07 July 2013

Kepulangan

Pelan-pelan, malam beranjak ringkih dan lelap. Tetapi, di setiap jengkal perjalanan selalu ada gelitik detik yang minta dipetik. Debu terhempas di lajur masa lalu, ditinggalkan, dan terlupakan. 

Pantura
28 Juni 2013
9.03 PM




Diam-diam, cahaya matahari merambati awan yang mulai merekah. Juga pada wajah hijau sawah-sawah yang mulai menguning.

Seperti kamu yang diam-diam menyemai rindu pada hatinya yang tak lama lagi siap dipanen.


Jalan Raya Semarang - Mangkang
29 Juni 2013
6.05 AM




Kabut mulai berkemas, perlahan pergi dari punggung gunung yang bosan dengan gigil.

Terminal Tingkir Salatiga
29 Juni 2013
8.13 AM




^^
Stasiun Balapan 
29 Juni 2013
4.25 PM 



Merengkuh semesta hijau di sela Merapi Merbabu

Selo
30 Juni 2013
8.21 AM



Detik melarut. Selendang jingga telah usai dilambaikan senja. Di terminal, orang-orang berkumpul. Mereka tinggalkan hijau sawah ladang. Sisakan serpih padi yang tadi siang usai dipanen. Mereka bergegas menuju sendu di sekitar gemerlap lampu kota yang selalu mbloloki.

*menuju Jakarta
 

Terminal Boyolali
30 Juni 2013
06.01 PM



Mila, inikah tempatmu bermukim? Atau di manakah? Karena di jejak sajakku tak ada satupun larik yang jadi tempatmu bermukim.

Tingkir Salatiga
30 Juni 2013
07.03 PM



Aku bermimpi, kita bermain pasir di taman. Bagai bocah, aku berlarian. Kamu asik dengan istana pasir yang kamu bangun pelan-pelan. Aku terjatuh, menangis, sampai akhirnya kau ulurkan tangan. Begitu dekat, begitu nyata.

Goncangan bus buatku terjaga. Kamu sudah tak ada, kawan.


Jalan Raya Semarang - Kendal
30 Juni 2013
9.31 PM



Ini salah satu tempat itu. Dari sini cerita-cerita berhulu. Mengalir bercabang lintasi masa yang menua.
Dari sini keterkaitan sebab akibat jadi penentu, lalu bermuara di langkah-langkah tempuhan pilihanku
 


Pekalongan
1 Juli 2013
12.11 AM   




Dulu, kamu pernah menertawainya karena tak tahan dengan tusukan gigil di kotamu. Sekarang, kamu tak berkutik menggigil di dalam bus berselimut embun. Tetapi, dia tak ada, tak akan mampir sekadar membalas tawamu waktu itu.

Jalan Raya Patrol Indramayu
1 Juli 2013
5.35 AM  



Hai, burung-burung mulai berkeliaran di sekitar sawah. Sesekali, dia menyusup di celah pohon pisang yang belum berbuah.
Burung-burung terbang, cari makan, dengan tarian riang. Aku tak mau kalah. Kita tak boleh kalah.  


Pamanukan
1 Juli 2013
6.25 AM



Sawah hijau raib, ditelan beton pabrik-pabrik. Matahari mulai menyalak galak pada segumpal pekat asap. Sementara, di sepanjang sisa perjalanan, deret mesin berbondong melindas jejak yang tak lagi dikenali muasalnya.

Dawuan Tengah
1 Juli 2013
8.17 AM




Pengembara yang Tersesat

Dia pengembara ulung, seluruh ujung mata angin dijelajahinya tanpa ragu mengurung. Tetapi, dia tersesat di tanah lahirnya. Meski telah lelah dia rapal mantra, kabut pikir tak relakan pendar bintang sampai ke penglihatannya. Lalu, dia membaca angin. Diikutinya gestur cuaca kota yang mendadak terasa gulita. Asing. Bagai tiada jejak sejarah bahwa alam telah jadi saksi atas kelahirannya.
Dia nyaris cucurkan air mata. Tetapi, suara bunda lamat merambat telinga. Dibisikannya kidung pemecah awan mendung.

"Ini tanahmu, arungi dengan berani dan rendah hati. Cuaca jiwa penghuni-penghuninya tak menentu. Tanamkan bahwa hangat mentari akan selalu kembali."

Pengembara menengadahkan kepala. Ditatapnya sehampar jejak Sangkuriang dan telungkupan perahu yang dulu pernah ditendang.
Dia tersenyum. Pepohon masih merunduk di sepanjang jalan yang dipenuhi gemerlap yang entah.
Dia pun melesat. Kembali jadi penguasa jagatnya sendiri yang dulu pernah dia ciptakan beralaskan mimpi.
 
Gedung Sate Bandung
7 Juli 2013
10.23 PM

05 July 2013

Gigil

Sudah dua hari kamu dijauhkan dari pendar matahari. Sejak itu, gigil jadi kancamu sehari-hari. Angin terasa menusuk benci. Pula udara lembap yang sisakan sesak pengap di hati. Tapi kamu lagi-lagi berakting jadi si tangguh bernyali. Rintik gerimis kamu terobosi. Ciprat kubangan di jalanan tak bertepi berkali-kali menampar pipi. Kamu tak peduli dan terus berlari.
Tempat berhias teduh pepayung jadi tujuanmu kali ini. Selalu. Di hari sakral ini, di mana kamu dengannya terbiasa berbagi janji, walau sesekali kalian saling meyembunyikan diri.
Selalu. Seperti hari-hari lainnya, kamu memesan minuman yang sama. Dan kali ini, pesananmu adalah penyelamat ngilu di sekujur gigil tubuhmu yang meringkih dalam senja.
Tetapi, kamu bingung sendiri. Untuk apa adamu di lanskap ini? Bukankah matahari telah mendeklarasikan kealpaannya dua hari ini? Takkah kamu bisa menangkap isyaratnya yang berpendar jelas menusuk mata? Matahari tak akan sekonyong-konyong tiba, jadi hangat bagi tubuh rapuhmu yang gigil. Kamu perlu menunggu sampai nanti tiba waktunya. Bisa besok, lusa, minggu depan, bulan atau tahun depan, tak terprediksi, karena sesaat lagi malam akan menelan sore tanpa iba.
Tunggulah, tapi jangan diam di tempat yang sama. Teruslah menarikan tarian pemanggil matahari. Cepat atau lambat, matahari yang kau damba akan kembali. Dan bisa jadi, saat dia kembali, tubuh gigilmu yang dipenuhi biru sudah pulih dan baik-baik saja.
Tunggulah, tapi jangan berduka. Jangan biarkan gigil bekukan nadi.
Tunggulah di depan perapian. Mungkin kelak kamu pun akan lupa bahwa kamu pernah menunggu. Ya, menunggu sesuatu yang jelas dan nyata tak akan kembali saat ini.

Sekarang. Habiskan minumanmu, lalu merapatlah ke hingar-bingar dunia yang kadang bisa pendarkan hangatnya sendiri, walau tanpa matahari.


Kantin
5 Juli 2013 
5.44 PM

02 July 2013

Tatap Mata Pertama

http://www.free-desktop-backgrounds.net/free-desktop-wallpapers-backgrounds/free-hd-desktop-wallpapers-backgrounds/832137234.jpg
 
Dia terlalu hebat, terlalu kuat dan tak sadari bahwa ada luka meradang di hati dan otaknya. Dia terus menggenggam tatap mata pertamamu.

Dia tak pernah sekalipun meminta pada Tuhan untuk dipertemukan denganmu, orang yang pada akhirnya jadi tempat cintanya bermuara. Begitu juga dengan kamu. Tak pernah sekalipun kamu berfirasat atau bermimpi akan kedatangan seorang yang memiliki cinta terhebatnya untukmu.

Kalian bertemu dalam sebuah sistem rencana Tuhan. Persinggungan tatap matamu dengan matanya telah lama dipersipkan dalam rancangan penciptaan semesta. Tanpa diminta, tanpa dikendalikan kekuatan manusia manapun, kalian bertemu untuk kali pertama.

Lalu, energi di masing-masing tubuh kalian bereaksi. Dia menjadikan tatapan pertama itu sebagai salah satu memori terbaik di sepanjang usia tubuhnya. Sementara, kamu juga mengagumi tatapan mata pertamanya. Tetapi, kamu berbeda. Dengan segunung arogansi, kamu meredam euforia. Kamu menyimpan tatapan itu di ladang-ladang sejarah biasa, yang tak terawat dan tandus, lalu terlupakan. Tapi, bertahun-tahun setelah itu. sesekali kamu mengakui bahwa kamu juga merasakan keindahan yang nyata.

Bertahun-tahun sejak itu, dia selalu menyimpan tatapan mata pertamamu. Dibawanya tatapan itu bersama terbit tenggelam matahari. Ditafsirkannya kelucak bahagia tiap ada kamu sebagai rona cinta, sebagai jernih renjana yang terus mengaliri sungaimu. Tetapi, sungai keringmu terlalu batu untuk bermain dengan riak air. Kau bergeming, tak berhasrat menghijaukan dunia yang dilalui oleh aliran kasih sayangnya.

Kamu selalu tak peduli, tetapi dia juga selalu tak peduli pada ketakpedulianmu itu. Dia mencintaimu tanpa ekspektasi. Itu yang bisa membuatnya berdiri. Dia selalu bisa bertahan dengan penolakan-penolakan yang kamu obral di sepanjang jalan. Dia mengerti bahwa tidak setiap hati bisa terkoneksi secara sempurna. Ya, sesempurna cerita-cerita cinta yang selalu berakhir dengan bahagia. Dia berfirasat bahwa kisah ini tak mungkin bisa berakhir bahagia. Apalagi responmu yang batu dan konon telah menghancurkan banyak hati sang pencinta. Tapi, dia masih saja jadi orang hebat yang terus tanpa henti mengalirkan seluruh nyawanya untuk mencintaimu. Dia yang diam-diam menyeka lukamu, dia yang diam-diam mengirim bunga, yang selalu hadirkan bahagia di dadamu, tapi selalu kau sembunyikan.

Bodohnya kamu. Dengan angkuh di ubun-ubun, kamu pernah mencampakkan bunga itu di jalanan. Dia menangis. Kamu menyesal. Tapi, kamu berpura-pura. Dia juga berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia terus memendarkan cintanya untukmu.

Sekarang, dia melemah. Hatinya diselimuti lubang dan duka. Sementara, otaknya dipenuhi virus kenangan bergambar muka sombongmu. Tapi dia tidak menyadarinya, bahkan sampai kamu pergi.

Kini, setiap hari dia duduk di jendela. Menerawang menunggumu datang sambil menyimpan segenggam ingatan tentang tatapan mata pertamamu waktu itu.