24 April 2013

Tentang Dia, si Bodoh

Begitu banyak orang-orang yang menganggapmu bodoh, memandangmu sebelah mata, dan menganggapmu tak bisa diandalkan. 
Tetapi dia tidak. Dia tidak seperti mereka. 
Dia selalu menganggapmu pintar, cerdas, dan selalu bisa diandalkan. Walaupun, terkadang kau asik bermain dengan kesombonganmu.

Dia begitu menghormatimu. Berbeda dengan sebagian di antara mereka yang sering meremehkanmu.
Bahkan, terkadang dengan rendah hati dia merundukkan kepalanya di hadapanmu agar kau merasa berharga.

Sayangnya, matamu selalu dengan jujur berkata bahwa dia begitu dungu bagimu. Bahkan, tanpa hati, seringkali kamu menjatuhkan dia di depan orang-orang -yang sebenarnya menganggapmu sepele. Dia tak pernah berontak. Tak pernah protes atau menggugat. Semua dia terima, bahkan saat sapaan hewan pernah kau hujamkan dengan seluruh kebencianmu padanya. Atau, saat kau bersekongkol dengan kawan pintarmu untuk membodohi dia.

Kadang, si bodoh itu berusaha sebisanya untuk meyakinkan orang-orang, yang selalu menganggapmu bodoh, bahwa kau adalah mutiara yang terbenam di dasar samudera. Tapi sayang, semua itu tak ada harganya bagimu. Kamu lebih senang dengan keadaan sekarang: dianggap bodoh dan menjadikan dia sebagai target cemoohanmu.

Tapi mungkin dia memang bodoh, karena dia masih saja berusaha menunjukkan pada dunia, yang sering mengecilkan artimu, bahwa kau begitu pintar dan barharga. Sementara, kau sendiri selalu menyeringai dengan tatapan mengejek seakan berkata, "dasar bodoh".

Di suatu senja, dalam rengkuh gerimis yang mendera, dia terdiam dalam murung karena kesedihan. Begitu banyak kalimat yang ingin dia kisahkan padamu. Tetapi, dia memilih bungkam, lalu pergi menerjang gerimis yang perlahan menjelma hujan. Dia merasa tidak cukup pintar, bahkan untuk sekadar bercakap-cakap denganmu yang selalu merasa pintar dan memang selalu menjadi kawan pintar di matanya.

Pada setiap bulir hujan itu, dia menitipkan kisah, tentang cabikan hati saat merasa jadi orang bodoh, tentang iri tak bertepi saat kau bisa bicara ini-itu dengan kawan-kawanmu yang kau anggap pintar dan pantas diajak bicara.

Sekarang, dia masih dia yang dulu, yang mungkin akan segera menebar selendang pencipta jarak denganmu. Sesekali, dia mendengar bisik orang-orang yang selalu merendahkanmu dan menganggapmu tak berharga. Tapi, itu tidak mengubah apapun. Tak mengubah ronamu di mata polosnya. Kamu yang selalu pintar, cerdas, dan selalu bisa diandalkan di matanya. 
Bahkan, saat keseribu kali kau berteriak, "BODOH!" di telinganya, dia akan selalu menjaga hatimu agar kamu selalu bisa merasa berharga.

07 April 2013

Saat Pernah Jatuh Hati dan Patah Hati

Saya pernah jatuh hati pada seseorang. Seseorang itu saya jadikan sasaran ekspektasi rasa hati. Tentu saya memilih untuk jatuh hati dengan kesadaran bahwa tidak setiap hati bisa saling terkoneksi. Jadi, hati lapang saya selalu membuka diri bagi kemungkinan datangnya kekecewaan karena kisah cinta tak berbalas yang sebetulnya sangat mainstream dan sering dialami banyak orang.

Maka, saat saya tahu dia tidak bisa berbalik arah pada saya dan membalas rasa yang saya punya, saya sikapi dengan bijak dengan adil. Saya tanamkan keyakinan bahwa setiap orang memang berhak jatuh hati pada siapa saja, pada apa saja. Tetapi, objek yang dicintai pun punya hak untuk menentukan apakah akan berbalik mencintai atau tidak. 
Tidak ada seorang pun yang berhak memaksakan kehendaknya, kecuali orang sombong yang akan selalu kecewa saat keinginannya tidak terwujud.
Usaha? Boleh tetap dilanjutkan, asalkan realistis dan segera bangkit menuju kesadaran bahwa tak setiap hal yang kita inginkan akan kita dapatkan. Ya, seperti lagu ciptaan saya dengan sahabat saya, @ariefnuno.

"... tak setiap keinginan dapat jadi kenyataan, tapi yakinlah yang terbaik yang akan kita dapatkan" 

Kadang, ada orang-orang yang senasib dengan saya, dia malah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Contohnya adalah hal-hal berikut. 


  • Ada yang cerita sana-sini agar tercipta citraan bahwa dirinya adalah objek penderita, dan orang yang tak bisa didapatkannya adalah orang terjahat di muka bumi yang wajib diasingkan.
  • Ada yang berusaha membalas rasa sakit hati (yang sebetulnya dibuatnya sendiri) dengan cara berupaya mencari  figur lain untuk dijadikan 'alat' untuk membuat orang yang tidak bisa didapatkannya merasakan kecemburuan.
  • Ada yang sengaja berakting menunjukkan sikap tidak bersahabat pada orang yang tak bisa didapatkannya. Tujuannya adalah agar orang-orang di sekelilingnya menganggap ada sesuatu yang besar tengah terjadi.
  • Ada yang berusaha sekuat tenaga untuk memperlihatkan bahwa ada orang lain yang mendekatinya. Tujuannya tentu saja untuk menciptakan gejolak cemburu yang diwarnai oleh keinginan untuk membalas dendam atas rasa sakit yang sebetulnya diciptakan sendiri.
  • Sekarang ini zamannya social media. Mungkin hampir semua orang yang melek teknologi memanfaatkan social media. Social media inilah yang bisa dijadikan sasaran empuk untuk mencari 'dukungan' dari teman-teman sekitar yang sama-sama terkoneksi melalui jejaring sosial tersebut. Selain itu, social media juga bisa dijadikan untuk show, menunjukkan pada orang yang tidak bisa dia dapatkan bahwa sudah ada orang lain yang mengisi hatinya, yang dia anggap sudah dicabik-cabik (padahal jalan pikiran dirinya sendiri yang mencabik-cabiknya).


Ya, apapun itu, kadang kalau untuk urusan hati, ya memang sulit dibuat kendalinya. Kadang, beberapa bagian hati kita ingin menciptakan kontrol atau sistem pengendalian internal yang oke. Tetapi, pada akhirnya, perasaan dan sisi melankolis kita menepis semua logika dan membuat otak kita dipaksa menganggap bahwa diri kitalah yang menderita. Bahkan, kadang kita tergiring untuk memutarbalikkan fakta dan melejitkan salah satu sifat dasar manusia yang bermuatan negatif, yaitu tidak mau disalahkan dan orang lainlah yang seharusnya salah.

Sekali lagi saya sampaikan, saya pernah jatuh hati pada seseorang, lalu saya patah hati karena hati kami tidak bisa dikoneksikan sesuai dengan keingian saya. Tetapi, saya tidak pernah berusaha untuk 'membalas' dia, apalagi dengan cara-cara konyol seperti yang saya bahas sebelumnya. Sekali lagi saya tegaskan, kita berhak jatuh hati pada siapa saja, dan orang yang kita jadikan objek jatuh hati tidak punya kewajiban untuk membalas rasa hati yang kita punya. 

Semoga hati kita selalu tertuju pada orang yang benar-benar dihadirkan Tuhan untuk menciptakan koneksi rasa hati dengan kita. Rasa hati yang kuat, tulus, dan mengalir bagai sungai Seine.

05 April 2013

Bermuara pada Suatu Senja

Setiap pagi, langit selalu menyuguhkan hangat matahari. Kadang redup, kadang menyengat, kadang terasa sangar, kadang lembut, kadang hangat, dan kadang terasa tiada walau sebenarnya ada di balik dinding awan sana.
Sejak fajar, hadirnya selalu jadi pertanda di mula hari. Kadang ada firasat, kadang ada impian dan harapan yang tersampaikan melalui berbagai cara manusia menyemai doa.
Lalu, diukirlah sejarah oleh manusia-manusia yang tak lelah bertengadah. Terkadang, ada pongah yang jadi tingkah polah. Kadang ada api yang membuat gerah. Ada juga tangisan yang jadi pintu keluar dari himpit gelisah.
Itulah hari.
Kadang, hari terasa begitu berat dan tak sanggup dipikul. Terasa panjang.
Tetapi, terkadang hari terasa begitu manis dan penuh warna. Menjadi deret kisah yang tak ingin dilupa.

Lalu, tibalah kita pada suatu senja.
Di situlah semua bermuara. Rasa lelah, semangat yang memudar, atau kejutan-kejutan yang tergenapi, semua bermuara.
Beberapa orang merangkumnya dalam doa.

Ini senja.
Kadang jingga, kadang bersemburat ungu, kadang mendung hadirkan kelabu, kadang begitu benderang menyilaukan mata, kadang berhias pelangi seusai hujan reda.

Ini kelucak rasa yang begitu kaya warna.
Bercampur dan bermuara pada suatu senja.

Aku berharap di setiap kisah tentang senja, ada seseorang yang tanamkan hangat matahari jingga,
sehingga tak ada lagi pekat gelap malam yang mengasingkanku pada sudut rasa takut.
Seperti saat ini.

Ini senja yang mungkin biasa saja.
Tapi kali ini keberadaannya membuatku bisa merasakan bahagia, walau sekadar bahagia yang sederhana.

Senja menghilang perlahan di ujung sudut mata.
Besok, lusa, atau kapan-kapan dia akan kembali, lalu menjadi tempat bermuara seperti seharusnya.

di meja kerja
5 April 2013 ~18.00