29 January 2016

Cinta dan Persahabatan Seharusnya Melahirkan Kebahagiaan

Hampir saja kumelepasmu dalam benci. Sebab, terkadang kebencian lahirkan kekuatan di luar prediksi. Dengan menumbuhkan benci, tekadku semakin kuat untuk merelakan kau pergi.
Tetapi, tangan-tangan takdir kembali membuatmu hadir. 

Alhamdulillah...
Semua tak serumit yang kupikir. Kelapangan dada lah yang bisa membuat petaka berakhir. 
Kita sama-sama belajar menerima. Sama-sama belajar tentang kenyataan yang tak selamanya indah. Tentang bagaimana berdamai dengan hal tak biasa. Tentang bagaimana selalu bahagia walau ada air mata.
Tentang cinta dan persahabatan yang seharusnya melahirkan kebahagiaan.

Jumat, 29 Januari 2016
Pertemuan dengan seorang kawan di Goedkoop, Benhil.

28 January 2016

Bayangkan, Sanggupkah Kamu?

Bayangkan.
Kamu dibenci oleh orang yang kamu anggap sebagai sahabatmu.
Kamu dibencinya karena sahabatmu itu mencintai kekasihmu.
Kamu dibencinya karena kekasihmu seperti memberi harapan palsu kepadanya.
Kamu dibencinya karenarasa cintanya tak dibalas oleh kekasihmu,

Kamu yang dibenci.
Kamu yang ikut disalahkan.
Padahal, mati-matian kamu menahan cemburu.
Mati-matian kamu menjaga perasaan sahabatmu agar tak cemburu.

Kamu bertarung dengan api.
Sedangkan kekasihmu dan sahabatmu diam-diam membakar ranting.

Kamu dibenci.
Kamu dijauhi.
Kamu ditinggalkan.
Kamu ikut disalahkan.

Bayangkan.
Tulus persahabatan yang kau beri terasa dicampakkan.
Dibuang.
Disia-siakan karena cinta yang besar sahabatmu untuk kekasihmu.

Bayangkan.
Kamu berdoa diam-diam.
Mendoakan kebahagiaan semua.
Melupakan semua kebohongan.
Melepaskan marah dalam titik keikhlasan.

Bayangkan.
Sanggupkah kamu melakukan semua itu?

Semua berkoar-koar, cinta tak bisa disalahkan.
Seperti gagak memangsa matamu yang tercungkil.

Bayangkan.
Mereka tak ingin disalahkan, tapi terus membuatmu merasa bersalah.
sahabatmu seperti anjing


Sumber gambar: keeppy.com 


26 January 2016

Karena Tak Mau Terperosok Lebih Jauh

Cukup berat rasanya. Beberapa rencana di tahun ini tetiba harus agak berubah karena sesuatu yang unpredictable. Kaget, kesal, jengkel, sedih, marah, dan berbagai perasaan negatif sempat bercampur.
Saya terperosok. Rasanya menyakitkan, walau mungkin tidak sesakit dia dan dirinya. Kami tersakiti dengan cara sendiri-sendiri. Kami terperosok dalam cerita sendiri-sendiri yang bertemu di satu titik bernama pertemanan.

But at least, saya coba memahami semua. Saya lihat semua permasalahan dari berbagai sisi, bukan hanya dari sisi emosi sendiri.
Dan lega rasanya bisa mendamaikan diri dengan semua situasi. Saya tak mau terperosok lebih jauh. Kehidupan harus dilanjutkan. Berbagi kebahagiaan dengan sesama tidak boleh dihentikan. Lalu, saya berhenti sejenak dan mengingat semua kenangan bahagia kami. Rasanya tak perlu ada yang disesali. Semua perasaan negatif mendadak hilang. Berganti rasa ingin bertemu, ingin mengulang semua kenangan seru.

Tarik napas dalam-dalam.

Semoga yang di sana segera pulih dari luka hati, lalu kita bisa tertawa bersama kembali.
Saya yakin, saat itu akan segera tiba.


Ehmmm.. let's sing...
Through The Rain by Mariah Carey



24 January 2016

drie harten


Ada luka mendalam tergambar di wajahnya,
orang yang begitu kusayangi.
Tetapi, dia sedang jatuh hati pada kekasih yang tak ingin kubagi.

Cintanya mengalir murni. Setenang Seine yang tetiba beriak saat kapal menepi.
Sembunyi-sembunyi dalam segala rahasia.
Diam-diam menyelimuti cerita dongeng tentang sejati persahabatan.

Ada luka yang ingin kusembuhkan.
Dengan cara sederhana, dari pendar persahabatan.
Tapi, cinta bisa jadi raja segala-gala.
Bisa membuat lupa akan kudus jalin persaudaraan.
Lalu persahabatan yang kusajikan hanyut di sungai kemarahan.

Seperti dicampakkan dalam sengit api kekecewaan.

Tapi aku mengerti.
Hati tak bisa dipaksakan.
Pula sahabat yang ingin pergi mencari ketenangan.
Karena sekali waktu, tak semua hal cukup dibicarakan.

Kini..
Ada luka menyayat tiga hati yang dulu pernah tertawa bersama.
Ada cerita sendiri-sendiri di balik sayatan itu.
Ada keinginan sendiri-sendiri yang akan menunjukkan jalan yang akan ditempuh.
Ada sekereta mimpi tentang perjalanan panjang yang dulu dikisahkan penuh dengan kegembiraan.

Ada tiga hati yang masing-masing saling mendoakan.



Sumber gambar:
http://bibeltemplet.net/Bilder/three-angels.jpg

02 January 2016

Malam Tahun Baru Biasa, dengan Cara Tak Biasa

Saya bukan termasuk orang yang berkeinginan menjadikan malam pergantian tahun masehi dalam hingar-bingar. Tetapi, saya senang melihat orang-orang bergembira melewati detik-detik pergantian tahun di jalanan. Tentu sebagai 'ahli makan', saya senang karena banyak jajanan di malam itu. Maka, beberapa tahun ke belakang, beberapa kali saya melewati malam tahun baru di jalanan Kota Jakarta. 
Hal yang menyebalkan dari perayaan pergantian tahun adalah suara ledakan petasan. That was very annoying for me. Polusi suara. Okelah saya senang melihat kembang api. Tapi, di tempat-tempat yang telah disediakan dong. Di lapangan kek, di roof top gedung kek. Jangan di kompleks perumahan.
Selain itu, seringkali saya justru mengalami kejengkelan di awal tahun. Bagaimana tidak? Seusai acara, sampah berserakan di mana-mana. Ya Tuhan, kenapa susah banget sih para makhluk ciptaan-Mu menjaga kebersihan kotanya sendiri? Tinggal buang sampah di tong sampah lho. Dan zaman sekarang, tong sampah umum mudah dijumpai di mana-mana. Jadi, enggak ada alasan untuk buang sampah sembarangan. Seharusnya sih. 
Nah, di pergantian tahun ini, saya ingin sesuatu yang beda. Saya bingung apa. Mau jalan-jalan di Jakarta, malas. Mau pulang ke Bandung, tanggung, karena Jumat tanggal 2 Januari 2016 masih masuk kerja. Dan pilihan saya adalah buka aplikasi Hotel Quickly, your last minute hotel. Setelah milih-milih hotel, akhirnya pilihan jatuh ke Royal Kuningan Hotel. Yaps, saya akan menginap satu malam, dan menghabiskan waktu di sana sendirian. Tanpa banyak mikir, saya booking hotel tersebut, dan sepulang kantor, saya segera menuju ke sana.
Sesampainya di hotel, saya disambut oleh resepsionis yang kewalahan menghadapi tamu yang sangat banyak. Saya lihat di papan pengumuman, ternyata ada event akhir tahun di sana. Lalu, saya membeli satu paket tahun baru yang bisa digunakan untuk dua orang. 
Senangnya karena saya dapat kamar di lantai 16. Saya bisa melihat kembang api di atas sana. Lalu, saya beristirahat dan bersantai menikmati senja terakhir di tahun 2015.

**

Malamnya, saat mau makan malam di dekat kolam renang, mendadak saya merasa lonely di tengah riuh orang-orang. ASTAGA. Ada-ada saja.
Lalu, saya menghubungi dua teman saya, yaitu Harry dan Nanda. Hanya Nanda yang berkesempatan untuk datang.
So, kami melewati malam pergantian tahun yang menurut saya jayus itu. Hahaha....
Tapi, yah lumayan lah. Tidur nyaman di ruangan ber-AC (yang tidak bisa saya dapatkan setiap hari di kosan berkipas angin).

**
Pagi. Setelah olah raga di pusat kebugaran hotel, saya 'main air' di kolam renang. Tidak lama setelah itu, Harry datang, dan kami sarapan bareng.

**
Siang. Beberapa saat setelah check in, saya dapat ide. Saya kembali buka aplikasi Hotel Quickly, lalu kami pindah hotel ke Hotel Media Gunung Sahari. Hotel bintang lima euy. Haha.... parah. Saking malasnya stay di kosan yang sumuk, saya memilih menginap di hotel, spending time dengan sahabat-sahabat kesayangan.