24 October 2014

Polusi Suara

Pernahkah kamu merasa, suara-suara yang terdengar di sekelilingmu terasa bagai polusi yang merusak ketenangan pikiran?

Semisal, di ruang kerjamu, ada delapan orang. Mereka berkelompok, 3-3-2. Lalu, setiap kelompok itu berbicara dengan tema berbeda, tetapi berada pada ruang dimensi yang sama. Sementara, kamu, di salah satu sudut di sekitarnya sedang berusaha berkonsentrasi saat mengerjakan sesuatu. Semua suara teman-temanmu terasa melayang berebutan ke lubang telingamu, dan semua percakapan mereka bisa kamu cerna bersamaan.  Lubang telingamu terasa dikoyak. Suara-suara mereka memaksa masuk ke sana. Tanpa toleransi, tanpa peduli jika otakmu sedang bekerja keras menghimpun konsentrasi.
Lalu, dalam hitungan detik, suara telepon berbunyi. Karena asyik berbincang, mereka malas mengangkat telepon. Suara telepon diabaikan. Mungkin pesawat telepon marah. Suaranya terasa meninggi dan mulai mengincar lubang telingamu. Lalu, dia ikut bergabung dengan suara-suara lain menyerang lubang telingamu.
ARRRGGGH...

Seperti itulah polusi suara. Kamu mencoba berlari ke luar gedung. Suara-suara tadi melesap, lalu hilang. Tapi, di sana suara-suara kendaraan menanti kedatanganmu dan sepasang lubang telingamu. Dalam sekejap, sesaat setelah pintu gedung kamu buka, suara-suara itu langsung memburu lubang telingamu.

Kamu menyerah dalam gerah.
Dunia memang tak tahu diri. Diam-diam mereka menzalimi. Tapi, tak akan ada hukum manapun yang membuat mereka bisa dipersalahkan. Segala sesuatu di muka bumi punya hak untuk mengeluarkan suara.

Beruntunglah kamu. Semesta telah menciptakan lagu. Nada-nada merdu yang ditunggu-tunggu lubang telingamu untuk menggantikan polusi suara yang sangat tak kamu inginkan adanya.

#catatan di pagi yang sangat berisik dan menyebalkan

No comments:

Post a Comment