17 September 2011

Dunia dan Kaca Mata



(sumber gambar: http://mychinaconnection.com/wp-content/uploads/2010/12/rose-colored-glasses.jpg)

Adakah di antara kita yang tahu isi setiap sudut jagat raya yang membentang luas, jauh melebihi batas kemampuan nalar?
Sempat merasa jengah dan terganggu dengan pengungkapan seorang kawan saat kami sedang mendiskusikan hal yang mungkin sepele bagi dia dan orang lain, tapi tidak bagiku.
Terkadang kita menganggap kaca mata kita, yang sehari-hari kita gunakan untuk bernalar dan berupaya memahami sesuatu, sebagai satu-satunya sudut pandang yang mutlak harus menjadi standar bagi orang lain, khususnya orang-orang di sekitar kita.
COntohnya, saat di suatu kota akan dilaksanakan konser musik penyanyi A. Jika kita adalah salah satu penggemar berat penyanyi A, akan tumbuh asumsi bahwa konser tersebut akan sukses. Tentu saja asumsi tersebut didasari oleh pemikiran sedarhana kita tentang penyanyi A. Kita menganggap bahwa kesukaan kita akan menjadi kesukaan publik tanpa mempertimbangkan warna-warni dan cita rasa orang lain dalam menanggapi penyanyi A.
Begitu juga sebaliknya. Saat ada konser penyanyi B yang tidak kita sukai,kita akan mengambil simpulan bahwa konser penyanyi B tidak akan sukses lantaran kurang peminat. Hal tersebut muncul karena ketidaksukaan kita terhadap penyanyi B yang diwarnai oleh 'ego' kita sebagai 'ego'.
Biasanya, saat memegang teguh pemikiran semacam ini, lebar dunia seakan menyempit menjadi selebar diameter kaca mata yang kita pakai. Pemikiran dan rasa suka kita seolah mewakili seluruh umat yang ada di muka bumi. Padahal, pada kenyataannya, di luar sana, bahkan di luar pagar halaman rumah kita, ada banyak rasa, kesukaan, keinginan, pola pikir, cara bernalar, dan aneka warna hidup yang bisa jadi belum pernah kita kenali.

Padahal, saat dikembalikan pada setiap individu, jelas, masing-masing memiliki keunikan tersendiri dalam berpendangan. Alangkah angkuh dan sombongya kita jika menyamaratakan pemikiran orang lain dengan pemikiran kita, apalagi memaksa mereka untuk mengikuti pikiran pribadi kita.

Dunia ini begitu luas, tentu dengan penghuni yang begitu kaya rupa dan warna. Apakah kita mengenali mereka semua? Hanya manusia arogan dan takabur yang bisa mengatakan 'ya' sembari menyimpulkan bahwa pola pikir mereka sejalan dengan kita.

Kupikir, tak perlulah kita gelisah dengan warna-warni pola pikir umat sedunia, termasuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Masing-masing memiliki hak yang sama untuk memelihara pemikirannya dan mengungkapkannya tanpa indikasi mengintimidasi dan memengaruhi pihak lain di luar dirinya.

Tak ada salahnya melihat dunia dalam cakupan yang lebih luas, belajar memahami, mengakui, dan menghayati konsep lain yang berada di luar kita, lalu mengakui bahwa di dunia ini ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui.

Yakinlah bahwa dunia tak hanya sepanjang diameter kaca mata kita, dan jangan pernah sekalipun menyamaratakan pola pikir orang lain dengan pola pikir kita. Masih begitu banyak hal yang berada di luar jangkauan pengamatan kita.