28 December 2012

Dalam Hujan

Kali ini, akan kutulis surat untukmu...

Dunia ini lucu. Jauh lebih lucu dari lawakan anehmu yang datang sesekali, namun bisa menggebrak semesta.
Dunia ini lucu, juga orang-orang yang jatuh hati padamu, sepertiku.
Mereka ada dan nyata, mungkin kau sadari atau mungkin juga tidak. Tetapi, peka firasatku terhadapmu tak pernah berani membohongi.

Mereka lucu, seperti dunia ini. Dengan berbagai warna dan rasa mereka menjalankan takdirnya sebagai penyukamu. Ada yang blak-blakan, ada yang diam-diam mengamati, ada yang diam-diam mendekati, ada yang bersembunyi di balik payung persahabatan, dan lainnya.

Sementara. aku di tempat ini, diam-diam menjagamu, mengamatimu, melihat siapa yang datang dan pergi, mengamati siapa yang diam-diam siap menikam pundakmu. 
Seluruh inderaku menjelajah, menyelubungimu dengan energi semesta yang kupendam jauh di lubuk malam, dan tak hentinya menerka-menerka gelagat mereka. Mereka ada dan nyata, walau di luar pengetahuanmu. Beberapa menyangkal, sebagian jujur pada diri sendiri. Ada juga yang berpura-pura, tapi perlahan merayap bagai cicak yang sigap menjilat tempel nyamuk. 
Tetapi, apapun itu, selalu bisa kutangkap gelagat mereka. Tak pernah luput sekalipun. Ya, kau dikelilingi kekaguman dan hasrat-hasrat liar yang terpendam di balik dogma.

Dari mereka, aku belajar banyak hal. Aku mengenali musim-musim yang kerap bermukim di hatimu.
Dari mereka pula aku menyadari bahwa aku berbeda. Ini aku, dengan renjana yang nyata. Ada tanpa diminta, berdiri dengan ekspektasi sederhana.

Lihat mereka, dari berbagai penjuru, mereka membidik hatimu dengan berbagai cara. Aku bisa tahu, tanpa diberi tahu. Aku bisa merasakan, walau tanpa tanpa keterbukaan.

Ya, kadang, banyaknya panah yang tertuju padamu itu buatku lelah. Tetapi, aku selalu yakin, akulah sang juara. Adakah di antara mereka yang sejujur aku atas semua ini? Seadil gesturku, tanpa hasrat tersembunyi untuk menyingkirkan orang lain.Tanpa mimpi terselubung untuk jadi yang teristimewa dan membuat yang lain merasa tak berarti.
Tapi, itulah adanya, dan kadang ingin kubisikkan ke telingamu bahwa kau begitu menakjubkan di mata mereka.
Bahkan, kau juga tentu tak pernah tahu, di antara mereka ada yang pernah mencoba menghancurkan taman bunga yang kucipta dan kupelihara. Tapi, sehebat apapun upayanya menghancurkan taman bunga itu, dia tak pernah bisa mencegah datangnya musim semiku.

Dan musim semi itu selalu tercipta setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik, selama aku masih bisa  bernapas dan mengingat setiap momen denganmu.

Aku tahu, siapapun berhak jatuh hati padamu. Tak bisa kucegah, dan setiap hati itu akan menemukan jalannya sendiri.

Kini,  kuhirup aroma teh jahe. Aku selalu tersenyum kecil saat mengingatmu dan sederet dunia yang berotasi mengitarimu.


Bengsol, 28-12-12 ~04.00PM

27 December 2012

Gelas Keempat

gelas keempat yang jadi pertanda 
gelas keempat yang mencipta firasat....
tetapi
sehebat apapun gelas keempat mencipta firasat, 
tak seorang pun mampu mencegah datangnya musim semiku

26-27 Desember 2012

#somethingspecial

cuma kultwit gak jelas di akun @ighiw :D

1) Ada dua orang yang sama-sama mengirim pesan padanya, tapi hanya satu yang dibalas 

2) Ada dua orang yang sama-sama meneleponnya, tapi hanya 1 yang dia terima 

3) Ada dua orang yang mengajaknya pergi, lalu dipilihnya salah satu 

4) Ada dua orang yang sakit, tapi kepedulian hatinya lebih memilih salah satu dari orang-orang itu 

5) Ada 2 orang yang ingin bertemu, tapi dia lebih senang memilih salah satu, bukan bertemu bersama 

6) Dengan orang nomor 1 selalu banyak yang dibicarakan, tetapi lebih banyak diam saat dengan orang nomor 2 

7) Dengan orang nomor 1 waktu terasa cepat usai, dengan orang nomor 2 waktu terasa lama 

8) Jadi, tak perlu repot menyembunyikan diri. Pada kenyataannya, memang ada  di antara mereka ^^

24 December 2012

THE RAINBOW of HAPPINESS


Teman-teman, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adek-adek, Mbak-mbak, Mas, Aa, Teteh, dan semua-muanya,warga Bandung atau yang lagi liburan di Bandung....
Yuks, hadir ke acara "The Rainbow of Happiness" dalam End Year Sale Gramedia Merdeka Bandung.

Senin, 24 Desember 2012, pukul 14.30 s.d. selesai.

Ada talkshow bedah buku:
1) Kumpulan puisi "Kalender Lunar" karya Dian Hartati
2) Novel "Divan dan Hujan" karya Sigit 'Ighiw' Rais
3) Kumpulan cerita "Kisah Bocah" karya Geng Nulis Sapulidi

Dimeriahkan juga oleh acara pembacaan puisi, musik akustik "LOW TAR AND NICOTINE", dan sederet acara seru lainnya.
Hmmmm, tentu aja ada juga DOOR PRIZE-nya lho.

Yuks, pada ngumpul ajak keluarga, sobat, pacar, dan semua-muanya buat sama-sama berbagi kebahagiaan....

Ditunggu ya... have a chromatic day.... ^^

19 December 2012

Pengakuan Sederhana

Tuhan, hatiku selalu menggiring diri untuk selalu menyayanginya.

27 November 2012

Ketika Semua Terasa Benar

Hari itu, baru saja kutuntaskan tugasku, di luar tugas rutin kantorku. Aku mengajar diklat untuk calon-calon pegawai baru di kantorku selama 2 hari. Mata diklat yang kuajarkan di hari pertama adalah MK, sedangkan yang kuajarkan di hari kedua adalah PR.
Tentu, aku melakukan tugas itu semampuku. Sesuai dengan apa yang kupahami. Tentu juga kusesuaikan dengan buku panduan yang diproduksi oleh 'lembaga' bersangkutan. Semua terasa benar. Bahkan, dibandungkan dengan pengalaman mengajarku di tahun sebelumnya, rasanya kali ini aku lebih enjoy dan menguasai materi.
Di kesempatan sebelumnya, aku ketar-ketir karena materi slide-ku cepat habis. Ya, aku mempresentasikannya terlalu cepat. Ujung-ujungnya, aku harus putar otak dalam memanfaatkan sisa waktu di kelas yang ternyata masih cukup panjang.
Tapi kali ini, syukurlah, aku bisa lebih santai dalam mempresentasikan materi. Ya, ternyata, jika kita tenang dan santai, kesan tergesa-gesa pun akan hilang. Jadi, sampai saat-saat terakhir jam pelajaran, masih ada materi yang bisa disampaikan, dan tentu saja aku masih menyimpan banyak waktu untuk sesi diskusi kelompok.
Saat itu, kupikir semuanya baik-baik saja. Semua terasa benar, sesuai dengan rencana dan tujuan. Aku merasa jadi 'pemenang'. Euforia.
Tapi, semua berubah  saat seorang sahabat mengevaluasi materiku. Dalam kesempatan mengajar sebelumnya, sahabatku itu jadi salah satu peserta diklat. Baginya, materiku saat itu sangat belum pas dan perlu diperbaiki. Kupikir, di kesempatan kedua dengan materi yang sama ini, aku sudah melakukan penyesuaian sana-sini dan aku sudah berusaha memberikan yang terbaik. Ternyata, sebagai orang yang tidak setuju dengan komposisi materiku itu, dia masih merasa ada yang kurang.
Ya, setelah kutelusuri lagi, dia benar. Apa yang kulihat di kelas, apa yang kurasakan di kelas, ternyata hanya semacam ilusi yang muncul akibat rasa hati yang merasa sudah kerja keras dalam merevisi materiku. Semua terasa benar bagiku, mungkin bagi peserta yang belum banyak tahu. Berbeda dengan sahabatku itu, dia cukup banyak tahu tentang materiku dan relevansinya dengan pekerjaan sehari-hari. Boleh dikata, dia tahu materi apa sajakah yang sebetulnya dikomposisikan dalam kelas MK.
Okelah, materiku memang sudah ada kemajuan dibanding sebelumnya. Tetapi, ada yang harus diubah lagi.

Oh Tuhan, ternyata aku terbuai ketika semua terasa benar. Lalu, di dunia ini rasanya tak ada orang seperti dia. Seakan menamparku, tapi aku tahu, tamparan itu yang akan membangunkan aku dari buaian.

Sahabat, terima kasih. Sepertinya, kaulah yang seharusnya ada di kelas itu. Atau, mungkin kelak ada kesempatan kita untuk bersama-sama menciptakan materi ajar yang benar-benar proporsional, seperti yang kau sarankan.

23 November 2012

Senja yang Berbeda

Senja selalu hadir dengan rasa yang berbeda.

Angin yang menyapa, kersak daun kering yang berserak, samar kicau burung, riuh manusia di sekitar, deru mesin di parkiran, asap rokok yang meliuk dari sela jemari,juga teh jahe yang terkadang terasa lebih pedas dari biasanya.

Mungkin, rasa hatilah yang membuat ilusi ini terasa berbeda, dari musim ke musim.

Dan aku masih saja bergeming, membiarkan pecahan ombak tempyas di wajah. Kadang, angin membuat goyah, tapi kuat firasat tak mampu ciptakan pengingkaran, dan turbulensi selalu mereda dengan sendirinya.

Lalu, di hadapan meja yang seharusnya tak pernah asing ini, kuramu gelagat dunia sehingga mengalirlah kekata yang menyatu dengan nada-nada parau di kepalaku.

Senjakah yang berbeda, ataukah hatiku yang mengubah melodi dan warnanya sendiri?


@kantinkantor 23 November 2012 16:30~when I'm feeling ignored and rejected

16 November 2012

Catatan Sebatang Rokok -untuk kawan-

Pada kesempatan kecil ini, aku akan berkisah tentang serpihan kecil perjalanan pertemanan denganmu.  Ya, cerita tentang pertemanan yang istimewa bagiku. Itu bagiku, tapi entah bagimu.
Di sela telunjuk dan jari tengah tanganku, kini setiap hari bertengger sebatang rokok yang datang dan pergi dengan siklus yang sangat cepat. Ya, jauh lebih cepat dari siklus ulat yang selalu gigih bermetamorfosis menjadi kekupu.

Tak pernah terbayangkan olehku di tahun-tahun sebelumnya untuk bisa sedekat ini dengan asap rokok. Padahal, menghisap sebatang rokok sepertinya tak pernah ada dalam buku harian masa remajaku, kecuali saat sesekali aku penasaran melihat kawan mengembuskan asap, atau saat sisa rokok Bapakku masih berasap di asbak, dan dia sedang buang air kecil di toilet. Itu sesekali, bahkan bisa jadi hanya sekali-kalinya.
Atau, kecuali juga saat setumpuk bahan skripsi sedang kuramu saripatinya di sebuah kamar bercat kuning dengan jendela terbuka di tengah malam yang terasa hampa. Atau lagi, saat aku iseng menemani seorang kawan melahap tahu gejrot dan es goyobot di Jalan Kliningan Bandung. Hanya itu kenangan masa lalu yang kupunya tentang sebatang rokok.

Kini, sungguh mati, asap rokok mondar-mandir lewati celah gigiku setiap hari. Mungkin, sesekali kuizinkan melewati hidung, dan kadang aku sangat ingin mencoba untuk membiarkannya keluar lewat lubang telinga.
Sejak kapan? Aku lupa. Yang aku ingat, di awal-awal pertemuan kita, kau pernah bertanya, apakah aku perokok (sepertimu)? Kutegaskan, tidak, walaupun aku belum lupa caranya menghisap rokok.

Kini, ketegasanku hari itu memang harus dipertanyakan, karena tidak ada lagi kata 'tidak', kecuali saat aku merasa pernapasanku sedang tidak sehat. Padahal, jika kubaca berbagai artikel atau ulasan di banyak media, termasuk Wiki atau Tuan Google yang sering kau jadikan senjata pamungkas atas serangan pertanyaan-pertanyaanku, merokok itu sangat tidak sehat. Racunnya tidak akan hilang hanya dengan minum air putih, atau segelas teh jahe yang kini justru malah jadi partner kompak dengan rokokku.

Kawan, makin lama, aku makin menyadari, dari sebatang rokok, seperti yang sedang kusulut ini, aku semakin menemukanmu. Dari setiap asap yang kadang kita embuskan dalam napas yang sama, terselip kisah-kisah yang begitu sarat akan warna dan rasa, walaupun jumlah kata yang terlontar dari mulutku selalu lebih banyak darimu.
Perlahan aku mulai mengenalimu, aku tak yakin sejauh apa kini aku mengenali keutuhanmu, tetapi setidaknya ada banyak cerita yang terekam di ingatanku. Sayangnya, tidak semua cerita-cerita itu kucatat dengan baik.

Satu hal yang membuatku selalu merasa nyaman, berkawan denganmu aku selalu merasa jadi diriku sendiri. Pemikiranmu yang bagiku begitu luas bagai lautan, ya lautan yang dalam beberapa kesempatan pernah kita tatap bersama, membuatku tak perlu repot merogoh daya sekadar membangun sekat atau memasang saringan teh raksasa saat sedang berceloteh. Itulah yang membuatku percaya dan tanpa sungkan bisa berkisah apa saja dan apa adanya. Bahkan, celotehan tentang mimpi dan firasat yang mungkin menjadi lelucon dan ketakwajaran bagi orang-orang kebanyakan.

Kupikir, rokoklah yang sebenarnya telah mempertemukanku denganmu, dengan deret malam panjang yang pernah kita habiskan di sudut jendela berhias lanskap kotaku, dengan embusan angin Kuta yang membuat tubuh kuyupmu gigil selepas bermain dengan samudera, dengan birunya teluk Palu di bawah hujam matahari panas menyengat, juga dengan segelas es kopimu dan teh jaheku sehari-hari.
Dan di sela-selanya ada cerita kemarahan tentang dunia yang sama-sama kita pijaki. Kadang, ada celoteh tak masuk akal  namun fantastis yang tergiring dengan sendirinya, atau paranoia yang berusaha kita sembunyikan tentang hantu dan sebangsa makhluk-makhluk astral yang. Juga, setangkup sandwich kisah lain yang kali ini tak perlu kuurai untuk dibagi.
Aku senang. Berkawan denganmu terasa bagai euforia panjang yang tak mengenal akhir.

Suatu hari, di batang kesekian yang pernah kuisap di sampingmu, aku terbangun di sebuah kesadaran yang nyata. Di situlah kutemukan pertanda bertema 'pertemuan dan perpisahan'. Dari situlah aku kembali menelusuri jejakku dengan kawan-kawan terbaik dalam hidupku yang kini entah sedang apa, bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah mati. Dulu, aku bersama mereka, sekarang tidak. Sekarang, aku berada di dipan yang sama denganmu, besok belum tentu. Dan aku yakin, kelak akan ada sosok-sosok lain yang tanpa diduga bisa menjadi istimewa sepertimu sekarang ini di deret kisah harianku. Cepat tak cepat, lambat tak lambat, siap tak siap, sedih tak sedih, senang tak senang, mungkin eksistensi 'kita' di pulau kehidupanku ini akan segera bertransformasi menjadi wujud lain. Dan kau adalah pelancong yang mungkin kini sedang memperbaiki kapal untuk pelayaranmu selanjutnya, menuju ranah lain yang sampai detik ini masih terselubung kabut. Lalu, perlahan waktu akan menyingkap kabut itu sehingga jelas ke mana dermaga tujuanmu nantinya.

Kawan, kini, setiap kuisap sebatang rokok bersamamu, aku selalu bertanya, berapa batang lagikah rokok yang akan kuhabiskan denganmu?

16 November 2012 ~03:27 AM

14 November 2012

Lomba Film Pendek BPK RI

Temans, yang punya hobi dan aktivitas bikin film, yuks ikutan lomba ini.
Info ini diambil dari website Kementerian Desain Republik Indonesia .....
Selamat berkreasi ^^


Seperti apa BPK RI menurut kamu ?
Tuangkan dengan kreatif dalam film pendek berdurasi 1 menit pas! (tidak boleh lebih, tidak boleh kurang.)
Boleh animasi, dokumenter, musik klip, hingga drama komedi.


Hadiah :
Pemenang 1 : Produk Senilai Rp 10.000.000
Pemenang 2 : Produk Senilai Rp 7.500.000
Pemenang 3 : Produk Senilai Rp 5.000.000

Juri :
BPK RI, KDRI & Praktisi Film
Cara Ikutan :
  1. Baca Peraturan Formal KDRI;
  2. Daftar sebagai Member KDRI;
  3. Pendaftaran tidak dipungut biaya;
  4. Informasi tentang BPK RI dapat dipelajari di http://www.bpk.go.id
  5. Terdiri dari 2 kali pendaftaran lomba, yaitu melalui online dan pengisian formulir asli disaat pengiriman materi DVD/CD File. (Jika hanya melakukan 1 pendaftaran, maka dinyatakan gugur;
  6. Download Formulir lomba di sini >>
    Sertakan materi film pendek dalam bentuk DVD/CD File 720 x 576 pixel dengan format .MOV atau .AVI, diluar itu panitia tidak menerima.
    Kirim materi tersebut ke KDRI - Jl. Tebet Barat 9 No 3 Jakarta 12810;
  7. Login, lalu pilih "Kirim Konten" > "Lomba Film Pendek BPK RI", masukkan snapshot berupa poster film/cuplikan film/logo judul film (pilih salah satu) dengan ukuran lebar 620 x 600 pixel dengan ukuran file max 350KB;
  8. Copy Paste, dan isi daftar list di bawah ini, sertakan ketika sedang mengupload snapshot;
    - - - - - copy - - - - -
    Judul Film :
    Sutradara :
    Genre : 
    (contoh : drama / komedi / dll )
    Format : (contoh : animasi 2D / dokumenter / dll)
    Sinopsis :
    - - - - - - - - - - - - - -
  9. Cek "Akun Saya", ada status keterangan "Menunggu", "Ditolak" dan "Published";
    Jika "Ditolak" artinya karya kamu tidak lolos tahap pertama karena tidak cocok dengan peraturan KDRI;
    Jika "Published" artinya karya kamu lolos tahap pertama atau selanjutnya masuk daftar tunggu;
  10. Jika film sedang dalam proses pembuatan, peserta dapat melakukan pendaftaran online terlebih dahulu, dan disusul dengan pengiriman formulir asli dan DVD setelah film pendek selesai dibuat.
  11. Deadline penerimaan materi film pendek dalam bentuk DVD/CD, tgl 14 Desember 2012 Jam 21:00 WIB;
  12. Pemenang akan diumumkan Januari 2013 melalui website KDRI dan akan dikontak langsung dari email resmi KDRI yaitu infokdri@gmail.com;
  13. Untuk pertanyaan, bisa gunakan media Twitter dengan #FILMBPK , dimana akun @kdri dan @hellofest akan membantu menjawabnya.

31 October 2012

Air dan Api Selalu Rendah Hati

sejak pagi, aku menunggu
jujur, ada cemas yang tak wajar
tapi aku sudah mulai terbiasa

di pagi ini, aku merasa berdiri di tengah jalan raya
bus dan truk pengangkut sampah lalu-lalang
membuatku sedikit takut dan ingin menepi

tapi aku bertahan
menunggumu datang

orang-orang mulai berkoar seperti gagak
ya, koar yang selalu penuh curiga
satu demi satu kujawab,
bahwa kau masih ada dan akan segera tiba

ada juga si makhluk lendir
sejak fajar kucoba berdamai
tapi, mulailah dia berulah
memulai permainan perang sambil bersandiwara
itulah dia
tak pernah puas meskipun aku terdiam dalam larung
dan dia senang menyorotku dengan lampu panggung
tentu saat aku terhuyung masuk lubang

itu aku

lalu kau?
anak panah menghujam
: ada sasaran empuk untuk disingkirkan

sekuat tenaga, kau kujaga
selalu kubuat warta bahwa kau adalah permata
ini bukan kabar semata, ini nyata
tampak di mataku yang selalu terbuka

kau di mana?
kini mereka menggila

mereka?
domba yang digembala
manut setia pada penguasa rumput
tak peduli pada dunia di luar petak rumput yang ada
bulu mereka cantik dan putih
tetapi, terkadang aku melihat seringai mengerikan di baliknya
semoga aku salah lihat

kita?
hanya api semangat dan luap jernih air
yang sering ditafsirkan sebagai pembawa bencana
tak masalah
karena pada setiap hidangan mewah restoran
air dan selalu rendah hati

31/10/12


30 October 2012

291012 16:30

Melarung...
Haha, kali ini ingin rasanya melarung. Bersembunyi sepi, mengurung diri dalam rasa yang tak terdefinisi.

Ya, tak setiap hati bisa dibaca, tak setiap pikiran bisa dilacak. Itulah adanya. Lalu, aku tersesat bertanya-tanya, mencari rumah yang menurut kabar angin adalah istana termegahnya.
Dan aku seperti matahari yang kesulitan melacak tiap gelagat hidup di permukan bumi.

Lihatlah langit.
Jika itu memang langit yang masih sama, yang selalu kami tatap bersama, langit yang selama ini memayungi kami, kenapa selalu hadir dengan warna yang berbeda?
Lukisan awan pun tak pernah sama. Gradasi warnanya juga tak pernah sama. Pula dengan hiasan-hiasan yang berbeda di setiap ada peluang untuk kutatap.

Dan aku hanya bisa melarung.
Melarung demi sesuatu yang entah, demi sesuatu yang tak bisa kupahami.
Ya, kini jatuh hati adalah benda luar angkasa yang masih kuanalisis dengan seluruh pikiranku.

Tuhan, lepaskan aku dari rasa tak enak ini. Sebah, gelisah, cemburu, api, duka, bagai tertusuk bulu babi, AH! Ini sungguh tak enak. Tak nyaman. Dan aku tak bisa berbuat sesuatu selain terdiam dalam pelarungan.

Fiuuh..
dengan susah payah, akhirnya harus kukatakan, walau sembunyi-sembunyi, aku mencintainya.

H A T I

Sebenernya, hati yang nggak adil, atau kita yang nggak adil sama rasa hati?
Kalo ngebahas tentang hati, jujur aja, rasanya pelik dan rumit. Udah media fisiknya lunak, hati itu terkonsep secara absurd dan terkadang sulit didefinisikan dengan ilmu pasti. Mungkin.
Kadang, kita juga lupa sih, kalo kita itu udah dikasih kelengkapan berupa hati, yang bisa ngerasain sakit, senang, sedih, dan sebagainya. Dari kolaborasi hati, otak, dan seluruh organ pendukung lainnya, kita bisa berkenalan dengan dunia, tentunya dunia kita. Kita juga bisa sedikit meredam arogansi. Hmm...

Hati kita juga sekali waktu terkoneksi dan bersinggungan dengan hati orang lain. Kadang, ada chaos dan turbulensi yang ciptakan sinyal bahwa hidup itu nggak seindah wewarna pastel di negeri dongeng. Sesekali, ada juga letup rasa hati yang mungkin sulit terdefinisi.
Berdamailah dengan hati, biarkan dia menemukan rasa yang paling tepat. Adillah memperlakukannya, sehingga dia bisa lebih adil dan bijak, serta bersahabat dengan kita saat badai mendera.

Apapun, yakin sajalah, hati itu diciptakan untuk kita, untukbertahan hidup, untuk berjuang mempertahankan hidup, untuk merasakan, untuk bla bla bla bla....
dan untuk mencintaimu.

14 September 2012

Masa Kecil, Kisah Berjuta Rasa yang Akan Selalu Membekas


Anda ingat dengan pengalaman masa kecil? Ya, mungkin saja. Warna-warni kisah masa kecil tentu pernah Anda rasakan sendiri. Dari pengalaman masa kecil tersebut, tentu ada banyak cerita seru dan menarik yang terangkum dalam memori Anda.
sumber gambar: http://www.defense.gov/home/photoessays/2005-01/p20050105c02.html

Anda tentu pernah merasakan sendiri, mengingat-ingat kembali masa kecil bisa membuat Anda tersenyum geli, tertawa-tawa, dan bahkan menangis haru. Di sana, Anda bisa mengenang orang-orang terkasih, teman-teman, sahabat, musuh, hewan peliharaan, benda kesayangan, permainan kesayangan, dan sebagainya. 
sumber gambar: http://www.maxedout.info/photos/Indonesia/2008-11%20Komodo%20Bali%20Kumai%20Belitung%20Singapore/where/34%20Indonesian%20children.jpg

Di manapun Anda menghabiskan masa kecil, di kota, di desa, di pegunungan, atau di jalanan, semua tentu memiliki kisah unik tersendiri yang sangat menarik untuk dibagi.
Oleh karena itulah, melalui buku "Kisah Bocah", Geng Nulis Sapulidi berusaha untuk membagikan warna-warni kisah masa kecil yang dikemas dalam tulisan-tulisan manis yang lucu, unik, jujur, serta menggugah. Di dalam buku "Kisah Bocah" ini ada 34 penulis yang ingin berbagi dengan Anda tentang masa kecil mereka. 
Kisah tentang rasa dag dig dug saat dikejar anjing, tanpa sengaja membakar bulu hidung, berseteru dengan guru yang galak, di-bully teman, cita-cita jadi superhero, berkelahi dengan saudara sendiri, buang air di tempat yang tak seharusnya, tawuran dengan anak desa lain, ditinggal pergi sahabat, rasa cemas saat mau disuntik, kejepit teralis, nyuntik bunglon, mencuri bros di pakaian display departemen store, suka duka berjualan es lilin, dan ratusan kisah penuh warna lainnya yang terangkum dalam sebuah buku manis ini.


Di dalamnya, 34 mantan bocah berbagi seratus lebih kisah masa kecil dengan jutaan rasa dan warna...


 


Geng Nulis Sapulidi:
Agus Supantiaji, Ariefnuno Hadiwibawa, Deden M Sahid, Deedee Demikian, Desy Tampubolon, Diandini Rooshanti, Diangga Ramadyan, Dini Retno Utami, Dyah Rachma, Edo Rodholphi, Erick Priambodo, Erna Nurwulandari, Fietri Yulia, Iklimilky, Ira Handayanti Putri, Ira Rahmawati, M Bayu AP, M Hudawi Siregar, Mutiara Sinambela, Naupal Noor, Paloma Humana, Rani Wulandari, Rezza Rinova, Ririn L, Sachie Wulan Christiano, Sasmito Bayu, Setyawati Widodo, Sigit Rais, Sri Mulyani, Utami Triana, Uthar Mukthadir, Veni Fitriani, Vian Vay, dan Wulan Kurniawati)

Harga: Rp37.500 (belum termasuk ongkos kirim)

Monggo, bisa diorder dengan mudah dari rumah di NULISBUKU.COM
atau hubungi saya ;)

Seluruh royalti penulis yang terkumpul akan kami sumbangkan....

Yuks, berbagi kisah, berbagi warna, berbagi rasa, berbagi semangat, berbagi kebahagiaan....

25 July 2012

Novel "Divan dan Hujan" - Sigit Rais

Novel "Divan dan Hujan" berkisah tentang masa remaja Divan bersama ketiga sahabatnya, yaitu Yudi, Sinta, dan Riyan, dengan teman-temannya yang lain. Mereka mengalami hal-hal menakjubkan yang membuat mereka mulai belajar tentang arti cinta dan persahabatan.


"Pas baca, aku kayak balik ke zaman SMA. Pengen balik lagi ke zaman itu. Biasanya sih kalau novelnya dari awal bagus, aku bacanya nggak mau berhenti walaupun diapa-apain.... dan baca novel ini, aku cuma ngabisin waktu dari magrib sampe jam 8 malem..."
(Diandini Rooshanti , mamanya Imdi dan Dhira)

"Untaian cerita yang mengingatkan saya tentang keceriaan cinta masa remaja. Lebih dari sekadar cerita cinta biasa. Divan dan Hujan juga mengajarkan kita bahwa ada satu cinta yang harus kita raih, cinta yang tak kenal putus dan lelah, cinta Illahi..."
(Winda Nurmalia, temennya Ighiw yang menyukai hujan, jingga, dan senja)


"Cerita remaja yang cukup komplit yah. Mulai dari cara mereka sahabatan, berantem, sampe cinta-cintaannya.
yang jadi Divan juga berkesan. Mungkin, kalo di novel lain, dengan seabrek bakat yang Divan punya, dia bisa 3 kali pacaran, 3 kali p
utus, tapi di sini si Divan jadian aja nggak pernah, putus bisa tiap hari loh. Hehehe... Bingung kan? tapi beneran seru dan lucu."
(Setyawati Widodo, mantan mentee-nya Ighiw, staf Subbagian Persidangan Badan Pemeriksa Keuangan RI)



Divan yang semula memusuhi Riyan karena kesalahpahaman yang direkayasa oleh Bayu, perlahan mulai menemukan gemerlap tulus persahabatan di dalam diri Riyan. Sementara, Divan yang diam-diam jatuh hati pada Sinta, yang selalu jatuh hati pada orang lain, perlahan mulai bisa menerima bahwa Sinta adalah sahabat terbaiknya. Di sisi lain, Sinta yang cinta mati pada Ronal, mulai bisa menerima kenyataan bahwa Ronal sudah jadian dengan Agri. Padahal, pada saat bersamaan, Sinta ingin mengubur kenangannya dengan Raka yang meninggal setahun lalu.
Lalu, Divan yang sejak awal bersahabat kental dengan Yudi, mulai menyimpan kebencian pada Yudi, karena salah satu perempuan yang disukainya jatuh cinta pada Yudi. Padahal, Yudi sama sekali tidak tertarik…

Judul: Divan dan Hujan
Pengarang: Sigit Rais
Info dan Pemesanan: http://www.nulisbuku.com/books/view/divan-dan-hujan