20 January 2013

Chromatic Notes #3


Cerita Kereta 

Aku sedikit marah, karena hujan tak mau bersepakat dengan waktu yang terus diburu.
Lalu, kita memilih kereta, untuk menyusup ke dalam misteri hujan yang luar biasa.
Ada sekepal jingga yang kubawa. Nanti, akan kutempel di langit yang terus kelabu sedari dini sehingga kita bisa sedikit berbagi tawa.

Ini Jakarta. Selalu ada hal tak terprediksi.
Seperti hujan yang datang dan pergi, atau jadwal kereta yang membuat sangsi.
Pula semacam nenek sihir yang sempat bergentayangan menakuti.

sumber gambar: http://autobildindonesia.com
Konon, sang kereta tak singgah di stasiun yang kita pijaki.
Lalu, dari Gambir kita bergegas ke Cikini.
Menanti-nanti bersama orang-orang dan sejumput mimpi.
Dan di negeri hujan itu, juga ada yang menanti.

Belum tuntas mengasap pada batang kedua, kereta tiba.
Kau berkemas, dengan sepatu yang belum kautali tuntas.
Segera kita berdiri di depan gerbong dengan pintu yang perlahan terbuka.
Kita dipersilakan masuk, duduk di gerbong-gerbong yang dipenuhi orang-orang mengantuk.
Tetapi, itu gerbong khusus wanita, katanya.
Sebelum diusir, segeralah kita menjauh dari sana.
Dan inilah gerbong kita, gerbong yang ternyata juga dihuni wanita.

Tak ada kursi tersisa. Hanya berdirilah pilihan kita.
Pada kue donat plastik yang menggelantung, kita menjaga diri.
Lengang gerbong memudar, satu demi satu orang-orang ikut serta memadati.

Manggarai - Tebet - Cawang - Duren Kalibata - Pasar Minggu Baru - Pasar Minggu -
Tanjung Barat - Lenteng Agung - Universitas Pancasila - UI - Pondok Cina - Depok Baru

Sesekali mulutmu komat-kamit berceloteh. Beradu dengan suara kromatis orang-orang di sekitar.
Sementara, mata liarku menyapu seisi gerbong dan lebih sering kutabrak pandang jendela sehingga bisa kulihat lanskap yang melesat.
Semua bergumul di sel otak. Berfusi jadi hidangan dahsyat, pengganti sarapan pagiku yang belum sempat.
Kuperam. Kusimpan. Kuramu. Kelak, aku akan berkisah pada semesta.

Di Depok, pintu terbuka. Dengan sedikit ragu, kuturuti gelagat punggungmu.
Memijalkah kakiku di ranah yang masih jauh dari negeri hujan.
Laju baru separuh dan ada gerbong lain yang bersiap untuk kita huni.
Semenit duduk di kursi besi, lalu kita beranjak menghampiri jalur seharusnya.
Seperempat batang tembakau telah kita asapkan sebelum seorang petugas terlambat datang melarang.

Kereta kedua tiba.
Nuansa lengang tinggal impian.
Pintu terbuka. Didorong dan tanpa sengaja mendorong, kita masuk ke dalam gerbong.
Orang-orang berisik, takut kehabisan. Padahal, hari masih bersisa berjam-jam.
Tapi inilah hidup. Ada ketakutan mengintai, meskipun belum pasti wujud apa yang kita takuti.

Sial, aku kehabisan donat plastik untuk berpegangan, dan lenganmu menjadi satu-satunya pilihan.
Sementara, orang-orang itu mondar-mandir tak mau diam.
Di gerbong kedua ini, makin banyak lakon yang bisa kusaksikan.
Sepasang kekasih yang sibuk dengan handphone masing-masing, bapak tua yang letih ingin duduk, ibu-ibu yang mengamatimu secara rinci, pula suara headset bocor yang sampai akhir kauperhatikan.

                 Citayam - Bojong Gede - Cilebut

Masih saja kutabrak jendela yang sajikan lanskap bergerak. Sesekali kuterpejam. Tajamkan pendengaran sehingga makin banyak suara yang bisa kupilah.
Dan kau terdiam dalam pengamatan jeli, pula sepertiku.
Dengan jas hujan orange dan sabuah kantong plastik berisi ini-itu, kau lebih mirip dengan petugas kebersihan atau petugas pemadam kebakaran yang lupa berganti kostum sebelum pulang.

Lalu, sampailah kita di Buitenzorg, si negeri hujan.
Dan aku teringat pada celotehku tentang pawang hujan. Tentu kini dia sedang bekerja keras menahan hujan.
Mengusahakan kebun raya terlindungi sampai nanti siang kita kembali lagi ke stasiun ini.

Melangkahlah kita susuri negeri hujan, menuju padang rumput teletubies di dekat kolam teratai, lalu bermain peran dalam lakon riuh yang penuh kejutan.


perjalanan singkat dari Jakarta ke Bogor dengan RA pada suatu pagi yang basah
13 Januari 2013



Bidadari yang Membidik

Ada bidadari-bidadari,
diam-diam membidik anak kelinci jantan
dengan panah-panah cintanya.

Tujuannya sama:
memiliki kelinci-kelinci itu, tanpa peduli apa yang diinginkan sang kelinci.


14 Januari 2013



Saat Kau Jadi Lampu

Begitu banyak laron yang mengerubutimu saat kau jadi lampu.
Saat lampu dinyalakan, laron-laron itu langsung tersihir dan menyambangimu.
Aku heran. Sihir apa yang kau punya?

Aku? Hanya serangga penyendiri yang menghampirimu dalam nyala dan tiada.
Tentu, saat laron-laron itu pergi karena puas bermandi cahaya.

14 Januari 2013



Ternyata Cemburu

Mungkin cemburu, degup dada tak menentu, saat kepala dibayangi curiga tentangmu.
Apakah cemburu? Tak terima bayangkan tubuhmu bersanding dengan kekasihmu yang bukan aku.
Ini cemburu, saat udara kuraba, mencari adamu, berharap dia tak bersama kamu.

Ternyata cemburu, yang jadi bukti nyata bahwa aku cinta kamu.

Atas nama cemburu yang melanda.
Kamis, 17 Januari 2013



Bintang Hai Bintang

Bintang kembali datang. Indah. Gemerlapan, meskipun di sekitarnya masih ada kelam awan-awan.
Bintang hai bintang. Aku lupa bagaimana caranya menjamu kamu.
Bintang hai bintang.
Aku hanya ingin menyampaikan, berkali-kali kutatap dalam matamu,
selalu ada kebencian yang meluruh, dan selalu ada cinta yang kembali tumbuh.

seusai makan malam dengan FA
18 Januari 2013



Cerita Luapan Air

Jika ada dua unsur dibandingkan, yaitu air dan api, orang-orang biasanya memandang air sebagai 'superhero' dan api sebagai 'villain'. Air dinilai tenang, menyejukkan, sementara api dinilai penuh emosi, gelora, kemarahan, panas, berbahaya.
Padahal, setiap hal itu tentu ada sisi baik dan buruknya, termasuk air dan api.
Lihatlah, air danau yang dinilai tenang, gerimis yang dinilai romantis, hujan yang bagi beberapa orang menawan, ternyata bisa jadi 'musuh' yang mengerikan. Membuat kita takluk dan merasakan penderitaan.

Ini Jakarta.
Hampir empat tahun aku hari-hari kuhabiskan dengan memijak tanahnya.
Panas, hujan, mendung, berawan, cuaca biasa yang sering kujumpa.
Pula, kabar tentang banjir. Sekadar kuamati melalui cerita atau gambar di layar kaca.
Tetapi, akhir-akhir ini, cerita luapan air itu seperti menyata di depan mata. Mendekat dan merapat.
'Kekuatan jahat' air mulai unjuk gigi, mengambil peranan di degup-hidup kromatis yang kini terasa miris.

Kota ini deganangi air di mana-mana. Jejalan yang biasa kulalui, mendadak seperti sungai yang dihuni kendaraan-kendaraan dan orang yang lalu-lalang di atasnya.
Ada gemas meraja saat hujan turun tak mengenal henti. Berhari-hari, tak ada matahari. Udara terasa lembap, dingin, seperti kota Forks dalam film Twilight. Seperti negeri kelam yang dihuni makhluk-makhluk dingin yang tak saling peduli.

Area ibaku tersita. Tenda-tenda pengungsi menjamur di mana-mana. Pula bayi yang diselamatkan dengan baskom, serta nenek-nenek tua yang berkumpul dalam sebuah gerobak, melintasi terjangan luapan air.
Tak lama, dari berita televisi, yang akhirnya kunyalakan juga setelah berbulan-bulan mendekam diam, ada tangis kematian dari seorang ibu yang ditinggal mati anaknya. Anak yang dilahirkannya itu mati tenggelam di area bassement sebuah gedung bertingkat. Reporter-reporter tv selalu menyebutnya UOB building.

Luapan air ini berbeda dengan bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, atau angin puting beliung. Karena, selain hujan yang memang milik alam, tangan-tangan manusia pun ambil bagian menjadi penyebabnya.
Kini semua telah terjadi, perbaikilah yang salah, berharap dampak lain dapat diminimalisir.

Aku? Masih mendekam dalam dendam karena luapan air yang dengan curangnya pernah merusak hari Sabtu hijauku, pada suatu masa.

18-19 Januari 2013


4 comments:

  1. Saya salut dengan konsistensimu... Jangan pudarkan semangat menulis, ya... :D

    ReplyDelete
  2. OK, bintang, thanks.... lanjut makin semangat menulis yaaa ^^

    ReplyDelete
  3. Mas Sigit Rais, saya sangat ingin banyak belajar tentang dunia menulis. Bagaimana caranya?

    ReplyDelete
  4. ayuks belajar bareng... terus nulis yang rajin ya Mar / Uko? Chan? .. ^^

    ReplyDelete