07 September 2008

Drama Pendek "Sepasang Sepatu" - Sigit Rais


SUASANA SEBUAH STASIUN KERETA API. ADA DUA ORANG LAKI-LAKI DAN SATU ORANG PEREMPUAN. MEREKA TERLIHAT LUSUH DAN KELELAHAN. PEREMPUAN ITU TERLIHAT SIBUK MONDAR MANDIR MENCARI SESUATU.

Sumber gambar: http://mainanak.files.wordpress.com/2012/06/td-51021.jpg

Laki-laki 1: (KESAL) Bu, apa yang ibu lakukan? Sejak tadi bolak-balik, mondar-mandir, seperti setrikaan.

Perempuan: (MASIH MONDAR-MANDIR TIDAK MENGHIRAUKAN PERTANYAAN LAKI-LAKI 1)

Laki-laki 1: Waduh, waduh, sombong sekali Ibu ini. Ditanya malah tidak menggubris.

Laki-laki 2: Pssst... biarkan. Nanti juga sudah lelah, dia akan berhenti.

LAKI-LAKI 1 DAN 2 MENGIPAS-NGIPASKAN KORAN DAN MAJALAH KE TUBUHNYA.

Perempuan: (MENANGIS)
Sepatu... sepatu untuk anakku? di mana? Tolong carikan!

Laki-laki 1: Apa? Sepatu? Jadi, sejak tadi Ibu mondar-mandir mencari sepatu?

Laki-laki 2: Memangnya, sepatu itu tertinggal di sini?

Laki-laki 1: Halah! paling tertinggal di gerbong kereta. Mungkin sekarang sudah terbawa sampai ke Kebumen.

Perempuan: Tidak! Tidak mungkin! Jangan sampai! Tolong Pak! Tolong carikan! Demi anak saya! Demi anak saya!

Laki-laki 1: Sudahlah! Beli saja lagi! Repot amat! Memangnya, berapa sih harga sebuah sepatu anak?

Perempuan: Tak ternilai! Itu hasil perjuangan saya! Oh, sepatu anak saya di mana?

Laki-laki 2: (MENCOBA MENENAGKAN) Sudah, Bu.
Ini... (MEMBERI SEBOTOL AIR MINUM)

PEREMPUAN ITU MENOLAK KARENA SUNGKAN

Laki-laki 2: Sudah, jangan sungkan. Ini...

Perempuan: (AWALNYA RAGU) Ta... Tapi... (MERIMA BOTOL) Terimakasih.
PEREMPUAN ITU BERUSAHA MENENANGKAN DIRI. DIA MENGHELA NAPAS. SEMENTARA, LAKI-LAKI 1 MENYALAKAN ROKOK.

Laki-laki 2: Sebenarnya, apa yang terjadi, Bu? Ibu dari mana?

Perempuan: (MENGHELA NAPAS) Saya asli dari Ciamis. Di Desa Banjarsari. Saya bekerja di Kutoarjo, jadi buruh di pabrik jenang. (MAJU KE ARAH PENONTON, MENERAWANG) Anak saya, Wati'ah, sejak lama inginkan sepatu.

Laki-laki 1: (DARI KEJAUHAN) Seusia siapa, Bu?

Perempaun: 7 tahun

Laki-laki 2: Lalu?

Perempuan: Berbulan-bulan saya kumpulkan gaji. Saya ingin membeli sepatu bagus dan mahal untuk Wati'ah. Kasihan, dia sering diejek teman-temannya karena sepatunya dekil dan bolong-bolong. Tetapi... (KEMBALI MENAGIS) Sepatu itu hilang setelah saya berhasil mendapatkannya.

Laki-laki 1: Makanya, hati-hati, Bu! Di kereta mana ada orang jujur? Ya, mau bagaimana lagi? Zaman sekarang, semua orang butuh duit. Cara apapun, masa bodo halal atau tidak, pasti di tempuh.
Pandai-pandailah kita, agar tidak dibodohi orang. Siapa yang tidak mau dibodohi, harus pandai membodohi juga!

Laki-laki 2: Memangnya, berapa harga sepatu yang Ibu beli?

Perempuan: Seratus lima puluh ribu.

Laki-laki 1: (MENGELUARKAN UANG DARI SAKU BAJUNYA) Ini Bu, seratus dua puluh ribu. Hanya ini yang saya bisa bantu.

Perempuan: Sa... saya... tidak bisa...

Laki-laki 1
dan 2: Sudahlah, terima saja

Perempuan: Terima kasih, Bapak-Bapak.

Laki-laki 2: Segera belikan, Bu. Hari semakin senja. Baiklah, saya pamit dahulu. Semoga anak Ibu senang dan tumbuh jadi anak cerdas serta jujur.

LAKI-LAKI 2 MENINGGALKAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI 1. TAK LAMA KEMUDIAN, LAKI-LAKI 1 DAN PEREMPUAN TERTAWA TERBAHAK-BAHAK.

Laki-laki 1: (TERTAWA) Bagus, bagus! Aktingmu luar biasa! Setelah ini, kita pesta-pesta di rumah, sayang!

Perempuan: Ya, iyalah! Merlin, gitu lho! Dasar laki-laki bodoh ya, sayang! Mana mungkin aku punya anak bernama Wati'ah? Jangan gila, dong! Norak.

LAKI-LAKI 1 DAN PEREMPUAN TERUS TERTAWA TERBAHAK-BAHAK HINGGA LAMPU PANGGUNG MEREDUP DAN PADAM.

4 comments: