19 January 2010

Jatuh Hati dengan Rasa Bahagia

Ini tentang dia yang jatuh hati kepada seseorang.


Kali pertama dia berjumpa dengan orang itu adalah saat yang istimewa baginya, walaupun mungkin bagi orang yang membuatnya jatuh hati, itu adalah saat-saat yang biasa.
Diam-diam, mulai mencari tahu segala hal tentang orang yang disukainya itu. Dia berusaha meng-add facebook-nya dan berusaha mendapatkan nomor teleponnya. Awalnya, dia ragu untuk mulai menjalin hubungan pertemanan. Perlahan, dia mulai menghimpun keberanian.
Suatu malam, saat dia melalui malam dalam sunyi, wajah orang itu melintas di benaknya. Lalu, secara spontan dia menyapanya lewat status facebook. Dia tidak berharap apa-apa selain sebuah interaksi yang dapat melipur sunyi yang terkadang membuatnya sesak.
Sejak saat itu, terkadang dia mengirim pesan basa-basi atau sekadar 'say hai' melalui status facebooknya. Kau tahu? Itu adalah saat-saat yang membahagiakan dan mendebarkan baginya. Lalu, terciptalah euforia saat pujaan hatinya membalas pesan2nya itu, meskipun jawaban yang datar dan biasa. Bahkan terkadang, sapaannya tak pernah dibalas. Dia tak mau bersedih, dibangunnya pikiran positif agar hatinya tidak gelisah. Misalnya, "mungkin habis pulsa", padahal itu terjadi berulang-ulang. Tapi dia berusaha untuk tidak bersedih.

Akhirnya dia sadar, dia sedang jatuh hati. Awalnya, dia berusaha mengingkari kata hatinya. Dia tidak mau jatuh hati kali ini. Apalagi pada orang yang kerap tidak pernah menggubrisnya, bhakan mungkin menganggapnya tidak pernah ada. Hatinya bergejolak. Ada pertentangan yang menciptakan turbulensi.
Dia frustasi karena gagal mengendalikan keinginannya yang berbaur dengan teriakan isi kepala yang mengatakan bahwa dia tidak ingin jatuh hati.

Lalu, dia berusaha keras untuk berkompromi. Dia mendamaikan pikiran dan kata hatinya. Dia mulai menerima kenyataan bahwa dia sedang jatuh hati. Dengan susah payah, akhirnya dia mengaku bahwa dirinya sedang jatuh hati. Tetapi, lagi-lagi dia kembali berbenturan dengan realita: bahwa orang yang disukainya itu tidak meresponnya secara positif.
Dia pun mencari cara untuk terus merasakan kebahagiaan saat mengarungi fase jatuh hati ini. Dia tidak ingin sedikitpun merasakan kekecewaan dan penyesalan karena jatuh hatinya yang mungkin tidak bisa dikendalikan.

Saat bertemu dengan orang yang disukainya, ada gugup menghantuinya. Dia takut salah bicara. Berkali-kali dia berusaha bicara sewajarnya. Tetapi, dari nada suaranga, terdengar jelas bahwa dia sangat gugup. Terkadang, pembicaraannya ditanggapi dengan hangat, tetapi lebih sering ditanggapi biasa saja, bahkan diabaikan. Tetapi, dia berusaha untuk tidak bersedih. Lagi-lagi dia membangun pikiran positif. Dia tidak mau menghancurkan rasa bahagia yang kini sedang dirasakannya.
Kau tahu? Berbicara dengannya adalah hal yang dapat menumbuhkan semangatnya setiap hari, meskipun itu hanya pembicaraan basa-basi yang tidak penting dan terkesan sepele, atau pembicaraan mengenai pekerjaan yang tidak menarik. Yang jelas, baginya pembicaraan apapun itu, akan selalu berkesan sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Saat pujaannya itu tersenyum, dia akan merasa bahagia. Saat pujaannya bermuram durja, dia tetap tak ingin bersedih. Dia yakin, itu tak kan lama. Dia yakin, pujaannya itu akan memberinya hadiah terindah berupa senyuman.


***

Diam-diam, dalam riuh orang-orang, dia selalu mencari keberadaan pujaan hatinya itu. Dia tak peduli meskipun saat dia melihat orang itu, tak ada sapaan hangat atau seulas senyuman bersahabat. Tetapi dunianya akan menjadi terasa begitu berarti jika sosok yang dicarinya itu ada dan menatap ke arahnya.
Lalu, saat malam datang dan dia ditikam sunyi, hati kecilnya menjerit ingin bertemu. Tetapi, dia berusaha menahan keinginan dahsyatnya itu. Dia tahu, jika keinginannya itu terus dipelihara, dia akan semakin tersiksa oleh realita yang berkata bahwa kasihnya tak akan menjadi nyata.
Dia hanya bisa berdoa agar gejolak dalam hatinya tidak membuatnya larut dalam semu... Dia hanya ingin merasa tenang dan melalui semua itu dalam rasa bahagia yang terpelihara...


***

Saat orang itu tak ada di sekitarnya, dia tak pernah usai memikirkannya. Bahkan terkadang ada rasa cemas berlebihan. Sementara, di sana, tidak ada yang bisa menjamin apakah seseorang yang dipikirkannya itu memikirkannya atau tidak.

Saat beradu pandang, meskipun dari kejauhan, adalah saat yang paling menyenangkan sekaligus mendebarkan baginya. Ada rasa takut menghampiri. Ada rasa cemas merengkuh. Lalu, lagi-lagi ada euforia yang membuatnya ketagihan untuk terus menatapnya. Letupan kegembiraannya akan meluap saat orang itu menghampirinya dan memulai sebuah pembicaraan. Lagi-lagi dia merasa mendapatkan momen yang sangat berharga.

Suatu ketika, di luar garis-garis rencana dan perkiraan, seseorang itu meneleponnya. Dia bahagia, meskipun tak ada kata-kata yang mengisyaratkan hal istimewa dalam pembicaraan itu. Dia benar-benar bahagia dan mulai menantikan telepon-telepon selanjutnya. Tetapi, itu mungkin kali terakhir yang entah akan datang kembali atau tidak. Tak masalah baginya. Dia hanya bersyukur karena pernah merasakan saat-saat bahagia itu. Dia terus berusaha menyelimuti penantiannya dengan rasa bahagia.

Kini, apapaun yang terjadi, sebruruk apapun kisah cinta yang dialaminya, dia terus berusaha menumbuhkan rasa bahagia. Dia yakin, rasa bahagia itulah yang akan menjadi semangat dan kekuatannya dalam melalui gejolak jatuh hati yang terkadang sulit diprediksi dampak atau akibatnya bagi hidupnya sehari-hari dan hubungan baiknya dengan orang yang dicintainya itu.

01 January 2010

Malam Tahun Baru Pertama di Jakarta


Mungkin sejak sekarang sampai beberapa tahun ke depan, saya 'resmi' jadi warga Jakarta. Walau enggak punya KTP buatan sini, saya menghirup oksigen tiap detik di sini, sejak Mei 2009 lalu. Jadi, ya kita berdoa saja semoga Jakarta selalu memberikan space-nya untuk saya, agar saya bisa bertahan di sini.

Malam tahun baru 2010, saya meninggalkan 2009 bersama teman-teman kosan. Ada Agus, Ina, dan Hadi. Kami jalan kaki dari Sudirman ke Monas. Tadinya, dari benhil kami naik bus. Tapi ternyata jalanan macet. TOTAL. Maklum, karena masih pemula, kami belum tahu situasi. 
Akhirnya kami sepakat turun dari bus, lalu jalan kaki sambil ketawa-ketiwi. Di bunderan HI kami sempat berhenti. Foto-foto, tiup-tiup terompet, dan iseng memperhatikan peliput televisi. Maklum, kami orang desa, main ke kota besar, lihat kamera tivi rasanya gatal sekali ingin unjuk gigi. 
Saya? Hmmm... jangan salah. Saya telepon Mama. Mama sedang kumpul-kumpul juga di rumah. Lalu, saya minta mama nonton tv, di channel tv swasta yang saya lihat kebetulan sedang siaran live di sini. Siapa tahu saya kapilem. Ha ha ha.

Seusai itu, kami lanjut jalan ke arah Monas. Di sana ramai, tak karuan, bau pesing, dan banyak sampah. Rumput-rumput diinjak. Banyak muda-mudi pelukan sambil tiduran di sana. Iyyyuh... menjijikan. 
Lalu, moment pergantian tahun tiba. Kami tiup-tiup terompet sampai bengek. Lalu, karena letih, kami pun pulang.

Jadi, bagaimana first impression tahun baruan di Jakarta? Hmmm... LIEUR... banyak jelema. Hahaha... anyway, semoga saya selalu betah di Jakarta.