05 August 2015

"Maafkan Kami, Tuan Capung" - Majalah Bobo Nomor 16, Juli 2015




oleh Ighiw
 
Setiap musim kemarau, kebun di belakang sekolah dipenuhi oleh capung. Anak-anak di Desa Sarijadi biasanya berkumpul di sore hari untuk berburu capung. Begitu juga dengan Angga dan Erik. Mereka datang ke kebun belakang sekolah sambil membawa sebuah kantong plastik. Kantong plastik itu akan digunakan sebagai wadah menyimpan capung hasil tangkapan mereka.

Di rumah, Angga bermain di teras dengan capung-capung hasil tangkapannya. Dia lalu mengambil seekor capung yang paling besar. Kemudian, Angga mengikatkan sehelai benang jahit di ekor capung tersebut. Setelah itu, Angga melepaskan capung itu dan mempermainkannya seperti layang-layang.
“Ayo, terbang, Tuan Capung, terbang yang tinggi...” ujar Angga sambil tertawa gembira.
Dini, adik perempuan Angga, kesal melihat perbuatan Angga. Dia tidak tega melihat capung yang seharusnya terbang bebas malah dipermainkan seperti itu.
“Kak Angga, kasihan capungnya. Ayo, bebaskan,” ujar Dini.
“Tenang, nanti Kakak bebaskan. Tuan Capungnya masih ingin bermain,” jawab Angga sambil terus mondar-mandir mengikuti pergerakan capung.
“Kak Angga, capung itu sama seperti kita. Ingin bebas. Dia ingin terbang. Bukan untuk dibuat mainan seperti itu,” ujar Dini ketus.
“Sudah, Dini. Jangan ganggu Kakak. Sebentar lagi Kak Erik mau datang. Kami mau bermain balap capung.”
Angga terus mempermainkan capung itu. Sesekali dia melepas benang yang melilit di ekornya. Kemudian, saat capung itu hinggap di dahan pohon jambu, benangnya dia tarik kembali. Dini kesal. Dia masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut karena gagal menghentikan Angga.
Tidak lama kemudian, Erik datang. Di tangannya sudah tergenggam benang jahit yang mengikat capung hasil tangkapannya.
“Angga, ayo kita balapan!” seru Erik bersemangat.
“Ayo, sini Rik. Tuan Capungku siap jadi pemenang!”
Angga dan Erik begitu asyik menikmati permainan itu. Sementara, Dini yang berpipi tembem mengintip mereka di balik jendela ruang tamu.
“Huh, aku harus merencanakan sesuatu,” gumamnya.
Diam-diam, Dini mengendap-endap menuju teras. Saat Angga dan Erik sedang lengah karena asik bermain balap capung, Dini memungut kantong plastik berisi capung milik Angga dan Erik. Kedua kantong plastik itu tergolek di lantai teras. Tak lupa, Dini menukarnya dengan kantong plastik kosong yang dibiarkan terbuka.
“Hihi.. nanti tinggal bilang saja bahwa capung mereka terbang sendiri,” ucap Dini dalam hati.
Kemudian, di halaman belakang rumah, Dini melepaskan capung-capung tangkapan Angga dan Erik.
“Selamat jalan, para Tuan Capung. Semoga kalian bahagia ya...!” seru Dini melepas kepergian capung-capung yang cantik itu.
Lalu, Dini kembali ke teras depan rumah untuk melihat Angga dan Erik yang masih bermain balap capung. Ternyata, Angga dan Erik sudah tidak ada di tempat itu.
“Ke mana ya mereka?” tanya Dini dalam hati.
Sekarang, Dini berpikir bagaimana caranya membebaskan capung yang sedang dimainkan oleh Angga dan Erik. Dini pun duduk di lantai teras, tepat di atas kantong plastik yang tadi ditukar olehnya.
Tidak lama kemudian, Angga dan Erik datang. Dini merasa heran karena hanya Erik yang membawa capung di tangannya.
“Kak Angga dari mana?” tanya Dini.
“Kakak baru dari kebun, mencari capung baru. Capung-capung Kakak di kantong plastik kabur semua,” jawab Angga.
Tiba-tiba Angga terkejut. Dia menyuruh Dini berdiri.
“Aduh, Dini! Ayo berdiri!”
Dini ikut terkejut dan langsung ikut berdiri.
“Ada apa, Kak?”
Ternyata, di dalam kantong plastik yang diduduki oleh Dini ada Tuan Capung! Tadi, Angga menyimpan capungnya di kantong plastik itu sebelum dia pergi dengan Erik. Dan Dini menduduki kantong plastik berisi Tuan Capung. Saat kantong plastik dibuka, Tuan Capung sudah mati.
Dini menangis karena tidak sengaja menduduki Tuan Capung. Sementara, Angga dan Erik ikut bersedih dan merasa kasihan pada Tuan Capung. Sejak kejadian itu, Angga dan Erik berjanji tidak akan mengangkap capung lagi, apalagi menjadikannya mainan. Mereka sadar, capung juga adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus diperlakukan dengan baik.
“Maafkan kami, Tuan Capung.”                   


  ***





No comments:

Post a Comment