15 October 2008

Nilai yang Gemuk dan Penuh Gizi - Sigit Rais




Arjuna bengong melihat daftar nilai yang terpajang di dinding kantor jurusan tempatnya kuliah. Nilai B, hasil kerja kerasnya menyelesaikan tugas laporan bersama teman-teman sekelompoknya, kini mutlak jadi miliknya. Awalnya, Arjuna ikhlas dan berlapang dada. Baginya ini adalah nilai yang cukup, apalagi setelah mengingat ketidaksempurnaannya dalam menyusun laporan. Dia berharap nilai teman-teman sekelompoknya pun sama dengannya, dia tidak ingin ada temannya yang mendapat nilai di bawah nilainya, walau dalam kelompoknya dialah yang paling rajin dan bersemangat menuntaskan tugas laporan tersebut. Tapi begitu dia mengamati nilai Padma, Banowati, dan Duryudana, teman satu kelompoknya, rusaklah ikhlasnya selama ini. Mereka mendapat nilai A! Padahal, sebagian besar hasil laporan kelompoknya adalah hasil kerja kerasnya seorang diri. Sisanya barulah hasil kerjasama. Sementara itu Cakil, masih teman sekelompoknya, mendapat nilai BL (belum lulus). Mungkin itu memang wajar, karena selain Cakil memang jarang masuk kuliah, kontribusi dan partisipasinya dalam penyusunan laporan pun hanya sebatas basa-basi dan setor muka saja. Tetapi, Cakil minta perbaikan pada dosen dan dia pun akhirnya mendapat nilai yang sama dengan Arjuna.

Ilustrasi seperti tadi mungkin sering terjadi di lingkung perkuliahan. Nilai seringkali dijadikan sebagai target utama kita dalam menentukan berhasil atau tidaknya perkuliahan selama satu semester. Hal ini menimbulkan sebuah anggapan bahwa seorang mahasiswa yang mendapat nilai A memang lebih cerdas dibanding mahasiswa yang mendapat nilai di bawahnya. Hal ini mungkin memang benar, apalagi jika nilai A tersebut adalah nilai gemuk dan penuh gizi, bukan nilai kurus atau bahkan nilai omong kosong. Karena dari nilai A tersebut ada sesuatu yang harus bisa dipertanggungjawabkan, yaitu ilmu.
Melihat kejadian Arjuna di atas, rasanya nilai ABCD memang terlalu sederhana untuk mewakili kinerja seorang mahasiswa selama satu semester. Tak akan ada yang tahu kualitas yang terangkum dalam nilai tersebut, bahkan dosen yang bersangkutan pun mungkin tidak mengetahui sepenuhnya mutu masing-masing mahasiswa peserta didiknya. Bukti berupa daftar hadir, nilai UTS, nilai UAS, keaktifan di kelas dan nilai tugas akhir mungkin memang syarat mutlak yang dapat mengantarkan mahasiswa melewati gerbang kelulusan suatu mata kuliah. Untuk mendapat nilai yang baik tentunya mahasiswa harus melengkapi poin-poin tadi. Asalkan setiap poin dilaksanakan dengan baik, tuntaslah urusan, nilai terbaik pun sudah ada dalam genggaman tangan. Toh dosen tidak akan tahu kinerja kita selama ini, dosen tidak akan tahu bagaimana pemahaman kita terhadap ilmu yang diajarkannya. Dosen hanya tahu kita rajin kuliah, mengumpulkan tugas, mengikuti UTS, dan UAS. Tapi yang jadi permasalahan adalah dari mana asal nilai tersebut, bagaimana usaha kita dalam memenuhi poin-poin tadi, dan apa yang didapat dari suatu perkuliahan selain nilai semata.
Terlepas dari berbagai usaha kita untuk mencapai nilai terbaik, baik itu usaha yang “positif” ataupun usaha yang “negatif”, ada satu hal yang paling penting, yaitu pemahaman dan skill kita atas ilmu yang kita dapatkan dari sebuah perkuliahan. Hal inilah yang membuat nilai menjadi gemuk dan penuh gizi. Karena dengan nilai kurus kering, sekalipun nilai itu baik, maka satu semester pun telah terbuang dengan percuma. Kelak setelah lulus, IPK di atas angka 3 pun hanya serupa atribut kesarjanaan yang entah bagaimana cara mempertanggung jawabkannya.

Dalam hal ini diperlukan adanya kesadaran dari masing-masing mahasiswa untuk berusaha menggemukkan nilainya dan menjadikannya penuh gizi dengan memahami esensi dari setiap perkuliahan seoptimal mungkin. Mahasiswa harus aktif berperan serta terutama dalam hal praktek agar pengetahuannya benar-benar bertambah disertai dengan meningkatnya skill sesuai bidang yang akan dikuasainya. Jika dalam perkuliahan terdapat tugas yang mengharuskan mahasiswa tergabung dalam sebuah kelompok, masing-masing anggota kelompok harus bertanggung jawab pada posisinya masing-masing. Jangan saling mengandalkan dan melimpahkan permasalahan pada anggota yang dianggap lebih mampu. Setiap individu harus memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan. Di sini harus terjalin kerjasama yang baik. Setiap individu pun harus mendapat pengalaman yang sama dan meneteskan keringat dalam jumlah yang sama.
Sementara itu pihak pedidik (baca: dosen) pun harus jeli mengamati semua peserta didiknya. Jangan ada yang luput. Jangan sampai si rajin mendapat nilai yang tidak lebih baik dari si malas. Si malas harus bisa dimotivasi agar berubah seperti si rajin sehingga ketidakadilan dalam hal penilaian dapat dihindari. Dalam hal ini diperlukan adanya kebijakan dari pihak Jurusan atau Fakultas untuk membatasi jumlah mahasiswa dalam satu kelas agar tidak terlalu banyak dengan harapan dosen mampu melakukan pendekatan personal pada setiap inividu dalam kelas, sehingga perkembangan setiap mahasiswa pun benar-benar terpantau. Jangan sampai perkuliahan berlalu begitu saja tanpa memberikan nilai lebih (baca: pemahaman dan pengalaman) bagi peserta didik. Dengan demikian maka perkuliahan pun akan terlaksana secara efektif dan optimal, dan kasus seperti Arjuna tadi pun tidak akan terjadi lagi.
Seperti contoh ilustrasi tadi, dalam hal nilai Arjuna mungkin kalah dibanding teman-teman satu kelompoknya. Tapi ada satu hal yang tidak didapatkan oleh teman-temannya, yaitu pemahaman dan praktek pengaplikasian berbagai teori yang didapatnya dari bangku perkuliahan lewat tugas akhir berupa laporan penelitian. Walaupun laporan itu jauh dari sempurna, tapi setidaknya proses pengerjaan laporan itu bisa dijadikan ajang pembelajaran baginya. Sementara teman-temannya, walaupun ikut mengerjakan laporan tapi karena kotribusinya serta partisipasinya tidak sebanyak Arjuna, maka mereka kalah pengalaman dari Arjuna. Akhirnya, Arjuna pun bangkit dari kecewanya, dia melakukan intospeksi, dan setelah bertanya pada dosen, ternyata ada tugas harian yang tidak lengkap. Dengan positive thinking Arjuna pun ikhlas menerima kekalahan sekaligus kemenangannya. Seperti yang dikemukakan dr. Yusri Hapsari Utami, ita memang harus belajar ikhlas, dan belajar jadi “pascasarjana” yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, masyarakat, dan keluarga.
Jadi apalah artinya kita bangga pada nilai A jika hanya A yang kurus kering bahkan kosong melompong dan tidak bergizi?***

No comments:

Post a Comment