04 November 2010

Foto-foto di Kalimantan Selatan

Hampir lupa posting foto-foto jepretan isengku waktu di Kalimantan Selatan 19 - 22 Oktober 2010 kemaren... hehe


Pasar Terapung Sungai Barito


Jembatan Barito





Resume perjalanan

Selasa, 19 Oktober 2010
Sekitar Jam 9 pagi WIB, aku berangkat dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta dengan Nofrizal dan Mas Agung diantar sama mas-mas driver kantor. Kami terbang dengan pesawat Lion Air jam 11.15 WIB.
Karena ada perbedaan waktu, kami sampai di Bandara Udara Syamsudin Noor, Banjarmasin sekitar pukul 14.30 WITA.
Setelah itu, kami langsung meluncur ke Kantor BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan di Kota Banjarbaru. Tanpa teralu banyak basa-basi, kami langsung deh bertugas nyiapin kegiatan untuk hari Kamis, tanggal 21 Oktober 2010.
Sorenya (maghrib), kami langsung check in di Hotel Permata In, Banjarbaru. Nah, setelah itu aku dan Nofrizal ngelayap. Jalan kaki nyari cemilan. Kami dapet gorengan dan es jeruk doang. Haha... Setelah itu, barulah kami makan besar dengan 'tuan rumah' di salah satu restoran masakan Sunda yang katanya paling oke di Banjarbaru. Beuh, jauh-jauh ke Kalimantan eh makan makanan Sunda. Hahay.
Abis itu, kami langsung istirahat di penginapan.

Rabu, 20 Oktober 2010
Pagi-pagi menjelang siang, kami langsung ke kantor perwakilan buat gladi resik acara besoknya. Setelah gladi resik selesai, aku diajak jalan-jalan ke Martapura dengan Bu Etty, Pak Cornel, Nof, Mas Agung, dan Pak Galih driver rental mobil. Di sana belanja belanji deh. Aku beli kalung, gelang, kain, pajangan, bahkan aku beli mandau, senjata khas Kalimantan dan tameng miniatur berhias gigi sapi (hiiy) yang sering kulihat di film-film dokumenter tentang suku Dayak.
Nggak lupa kami ke toko kain Sahabat Sasirangan. Setelah itu, kami lanjut ke Cempaka untuk liat-liat pertambangan intan berlian. Waw, ternyata mencari intan atau berlian itu bukan hal yang gampang lho. Mungkin kayak nyari jarum di tumpukan jerami. Halah. Sialnya, di sana sepatu kerjaku kena lumpur deh. Padahal itu sepatu semata wayang buat acara besoknya. Tapi, tak apalah, pasti bisa dibersihin.
Nah, berhubung hari menjelang malam, kami langsung pulang ke penginapan.
Setelah istirahat sebentar, kami langsung rapat koordinasi di kantor sambil makan malam: Nasi Padang! Buset. Kemaren masakan SUnda, sekarang masakan Padang. Kedua makanan yang sering disantap setiap hari. Ini Kalimantan coooyyy... haahaha... Tapi ya namanya juga tamu, ya harus nerima dan menghargai hidangan dari tuan rumah. Harus bersyukur coz masih dapet makan. hehe...
Abis itu, kami kembali ke penginapan. Sementara, aku dan Nof lanjut ngelayap lagi nyari tukang mie rebus. Akhirnya dapet mie rebus di deket pom bensin yang beberapa jam lalu antreannya ruarrr biasa!
Stelah itu, tidur deh...

Kamis, 21 Oktober 2010
Acara pun terlaksana dengan lancar. Pimpinan keknya puas denga acara hari ini.
Selanjutnya, aku dan gerombolan lanjut makan Soto Banjar. Setelah itu, dilanjut dengan kunjungan ke Jembatan Barito yang cukup panjang. Bener deh, seumur-umur keknya baru kali ini liat jembatan yang panjang. Haha... paling2 di Jakarta liat fly over doaang.
Nah, abis itu, karena satu dan lain hal, kami turun di pom bensin perbatasan Banjarmasin dan Banjarbaru. Sopir kantor kami minta lanjut pulang. Sementara kami dianter sama temennya Mas Agung. Pertama-tama kami belanja oleh-oleh dulu di Banjarmasin. AKu sih cuma beli ikan saluang goreng kering dan kacang-kacangan. Abis bingung, takut ribet bawanya.
Abis itu, kami diajak makan LOntong Orari yang porsinya muantab abis gan.
Setelah itu, kami langsung kembali ke penginapan dan... ZZzzzzzzz (saking capeknya)

Jumat, 22 Oktober 2010
Subuh-subuh buta telepon di kamar penginapan berdering. Ternyata Mas Wahyu yg mau ngasih tau kalo aku dan Nof harus siap-siap untuk berangkat ke pasar terapung di Sungai Barito.
Tanpa mandi, aku dan Nof langsung ke lobi karena pak driver udah nungguin. Nah, sekitar 1 jam perjalanan, kami pun sampai di pasar terapung. Aku jadi inget tayangan opening salah satu tv swasta yang shooting di pasar terapung.
Unik dan bikin takjub. Baru sekarang aku liat orang-orang lalu lalang bertransaksi di pasar terapung itu. Kerennya, saat kulihat ibu-ibu naik perahu sendirian, dayung sendirian, dan kecepatannya lumayan... kerennn..

#bersambubg ya gan

kesempatan (atau kamu) yang tak pernah adil

ini mungkin tentang kita.
tentang kesempatan bagiku yang tak pernah adil dan sempurna untuk bisa bersamamu.
ya, rasanya tidak adil...

tapi, kesempatankah atau kamukah yang sebetulnya tidak adil?
entah...

semula, ingin kutagih keadilan itu
tetapi, aku tahu...
akhirnya

kututup mata dan rasa agar tak ada lagi rasa dahaga...

Bencana dan Doa

Tentang bencana yang akhir-akhir ini terjadi, aku yakin banget itu adalah ujian dan petunjuk dari Tuhan buat manusia. Liat deh, alam udah mulai renta, udah tua, terus dieksploitasi. Ibarat besar pasak daripada tiang, pemanfaatan SDA terlalu lebay dibanding upaya untuk melestarikan. Hmmh.. padahal, dari zaman SD, istilah "Buanglah Sampah pada Tempatnya" dan "Reboisasi" udah sering banget kudengar. Tapi pada kenyataannya? Ya gitudeh... masih banyak banget orang-orang yang buang sampah sembarangan. Udah gitu, pepohonan habis ditebangi. Mana gedung-gedung beton merata di mana-mana. Nutupin tanah yang harusnya jadi tempat air meresap sehingga tanah nggak akan amblas meskipun air tanah disedot. Lha ini? Penyerapan air kurang, air tanah dipake abis-abisan.... ya udah... tanahnya kayak tulang yang kekurangan kalsium. Betul?

Lucunya, di sisi sono lagi gempa, tsunami, gunung meletus... di sisi lain, orang-orang tetep sibuk ngumpulin duit, ngumpulin kekayaan duniawi.. ya itu sih gak apa-apa... Wajar. bukankah kiat memang dianjurkan untuk kaya? Tapi, kaya yang berguna bagi orang lain. APa sih artinya kaya kalo cuma buat kepentingan diri sendiri. Keknya nggak barokah deh. Alangkah lebih good kan kalo dibagi juga dengan sesama, terutama mereka yang sangat membutuhkan.
Alangkah better juga kalo sejenak aja, di tengah kesibukan kita mengurusi dunia, kita diem sejenak. Sekadar merenung. APa makna di balik semua pertanda ini? Okelah kalo bencana itu gak menimpa kita secara langsung. Tapi setidaknya kita musti sedikit berempati. Ikut merasakan dan semaksimal mungkin mencoba untuk meringankan beban mereka. Masalah cara? Nggak usah tanya2... banyak cara. Dan setiap orang punya caranya masing-masing. Toh, apapun caranya, insya ALlah akan menjadi ladang kebaikan bagi kita. Paling nggak, kita musti berdoa buat mereka... buat semua... semoga kita semua dapet yang terbaik dari Tuhan.
Yuk, kita berdoa... gratis. Bisa di manapun. Kapanpun. Insya ALlah menjadi baerkah bagi semua, asal dilakukan denga ikhlas....

03 November 2010

Mood, Semangat, dan Apalah Itu Namanya

Kali ini cuma mau bilang, mood, semangat, dan apalah itu namanya, yang seharusnya melesat, mendadak seperti hilang. Bawaannya males kerja. Males banget. Nggak enak badanlah. Dan lain sebagainya.
Bingung apa penyebabnya.
Tapi ya sudahlah. Nanti juga akan segera pulih seperti biasa. I hope.. I wish.. I pray..

01 November 2010

Mungkin Akan Segera Tiba

Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat aku tak lagi menatapmu sebagai kamu yang dulu: pendar bintang di antara gelagat kelam langit hitam.

Akan kutinggalkan setiap jengkal isi hati ini, isi hati kita yang tak pernah terungkap dalam satu definisi. Isi hati kita yang diam-diam terkubur dalam pekat laju detik yang berdetak. Isi hati kita yang terpasung oleh dogma. Oleh dangkal pikiran orang-orang. Bahkan, mungkin oleh ketakutan kita menantang matahari.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat sebongkah tubuh yang selalu kurindu menyata di depan mata. Saat tak ada lagi ingin dan doa untuk dapat merengkuh segenapmu. Saat bisa kutatap dengan lega gambar-gambarmu dalam serpih kenangan yang bisa jadi akan melekat selamanya.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat tawa yang kita bagi tak lagi digores oleh curiga dan tanya. Saat bahagia yang kita bagi menetes semurni embun di pucuk pagi. Tanpa hasrat, tanpa ambisi untuk memiliki, tanpa pretensi, dan tanpa pahit kemauan untuk saling melukai.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat tak ada lagi melodi degup nadi yang menghujam euforia saat kutatap tajam tatap tajammu. Saat diam-diam kita saling menatap dan menelusuri setiap lekuk sejarah masa lalu kita dengan berbagai cara. Saat aku menemukanmu di berbagai istana yang tak jarang menyimpan sosokmu sebagai pemiliknya.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat aku menghentikan penantian menunggu jawaban. Saat aku berhenti berharap kautemani menyulam matahari. Saat masing-masing tubuh kita telah berpindah tangan pada pemilik hati yang lain.



Semoga segera tiba saat itu. Saat pagi mengurai jumpa dan senja menutup deret kisah suka cita. Saat binar matamu mampu ketangkap sebagai cahaya sederhana. Saat inginku tak lagi berontak melonjak-lonjak.

Dan saat itu, aku akan berhenti menjadi penimbun rindu.