16 November 2012

Catatan Sebatang Rokok -untuk kawan-

Pada kesempatan kecil ini, aku akan berkisah tentang serpihan kecil perjalanan pertemanan denganmu.  Ya, cerita tentang pertemanan yang istimewa bagiku. Itu bagiku, tapi entah bagimu.
Di sela telunjuk dan jari tengah tanganku, kini setiap hari bertengger sebatang rokok yang datang dan pergi dengan siklus yang sangat cepat. Ya, jauh lebih cepat dari siklus ulat yang selalu gigih bermetamorfosis menjadi kekupu.

Tak pernah terbayangkan olehku di tahun-tahun sebelumnya untuk bisa sedekat ini dengan asap rokok. Padahal, menghisap sebatang rokok sepertinya tak pernah ada dalam buku harian masa remajaku, kecuali saat sesekali aku penasaran melihat kawan mengembuskan asap, atau saat sisa rokok Bapakku masih berasap di asbak, dan dia sedang buang air kecil di toilet. Itu sesekali, bahkan bisa jadi hanya sekali-kalinya.
Atau, kecuali juga saat setumpuk bahan skripsi sedang kuramu saripatinya di sebuah kamar bercat kuning dengan jendela terbuka di tengah malam yang terasa hampa. Atau lagi, saat aku iseng menemani seorang kawan melahap tahu gejrot dan es goyobot di Jalan Kliningan Bandung. Hanya itu kenangan masa lalu yang kupunya tentang sebatang rokok.

Kini, sungguh mati, asap rokok mondar-mandir lewati celah gigiku setiap hari. Mungkin, sesekali kuizinkan melewati hidung, dan kadang aku sangat ingin mencoba untuk membiarkannya keluar lewat lubang telinga.
Sejak kapan? Aku lupa. Yang aku ingat, di awal-awal pertemuan kita, kau pernah bertanya, apakah aku perokok (sepertimu)? Kutegaskan, tidak, walaupun aku belum lupa caranya menghisap rokok.

Kini, ketegasanku hari itu memang harus dipertanyakan, karena tidak ada lagi kata 'tidak', kecuali saat aku merasa pernapasanku sedang tidak sehat. Padahal, jika kubaca berbagai artikel atau ulasan di banyak media, termasuk Wiki atau Tuan Google yang sering kau jadikan senjata pamungkas atas serangan pertanyaan-pertanyaanku, merokok itu sangat tidak sehat. Racunnya tidak akan hilang hanya dengan minum air putih, atau segelas teh jahe yang kini justru malah jadi partner kompak dengan rokokku.

Kawan, makin lama, aku makin menyadari, dari sebatang rokok, seperti yang sedang kusulut ini, aku semakin menemukanmu. Dari setiap asap yang kadang kita embuskan dalam napas yang sama, terselip kisah-kisah yang begitu sarat akan warna dan rasa, walaupun jumlah kata yang terlontar dari mulutku selalu lebih banyak darimu.
Perlahan aku mulai mengenalimu, aku tak yakin sejauh apa kini aku mengenali keutuhanmu, tetapi setidaknya ada banyak cerita yang terekam di ingatanku. Sayangnya, tidak semua cerita-cerita itu kucatat dengan baik.

Satu hal yang membuatku selalu merasa nyaman, berkawan denganmu aku selalu merasa jadi diriku sendiri. Pemikiranmu yang bagiku begitu luas bagai lautan, ya lautan yang dalam beberapa kesempatan pernah kita tatap bersama, membuatku tak perlu repot merogoh daya sekadar membangun sekat atau memasang saringan teh raksasa saat sedang berceloteh. Itulah yang membuatku percaya dan tanpa sungkan bisa berkisah apa saja dan apa adanya. Bahkan, celotehan tentang mimpi dan firasat yang mungkin menjadi lelucon dan ketakwajaran bagi orang-orang kebanyakan.

Kupikir, rokoklah yang sebenarnya telah mempertemukanku denganmu, dengan deret malam panjang yang pernah kita habiskan di sudut jendela berhias lanskap kotaku, dengan embusan angin Kuta yang membuat tubuh kuyupmu gigil selepas bermain dengan samudera, dengan birunya teluk Palu di bawah hujam matahari panas menyengat, juga dengan segelas es kopimu dan teh jaheku sehari-hari.
Dan di sela-selanya ada cerita kemarahan tentang dunia yang sama-sama kita pijaki. Kadang, ada celoteh tak masuk akal  namun fantastis yang tergiring dengan sendirinya, atau paranoia yang berusaha kita sembunyikan tentang hantu dan sebangsa makhluk-makhluk astral yang. Juga, setangkup sandwich kisah lain yang kali ini tak perlu kuurai untuk dibagi.
Aku senang. Berkawan denganmu terasa bagai euforia panjang yang tak mengenal akhir.

Suatu hari, di batang kesekian yang pernah kuisap di sampingmu, aku terbangun di sebuah kesadaran yang nyata. Di situlah kutemukan pertanda bertema 'pertemuan dan perpisahan'. Dari situlah aku kembali menelusuri jejakku dengan kawan-kawan terbaik dalam hidupku yang kini entah sedang apa, bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah mati. Dulu, aku bersama mereka, sekarang tidak. Sekarang, aku berada di dipan yang sama denganmu, besok belum tentu. Dan aku yakin, kelak akan ada sosok-sosok lain yang tanpa diduga bisa menjadi istimewa sepertimu sekarang ini di deret kisah harianku. Cepat tak cepat, lambat tak lambat, siap tak siap, sedih tak sedih, senang tak senang, mungkin eksistensi 'kita' di pulau kehidupanku ini akan segera bertransformasi menjadi wujud lain. Dan kau adalah pelancong yang mungkin kini sedang memperbaiki kapal untuk pelayaranmu selanjutnya, menuju ranah lain yang sampai detik ini masih terselubung kabut. Lalu, perlahan waktu akan menyingkap kabut itu sehingga jelas ke mana dermaga tujuanmu nantinya.

Kawan, kini, setiap kuisap sebatang rokok bersamamu, aku selalu bertanya, berapa batang lagikah rokok yang akan kuhabiskan denganmu?

16 November 2012 ~03:27 AM

No comments:

Post a Comment