07 April 2013

Saat Pernah Jatuh Hati dan Patah Hati

Saya pernah jatuh hati pada seseorang. Seseorang itu saya jadikan sasaran ekspektasi rasa hati. Tentu saya memilih untuk jatuh hati dengan kesadaran bahwa tidak setiap hati bisa saling terkoneksi. Jadi, hati lapang saya selalu membuka diri bagi kemungkinan datangnya kekecewaan karena kisah cinta tak berbalas yang sebetulnya sangat mainstream dan sering dialami banyak orang.

Maka, saat saya tahu dia tidak bisa berbalik arah pada saya dan membalas rasa yang saya punya, saya sikapi dengan bijak dengan adil. Saya tanamkan keyakinan bahwa setiap orang memang berhak jatuh hati pada siapa saja, pada apa saja. Tetapi, objek yang dicintai pun punya hak untuk menentukan apakah akan berbalik mencintai atau tidak. 
Tidak ada seorang pun yang berhak memaksakan kehendaknya, kecuali orang sombong yang akan selalu kecewa saat keinginannya tidak terwujud.
Usaha? Boleh tetap dilanjutkan, asalkan realistis dan segera bangkit menuju kesadaran bahwa tak setiap hal yang kita inginkan akan kita dapatkan. Ya, seperti lagu ciptaan saya dengan sahabat saya, @ariefnuno.

"... tak setiap keinginan dapat jadi kenyataan, tapi yakinlah yang terbaik yang akan kita dapatkan" 

Kadang, ada orang-orang yang senasib dengan saya, dia malah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Contohnya adalah hal-hal berikut. 


  • Ada yang cerita sana-sini agar tercipta citraan bahwa dirinya adalah objek penderita, dan orang yang tak bisa didapatkannya adalah orang terjahat di muka bumi yang wajib diasingkan.
  • Ada yang berusaha membalas rasa sakit hati (yang sebetulnya dibuatnya sendiri) dengan cara berupaya mencari  figur lain untuk dijadikan 'alat' untuk membuat orang yang tidak bisa didapatkannya merasakan kecemburuan.
  • Ada yang sengaja berakting menunjukkan sikap tidak bersahabat pada orang yang tak bisa didapatkannya. Tujuannya adalah agar orang-orang di sekelilingnya menganggap ada sesuatu yang besar tengah terjadi.
  • Ada yang berusaha sekuat tenaga untuk memperlihatkan bahwa ada orang lain yang mendekatinya. Tujuannya tentu saja untuk menciptakan gejolak cemburu yang diwarnai oleh keinginan untuk membalas dendam atas rasa sakit yang sebetulnya diciptakan sendiri.
  • Sekarang ini zamannya social media. Mungkin hampir semua orang yang melek teknologi memanfaatkan social media. Social media inilah yang bisa dijadikan sasaran empuk untuk mencari 'dukungan' dari teman-teman sekitar yang sama-sama terkoneksi melalui jejaring sosial tersebut. Selain itu, social media juga bisa dijadikan untuk show, menunjukkan pada orang yang tidak bisa dia dapatkan bahwa sudah ada orang lain yang mengisi hatinya, yang dia anggap sudah dicabik-cabik (padahal jalan pikiran dirinya sendiri yang mencabik-cabiknya).


Ya, apapun itu, kadang kalau untuk urusan hati, ya memang sulit dibuat kendalinya. Kadang, beberapa bagian hati kita ingin menciptakan kontrol atau sistem pengendalian internal yang oke. Tetapi, pada akhirnya, perasaan dan sisi melankolis kita menepis semua logika dan membuat otak kita dipaksa menganggap bahwa diri kitalah yang menderita. Bahkan, kadang kita tergiring untuk memutarbalikkan fakta dan melejitkan salah satu sifat dasar manusia yang bermuatan negatif, yaitu tidak mau disalahkan dan orang lainlah yang seharusnya salah.

Sekali lagi saya sampaikan, saya pernah jatuh hati pada seseorang, lalu saya patah hati karena hati kami tidak bisa dikoneksikan sesuai dengan keingian saya. Tetapi, saya tidak pernah berusaha untuk 'membalas' dia, apalagi dengan cara-cara konyol seperti yang saya bahas sebelumnya. Sekali lagi saya tegaskan, kita berhak jatuh hati pada siapa saja, dan orang yang kita jadikan objek jatuh hati tidak punya kewajiban untuk membalas rasa hati yang kita punya. 

Semoga hati kita selalu tertuju pada orang yang benar-benar dihadirkan Tuhan untuk menciptakan koneksi rasa hati dengan kita. Rasa hati yang kuat, tulus, dan mengalir bagai sungai Seine.

No comments:

Post a Comment