30 July 2010

Aku, Dia, Lorong, dan Lanskap Itu

Diam-diam, ternyata ada secarik sejarah yang terpahat dalam beberapa bagian kecil memoriku. Ini tentang aku, dia, dan lanskap yang (mungkin) pernah kami lihat dari jendela yang sama.
Satu demi satu kutiti langkah di lorong yang sama, yang dulu (mungkin) pernah mempertemukan aku dan dia dalam situasi yang serba terpaksa sampai pada akhirnya (mungkin)kami saling menemukan di sana.

Kuamati kakiku. Kaki yang memijak lantai masih sama. Masih kakiku yang akhir-akhir ini mulai kehilangan arah. Masih kakiku yang sejak kali pertama perjumpaan itu bergetar tanpa kendali. Masih seperti itu, terutama setiap ada bidikan sepi yang dia hujamkan melalui gestur tubhnya.

Kuamati dinding-dinding yang mengapit kedua sisi pandang mataku. Lalu, takjubku bertumbuh saat visualisasi aku dan dia berkelebat. Datang silih berganti. Ya, menyerupai hantu yang sedikit transparan. Lalu-lalang, terkadang melesat ke arahku, lalu menghilang setelah sejenak kupejamkan mata.

Begitu pula dengan lanskap khas yang akan kuingat selamanya. Lanskap yang (seingatku) pernah kami lihat bersama. Pernah, dia torehkan lucu tingkah di depan lanskap itu.
Dan aku hanya bisa menyimpan sendiri kisah itu karena (setahuku) dia tak mungkin ingat hal-hal sepele semacam itu.

Ternyata memang benar. Ada secarik lembar sejarah yang telah kupahat di lorong-lorong itu. Sejarah yang mungkin tak akan pernah diingat oleh sesiapa, (mungkin) termasuk dia. Sejarah itulah yang akan selamanya melekat di kelopak mataku sehingga tiap aku kembali menyusuri tempat itu akan selalu ada visualisasi yang kerap menumbuhkan kerinduan purba.

Perlahan, kupejamkan mata. Kuhirup udara dengan aroma khas yang telah berganti dengan aroma detik-detik baru. Ada euforia. Ada rasa lega karena aku pernah memiliki rasa bahagia dengan sejarah itu. Ya, sejarah yang (mungkin) tak pernah dia ingat sama sekali.

Aku mulai melangkah, mengukir sejarah baru tentang semua itu.
Aku tak tahu warna apa yang akan menghiasi aku, dia, lorong, dan lanskap baru yang ada di depan sana. Aku juga tak tahu, adakah serpih kenangan tentang lorong dan lanskap itu dalam benaknya. Aku tak tahu. Tak pernah tahu.
Yang aku tahu, aku bahagia karena pernah ada serpih kisah antara aku, dia, lorong, dan lanskap itu.
Dan aku akan selalu menjaga rasa bahagia ini walau ada pisau yang (mungkin) sengaja dia hujamkan ke hatiku yang terkadang merapuh karena kenangan.

No comments:

Post a Comment