27 August 2008

Nggak ada yang abadi di dunia, termasuk persahabatan



---Di sela-sela hari yang gue lalui, terkadang gue lupa bahwa gue sebenernya nggak pernah sendiri----

Ya, ini tentang sahabat gue. Dia yang bertahun-tahun gue banggain sebagai sahabat terbaik. Dia yang udah gue anggap seperti sodara sendiri. Bahkan, nggak ada jarak antara dia dengan keluarga gue.

Dulu, berkali-kali dia memproklamirkan dirinya sebagai sahabat terbaik gue. Berkali-kali juga dia netesin air mata di depan muka gue sambil berucap bahwa dirinya ngerasa beruntung banget karena bisa menjalin persahabatan dengan gue. He is a part of my life.

Tapi waktu udah ngubah segalanya. Mungkin waktu jugalah yang telah membuatnya menarik kembali kata-katanya. Atau semua yang terlontar dari mulutnya dulu hanyalah euforia sesaat. Atau juga ada suatu hal yang membuatnya nggak bisa lagi jadi bagian terbaik dalam hidup gue. Bisa jadi, ada kecacatan dalam sikap gue yang dikutukinya dalam-dalam. Entah.Yang gue tahu, dia pergi tanpa gue ngerti penyebabnya.

Nggak ada yang abadi di dunia ini, termasuk cinta manusia dan persahabatan. Kalimat itu, dulu berkali-kali gue bantah hanya kerena gue ngerasa punya seorang sahabat sejati. Gue lupa bahwa memang nggak ada yang abadi dalam kehidupan, kecuali cinta hakiki-Nya yang nggak pernah berenti berpendar di selasar hidup gue.

Berbulan-bulan setelah untuk terakhir kalinya gue ngerasa masih jadi sahabatnya, akhirnya gue menyadari sesuatu.
Gue terkadang lupa sama orang-orang yang saat ini ada di sekeliling gue. Gue juga nggak ngerti kenapa dalam hal persahabatan, di kepala gue hanya ada dia. Padahal, di sekitar gue begitu banyak orang yang nggak pernah memproklamirkan dirinya sebagai sahabat gue tapi telah jadi lengkung pelangi di atas kepala gue. Orang-orang itu nggak pernah nuntut apapun dari gue, begitu juga sebaliknya, gue nggak pengen nuntut apapun dari mereka. Segalanya mengalir gitu aja.

Ya, mereka memang bukan orang yang pernah nangis di depan gue sambil bilang bahwa gue adalah sahabat terbaiknya. Tapi, mereka adalah orang-orang yang masih ngakuin keberadaan gue di dunia ini. Mereka masih nganggap gue ada.

Sekarang, gue akan berusaha untuk nggak peduli lagi sama apapun anggapan dia tentang gue. Sama apapun alasan dia untuk tiba-tiba menjauh dari kehidupan gue.
Gue pikir 100 orang teman, meskipun hanya kenalan biasa, tentunya jauh lebih baik daripada 1 orang sahabat hipokrit yang nggak pernah ngerti arti ketulusan dalam sebuah persahabatan.

Gue nggak pernah nyesel pernah lalui momen-momen dengan dia. Yang gue sesali adalah gue sempet nggak ngeh kalo di sekeliling gue banyak banget orang-orang baik.

didedikasikan untuk:
1. Orang yang telah mencipta jarak yang sulit dimengerti akal.
2. Orang-orang baik yang ada di sekeliling gue.

No comments:

Post a Comment