16 February 2015

Kekasih, Lihatlah Kini

Kekasih, lihatlah kini.
Samakah kenyataannya seperti kabar dari orang-orang yang selama ini kaupercayai?

Adakah yang berubah dariku, seperti yang dikatakan mereka?
Akukah yang berubah, atau pola pikir mereka yang berubah. Berubah karena terbawa kehendak sendiri. Berubah karena dibanjiri iri dan dengki.

Kekasih, lihatlah kita kini.
Dipisah sekat yang selamanya tak mungkin bisa kita lewati.
Sekat itu dibangun oleh mereka, yang senang berkata-kata mencipta cerita, merekayasa fakta
sehingga hati kita semakin menjauh adanya.

Selamanya tak akan kulupa.
Setiap kalimat yang mereka sampaikan ke telinga masing-masing kita.
Setiap berita yang menggali ragu.
Setiap keyakinan yang pernah kita pegang dengan penuh rasa percaya.
Lalu, mereka berkhianat.
Sesuka hati mengoyak hatimu.
Dengan jumawa, mereka berkata, ini untuk kebaikanmu. Untuk kebaikanku.

Mereka merasa berhak atas jalan takdir manusia lainnya, termasuk kita.

Kekasih, lihatlah langit.
Mungkin langit terlihat tak sama setiap harinya.
Tapi percayalah, langit itu akan selalu sama, tak berubah.
Hanya bumi yang kita pijaklah yang selalu berubah.
Semakin rusak, diisi orang-orang penghasut dan pendengki.
Mereka tak pernah benar-benar bahagia melihat manusia lain bahagia.

Tak ada yang kuinginkan lagi di dunia ini. Tak ada, Kekasih.
Bahkan, jika hari akhir yang dijanjikan kitab suci segera hadir, aku tak mengapa.
Bukan karena aku merasa suci dan bersiap diri.
Aku hanya lelah,
juga kasihan pada semua manusia yang terus menambah dosa tanpa dirasa.

Biarkan kehidupan ini berakhir. Biarkan.
Karena aku yakin, setelah ini, aku akan berkumpul dengan orang-orang
yang paling kucintai, termasuk kau, Kekasihku, pendar hangat hatiku.




No comments:

Post a Comment