02 October 2013

Seteko Kata Hati

"Siapa yang pernah lancang meminta pertemuan itu? Pertemuan yang tak pernah kurapal sebagai doa di malam-malam yang bergelintin.

Di ranah raja-raja, sesaat setelah matahari sedikit bergeser ke tepi awan, mataku digiring untuk bersinggungan dengan tubuhnya.  Di satu titik kami bertemu. Sama-sama menjadi tamu dalam sekumpulan orang yang saling menjamu.

Kami lewati detik, dalam gelitik celoteh yang berhamburan saling menghangatkan. Dia terus bertanya tentang cuaca yang selama ini bermukim di atap negeriku.

Ada angan yang diam-diam merambat hebat."

Seteko Kata Hati - Sigit Rais



Seteko Kata Hati 
Tulisan yang sangat cerdas, renyah, dan sangat menggoda. Bahkan, seolah merasakan nikmatnya tegukan pahit dan manisnya kehidupan. Rangkaian tulisan dari awal hingga akhir mencerminkan rangkaian perjalanannya dalam menyusuri sepotong demi sepotong hidup. Entah kenapa, saya langsung menikmati cucuran demi cucuranan, tegukan demi tegukan, yang dituangkannya dalam lembaran buku ini. 
Fantastis!

(Yadi Mulyadi, Editor dan Pemerhati Bahasa) 



"Seteko Kata Hati adalah luapan isi hati yang menginspirasi. Tidak hanya menyajikan secangkir kata hati yang beragam rasa, tapi juga menginspirasi pembaca untuk turut serta berbagi rasa yang selama ini tersimpan di jiwa" 

(Erick Priambodo, aktivis Geng Nulis Sapulidi) 

07 July 2013

Kepulangan

Pelan-pelan, malam beranjak ringkih dan lelap. Tetapi, di setiap jengkal perjalanan selalu ada gelitik detik yang minta dipetik. Debu terhempas di lajur masa lalu, ditinggalkan, dan terlupakan. 

Pantura
28 Juni 2013
9.03 PM




Diam-diam, cahaya matahari merambati awan yang mulai merekah. Juga pada wajah hijau sawah-sawah yang mulai menguning.

Seperti kamu yang diam-diam menyemai rindu pada hatinya yang tak lama lagi siap dipanen.


Jalan Raya Semarang - Mangkang
29 Juni 2013
6.05 AM




Kabut mulai berkemas, perlahan pergi dari punggung gunung yang bosan dengan gigil.

Terminal Tingkir Salatiga
29 Juni 2013
8.13 AM




^^
Stasiun Balapan 
29 Juni 2013
4.25 PM 



Merengkuh semesta hijau di sela Merapi Merbabu

Selo
30 Juni 2013
8.21 AM



Detik melarut. Selendang jingga telah usai dilambaikan senja. Di terminal, orang-orang berkumpul. Mereka tinggalkan hijau sawah ladang. Sisakan serpih padi yang tadi siang usai dipanen. Mereka bergegas menuju sendu di sekitar gemerlap lampu kota yang selalu mbloloki.

*menuju Jakarta
 

Terminal Boyolali
30 Juni 2013
06.01 PM



Mila, inikah tempatmu bermukim? Atau di manakah? Karena di jejak sajakku tak ada satupun larik yang jadi tempatmu bermukim.

Tingkir Salatiga
30 Juni 2013
07.03 PM



Aku bermimpi, kita bermain pasir di taman. Bagai bocah, aku berlarian. Kamu asik dengan istana pasir yang kamu bangun pelan-pelan. Aku terjatuh, menangis, sampai akhirnya kau ulurkan tangan. Begitu dekat, begitu nyata.

Goncangan bus buatku terjaga. Kamu sudah tak ada, kawan.


Jalan Raya Semarang - Kendal
30 Juni 2013
9.31 PM



Ini salah satu tempat itu. Dari sini cerita-cerita berhulu. Mengalir bercabang lintasi masa yang menua.
Dari sini keterkaitan sebab akibat jadi penentu, lalu bermuara di langkah-langkah tempuhan pilihanku
 


Pekalongan
1 Juli 2013
12.11 AM   




Dulu, kamu pernah menertawainya karena tak tahan dengan tusukan gigil di kotamu. Sekarang, kamu tak berkutik menggigil di dalam bus berselimut embun. Tetapi, dia tak ada, tak akan mampir sekadar membalas tawamu waktu itu.

Jalan Raya Patrol Indramayu
1 Juli 2013
5.35 AM  



Hai, burung-burung mulai berkeliaran di sekitar sawah. Sesekali, dia menyusup di celah pohon pisang yang belum berbuah.
Burung-burung terbang, cari makan, dengan tarian riang. Aku tak mau kalah. Kita tak boleh kalah.  


Pamanukan
1 Juli 2013
6.25 AM



Sawah hijau raib, ditelan beton pabrik-pabrik. Matahari mulai menyalak galak pada segumpal pekat asap. Sementara, di sepanjang sisa perjalanan, deret mesin berbondong melindas jejak yang tak lagi dikenali muasalnya.

Dawuan Tengah
1 Juli 2013
8.17 AM




Pengembara yang Tersesat

Dia pengembara ulung, seluruh ujung mata angin dijelajahinya tanpa ragu mengurung. Tetapi, dia tersesat di tanah lahirnya. Meski telah lelah dia rapal mantra, kabut pikir tak relakan pendar bintang sampai ke penglihatannya. Lalu, dia membaca angin. Diikutinya gestur cuaca kota yang mendadak terasa gulita. Asing. Bagai tiada jejak sejarah bahwa alam telah jadi saksi atas kelahirannya.
Dia nyaris cucurkan air mata. Tetapi, suara bunda lamat merambat telinga. Dibisikannya kidung pemecah awan mendung.

"Ini tanahmu, arungi dengan berani dan rendah hati. Cuaca jiwa penghuni-penghuninya tak menentu. Tanamkan bahwa hangat mentari akan selalu kembali."

Pengembara menengadahkan kepala. Ditatapnya sehampar jejak Sangkuriang dan telungkupan perahu yang dulu pernah ditendang.
Dia tersenyum. Pepohon masih merunduk di sepanjang jalan yang dipenuhi gemerlap yang entah.
Dia pun melesat. Kembali jadi penguasa jagatnya sendiri yang dulu pernah dia ciptakan beralaskan mimpi.
 
Gedung Sate Bandung
7 Juli 2013
10.23 PM

05 July 2013

Gigil

Sudah dua hari kamu dijauhkan dari pendar matahari. Sejak itu, gigil jadi kancamu sehari-hari. Angin terasa menusuk benci. Pula udara lembap yang sisakan sesak pengap di hati. Tapi kamu lagi-lagi berakting jadi si tangguh bernyali. Rintik gerimis kamu terobosi. Ciprat kubangan di jalanan tak bertepi berkali-kali menampar pipi. Kamu tak peduli dan terus berlari.
Tempat berhias teduh pepayung jadi tujuanmu kali ini. Selalu. Di hari sakral ini, di mana kamu dengannya terbiasa berbagi janji, walau sesekali kalian saling meyembunyikan diri.
Selalu. Seperti hari-hari lainnya, kamu memesan minuman yang sama. Dan kali ini, pesananmu adalah penyelamat ngilu di sekujur gigil tubuhmu yang meringkih dalam senja.
Tetapi, kamu bingung sendiri. Untuk apa adamu di lanskap ini? Bukankah matahari telah mendeklarasikan kealpaannya dua hari ini? Takkah kamu bisa menangkap isyaratnya yang berpendar jelas menusuk mata? Matahari tak akan sekonyong-konyong tiba, jadi hangat bagi tubuh rapuhmu yang gigil. Kamu perlu menunggu sampai nanti tiba waktunya. Bisa besok, lusa, minggu depan, bulan atau tahun depan, tak terprediksi, karena sesaat lagi malam akan menelan sore tanpa iba.
Tunggulah, tapi jangan diam di tempat yang sama. Teruslah menarikan tarian pemanggil matahari. Cepat atau lambat, matahari yang kau damba akan kembali. Dan bisa jadi, saat dia kembali, tubuh gigilmu yang dipenuhi biru sudah pulih dan baik-baik saja.
Tunggulah, tapi jangan berduka. Jangan biarkan gigil bekukan nadi.
Tunggulah di depan perapian. Mungkin kelak kamu pun akan lupa bahwa kamu pernah menunggu. Ya, menunggu sesuatu yang jelas dan nyata tak akan kembali saat ini.

Sekarang. Habiskan minumanmu, lalu merapatlah ke hingar-bingar dunia yang kadang bisa pendarkan hangatnya sendiri, walau tanpa matahari.


Kantin
5 Juli 2013 
5.44 PM

02 July 2013

Tatap Mata Pertama

http://www.free-desktop-backgrounds.net/free-desktop-wallpapers-backgrounds/free-hd-desktop-wallpapers-backgrounds/832137234.jpg
 
Dia terlalu hebat, terlalu kuat dan tak sadari bahwa ada luka meradang di hati dan otaknya. Dia terus menggenggam tatap mata pertamamu.

Dia tak pernah sekalipun meminta pada Tuhan untuk dipertemukan denganmu, orang yang pada akhirnya jadi tempat cintanya bermuara. Begitu juga dengan kamu. Tak pernah sekalipun kamu berfirasat atau bermimpi akan kedatangan seorang yang memiliki cinta terhebatnya untukmu.

Kalian bertemu dalam sebuah sistem rencana Tuhan. Persinggungan tatap matamu dengan matanya telah lama dipersipkan dalam rancangan penciptaan semesta. Tanpa diminta, tanpa dikendalikan kekuatan manusia manapun, kalian bertemu untuk kali pertama.

Lalu, energi di masing-masing tubuh kalian bereaksi. Dia menjadikan tatapan pertama itu sebagai salah satu memori terbaik di sepanjang usia tubuhnya. Sementara, kamu juga mengagumi tatapan mata pertamanya. Tetapi, kamu berbeda. Dengan segunung arogansi, kamu meredam euforia. Kamu menyimpan tatapan itu di ladang-ladang sejarah biasa, yang tak terawat dan tandus, lalu terlupakan. Tapi, bertahun-tahun setelah itu. sesekali kamu mengakui bahwa kamu juga merasakan keindahan yang nyata.

Bertahun-tahun sejak itu, dia selalu menyimpan tatapan mata pertamamu. Dibawanya tatapan itu bersama terbit tenggelam matahari. Ditafsirkannya kelucak bahagia tiap ada kamu sebagai rona cinta, sebagai jernih renjana yang terus mengaliri sungaimu. Tetapi, sungai keringmu terlalu batu untuk bermain dengan riak air. Kau bergeming, tak berhasrat menghijaukan dunia yang dilalui oleh aliran kasih sayangnya.

Kamu selalu tak peduli, tetapi dia juga selalu tak peduli pada ketakpedulianmu itu. Dia mencintaimu tanpa ekspektasi. Itu yang bisa membuatnya berdiri. Dia selalu bisa bertahan dengan penolakan-penolakan yang kamu obral di sepanjang jalan. Dia mengerti bahwa tidak setiap hati bisa terkoneksi secara sempurna. Ya, sesempurna cerita-cerita cinta yang selalu berakhir dengan bahagia. Dia berfirasat bahwa kisah ini tak mungkin bisa berakhir bahagia. Apalagi responmu yang batu dan konon telah menghancurkan banyak hati sang pencinta. Tapi, dia masih saja jadi orang hebat yang terus tanpa henti mengalirkan seluruh nyawanya untuk mencintaimu. Dia yang diam-diam menyeka lukamu, dia yang diam-diam mengirim bunga, yang selalu hadirkan bahagia di dadamu, tapi selalu kau sembunyikan.

Bodohnya kamu. Dengan angkuh di ubun-ubun, kamu pernah mencampakkan bunga itu di jalanan. Dia menangis. Kamu menyesal. Tapi, kamu berpura-pura. Dia juga berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia terus memendarkan cintanya untukmu.

Sekarang, dia melemah. Hatinya diselimuti lubang dan duka. Sementara, otaknya dipenuhi virus kenangan bergambar muka sombongmu. Tapi dia tidak menyadarinya, bahkan sampai kamu pergi.

Kini, setiap hari dia duduk di jendela. Menerawang menunggumu datang sambil menyimpan segenggam ingatan tentang tatapan mata pertamamu waktu itu.

25 June 2013

Tenanglah

Kadang, ada perasaan bahwa orang-orang di sekeliling kita membenci kita. Kadang kita curiga, mata mereka mendelik tajam sambil saling berbisik mengisahkan hal-hal buruk tentang kita. Kadang, ada perilaku orang lain yang mengusik, walaupun kita sedang bergeming. Kadang, orang-orang itu terasa menertawai. Kadang, mereka seperti marah melihat letup bahagika kita. Kadang, mereka terlihat jumawa saat menemukan kekurangan kita sebagai manusia.
Kadang, kita merasa mereka sedang berusaha membuat kita marah, karena kemarahan kita adalah hiburan gratis bagi mereka. Kadang, ada curiga, orang-orang di sekeliling kitalah yang justru menjatuhkan nama baik kita.
Kadang kita merasa orang-orang di sekeliling kita itu adalah keseluruhan semesta raya yang membuat kita tak sanggup berkutik.

Tenanglah. Kupirkir, biarkanlah.
Luaskan pikiran. Dalam jarak 1 meter di sekeling kita mungkin ada 2 orang yang kita kenali dan juga mengenali kita, lalu dalam jarak 1 kilometer, 1000, kilometer, dan seterusnya... apakah semuanya kita kenali dan mengenali kita?

Ternyata tidak.
Pikiran kita merumit, karena terkurung di suatu area dunia. Dan itu kita proyeksikan sebagai wakil dari alam semesta. Oleh karenanya, saat ada energi-energi negatif yang kita tangkap, kita langsung menerjemahkannya sebagai energi negatif dari seluruh sisi bumi. Padahal tidak.

Jadi,
saat kita merasa orang-orang di sekeliling kita bergelagat tidak menyenangkan dan begitu mengganggu ketenangan hati kita, yang jelas-jelas tak ingin megganggu orang lain, cukup pejamkan mata. Lalu, bayangkan bahwa kita dan orang-orang di sekitar kita itu hanya sepetak kecil dalam atlas pulau yang kita pijak, hanya titik tak terlihat dalam globe, dan hanya entah apa di sehamparan tata surya, apalagi di galaksi bimasakti.
Alam raya sangat luas dan tak terjangkau. Jadi, sangat rugi jika emosi fluktuatif hanya karena seupil hal kecil di hamparan alam semesta.
Pandanglah lebih luas. Orang-orang menyebalkan itu hanya debu. Cukup lihat hal baik saja dari mereka.

Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-wHSphRihsvE/Tl3Zy_p9jmI/AAAAAAAAAC8/vL_cc4axl3E/s1600/milky-way1.jpg

Cukup Prihatin

Cukup prihatin jika ada sebuah hubungan yang dirangkai dengan salah satu niatan memanas-manasi orang lain atau sekadar ditepuktangani dunia yang mengelilingi, bahkan hanya mengejar status yang dianggap olehnya prestisius: 'sedang menjalin hubungan'.
Beberapa orang mungkin akan iri, cemburu, atau menepuktangani sesuai dengan ekspektasinya. Mungkin dia telah berhasil. Tapi sayang, akan ada putih hati kecil yang dibohongi. Akan selalu ada kepuasan yang tak ada habisnya dicari. Itu sangat mengkhawatirkan dan kelak akan menyakiti diri.

Sumber gambar: http://x80.xanga.com/ce2e312058234279900685/z222978646.jpg

24 June 2013

Suatu Malam, Tubuh yang Berlumur Darah

Kota ini masih gempita. Masih setia dengan cahaya. Pula angin yang dibingkiskan oleh cuaca, makin meruah di celah rimbun pepohon yang tidur. 

Tadi, seorang bapak tergolek bersimbah darah. Tepat di tengah jalan, bersama sebuah motor tua yang mungkin telah cukup setia mendampinginya. 
Ngeri. Darah bercucuran dari banyak lubang di kepalanya. Pula dari matanya yang larut terpejam. 
Seketika, orang-orang mengerumuni. Laju mesin-mesin distop sementara waktu. Sebagian mengerti, sisanya ngomel-ngomel karena tertunda sudah hasrat tiba di rumah. 
Maka, terdengarlah orkestra klakson pekak yang membuatku ingin lempar granat ke arah mereka.

Tapi, itu tak lama. Sang bapak bermandi darah segera diangkat hati-hati ke trotoar. Tak lupa, sepeda motor hitamnya didorong seorang satpam ke tepian.
Di samping sebuah mobil, seorang wanita ketakutan. Mungkin melihat tumpahnya darah. Pula aku. Pusing rasanya melihat darah mengalir tak henti.

Aku menepi. Berusaha mencerna tiap gelagat yang masih jadi teka-teki. 

Belum sempat kuhampiri, sang bapak sudah dibawa pergi. Bibirku komat-kamit sendiri. Ada harap sederhana, semua baik-baik saja. 

Di belakangku, sebuah Xenia merasa terhalangi. Pekak lagi kupingku dibuat oleh klakson berisik itu. Segera kumelaju, tinggalkan riuh yang masih belum utuh kucerna.

Kota ini akan selalu gempita. Berbagai cerita akan ada di setiap genit detik yang kadang ternoda.
Dan aku masih akan bermain-main dengan angin.

Semanggi menuju Blora
24 Juni 2013
12.03 AM

23 June 2013

Pada Penantian Terakhir

Kamu masih saja menunggunya. Di sebuah meja yang dikelilingi kursi-kursi kayu. Seperti biasa, kamu sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sehingga senja tak akan menyisakan duka.

Tapi, kali ini kamu berhak atas sepaket bahagia yang dibingkis bersama kedatangannya. Pada penantian terkahir ini, dia datang untukmu, sesuai dengan janjinya, walaupun pikirannya sudah ingin segera enyah dari dunia yang sama-sama kalian huni.

Dalam sebuah rendezvous kalian berbagi udara. Sesekali celotehmu jadi umpan yang terpaksa harus dilahap olehnya. Sesekali pula dia berkata-kata sambil menatap matamu. 
Kamu sebetulnya hampir layu. Ada yang berbeda dalam perjamuan itu. Ada atmosfir yang membuat kalian seperti tenggelam di palung lautan. Kamu berusaha berenang ke permukaan. Kamu menarik tubuhnya. Tetapi, tubuhnya beku dan berat. Kamu tak sanggup membawanya, lalu kalian sama-sama tenggelam dalam hitam dasar laut yang diam.
Ada sekeranjang kalimat bersarang di mulutmu. Tetapi, kamu memeramnya di kedalaman hati. Ada cahaya lilin yang harus kamu jaga. Kamu takut nyala lilin itu padam sebelum waktunya.

Kamu dan dia terus saling diam. Tetapi gestur kalian saling bicara. Saling mengerti bahwa ini adalah momen yang tak biasa.
Kalian tetap diam. Entah bagaimana diam ini akan bertemu dengan akhirnya. Lalu, kamu berimaji, tentang punggung yang menjauh, lalu hilang di balik pohon.


Markas Jompers
23 Juni 2013
1.26 AM

20 June 2013

Di Ujung Rokok

Aku ingin berhenti merokok.

Kalimat itu yang berkali-kali kucoba untuk kutanamkan, walau masih sulit. Kalimat itu juga pernah kusampaikan padanya.

"Berhentilah jika memang mau," ujarnya lembut.
Kukatakan padanya, "sulit, karena sampai saat ini belum ada yang melarangku."

Aku terdiam. Dia juga.

"Kamu mau jadi pelarangku untuk merokok?" tanyaku lirih.
Banyak harap tumbuh di dada. Aku ingin dia memintaku berhenti merokok. Aku ingin dia jadi motivasi yang menyelamatkan degup jantungku.

"Sebaiknya keinginan dan kekuatan untuk berhenti merokok itu datang dari diri sendiri," jawabnya lembut.
"Kenapa? Bukankah usaha akan semakin berenergi jika ada dorongan?" tanyaku sambil mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan cricket-nya dari saku celana.
"Kelak, jika kita sudah tidak bersama, pendorongmu juga akan tak ada. Pada akhirnya, kamu akan kembali bersahabat dengan asap itu," paparnya sambil tersenyum lembut.

Rasanya ingin lanjut bertanya, "memangnya kamu mau kemana? Apa yang akan jadi pemisah kita?" Tetapi, kupikir itu akan sangat memperluas ranah pembicaraan.

"Oke kalau begitu. Sepertinya sekarang aku belum bisa merokok," ujarku sedikit tergesa sambil memantik cicket.

Api menyala, lalu menjalar di ujung rokok yang satu sisinya sudah melekat di bibirku.

19 June 2013

Seperti Sekuntum Bunga

Seperti sekuntum bunga. Ada waktunya dia merekah tebarkan warna, lalu usai melayu. Tetapi di ujung tangkai-tangkai muda, selalu lahir kuncup bunga yang baru.

Memang begitu seharusnya.

Markas Jompers
19 Juni 2013
12.23 AM

16 June 2013

Gertak Angin

Hei. Lagi-lagi angin menggertak leherku yang kelabakan mencari tempat sembunyi. 

Sementara, perutku sudah kembung dan nyaris meletus. Persendianku terasa ngilu, pula kepalaku terus dipalu.

Dari manakah datangnya angin? Dari langitkah? Dari hutan-hutan atau dari lautan? Tak kuundang tapi memaksa datang. Bertubi menampar tubuh di jagat yang hilang.

Angin tak mau mengerti bagaimana susah payahku untuk bisa sampai di titik ini. Menembus cuaca tak menentu, sesekali dibakar matahari, sesekali disengat rintik hujan yang gigil.
Kadang, aku menangis. Tak tahan dengan terpaan musim. Tapi aku belajar. Merayap merangkak aku diajarkan tegar. Meskipun angin pernah menggampar lunglai tubuh hingga jatuh, kepal tanganku masih utuh.
Dan kini, dengan nakal dan jumawa, angin menyapuku.
Membekukan peredaran darahku dengan cara-cara baru.
Aku bertanya, "kenapa?"
"Melatih kuatmu," ujarnya santai.

Aku sesenggukan dibuat kesal. Merasa usahaku tak ada harga. Semua sia-sia.
Angin kembali, terus menerpa dada. Sesak. Itu yang kurasa.
Perlahan, aku bangkit dari ringisan ringkih. Aku makin terbiasa. 

Aku hebat, aku kuat. Kubiarkan dia menguliti. Aku tak peduli, aku makin kebal, aku makin nyalang.

Angin bosan, lalu pergi. Aku bersiap diri, angin pasti kembali. Ada banyak hidangan untuk membuatku merasa tersakiti. Aku siap, rasa sakit bisa buatku selalu siap bangkit dan berdiri. 
Memang seharusnya seperti itu.

Rasuna Epicentrum
16 Juni 2013
7.09 PM

Meramu Sepi

Kamu bertanya, bagaimana caranya meramu sepi agar jadi hidangan yang bisa dinikmati?
Mudah, kataku.
Bersahabatlah dengannya, lalu berlarilah di tengah riuh kota.
Menarilah dengan udara.

Sepi akan selalu ada, tetapi dia akan mudah bersahabat akrab dengan warna-warni bising dunia.
Dan kita tak akan kesakitan lagi.


Tebet
16 Juni 2013
2.31 PM

15 June 2013

Sang Pelindung



Sejak awal, aku memang telah ditakdirkan untuk melindungimu, 
tetapi bukan untuk melindungi hatimu.

Ada euforia saat kali pertama aku bertemu dengan kamu. Orang lain juga pernah merasakannya. Di situlah rasa bahagia, haru, dan rasa lain yang identik dengan keindahan bermuara. Karena rasa itu, aku merasa terlahir kembali.
Semua rasa itu semakin melangit saat kembara matamu berakhir padaku. Lalu, langit pun terasa semakin kromatis saat pilihan kamu jatuhkan kepadaku. Kurasakan euforia yang tak berkesudahan.
Sejak hari itu, aku jadi satu-satunya hal yang paling dekat denganmu. Duniamu mendadak dibagi denganku. Isi kepala kita berfusi. Sejak hari itu, apa yang kamu lihat bisa kulihat juga.
Aku menjadi satu-satunya pelindung yang bisa kau andalkan. Kadang, di tengah perjalanan melintasi bising kota, kamu selalu bercerita tentang apa saja. Kadang tentang masa lalumu, tentang bagaimana kamu jatuh hati pada sepeda motor yang setiap hari kita kendarai bersama, bahkan tentang gelisahmu saat ikan-ikan di akuariummu mati.
Tetapi, dari semua cerita yang mengalir lirih dari mulutmu dalam setiap perjalanan kita, yang paling membuatku tersentuh adalah kisah tentang cintamu pada seseorang. Seseorang yang kamu cintai sedalam-dalamnya, sepenuh-penuhnya, sehebat-hebatnya, tetapi kamu tidak pernah bisa mengungkapkannya.
Jujur, aku cemburu pada orang yang kamu maksud itu. Kamu sangat mencintainya, walaupun kamu bergeming dalam kepura-puraan. Kadang, aku ingin egois. Aku pelindungmu yang selalu menyayangi kamu, maka akulah yang seharusnya kamu cintai. Tetapi, tak ada yang bisa memaksakan kehendak hati orang lain. Aku sama sekali tak punya energi untuk menyulap hatimu agar berbalik mencintaiku.
Sampailah kebersamaanku denganmu di kilometer ke 2211. Di siang yang garang, pedih cinta datang menyerang, dan hatimu meradang. Orang yang selama ini kamu cintai habis-habisan masuk rumah sakit dalam keadaan koma. Malam sebelumnya, kamu memaki-makinya karena pekerjaannya beberapa minggu belakangan ini tidak tuntas. Sebagai supervisor, kamu pandai menyembunyikan rasa cinta mendalammu untuknya. Maka, dengan pikiran profesional, kamu memang sudah sewajarnya melakukan itu.
Sayangnya, dia tak setangguh kamu menghadapi badai rasa hati. Apalagi saat orang yang dicintainya membantai hatinya dengan caci-maki karena alasan pekerjaan. Dia limbung, sampai-sampai lengah saat menyeberang jalan. Sebuah bus yang ugal-ugalan tanpa belas kasihan menabraknya hingga tersungkur berdarah-darah di tengah jalan. Beruntung umurnya bisa diperpanjang, walau kini dia tak sadar sedang berada di pembaringan.
Aku tahu, kamu menyesal. Apalagi setelah dari buku hariannya kamu tahu bahwa akhir-akhir ini pikirannya sedang gusar karena dia mencintaimu. Sama dahsyatnya dengan rasa cintamu padanya. Huh, kamu dan dia membuatku bingung. Saling mencintai, tetapi tidak pernah ada titik temu. 
Kamu menangis sepanjang jalan. Motor yang kita kendarai melaju tak tentu arah. Setiap orang yang sedang menyeberang, selalu kamu visualisasikan sebagai pujaan hatimu. Hatimu hancur, berdarah-darah, dan aku tak sanggup melindunginya. Ya, seharusnya aku bisa melindungi hatimu seperti aku melindungi kepalamu siang itu.
Di kilometer 2211 pada speedometer motormu, kamu menghindari seseorang yang sedang menyeberang. Karena itu, motor kita menabrak separator busway. Kamu dan aku terpental beberapa meter. Kamu beruntung, ada aku yang melindungi kepalamu, walaupun kini ragaku nyaris terbelah dua.
Dalam hitungan hari, kamu pulih, tetapi hatimu tidak. Orang yang kamu cintai telah pergi untuk selamanya. Hatimu berlubang. Aku berhasil melindungi kepalamu, tetapi tidak bisa melindungi rapuh hatimu.
Tapi, tenang saja. Time will heal. Kini, kepalamu dilindungi oleh helm lain penggantiku. Kupikir, kamu akan membuangku. Ternyata tidak. Di sebuah meja di kamarmu, aku kamu simpan baik-baik setelah dibersihkan.
Baiklah, ini kuanggap bentuk pengungkapan bahwa kamu juga mencintaiku, sang pelindungmu.


Jakarta, 15 Juni 2013

Selepas Fajar


 
Selepas fajar, janin hari perlahan dilahirkan di tepi jalan. Malam tak lagi bisa sembunyikan kicau burung. Sejak tadi, ayam-ayam peliharaan orang kota mulai berkokok, jadi tanda bahwa degup hidup masih berlanjut.

Tukang sapu menepikan sampah-sampah remaja yang melompat dari balik pagar sambil menarik resletingnya. Tak lama, berbondong-bondong sepeda motor melintas, tinggalkan penjual-penjual minuman yang puas dengan penghasilan malam ini.

Di tepi jalan lain, perempuan-perempuan berparfum racun lakukan prosesi penghabisan. Sebelum matahari terbit, tubuh harus tuntas dijajakan. Pula dengan lelaki pemakai rok mini. Gelisah meruah saat kokok ayam datang, karena rayuan mereka kali ini hilang keampuhan. Sambil berceloteh manja, mereka berpasrah harga sekalian minta diantar pulang.

Di seberang halte Trans Jakarta Harmoni, kabar baru siap beredar. Lembaran penuh aksara diburu penjaja berita pagi yang segar, walau kini petik detik selalu ada dalam genggaman banyak orang.

Langit beranjak biru. Gegaris awan mulai kelihatan. Trans Jakarta mulai sombong melintas, mengintai jalur-jalurnya yang sedari tadi bebas dilalui siapa saja.

Aku harus pulang. Aku lupa bahwa kali ini tak ada kamu. Tak pernah ada, dan memang tak akan pernah ada lagi.
 
Depan Istana Negara
15 Juni 2013
05.45 AM

14 June 2013

Ranah Transisi



Di sepanjang garis kedap-kedip sungai kota, dia merasa tak ada. Sunyi menyergap. Gigil merembes ke pori-porinya yang rindu.
Kedinginan dipertegas hujan, pula pelembap udara kendaraan yang mengurung tubuhnya dalam pejal. Dia bertahan, dia ingin pulang ke dalam matamu yang mendadak dicuri kabut.

Dia tengah hidup di ranah transisi. Ada yang menghilang dan kini dia bermandi cemplang.

Orang-orang berteriak. Tapi, dia pekak. Dia hanya terbiasa mendengar suaramu yang berserak di istana ingatan.
Dia terjebak. Dalam ketaksederhanaan merindu, dalam ketakmudahan mengatakan kisah turbulensi kata hati.

Mungkin selamanya dia akan mampir di situ. Tetapi, ada gemercik air yang harus diburu. Bisa jadi, dia akan segera pergi, lalu berlayar mencari hakikatmu.

Kini, tinggal sejengkal jarak dia dan dinding rumah. Ditatapnya langit pascahujan yang masih pekat. Dia bertanya dan meminta, tentang kamu.

Ke kamar, dia melangkah, lalu rebah sambil menata kenangan sebagai deretan kisah kamu dan dia.

Perlahan matanya tepejam. Dia berdoa, bukan untuk kembalimu, tapi untuk kuat sakral hati yang begitu kuat ingin melepaskanmu.

Sungai lampu kota masih bersisa suara ricuh. Tak masalah, karena kamu dan dia akan selalu terkoneksi tanpa pengakuan atau kesadaran. Hanya terkoneksi sehingga sungai lamunanmu dengannya bisa saling bertemu, walau tak saling berkenalan.

Lampu dipadamkan. Sambil menunggu fajar, kupingnya dijejali lagu-lagu yang diam-diam kau dengarkan juga.

#ditulis sambil merem melek nyaris ketiduran plus nguping lagu-lagu Sondre Lerche dan sesekali nyruput teh madu.
— at Markas Jompers.

09 June 2013

Kamu Hebat


Dulu, kamu pernah membuatnya marangkum keindahan jagat raya pada sebuah tatapan mata. Dengan hati yang sederhana, kamu membuatnya jatuh cinta.

Di sekitarnya, gemerlap lampu berpendar silaukan matanya Tetapi, hanya cahayamu yang bisa jadi sesuatu di tepi sunyi malam yang menyakiti. Ya, dia mencintaimu. Dulu.

Tetapi, entah harus disesali atau tidak, saat itu kamu terpenjara di tengah kabut kenangan. Gigilmu membuat layu. Kau lunglai dan tak ingin dikunjungi sesiapa. Bahkan, geliat dia di ladang yang mulai hijau tak kau lirik sama sekali. Kau letih dan enggan memulai langkah. Kenangan telah jadikanmu babu yang diperbudak oleh rasa pahit.

Lalu, kedatangannya membuatmu tersentak. Ingin memulai sesuatu yang tak pernah bisa kau mulai. Ingin berkata sesuatu yang tak pernah terbahasakan. Di satu sisimu, kamu ingin dia.

Tapi terlambat. Kamu benar-benar terlambat. Sekelompok prajurit menggiringnya untuk berlayar ke hati yang lain. Hati yang diam-diam sembunyi di balik ilalang, dan selalu sigap menyergapnya.

Ya. Dia butuh hati. Dia haus hati. Dia tersiksa dalam harapan kesendirian. Dan hatimu terlambat disajikan.
Dia tak sempat menunggumu bangun dari pelarungan.

Tapi, kamu hebat. Dadamu savana yang dikelilingi rimbun hutan tak terjamah.
Kamu bukan orang payah. Kamu hanya teralu berhati-hati dalam memilih hati, dan kamu bukan si pengambil kesempatan dalam kesempitan seperti orang-orang. Kamu setia dengan hatimu dan kehendaknya. Terlalu setia dan jujur.

Kupikir, ini memang jalan terbaik bagimu. Tak dipilih, karena hatimu memang bukan untuk dipilih. Kamulah yang sebenarnya telah memilih.

Kamu hebat. Kamu ingat bagaimana tegarmu hadapi seringai dan tawa mulut-mulut sobek itu? Kamu ingat bagaimana mereka mengataimu sebagai si kalah, sedang kamu tak pernah merasa bertanding apapun.
Biarkan mereka berpuas. Biarkan kepala mereka meledak karena keinginan-keingan untuk buatmu luka. Biarkan mereka mengabsurd dalam jumawa.

Kamu lurus melangkah lanjutkan kisah.

Berbanggalah dengan hebatmu. Dan lihat, betapa hatimu terlalu berharga jika dipersembahkan pada hati yang mudah berpaling dalam sekejap mata.
 

— at Starbucks Central Park.

08 June 2013

Sabtu dan Kamu


Ini hari Sabtu. Entah kali keberapa kulewati di kota ini dengan pendar-pendar harapan untuk bisa bertemu kamu. Sekadar berbagi secangkir kisah yang tertuang dari seteko ingatan kita. Atau sama-sama bergeming di tengah gelagat kota, lalu menghimpun narasi yang berputar-putar di kepala.

Terasa berabad, aku menunggu bunga-bunga keajaiban merekah, lalu ciptakan kamu menyata di depan mata dan mengisi hijau Sabtu yang sesekali terasa sendu.

Pernah, ada sejumput Sabtu yang sama-sama kita warnai, dan itu tak akan terganti. Di situlah aku bisa rasakan teduh mata yang lain darimu. Di bawah teduh itu aku terlelap, lalu menculik ingatan tentangmu ke jagat mimpi. Kusimpan selamanya, dan aku ingin tinggal selamanya di dalam matamu, di dalam Sabtu yang terus terpasung di ingatanku.

Ini hari Sabtu. Entah sudah berapa ribu lembar permintaan yang dibawa pergi merpati. Permintaan untuk bersama kamu, menghabiskan hari lahir kita, menambah panjang cerita yang kutulis tentang pertemuan kita.

Ini entah Sabtu yang keberapa. Tak lama lagi pendar-pendar harapanku akan redup, dan mungkin tak akan pernah bisa kautemukan lagi.


Markas Jompers
8 Juni 2013
09.35 AM

07 June 2013

Lupa Menulis Cerita Tentang Kereta

 


Kemarin aku lupa menulis cerita tentang kereta. Aku terlalu dalam menyelami kekosongan yang tak biasa.
Kemarin aku lupa berdoa agar kamu ada. Aku terlalu kuat mencengkeram kenyataan, karena aku tak ingin terlalu jauh lagi bermimpi.
Kemarin, aku duduk di sekitar orang-orang yang tak lagi kuimajinasikan sebagai kamu..


Markas Jompers
7 Juni 2013
10.01 AM

04 June 2013

Semenit Lagi


Semenit lagi, tampaknya warna langit akan semakin redup, lalu mati. Tetapi, langit akan tetap hidup, dijamuri bintang-bintang, dan sesekali disambangi purnama.
Tadi, hujan baru saja usai. Ada pelangi yang tak sempat kubingkai. Aku terlalu sibuk menyeka air mata di wajah rumput.
Sebetulnya, matahari yang sempat tiada sangat ingin menyinari rumput itu. Tetapi, kesempatan memang tak pernah sempurna untuknya. Langit segera menyeretnya surup di batas horison senja.

Besok, mungkin matahari akan kembali untuk rumput. Tetapi, dia tak terlalu yakin bahwa rumput masih menunggunya.

Semenit lagi, rumput itu akan lelap berpayung kelam. Kenangan hari ini, mungkin akan dilupakannya.

Semenit lagi, seperempat gelas teh jahe akan kuhabiskan, lalu aku pulang, kembali ke titik diam yang masih terus digentayangi rasa takut sepi yang terlalu menusuk..


Kantin 
4 Juni 2013
5.47 PM 

02 June 2013

Ini Jakarta

Ini Jakarta. Semangkuk puisi yang diberi metafor kaya rasa dan serpih harap di setiap gelagat laju kala. Orang-orang banyak mendewakan, tapi tak sedikit yang berserapah walau memilih untuk tetap tinggal memijak tanahnya.
Langit terkadang murung. Tapi, bingar selalu jadi berita segar setiap lembaran detik dibuka.
Saat surya jadi raja, pecahlah kepala orang-orang. Sesekali, amarah meruah mengantar ode bagi hewan-hewan kepada kuping pekak yang telah kebal karena bising.
Lalu, hujan jadi rintikan cinta yang selalu siaga menjelma kematian. Cinta dan kematian, tak sejalan tetapi selalu berdampingan. Pula dengan kelahiran yang sesekali jadi hantu.
Kicau burung masih ada, tersangkut pada celah pepohon di rindang taman kota.
Di suatu tempat, angin laut menyergap melewati pantai-pantai. Dia tak pernah singgah jadi sejarah. Hanya lewat, lalu pergi menyisir pasir di bibir senja.
Di trotoar nyaris tak ada jeda untuk bernapas puas, walau udara tak habis dihirup manusia yang mangap-mangap sambil mendaki gedung bertangga sejuta.

Ini Jakarta. Di sebuah kotak, aku menari sendirian. Dikurung malam, dilindungi dahsyat doa bunda di tanah lahir.

Ini Jakarta, dan baru sejengkal kujelajahi hamparan rumputnya yang selalu berganti warna.

#terpaksa disudahi karena harus segera beranjak


Sevel Hayam Wuruk
2 Juni 2013
2.49 AM

Aku, Inginku, dan Ketaksempurnaan Kesempatan

Inginku sangat sederhana dan tak mengada-ngada. Sekadar merangkum seisi taman, lalu mengekstraksinya ke dalam secangkir kopi rendah kafein. Kita akan mereguknya bersama tanpa khawatir asam lambung meluap dari kolam penuh ikan itu.
Inginku bukan celoteh antah-berantah. Bukan pula dongeng yang begitu dirindukan bocah. Ini sekadar celah untuk luapkan kelam isi kepala yang membuncah. Tanpa syarat meruah, aku hanya ingin ciptakan pantulan bulan di sudut lanskap yang pernah kaubingkai.

Inginku tak pernah istimewa. Seistimewa kesempatanku yang sama sekali tak pernah sempurna. Sesempurna kokoh pohon di tengah taman, yang utuh dan diandalkan orang-orang untuk berteduh atau berpacaran.

Ini aku, inginku, dan ketaksempurnaan kesempatan untuk bisa mengunci kenangan denganmu sebelum fajar tiba."

#suara hati segelas kopi susu
 

Taman Surapati
2 Juni 2013
12.21 AM

01 June 2013

Selamat Pagi, Juni

Pagi yang teduh, angin yang menyentuh, kemarahan yang runtuh, pikiran yang tak lagi keruh, kuat hati yang perlahan tumbuh, rasa lega yang menerpa tubuh, jemari yang bersiap untuk saling menjauh....

Selamat pagi, Juni. Kita berlari lintasi hari dan selalu berjanji tak akan pernah rapuh dan selamanya akan saling menguatkan dengan cara kita sendiri.


Gelora Bung Karno
1 Juni 2013
9.55 AM

30 May 2013

Seteko Isyarat

Ketika kekata tak sanggup melompat, biarkan gelagat yang jadi seteko isyarat.

30 Mei 2013
7.15 AM

Keajaiban Mimpi pada Bulir Embun

Setiap pagi, dia sisipkan keajaiban warna mimpi semalam pada tiap bulir embun. Jelang siang, mimpi itu akan meresap ke celah tanah, hidupi hijau pepohon yang selalu jadi tempat singgah bulir embun lain yang baru lahir.

30 Mei 2013
6.40 AM

29 May 2013

Menunggu Malaikat

Kamu kembali lagi ke taman itu. Tak ada lagi yang kamu tunggu-tunggu selain malaikatmu. Kamu tahu, malaikat itu kali ini tidak akan datang. Dia telah terbang ke langit, menembus awan-awan. Tetapi, kamu tetap saja keras kepala dan kembali menanti di tepi kolam itu. Dingin. Angin terus menghujam. Perutmu kembung.

Kamu memejamkan mata. Kamu biarkan gemercik air merembes jadi kenangan dalam isi kepalamu yang mulai penuh itu. Lalu, perlahan kamu pilah kenanganmu di taman itu. Kamu comot satu demi satu. Lalu, kamu hidangkan untuk dinikmati sendiri.

Kamu tahu, malaikatmu tidak akan datang. Tetapi, kamu selalu merasa dia ada. Begitu dekat dengan jantungmu yang makin melemah karena lelah. Kamu selalu menanam yakin bahwa dia akan kembali dari langit, lalu berbincang dalam pekat cuaca malam ini. Kamu bertahan dalam gigil.

Kenangan. Hanya itu yang bisa membuatmu bertahan di taman itu. Bisa membuatmu bertahan dalam penantian yang tersiakan. Dari kenangan pilihanmu itu tumbuh bunga-bunga, pula kekupu. Karenanya, kamu bisa rasakan bahagia di tengah himpitan sunyi.

Kamu masih menunggunya datang, ditemani lembar kenangan yang telah berulang-kali kamu buka. Pula setangkai harapan yang tak lama lagi akan jadi pohon hasrat yang menjulang.

Lalu, sehelai daun gugur membawa kabar dari langit, katanya kali ini malaikatmu tak akan datang menemuimu. Kamu hanya tersenyum, lalu berkata, "sudah tahu."
Dan dengan jenaka kamu menari kelilingi kolam. Tarian sarat doa agar malaikatmu selalu baik-baik di jagat yang ciptakan bahagia untuknya.

#iseng sambil terkantuk-kantuk di meja kerja ^^


29 Mei 2013
8.40 PM

27 May 2013

Rasa, pada Suatu Malam

Suatu malam, bulan sudah tak utuh. Dari balik awan, dia mengintip taman yang kupijaki. Malu-malu dan suram.
Rumput di taman itu tak nampak segar hijaunya. Rengkuhan malam telah redupkan sepuhan warnanya. Beruntung, temaram lampu neon menjadikannya menyata di tangkapan mata.
Di belakangku, sebuah kolam yang belum dihuni ikan apapun dihujami gemercik air mancur. Suara itu luruhkan peluh. Berkolaborasi dengan warna lembut dalam bening mata malaikat.

Aku diam memeram kalimat. Sejak tadi, kekata ingin meluap, meletus berhamburan mencari lubang telingamu. Tapi kutahan. Kubiarkan terpenjara dan mengamuk pada otak. Sesekali, deret aksara itu mengalir dengan darah, menuju jantung, dan menjadikan degupannya semakin membabi-buta. Aku bertahan, kutatap bulan.
Energi pemicu ledakan itu surut bersama bulan yang kabur di balik kelam. Aku terdiam. Kamu terdiam.

Orang bilang, rasa itu harus dikatakan. Sampaikan pada orang yang jadi tujuan. Dan, tidak semua orang mahir mengumbar pernyataan bahwa ada rasa menggeliat yang harus diutarakan.

Ini satu-satunya gelombang yang kupunya. Untukmu. Satu-satunya.
Belum bisa kusampaikan lewat pernyataan, tapi lewat aksi yang menjadikannya ada.
Aku bergerak saat orang-orang lelap. Di balik ilalang dan di lorong-lorong yang sering dilalui tikus.
Kusampaikan sinyal mercu suar pada kapalmu, bukan melalui pernyataan atau deklarasi. Kuberikan hati dengan caraku sendiri. Kusampaikan pernyataan cinta dengan gerak yang nyata dan tak perlu pengakuan dunia sehingga kapalmu merapat ke dermagaku.

Kita masih terdiam. Kepala kita bercakap-cakap dengan gemercik air dan suara angin yang terus menghantam. 
Kamu beranjak, lalu menyuruhku pulang.

Taman Pancuran
27 Mei 2013 
7.22 PM