tanyaku
begitulah. jawabku.


'''''''


kali ini kubiarkan dia memadu cinta di depan mata
TOLOL!
diam sajakah aku?

tapi dia bahagia dengan itu!
TOLOL
benarkah itu?

mengapa masih ada muram hujan di sorot wajah layunya?

entah.

apa artiku jika muram hujan tak mampu kuhapuskan dari wajahnya?

pergi sajakah aku?

entah.

aku ingin bersamanya....


;;;;;;

Di dadaku ada sesuatu yang bergemuruh. Mungkin kata hati.
Terbitlah cemas. Bangkitlah gelisah. Berkeliaranlah euforia...

dan berbagai bentuk gelagat jiwa yang lain

semua bertabrakan
ciptakan turbulensi kata hati yang tak kumengerti.


Tuhan...

sayangilah dia karena cintaku tak mampu tenangkan pedihnya
rengkuhlah dia karena dekapku tak sanggup memeluk keluhnya
pendarilah dia dengan pijar-Mu karena pijarku hanya setitik nyala lilin di hamparan langit hitam


'''''


aku limbung lagi
lambungku nyeri

tanpa terasa tetes air mata menetes
mengalir ke samudera luka

dan aku masih berkutat dengan turbulensi kata hati...


Igiw (6 November 2008) 20:40

Cuplikan "The Green Jomblo"

.....
Udah dua hari ini, gue liburan di Lembang, di rumah bibi gue. Hari-hari gue abisin dengan jalan-jalan. Gue jalan-jalan ke perkebunan sayur-sayuran, ke bumi perkemahan, hingga sampailah gue di tempat ini. Di sebuah bukit di mana gue bisa ngeliat kota Bandung dari ketinggian. Ya, nggak jauh-jauh amat sih dari rumah bibi gue. Jalan yang gue lewatin, kalo dilanjut, bisa nembus ke Ciumbuleuit.
Keren dan sepi. Itulah komentar yang bisa gue kasih buat tempat ini. Ya, kayaknya sih emang suasana kayak gini yang gue butuhin sekarang. Gue harap apa yang gue lakuin saat ini bisa numbuhin lagi semangat gue dan bisa ngelepasin diri gue dari rasa kecewa.
Jujur, gue kcewa banget lah. Hah! Gue pikir, Felisa itu emang bakal jadi sesuatu yang istimewa buat gue, yang bakal nemenin hari-hari gue. Ngasih semangat tiap gue jatuh, ngasih senyuman tiap gue sedih, dan selalu bikin hamparan hijau di hati gue diselimuti cahaya hangat. (Gileee, puitis banget yah gue?). Tapi kenyataannya? Gue cuma seorang lelaki jomblo yang keGR-an karena Felisa sering ngerespon usaha gue untuk pedekate ke dia. Gue udah GR saat baca sms dari Felisa. Gue udah GR saat Felisa sering lewat di depan ruangan gue. Daan segenapo ke-GR-an yang lain.
**

Setelah puas nikmatin view kota Bandung dari ketinggian, gue langsung balik arah ke Lembang lagi. Gue tancap gas menuju perkebunan teh yang ada di sekitar perbatasan Lembang dan Subang. Asli sumpah! Pemandangan dan udaranya sejuk banget! Lumayan ngilangin penat gue.
Gue parkirin motor di pinggir jalan, tepatnya di depan salah satu warung bandrek dan jagung bakar. Setelah memesan segelas bandrek dan semangkuk mie goreng telor, gue turun ke lembah yang ada di belakang warung itu. Semuanya dikelilingin sama kebun teh. GOKIL. Seru banget! Beneran, kapan-kapan gue bakalan balik lagi ke tempat ini dengan temen-temen. Ya, syukur-syukur bisa sama cewek gue kelak (MASIH NGAREP? WAKAKAKAKA...!). Gue hirup udara dalem-dalem. WUUUUUFFF... segar! Kalo nggak punya rasa malu, sedari tadi gue bakalan teriak-teriak, gue keluarin semua uneg-uneg yang nyumbat di kepala gue. Tapi, dengan mantengin hamparan ijo yang luas banget di depan mata gue juga udah cukup kok untuk bikin gue tenang.
Green... yup, melihat sesuatu yang berwarna ijo tuh lumayan menyenangkan. Teduh, adem ayem, nyaman aja di mata. Makannya gue nyebut diri gue sebagai The Green Jomblo. Gue pengen ngalalui masa-masa jomblo ini dengan damai, teduh, adem, yah pokoknya sehat-lah (apaan seh?). Hehehehe. Sayangnya, sampai saat ini cinta kembali jadi polusi buat gue. Padahal, gue berharap cinta kali ini datang sebagai sinar mentari bagi hamparan hijau di hati gue. Tapi, kayaknya gue memang belum beruntung. Hmmmf..... (sabar, sabar dan ikhlas ya Nak....)
I hope... I wish... I pray... hati gue bisa kembali green sehingga gue bisa terus bersemangat nungguin cinta sebagai mentari pagi yang hangat buat gue. Dan gue nggak mau lagi larut dalam kekecewaan dan rasa sedih. Gue harus bangkit dengan semangat baru. Toh, walaupun Felisa sama Fikri udah jadian, gue masih dikelilingin sohib-sohib gue. Ada Adit, July, Candra, Teo, Danang, Rean, Novi, Via. Bahkan mungkin Sinta meskipun udah setahun ini gue jarang ketemu sama dia.
Wah, lagi-lagi gue inget Sinta dan kisah panjang cinta gue buat dia. Sinta yang dulu nyaris gue tembak, tapi gue ciut duluan cuma gara-gara dia lagi ngecengin ketua OSIS. Sinta yang dulu pernah cinta mati sama Ronald, pelatih tearet di sekolah, sampe-sampe gue ngarasa nothing. Sinta yang tiba-tiba jatuh cinta dan jadian sama Riyan, sobat gue juga. Sinta yang pernah ngedrop dan down dijutekin anak-anak karena mutusin Riyan demi perasaan cintanya buat Ronald. Sinta yang bikin gue lebih milih dirinya daripada Luri yang nyaris jadi cewek gue. Sinta yang terus datang ke gue dengan kisah-kisah cinta barunya bersama cowok-cowok barunya. Sinta yang kini udah lepas dan ngilang dari jangkauan rasa sayang gue. Sinta yang udah bukan Sinta yang dulu lagi.
ARRGHH... Kenapa jadi mikirin Sinta? Hahahaha... itu cuma masa lalu. Tapi, bisa jadi Sinta juga jadi salah satu alasan kenapa gue jadi jomblo akut yang berkepanjangan. Kalo nggak ada Sinta, mungkin gue nggak bakalan pernah belajar nyelamin pahit manis rasanya jatuh cinta. Cerita green jomblo ini mungkin nggak bakalan pernah ada.
Udah deh, gue pengen balik lagi ke titik nol. Gue pengen kembali green. Gue akan memulai cerita cinta gue yang baru dengan semangat baru. Gue harus semangat.


....

15 October 2008

(Kilasan) Perkembangan Novel di Indonesia

Pada pertengahan abad ke-19, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi telah meletakkan dasar-dasar penulisan prosa dengan teknik bercerita yang disandarkan pada pengumpulan data historis yang bertumpu pada lawatan-lawatan biografls. Akan tetapi, karya prosa yang diakui menjadi karya pertama yang memenuhi unsur-unusr struktur sebuah novel modern baru benar-benar muncul di awal abad ke-20. Novel yang dimaksud adalah novel karya Mas Marco Kartodikromo dan Merari Siregar. Sementara itu, tahun 1920 dianggap sebagai tahun lahirnya kesusastraan Nasional dengan ditandai lahirnya novel Azab dan Sengsara. Pada masa awal abad ke-20, begitu banyak novel yang memiliki unsur wama lokal. Novel-novel tersebut, antara lain Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Kalau Tak Untung, Harimau! Harimau!, Pergolakan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara itu, novel Belenggu karya Armjn Pane, hingga saat ini lazim dikatakan sebagai tonggak munculnya novel modern di Indonesia.

Dari waktu ke waktu, novel terus mengalami perkembangan. Masing-masing novel tersebut mewakili semangat dari setiap zaman di mana novel itu muncul. Di awal tahun 2000 muncul jenis novel yang dikatakan sebagai chicklit, teenlit,dan metropop. Ketiga jenis tersebut sempat dianggap sebagai karya yang tidak layak disejajarkan dengan karya sastra pendahulu mereka oleh kelompok-kelompok tertentu. Di antara karya-karya tersebut yang tergolong ke dalam jajaran best seller, antara lain Cintapuccino karya Icha Rahmanti, Eiffel I'm In Love karya Rahma Arunita, Jomblo karya Aditya Mulya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, walau bagaimana pun juga, seperti yang telah dikemukakan di awal, setiap karya sastra mewakili zaman tertentu. Begitu juga dengan karya-karya tersebut yang kini berdampingan kemunculannya bersama Supernova karya Dee, Dadaisme karya Dewi Sartika, Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, 5 cm karya Donny Dhirgantoro, dan novel-novel terbaru lainnya yang memiliki kekuatan serta pembaca sasaran masing-masing.

Dapatkah Anda menyebutkan sedikitnya sepuluh karya novel yang ada di toko buku saat ini?

Nilai yang Gemuk dan Penuh Gizi - Sigit Rais




Arjuna bengong melihat daftar nilai yang terpajang di dinding kantor jurusan tempatnya kuliah. Nilai B, hasil kerja kerasnya menyelesaikan tugas laporan bersama teman-teman sekelompoknya, kini mutlak jadi miliknya. Awalnya, Arjuna ikhlas dan berlapang dada. Baginya ini adalah nilai yang cukup, apalagi setelah mengingat ketidaksempurnaannya dalam menyusun laporan. Dia berharap nilai teman-teman sekelompoknya pun sama dengannya, dia tidak ingin ada temannya yang mendapat nilai di bawah nilainya, walau dalam kelompoknya dialah yang paling rajin dan bersemangat menuntaskan tugas laporan tersebut. Tapi begitu dia mengamati nilai Padma, Banowati, dan Duryudana, teman satu kelompoknya, rusaklah ikhlasnya selama ini. Mereka mendapat nilai A! Padahal, sebagian besar hasil laporan kelompoknya adalah hasil kerja kerasnya seorang diri. Sisanya barulah hasil kerjasama. Sementara itu Cakil, masih teman sekelompoknya, mendapat nilai BL (belum lulus). Mungkin itu memang wajar, karena selain Cakil memang jarang masuk kuliah, kontribusi dan partisipasinya dalam penyusunan laporan pun hanya sebatas basa-basi dan setor muka saja. Tetapi, Cakil minta perbaikan pada dosen dan dia pun akhirnya mendapat nilai yang sama dengan Arjuna.

Ilustrasi seperti tadi mungkin sering terjadi di lingkung perkuliahan. Nilai seringkali dijadikan sebagai target utama kita dalam menentukan berhasil atau tidaknya perkuliahan selama satu semester. Hal ini menimbulkan sebuah anggapan bahwa seorang mahasiswa yang mendapat nilai A memang lebih cerdas dibanding mahasiswa yang mendapat nilai di bawahnya. Hal ini mungkin memang benar, apalagi jika nilai A tersebut adalah nilai gemuk dan penuh gizi, bukan nilai kurus atau bahkan nilai omong kosong. Karena dari nilai A tersebut ada sesuatu yang harus bisa dipertanggungjawabkan, yaitu ilmu.
Melihat kejadian Arjuna di atas, rasanya nilai ABCD memang terlalu sederhana untuk mewakili kinerja seorang mahasiswa selama satu semester. Tak akan ada yang tahu kualitas yang terangkum dalam nilai tersebut, bahkan dosen yang bersangkutan pun mungkin tidak mengetahui sepenuhnya mutu masing-masing mahasiswa peserta didiknya. Bukti berupa daftar hadir, nilai UTS, nilai UAS, keaktifan di kelas dan nilai tugas akhir mungkin memang syarat mutlak yang dapat mengantarkan mahasiswa melewati gerbang kelulusan suatu mata kuliah. Untuk mendapat nilai yang baik tentunya mahasiswa harus melengkapi poin-poin tadi. Asalkan setiap poin dilaksanakan dengan baik, tuntaslah urusan, nilai terbaik pun sudah ada dalam genggaman tangan. Toh dosen tidak akan tahu kinerja kita selama ini, dosen tidak akan tahu bagaimana pemahaman kita terhadap ilmu yang diajarkannya. Dosen hanya tahu kita rajin kuliah, mengumpulkan tugas, mengikuti UTS, dan UAS. Tapi yang jadi permasalahan adalah dari mana asal nilai tersebut, bagaimana usaha kita dalam memenuhi poin-poin tadi, dan apa yang didapat dari suatu perkuliahan selain nilai semata.
Terlepas dari berbagai usaha kita untuk mencapai nilai terbaik, baik itu usaha yang “positif” ataupun usaha yang “negatif”, ada satu hal yang paling penting, yaitu pemahaman dan skill kita atas ilmu yang kita dapatkan dari sebuah perkuliahan. Hal inilah yang membuat nilai menjadi gemuk dan penuh gizi. Karena dengan nilai kurus kering, sekalipun nilai itu baik, maka satu semester pun telah terbuang dengan percuma. Kelak setelah lulus, IPK di atas angka 3 pun hanya serupa atribut kesarjanaan yang entah bagaimana cara mempertanggung jawabkannya.

Dalam hal ini diperlukan adanya kesadaran dari masing-masing mahasiswa untuk berusaha menggemukkan nilainya dan menjadikannya penuh gizi dengan memahami esensi dari setiap perkuliahan seoptimal mungkin. Mahasiswa harus aktif berperan serta terutama dalam hal praktek agar pengetahuannya benar-benar bertambah disertai dengan meningkatnya skill sesuai bidang yang akan dikuasainya. Jika dalam perkuliahan terdapat tugas yang mengharuskan mahasiswa tergabung dalam sebuah kelompok, masing-masing anggota kelompok harus bertanggung jawab pada posisinya masing-masing. Jangan saling mengandalkan dan melimpahkan permasalahan pada anggota yang dianggap lebih mampu. Setiap individu harus memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan. Di sini harus terjalin kerjasama yang baik. Setiap individu pun harus mendapat pengalaman yang sama dan meneteskan keringat dalam jumlah yang sama.
Sementara itu pihak pedidik (baca: dosen) pun harus jeli mengamati semua peserta didiknya. Jangan ada yang luput. Jangan sampai si rajin mendapat nilai yang tidak lebih baik dari si malas. Si malas harus bisa dimotivasi agar berubah seperti si rajin sehingga ketidakadilan dalam hal penilaian dapat dihindari. Dalam hal ini diperlukan adanya kebijakan dari pihak Jurusan atau Fakultas untuk membatasi jumlah mahasiswa dalam satu kelas agar tidak terlalu banyak dengan harapan dosen mampu melakukan pendekatan personal pada setiap inividu dalam kelas, sehingga perkembangan setiap mahasiswa pun benar-benar terpantau. Jangan sampai perkuliahan berlalu begitu saja tanpa memberikan nilai lebih (baca: pemahaman dan pengalaman) bagi peserta didik. Dengan demikian maka perkuliahan pun akan terlaksana secara efektif dan optimal, dan kasus seperti Arjuna tadi pun tidak akan terjadi lagi.
Seperti contoh ilustrasi tadi, dalam hal nilai Arjuna mungkin kalah dibanding teman-teman satu kelompoknya. Tapi ada satu hal yang tidak didapatkan oleh teman-temannya, yaitu pemahaman dan praktek pengaplikasian berbagai teori yang didapatnya dari bangku perkuliahan lewat tugas akhir berupa laporan penelitian. Walaupun laporan itu jauh dari sempurna, tapi setidaknya proses pengerjaan laporan itu bisa dijadikan ajang pembelajaran baginya. Sementara teman-temannya, walaupun ikut mengerjakan laporan tapi karena kotribusinya serta partisipasinya tidak sebanyak Arjuna, maka mereka kalah pengalaman dari Arjuna. Akhirnya, Arjuna pun bangkit dari kecewanya, dia melakukan intospeksi, dan setelah bertanya pada dosen, ternyata ada tugas harian yang tidak lengkap. Dengan positive thinking Arjuna pun ikhlas menerima kekalahan sekaligus kemenangannya. Seperti yang dikemukakan dr. Yusri Hapsari Utami, ita memang harus belajar ikhlas, dan belajar jadi “pascasarjana” yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, masyarakat, dan keluarga.
Jadi apalah artinya kita bangga pada nilai A jika hanya A yang kurus kering bahkan kosong melompong dan tidak bergizi?***