18 March 2013

Untuk Sebuah Warna di Bulan Maret

Sumber gambar: http://www.wallfineart.com
Rasanya sudah sangat lama sejak untuk kali pertama kamu datang sebagai salah satu warna yang menghujami kedua mataku.
Waktu itu, kamu pernah ada sebagai dermaga yang jadi tujuan kapal-kapal, dan aku jadi salah satu kapal yang menujumu. Tetapi, kapal-kapal itu hanya singgah sebentar, lalu pergi menuju dermaga yang lain. Sementara, aku hanya bisa memasang jangkar pada jarak aman. Kuamati kapal yang berlabuh bergantian. Rasanya hampir tak ada kesempatan untuk mendekat dan berlabuh di situ. Hampir saja aku lupa.

Tapi, aku tak pernah lupa bagaimana kamu mengucapkan 'selamat ulang tahun' dengan cara yang tak biasa. Itu sempat jadikan aku merasa istimewa. Itu cukup bagiku.

Hey, apakah kau masih ingat, siapa sajakah yang pernah singgah di dermagamu?
Apakah mereka kini masih mengingatmu, seperti aku, meskipun aku tak menginginkanmu lagi.
Orang-orang lalu-lalang datang dan pergi mengisi ruang istimewa di hatimu. Ya, ruang yang rasanya belum pernah kuhuni sama sekali. Kadang, ada pintu terbuka untukku di ruang itu. Tapi, aku selalu takut. Selalu tak punya daya spektakuler untuk berani mengambil risiko saat masuk ke dalamnya. Dan pada akhirnya, aku memilih untuk berada di titik aman yang membuatku selalu merasa nyaman, walau sesekali aku harus berperang melawan kecemburuan.

Sekarang, lihatlah orang-orang itu, ya, orang-orang yang pernah singgah di ruang istimewa hatimu. Sekarang, mereka telah singgah di ruang istimewa hati yang lain. Mungkin melupakanmu. Tetapi, aku tidak.
Karena dulu, aku jatuh hati padamu tanpa syarat apapun, tanpa ekspektasi untuk dicintai, tanpa hasrat untuk memiliki. Semua mengalir indah seperti sungai-sungai jernih yang diarungi kawanan ikan salmon.

Mereka bisa saja jadi pemenang, karena bisa mampir di ruang istimewa hatimu. Tetapi, mereka serupa tokoh tambahan dalam film seri, yang datang mengantar cerita berbeda dalam setiap episodenya. Sementara, aku adalah tokoh pendamping, yang tak terlalu banyak ambil bagian, tetapi selalu ada dalam setiap serial itu.

Sekarang, aku harus pergi.
Aku harus mengakhiri petualanganku di kisah serial hidupmu. Aku juga harus berhenti mengamati dermagamu dari titik aman ini. Kapalku harus pergi melaju, mengarungi samudera, mencari dermaga lain yang kelak akan menjadi tempat singgah terakhirku.

Aku harus pergi, tetapi tak pergi.
Tulusku yang terlalu naif dan terlihat begitu kudus akan selalu memaksaku berada di sekitar hatimu.
Sebagai teman, sebagai figuran yang selalu siap sedia mendengar kisah dermagamu dengan kapal-kapal baru yang kini singgah di sana.

Kapalku berpaling dari dermagamu.
Dermaga dengan warna istimewa yang selalu berpendar setiap bulan Maret tiba.
Ya, kamu adalah salah satu warna pelengkap lukisan hidupku.

Ini aku, ini kamu, dan ini cerita kita yang pernah bersinggungan, lalu berpisah dalam cuaca yang cerah dan kromatis.

untuk seseorang yang terlahir di bulan Maret
18 Maret 2013


11 March 2013

Pencuri Senja

Ada senja yang diam-diam kaucuri.
Padahal, senja itu telah lama kusemai, kupupuk
sehingga dia akan tumbuh sebagai harapan.

Pula pada cuaca yang selalu hadirkan tragis hujan bebatu.
telah kuajarkan cara menyulam awan.
Awan itu akan menjadi penyampai pesan pada langit
agar senjaku dijaga baik-baik.

Sabarku adalah setumpuk buku di perpustakaan tua.
Berjajar rapi dengan jejudul khas pada setiap doanya.
Itulah cahaya,
jadi pemendar renjana yang akan menghiasi lanskap senja.

Kupahat horison,
agar tercipta batas yang jadikan senja istimewa.
Menjadi berharga,
lalu ditunggu kelahirannya oleh semesta.

Sabarku adalah kalkulasi mustahil terhadap jumlah bintang di angkasa.
Tak terprediksi tanpa ilmu pasti yang juga misteri.

Kubiarkan senja dierami cinta.
Perlahan dia merekah di taman kanigara.
Lalu, merekahlah kelucak bahagia.
Hanya milikku.

Tetapi,
tetiba datangmu jadi badai.
Jadi lelucon satiris yang  begitu miris dan tak sanggup kutertawai.

Kaucuri senja yang selama ini kujaga.
Diselubunginya dia dengan hujan darah semesta.
Diringkusnya tanpa ampun.
Lalu, dia pergi dalam tikaman senyap malam.

Ini dendamku padamu, pencuri senja.
Kelak, senja akan kembali kutanam,
akan kubiarkan dia tumbuh dan jadi api yang siap membakarmu.

Diam-diam.

Di sebuah ruangan yang telah lama ditinggalkan senja,
11 Maret 2013 

07 March 2013

Falling In Love with "Falling In Love at A Coffee Shop" by Landon Pigg


Baiklah, saya mau jujur. Kali ini saya jatuh cinta pada sebuah lagu. Entah saya lupa dapat dari mana. Selain musiknya, saya jatuh cinta juga pada liriknya.

Bukannya sok kenal, sok dekat, tapi rasanya begitu 'dekat' dengan saya. Entah karena saya ingat pada seseorang, atau saya ingat cerpen Regenboog dalam "Chromatic Love", atau entah kenapa, pokoknya entah kenapa, saya suka. Kalaupun saya tahu alasannya, ya mau bagaimana lagi? Hahaha...

Monggo, yang mau ikut merasakan kekromatisan hati saya saat mendengar lagu ini, silakan dengarkan.
Seperti saya, yang mendengarkan lagu ini sambil nyruput segelas teh jahe hangat di salah satu meja bundar kantin kantor.

So chromatic bleh! ^^


Ini liriknya:

I think that possibly
Maybe I'm falling for you

Yes
There's a chance that I've fallen quite hard over you
I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too

I think that possibly
Maybe I'm falling for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I think that possibly
Maybe I'm falling for you

Yes
There's a chance that I've fallen quite hard over you
I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too
Because
Oh
Because I've fallen quite hard over you
If I didn't know you I'd rather not know
If I couldn't have you I'd rather be alone

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

All of the while
All of the while it was you
You
You
You


05 March 2013

The Rain Spell

The rain hung in the sky cracks.
Conversations dusk becomes increasingly fierce.
There was a bandage trace of pain.
It swerved across the hills.
Near of the dream season over the trench.

The rain storing secret messages.
About the stars that missing from their cluster.
The leafy trees whispering something.
When the gloom wrap the diamonds in the sky.

And in the cold borders of our hearts, we have written our name on the stem of acacia.

You know, I will never give up to keep you still in my heart. Forever.
Even if the leaves have molt as it ages.
Or the moss have filled the happy box.

Now.
I have to sleep, to keep you alive in my dream.
I will let the rain spell fall on the lakes ripple.

Sumber gambar: http://static4.demotix.com

02 March 2013

Kenapa Teh Jahe?

Beberapa teman sempat bertanya, kenapa saya begitu sering mengonsumsi teh jahe? Biasanya, saya hanya menjawab: suka. That's all. Padahal, sebenarnya saya hanya malas menjelaskan alasan-alasan yang bersifat medis. Halah.
Ya, jujur. Kadang saya ingin kembali ke masa beberapa tahun lalu, di mana saya bisa dengan bebas nyruput secangkir kopi sambil ngobrol haha-hihi dengan teman-teman. Saya akui, kopi juga sempat jadi sahabat terbaik yang menemani saya begadang menggarap skripsi atau menuntaskan berbagai pekerjaan menulis yang dikejar-kejar deadline.
Saya suka rasanya. Apalagi jika segelas kopi tersebut berada pada titik panas yang pas. Mulut akan menagih, lagi dan lagi. Walaupun saya tidak begitu yakin kalau kopi dapat mengusir ngantuk (sering ketiduran juga pascangopi), tapi kopi memang selalu jadi sobat kental saat saya harus melek sampai pagi.
Tapi, itu dulu.
Sekarang, saya hanya bisa mencium aromanya atau melihat asyiknya seorang teman yang nyruput es kopi moka setiap hari di kantin kantor. Bahkan, teman saya itu pernah mengonsumsi es kopi empat kali dalam sehari. Lumayan iri sih. Tapi, syukurlah saya sudah menemukan penggantinya: teh jahe. Itupun jika di tempat ngopi yang saya sambangi ada menu teh jahe a.k.a ginger tea.

Ini semua karena peristiwa sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, nafsu makan saya yang buruk sedang kumat.  Biasanya, saat seperti itu, membayangkan sepiring nasi dan lauk pauk pun rasanya mual. Jika sedang berada pada titik itu, otak saya sepertinya sudah tersistem untuk menolak kehadiran makanan-makanan seperti itu. Anehnya, jika disodori makanan cepat saji seperti burger, kebab, dan lain-lain, barulah saya mau makan. Haha. Aneh dan tampak kolokan memang. Tapi itulah adanya.
Nah, hari itu, di kantin kantor, saya hanya tertarik mengonsumsi mangga dan segelas kopi susu panas. Sambil mengisap rokok, saya lahap makanan itu. Lalu, seharian saya memang tidak makan berat ala orang Indonesia lainnya. Saya hanya ngemil keripik, kacang-kacangan, dan berbagai cemilan khas yang jadi oleh-oleh teman-teman saya sepulangnya mereka dari tugas di luar Jakarta.
Malamnya, waw, maag saya kambuh sejadi-jadinya. Rasanya lebih dahsyat dari biasanya. Yang paling membuat saya terkejut, saat buang air, ada darah mengalir.
"Halah, lu ambeyen tuh," kata seorang teman.
Sambil menahan sakit, saya coba cari informasi tentang wasir di mbah google. Ternyata, gejala yang saya rasakan berbeda dengan yang tersaji di banyak literasi. Kali ini tak ada rasa sakit sama sekali di area (maaf) anus, dan tak saya rasakan adanya peradangan atau pembengkakan di area itu.
Karena mulai lelah jadi orang sok tahu yang sok jadi dokter bagi diri sendiri, saya bergegas menuju dokter yang buka sejak sore hingga malam di sekitar tempat saya tinggal.
Ternyata ada pendarahan lambung, dan pemicunya adalah perpaduan buah mangga dan kopi yang menyerbu lambung saya, yang sebelumnya memang bermasalah parah tetapi sudah sekitar 3 tahun aman-aman saja.

"Bleeding maag", kata bu dokter.
Beliau pun meminta saya untuk stop mengonsumsi kopi (kok mangga-nya nggak ya?). Katanya boleh lah ngopi, sebulan sekali, dua minggu sekali. Ebuseeet. Tapi, baiklah, demi kesehatan, saya ikuti saran Bu Dokter demi masa depan yang lebih cerah. Apa coba?
Waduh. Mengerikan ternyata. Beruntung segera tertangani.

Nah, sejak itulah saya berenti minum kopi. Ya, paling sesekali, itu pun jarang saya habiskan satu gelas. Atau, kadang saya nebeng nyruput di gelas kopi punya teman.

Sebagai gantinya, saya minum TEH JAHE. Sama mantapnya kok. Bahkan, menurut saya sih lebih sehat, terutama bagi saya yang punya masalah seputar lambung.
Aroma khas dari teh jahe bisa membuat saya nyaman dan rileks. Dari beberapa literasi yang saya baca, selain meredakan stres, teh jahe juga bisa mengatasi masalah pernapasan, memperlancar sirkulasi darah, mencegah gangguan kardiovaskular, meningkatkan kekebalan tubuh, dan mengatasi masalah-masalah pencernaan.
Ya, apapun keistimewaannya secara medis, teh jahe memang salah satu minuman utama yang saya cari. Saya suka. Kadang muncul rasa tenang dan gembira saat saya menghirup aromanya, apalagi jika di-mix dengan cinnamon.
Beruntung, 2 tempat ngopi 'bermerek' terkenal favorit saya, menyajikan juga menu ginger tea. Selain itu, kedai-kedai bubur kacang ijo di pinggir jalan dan warung makan angkringan juga menyediakan menu teh jahe. Jadi, saya sama sekali tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan minuman ini. Kadang, saat saya pulang ke Bandung, Mama saya juga sering membuatkan teh jahe.
Beruntung, di salah satu kios di kantin kantor, ada teh jahe yang setiap hari selalu bisa saya reguk. Bahkan, saya pernah mengonsumsinya 4 gelas dalam sehari.
Jadi, saat teman saya ngopi, ya masih bisa saya temani dengan segelas teh jahe dan sebungkus rokok.

Memang sih, awalnya, saya sebal dan iri pada teman saya karena saya tidak boleh mengonsumsi kopi sesuka hati. Tapi, saya pikir teh jahe itu terasa lebih chromatic dari kopi. Bisa diminum kapan saja. Bisa buat sohib baca buku di sore hari sambil ngemil biskuit, pelengkap sarapan pagi, bahkan bisa juga jadi minuman segar di siang bolong dengan menambahkan es batu.

Yang jelas, saat mereguk teh jahe terasa ada rengkuhan jagat raya yang bermuara di mulut saya.

Itulah, kenapa selalu teh jahe yang saya cari. Yuks, coba.

2 Maret 2013