02 July 2013

Tatap Mata Pertama

http://www.free-desktop-backgrounds.net/free-desktop-wallpapers-backgrounds/free-hd-desktop-wallpapers-backgrounds/832137234.jpg
 
Dia terlalu hebat, terlalu kuat dan tak sadari bahwa ada luka meradang di hati dan otaknya. Dia terus menggenggam tatap mata pertamamu.

Dia tak pernah sekalipun meminta pada Tuhan untuk dipertemukan denganmu, orang yang pada akhirnya jadi tempat cintanya bermuara. Begitu juga dengan kamu. Tak pernah sekalipun kamu berfirasat atau bermimpi akan kedatangan seorang yang memiliki cinta terhebatnya untukmu.

Kalian bertemu dalam sebuah sistem rencana Tuhan. Persinggungan tatap matamu dengan matanya telah lama dipersipkan dalam rancangan penciptaan semesta. Tanpa diminta, tanpa dikendalikan kekuatan manusia manapun, kalian bertemu untuk kali pertama.

Lalu, energi di masing-masing tubuh kalian bereaksi. Dia menjadikan tatapan pertama itu sebagai salah satu memori terbaik di sepanjang usia tubuhnya. Sementara, kamu juga mengagumi tatapan mata pertamanya. Tetapi, kamu berbeda. Dengan segunung arogansi, kamu meredam euforia. Kamu menyimpan tatapan itu di ladang-ladang sejarah biasa, yang tak terawat dan tandus, lalu terlupakan. Tapi, bertahun-tahun setelah itu. sesekali kamu mengakui bahwa kamu juga merasakan keindahan yang nyata.

Bertahun-tahun sejak itu, dia selalu menyimpan tatapan mata pertamamu. Dibawanya tatapan itu bersama terbit tenggelam matahari. Ditafsirkannya kelucak bahagia tiap ada kamu sebagai rona cinta, sebagai jernih renjana yang terus mengaliri sungaimu. Tetapi, sungai keringmu terlalu batu untuk bermain dengan riak air. Kau bergeming, tak berhasrat menghijaukan dunia yang dilalui oleh aliran kasih sayangnya.

Kamu selalu tak peduli, tetapi dia juga selalu tak peduli pada ketakpedulianmu itu. Dia mencintaimu tanpa ekspektasi. Itu yang bisa membuatnya berdiri. Dia selalu bisa bertahan dengan penolakan-penolakan yang kamu obral di sepanjang jalan. Dia mengerti bahwa tidak setiap hati bisa terkoneksi secara sempurna. Ya, sesempurna cerita-cerita cinta yang selalu berakhir dengan bahagia. Dia berfirasat bahwa kisah ini tak mungkin bisa berakhir bahagia. Apalagi responmu yang batu dan konon telah menghancurkan banyak hati sang pencinta. Tapi, dia masih saja jadi orang hebat yang terus tanpa henti mengalirkan seluruh nyawanya untuk mencintaimu. Dia yang diam-diam menyeka lukamu, dia yang diam-diam mengirim bunga, yang selalu hadirkan bahagia di dadamu, tapi selalu kau sembunyikan.

Bodohnya kamu. Dengan angkuh di ubun-ubun, kamu pernah mencampakkan bunga itu di jalanan. Dia menangis. Kamu menyesal. Tapi, kamu berpura-pura. Dia juga berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia terus memendarkan cintanya untukmu.

Sekarang, dia melemah. Hatinya diselimuti lubang dan duka. Sementara, otaknya dipenuhi virus kenangan bergambar muka sombongmu. Tapi dia tidak menyadarinya, bahkan sampai kamu pergi.

Kini, setiap hari dia duduk di jendela. Menerawang menunggumu datang sambil menyimpan segenggam ingatan tentang tatapan mata pertamamu waktu itu.

No comments:

Post a Comment