11 June 2014

Sie Liebdt Dich - cerpen Sigit Rais -

(Majalah HAI, 23 Februari - 1 Maret 2009/ TH XXXIII No.8)




“Halah! Dasar kuya batok! Masa sih tugas bikin puisi minta tolong sama gue? Please deh! Secara gitu loh!” ujarku kesal.
“Ayo dong fren, please, masa sih lo tega ngebiarin Bu Tuti nulisin angka jelek buat nilai Bahasa Indonesia gue, ayo dong Ka,” bujuk Ikhsan sambil menarik-narik jaketku.
“Ga, ini bukan soal nilai, ini soal karya nih! Enggak bisa sembarangan!”


“Sekali ini aja Ka, lagian cuman puisi doang kok!”
“Eh! Sembarangan! Cuma puisi doang kata lo? Waduh! Lo mau ditabokin penyair se-Jawa Barat ya? Lo pikir puisi tuh kacang goreng yang bisa diperlakukan seenaknya? Puisi tuh karya seni Man! Nggak cukup dikasih nilai 123 atau ABCD doang! Puisi tuh hasil pemikiran, perasaan, dan….”
Euleuh-euleh, lagak lo, udah sok kayak sastrawan besar aja. Please dong Ka, kali ini aja, please, please…” Ikhsan terus memohon-mohon. Akhirnya aku menyerah. Bukannya apa-apa, konsentrasiku terus terganggu oleh rengekannya. Kalau begini terus, kapan tugas makalah Sosiologi ini bisa kuselesaikan? Bisa-bisa besok aku kena marah Bu Mince lagi.
“Ya udah, tapi inget, kali ini aja!” 
Ikhsan mengangguk-angguk seperti anak kecil yang dilarang jajan sembarangan oleh mamanya.
Thanks bro! Jasamu tak akan kulupakan, karena engkau adalah sahabat yang…..” ujar Ikhsan sambil berlagak seperti seseorang yang sedang membaca puisi.
“Apaan sih? Udah deh sana pulang! Udah malem nih!
“Aduh, segitunya. Ngusir nih Mas?”
“Iya!”
“Ya udah, gue caw dulu ya! Good luck fren! Jangan lupa lusa harus udah dikumpulin, okey?”
“UH! Pake merintah lagi! Sialan!” ujarku sambil melempar ballpoint ke arah Ikhsan.
“Eit, nggak kena! Inget Man, ikhlas! Dadah!”
“ARRRRGGHH!!”

***

            Kantin Mang Rojak penuh sesak. Anak-anak bejubel memadati kantin mungil yang ada di pojok sekolah. Ada yang memesan mie ayam, kupat tahu, nasi kuning, bahkan ada beberapa anak yang memborong banyak makanan untuk dimakan di dalam kelas. Di depanku, segelas susu soda dan dua potong brownies kukus menemaniku mendengarkan lagu-lagu The Beatles dalam MP4 playerku. Sejak tadi sudah tiga lagu yang masuk ke dalam telingaku, I Want To Hold Your Hand, Hey Jude, dan kali ini lagu berbahasa Jerman, judulnya Sie Liebdt Dich. Tiba-tiba Ikhsan datang merusak ketenanganku.
            “DARR!” Ikhsan menggetkan aku dari arah belakang.
            “Buset! Dasar kuya batok! Kutukupret gonjring! Kalo gue jantungan terus mati gimana?” ujarku kesal.
            “Aduh sori Ka! Tapi yah, kalo lo mati ya dikuburlah, paling gue berdoa supaya dosa lo diampuni, hehehe!”
            “Sialan!”
            “Eh Ka, gue udah dapet info nih tentang Atra, kecengan lo!”
            Mendadak aku bersemangat. Kulepas earphone agar aku bisa mendengar ucapan Ikhsan lebih jelas.
            What? Terus, terus?” ujarku penuh semangat.
            Tapi Ikhsan malah memalingkan wajahnya sambil bersiul.
            “Terus Ga?” tanyaku penasaran.
            “Eh, ehem, tapi aku haus nih Ka, gimana ya?” ujarnya sambil melirik gelas berisi susu sodaku. Aku segera menyodorkan susu soda itu ke arahnya. Dengan sigap Ikhsan segera menyeruput susu soda yang tadinya masih memenuhi volume gelas.
            “AH! Segeerrrrr!” Ikhsan berhenti sejenak. Ia melap mulutnya dengan tangan lalu melanjutkan pembicaraannya, “ternyata si Atra belum punya cowok, Ka! Masih jomblo gitu deh!”
            Mendadak muncul euforia! Aku merasakan kebahagiaan. Hatiku berbunga-bunga. Dunia ini terasa seperti gurun pasir yang baru disirami hujan deras.
            “Beneran Ga?” tanyaku menggebu-gebu.
            Ikhsan mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi aku segera berlari menuju kelas. Aku harus segara “berburu”.
            “Reka! Mau ke mana? Ini brownies sama susu sodanya gimana?”
            “Buat lo aja! Udah gue bayar kok! Perjuangan harus dimulai nih!”  

***

            Dua hari kemudian aku mulai dekat dengan Atra, walaupun saat ini statusku masih sebagai teman biasa. Anehnya Atra langsung akrab denganku. Bahkan sepertinya Atra yang mau mendekatiku.
            “Wah, ternyata kamu nyenengin juga ya Ka,” ujarnya sambil mengunyah permen karet. Pipi Atra yang cukup chubby membuatku gemas, ditambah lagi lesung pipit yang membuatnya terlihat semakin manis. Ingin sekali rasanya kucubit pipi itu. Mungkin nanti setelah aku berhasil merebut cintanya.
            “Ka, lo tuh kompak banget ya sama si Ikhsan, mirip Desta sama Vincent Club Eighties gituh,” ujarnya.
            “Ah, masa sih?” tanyaku sambil pura-pura heran.
            “Beneran. Malah kadang-kadang, kalian kayak anak kembar lho, abisnya, udah tingginya sama, bentuk rambutnya sama, sering bareng pula.”
            “Ah, itu mah dia aja yang ngikut-ngikut gaya gue. Tapi tetep gue kan yang paling keren, hehehe…” Aku tersenyum lebar, mungkin selebar Joker si musuh Batman.
            Tiba-tiba Atra batuk. Ia tersedak dan permen karetnya tertelan.
            “Ya ampun Mil!” Aku segera memijat-mijat lehernya sampai akhirnya permen karet melompat dari mulutnya. Tiba-tiba Atra tertawa geli. Aneh.
            “Mil, kamu kenapa?”
            “Engga, hihihi, cuma geli aja, abisnya kamu narsis banget sih!”
            Tiba-tiba mukaku memerah, entah kenapa. Yang jelas kali ini aku benar-benar bahagia. Harapanku pada Atra pun semakin besar. Aku yakin hati Atra bisa kudapatkan.
***
            Jam dinding terus mengeluarkan irama detiknya. Ia bersimfoni dengan suara jangkrik yang bernyanyi di luar kamarku. Aku merasa bahagia. Puisiku terpilih sebagai puisi terbaik oleh Bu Tuti dan dipajang di mading mulai tadi siang. Tapi sayang, puisi yang terpilih adalah puisi yang dikumpulkan atas nama Ikhsan. Sedang puisi atas namaku malah tidak masuk urutan lima besar. Tapi biarlah, toh itu masih karyaku, lagipula mana mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Bu Tuti, bisa-bisa Ikhsan dihukum. Untunglah Ikhsan teman yang baik, ia tidak banyak tingkah walaupun banyak anak yang mengaguminya karena puisi itu. Aku mengerti posisinya, ia tidak mungkin jujur pada semua orang bahwa itu karyaku, nilai Bahasa Indonesianya bisa terancam.
            “Ga, gimana ceritanya sampe kamu bisa bikin puisi sebagus puisi Dia Mencintaimu? Dapet dari mana inspirasinya?” tanya seorang wartawan ekskul buletin tadi siang sepulang sekolah.
            Ikhsan bingung harus jawab apa. Kami hanya saling tatap. Beberapa kali Ikhsan memberikan isyarat dan aku hanya bisa mengangkat bahuku. Mendadak Ikhsan berdiri, dia lalu berlari ke arah toilet.
            “Aduh, sori, si Ikhsan kayaknya kebelet. Mau tahu sumber inspirasinya?  Gue tahu kok, soalnya kemaren dia cerita.”
            “Oh ya? Gimana katanya?
            “Dia tuh suka sama seorang cewek, nah, tapi sayang si cewek malah suka sama temennya. Nah, itu puisi ditujuin buat temennya itu, gitu. Dia bilang sih itu puisi terinspirasi sama salah satu judul lagunya The Beatles, Sie Liebdt Dich, artinya dia mencintaimu, gitu!”
            “Oo…” ujar wartawan cilik itu sambil manggut-manggut seperti wayang golek Si Cepot yang sering muncul di salah satu televisi swasta lokal.
            Begitulah, mendadak Ikhsan jadi seseorang yang dicari-cari. Dia seperti selebritis yang dikejar infotaintment karena melakukan sesuatu yang menghebohkan. Aku jadi kasihan juga. Gara-gara itu, dia jadi tidak tenang, serba salah, dan dikejar-kejar rasa takut.
            Tiba-tiba Mama memanggil-manggil namaku.
            “Reka, ada telfon! Katanya Atra!”
            Aku segera berlari ke luar kamar menuju meja telfon. Ternyata memang Atra.
            “Mil, ada apa?”
            “Sori ganggu, ada yang mau gue omongin, besok bisa nggak pulang sekolah kita mampir dulu ke taman Ganesha?”
            “Oh, boleh aja. Emang ada apa Mil?”
            “Ya udah, besok aja ya, oke, malem…”
            “Yu….”
            KLIK!
            Kututup telfon dengan kepala yang masih dipenuhi tanya. Entah apa yang akan terjadi besok. Kuharap Atra memberikan lampu hijau padaku untuk mendapatkan cintanya. I hope, I wish, I pray.

***
            Suara burung melatari suasana siang menuju sore di taman ganesha. Matahari sedikit condong. Mungkin sudah pukul tiga sore. Aku dan Atra duduk di sebuah bangku besi yang dinaungi sebuah pohon besar. Beberapa ekor burung melintas di atas kepala kami. Mereka lalu lalang di udara, entah sedang apa, mungkin sedang mencari makan untuk anaknya.
            “Ka, gue mau jujur nih,” ujarnya sedikit tersipu. Mukanya memerah.
            Dadaku mendadak berdegup makin kencang. Aku merasa setelah ini aku akan berhasil mendapatkan cintanya.
            “Gue…”
            “Kenapa Mil?”
            “Gue…gue…gue…suka..”
            “Kenapa? Suka apa?” tanyaku sembari berharap Atra berkata ‘aku suka sama kamu’. Detik demi detik rasanya berlalu dengan sangat lambat. Ini seperti adegan slow motion yang ada dalam sinetron saat akan usai dan menampilkan tulisan ‘bersambung’ di bagian bawah layar tv.
            “Gue suka sama Ikhsan, Ka. Tapi gue nggak berani bilang ke dia.”
            JELEGER! Halilintar seakan menyambar jantungku. Perasaanku campur aduk. Ternyata Atra menyukai Ikhsan. Aku kehabisan kata-kata. Aku kehilangan harapan.
            “Sejujurnya, gue deketin lo tuh biar gue tahu lebih banyak tentang Ikhsan Ka.”
            JELEGER! Halilintar kembali menyambar, kali ini menyambar ubun-ubunku. Aku mati kutu. Aku hanya bisa mematung.
            “Terus, kemaren pas gue baca puisi dia yang nongol di mading, gue makin cinta sama dia Ka, gue nggak sanggup nahan perasaan gue lagi. Gue takut kehilangan dia, apalagi setelah gue denger kabar bahwa makin banyak cewek yang suka sama Ikhsan gara-gara puisi itu.”
            Aku terdiam. Entah harus bicara apa.
            “Ka, lo mau kan bantuin gue? Please, lo kan temen gue yang paling baik. Please comblangin gue sama Ikhsan. Lo mau ya?”
            Perlahan kuanggukkan kepalaku. Hatiku benar-benar kosong. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Ikhsan. Setelah ini aku tidak tahu apakah aku bisa menerima kekalahan ini? Tapi kekalahan apa? Toh aku dan Ikhsan tidak sedang bersaing. Jadi ini apa namanya? Ah, aku pusing. Kacau!
            Setelah supir Atra datang menjemput, Atra pun segera pulang dengan menyimpan harapan besar di pundakku, harapan untuk bisa memiliki Ikhsan. Harapan itu benar-benar membebaniku. Aku benar-benar bingung. Kupasang saja earphone di telingaku. Kembali lagu-lagu The Beatles melatari suasana hatiku di sore yang semakin jingga ini. Kutekan tombol play, dan…..
            Sie liebdt dich, je je je
            Sie liebdt dich je je je
            Sie liebdt dich je je je je….

***

No comments:

Post a Comment