12 September 2017

Catatan di Balik Awan - Buku "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta"

Sumber: Ellunar Publisher


Ada rasa seperti lompat dari hulu air terjun, ketika saya sadar bahwa saya telah -kembali- menerbitkan buku tunggal. Rasanya sudah lama sekali, sejak "Seteko Kata Hati" saya terbitkan melalui nulisbuku.com pada tahun 2013. Dan kini, di tahun 2017, empat tahun setelah saya lahirkan project luapan rasa hati saya saat itu, saya kembali meluapkan rasa hati, lebih deras dan membasahi, sebab kata-kata itu berjatuhan dari langit Jakarta.

Buku "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta" adalah babak kedua dari luapan perasaan saya di "Seteko Kata Hati". Dapat diumpamakan bahwa "Seteko Kata Hati" adalah rintik gerimis yang romantis, sedangkan "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta" adalah hujan dalam volume yang lebih deras, namun masih dalam rasa gigil dan rindu yang sama.

Fiuuuh... akhirnya selesai juga. Luapan-luapan kata hati itu bisa saya kumpulkan dalam sebuah buku, dengan harapan banyak orang-orang yang semakin optimistis dalam penantian, apapun bentuk penantian itu. Setelah melalui berbagai drama kegalauan, khususnya dalam penentuan judul, "Ketika Kata-Kata Berjatuhan dari Langit Jakarta" ini bisa saya lahirkan. Entah kenapa, rasanya berat sekali menerbitkan buku ini. Seperti ada beban rasa yang tak ingin dipublikasikan. Tapi, saya mencoba kuat hati. Penerbitan buku ini ya harus tahun ini, dan syukurlah, Tuhan merestui.

Tak ada yang saya harap, selain semangat menulis saya yang akan senantiasa terpelihara dan tetap ada, untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaan melahirkan karya yang masih tertunda.

Salam semangat.

16 February 2017

Incognito (1)

Ternyata hampir 8 tahun. 
Rasanya, semua hal yang pernah terjadi selama delapam tahun ke belakang ini seperti ilusi. Seperti mimpi-mimpi ketika kutidur, dan aku terjaga di sini, di rumah keluargaku. Rumah ini telah lama kutinggalkan, dan kali ini aku merasa benar-benar pulang.

Hampir genap 8 tahun aku tinggal di Jakarta. Hidup sebagai aku yang kini rasanya berbeda. Seperti bukan aku. Kadang, aku bertanya, itukah aku? Lalu, samakah dengan aku yang sekarang, yang saat ini mengurung di sebuah kamar dengan dinding bercat biru?
Lalu, siapakah sosok di depan cermin itu? Raut wajah yang masih sama, namun bentuk tubuh yang telah berbeda Akukah?

Lalu, siapakah orang-orang itu? Rasanya mereka pernah mampir di detik-detikku? Juga, kekasih yang di akhir penggal cerita jadi pendamping sejati dalam langkahku. Siapakah mereka? 

Siapakah aku? Dengan jejak-jejak hebat yang terpatri di mana-mana. Itukah aku yang nyata? 
Hebat apanya? Aku tertidur selama ini. Lelap dan terbuai. Larut dalam bingar tawa gemerlap kota. 
Aku hanyut dalam euforia. Merasa bisa jadi raja selamanya. Sementara, di belakang punggungku, waktu diam-diam mengkhianati.

Sungguh, kali ini aku tak bisa mengenali diriku sendiri ketika kutengok deret masa lalu.

Lantas, peran apa lagikah yang akan kumainkan dalam penggal hidup kali ini? Sisi mata uang mana lagikah yang akan memilihku.

Sumber gambar: http://thewillnigeria.com/news/wp-content/uploads/2016/02/coin-flip-hrms-performance-reviews.jpg