10 December 2015

Fotografer Pernikahan

Sepertinya, akhir-akhir ini saya memang sedang sering mempertanyakan sesuatu, khususnya tang berkaitan dengan perilaku seseorang atau cara seseorang memperlakukan orang lain.
Kadang, pertanyaan-pertanyaan itu muncul untuk sebuah peristiwa di masa lalu, jauh sekali di masa lalu.

Kali ini saya teringat pada pengalaman buruk keluarga saya yang telah beberapa kali ditipu oleh orang lain. Oleh orang yang kami percaya.
Heran. Apa isi kepala mereka saat mereka mengkhianati kepercayaan itu? 

Bahkan, fotografer pernikahan adik saya, yang saya kenal dari teman saya, bisa-bisanya dia mengkhianati kepercayaan saya. Padahal, saya sudah memperlakukannya dengan baik. Saya memenuhi kewajiban saya sebagai customer dengan baik, bahkan lebih dari yang seharusnya. Karena, saat itu dia 'perlu uang', jadi biaya paket fotografi yang seharusnya dilunasi setelah acara selesai, dengan senang hati saya lunasi di muka. Tanpa syarat , tanpa banyak meminta. Saya hanya membiarkan dia bekerja sesuai tanggung jawabnya.
Tapi, apa yang dia lakukan terhadap saya, juga keluarga saya?
Lama sekali saya tunggu hasil kerjanya. Semua tidak selesai pada waktunya. Ada apa?
Kemudian, foto tak seluruhnya dia cetak. Hanya sebuah album dengan banyak sekali halaman yang masih kosong. Apa maksudnya? Mana video yang dijanjikannya? Bahkan, saya harus repot-repot meminta dia menyalin data fotografi hasil kerjanya ke dalam DVD, walaupun belum dia edit semua, termasuk mentahan videonya. Pesanan saya tiba. Tapi, lagi-lagi saya dibuat jengkel. Isinya hanya foto, tidak ada video.  Dia tuli, buta, atau bego? Itu pertanyaan yang terlintas.
Lalu, dia menghilang. Kontak BBM dan telepon selularnya tidak bisa dihubungi. Dia kabur? Entah.


Saya tidak habis akal. Di perjanjian kerjasama yang pernah dia kirim melalui email, ada alamatnya. Lengkap.
Saya datangi rumahnya. Oke, fine. 
Lalu, lagi-lagi saya bertanya, kenapa saya jadi kasihan kepadanya? Kondisi rumahnya yang kurang nyaman, apalagi saat itu ada dua putrinya yang masih kecil. Juga ada seorang bapak yang sepertinya sedang sakit.

Masalah himpitan ekonomi. Itu simpulan saya. Ada rasa simpati, prihatin, tak tega, dan lain-lain.
Tapi, apa masalah yang dihadapi oleh seseorang lantas bisa jadi alasan bagi orang itu untuk merugikan orang lain?
Saya pikir, jika dia sukses membuat calon pelanggannya puas, bukankah usaha fotografi pernikahannya akan semakin banyak mendapat peluang karena adanya rasa percaya? Mungkin saya juga tak akan ragu merekomendasikan dia pada teman-teman saya, atau saya gunakan untuk pernikahan saya sendiri kelak. Bukankah semua itu bisa membantunya dari himpitan ekonomi yang dialami? Itu jika memang benar, adalannya adalah himpitan ekonomi.
Tapi, melihat low respon darinya, saya jadi mengira bahwa dia memang tidak qualified. Juga setelah saya lihat hasil editan fotonya, maaf, sebagai penggemar editing foto, menurut saya nilainya masih biasa saja. Tidak membuat saya berdecak kagum. Lalu, kenapa dia berani mengajukan diri sebagai fotografer pernikahan? 
Astaga, makin banyak saya bertanya-tanya.

Lantas, saya menyalin semua data mentah foto dan video dari laptopnya ke dalam hardisk eksternal yang saya bawa. Nohope. Hanya itu hal terbaik yang bisa saya lakukan. Saya lihat nuansa penyesalan di raut wajahnya.  Setelah sebelumnya, saat pertama melihat kedatangan saya, dia bagai melihat hantu di siang hari. Shocking. 
Banyak hal yang saya pikirkan dan sempat terlintas untuk saya lakukan. Apa saya perlu melaporkannya ke polisi karena menipu saya? Astaga, kasihan anak-anaknya.
Atau saya maki-maki dia di rumahnya sendiri sehinngga sekampung tahu kelakuan dia yang kurang baik? Bikin rusuh di kampung orang? Aduh, apa itu bisa membuat foto dan video adik saya beres sesuai pesanan?

Sebisanya saya berlapang dada. Saya memberinya kelapangan juga agar kewajibannya bisa diselesaikan. Lalu, akan saya tunggu apakah dia benar-benar menyesal dan akan bertanggung jawab.
Jika tidak dia kerjakan? Ya sudah, saya kerjakan sendiri. Hasil editan foto dan video saya juga enggak jelek kok.
Selanjutnya, ya sudah, siapa tahu saja malaikat penjaga kuburnya nanti lupa bahwa dia pernah mencurangi pelanggannya. Atau mungkin algojo-algojo di neraka nanti kehilangan daftar dosa-dosa dia, sehingga dia bebas dari azab.
Tapi ya, semoga saja dia mendapat hidayah dan kesempatan untuk memenuhi kewajibannya sebelum saya atau dia mati. Akan saya tunggu tanpa beban, sampai kapanpun.

Sumber gambar:
http://photography-cameras.org/images/stories/photography-beginner.jpg

No comments:

Post a Comment