14 December 2015

Lihatlah Kini

Lihatlah kini, kawan. Ketaknyamanan menahunmu akhirnya kualami juga. Titik muak dan jenuh terus melaju menuju puncaknya. Kejahatan-kejahatan yang lembut, api-api yang terasa hangat namun sejatinya menghanguskan, air-air yang terasa sejuk namun sejatinya menghanyutkan. AKU BERADA DI TEMPATMU DULU. 
Dulu, tanpa kau minta, tanpa kau terima, aku ada. Jadi pendengar, jadi tempat berbagi, jadi segalanya. Tak berarti. Tapi yang jelas, KAU TIDAK SENDIRIAN.

Tapi, lihatlah kini, kawan. AKU SENDIRIAN. Di titik yang pernah jadi tempatmu berdiri. Di titik bebal yang sulit didefinisi. Orang-orang itu menghadapiku dengan begitu banyak senjata di belakang mereka. Orang-orang itu seperti melihatku sebagai ancaman berbahaya. Lalu, dengan berbagai cara, mereka patahkan sayap dan tangan kaki yang aku punya. Dan, mereka melakukannya sambil tersenyum hangat bersahabat. Persahabatan palsu.

Aku dipenjara.
Di depan mataku, tak ada apa-apa, selain rasa dingin.
Ini di mana? 
Ini tempat mereka, bukan aku. 

Sumber gambar:
http://www.plannedscape.net/Fiala/wp-content/uploads/2015/02/home-alone-loneliness-seascape-paintings-screen-319027.jpg

10 December 2015

Fotografer Pernikahan

Sepertinya, akhir-akhir ini saya memang sedang sering mempertanyakan sesuatu, khususnya tang berkaitan dengan perilaku seseorang atau cara seseorang memperlakukan orang lain.
Kadang, pertanyaan-pertanyaan itu muncul untuk sebuah peristiwa di masa lalu, jauh sekali di masa lalu.

Kali ini saya teringat pada pengalaman buruk keluarga saya yang telah beberapa kali ditipu oleh orang lain. Oleh orang yang kami percaya.
Heran. Apa isi kepala mereka saat mereka mengkhianati kepercayaan itu? 

Bahkan, fotografer pernikahan adik saya, yang saya kenal dari teman saya, bisa-bisanya dia mengkhianati kepercayaan saya. Padahal, saya sudah memperlakukannya dengan baik. Saya memenuhi kewajiban saya sebagai customer dengan baik, bahkan lebih dari yang seharusnya. Karena, saat itu dia 'perlu uang', jadi biaya paket fotografi yang seharusnya dilunasi setelah acara selesai, dengan senang hati saya lunasi di muka. Tanpa syarat , tanpa banyak meminta. Saya hanya membiarkan dia bekerja sesuai tanggung jawabnya.
Tapi, apa yang dia lakukan terhadap saya, juga keluarga saya?
Lama sekali saya tunggu hasil kerjanya. Semua tidak selesai pada waktunya. Ada apa?
Kemudian, foto tak seluruhnya dia cetak. Hanya sebuah album dengan banyak sekali halaman yang masih kosong. Apa maksudnya? Mana video yang dijanjikannya? Bahkan, saya harus repot-repot meminta dia menyalin data fotografi hasil kerjanya ke dalam DVD, walaupun belum dia edit semua, termasuk mentahan videonya. Pesanan saya tiba. Tapi, lagi-lagi saya dibuat jengkel. Isinya hanya foto, tidak ada video.  Dia tuli, buta, atau bego? Itu pertanyaan yang terlintas.
Lalu, dia menghilang. Kontak BBM dan telepon selularnya tidak bisa dihubungi. Dia kabur? Entah.


Saya tidak habis akal. Di perjanjian kerjasama yang pernah dia kirim melalui email, ada alamatnya. Lengkap.
Saya datangi rumahnya. Oke, fine. 
Lalu, lagi-lagi saya bertanya, kenapa saya jadi kasihan kepadanya? Kondisi rumahnya yang kurang nyaman, apalagi saat itu ada dua putrinya yang masih kecil. Juga ada seorang bapak yang sepertinya sedang sakit.

Masalah himpitan ekonomi. Itu simpulan saya. Ada rasa simpati, prihatin, tak tega, dan lain-lain.
Tapi, apa masalah yang dihadapi oleh seseorang lantas bisa jadi alasan bagi orang itu untuk merugikan orang lain?
Saya pikir, jika dia sukses membuat calon pelanggannya puas, bukankah usaha fotografi pernikahannya akan semakin banyak mendapat peluang karena adanya rasa percaya? Mungkin saya juga tak akan ragu merekomendasikan dia pada teman-teman saya, atau saya gunakan untuk pernikahan saya sendiri kelak. Bukankah semua itu bisa membantunya dari himpitan ekonomi yang dialami? Itu jika memang benar, adalannya adalah himpitan ekonomi.
Tapi, melihat low respon darinya, saya jadi mengira bahwa dia memang tidak qualified. Juga setelah saya lihat hasil editan fotonya, maaf, sebagai penggemar editing foto, menurut saya nilainya masih biasa saja. Tidak membuat saya berdecak kagum. Lalu, kenapa dia berani mengajukan diri sebagai fotografer pernikahan? 
Astaga, makin banyak saya bertanya-tanya.

Lantas, saya menyalin semua data mentah foto dan video dari laptopnya ke dalam hardisk eksternal yang saya bawa. Nohope. Hanya itu hal terbaik yang bisa saya lakukan. Saya lihat nuansa penyesalan di raut wajahnya.  Setelah sebelumnya, saat pertama melihat kedatangan saya, dia bagai melihat hantu di siang hari. Shocking. 
Banyak hal yang saya pikirkan dan sempat terlintas untuk saya lakukan. Apa saya perlu melaporkannya ke polisi karena menipu saya? Astaga, kasihan anak-anaknya.
Atau saya maki-maki dia di rumahnya sendiri sehinngga sekampung tahu kelakuan dia yang kurang baik? Bikin rusuh di kampung orang? Aduh, apa itu bisa membuat foto dan video adik saya beres sesuai pesanan?

Sebisanya saya berlapang dada. Saya memberinya kelapangan juga agar kewajibannya bisa diselesaikan. Lalu, akan saya tunggu apakah dia benar-benar menyesal dan akan bertanggung jawab.
Jika tidak dia kerjakan? Ya sudah, saya kerjakan sendiri. Hasil editan foto dan video saya juga enggak jelek kok.
Selanjutnya, ya sudah, siapa tahu saja malaikat penjaga kuburnya nanti lupa bahwa dia pernah mencurangi pelanggannya. Atau mungkin algojo-algojo di neraka nanti kehilangan daftar dosa-dosa dia, sehingga dia bebas dari azab.
Tapi ya, semoga saja dia mendapat hidayah dan kesempatan untuk memenuhi kewajibannya sebelum saya atau dia mati. Akan saya tunggu tanpa beban, sampai kapanpun.

Sumber gambar:
http://photography-cameras.org/images/stories/photography-beginner.jpg

09 December 2015

Menur -another side of Cassia-

Sepeninggal Kanjeng Ratu Gelorongan,  Negeri Cassia kembali damai.
"Semua berkat kebaikan para Raja Deva di atas awan," ucap Seriti pada Ponggawa Tujuh yang kini tinggal enam.
"Lantas, apa yang selanjutnya perlu kita lakukan, Kanjeng Seriti?" tanya salah satu ponggawa setianya.
"Kita tarik kembali Rufiso, kita cabut sihir Gelorongan dari tubuhnya. Kita akan bersama-sama lagi seperti sedia kala," ucap Seriti.
"Tetapi, bukankah Rufiso telah mengkhianatimu, Kanjeng Sriti?" tanya Maraka heran.
"Dia khilaf. Terpedaya oleh sihir Gelorongan. Lagipula, aku masih memerlukan keahliannya dalam mengelola navigasi negeri Cassia, agar tidak kita tidak sesat arah.
Semua Ponggawa Tujuh tertunduk. Meski tak setuju, mereka selalu manut pada keinginan Seriti. Semoga kembalinya Rufiso bisa mendatangkan hal baik bagi distrik utama Negeri Cassia.
Div, sang Ponggawa Tujuh penengah teringat pada Menur, sang abdi setia Ratu Gelonggongan. Tiba-tiba api dendam meletup dari dadanya. Hitam kenangan tentang negeri Cassia yang pernah diporak-porandakan Kanjeng Ratu Gelorongan membuatnya marah.

"Kanjeng Seriti, bagaimana dengan Menur?" tanya Adiv.
Sriti termenung sejenak, lalu sekilas muncul senyuman tajam sebagai pertanda bahwa dia sudah dapat ide.
"Kalau Menur berbeda. Dia harus diberi hukuman."
"Apa hukuman yang pantas untuknya, Kanjeng?"
"Kita asingkan dia. Kita jauhkan dia dari pusat pemerintahan Cassia. Akan segera kusampaikan pada Raja Attila," ujarnya.

Maka, sejak saat itu, Menur harus menjalani hukuman, sementara Rufiso, rekan seperkongkolannya mendapat tiket masuk gratis ke Negeri Cassia dari Sriti. Meskipun, beberapa anggota Tujuh Ponggawa keberatan, akhirnya mereka menerima kembali Rufiso, sang pengkhianat, sebagai salah satu saudara mereka.

**

Cassia kembali pulih. Setelah Raja Rambut Peri dari negeri Karobis menggantikan Gelorongan untuk sementara waktu, Raja Kanaja kembali lagi menduduki singgasananya dengan restu para Raja Deva. 
Kala itu, kedatangannya disambut bahagia oleh seluruh rakyat Cassia. 
Adiv, yang saat kepemimpinan Raja Rambut Peri didaulat jadi Ponggawa Istimewa, kembali pada posisinya sebagai Ponggawa Tujuh.
Waktu bergulir, Cassia tentram, walau ulah Sriti, yang sejak dulu memang jadi biang masalah, terus menciptakan api-api kecil permusuhan. Pada akhirnya, api-api kecil permusuhan itu bisa diredam.
Sebagai pembimbing para Ponggawa Tujuh, Sriti berhati dengki selalu tak suka jika salah satu ponggawanya selangkah lebih maju darinya. Maka, dia merekayasa peristiwa agar para ponggawanya selalu patuh berada di bawah ketiaknya. 
Tetapi sayang, dua dari ponggawanya itu telah ditakdirkan oleh Sang Mahakuasa untuk jadi bagian dari laskar pengubah negeri. DI darah mereka mengalir darah leluhur pendiri negeri yang selalu inginkan perubahan untuk negerinya. Berbeda dengan ponggawa lain yang sepanjang hidupnya harus terus patuh dan setia pada Sriti.
Kadang Sriti merasa geram. Bahkan, beberapa kali Sriti menggunakan Kesaktian Kegelapan untuk meredam lesat quantum potensi yang dimiliki oleh dua ponggawanya yang revolusioner. 

..bersambung

04 December 2015

Kenapa Harus?

Kenapa harus? Kenapa harus menginjak orang lain agar kita bisa nyaman berjalan?
Kenapa harus? Kenapa harus mengecilkan arti ada seseorang agar kita bisa berarti?
Kenapa harus? Kenapa harus menjadikan kepala orang lain sebagai pijakan saat kita ingin menggapai bintang?
Kenapa harus?

Kenapa harus jadi figur menyebalkan bagi orang lain saat takdir menggiring kita untuk berjalan bersama-sama?

01 December 2015

Cerita Pendek "Partitur Audia"



Partitur Audia
cerita pendek Ighiw



Sumber gambar:
https://thumbs.dreamstime.com/z/partiture-book-02-168737.jpg
Mendung menyelimuti kepala Divan. Setiap petik kalimat yang tadi siang berhamburan dari mulut Bu Broto terus berputar ulang secara otomatis dalam benaknya. Di tangannya sebundel partitur yang beberapa minggu lalu dibagikan oleh Audia, teman satu timnya.
“Pokoknya, kalau tim paduan suara kalian tahun ini tidak juara, semua biaya pelatih dan seragam yang saya kasih harus dikembalikan!” ujar Bu Broto dengan mata mendelik judes.
Jelas, ucapan Bu Broto itu jadi tamparan buat Divan dan teman-temannya yang tergabung dalam paduan suara Bianglala. Bukannya makin semangat, mereka malah merasa makin terbebani. Masalahnya, tahun lalu paduan suara Bianglala mengalami penurunan prestasi. Mereka yang semula mendapat juara 3 dalam lomba paduan suara antarmahasiswa se-Indonesia, tiba-tiba tersungkur di posisi juara harapan I.
Walau awak paduan suara Bianglala bukan orang-orang yang ambisius dalam berebut piala dan kebanggaan, mereka selalu termotivasi untuk menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Semua mereka lakukan karena rasa cinta mereka terhadap dunia tarik suara.
“Kalian sudah memberikan yang terbaik, teman-teman, tahun depan pasti kalian bisa jauh lebih keren,” ujar Paundra sang pelatih yang selama ini selalu bersemangat melatih Divan dan teman-temannya.
Kalimat apresiasi seperti itulah yang bisa membesarkan hati Divan dan teman-temannya. Bukan kalimat intimidasi yang membuat mereka malah down dan kehilangan rasa percaya diri seperti yang diujarkan oleh Bu Broto.
Tahun ini, tiba-tiba Bu Broto, dari bagian kemahasiswaan, mengambil alih komando di tim paduan suara Bianglala. Lantas, dirinya memproklamirkan diri sebagai manajer paduan suara. Semua diambil alih olehnya, termasuk urusan seragam. Padahal, latihan sudah berlangsung selama tuga bulan. Lagipula, tidak seorang pun pernah menugaskan Bu Broto untuk melakukan semua itu.
Awalnya, Divan dan teman-temannya merasa senang. Tahun lalu, segala sesuatunya mereka persiapkan sendiri. Akibatnya, konsentrasi mereka dalam latihan vokal cukup terganggu, sehingga pementasan tidak maksimal. Tadinya, Divan berpikir, jika dimanajeri oleh seseorang, dia dan teman-temannya bisa maksimal memperbaiki kualitas vokal dan harmoni. Audia, yang biasa diberi tugas oleh Paundra membuat partitur bisa makin cepat menggarap partitur.
Tetapi, beberapa hari dimanajeri oleh Bu Broto, seluruh anggota paduan suara Bianglala sudah mulai merasa gerah. Selain galak dan senang melontarkan kritik pedas, Bu Broto sesuka hati melakukan eksperimen dalam hal pemilihan kostum. Dia memilih kostum yang aneh dan kurang sesuai dengan tema lagu pilihan Paundra. Selain itu, Bu Broto juga melontarkan ancaman-ancaman yang menghilangkan kepercayaan diri tim kebanggaan kampus Bianglala.
“Van, gue out aja ya. Serem ah sama Bu Broto,” ujar Fernando. Dia merasa tak nyaman dengan berbagai aturan yang dibuat oleh Bu Broto.
“Nyantai aja, bro. Sabar. Ambil baiknya aja,” jawab Divan.
“Tapi Bu Broto udah keterlaluan. Masa Julia yang ngasih masukan tentang kostum anak-anak perempuan diancam bakal dikeluarkan dari tim?” gerutu Sanjaya.
Itu baru sebagian kecil dari keluh-kesah para anggota paduan suara Bianglala. Belum lagi beberapa anggota yang baru saja bergabung dengan tim paduan suara seperti Rinova, Okitio, Dini, Novia, dan Elia. Belum apa-apa, mental mereka sudah dibuat drop oleh aturan-aturan Bu Broto.
Dan malam ini, setelah kenyang dengan keluh-kesah teman-teman satu timnya, Divan mencoba memejamkan mata. Dia berharap suasana hatinya besok pagi bisa kembali dipenuhi semangat dan harapan.
**

“Van! Divan!” seru Audia yang sejak tadi menunggu kehadiran Divan di tempat parkir.
“Di, kenapa?” tanya Divan sambil menaruh helm di atas motornya.
“Lagu kita, Van. Aku dapet whatsapp dari Bu Broto, katanya dia lebih setuju kalau kita pakai lagu Manuk Dadali, daripada lagu Gundul-Gundul Pacul,” papar Audia terengah-engah.
“Astaga. Tuh emak-emak rempong banget ya. Alasannya apa?”
“Katanya, dia dapat bocoran kalau kampus saingan bebuyutan kita mau membawakan lagu yang sama. Jadi dia pengen bikin saingan gitu.”
“WHAT?!”
Divan jengkel bukan main mendengar penjelasan Audia.
“Enggak penting banget kan? Partiturnya, Van. Masa aku harus bikin awal. Lagian Paundra kan sudah bikin aransemen yang matang. In mah yang ada, anak-anak makin pengen out dari tim kita, Van.”
“Yaudah Di, siang ini kita rapat rahasia ya. Jangan sampai diketahui Bu Broto. Kamu tolong kontak anak-anak. Jangan lewat grup whatsapp lho. Bu Broto kan ada di situ.”
“Oke Van. Atau aku bikin grup whatsapp lain ya, yang isinya hanya kita dan teman-teman.”
Divan mengangguk setuju lalu bergegas menuju ruangan kelas untuk mengikuti perkuliahan.

**

Di samping gedung auditorium, Divan, Audia, dan beberapa teman mereka berkumpul. Bagaimanapun, kabar buruk tentang perubahan lagi harus disampaikan kepada teman-teman tim yang lain.
“Keterlaluan deh Bu Broto,” ujar Elia mendumel.
“Iya, ini kita sudah latihan oke. Tinggal polas-poles, terus mikirin seragam, eh, malah mau diacak-acak. Alasannya aneh banget lagi. Masa, cuma untuk dibandingkan dengan tim kampus lain.” Fernando tak mau kalah.
Tiba-tiba, smartphone Divan berbunyi. Rupanya ada pesan dari Paundra.
Paundra:
Van, gue lagi menghadap Bu Broto.
Doain ya biar aransemen karya kita enggak perlu diubah lagi.
Divan berusaha menenangkan teman-teman satu timnya. Divan yakin, Paundra bisa mengubah permintaan aneh Bu Broto. Tetapi, sayang, Bu Broto tetap bersikukuh bahwa tahun ini tim paduan suara Bianglala harus membawakan lagu pilihannya.

**
Beberapa hari setelah keputusan sepihak dari Bu Broto mulai diberlakukan, tim paduan suara Bianglala sudah kehilangan dua personelnya bersuara tenor. Mereka sudah tidak sanggup menghadapi Bu Broto yang semena-mena.
“Duh, bahaya nih, suara tenor berkurang,” Sanjaya kelabakan.
“Bener-bener ya. Tim kita sukses dibuat berantakan. Mana partitur belum beres pula,” gerutu Dini jengkel.
“Sabar ya teman-teman, sekarang Audia dan Paundra lagi kerja keras nih nyusun ulang partitur kita. Moga-moga bisa kekejar, dan semuanya berjalan lancar,” ujar Divan berusaha menenangkan teman-temanya.
Tiba-tiba, Paundra datang dengan wajah yang kurang enak dilihat. Dia terlihat kucel, tak bersemangat, dan seakan kehilangan motivasi.
“Mas Undra, kenapa? Kok tampak lelah begitu?” tanya Dini.
“Iya, mas. Lalu, mana partitur baru kita?” Elia menambahkan.
Paundra menggelengkan kepala.
“Audia baru aja masuk rumah sakit. Dia kena vertigo, guys,” jawab Paundra sedih.
Semua anggota tim paduan suara yang hadir tercengang. Mereka kaget mendengar cerita dari Paundra. Pupus sudah harapan mereka untuk bisa unjuk gigi dalam lomba paduan suara tahun ini.
**

Untuk sedikit melepas penat karena huru-hara di tim paduan suaranya, Divan dan Sanjaya mampir ke kedai kopi Mr. Green. Di sana, tanpa sepengetahuan mereka sudah ada Bu Broto dan seorang temannya. Mereka juga sedang menikmati kopi di kedai itu. Kebetulan, posisi duduk Divan tepat berada di belakang Bu Broto.
Divan terkejut mendengar percakapan orang di belakangnya. Dia akhirnya sadar bahwa di belakangnya itu adalah Bu Broto yang sedang membahas tim paduan suara Bianglala bersama temannya,
“Iya Jeng, akhirnya keinginan terpendam saya kesampaian juga. Akan saya habisi dia dengan kemenangan paduan suara Bianglala. Habis, gimana ya, kekesalan saya sama Bu Merlina, dosen seni di kampus sebelah itu, masih terasa. Jadi, ya sudah saya manfaatkan saja keberadaan paduan suara di kampus saya untuk balas dendam.”
Divan dan Sanjaya terhenyak mendengar kata-kata Bu Broto. Ternyata, keterlibatan Bu Broto selama ini dalam tim paduan suaranya hanya untuk memenuhi dendam masa lalunya.
“Iya, Jeng. Siapa sih yang tidak kesal. Di hari-hari genting tim paduan suara saya dulu, tiba-tiba Bu Merlina pergi ke luar negeri tanpa pamitan. Padahal saat itu dia dikasih tugas membuat partitur.”
Divan kehabisan rasa sabar. Dia berdiri, lalu menghampiri meja Bu Broto.
“Bu, mohon maaf jika saya lancang. Tapi, saya akhirnya tahu semua encana Ibu, dan ini tidak bisa dilanjutkan!” seru Divan.
“Kamu? Ngapain di sini?” tanya Bu Broto yang kaget bukan kepalang.
“Bu, kami ini bernyanyi, bukan semata-mata ingin memenangkan predikat juara. Lebih dari itu. Kami bernyanyi sepenuh hati. Kami berusaha memberikan yang terbaik. Bukan hanya untuk juri, tapi untuk penonton.”
Bu Broto terdiam. Matanya berkaca-kaca karena malu.
“Kami tidak punya tanggung jawab apa-apa atas dendam masa lalu ibu. Dan adal Ibu tahu, gara-gara dendam masa lalu Ibu, Audia, penulis partitur kebanggaan kami, sekarang terbaring di rumah sakit. Sekarang terserah Ibu, apakah Ibu akan melaporkan kami karena melawan, atau apalah terserah...”
Bu Broto terkejut.
“Iya, Bu. Ibu perlu tahu, membuat partitur itu tidak semudah menyalin isi buku ke papan tulis. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Lalu, dengan seenaknya Ibu meminta kami mengganti aransemen secara instan... padahal...”
“Cukup, Nak. Cukup. Ibu minta maaf. Ibu benar-benar minta maaf. Ayo, sekarang antar Ibu ke rumah sakit. Ibu ingin bertemu dengan Audia.”
Divan dan Sanjaya berpandangan. Lalu, ada senyum mereka di wajah mereka. Senyum yang juga mungkin akan merekah di wajah seluruh anggota paduan suara Bianglala. Lagu “Dan Bernyanyilah” yang dilantunkan oleh Musikimia pun melatari kebahagiaan mereka sore itu.***

Selesai



29 September 2015

Hebatmu Sejauh Ini

Kamu sudah sejauh ini, di tempat ini. Bertahan dalam badai rasa sakit yang tak pernah henti. Kamu hebat karena bisa bertahan.
Bertahan dengan gelagat orang yang meremehkan. Bertahan dengan tingkah laku yang membuat geram. Bertahan dengan kecurangan yang tak berkesudahan. Bertahan dengan ledek tawa orang-orang yang buta akan ketulusan.

Kamu hebat. Sejauh ini masih bisa bertahan.

Bertahan dengan pendar cinta yang tak dipedulikan. Bertahan dengan kebohongan dalam pertemanan. Bertahan dengan sorot mata elang yang selalu melihatmu sebagai katak di hampar lumpur terserak.

Kamu telah bertahan sejauh ini.

Bertahan dengan jumawa orang-orang yang selalu merasa jadi pemenang. Bertahan dengan orang-orang yang pernah jatuh hati padamu secara picik, sehingga mereka tenggelam dalam kecewa dan menyalahkanmu.
Pula, kamu bertahan dengan orang-orang yang selalu gerah saat kamu bisa melompat lebih tinggi.


Kamu hebat. Tapi, sudahilah.
Terlalu lama kamu berkorban mendekam dalam kandang berduri. Sedang tak satupun peduli pada tiap tetes darah di telapak kaki dan sekujur tubuhmu.
Terlalu lama kamu bersahabat dengan para pengkhianat, yang tak sadar sedang berkhianat.
Terlalu lama kamu membuka hati pada orang-orang yang tak punya hati.

Kamu terlalu hebat karena selalu bisa memaafkan.

Kamu terlalu banyak melihat kemunafikan.
Ketika sembahyang dan puasa dilakukan oleh orang-orang berhati kecut dan berjiwa serakah.
Ketika kalimat-kalimat bijak tentang rumah tangga dan cinta memburai dari mulut tukang selingkuh.
Ketika persahabatan hanya membahana di genggaman layar telepon pintar.
Ketika teman-teman yang kau cintai sepenuhnya diam-diam meninggalkanmu, dan tak pernah mengakui eksistensi persahabatan kalian.

Dulu, bahagiamu kamu bagikan cuma-cuma kepada mereka. Lalu, mereka pergi dengan jumawa bahagia, dan tak akan pernah sudi membagi bahagia itu denganmu.

Sudahlah, pikiranmu lelah.

Tapi hebatmu sejauh ini bukan sekadar pembuktian bahwa kamu bersyukur, tapi jadi sepenggal cara bahwa kamu selalu berkompromi dan repot memanipulasi pikiran sendiri.
"agar semua seimbang," pikirmu.

Hebatmu sejauh ini, selalu berusaha membuat orang lain berbahagia.

Walau tanpa kau sadari, ada bom waktu yang siap meledak tanpa kompromi.

Ketika Kamu Dewasa

Ketika kamu dewasa, kamu akan bertemu dengan teman-teman yang:
1. mempercayaimu dan seluruh kemampuanmu;
2. mendukungmu;
3. menentangmu;
4. menyimpan iri padamu;
5. mengagumimu;
6. meremehkanmu;
7. melihatmu sebagai ancaman; dan
8. menyayangimu dengan caranya sendiri;

24 September 2015

Bawang Merah Melupakan Sejarah

Bawang Merah berkawan dekat dengan Silbi. Ketika bersama, mereka terlihat seperti sepasang sahabat yang tak bisa dipisah. Bawang Merah merasa Silbi kawan sejatinya, walau Silbi biasa saja. Malah, Silbi menganggap Bawang Merah sebagai pendongkrak popularitasnya di sekolah. Ya, agar Silbi aman dan tentram karena berdekatan dengan si Bawang Merah yang disegani.

Waktu berlalu. Beberapa kenangan terekam sebagai bukti pertemanan Bawang Merah dan Silbi. Hal itu selalu diingat oleh Bawang Merah. Tetapi, Silbi menganggapnya sebagai kenangan biasa saja. Maka, lupalah dia.

Hadirlah Bawang Putih di tengah-tengah mereka. Awalnya, Silbi merespon Bawang Putih biasa saja. Tetapi, Silbi merasa cukup cocok berteman dengan Bawang Putih. Walaupun Bawang Putih adalah anak baru yang pengaruhnya tidak sehebat Bawang Merah, Silbi merasa lebih nyaman berteman dengan Bawang Putih. Meski begitu, Silbi tidak pernah melupakan Bawang Merah. 
Tetapi, tetap saja Bawang Merah membenci Bawang Putih dan menganggap keberadaannya tidak penting.

Kadang Bawang Merah merasa iri kepada Bawang Putih. Apalagi jika Bawang Putih terlihat akrab dengan Silbi. Oleh karena itu, Bawang Merah selalu bercerita kepada seluruh penghuni sekolah bahwa Silbi adalah sabatnya, dan kedekatan mereka tidak akan pernah tergantikan. 
Lalu, Silbi dan Bawang Putih mendapat tugas istimewa. Mereka jadi duta Indonesia dalam perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Bawang Merah geram. Dia tidak ingin sahabatnya diambil oleh Bawang Putih.
Tetapi, apapun usaha licik Bawang Merah, dia selalu gagal menghentikan rencana Bawang Putih dan Silbi. Lalu, mereka pun pergi ke Eropa selama beberapa minggu. DI sanalah mereka semakin akrab.

++

Waktu tak terasa bergulir dengan cepat. Suatu ketika, Silbi mendapat beasiswa ke Perancis. Tanpa basa-basi kepada Bawang Merah ataupun Bawang Putih, Silbi pergi.
Bawang Merah dan Bawang Putih merasa sedih. Mereka ditinggalkan begitu saja oleh seseorang yang selama ini mereka anggap sebagai sahabat.

Bawang Putih tak tega melihat Bawang Merah merasa kehilangan. Lalu, mereka pun berteman. Banyak peristiwa yang mereka alami bersama. Yang jelas, Bawang Putih selalu ada bagi Bawang Merah ketika dibutuhkan. Itu terjadi bertahun-tahun sampai mereka lulus sekolah. Mereka telah menorehkan suatu kisah persahabatan baru. Bawang Putih dan Bawang Merah bahagia karananya.

Lalu, pada suatu kesempatan yang penuh kejutan, Silbi kembali!
Dan, tiba-tiba Bawang Merah kembali pada karakter aslinya, memusuhi Bawang Putih dan merasa Bawang Putih adalah ancaman.
Dia lupa pada sejarah beberapa tahun ke belakang yang ditorehkannya bersama Bawang Putih. Bawang Merah lebih tertarik memuji-muji kehebatan Silbi dan mengulang-ngulang cerita tentang persahabatan mereka di masa lalu, sebelum Bawang Putih tiba.

Bawang Merah Melupakan Sejarah

Hari Ini, Enam Tahun yang Lalu

24 September 2009

Kali pertama, tubuh dan wajahmu mampir
di semesta pikir

Tak akan ada yang tahu, sebesar apa letup hatiku padanya.
Tak akan ada yang merasakan, bagaimana hatiku yang ditata hari demi hari, menggelembung, dan siap meledak tiap kali melihat pendar putih di wajahmu.

Api, pisau, duri yang kau tebar di jalan itu, lukai tubuhku satu demi satu, luka demi luka, nelangsa demi nelangsa, kucicipi satu-satu.
Tapi, oh, bodohnya cinta. Dia mengalir indah tanpa peduli luka. Sungai-sungai kasih yang kupelihara. Di sepanjang lajurnya tumbuh pohon-pohon peneduh. Tempat di mana hasratku bermuara, memadu rasa denganmu, dengan imajinasi liarku tentangmu. Sebab, inginku tak pernah dikabulkan, ingin yang sederhana: bisa saling jatuh hati denganmu, wahai jahanam.

Dan kau seperti tertawa di atas kemenangan

Kali pertama, tubuh dan wajahmu mampir 
di semesta pikir

Wajahmu, yang itu,
yang penuh kehangatan,
yang jadi puncak inginku dalam laju usia,
yang ciptakan galau dalam hari-hari yang kusangka penuh cinta
yang kubawa selamanya sebagai cindera mata sejarah.

03 September 2015

Post Number One Syndrome

Post Number One Syndrom. Istilah rekaan saya sendiri. Mengacu pada seseorang yang merasa dirinya adalah nomor satu di suatu komunitas tertentu, dan selalu merasa nomor satu sehingga melakukan hal-hal yang membuatnya terindikasi arogan dan menganggap orang lain tidak lebih baik dari dirinya.

Ada sekelompok orang yang terdiri atas berbagai keahlian dan kemampuan. Orang-orang itu dikumpulkan dalam satu media pendidikan. Lalu, salah satu di antara mereka menonjol dalam segi akademis. Dia adalah figur yang menyenangkan, humble, dan mau berbagi. Maka, dia pun terkenal di kalangan teman-temannya selama masa pendidikan. Dialah si 'Number One'.

Waktu berlalu. Berakhirlah masa pendidikan itu. Lantas, mereka menyebar di tempat kerja berbeda sesuai dengan kompetensi masing-masing. Di sanalah mereka mulai mengaplikasikan ilmu yang selama ini dipelajari selama masa pendidikan.

Seiring dengan pergantian waktu, mereka berhasil meningkatkan kemampuan mereka. Mereka belajar dari pengalaman kerja sehari-hari. Sementara, si 'Number One' bersetia dengan kepintarannya yang dulu. Dia juga bersetia pada perasaan bahwa dirinya masih nomor satu seperti dulu. Dia mengabaikan capaian-capaian kawan-kawannya. Ternyata, diam-diam dia memelihara perasaan yang menyatakan bahwa teman-temannya nothing. Tetapi, dalam pertemuan-pertemuan singkat dengan teman-temannya, dia selalu berpura-pura mengapresiasi. Wajahnya bersahabat, tapi hatinya getir berbicara, "gini doang?"

Hingga suatu hari, takdir mempertemukan mereka kembali melalui sebuah fasilitas group di social media, sekitar 5 tahun setelah kali terakhir mereka berjumpa. Dengan rasa percaya diri yang penuh, dia masih merasa dirinya Tuan Nomor Satu. Dia abai bahwa dalam lima tahun begitu banyak hal terjadi, begitu banyak hal yang bisa berubah. Dia lupa belajar, dan menganggap teman-temannya tidak akan belajar juga.

Lalu, dalam percakapan cyber-nya dengan teman-teman, dia selalu berusaha keras untuk mempertahankan kenomorsatuannya. Saat ada teman lain yang terlihat memiliki sesuatu yang lebih darinya, dia akan terus menonjolkan dirinya dengan terus membicarakan kejayaan masa lalu. Arogansinya memuncak tinggi. Baginya teman-teman yang lain tidak pantas menggapai bintang yang tinggi.

Dia istimewa, dia pernah jadi nomor satu. Tapi,dia lupa memperkaya diri. Dia lupa bahwa kawan-kawannya terus berlari. Entah lupa atau tak peduli.

Berpisahlah dengan Rendah Hati

Pernahkah kamu merasa lelah dan jengah dengan relationship yang sedang kamu jalani? Kebosanan menjalar. Hal-hal sepele berubah jadi pertengkaran yang terus membakar. Isi kepala terasa semakin tak sama. Setiap laku dan kata pasangan terasa bagai  pisau yang tajam. Hubungan yang selama ini sama-sama dijaga berubah jadi setangkup beban yang bertengger di bahu kita.

Lalu, saat-saat sendiri tiba-tiba jadi hadiah yang sangat berarti.

Mungkin, ada waktunya kamu beristirahat sejenak. Nikmati me time dengan segala keleluasaan. Membiarkan diri bebas untuk menemukan keinginannya sendiri.
Di situlah kamu akan belajar tentang bersyukur. 

Jika hubunganmu dengan pasanganmu adalah anugerah ilahi, tangan-tangan cinta akan menggiringmu kembali padanya. Tentu, setelah kamu sepenuh hati mendalami, melakukan refleksi, dan menggali kesalahan-kesalahan sendiri, lalu berusaha memperbaiki. Kalian akan dipersatukan kembali oleh kekuatan semesta yang kadang sulit terdefinisi.

Tetapi, jika hubunganmu dengan pasanganmu memang tidak seharusnya ada lagi, lepaskanlah dengan kepala dingin dan keikhlasan hati. Bukan untuk menyakiti, pula bukan untuk menyemai benci. Tetapi, agar kamu dan pasanganmu sama-sama mendapat kelegaan hati yang selama ini entah di mana bersembunyi.

Berpisahlah dengan rendah hati.


05 August 2015

"Maafkan Kami, Tuan Capung" - Majalah Bobo Nomor 16, Juli 2015




oleh Ighiw
 
Setiap musim kemarau, kebun di belakang sekolah dipenuhi oleh capung. Anak-anak di Desa Sarijadi biasanya berkumpul di sore hari untuk berburu capung. Begitu juga dengan Angga dan Erik. Mereka datang ke kebun belakang sekolah sambil membawa sebuah kantong plastik. Kantong plastik itu akan digunakan sebagai wadah menyimpan capung hasil tangkapan mereka.

Di rumah, Angga bermain di teras dengan capung-capung hasil tangkapannya. Dia lalu mengambil seekor capung yang paling besar. Kemudian, Angga mengikatkan sehelai benang jahit di ekor capung tersebut. Setelah itu, Angga melepaskan capung itu dan mempermainkannya seperti layang-layang.
“Ayo, terbang, Tuan Capung, terbang yang tinggi...” ujar Angga sambil tertawa gembira.
Dini, adik perempuan Angga, kesal melihat perbuatan Angga. Dia tidak tega melihat capung yang seharusnya terbang bebas malah dipermainkan seperti itu.
“Kak Angga, kasihan capungnya. Ayo, bebaskan,” ujar Dini.
“Tenang, nanti Kakak bebaskan. Tuan Capungnya masih ingin bermain,” jawab Angga sambil terus mondar-mandir mengikuti pergerakan capung.
“Kak Angga, capung itu sama seperti kita. Ingin bebas. Dia ingin terbang. Bukan untuk dibuat mainan seperti itu,” ujar Dini ketus.
“Sudah, Dini. Jangan ganggu Kakak. Sebentar lagi Kak Erik mau datang. Kami mau bermain balap capung.”
Angga terus mempermainkan capung itu. Sesekali dia melepas benang yang melilit di ekornya. Kemudian, saat capung itu hinggap di dahan pohon jambu, benangnya dia tarik kembali. Dini kesal. Dia masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut karena gagal menghentikan Angga.
Tidak lama kemudian, Erik datang. Di tangannya sudah tergenggam benang jahit yang mengikat capung hasil tangkapannya.
“Angga, ayo kita balapan!” seru Erik bersemangat.
“Ayo, sini Rik. Tuan Capungku siap jadi pemenang!”
Angga dan Erik begitu asyik menikmati permainan itu. Sementara, Dini yang berpipi tembem mengintip mereka di balik jendela ruang tamu.
“Huh, aku harus merencanakan sesuatu,” gumamnya.
Diam-diam, Dini mengendap-endap menuju teras. Saat Angga dan Erik sedang lengah karena asik bermain balap capung, Dini memungut kantong plastik berisi capung milik Angga dan Erik. Kedua kantong plastik itu tergolek di lantai teras. Tak lupa, Dini menukarnya dengan kantong plastik kosong yang dibiarkan terbuka.
“Hihi.. nanti tinggal bilang saja bahwa capung mereka terbang sendiri,” ucap Dini dalam hati.
Kemudian, di halaman belakang rumah, Dini melepaskan capung-capung tangkapan Angga dan Erik.
“Selamat jalan, para Tuan Capung. Semoga kalian bahagia ya...!” seru Dini melepas kepergian capung-capung yang cantik itu.
Lalu, Dini kembali ke teras depan rumah untuk melihat Angga dan Erik yang masih bermain balap capung. Ternyata, Angga dan Erik sudah tidak ada di tempat itu.
“Ke mana ya mereka?” tanya Dini dalam hati.
Sekarang, Dini berpikir bagaimana caranya membebaskan capung yang sedang dimainkan oleh Angga dan Erik. Dini pun duduk di lantai teras, tepat di atas kantong plastik yang tadi ditukar olehnya.
Tidak lama kemudian, Angga dan Erik datang. Dini merasa heran karena hanya Erik yang membawa capung di tangannya.
“Kak Angga dari mana?” tanya Dini.
“Kakak baru dari kebun, mencari capung baru. Capung-capung Kakak di kantong plastik kabur semua,” jawab Angga.
Tiba-tiba Angga terkejut. Dia menyuruh Dini berdiri.
“Aduh, Dini! Ayo berdiri!”
Dini ikut terkejut dan langsung ikut berdiri.
“Ada apa, Kak?”
Ternyata, di dalam kantong plastik yang diduduki oleh Dini ada Tuan Capung! Tadi, Angga menyimpan capungnya di kantong plastik itu sebelum dia pergi dengan Erik. Dan Dini menduduki kantong plastik berisi Tuan Capung. Saat kantong plastik dibuka, Tuan Capung sudah mati.
Dini menangis karena tidak sengaja menduduki Tuan Capung. Sementara, Angga dan Erik ikut bersedih dan merasa kasihan pada Tuan Capung. Sejak kejadian itu, Angga dan Erik berjanji tidak akan mengangkap capung lagi, apalagi menjadikannya mainan. Mereka sadar, capung juga adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus diperlakukan dengan baik.
“Maafkan kami, Tuan Capung.”                   


  ***