28 November 2009

"Lucky" by Jason Mraz feat. Colbie Caillat

Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying

Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh



They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair
Though the breezes through trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I'm lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh


gambar: http://fc01.deviantart.net/fs45/f/2009/144/9/2/Lucky_I__m_In_Love_by_EffysDream.jpg

02 November 2009

Talkshow GREEN JOMBLO




Cuap-Cuap with GREEN JOMBLO

Hari Sabtu, 7 November 2009
Pukul 14.30 s.d. 15.30
di Stan Penerbit Ganesha Exact
Indonesia Book Fair, JCC, Senayan...

datang yaaa.........

Insya Allah....
coming soon...

Novel GREEN JOMBLO by Sigit Rais

DIVAN, seorang editor penerbit buku. Dia menderita kejombloan yang udah akut dan menahun. Bukannya nggak laku, tapi emang belom ada yang mau (APA BEDANYA?) So, dia pun memproklamirkan dirinya sebagai THE GREEN JOMBLO.

Apaan sih THE GREEN JOMBLO itu? aneh banget deh namanya...

haha... we'll see.... GREEN JOMBLO by Sigit Rais





Being single and happy! Itu jargonnya chicklit, my fav genre. Single atao jomblo atau apapun itu, sering banget gue baca dari sudut pandang cewek. Kalo dari sudut pandang cowok, buku ini jawabannya!
(Fietri, chicklitholic, bestfriend-nya Ighit)

Menarik, mengharukan, lucu tapi juga menyedihkan. Maksudnya, ada juga yah orang yang kayak gituh.... Hahahaha... Kalo udah mau rilis, bilang-bilang ya, biar dapet pertama kali. Sukur-syukur GRATISAN! Hehehe...
(Bayu Dimyanto, temen touring-nya Ighit)

Cerita yang lumayan bagus mengangkat sisi lain dunia penerbitan yang penuh dengan deadline super ketat. Ceritanya pas banget buat kalangan remaja. Buat orang dewasa, lumayan lha, bisa mengingatkan kembali sama masa mudanya. Cukup menghibur dan bisa membuat saya ketawa. HAHAHAHA.
(Neni Hendrayani, ibu rumah tangga, mantan partner ngelayout bukunya Ighit)

Mungkin suatu hari GREEN JOMBLO jadi golden jomblo. Hijau menguning kayak padi yang siap panen. Hehehe...
(Wawan Setiawan, temen kuliahnya Ighit, penulis lepas)

Selamat, Giiiwww!! Teruslah melaju! Membaca dan menulis komunikasi dengan Allah Swt. sebagai proses pembelajaran seumur hidupmu! Keep istiqomah & smiley!
(Ulie, temen kuliahnya Ighit, Guru SD)

Buku ini pokoknya lucu banget dan kisah-kisah di dalamnya cukup inspiratif dan mengandung pesan edukatif (MAKSUTNYAAAAAAAA). Pokoknya keren and gokiel.
(Indra Gokil, temen gokilnya Ighit, penulis “Si Dodol VS si Gokil)

Wah, novel ini menarik. Ceritanya menarik. Siapa aja yang baca, pasti suka. Daku aja yang bukan penggemar novel jadi keasyikan bacanya.
(Paloma Humana, editor penerbit buku di Bandung)

Novel ini lumayan menarik. Bahasanya gamblang dan gampang dicerna (makanan kaleee). Ceritanya juga menarik. Jomblo abis, laaah...
(Risa, alumni UPI, orang Jatinangor)

Wiiiih, menarik pisan, pengalaman pribadi pisan, jomblo pisan uy!!@#$&*^!haha..keep smangaat ya bwat jomblo2 kaya Igit! haha...
(Rani, adiknya Ighit yang cantik)

Membaca The Green Jomblo bagai menikmati sekotak permen yang punya segala rasa. Yah, itulah cerita cinta. Tiap penggalan kisahnya selalu punya rasa berbeda.
(Ahimsyah Wahyu, mantan roommate-nya Ighit)

19 October 2009

Take My Heart - Soko

Wah, akhir-akhir ini gue lagi seneng dengerin lagu Take My Heart-nya Soko nich... nggak tahu kenapa, pas dikasih denger sama temen gue, langsung tergoda gitu deh, hehehe... suaranya lutuuuu... easy listening, ada violinnya yang bikin dramatis (halah), dan yang pasti temanya itu lho... lumayan relevan lha dengan kondisi gue saat ini (jiakakakak, lebay mode: ON).
ini dia liriknya....



You can take my heart for a walk on the beach
You can take my heart for a little trip
You can take my heart very close to your heart
You can take my heart forever if you like

But not every heart belongs to any other
You and I
You and I are meant to be
I'm the one for you, You're the one for me
You love me as much as I do
When you look at me and we're skin to skin
I want you so
Please come in
And you love me more and more
And my love grows up with you
And you kiss me more and more
And I kiss you, too
And I kiss you, too

If I take your heart, I will cherish it every day
If I take your heart, I will heal these old wounds
If I take your heart, it's to make it happy
If I take your heart, it's forever close to mine

But not every heart belongs to any other
You and I
You and I are meant to be
I'm the one for you, You're the one for me
You love me as much as I do
When you look at me and we're skin to skin
I want you so
Please come in
And you love me more and more
And my love grows up with you
And you kiss me more and more
And I kiss you, too
And I kiss you, too

(Violin solo! )

I don't care, I don't care
If I'm again carried away
If you swear, if you swear
To give me your heart in return

I don't care, I don't care
If I'm again carried away
If you swear, if you swear
To give me your heart in return
To give me your heart in return


(http://www.lyricsmode.com/lyrics/s/soko/take_my_heart.html)

16 October 2009

Pengalaman Mbopapo di Kantor Baru

1. Pinggul Kejepit Pintu Elevator

Begini, cuy. Suatu ketika, gue dapet tugas nganterin dokumen ke divisi lain yang beda gedung. Nah, karena divisi itu ada di lantai 5, gue harus naik elevator dong.
Pas gue udah deket sama elevator, syukurlah tu elevator udah ngebuka dan diisi oleh dua orang bapak-bapak. Jadi, gue nggak usah nunggu.
Pas gue samperin tu elevator, eh, pintu pun pelan-pelan mulai menutup. So, gue lari dong. Nah, ngeliat gue lari-lari ngejar elevator, si Bapak yang deket pencetan tombol bukanya mencet tombol 'OPEN', dia malah cengo liatin gue lari-lari. Gue pun maksain diri masuk dan JEB! pinggul gue kejepit pintu elevator. Melihat situasi itu, baru deh si Bapak mencetin tombol 'OPEN'. Pak, Pak... tega bener sih?


2. Lupa Lantai

Pikirian gue lagi mumet. Kebeneran, gue lagi banyak kerjaan. Selain itu, gue lagi jatoh cintrong nih ceritanya. So, bawaannya ngelamuuuun terus.
Pas gue lagi tugas nganterin surat ke divisi laen, gue juga ngelamun lagi, ngelamun lagi. Nah, pas mau kembali ke ruangan gue yang ada di lantai delapan, gue masih ngelamun, bahkan di dalem elevator.
Pas, elevator berenti di lantai delapan, pintu pun terbuka. Gue masih anteng tuh ngelamun. Orang-orang di dalam elevator pada ribut tanya-tanya...
"Siapa yang turun di lantai delapan?"
Tau apa yang gue lakukan? Yuk deh.. gue malah ikut celingak-celinguk nyari pelaku yang udah mencet tombol angka delapan. Nah, pas pintu elevator udah mau nutup, gue baru inget deh kalo gue harus turun. So, gue pencet lagi tombol "OPEN" sambil bilang, "O iya, saya lupa...."
Gue pun keluar elevator sambil cengengesan malu dan ninggalin orang-orang yang lagi ngetawain gue.



sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/_cuLnKaQieHM/SbH6H-IU_hI/AAAAAAAAAwA/y1M5psL1DDI/s400/elevator.jpg


3. Lupa Pintu
Gue pernah nganterin surat ke salah satu sub bagian... nah, gue masuk ke ruangan mereka, lalu minta tanda tangan dari penerima surat... nah, beberapa penghuni ruangan itu lagi pada ngobol di tengah. Gue lewat situ tuh... eh, pas mau keluar, gue lupa pintu ada di mana. Finally, gue dengan pedenya nyelonong masuk ke ruangan pimpinan mereka coz gue pikir itu pintu keluarnya. Tapi setelah jalan beberapa langkah, baru deh gue ngeh kalo gue salah. Salah satu orang di situ bilang, "mas, mau ke mana?"
"mau ke luar," jawab gue.
"tuh pintunya," jawab orang itu.
Dengan malu-malu kudanil, gue langsung melangkah menuju pintu. Muka gue merah, tapi gue masih mantengin senyuman dooong.... hahahaha...
lalu, dari luar gue denger beberapa orang tertawa terbahak-bahak. Kayaknya sih ngetawain gue, tapi anggap aja nggak... :P

4. Lantai Kelewat
Gue mau ke lantai delapan, tapi karena gue ngalamun, tau-tau gue udah ada di lantai 11...
:P

wuuuh.. gini nih nasib kalo kita kebanyakan ngelamun, apalagi ngelamun yang aneh-aneh... hehehee....

07 October 2009

Bersahabat dengan Kecemasan Saat Bekerja di Tempat Baru

Hohoho...
kadang dalam memulai sesuatu yang baru, kita dihantui rasa cemas. Misalnya, saat kita masuk kerja di tempat baru. Beuh.. mau nggak mau, kita harus siap dengan buanyak kebaruan. Kantor baru tentunya, lingkungan kerja baru, orang-orang baru, dan yang paling bikin dag dig dug tuh kerjaan baru. Hehehehehehehehe....



Yah, tentang kerjaan baru, emang sih, kadang-kadang kita dihadapkan pada kerjaan yang di luar bidang penguasaan kita. Tapi, mau gimana lagi? Mau nggak mau, kita harus bisa. Nah, gimana caranya? Yang paling penting sih, tanamkan rasa dan semangat untuk INGIN TERUS BELAJAR. Dengan demikian, kita akan memiliki kekuatan dasar untuk mempelajari suatu pekerjaan baru yang bisa jadi sulit awalnya di mata kita.
Nah, jangan lupa, jangan ragu bertanya sama senior kita. Insya Alloh, mereka mau bantuin kita. Jangan takut dianggap oon atau bego. Cuek aja. Itu lebih baik lho daripada sok tahu tapi pada akhirnya salah. Yang penting, hati-hati juga saat mau bertanya, liat-liat sikon sang senior, lagi sibuk atau nggak. Kadang-kadang, ada senior yang antusias banget saat ditanya, tapi ada juga yang karena sibuk jadi terkesan cuek. Tapi percayalah, nggak ada senior yang bakal ngejerumusin kita, kecuali orang-orang jahat, hihihihihi tatuuut... Syukurlah, selama gue kerja di kantor lama dan di kantor baru ini, belum pernah tuh ada senior yang jahat. Semua baik dan sabar mau ngasih tau gue.




Nah, saat dikasih suatu kerjaan yang ternyata kita rasa sulit dan nggak mungkin untuk dikerjain, jangan langsung nyerah dan nolak kerjaan karena alasan nggak bisa.
Gue masih inget sama omongan salah satu dosen pembimbing SKRIPSI gue, Bu Yulianeta, saat gue ngerasa pesimistis dalam menyelesaikan skripsi gue. Saat gue berkeluh kesah dan bilang 'nggak mungkin deh', beliau bilang 'coba dulu saja'. Nah, jadi nggak ada salahnya kita nyoba dulu meskipun itu adalah hal baru bagi kita. Kalo udah nemuin kebuntuan, baru deh kita konsultasi sama senior atau atasan, biar mereka tahu di mana kendala kita sehingga bisa bantuin nyari solusinya buat kita. Bener, cuy...

Nah, yang paling penting, bersahabatlah dengan segala bentuk dan rupa kecemasan. Ada rasa takut salah, takut dimarahin, takut dicemooh, dan lain-lain... itu sih wajar aja. Namanya juga orang baru. Yang penting, kita nggak boleh terlalu larut dengan kecemasan itu dan harus mau bersahabat dengan kecemasan sehingga kecemasan itu menjadi pendorong kita dalam 'beraksi', hehehe.
Pokoknya, jangan sampe kecemasan kita bikin kita jadi serba salah, linglung, salting, dan lain-lain. Yang ada, kerjaan kita malah jadi berantakan. Jadi, santai aja, enjoy aja, nikmatin aja, dan selalu bersabar serta terus berusaha. Jangan lupa, kita harus do the best lha cuy. Jangan terlalu mengkhawatirkan hasil, tapi nikmatilah proses pembelajarannya.Biarkan atasan yang menilai kinerja kita, tugas kita cuma do the best dalam melaksanakan tugas-tugas baru kita. Okaaaaaaaayyyy!!!!

Yup, selamat bekerja semuaaaaa@!!
Salam semangat, ya!!

^__^

26 September 2009

Menempuh Hidup Baru Euy...


Setelah selesai diklat, gue langsung balik ke Bandung dan liburan selama kurang lebih 20 harian. Weuheu... selama liburan itu, rasanya gue kembali ke dunia sesungguhnya. Hahaa. Lebai. Yups, soalnya, kerjaan gue sama banget kayak dulu. Nulis di rumah, dateng ke penerbitan, ketemuan sama temen-temen, jalan ke toko buku, buka puasa bersama.. beuh... bener-bener hidup gue banget dah.Makanya, gara-gara itu, gue hampir lupa kalo empat bulan sebelumnya gue ikutan diklat di Kalibata. Hehehe....
nah, setelah lebaran, gue balik lagi ke Jakarta karena harus mulai masuk gawe. So, gue nempatin kosan yang udah di-tag di hari terakhir diklat. Gue memulai hidup baru cuy.
Gue ketemu banyak orang baru di kantor, gue juga masuk ke lingkungan baru yang mungkin nggak pernah gue duga sebelumnya.

Hmmh... semoga semuanya baik-baik aja, berjalan dengan lancar, dan yang jelas gue pengen terus nulis...

^_^

12 September 2009

99 Bisnis bagi Pensiunan (Indah Ratnaningsih & Sigit Rais)


Penulis : Indah Ratnaningsih dan Sigit Rais
Penerbit : Penebar Swadaya (Penebar Plus)
Edisi : Soft Cover
Tahun terbit : 2009
Ukuran : 140x200x0



Anda sudah atau akan pensiun? Tidak memiliki kegiatan? Mengapa tidak memanfaatkan masa pensiun untuk berbisnis? Masa pensiun bisa dihabiskan dengan cara kreatif guna mengisi kocek Anda. Jika Anda jeli banyak sekali peluang bisnis yang bisa digeluti. Di sini, Anda akan mengetahui bahwa ada 99 peluang bisnis yang bisa digeluti di masa pensiun. Ada juga info-info penting lainnya yang akan menuntun Anda untuk memulainya. Mulai dari prospek bisnis, langkah memulainya, pemasaran dan promosi, hingga analisis usahanya. Tak ketinggalan kisah sukses para pebisnis selama pensiun yang dapat memberi inspirasi Anda.

10 August 2009

Catatan DODOL tentang Bedah Buku "Si Dodol VS si Gokil"





wuzzzuppp...
hohoho...
Pakabar semuaaa? Semoga semua selalu sehat wal afiat.
Hum... kali ini, ngapain ya? Gue mau cuka aja deh... apaan tuh cuka? Cuka tuh, artinya curhat buka-bukaan... woahahahahahaa....

There's much and more diferensial of my life... waaahhh? apa lagi tuh? Artinya, begitu banyak yang berubah dalam hidup gue tiga bulan ke belakang ini. Ya of course karena sekarang gue lagi ikutan Diklat yang harus gue ikuti sampai kelar. Emangnya ada apa dengan diklat? Kok bisa bikin hidup gue berubah? Ya karena kegiatan menulis gue untuk sementara harus dihentikan. Syukurlah, gue masih punya beberapa naskah "siap pakai", jadi gue masih tetep bisa berjuang kirim-kirim naskah ke penerbit. Tapi, kalo stok naskah itu udah abis gimana? Huhuhu...
oleh karena itu, gue harus buru-buru NULIS lagi!
Tapi, kapaaaaaaaaaaaaan? Coming soon deeh... yang jelas, manfaatin naskah-naskah yang ada ya Igiw yang manissssssssss...

Btw-btw...
Sabtu kemaren, tepatnya tanggal 8 Agustus, gue dan temen gue, Indra Gokil, jadi pembicara loooh di acara bedah buku duet perdana kami. Judulnya "Si Dodol VS si Gokil".
Hmmm... bener-bener pengalaman perdana kami jadi pembicara sebagai penulis yang menelanjangi buku kami sendiri.
Awalnya sih, gue biasa-biasa aja. Secara, kalo urusan muncul di atas panggung bukan hal yang baru buat gue. Tapi, setelah liat muka si Gokil yang gugup dan grogi, gue jadi jiper. Terus, gue jadi nyadar kalo selama ini, gue tuh naik ke atas panggung seringnya as an actor, bukan jadi pembicara. Wuuuu... langsung deh, jadi muncul perasaan dag dig dug ser ser ser, hue....

Beberapa menit sebelum acara dimulai, gue, Gokil, dan Teh Poppy as a moderator brifingan dulu bentar. So far so good... nah, kami pun sepakat untuk muncul dari arah penonton (penonton? emangnya lenong bocah??)
..

Lalu, beberapa detik sebelum dipanggil, gue ma Gokil buka baju... ups... maksut gue, buka jaket dan nampang dengan baju baru kami bertuliskan "Si Dodol VS si Gokil" yang kami pesan beberapa hari sebelumnya. Hehehe... kami kayak anak kembar aja deh.. Kaos kompakan kami warnanya putih, tulisan di kaos gue w
arna ijo, kalo di kaos Gokil warna merah. Hmmm... cocok sama kepribadian kami... Hwahahahahaha...



Nah, setelah duduk di depan, gue 'fashion show" dengan menunjukkan tulisan pada kaos kami. Hmmhh... parah banget. Gini nih obsesi jadi model yang nggak kesampean.
Acara selanjutnya... dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi tentang proses kreatif, diskusi isi buku, dan kami diserang dengan pertanyaan-pertanyaan memukau.

Pertanyaan-pertanyaan yang paling gue inget adalah pertanyaan tentang "bagaimana mengkalkulasikan rasa cinta?" dan "mengapa harus ada istilah cinta tak harus memiliki?"...

Huhuhu...

#BERSAMBUNG... gue mau pindah tempat ke kelas dulu

08 July 2009

NEW BOOK: Jadi Jutawan dari Hobi



Penulis: Sigit Rais
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: viii + 174 hlm
Penerbit: IndonesiaTera
ISBN: 979-775-081-7
Harga: Rp22.500,-

Apa hobi Anda? Stiap manusia mempunyai hobi yang berbeda-beda. Dengan hobi, Anda telah memiliki nilai lebih sebagai seorang individu dan memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Hobi akan menjadi bukan sekadar hobi jika Anda bisa dan mampu mengelolanya menjadi sebuah usaha yang akan mengantar Anda menjadi seorang jutawan.

Buku ini mengupas bagaimana suatu hobi bisa menghasilkan uang, persiapan yang perlu dilakukan, langkah-langkah memasarkan hobi, gambaran berhitungan break even point, dan tips-tips menarik yang dapat diaplikasikan dalam memasarkan hobi. Dengan semangat, niat, dan usaha yang sungguh-sungguh, sesuatu yang biasa akan menjadi luar biasa.

09 June 2009

Barathayuda

inikah barathayuda?
saat pasopati melesat tanpa kendali
Arjuna mendekam dalam suara kersak
hujaman rindu menghampiri
menusuk dan tebarkan racun yang mawar

penuh sesak kurusetra
tiap punggawa bersiap lontarkan panah asmara

tapi Arjuna mendekam dalam lunglai
perlahan dia bangkit
dan
angin telah membawanya ke nirwana

di tempat itu ulur tangan sang kekasih menyapa

inikah Barathayuda?
hujaman asmara terlontar ke mana-mana
tanpa mereka sadari

Arjuna bahagia di atas sana

Juni 2009

Wajah, Tubuh, dan Hati

ini wajahku
yang terbitkan tawa di wajahmu
yang sesekali bersembunyi dalam lindap sunyi
yang tak usai bertengadah pada altar di langitmu

ini tubuhku
yang melepuh karena hujaman api
yang membeku dalam selimut salju
yang berlari menuju singgasana di dadamu
yang melompat saat kau membuka tangan

ini hatiku
yang berabad menunggu pelangi
pada lanskap senja di matamu

Juni 2009

Mencemaskan Hatimu

aku mencemaskanmu...
pada setiap gelagat angin yang
melintas
pada setiap sentuhan cahaya di
wajah basah rerumput pagi
pada lambaian dedaun yang bertengadah melawan cuaca

aku mencemaskan hatimu
yang mungkin melesat hilang
meskipun belum sempat kugenggam

Juni 2009

10 May 2009

From Jakarta with bla bla bla bla

Hari ini, 10 Mei 2009, gue ada di tempat yang cukup asing. halah, asing. Yup, gue ada di tengah-tengah keramaian (KUCLUK! emangnya selama ini ada di hutan lo?). Hahaha... hmmh.. kalo dipikir-pikir, asa ngimpi euy... ujug-ujug jadi salah satu makhluk penyebab keheurinan ibu kota. Nggak ada di APBN 2009. Nah lho, apaan APBN? Anggaran Petualangan Bobolohoan Ngok Ngkok (naooon deuih??).
Hiks, sekarang aku terdampar di kota besar nan hareudang di mana sehari harus mandi 2 kali. Padahal, di bandung, mandi dua hari sekali.

Week end sebelumnya, gue masih ngumpul sama makhluk-makhluk gokil. Bakar ikan, ketawa-ketiwi. Sekarang, gue jadi salah satu tuyul yang bergentayangan di asrama BPK Kalibata. Heuleuh-heuleuh...

Yups... inilah yang dinamakan takdir... naooon deuih... intinamah melalui tulisan ini, diriku si igiw lucu cuma mau minta doa restu semua makhluk hidup di dunia. Mudah-mudahan perjalananku lancar, mudah-mudahan selalu dihiasi senyuman, dan mudah-mudahan segera ketemu jodohku. Halah....



Pokoknya.. mudah-mudahan aku nggak kehilangan celah dan peluang untuk nulis...

SemanGat!
Hari masih pagi, kita masih muda, semangat kita terlalu dini untuk mati!!!!

ayo, bersiap dengan kisah persahabatan baru di tempat baru...

02 February 2009

Petualangan Cileunca







1 Februari, temen-temen kantor (ex kantor maksudnya) ngadain acara jalan-jalan. Mereka mau main arung jeram di kawasan Situ Cileunca Pangalengan. Waw, berhubung belum pernah ke sana dan kangen acara jalan rame-rame, aku berencana ikut. Sebetulnya, acara ini udah disebarluasin sama Anti dan Kang Enceng jauh hari. Bahkan, saat kami masih kerja di kantor. Nah, kami pun akhirnya kena phk, tapi rencana itu terus berlanjut... dan jadi deeehhh....
Tetapi, saudara-saudara... hari keberangkatan bentrok dengan test tahap 2 BPK. Walah, curiga nggak ikutan. Soalnya rombongan berangkat jam 7 pagi. Dan aku mulai test jam 8. Padahal, aku pengen banget. Kalau nyusul? Belum tentu aku bisa sampai. Orang aku belum pernah ke sana.

Hmmh... akhirnya, mereka pun berangkat. Aku juga masih berharap sempat berangkat ke sana. Jam 10, aku selesai test. Eh, setelah itu bukannya langsung berangkat, aku malah keasyikkan ngobrol dengan Fitri dan temen-temen baru yang sekelompok pas test diskusi. Jam 11 aku baru berangkat. Itu juga nggak langsung ke Pangalengan, melainkan pulang dulu ke rumah untuk siap-siap.

Jam 12.30 aku siap-siap di rumah... setelah itu, langsung deh berangkat. Hehe.. ini untuk pertama kalinya aku pergi ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya SENDIRIAN. Wak.. wak.. bener-bener berimprovisasi, ngarang we. Nggak lupa donk, tanya-tanya sama tukang gorengan, tukang becak, kenek angkot, tukang parkir, dan petugas terminal tiap ada persimpangan jalan yang membingungkan.

Perjalanan lonely ini lumayan menyenangkan juga. Asa gimanaaa gtuh... maklum, baru pertama kali perjalanan cukup jauh pake motor sendirian. Kadang-kadang aku nyempil sama rombongan orang-orang yang lagi touring. Kadang-kadang berenti dulu untuk baca sms dan ngasih laporan ke si Gokil.Pengen banget berenti dulu di pinggir hutan, foto-foto. Tapi, malu banger sendirian. Asa narsis kumahaaa kitu. Yah, lumayan seru we. Bebas. Nggak usah iring-iringan sama orang lain. Jadi nggak usah nunggu atau nguber motor lain biar keutuhan rombongan tetap terjaga. Tapi tetep aja keueung. Gimana kalo terjadi sesuatu di jalan? Kan, nggak ada yang tau. Hehee... tapi alhamdulillah... salamet sampe ka tujuan. Sampai di situ Cileunca.



Sesampainya di sana, ternyata anak-anak udah pada kelar main arung jeramnya. Hiks...! Tapi, sebenernya sih nggak apa-apa juga. Lagian maag aku rada-rada kumat. Eh, beberapa di antara mereka ternyata ada yang pengen main lagi. Jadi weh nyewa pemandu lagi. Dan... perjalanan arung jeram pun di mulai....

Aku ngerasa bego banget. Masalahnya, temen-temen mah udah pada dapet pengarahan. Sementara, aku cuma cengo. Ngikutin anak-anak yang lain. Wak, tampak bodoh. Udah mah megang dayungnya salah... dayungnya 'paketrok' terus dengan dayung temen-temen lain... pokonya mah berasa o-on. Hehe... Untunglah, naluri "si Bolang"-ku membuatku mudah beradaptasi. Tapi, yang bikin parno, kata si Akang pemandu, lagi musim ujan gini, ular-ular pada keluar. WAAK! Gokil! Jadi asa geumpeur. Gimana kalo di tengah jalan aku berpapasan dengan Pai Si Chen dan Siau Ching? Hiiiiy... (naooon deuih... emangna film Legenda Ular Putih?).



Tapi alhamdulillah, seneng juga... walaupun kurang kejutan-kejutan yang gimanaaa gituh. Aku malah hanyut nikmatin suasana hutan di kiri kanan sungai.
Oiya, pas perahu karet yang kutumpangi berhadapan dengan jeram... anak-anak pada teriak, "BOOOM!" aku cengo. Celingak-celinguk gituh.... ternyata anak-anak udah pada duduk di dasar perahu (awalnya kan duduk di bantalan semacam kursi duduk gituh). Dan dengan tampak bodohnya aku ikut-ikutan mereka duduk. Padahal, aku nggak tahu fungsinya apa. Pokoknya, setiap Tedi dan Aziz yang ada di depanku ngelakuin sesuatu, pasti aku ikutin! Untung aja pas mereka garuk-garuk kepala nggak aku ikutin juga. Dan semua kelakuanku itu ternyata diamati oleh si tengil Gokil yang duduk di belakangku dengan Dwi dan Akang pemandu. Hmmmh....
Terus, lutut aku kepukul dayung sampe rasanya ngiluuuuu banget. Gara-garanya kalo nggak salah, aku ngebenerin helm, nah, si dayung aku pegang pake satu tangan (ternyata itu nggak boleh, lho!). Terus, tiba-tiba dayungnya kepentok batu sungai. Langsung deh gagangnya yang keras banget itu ngajebred ke lutut aku. Tapi, karena malu... aku diem-diem aja we... hehehe...

Di perjalanan, aku sering cengo melongo lihat-lihat sekitar. Bukannya bantuin ngedayung! Hahaha....

Nah terus di bagian akhir, perahu digulingkan! Dan aku ketimpa perahu! Ada di bawah perahu! Untung perahunya dari karet. AKu sempet panik takut tenggelem dan kebawa arus. Syukurlah, aku ngadar kalo aku pake pelampung. Jadi, nggak panik lagi. Lagian Tedi ngingetin aku untuk nggak usah panik. Wak2... dipikir-pikir, ngapain panik, ya? Orang nggak akan tenggelem.
Nah, abis itu, kami pun main-main air di pinggir sungai. Tapi, aku nggak mau lama-lama... abis, anak-anak pada pipis di situ... HIIYYYY!!!! Geuleuh.... pantesan airnya mendadak jadi anget-anget gimanaaa gituh...wk wk wk...

Nah, setelah itu... balik lagi ke Situ Cileunca pake angkutan mobil colt. Setelah mandi dan bersih-bersih, langsung makan jagung bakar di tepi danau. Mantap!

Abis itu, pulang deh...

Boy’s Mind and Girl’s Heart

cerita pendek Ighiet

Sumber gambar:tasha-steel.co.nz

Divan
Arrrgggh! Udah gue bilang berkali-kali, kalo jatuh cinta tuh lebih banyak nggak enaknya. Mulanya sih enak, perasaan kita bakal terus diliputi rasa bahagia. Dikit-dikit inget dia, dikit-dikit mikirin dia. Jajan di kantin, pengen ketemu dia. Pengen ke toilet, berharap ketemu dia. Bahkan, pas lagi belajar di kelas, terus aja nengokin jendela sambil berdoa agar dia lewat di depan kelas. Padahal, gue nggak pernah tahu dia ngeh atau nggak kalau selama ini gue amatin, gue tungguin, dan gue harepin. Ah, sedihnya jadi gue.
Mending kalo semua itu bersambut cinta dari dia juga. Lha ini, yang ada hanya rasa gondok yang nyebelin banget. Gue curiga, kayaknya sih dia tahu kalo selama ini lagi gue incar. Bahkan, dia sengaja tebar pesona di depan gue. Padahal, kayaknya dia cuma pengen ngerjain gue doang. Cuma pengen bikin gue ge-er doang. Yups, dia tahu kalo gue adalah pemuja rahasianya. Ya, itu menurut gue sih. Tapi, emang gitu deh kayaknya. Secara, dia kan cewek yang paling cantik di sekolah ini. Pasti ngerasa diri cantik dan banyak penggemarnya. Adoooh... gue harus gimana doooong?

***



Tania

Ini tentang anak cowok sebelah. Aku nggak tahu siapa namanya. Mau tanya sama anak-anak, malu. Apalagi tanya langsung sama orangnya. Iiiih... nggak deeh! Sempet sih, waktu aku papasan dengan dia di depan lapangan basket, aku coba ngelirik ke arah name tag-nya. Tapi... nyebelin banget! Dia pake nick name di name tag seragam sekolah. Pake nama orang asing lagi, McCartney. Ih, nggak banget deh. Dari name tag-nya aja udah bisa ditebak kalau dia memang anak badung. Tapi, ntar dulu, McCartney... kayaknya nama itu nggak asing deh.

***



Divan

Buset dah. Tadi dia kelihatan cantik banget pake bando warna pink. Udah gitu, kulitnya putih banget lagi. Nggak nyangka di sekolah ini ada makhluk secantik dia. Tuh, kan. Rambutnya. Gila beneeer. Melayang-layang ketiup angin. Hitam. Berkilau. Wuih... jadi mirip iklan shampo nih. Badannya... ya ampun, mirip banget Sandra Dewi. Samampai, putih, arrggghh... nggak kuaaaat!
Dia mau ke mana sih? Ke kantin ya? Ikutin ah. Sambil jajan apa ya? Tapi... arrrggh... duit gue abis, lagi. Mana mungkin gue ke kantin nggak bawa duit. Nggak mungkin gue ngutang lagi di warung Mang Ihin. Utang gue udah numpuk banget. Wuf... nasib... nasib.
***

Tania

Ah, kayaknya selama ini aku kege-eran. Aku ngerasa dia ngeliatin aku terus. Di kantin, di depan kelas, di perpustakaan. Untungnya, aku nggak ngerasa diliatin dia pas ada di dalam toilet. Wah, kalau gini caranya, hidup aku nggak bakalan tenang. Aku bakal terus diikutin sama rasa penasaran. Apa bener aku kege-eran? Hatiku rasanya nggak karuan gini.

***


Divan

I want her everywhere. And if she’s besides me i know i need never care.
Gile bener. Lagu kesukaan gue ini sekarang lagi aktual banget sama kehidupan gue. Lagi pas banget sama suasana hati gue. Emang sih, ini lagu jadul banget. Kayaknya udah ada sebelum bokap gue lahir. The Beatles, The Beatles... emang kagak ada matinyeeee!
Untung aja tadi siang si Riyan ngebalikin CD The Beatles Revolver ini. Kalo belom balik juga, ya gue nggak bisa ngedengerin lagu keren ini sekarang.
Here, there, and everywhere... POOOL!

***


Tania

Pantes aja pake nama McCartney. Ternyata dia demen banget sama The Beatles. Salah satu personilnya kan Paul McCartney. Tadi aja waktu dia lewat di depan kantin, dia bawa-bawa CD. Kayaknya sih CD lagu The Beatles.
Aduh, parah. Tadi aku anteng aja ngeliat dia lewat. Padahal, aku lagi ngobrol sama Sinta. Aku dikasih bando pink lho sama Sinta. Aih... lucunya. Sinta juga punya. Kita jadi kompakan deh. Aku cerita jangan ya sama Sinta? Malu ah. Hati aku belum siap.



Divan

Ugghhh!! Gimana ya? Apa gue langsung to the point aja? Gue tembak dia. Gue nyatain perasaan suka gue. Gue jadian deh sama dia. Kalo diterima itu juga. Tapi, males ah! Tapi juga, gue udah nggak tahan kalo gini-gini terus.



Tania

Eh, itu cowok bawa-bawa bunga. Apa buat aku, ya? Wah, dia nyampirin aku. Aduuuh, jangan sekarang dong. Please. Malu. Mana ada Sinta dan teman-teman yang lain lagi. Aduh, dia makin deket, deket, deket... dan ...




Divan dan Tania

“Hai, sendirian aja?” tanya Tania.
Divan melongo. Dia tidak menyadari keberadaan Tania yang memperhatikannya sejak tadi. Tatapannya kosong dan hampa. Tania penasaran. Dia mencoba mengikuti arah pandang Divan. Di depannya, dia melihat si “McCartney” sedang bergandengan tangan dengan seorang cewek berbando pink di depan gerbang sekolah.
“Ooh... mereka? Mereka baru jadian kemaren. Jadiannya di depan aku banget tahu,” ujar Tania menjelaskan.
“Oo...,” jawab Divan singkat.
“Kok kamu kayak yang bete liatin mereka sih?” tanya Tania.
“Aku? Eh.. eu.. a... bete? Nggak mungkin lah, secara si Riyan, cowok itu tuh, kan sobat aku banget. Masa bete sih,” jawab Divan sedikit gugup.
“Sinta, anak cewek yang lagi gandengan sama temen kamu juga sahabat aku. Sebagai seorang sahabat harus bahagia juga saat sahabatnya merasa bahagia. Betul nggak?” tanya Tania.
“Tentunya.”
Detik-detik mendadak sunyi. Perlahan, mata Divan dan Tania saling beradu pandang. Ada sesuatu yang terjadi. Entah apa. Mereka hanya saling melempar senyuman, lalu saling membuang muka. Tidak lama kemudian, Tania beranjak meninggalkan Divan.
“Aku pergi dulu ya. See you...”
Awalnya, Divan bertahan di tempat duduknya. Tapi, tiba-tiba ada keinginan kuat untuk menghampiri gadis yang belum dia ketahui namanya itu.
“Eh...! Tunggu! Nama kamu siapa?” ***

10 January 2009

Kawah Putih Season 2: Lebih seru!





Tanggal 4 Januari yang lalu, aku dengan temen-temen kantor jadi main-main ke Kawah Putih Ciwidey. Bagiku, ini adalah kali kedua mengunjungi tempat wisata yang keren banget lah. Tapi, bagi Nurul, temenku yang menggagas acara ini, ini adalah kali pertama... (kamana wae atuh, Ne?)
Nah, kali ini peserta yang ikut, yaitu diriku si Igit McCartney, Nurul, Indra Gokil, Indra Dwi, Hada, Aci, adikku Mardian, Dian Hartati, dan Mambo. In the morning, kami semua kumpul di depan kantor GMP, tepatnya di warung Pak Engkos. Kami kumpul sekitar jam delapan karena khawatir akan terjebak kemacetan yang edan. Maklum, ini kan lagi masa-masanya liburan sekolah adik-adik kita yang lucu... YUUU...
Jam delapan lebih sedikit, kami semua sudah kumpul, kecuali Dian Hartati yang konon terjebak macet dan hanya bisa pasrah di dalam angkot, kemudian Mambo yang akan menunggu kami di depan Margahayu Permai. Akhirnya, Dian Hartati datang juga! (asa nama acara TV). Lalu, kami pun segera berangkat. Aku semotor dengan adikku, Gokil semotor dengan Nurul, Hada semotor dengan Dian Hartati, lalu Indra Dwi semotor dengan Aci.

Dari jalur Soekarno-Hatta, kami ngambil jalur Cibaduyut yang tembus ke Sukamenak. Katanya sih biar nggak terlalu macet seperti di Kopo. Tapi memang terbikti kok waktu aku dan kawan-kawan pulang dari nikahan Anggita. Memang aku sampai lebih cepat dibanding kawankawan lain yang lewat Kopo, yang setahuku sebelumnya ada jauh di depanku. Nah, di Margahayu Permai, Mambo pun turut serta.
Alhamdulillah, hari sangat cerah, ya secerah hatiku dong, The Green Jomblo yang lagi merumuskan gelar baru dalam bidang perjombloan (naooooon deuih?). Perjalanan pun lumayan lancar, walaupun lebih padat dibandingkan saat perjalanan Kawah Putih sebelumnya (dengan Brel, Ria, Ojak, dan Uli). Maklum, seperti kubilang tadi, lagi musim liburan sekolah dan baru aja libur panjang tahun baru 2009. Betul?
Daaaaan.... kami pun sampai di lokasi Kawah Putih sekitar jam 11 (silakan koreksi kalo salah). Waw, rame banget. Ya iyalah rame, kalo mau sepi, liburannya ke makam aja.... hehehhe....







Oiya sekedar mengingatkan, Kawah Putih ini terletak di Gunung Patuha. Setahuku, kalau tidak salah, Gunung Patuha ini ada di sebelah barat Pegunungan Malabar, di mana terdapat Gunung Puntang dan Curug Siliwangi. Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua atau ”Patua”. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh. Dulu, kawasan ini dianggap angker, lho. Bahkan, nggak ada seorang pun yang berani datang. Hiiiy.....Nah, di Gunung tersebut ada dua kawah, yaitu Kawah Putih dan Kawah Saat.
Tetapi, pada 1837, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman melakukan penelitian di kawasan ini. Setelah menelusuri hutan Gunung Patuha, akhirnya ia menemukan sebuah danau kawah yang suaaaangaaat indah. Dari kawah itu keluarlah belerang beserta gas yang baunya sangat menusuk hidung (aku juga sempet batuk gara-gara ngisep uap belerang, tauuu).

Oleh karena itulah, kemudian di tempat itu sempat dibuat pertambangan belerang bernama Zwavel Ontgining ‘Kawah Putih’ yang pada zaman Jepang,berganti nama menjadi Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey.


Katanya sih, di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Tapi, kami belum sempat ke sana.
Nah, di tempat itu konon sering dijadikan tempat pertemuan para leluhur. Tepatnya di Puncak Kapuk, salah satu puncak Gunung Patuha. Selain itu, di tempat ini katanya sih terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang disebut domba lukutan. Hummm..... jadi asa muringkak....

Bay de weeeey..... kami pun membeli tiket. Satu orang harus membayar 11 ribu. Motor 2 ribu rupiah. Ntar di atas, harus bayar parkir lagi 2 ribu.
Seru banget lah acara Kawah Putih kali ini. Selain menjalani rutinitas utama, yaitu FOTO-FOTO (TOWEEEWWW!), kami juga melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan, yaitu mengelilingi seluruh wilayah Kawah Putih. Kami menyusuri jalan-jalan berbatu di pinggiran kawah.

Jika dilihat dari sisi yang paling dekat dengan pintu masuk, kupikir dinding gunung yang ada di bagian utara kawah tidak bisa dilalui. Ternyata, bisa. Hanya saja, saking jauhnya, jadi tidak terlihat bahwa di ditu ada jalan kecil yang dikelilingi bebatuan. Kami yang belum tahu, memberanikan diri. Mambo memimpin kami di depan. Sementara, di belakang, jauh tertinggal teman-teman yang lain, aku sibuk mengambil foto dan video di sekitar. Nggak lupa donk, foto-foto sendiri (KEMPLAAAANGGGG!). Di belakang, aku jalan bareng Indra Dwi.

Aku menemukan beberapa celah yang mengeluarkan asap. Setelah kuhampiri, ternyata asap itu berbau belerang (sempet batuk-batuk dan sesak napas taWu gara-gara menghirup asap itu). Nah, aku juga menemukan beberapa lubang yang cukup besar. Ternyata di dalam lubang itu ada air yang terlihat mendidih. Hummm.... nggak ngerti juga sih, kok bisa. Bahkan di sebelah sono noh... ada selingkaran, kayak kolam, yang masih nyatu sama kawah keseluruhan, tapi airnya terlihat mendidih dan berasap. Sementara di sisi lainnya, ada lagi semacam kolam, tapi pas aku sentuh airnya, ternyata dingin banget. Aneh, kok bisa beda-beda ya? Entah.

Di perjalanan itu, kami melihat batu-batu yang suaaangat gede. Wah, bahkan ada beberapa yang terlihat hampir jatuh menggelinding ke arah kawah. Sementara, kami dengan cueknya lewat gitu aja di bawah batu-batu itu. Tapi, alhamdulillah, so far so good. Walaupun beberapa kali aku melihat bongkahan batu jatuh karena terinjak. Setelah berjam-jam melakukan perjalanan itu, kami pun sampai di sisi kawah semula, yup yang deket dengan pintu masuk.







AKhirnya, karena semakin sore, kami memutuskan untuk pulang. Mana belum sholat Zuhur. Kami pun menuju tangga keluar. Kami berpapasan dengan sebuah gua tambang belerang yang bauuu banget. Di mulut gua ada semacam warning yang mengatakan bahwa kami tidak boleh terlalu lama berdiam di mulut gua karena it’s very dangerous please do not try this at home (NAOOON SEEEH?)






DI dekat pintu gerbang utama, yang ada plang Kawah Putih gude, kami sholat zuhur. Setelah itu, beberapa di antara kami ada yang belanja strawbery dengan harga murah, yaitu 5000 per bungkus (ukuran besar). Nah, abis itu, kami pun melanjutkan perjalanan pulang.

Tadinya, kami mau makan dulu di tempat yang direkomendasikan Aci, namanya kalo nggak salah... Saung Liwet. Tetapi eh tetapi... Aci lupa tempatnya. Jadi weh, kami makan di tempat lain. Namanya Rumah Makan Sindang Ponyo 2 yang menyajikan menu andalannya Sambel Hejo. Kenapa aku tahu itu menu andalan? Soalnya, di plang rumah makan itu ada tulisan “Sambel Hejo” ngajeblag. Kami pun makan ayam bakar, ayam goreng, tempe, tahu, perkedel kentang, lalab, dan secengkir teh panas. MUANTAP! MAKNYOSS!!! Per orang menghabiskan dana sekitar 14 ribuan. Hummm...

Nah, aku juga nggak lupa beli oleh-oleh buat my mother dan my sister. Aku beli kalua jeruk dan manisan stroberi. Heeeu... all about stroberi euy... WAH kayaknya harus mulai ngelirik “The Strawberry Jomblo” Wk wk wk... cewek pisaaaan...




Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami singgah dulu di stadion Jalak Harupat geura gede geura lumpat....(apa seeeh?). Ngomong-ngomong tentang jalan Cipatik di mana stadion ini berada, aku jadi inget masa lalu. Yup, di prjalanan Ciwidey sebelumnya, aku sempet nyasar in the night ke daerah ini. Syukurlah aku cukup cerdas dalam mencari jalan pulang, hehehe... itu dulu, waktu aku masih cakep (NAOON DEUIH?)



Lalu, kami pulang melewati rute yang tak biasa... maksudnya jalan yang belum pernah kami lewati. Kami lewat daerah CItarum gituh. Kayaknya sih aku lewat daerah yang sering disebut sebagai Kampung Mahmud. Soalnya aku ngeliat tempat ngetem angkot Mahmud – Tegalega.

Oiya, aku juga sempat melihat lanskap keren dari Gunung Burangrang dan Tangkuban perahu. Keren juga kalau dilihat dari Soreang.
Naaah... ternyata eh ternyata, jalan yang kami tempuh tembus ke Margahayu Permai. Yup, deket rumahnya Mambo dan Kang Adi yang beberapa waktu lalu dijadikan tempat buka puasa bersama kawan-kawan GMP.







Udah itu... terus deh ngacir nyampe rumah sambil singgah dulu menikmati senja di tempat favoritku, Bandara Husein Sastranegara.
Pokoknya, Ciwidey season 2 ini seru banget. Full of smile dan nggak ada satu hal pun yang bikin bete. Aye aye... Nah.. coming soon.... CURUG SILIWANGI (Insya Allah, manawi pareng)

Tentang Malam Tahun Baru 2009

Malam tahun baru 2009, aku nggak ke mana-mana. Cuma kumpul-kumpul aja di rumah sama keluarga dan temen-temen GMP. Ada Bayu, Gokil, Indra Dwi, Cimey, dan Toni. Selain itu, ada juga sepupu-sepupuku dari Jakarta dan Bekasi. Ada Anis, Reva, dan Ayu.






Tadinya sih, aku mau ikut acara temen-temen di rumahnya Engkom (temen kuliah) di Punclut. Itulah rencana Nondik Satrasia 02. Tapi, sampai tanggal 30, aku belum dapat kepastian tentang rencana itu. Sementara, aku juga harus mastiin acara kumpul-kumpul sama temen-temen kantor di rumahku, jadi apa nggak.
Nah, tanggal 30 pagi, Ria nge-sms ngasih tau “Reka ngajak ke Pangandaran pake mobilnya, tapi cuma cukup buat 8 orang”. Humm... finally kami merumuskan usulan bahwa pergi ke Pangandaran hari Jumat sore. Tapi pake bus, soalnya ternyata Reka nggak siap kalau bawa mobil sejauh ke Pangandaran. (NAH LHO... JADI KABAR TENTANG MOBIL UNTUK 8 ORANG DARI MANA?). Tapi no problemo... masih bisa pake bus. Itulah pembicaraan terakhir aku dengan Ria.

Ya sudah, berdasarkan pembicaraan itu, aku ambil kesimpulan, kalo acara kumpul-kumpulnya digeser jadi pas ke Pangandaran. AKu pun muguhkeun ke si Gokil kalo malem tahun baru bisa kumpul di rumah aku. FIX.
Eh, tiba-tiba aku dapat kabar, kalo kumpul di rumah Engkom jadi. Wah wah wah... gimana neeh....? AKu terlanjur muguhkeun. Lagian Mama juga udah siap-siap di rumah. Jadi we nggak ikut.

Euheu... udah mah nggak ikutan, aku dianggap nggak sabaran lagi. Padahal, aku bukan nggak sabaran. Aku mengemban kepentingan orang banyak. Aku bukan orang free yang bisa di”pake” kapan aja. Wak... wak.. wak.... emangna naon? Yups, itu dia masalahnya... kepastian dari Ceu Panitia tentang acara di Engkom datangnya telat. Dan aku nggak mugkin nunggu lebih lama lagi karena ada pihak lain yang juga nunggu kepastian dari aku. Harap maklum. Yah, kalo pada ngerti itu juga seeh... kalo nggak mah, TAFADHOL we nya...

Tapi alhamdulillah.... tahun ini aku bisa nemenin keluargaku di rumah. Kebayang, tahun lalu, aku ke Sumedang, Rani ke Purwakarta. Di rumah, ibu dan adik bungsuku bersama keluarga bibi only. Hummm. berarti emang tahun ini aku harus kumpul sama keluarga pelangiku dan beberapa temanku.
Nah, sorenya, aku jalan-jalan dulu ke Braga Festival dengan Indra Dwi. Nggak lama kemudian, Gokil nyusul. Abis itu, kami ketemuan dengan Bayu di masjid al-Ukhuwah dan langsung caw ke Sarijadi.

Tawu nggak, malam itu banyak jalan yang ditutup. Gara-gara itu, kami sempet muter-muter kukurilingan di daerah Pasar Sederhana dan Cipaganti. Tapi, alhamdulillah salameeuuut.




Malemnya, Toni dan Cimey dateng. Teruss,,, ya gitu we biasa.... bakar2 ayam dan sosis pake resep Kang Adi. Terus ikut raramean sama tetangga-tetangga. Ada yang bakar petasan, kembang api, bahkan Mang Ade tetangga depan rumahku bikin petasan pake karbit. Hasilnya? Mirip ledakan bom yang GOKIL bikin kaget. Bahkan, getarannya sampe ke kaki. Hiiiy.. ngeri... jadi ngebayangin bom beneran. Naudzubillah.
Nah abis itu.... kami nonton DVD deh di kamarku. Tapi Gokil mah ngorok duluan. Wah, biasa pagulung-gulung coz kamarku kan sempit banget.







Hummm... alhamdulillah... nyampe juga di tahun 2009. Ya Allah, semoga tahun ini lebih baik dibanding sebelumnya dalam segala hal. Amiin.