19 January 2015

Figur Terjahat

Sumber gambar: http://what-buddha-said.net/Pics/paint-green-envy.jpg
Pernahkah kamu, dalam hidupmu, merasakan hal ini.

Kamu berteman baik dengan seseorang. Kamu merasa semuanya baik-baik saja. Setiap ada permasalahan, selalu ada titik temu. Setiap perbedaan, bisa dituntaskan melalui jalan tengah. Saling memberi dukungan. Saling percaya dan menjaga rahasia. Pertemanan itu tak lekang oleh waktu. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, seiring datang-perginya orang-orang, pertemanan tetap terjaga.

Semua terasa begitu sempurna.

Tetapi, di luar batas tahumu, ada yang disembunyikan oleh temanmu. Kamu hampir lupa bahwa dia adalah lawan jenismu. Bisa jadi diam-diam kamu atau dia menumbuhkan rasa tak biasa. Kamu tak merasakan apa-apa, selain hangat tulus pertemanan.

Diam-diam, sebagai seorang lawan jenis yang nyaman denganmu, dia jatuh hati padamu. Di sela-sela kisah percintaanmu yang kau luapkan kepadanya, dia juga ingin menjadi salah satu pemeran utama. Dia diam-diam menyukaimu. Dia yang tahu banyak tentang kisah percintaanmu, diam-diam mencoba menyingkirkan orang-orang yang mencintaimu, atau orang yang kamu cintai... dengan caranya, yang diam-diam mematahkan. Pelan-pelan melumpuhkan. Tapi, selalu dan selalu, dia berperan sebagai tempat terbaik untuk becerita.

Di kisah-kisah tentang orang-orang yang kamu cintai, dia berikan bumbu keputusasaan di dadamu. Dia tak inginkan kamu jatuh cinta pada siapa-siapa.
Di kisah-kisah tentang orang-orang yang mencintaimu, dia terbarkan aroma kebencian. Di dada orang-orang itu, dia menanamkan kebencian padamu. Dia tak ingin ada orang lain yang jatuh cinta kepadamu.
Dia tak akan pernah bisa menerima rasa kecewa saat ada orang yang mencintaimu. Lalu, diam-diam dia akan mengusir mereka dengan caranya.

Lalu, pada kisah cinta yang terpaksa dibuatnya dengan kekasih pilihannya, dia mati-matian mencari titik cemburumu. Dia tak bahagia dengan kekasihnya jika kamu tak cemburu. Lalu, dia tak pernah berhasil ciptakan cemburumu. Maka, dia ciptakan intrik-intrik penuh fitnah agar kamu dan kekasihnya bersinggungan dalam titik kebencian.
Kekasihnya dijadikan senjata untuk menunjukkan padamu bahwa di dunia ini ada orang yang begitu posesif padanya. Tapi, bagimu itu tak terasa seperti apapun. Tak ada rasa kesal atau cemburumu. Tak ada sama sekali. Yang ada, hanya dia yang kesakitan sendiri karena dunianya makin membingungkan, dan makin dipenuhi oleh wujudmu yang semakin sempurna.

Tak cukup di situ.

Di sisinya sebagai teman baikmu, kadang dia memendam iri padamu, atas capaian-capaianmu, atas banyaknya temanmu, atas semua hal yang membuatmu tampak begitu bersinar di matanya. Dia menyukaimu, tapi dia tak suka karena dia tidak bisa jadi seperti kamu.
Lalu, diam-diam, dia menginginkan posisimu. Bahkan, dia ingin menjadi orang yang lebih hebat dari kamu. Sementara, kamu masih seperti biasa. Tidak merasa hebat, tidak merasa punya apa-apa, dan masih memegang teguh persahabatanmu dengannya. Ya, dengan dia, yang diam-diam ingin selalu menyaingimu.

Lalu, akhirnya kamu tahu semua.
Dia salah satu figur terjahat dalam kisah hidupmu.
Tetapi, bukannya memberikan peringatan atau hukuman, kamu diam saja, dan tetap menjaga pertemanan yang telah terjaga bertahun-tahun.

Pernahkah kamu merasa seperti itu?

_di samping jendela berpemandangan hujan_

No comments:

Post a Comment