07 July 2013

Pengembara yang Tersesat

Dia pengembara ulung, seluruh ujung mata angin dijelajahinya tanpa ragu mengurung. Tetapi, dia tersesat di tanah lahirnya. Meski telah lelah dia rapal mantra, kabut pikir tak relakan pendar bintang sampai ke penglihatannya. Lalu, dia membaca angin. Diikutinya gestur cuaca kota yang mendadak terasa gulita. Asing. Bagai tiada jejak sejarah bahwa alam telah jadi saksi atas kelahirannya.
Dia nyaris cucurkan air mata. Tetapi, suara bunda lamat merambat telinga. Dibisikannya kidung pemecah awan mendung.

"Ini tanahmu, arungi dengan berani dan rendah hati. Cuaca jiwa penghuni-penghuninya tak menentu. Tanamkan bahwa hangat mentari akan selalu kembali."

Pengembara menengadahkan kepala. Ditatapnya sehampar jejak Sangkuriang dan telungkupan perahu yang dulu pernah ditendang.
Dia tersenyum. Pepohon masih merunduk di sepanjang jalan yang dipenuhi gemerlap yang entah.
Dia pun melesat. Kembali jadi penguasa jagatnya sendiri yang dulu pernah dia ciptakan beralaskan mimpi.
 
Gedung Sate Bandung
7 Juli 2013
10.23 PM

2 comments:

  1. Kunjungan pertama. Salam kenal sesama orang Bandung

    Tulisannya dalem banget. Emang ya... semangat juang kembara hidup itu sering naik turun.

    ReplyDelete
  2. Sudah nasibnya pengembara itu tersesat ;p

    ReplyDelete