29 January 2013

Chromatic Notes #4

Lelaki yang Diburu


Di tengah hutan kehidupan, dia terengah menghimpun sisa-sisa oksigen.
Pepohon layu, dedaun kering berserak di jalan setapak.
Dia lelaki yang diburu.
Penyihir-penyihir cinta berkeliaran, bersiap dengan rapal mantra-mantra.
Di rimbun sunyi yang menggerayangi, mereka mengintai, siapkan sereguk reramu untuk bersensasi.

Dia lelaki yang diburu.
Setiap gerhana adalah tawa. Penyihir-penyihir haus cinta yang terkadang nyinyir.
Wanita-wanita yang tak menua dengan melapuknya senja. Abadi dalam mimpi.
Setiap kecupan angin tak hentikan labirin. Dingin, tetapi terus ciptakan ingin.
Dan penyihir-penyihir merapalkan mantra tentang akhir yang tak mungkin.

Dia lelaki yang diburu.
Di setiap celah berpenghuni hantu, ada satu matahari yang dia tuju.
Matahari yang terus membuatnya memburu.

potret diri yang tersesat di hutan sunyi


Pada Mata yang Pendarkan Cemburu

Kupikir, aku tak akan pernah melihat lagi lanskap hantu pada mata itu. Setelah musim berganti, cuaca terus mewanti-wanti, dan setelah kunyalakan sebuah lilin kecil yang hadirkan sederhana kehangatan.
Nyaris saja aku lupa, dahulu pernah ada seorang penunggang kuda yang muncul dari ceruk kegelapan. Dihunuskannya pedang yang menyayat jubah putihku. Ada api di matanya. Orang-orang menyebutnya cemburu.
Musim berlalu. Dedaun layu telah meresap bersama tanah dan jadi sajian lezat bagi akar pepohon yang akan tumbuhkan dedaun baru.
Tetapi, setelah berkali-kali kuturunkan salju, ternyata api itu masih ada. Dari isi kepala, ia meluap terpancar melalui matanya.
Payung-payung murung, juga semak tajam yang menyelubung.
Terdengar nyanyian tentang ketaksempurnaan manusia. Ketaksempurnaan yang melekat padaku, dia, dan kau.
Ketaksempurnaan kita memaknai isyarat kata hati yang terus-menerus diingkari.
Senja nyaris berakhir. Dan kita masih di tempat yang sama. 
Kita beranjak, tinggalkan tanya dan jejak. Lamat kukurimkan doa pada bahunya, pada bahumu, pada setiap langkah kita yang selalu terkoneksi dengan cara yang tak biasa. 

*saat hadirku kupikir jadi sebuah kejutan menyebalkan di suatu senja 
21 Januari 2013



Seperti Ada yang Menghilang dan Bersembunyi

Ada tubuh yang menghilang ditelan awan. Mungkin ditelan serapah bocah-bocah gelisah yang berharap alam meramah.
Ini Jakarta dan masih hujan. Masih saja hujan dan masih terus hujan. Kita lalui perkasa matahari bersama, pula dengan hujan yang terus.

Sehari ini, aku terus direkatkan dengan firasat yang melekat pada tubuh dinginmu. Di situlah bisa kulacak dia yang menghilang dan sembunyi. Mungkin sengaja. Mungkin kau tahu dan ikut menyembunyikan.
Kadang aku tak peduli. Tetapi, sesekali bayangan kelam itu menghantui.

Kau tahu? Aku ketakutan setengah mati.
Seperti ada orang yang menginginkanku mati.
Kau peduli? Aku tak peduli.
Tetapi ini tentang kita. Bisa jadi, tanpa kau sadari, ada yang mengintai. Ya, dia yang menghilang dan bersembunyi.

Atau bisa jadi pula, kaulah bagian dari pekat kegelapan yang diam-diam datang menakuti.
Sepertinya banyak cerita yang bisa kuurai tentang ini.

Kau tahu? Aku ketakutan.
Ingin sembunyi di balik utuh dekapanmu.
Tetapi, kadang hadir imaji kau menyeringai sembari mendekapku.

Lalu itu siapa? Seperti ada yang menghilang dan bersembunyi. Mengintai kita dari balik jeruji.

Kau peduli? Aku tak peduli.
Tetapi, bisakah sekali waktu kita saling berkisah agar musnah seluruh bulir gelisah?
Adakukah yang sebenarnya jadi warna kromatis di geliat detikmu?

*pertanyaan 22 Januari 2013



No comments:

Post a Comment