01 November 2010

Mungkin Akan Segera Tiba

Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat aku tak lagi menatapmu sebagai kamu yang dulu: pendar bintang di antara gelagat kelam langit hitam.

Akan kutinggalkan setiap jengkal isi hati ini, isi hati kita yang tak pernah terungkap dalam satu definisi. Isi hati kita yang diam-diam terkubur dalam pekat laju detik yang berdetak. Isi hati kita yang terpasung oleh dogma. Oleh dangkal pikiran orang-orang. Bahkan, mungkin oleh ketakutan kita menantang matahari.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat sebongkah tubuh yang selalu kurindu menyata di depan mata. Saat tak ada lagi ingin dan doa untuk dapat merengkuh segenapmu. Saat bisa kutatap dengan lega gambar-gambarmu dalam serpih kenangan yang bisa jadi akan melekat selamanya.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat tawa yang kita bagi tak lagi digores oleh curiga dan tanya. Saat bahagia yang kita bagi menetes semurni embun di pucuk pagi. Tanpa hasrat, tanpa ambisi untuk memiliki, tanpa pretensi, dan tanpa pahit kemauan untuk saling melukai.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat tak ada lagi melodi degup nadi yang menghujam euforia saat kutatap tajam tatap tajammu. Saat diam-diam kita saling menatap dan menelusuri setiap lekuk sejarah masa lalu kita dengan berbagai cara. Saat aku menemukanmu di berbagai istana yang tak jarang menyimpan sosokmu sebagai pemiliknya.



Mungkin akan segera tiba saat itu. Saat aku menghentikan penantian menunggu jawaban. Saat aku berhenti berharap kautemani menyulam matahari. Saat masing-masing tubuh kita telah berpindah tangan pada pemilik hati yang lain.



Semoga segera tiba saat itu. Saat pagi mengurai jumpa dan senja menutup deret kisah suka cita. Saat binar matamu mampu ketangkap sebagai cahaya sederhana. Saat inginku tak lagi berontak melonjak-lonjak.

Dan saat itu, aku akan berhenti menjadi penimbun rindu.

No comments:

Post a Comment