30 May 2013

Seteko Isyarat

Ketika kekata tak sanggup melompat, biarkan gelagat yang jadi seteko isyarat.

30 Mei 2013
7.15 AM

Keajaiban Mimpi pada Bulir Embun

Setiap pagi, dia sisipkan keajaiban warna mimpi semalam pada tiap bulir embun. Jelang siang, mimpi itu akan meresap ke celah tanah, hidupi hijau pepohon yang selalu jadi tempat singgah bulir embun lain yang baru lahir.

30 Mei 2013
6.40 AM

29 May 2013

Menunggu Malaikat

Kamu kembali lagi ke taman itu. Tak ada lagi yang kamu tunggu-tunggu selain malaikatmu. Kamu tahu, malaikat itu kali ini tidak akan datang. Dia telah terbang ke langit, menembus awan-awan. Tetapi, kamu tetap saja keras kepala dan kembali menanti di tepi kolam itu. Dingin. Angin terus menghujam. Perutmu kembung.

Kamu memejamkan mata. Kamu biarkan gemercik air merembes jadi kenangan dalam isi kepalamu yang mulai penuh itu. Lalu, perlahan kamu pilah kenanganmu di taman itu. Kamu comot satu demi satu. Lalu, kamu hidangkan untuk dinikmati sendiri.

Kamu tahu, malaikatmu tidak akan datang. Tetapi, kamu selalu merasa dia ada. Begitu dekat dengan jantungmu yang makin melemah karena lelah. Kamu selalu menanam yakin bahwa dia akan kembali dari langit, lalu berbincang dalam pekat cuaca malam ini. Kamu bertahan dalam gigil.

Kenangan. Hanya itu yang bisa membuatmu bertahan di taman itu. Bisa membuatmu bertahan dalam penantian yang tersiakan. Dari kenangan pilihanmu itu tumbuh bunga-bunga, pula kekupu. Karenanya, kamu bisa rasakan bahagia di tengah himpitan sunyi.

Kamu masih menunggunya datang, ditemani lembar kenangan yang telah berulang-kali kamu buka. Pula setangkai harapan yang tak lama lagi akan jadi pohon hasrat yang menjulang.

Lalu, sehelai daun gugur membawa kabar dari langit, katanya kali ini malaikatmu tak akan datang menemuimu. Kamu hanya tersenyum, lalu berkata, "sudah tahu."
Dan dengan jenaka kamu menari kelilingi kolam. Tarian sarat doa agar malaikatmu selalu baik-baik di jagat yang ciptakan bahagia untuknya.

#iseng sambil terkantuk-kantuk di meja kerja ^^


29 Mei 2013
8.40 PM

27 May 2013

Rasa, pada Suatu Malam

Suatu malam, bulan sudah tak utuh. Dari balik awan, dia mengintip taman yang kupijaki. Malu-malu dan suram.
Rumput di taman itu tak nampak segar hijaunya. Rengkuhan malam telah redupkan sepuhan warnanya. Beruntung, temaram lampu neon menjadikannya menyata di tangkapan mata.
Di belakangku, sebuah kolam yang belum dihuni ikan apapun dihujami gemercik air mancur. Suara itu luruhkan peluh. Berkolaborasi dengan warna lembut dalam bening mata malaikat.

Aku diam memeram kalimat. Sejak tadi, kekata ingin meluap, meletus berhamburan mencari lubang telingamu. Tapi kutahan. Kubiarkan terpenjara dan mengamuk pada otak. Sesekali, deret aksara itu mengalir dengan darah, menuju jantung, dan menjadikan degupannya semakin membabi-buta. Aku bertahan, kutatap bulan.
Energi pemicu ledakan itu surut bersama bulan yang kabur di balik kelam. Aku terdiam. Kamu terdiam.

Orang bilang, rasa itu harus dikatakan. Sampaikan pada orang yang jadi tujuan. Dan, tidak semua orang mahir mengumbar pernyataan bahwa ada rasa menggeliat yang harus diutarakan.

Ini satu-satunya gelombang yang kupunya. Untukmu. Satu-satunya.
Belum bisa kusampaikan lewat pernyataan, tapi lewat aksi yang menjadikannya ada.
Aku bergerak saat orang-orang lelap. Di balik ilalang dan di lorong-lorong yang sering dilalui tikus.
Kusampaikan sinyal mercu suar pada kapalmu, bukan melalui pernyataan atau deklarasi. Kuberikan hati dengan caraku sendiri. Kusampaikan pernyataan cinta dengan gerak yang nyata dan tak perlu pengakuan dunia sehingga kapalmu merapat ke dermagaku.

Kita masih terdiam. Kepala kita bercakap-cakap dengan gemercik air dan suara angin yang terus menghantam. 
Kamu beranjak, lalu menyuruhku pulang.

Taman Pancuran
27 Mei 2013 
7.22 PM

Hujaman Angin dan Malaikat yang Dinanti

"Dan angin pun terasa seperti hujaman panah Srikandi di sekujur tubuh Bisma... " 
Ini kali keberapa. Entah. Dia lupa lupa berhitung. Dia malas memilah-milah sejarah yang indah dan satiris miris, atau getir tragedi yang dilumuri benci.
Semua berfusi jadi hujaman angin yang menusuk ubun-ubunnya.
Dia terduduk di sebuah meja berbentuk lingkaran. Kursi-kursi hanya dihuni hantu. Di atas meja itu tergeletak gelas-gelas berisi seperempat. Sisa kopi yang telah direguk oleh orang-orang yang jadi pendahulu. Gelas-gelas itu menyimpan sejarah. Di sekeliling bibirnya tersimpan serpih kekata yang jadi penghangat sebuah pertemuan. Pula sidik jari yang melekat pada telinga pegangannya.
Sementara, di lantai berserak puntung rokok yang belum sempat disapu. Juga abu yang separuhnya telah terseret angin. Tentu, di situ juga ada sejarah. Ada rekam percakapan yang jadi pertanda dan melebur bersama firasat.

Dia menutup mata. Aroma teh jahe bergegas pindah ke setiap titik indera penciumannya. Dihirupnya dalam-dalam sehingga asap rokok dari mulutnya sendiri mendobrak masuk ke liang hidungnya dan hadirkan rasa tak nyaman. Ulahnya sendiri.

Beberapa panggilan telepon dibiarkannya berlalu sebagai kenangan. Dia sama sekali tak tertarik untuk bicara dengan siapapun melalui benda pemancar gelombang radio yang selalu jadi sahabat terbaiknya.

Teh jahe nyaris berada di batas seperempat gelas. Dia masih belum beranjak. Ada malaikat yang diekspektasikannya akan lewat melintas di matanya.

Angin berembus hebat. Abu rokok berhamburan dan membawa pergi malaikat yang ingin ditemuinya.
Dia masuk angin karena hujam panah yang terus menerpa tubuhnya.


~tak lama setelah tulisan ini dituntaskan, malaikat itu turun dari langit dan membuat senja jadi cerah

#isengsore
Kantin
27 Mei 2013
5.24 PM

26 May 2013

Awan Mendung Hanyalah...

Awan mendung hanyalah sekat yang memberi kesan bahwa bintang tiada...

Markas Jompers
26 Mei 2013
9.53 PM

Spaghetti Arrabiata

Sore sudah ditaburi pijar kecil lampu-lampu. Tak lama lagi pendar matahari, yang sedari siang menyemprot pepohonan, akan surup. Di kedai ini, bekas piring seporsi spaghetti arrabbiata tergolek menjijikan. Bercak merah di mana-mana, juga sisa-sisa rempah yang sebagian besar sudah siap jadi sampah di dalam lambung yang sering terasa sebah.
Berbeda dengan saat makanan eropa itu disajikan beberapa menit lalu bersama segelas es lemon madu bertabur beberapa butir buah longan. Terlihat lezat dan menggoda selera. Buktinya, dalam waktu singkat habis sudah semua kulahap.
 
 

Sayangnya di sini tak ada kamu. Padahal, spaghetti yang kumakan tadi rasanya lebih lezat dibandingkan dengan spaghetti lain yang pernah kita cicipi bersama.
Tadi, sambil mengunyah tuntas spaghetti itu, aku bertanya-tanya, di mana kamu setelah tsunami kecil menyergap jiwa kita dan membuat kita nyaris hilang daya untuk berbagi tawa dengan matahari.
Kadang, aku ingin membesarkan hatimu dengan berkata, ya sudahlah. Tapi, aku tahu, kata-kata itu kadang terdengar seperti penyepelean terhadap hal yang dialami orang lain di telingamu. Ya, bukankah dulu kamu pernah sewot karena aku berucap demikian setelah kamu membagi cerita mengesalkan tentang dunia yang dihuni oleh makhluk-makhluk berlendir keparat itu.

Tenang. Masih ada aku, yang selalu berbeda, istimewa hanya untukmu.

Kini, aku yang mulai gerah dan gelisah. Aku bingung, kenapa wanita itu ngomel-ngomel saat kusulut rokok di kedai terbuka ini. Aku celingak-celinguk mencari tulisan 'dilarang merokok'. Tak ada. Lagipula di mejaku ini memang disediakan asbak. Tapi sang wanita makin bengis dan galak. Lalu, dia terbatuk-batuk seolah agar kudengar.
Baiklah, aku mengalah. Kupadamkan rokok karena teringat jargon "hargai orang yang tidak merokok", walaupun aku heran kenapa si wanita itu tidak memilih duduk di dalam, yang jelas-jelas ruangan tanpa asap rokok.
Lalu, aku kembali ingat kamu. Dengan emosi yang kadang jadi sikap menyebalkanmu, apakah kau bisa sepengertian aku dalam menghadapi wanita itu? Apakah kamu akan sesabar aku dalam menghadapi kebedebahanmu? Atau seperti kamu berusaha mengerti aku dan anomali-anomali yang selalu dengan jumawa kudeklarasikan sebagai keunikanku? Ya, perilakuku yang kadang membuatmu bingung untuk menaggapi.
 
Aku yakin kamu bisa. Kamu sosok terbaik yang selalu bisa membuatku bersabar dan jatuh cinta.

Hei, rasanya aku masih lapar. Haruskah aku mengundangmu makan sore yang kedua untuk menemaniku menyantap spaghetti porsi kedua?

Bakerzine, Central Park
26 Mei 2013
5.27 PM

Es Cokelat


Di hadapanku, kini tersaji segelas es cokelat. Manis, pahit, sedikit asam, sedikit gurih, dingin dan berbuih. Aku ingat kamu, karena pada suatu malam, aku pernah menumpahkan setengah cangkir cokelat panas pesananmu. Malam itu, kita terjebak di cuaca dingin yang seharusnya tak asing bagiku. Tetapi saat itu pula halnya sepertimu, aku nyaris mati kedinginan.
Beruntung, percakapan denganmu saat itu bisa jadi penghangat. Tak ada bisu atau berbagi atensi dengan telepon seluler, yang kadang membuat kita saling cemburu dan ingin menjadi benda dalam genggaman itu.
Lalu, mulutmu yang bersentuhan dengan panas bibir gelas komat-kamit. Kamu meniupi sekaligus mengutuki rasa panas yang mencubit indera perasamu. Aku tertawa atas tingkahmu. Lalu, kamu mendelik tajam. Matamu jadi pisau yang menodongku agar bungkam. Aku tersentak. Bukan kaget atau takut, tetapi malu dan geli yang tak berkesudahan.
Mata elangmu mempermainkan hormon-hormon antah berantah di tubuhku. Seketika, cairan tubuhku membeku. Aku tertunduk, sesekali mengintip ke arahmu yang telah beberapa detik lalu melepaskan pandangan ke arah lain.
Bibirmu keriting. Seperti anak kecil yang ngambek katena tidak dibelikan robot-robotan.
Aku menggodamu. Mencari-cari perhatianmu seperti yang sudah-sudah saat kamu asik dengan dunia ciptaanmu. Ya, dunia yang terkadang membuatku mati penasaran. Yang membuatku terpaksa mengintip2 dari celah yang luput dari pengamatanmu.
Kamu bergeming. Menyebalkan. Tapi, aku selalu jatuh hati pada pemandangan itu. Kamu diam sambil pelan2 menghabiskan segala sesaji yang ada di atas meja. Kuamati kamu dari sisi tergelapku. Sungguh indah tak tergantikan.
Lalu, tiba2 dari rimbun sunyi yang sama2 kita cipta, kamu berkelakar disambung tertawa riang. Aku tak paham. Tetapi, tawamu selalu ciptakan euforia. Dan aku menyukainya.
Lalu, aku terpaku. Ingin menikmati warnamu sampai energiku benar-benar habis dan tak ada daya lagi untuk berupaya ada di sampingmu.

Itulah kamu. Segelas es cokelat yang manis, pahit, sedikit asam, sedikit gurih, dingin dan buihnya mulai surut di beberapa sedotan terakhir.

Batavia Cafe, Kota Tua Jakarta
26 Mei 2013
1.33 PM

Meteor

Aku berlari seperti meteor. Api semangat mengikis luka dan serpih amarah berserak di lautan.

 Gelora Bung Karno
26 Mei 2013
08.09 AM

Takdir untuk Kita

Pagi telah menetas. Bulir-bulir semangat telah kukemas. Aku membawa pulang hatimu yang masih berbalut cemas. Hati kita yang cemas.
Tapi lihatlah, matahari sirnakan gusar. Ke sanalah langkah kita harus mengejar.
Takdir untuk kita. Walau tak seperti mau kita, menjalaninya dengan lapang dada adalah hal terdahsyat yang kita punya. 


Sevel Rawabelong
26 Mei 2013
06.30 AM

Pohon Kita

Sejak dulu aku selalu tahu, pohon hias yang sama-sama kita pelihara tak mungkin tumbuh sempurna. Bahkan, katamu pohon itu akan melahirkan buah beracun yang bisa membunuh. Tapi, pohon itu terus kupelihara. Kupupuk hingga melangit dan setiap pagi selalu kuperlihatkan padamu betapa menakjubkannya pohon kita. Sesekali kamu membantuku menyiraminya dengan air dari sungai.
 

Tapi, ternyata kamu memang benar. Pohon kita tidak sempurna, memang tidak sempurna. Pohon itu makin lama makin membusuk, ciptakan aroma yang merusak tanaman di sekitarnya. Tapi, aku selalu yakin pohon itu akan baik-baik saja. Kamu pasti mengerti bagaimana aku jatuh cinta pada pohon itu.
 

Pohon itu akhirnya berbuah. Hanya satu-satunya. Separuh untukku, separuh untukmu. Kamu selalu ragu, lalu melarangku memakannya. Tetapi, aku yakin pohon penuh kasih sayang itu baik untuk kita. Aku merayumu untuk sama-sama denganku memakan buah itu. Dan ternyata, kanu benar. Kini kita benar-benar keracunan dan hampir sekarat karena memakan buah itu. Lalu, di tengah sekaratmu, kamu coba untuk mengeluarkan racun di tubuhku. Kamu berusaha keras.
 

Sementara, aku tak berdaya dan semakin menyadari sesuatu. Tentang kamu, tentang aku, dan pohon yang harusnya dulu tak kita pelihara atas kehendak bodohku.

Monas
26 Mei 2013
5.30 AM

Pagi Mulai Tiba

Pagi mulai tiba, memaksa malam segera bergegas membawa purnama pergi tinggalkan rumput yang masih lelap dalam dekapannya.

Taman Menteng
26 Mei 2013

25 May 2013

Melankolia

Maaf, kini aku sulit menahan ingin untuk bermelankolia. Mengkhianati inginmu yang selalu mau aku berdiri, membaur dalam tawa sang hingar bingar dunia yang terus menyalak.
Sesekali aku bisa. Tetapi, kadang aku memilih beranjak ke sisi tergelap dunia, lalu membenamkan diri dalam romantisme kacangan yang kadang membuatmu terbahak karena ingus bocah menetes di atas bibirku.
Ya, aku memang pernah berjanji untuk selalu tangguh seperti karang yang diterjang ombak laut selatan. Tapi kita lupa bahwa tetesan air pun ternyata bisa membekas di keras bebatu. Ya, seperti tetes sabarku yang pada akhirnya bisa sedikit menaklukkan keras batu hatimu.
Dan inilah titik payahku yang selalu membuatmu mencibir geli. Ombak kehidupan telah membuatku goyah. Aku tak marah, karena aku juga beranggapan demikian. Ya, aku konyol dan menggelikan. Kamu selalu tahu tentang itu, tentang isi kepalaku yang kadang kusembunyikan jauh di lubuk entah. Bahkan terkadang aku sendiri tak pernah tahu. Sial.
Lalu, bagaimana denganmu? Benarkah kamu setangguh pencitraanmu di hadapanku? Atau kini diam-diam kamu juga sedang bermelankoli. Kamu sembunyi agar tak ketahuan olehku sehingga tetap tampak jadi juara hati yang penuh gengsi. Atau kamu masih seperti dulu, membenci sisi melankolis yang mendominasi altar langitku, lalu kamu berusaha terlihat berdiri agar aku tak ikut-ikutan sepertimu dan kembali jadi raja drama yang mabuk dalam melankolia.

Izinkan aku bermelankolia. Tak lama. Agar terkikis seluruh bebatu yang menyumbat alir sungai menuju muara.
Tak lama. Sungguh, demimu semua ini akan kubuat menjadi tak lama.

#tulisan iseng sambil gogoleran di kasur dan sesekali nyruput teh madu ^^

25 Mei 2013

23 May 2013

Empat Tahun yang Lalu

Empat tahun lalu, tempat itu jadi awal petualanganku di dunia baru. Dunia yang tak pernah kuprediksi ada apa atau bertemu siapa, juga bertemu kamu. Dulu, aku tak pernah sekalipun meminta pada Tuhan untuk berjumpa mahluk aneh sepertimu. Ya, mahluk sarat anomali yang kerap ciptakan ambigu dan ragu. Lalu kamu jasi malaikat yang mendadak hadir di depan mata, yang mendadak jadi satu2nya dermaga yang dituju kapalku, padahal begitu banyak nyiur melambai-lambai di banyak dermaga lain.
Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Menunggu kamu menjadi nyata. Jadi puzzle utuh yang selama ini kususun satu demi satu sehingga utuh menjadi paras kromatismu. Ya seperti itu.
Aku sabar dalam gigil dan gusar. Sesekali aku meringis. Sekuat tenaga menahan bebal, atau melarung dari hujam telunjuk dunia yang selalu menyalahkan.
Pula, sekuat tenaga kubungkam energi sarat hasrat. Kupendam dalam-dalam, dan energiku nyaris habis untuk memendam semua. Ini seperti bom waktu.
Rasanya lengkap sudah. Tawa yang kita bagi, meski kadang diam-diam. Kemarahan yang kini tak sungkan lagi kau ruah, meski tak lama kita kembali duduk sebangku sekadar berbagi kisah.
Pula di kepalaku. Tsunami dan api telah jadi makanan sehari-hari, dan aku lebih siap menghadapinya.
Ini tahun keempat. Pelan-pelan ada hati yang mendekat. Hati yang selalu ingin kubiarkan dekat. Hati yang terus terasa terikat, meski kadang sajak-sajak lupa kucatat.
Ini aku. Di tempat ini, yang diberi hadiah berupa makhluk absurd yang ingin terus kudekap walau api lukai tubuhku yang meringkih.
Tuhan, anugerahkah rasa hati berpelangi ini? Jika bukan, kukembalikan semua pada kehendak-Mu meski begitu banyak tanya yang tak seorang cendikia pun mampu menjawab....

#Tulisan iseng di depan segelas es teh rasa leci ^^

23 Mei 2013

10 May 2013

Yang Penting Sudah Berusaha

Setiap manusia pasti punya keinginan, punya harapan, punya mimpi, dan punya cita-cita yang ingin dia wujudkan. Bisa keliling dunia dan foto-foto di berbagai objek wisata seru dan terkenal di planet bumi. Bisa mengumpulkan anak-anak kurang beruntung dalam satu rumah singgah yang diisi dengan hangat cinta kasih. Bisa traktir gebetan makan dan nonton setiap hari. Bisa beli rumah semegah istana di tengah kota. Bisa ikut serta di program-program sosial. Bisa ini... bisa itu.. dan bisa bisa yang  lainnya. Mungkin juga sekadar ngajak seseorang yang istimewa bagi kita untuk ngopi-ngopi di coffee shop favorit kita.

Tentunya, semua keinginan kita itu nggak bisa TRING! terwujud begitu saja tanpa adanya proses. Ya, kecuali kalau kita mendadak nemu teko ajaib yang dihuni oleh jin pengabul 3 permintaan.

Itulah yang sedang saya rasakan saat ini. Selama empat tahun ke belakang ini, saya menyimpan suatu keinginan yang sederhana. Tapi maaf, keinginan sederhana itu nggak mungkin bisa saya bagi kisahkan di sini. Ya, keinginan yang simple sebetulnya, tapi rasanya khusus bagi saya, itu sangat sulit diwujudkan. Bahkan, kadang-kadang saya iri sama orang-orang di sekitar saya yang bisa dengan mudahnya mewujudkan keinginan yang serupa dengan saya.
Selama ini, untuk mewujudkan keinginan yang sederhana itu, saya sudah banyak berusaha. Sudah berupaya dengan banyak cara plus meminta dalam doa pada Sang Maha Pengabul Permintaan. Tapi, ya ternyata memang sulit.
Kadang, saya merasa desperate dan bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan diri saya?

Tapi, lah sudahlah yah.
yang penting saya sudah berusaha.....

Singa Betina dan Burung Bangkai

di sana mereka koar-koar
sekomplot burung bangkai yang menunggu singa betina
hengkang dari mangsa yang sudah puas dicicipnya

serpih daging berserakan
muka licik burung bangkai itu menyeringai
berebutan
tak peduli kawan atau saudara

singa betina menuhankan diri
jadi penentu hidup mati makhluk lemah di sekitarnya
dia mengagungkan kemewahan singgasana
enggan berpindah
siapa membantah, satu sentilan bisa mengubah arah langkah si pembantah

pula burung-burung bangkai
merasa aman di ketiak sang singa
dengan remah-remah bangkai yang selalu tersisa
tak ada tuntutan meski singa semakin serakah

ternyata
burung bangkai kena kutukan
bagi makhluk pengagung gemerlap berlian

07 May 2013

Guladig Guilt

Beberapa hari lalu, tiba-tiba saya dipertemukan kembali dengan teman-teman masa kecil saya melalui grup blackberry messengger yang dibuatkan oleh WPS. Berbagai ekspresi kangen meluap-luap dari jemari kami. Dari mulai saling tanya posisi sekarang, saling mengingatkan cerita-cerita jadul yang ternyata sangat chromatic, juga saling membuka untold story yang ternyata lucu banget.
Sampailah kenangan saya kembali diobok-obok dan dikupas-kupas oleh ketikan chat MBA, sahabat paling lengket bagi saya waktu SD, tentang bullying yang dulu pernah kami lakukan secara tidak sadar sebagai seorang bocah kepada salah seorang siswi tak berdosa bernama ST.

Sungguh, cerita tentang ST luput dari memori saya yang biasanya lebih kuat dibanding teman-teman lain dalam mengingat peristiwa masa kecil. Bahkan, di segambreng tulisan atau buku-buku saya, termasuk buku "Kisah Bocah", saya belum pernah menuliskannya. Ya, walaupun salah satu tokoh utama di novel saya "Divan dan Hujan" bernama sama dengan ST yang kini entah berada di mana.

Jadi, dulu itu ada seorang anak perempuan yang satu kelas dengan saya, ya itu tadi, namanya ST. Dulu, entah karena apa, anak-anak satu kelas memusuhi dia. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang melakukan praktik bullying. Maklum, bocah-bocah cilik yang suka geng-gengan dan akrab dengan musuh-musuhan, sebel-sebelan, dan lain sebagainya.
Lalu, dari sharing cerita di grup kemarin itu, barulah saya tahu, anak-anak di kelas membencinya karena menganggap ST itu jorok. Katanya, senang naruh upil di kolong bangku, pup di kelas, dan lain-lain, yang saya pikir, sepertinya itu memang hal yang sering dialami banyak bocah lain.
Tapi, sepertinya nasib atau entah apa, yang membuat semua itu menjadi lebih ekstrim mendera masa kecil ST yang seharusnya dipenuhi oleh canda tawa dan keriangan.

Kemarin itu, MBA mengajak kami untuk berpikir, untuk sedikit membayangkan, bagaimana rasanya menjadi seorang anak perempuan yang secara akademis pun sering dicemooh oleh pengajar lantaran nilai-nilai ulangan yang buruk, yang dimusuhi secara massal, bahkan oleh beberapa orang yang sekadar ikut-ikutan 'trend' memusuhi dia dan bersama-sama menjulukinya 'Guladig'.

Entah dapat dari mana kata 'Guladig' itu. Entah siapa juga yang mempopulerkannya sehingga melekat di diri ST selama bertahun-tahun di masa SD yang seharusnya penuh cerita seru dan lucu.
MBA juga membuat pengakuan, dulu saat dia menjabat sebagai Ketua Murid (KM atau Ketua Kelas), ST pernah sakit parah, menurut WPS dia kena asma. Sebagai KM, seharusnya MBA menolong temannya. Tetapi, karena merasa gengsi dan ada embel-embel 'Guladig' yang melekat pada ST, tugas mulia seorang KM untuk menjaga teman-teman sekelasnya pun dia abaikan.
Begitu juga dengan saya. Walaupun tidak pernah ada dendam khusus pada ST, karena memang ST tidak pernah menzalimi saya atau banyak berinteraksi dengan saya, saya pernah melakukan tindak diskriminatif terhadapnya. Ya, saat perayaan ulang tahun saya yang ke-11, saya tidak mengundangnya. Sebetulnya itu bukan kehendak saya. Saya tidak mengundang ST karena beberapa anak perempuan mengancam tidak akan datang jika ST diundang juga. How stuppppiiiiddd me. Itu salah satu kesalahan saya terhadap ST yang saya ingat. Selebihnya saya juga lupa.

Wew. Saya benar-benar mencoba membayangkan, bagaimana perasaan saya jika saya menjadi ST saat itu. Dia hidup menjalani hari-hari bersama segambreng teman yang membencinya tanpa alasan bernalar. Ya, alasan bocah yang kadang tak masuk di akal, tetapi memang itulah dunia pikiran mereka.
Dan salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika perpisahan kelas, ST menangis. Dia terlihat paling bersedih karena perpisahan itu. Entah.

Hufft... belasan tahun sudah kami lewatkan. Apa kabar dengan ST? Apakah ulah kami semasa SD berdampak istimewa bagi kelanjutan hidupnya kini? Atau kini dia juga sudah melupakannya dan menganggap semua kekejaman yang diterimanya dulu sebagai kisah masa kecil yang tidak terlalu penting untuk diingat?

ST. Andai ada kesempatan, rasanya ingin sekali saya meminta maaf, lalu berbagi tawa bersama, ya canda tawa yang mungkin tertunda, yang dulu terpenjara oleh ego dan gengsi kami yang tidak mau dipanggil 'GULADIG' karena berdekatan dengan ST.





01 May 2013

Ada Sebab, Ada Akibat

Kaca dilempari batu? Pecah. 
Pohon kelapa tertiup angin? Goyah. 
Susu dikasih citric acid? 'Pecah' juga. 
Kertas disobek? Ya sobek. 
Buah apel dilempar? Jatuh ke tanah. 
Air direbus? Mendidih. 
Beduk dipukul? Peluit ditiup? Gitar dipetik? Berbunyi.

Ada sebab, ada akibat. Hukum itu berlaku di mana saja, di kolom hidup mana saja. Jadi, jangan banyak protes jika air yang kita rebus menjadi panas dan mendidih, atau saat kaca yang kita lempari batu jadi pecah.
Jika kita tidak mau air jadi mendidih dan kaca menjadi pecah, ya jangan pernah merebus air itu dan melempari kaca itu dengan batu.

Kita harus banyak bertanya pada diri sendiri, apa yang menyebabkan segala sesuatu terjadi atau dialami oleh kita, apalagi jika itu adalah hal buruk. 
Temukan penyebabnya, lalu perbaiki agar di kemudian hari tidak terjadi lagi.

#catatan untuk diri sendiri. 
Bagi yang sering ge-er bahwa saya menulis untuk Anda, maafkan Anda selalu salah. ^^