09 December 2015

Menur -another side of Cassia-

Sepeninggal Kanjeng Ratu Gelorongan,  Negeri Cassia kembali damai.
"Semua berkat kebaikan para Raja Deva di atas awan," ucap Seriti pada Ponggawa Tujuh yang kini tinggal enam.
"Lantas, apa yang selanjutnya perlu kita lakukan, Kanjeng Seriti?" tanya salah satu ponggawa setianya.
"Kita tarik kembali Rufiso, kita cabut sihir Gelorongan dari tubuhnya. Kita akan bersama-sama lagi seperti sedia kala," ucap Seriti.
"Tetapi, bukankah Rufiso telah mengkhianatimu, Kanjeng Sriti?" tanya Maraka heran.
"Dia khilaf. Terpedaya oleh sihir Gelorongan. Lagipula, aku masih memerlukan keahliannya dalam mengelola navigasi negeri Cassia, agar tidak kita tidak sesat arah.
Semua Ponggawa Tujuh tertunduk. Meski tak setuju, mereka selalu manut pada keinginan Seriti. Semoga kembalinya Rufiso bisa mendatangkan hal baik bagi distrik utama Negeri Cassia.
Div, sang Ponggawa Tujuh penengah teringat pada Menur, sang abdi setia Ratu Gelonggongan. Tiba-tiba api dendam meletup dari dadanya. Hitam kenangan tentang negeri Cassia yang pernah diporak-porandakan Kanjeng Ratu Gelorongan membuatnya marah.

"Kanjeng Seriti, bagaimana dengan Menur?" tanya Adiv.
Sriti termenung sejenak, lalu sekilas muncul senyuman tajam sebagai pertanda bahwa dia sudah dapat ide.
"Kalau Menur berbeda. Dia harus diberi hukuman."
"Apa hukuman yang pantas untuknya, Kanjeng?"
"Kita asingkan dia. Kita jauhkan dia dari pusat pemerintahan Cassia. Akan segera kusampaikan pada Raja Attila," ujarnya.

Maka, sejak saat itu, Menur harus menjalani hukuman, sementara Rufiso, rekan seperkongkolannya mendapat tiket masuk gratis ke Negeri Cassia dari Sriti. Meskipun, beberapa anggota Tujuh Ponggawa keberatan, akhirnya mereka menerima kembali Rufiso, sang pengkhianat, sebagai salah satu saudara mereka.

**

Cassia kembali pulih. Setelah Raja Rambut Peri dari negeri Karobis menggantikan Gelorongan untuk sementara waktu, Raja Kanaja kembali lagi menduduki singgasananya dengan restu para Raja Deva. 
Kala itu, kedatangannya disambut bahagia oleh seluruh rakyat Cassia. 
Adiv, yang saat kepemimpinan Raja Rambut Peri didaulat jadi Ponggawa Istimewa, kembali pada posisinya sebagai Ponggawa Tujuh.
Waktu bergulir, Cassia tentram, walau ulah Sriti, yang sejak dulu memang jadi biang masalah, terus menciptakan api-api kecil permusuhan. Pada akhirnya, api-api kecil permusuhan itu bisa diredam.
Sebagai pembimbing para Ponggawa Tujuh, Sriti berhati dengki selalu tak suka jika salah satu ponggawanya selangkah lebih maju darinya. Maka, dia merekayasa peristiwa agar para ponggawanya selalu patuh berada di bawah ketiaknya. 
Tetapi sayang, dua dari ponggawanya itu telah ditakdirkan oleh Sang Mahakuasa untuk jadi bagian dari laskar pengubah negeri. DI darah mereka mengalir darah leluhur pendiri negeri yang selalu inginkan perubahan untuk negerinya. Berbeda dengan ponggawa lain yang sepanjang hidupnya harus terus patuh dan setia pada Sriti.
Kadang Sriti merasa geram. Bahkan, beberapa kali Sriti menggunakan Kesaktian Kegelapan untuk meredam lesat quantum potensi yang dimiliki oleh dua ponggawanya yang revolusioner. 

..bersambung

No comments:

Post a Comment