15 October 2008

Taman Kanigara - cerpen Sigit Rais




Dedaun meranggas di taman kanigara. Deadaun itu berasal dari pohon randu tua yang mulai kehilangan kesegaran hijaunya. Langit memang cerah. Matahari senja yang merona jingga berpendar menerangi seisi taman. Berkemilaulah cahaya yang terbias dari sehamparan bunga kanigara. Tapi sayang, semua itu bertolak belakang dengan suasana hati Divan. Dia masih kesal pada berbagai hal menyebalkan yang terjadi kemarin. Kekesalan itu berawal saat Tio meledeknya dan melontarkan cacian hanya karena Divan gagal mendapatkan cinta Violeta. Bagaimana tidak kesal? Setelah energinya terkuras habis karena diceramahi oleh guru Matematika gara-gara nilai ulangannya jeblok, Divan harus berhadapan dengan mulut rombeng Tio. Baginya, kata-kata Tio kemarin sudah sangat keterlaluan.
”Makanya jangan kebanyakan nonton Spongebob! Udah nilai jeblok, eh, ditolak cinta pula. Lagian mana ada cewek yang mau sama cowok cemen kayak kamu!” cibir Tio dengan nada mengejek sambil berlalu menuju kantin.
Kali ini, Divan tidak sanggup menahan amarah. Tanpa pikir panjang, dia langsung melayangkan tinjuan tepat ke arah punggung Tio. Tio terjatuh. Dia menabrak anak-anak perempuan di depannya yang sedang membawa semangkuk mie ayam. Mie ayam itu tumpah tepat di kepala Tio. Tanpa banyak basa-basi, Tio langsung membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Divan. Sebuah tinju yang lebih kuat melayang tepat di pipi kiri Divan. Divan terjatuh. Dia meringis kesakitan. Dalam hitungan detik, Tio sudah berada di depan wajahnya. Tangannya yang gemetaran mangangkat kerah baju Divan. Divan tidak mau kalah. Dia meninju perut Tio. Tio pun meronta kesakitan. Saat itu, mereka benar-benar terbakar emosi. Mereka tidak sanggup mengendalikan diri. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika Riyan dan Sinta tidak segera datang.
”Hei, kalian apa-apaan sih?” Sinta mencoba untuk memisahkan.
Tio sudah sedikit tenang walau matanya masih menatap sangar ke arah Divan. Sementara, Divan masih hilang kendali. Divan terus berusaha melepaskan diri dari dekapan Riyan. Sepertinya, dia benar-benar ingin melumat tubuh sahabatnya itu. Tiba-tiba, Divan merasakan ada sesuatu yang dingin mengalir di kepalanya.
”Nah, adem, kan?” ujar Riyan sambil tersenyum. Di tangannya, ada segelas air mineral yang isinya tinggal setengah.
Divan pun mulai tenang dan tertunduk malu karena di sekelilingnya entah ada berapa puluh orang yang menyaksikan tindak ketidakdewasaannya itu. Sementara itu, Tio terlihat sedang mengadu pada Sinta sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
”Nah teman-teman, tolong bubar ya, nggak ada apa-apa kok,” ujar Riyan.
”Iya, biasa, Tom and Jerry, hehehe...” Sinta menambahkan.
Selama beberapa saat mereka saling pandang. Divan dan Tio berusaha untuk mengatur napas masing-masing. Setelah itu, mereka berkumpul di sebuah tempat yang selama ini jadi base camp bagi mereka berempat. Taman itu bernama taman kanigara. Dinamai kanigara karena di taman itu terdapat banyak sekali tanaman bunga, terutama bunga kanigara. Saat senja datang, bunga kanigara di taman itu memancarkan kemilau cahaya keemasan. Pemandangan itulah yang telah mempersatukan Divan, Riyan, Sinta, dan Tio. Setiap hari, mereka menghabiskan detik-detik pergantian siang-malam di taman itu. Untaian waktu telah mereka lalui dengan suka cita. Meskipun Divan dan Tio sering ribut, tetapi itu tidak berlangsung lama. Belum habis satu jam, mereka sudah akur kembali.
Lain halnya dengan kali ini. Sesampainya di taman, semua diam, tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Padahal selama ini, setiap kali mereka berkumpul, biasanya Divanlah yang bawel dan antusias untuk memulai pembicaraan, tapi kali ini tidak. Divan malas bicara, apalagi setelah melihat wajah Tio yang selalu menatapnya dengan sinis. Menit demi menit mereka lalui dengan kebisuan.
Lama-lama, Divan tidak tahan juga. Akhirnya dia angkat bicara. Tetapi, kali ini Divan tidak akan membicarakan sesuatu yang lucu dan seru lagi. Dia hanya akan mengungkapkan sesuatu yang selama ini terpendam di sudut terdalam jiwanya.
”Jujur aja aku muak dengan semua ini. Aku bosan terus menerus diejek, diledek, dihina. Kalian pikir, enak jadi anak sepertiku? Aku berkali-kali ditolak cewek yang aku suka. Gara-gara itu, nilai-nilaiku jeblok. Dan kalian, yang selama ini memproklamirkan diri sebagai sahabat karibku hanya bisa meledek, meledek, dan meledek... aku ...ah, entahlah. Gimana kalau mulai sekarang kita bubar aja, kita jalan sendiri-sendiri.”
Riyan, Sinta, dan Tio terlihat sangat terkejut. Tetapi, Divan terlihat tidak peduli. Sepertinya hal inilah yang diinginkan oleh Divan. Divan ingin membuktikan pada mereka bahwa Divan masih bisa melangkah meskipun tanpa Riyan, Sinta, terutama Tio.
“Van, kamu ngomong apa sih? Bukannya meledek, tapi...” ujar Sinta setengah emosi. Sayang, kata-katanya terpotong oleh Divan.
”Ta, kamu masih belum ngerti juga? Kita ini memang nggak kompak lagi. Dikit-dikit ribut, dikit-dikit berantem. Sekarang, kamu coba jujur sama diri sendiri. Kamu juga udah nggak nyaman bareng dengan kita, kan? Aku tahu, minggu lalu kamu jalan-jalan ke Parangtritis sama gengnya si Edi, iya kan? Kamu nggak bilang-bilang sama kita dan nggak niat ngajak kita, karena apa coba? Karena kamu pengen misahin diri dari kita, kan? Kamu pengen nunjukin ke kita bahwa kamu masih bisa have fun walau tanpa kita. Betul, kan? Udah deh, jangan muna jadi orang!”
”Siapa bilang? Sinta cuma...” Sinta bermaksud menjelaskan, tapi Tio memotong pembicaraannya.
”Aku setuju sama usulan Divan, sangat-sangat setuju. Untuk apa sih kita jalan bareng sementara hati kita memang nggak sejalan lagi. Ta, kamu pikir cuma kamu aja yang bisa punya temen lain? Bisa have fun? Aku juga bisa! Terus kamu Van, udah jelas kan, kita memang beda dalam segala hal, lagian bareng sama anak childist seperti kamu bikin aku nggak bakalan pernah maju. Usul kamu untuk bubar memang satu-satunya hal cerdas yang keluar dari otak kamu....”
Mendengar pernyataan Tio tentu saja Divan naik darah dan tidak mau kalah.
”Berisik! Kamu pikir, kamu ini se-smart apa sih? Lagak kamu udah kayak profesor aja. Oh, mungkin emang gini ya tabiat anak broken home yang jarang dapet kasih sayang orangtuanya, hah?”
”Tutup mulut kamu!” Tio hampir saja menampar wajah Divan. Untunglah Riyan menahannya.
”Apa? Mau nampar aku? Mau praktek hasil belajar nampar dari keluarga kamu? HAH? Ayo tampar, anak terbuang!”
”CUKUP! CUKUP!” Tiba-tiba Sinta naik pitam. Emosinya meluap. Sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi untuk sabar menghadapi kelakuan menyebalkan dari Divan dan Tio.
”Oke, Sinta juga setuju. Ternyata selama ini Sinta udah salah nilai kalian. Kalian memang egois. Sinta memang nggak salah udah nyoba tuk gabung sama gengnya Edi karena dari kalian Sinta nggak nemuin figur laki-laki dewasa yang bijaksana. Inget dong, kalian nih udah pada dewasa, udah tujuh belas tahun!”
”So what? Kamu ngaca dong, Ta. Kamu sendiri apa udah pantes dibilang dewasa sementara kerjaan kamu cuma ngabisin duit orangtua buat travelling nggak karuan, hah? Jawab! Itu yang namanya dewasa? Itu yang namanya bijaksana? Ayo jawab! Kamu bisa dong ngajarin aku biar bisa dewasa dan gila travelling kayak kamu? Hah?”
Ternyata Tio pun tidak kalah emosinya. Beberapa saat, Sinta dan Tio saling bertatapan. Di mata mereka terlihat kilatan kebencian. Sementara itu, Riyan memijat-mijat kepalanya. Dia terlihat pusing dan kebingungan. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Tetapi, teman-temannya seakan tidak peduli.
Tiba-tiba, Divan, Sinta, dan Tio segera pergi meninggalkan taman itu. Mereka tidak peduli lagi, bahkan panggilan Riyan yang mengajak mereka untuk kembali duduk dibiarkan berlalu begitu saja bersama tiupan angin senja. Riyan terduduk lesu. Dia merasa tidak berharga. Tanpa terasa, ada sesuatu yang menetes dari sudut matanya. Pipinya basah. Pancaran cahaya senja jingga meresap ke dalam air mata lukanya. Baru kali ini Riyan, si laki-laki tangguh, tahu bagaimana rasanya menangis karena sakit hati. Riyan pun pulang dengan menggenggam sejumput rasa kecewa.
Kejadian itu telah berlalu. Perlahan, malam mulai menetas dari eraman senja. Bulan sabit muncul di timur. Lampu-lampu kota bergemerlap menerangi sunyi. Pula halnya dengan lampu di taman itu. Redup cahaya menyinari tubuh Divan yang terduduk lesu di taman itu. Divan ingin melupakan kejadian itu.
***
Sekitar satu minggu setelah pertemuan terakhirnya dengan Tio, Sinta, dan Riyan di taman itu, Divan masih belum menemukan pegganti mereka. Selama ini, teman Divan memang cukup banyak, tetapi mereka hanya teman biasa, bukan sahabat dekat seperti Tio, Sinta, dan Riyan. Meskipun mereka tidak satu kelas dengannya, mereka adalah sahabat terbaik. Mungkin Divan terlalu sombong untuk mengakui bahwa mereka adalah sahabat terindah yang pernah dimilikinya. Tapi mau bagaimana lagi? Divan sudah terlanjur mengucapkan kata perpisahan.
Dari sebuah majalah remaja, Divan mendapat inspirasi untuk mendapatkan teman melalui chatting dalam internet. Setelah dicobanya, Divan mendapat banyak kenalan. Mereka saling bertukar alamat e-mail, friendster, bahkan nomor telefon.
Salah satu teman cybernya bernama Ferina. Dia mengaku berumur 17 tahun, penyayang binatang, dan sekolah di salah satu sekolah swasta. Suatu hari, mereka sepakat akan bertemu di kebun binatang. Divan sangat senang dan tidak sabar menunggu pertemuan itu.
Sepulang sekolah, Divan segera mengganti baju seragamnya dengan sebuah t-shirt berwarna putih, sesuai janjinya pada Ferina. Begitu juga dengan Ferina, dia akan memakai baju dengan warna yang sama. Setelah menyemprotkan Aqua di Gio di sekujur tubuhnya, Divan merapikan rambut yang telah diolesi hair wax.
Akhirnya, Divan sampai di kebun binatang. Sambil melihat-lihat hewan yang kebanyakan sedang tidur siang, dia mencari-cari anak perempuan yang memakai baju putih. Ternyata cukup sulit juga karena di sana begitu banyak orang yang memakai baju putih. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ferina! Ternyata, Ferina sedang duduk di salah satu kursi yang ada di depannya, hanya saja dia tidak melihatnya. Kursi itu persis berada di depan kandang kus-kus. Akhirnya, setelah celingak-celinguk ke sana-ke mari, Ferina menemukan juga keberadaan Divan. Alangkah terkejutnya Divan ketika seorang wanita berumur sekitar 40-an berwajah mirip kus-kus yang memakai baju putih menoleh ke arahnya dan memanggil-manggil namanya.
”Astaga, itu Ferina? Nggak salah?” gumam Divan setengah tidak percaya.
Ternyata, Divan dibohongi. Ferina adalah seorang tante-tante! Setelah mematikan ponsel, Divan segera berlari ke luar kebun binatang. Hewan-hewan seakan bersorak-sorai menertawai Divan.
”Oh Tuhan, apa jadinya kalau Tio, Sinta, dan Riyan melihatku sedang berduaan bersamanya?” ujarnya dalam hati sambil bergegas menancap gas motor agar segera sampai di rumah.
Meskipun telah mendapat pengalaman buruk karena Ferina, usaha Divan mencari sahabat melalui chatting tidak berhenti sampai di situ. Berkali-kali Divan terus mencoba untuk menemukan teman baru. Akan tetapi, Divan selalu saja gagal. Tidak seorang pun cocok dengannya. Lambat-laun, Divan mulai sadar bahwa Riyan, Sinta, dan Tio memang tidak akan pernah tergantikan.
Berkali-kali, Divan merenung di taman kanigara. Dia berharap bisa bertemu dengan Tio, Sinta, atau Riyan. Divan ingin bercerita pada mereka tentang pengalaman serunya. Divan benar-benar rindu pada mereka. Tapi sayang, perkataannya tempo hari telah membuat taman itu kesepian. Mungkin, taman itu tidak akan pernah mereka singgahi lagi. Sungguh, Divan ingin berkumpul lagi dengan sahabat-sahabatnya di tempat itu.
***
Sementara Divan dipusingkan dengan kegiatannya berburu sahabat, Sinta justru semakin sering travelling bersama Edi, Hada, Amin, Indra, Andi, dan Farika. Setiap Sabtu dan Minggu mereka melakukan perjalanan ke objek-objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Kawah Putih Ciwidey, Situ Patengang, Pantai Pangandaran, dan sederet tempat wisata lainnya. Kali ini, mereka akan mendaki Gunung Tangkuban Perahu. Sinta begitu bersemangat untuk melakukan perjalanan tersebut karena Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu tempat favorit yang pernah dijelajahinya bersama Divan, Riyan, dan Tio.
Awalnya, Sinta merasa senang dan bahagia. Akan tetapi, tiba-tiba Sinta teringat pada perjalanan mereka setahun yang lalu saat mereka mendaki Gunung Tangkuban Perahu itu. Saat itu, mereka melangkah melewati hutan Jayagiri Lembang. Sungguh, itu adalah salah satu pengalaman terindah dalam perjalanan persahabatan mereka. Capek, lelah, dan letih sama sekali tidak terasa. Mereka benar-benar menikmati perjalanan itu walaupun Divan dan Tio sering bertengkar. Begitulah mereka, mudah sekali terlibat pertengkaran tetapi mudah damai kembali. Biasanya, Riyanlah yang jadi juru damai. Di antara mereka berempat sepertinya hanya Riyan yang paling dewasa. Dia mampu mengontrol emosi. Seperti air, dia juga tenang dan menyejukkan. Selama ini Sinta belum pernah melihatnya marah.
Akhirnya, Sinta merasa telah melakukan suatu kesalahan besar. Dia rela meninggalkan persahabatannya hanya karena luapan emosi dan keegoisannya dalam menyikapi sikap Divan dan Tio. Mendadak, dia teringat pada Riyan. Hari itu, saat terakhir kalinya mereka berkumpul, dia, Divan, dan Tio sekali tidak memberikan kesempatan pada Riyan untuk bicara meskipun hanya sepenggal kalimat. Padahal, seharusnya mereka mau mendengarkan panggilan Riyan untuk kembali.
Di pinggir kawah yang membentang luas, Sinta segera mencoba untuk menelfon Riyan melalui ponselnya. Tetapi sayang, di pegunungan seperti itu, ponsel Sinta kehilangan sinyal. Mendadak, Sinta merasa gelisah tak karuan. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang.
***
Hari Minggu yang cerah, pepohonan di taman meranggas. Daun-daun berserak di tanah. Angin berembus di pematang senja. Bunga-bunga kanigara terlihat layu karena habis masa rekahnya. Divan merebahkan diri di kursi taman kanigara seorang diri.
”Bisakah angin sampaikan kerinduanku pada sahabat-sahabatku?” tanya Divan dalam hati.
Divan benar-benar ingin mereka kembali. Divan benci dicengkram sunyi.
Berjam-jam sudah Divan termenung di taman itu. Kini, semburat jingga berkilau di lanskap langit. Tanpa disadarinya, Sinta datang menghampiri.
“Van, lagi ngapain?”
”Eh, Ta,” jawab Divan sambil menggeser tempat duduknya dan mempersilakan Sinta duduk di sebelahnya.
”Apa kabar, Ta?”
”Baik.”
”O ya, gimana jalan-jalannya? Udah ke mana aja?”
Sinta terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dia menggigiti bibir tipisnya. Tangisnya pun tidak terbendung lagi, meluap bersama gumpalan kesedihannya. Divan merangkulnya, merengkuhnya. Dia membiarkan Sinta menumpahkan rasa sakitnya dalam pelukannya. Divan hanya bisa menepuk dan mengusap-usap bahunya. Divan benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Beberapa detik kemudian tangisnya terhenti. Dia menyapu wajahnya dengan selembar tissu yang diambilnya dari dalam dompet.
”Kamu kenapa, Ta?”
”Maafin Sinta, Van. Setelah berkali-kali jalan bareng Edi dan kawan-kawan, ternyata ada banyak hal yang hilang dari diri Sinta. Sinta ngerasa hampa karena nggak ada kalian. Semuanya beda banget, Van. Sinta pengennya ada kalian di setiap perjalanan itu,” ujar Sinta sambil menguraikan air mata.
”Udah, udah, Ta. Maaf ya Ta, selama ini aku nggak bisa jadi sahabat yang baik. Aku udah terlalu egois dan emosional. Kamu bener, aku nggak bisa jadi laki-laki dewasa di mata kamu.”
”Nggak Van, Sinta yang salah, Sinta terlalu banyak nuntut. Padahal seharusnya sahabat yang baik itu mau nerima kekurangan dan kelebihan sahabatnya dengan bijak. Sinta feel gulty banget gara-gara kejadian waktu itu. Harusnya Sinta jadi penengah antara kamu dan Tio, eh, Sinta malah ikut-ikutan luapin emosi.”
”Udah, udah, Ta. Oiya, kabarnya Tio dan Riyan gimana ya? Perasaan udah beberapa minggu ini aku jarang liat mereka di sekolah,” ujar Divan sambil diam-diam menghapus air mata yang juga terurai di pipinya.
”Nggak tahu, Van. Nomor ponsel mereka juga nggak pernah aktif lagi. Kamu pernah coba nelfon mereka, Van?” tanya Sinta.
Divan menggeleng dengan penuh penyesalan.
Tiba-tiba, Tio datang. Di sela jarinya terdapat sebatang rokok. Dia terkejut karena di taman itu ada Divan dan Sinta.
”Yo, sejak kapan kamu ngisep rokok? Bukannya kamu anti rokok?” tanya Divan.
”Sejak kapan? Sejak terakhir kalinya kita ngumpul di sini. Van, Ta, maafin aku. Aku memang terlalu kejam dalam berkata-kata. Aku ...ah, kalian tahu? Udah dua minggu ini aku jadi tergantung sama rokok. Nggak ada yang bawel nasehatin aku seperti kalian. Bahkan, aku sempet ditawarin drugs sama temen-temen baruku.”
”Tapi kamu nggak make, kan?”
Lalu Tio mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
”Nih, aku udah sempet beli cimeng. Tapi sumpah, belum aku pake. Aku ragu. Berkali-kali aku coba, aku inget kalian terus. Aku nggak bisa.
”Yo, jangan Yo! Kasihan orangtua kamu!”
”Apa mereka peduli? Mereka sibuk dengan keluarga barunya masing-masing. Mama asyik shopping di luar negeri sama suami barunya. Papaku asyik liburan ke Hawaii sama istri barunya. Sedang aku? Aku cuma punya kalian. Asal kalian tahu, kalaupun aku berhenti ngerokok dan ngebatalin niat untuk nyimeng, itu demi kalian, saudara-saudaraku.”
Seketika suasana haru bersemilir wangi di taman itu. Mereka telah kembali ke taman kanigara di mana pendar cahaya persahabatan selalu datang menyemai kebahagiaan. Mereka pun menghabiskan senja dengan segenap luapan rindu yang selama ini mereka tanam di kedalaman sunyi. Divan begitu bersemangat menceritakan pengalamannya dengan teman-teman chattingnya, begitu juga dengan Sinta dan Tio yang tidak kalah semangatnya bercerita tentang pengalaman mereka ketika mereka tidak sedang bersama. Mereka telah kembali saling menemukan.
Tiba-tiba datang Dita, adiknya Divan.
”Kak Divan, ke mana aja, sih? Ditelfonin sama Dita mailbox terus. Nomor Kak Sinta dan Kak Tio juga sama. Kenapa sih?” ujar Dita. Dia terlihat panik.
”Kakak nggak bawa hape, Dit. Belum di-charge di rumah. Ada apa, sih? Kok panik gitu? Nih, minum dulu.” ujar Divan berusaha menenangkan adiknya.
”Nggak usah, Kak. A... anu... Kak... Kak Riyan.....”
Mendadak Dita jadi gugup. Perlahan, air mata tumpah dari sudut matanya.
”Kenapa, Dit?” tanya Tio dan Sinta penasaran.
”Kak Riyan baru aja meninggal. Penyakit kanker otaknya nggak bisa disembuhin,” ujar Dita sambil menangis sejadi-jadinya.
Maka tumpahlah tangis mereka. Angin bertiup kencang melayangkan setiap helai rambut mereka. Senja memerah. Kemilau matahari jingga masih melatari senja di taman itu. Tiba-tiba, Sinta lunglai. Dia jatuh pingsan di pangkuan Tio. Sementara, Divan berpelukan dengan Dita. Senja itu adalah senja yang menyakitkan bagi mereka.
***
Dua bulan setelah kepergian Riyan, taman kembali menghijau. Kanigara bermekaran di setiap sudutnya, sama halnya dengan selasar jiwa Divan dan kawan-kawan. Di taman itu hanya ada Divan, Sinta, dan Tio, tiga manusia penghuni taman yang masih setia menjaga kanigara di taman itu.
Di salah satu sudut hati Divan, rindu yang ditanamnya untuk Riyan semakin tumbuh membesar, begitu juga dengan Sinta dan Tio. Mereka adalah pemupuk kerinduan. Mereka benar-benar merindukan Riyan. Riyan adalah salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari mereka, penghuni taman yang selalu menantikan matahari datang menyinari kebekuan hati.
Senja jingga lagi-lagi menjadi latar terindah di taman ini, taman terindah mereka. Kupu-kupu bermain dengan bunga kanigara yang berpendar keemasan. Mereka menghirup aroma senja yang kini dibingkai pelangi. Tiba-tiba, mereka merasakan ada seseorang yang menghampiri dari arah belakang.
”Hai, udah lama nunggu?”
”Eh, Raisal. Ayo, sini Sal. Selamat bergabung di taman kanigara,” ujar Divan penuh kehangatan.
”Nah, teman-teman, kenalkan, ini Raisal murid baru di kelasku. Boleh kan dia kuajak gabung untuk nikmatin senja di taman ini?” ujar Divan meminta persetujuan sahabat-sahabatnya.
Sinta dan Tio saling melempar senyuman, ”Selamat datang di taman kanigara, Sal,” ujar mereka kompak dan penuh semangat.***

1 comment:

  1. mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis www.kumpulblogger.com yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran

    ReplyDelete