20 September 2010

Tersinggung Karena Saran dari Orang Lain?

Aku bingung. DI dunia ini kok sering terjadi kesalahpahaman ya? Khususnya dalam hal menerima saran atau kritik dari orang lain. Seringkali, orang yang dikasih saran atau kritik itu nganggap kalo dirinya telah digurui. Parahnya kalo orang tersebut ngerasa lebih hebat dari orang yang ngasih kritik atau nasihat. Heu, kalo udah gitu yowis, salah nerima. Nggak rela kalo dikasih wejangan. Ngerasa direndahkan. Padahal, bisa jadi saran, kritik, wejangan, atau apalah itu namanya, yang dikasih sama orang lain itu tentu aja didasari dengan niat baik: saling mengingatkan. Ya, mungkin emang ada juga sih orang yang ngasih kritik itu buat ngejatuhin seseorang. Tapi, aku yakin banget, di dunia ini masih ada kok orang cerdas dan bijak yang mau tulus ngasih saran atau kritik yang bisa berdampak positif.



Yah, namanya juga manusia. PAsti ngerasa diri paling hebat, paling bener, paling dekat sama Tuhan, paling alim. Sementara, orang-orang di sekelilingnya dianggap nggak penting sehingga setiap petuah dari mereka, terutama yang dianggap nggak ngenakin hatinya, dianggap sebagai pisau yang mengancam hidupnya. Lain halnya kalo ada saran yang sejalan dengan pola pikir dan keinginan dirinya. Barulah yang kayak gitu dianggap sebagai saran dari ce es (temen kompak).Padahal, terkadang perasaan yang kita yakini itu nggak mutlak lho sifat kebenarannya. Terlalu banyak hal yang nyampur. Pola pikir, ideologi, rasa hati, bla bla bla... banyak deh. Itulah yang bikin hati kita yang murni saat lahir menjadi butek nyampur aduk.



Nah, dalam hal ini, kita sebagai manusia yang pasti pernah bikin dosa, perlu nyikapin saran, kritik, nasihat, dll dari orang lain secara bijak dan terbuka. Di sini nih perlu adanya kecerdasan otak supaya bisa mandang sesuatu dari banyak sisi. Nggak cuma dari sisi keegoisan paradigma personal soang.. eh.. doang. Tiap ada saran atau kritik, bagusnya sih dikaji lebih dalam di dalam otak kita yang konon lebih berakal dari makhluk mamalia lainnya. Dipertimbangkan baik buruknya. Diserap energi positifnya. Dicerna... nah, kalo ada hal-hal yang terasa negatif, dicerna lagi, lalu kalo terasa nggak bermanfaat ya monggo dibuang. Nggak usah dibikin menjadi sesuatu yang bikin bete dan sakit hati.



Aku juga dulu pernah tersinggung sama kritikan orang. Sampe2 kami berantem kata-kata hanya karena aku nggak terima sama omongan dia. Jelas, keegoisan aku muncul sejadi-jadinya. Aku ngerasa jadi orang paling suci sedunia dan nganggap orang itu 200% salah. Tapi, setelah setuasi mereda (dalam jangka waktu yang cukup lama lho), finally aku menyadari sesuatu, yaitu aku udah salah mengartikan omongan orang itu. Ya jelas itu semua karena ego dan merasa paling benar sendiri. Padahal, setelah dipikir-pikir, omongan orang tadi itu ada benernya juga. AKunya aja yang buta mata hati karena merasa jadi manusia paling bersih sedunia.Makanya, sekarang tiap ada kritik, saran, atau wejangan, dari siapapun, nggak pernah tuh aku telen bulet2. Selalu aku cerna baik-baik karena aku yakin kritikan juga adalah ajang pembelajaran yang berharga untuk introspeksi diri, untuk semakin mengenali siapa diri kita. APa tujuan kita.... Nggak ada salahnya kan kalo nerima semua itu secara terbuka, berlapang dada, dan lebih 'dewasa'. Lagian, selama hidup di dunia ini, salah satu perantara Tuhan dalam ngasih peringatan pada kita saat kita salah adalah sesama manusia. Bisa orang tua, teman, sahabat, pacar, musuh, tetangga, pak polisi, pak RT, tukang semir sepatu, penjual gorengan... banyak lha. Jadi, bersyukurlah kalo ada sesama manusia yang negor kita. Pelajari semua itu, serap hal baiknya, lalu buang hal negatifnya. Jangan dibikin sakit hati. Yakinlah kalo itu adalah salah satu cara Tuhan untuk ngingetin kita sehingga ke depannya kita bisa jadi orang yang lebih baik. Betul?



Jadi, hari gini masih suka tersinggung dengan saran dari orang lain? Jadul ah... :D

Eh, maaf ya kalau ada yang tersinggung dengan tulisan ini. cuma curhatan tengah malem kok. :) :)

01 September 2010

Tentang Momen dan Kamera

Akhir-akhir ini ada temenku yang tampak heboh ingin 'berdekatan' dengan dunia fotografi. Malah, sepertinya dia udah nyiapin budget sejumlah sekian untuk membeli kamera canggih yang terlihat keren dan stylish sehingga bisa membuat pemegangnya terlihat seperti seorang fotografer sejati.
Sebenernya, aku juga pengen punya kamera-kamera dengan lensa canggih. Tapi, aku selalu ingat perkataan seorang temanku di tempat kerja...
katanya, percuma aja kalo punya kamera bagus dan 'gaya', tapi kita nggak bisa nangkap momen. Intinya, apapun kameranya, mau kamera SLR, kamera poket, bahkan kamera HP, kalo kita bisa nangkep momen yang oke, kita udah bisa kok berkarya di bidang fotografi.

Jadi, buat kamu-kamu yang doyan motret tapi nggak punya kamera 'keren', don't worry. Kamu masih bisa berkarya dengan kamera yang sekarang kamu pegang. Yang penting, pinter-pinter aja nangkep momen.
Okey, selamat berkarya!