20 June 2013

Di Ujung Rokok

Aku ingin berhenti merokok.

Kalimat itu yang berkali-kali kucoba untuk kutanamkan, walau masih sulit. Kalimat itu juga pernah kusampaikan padanya.

"Berhentilah jika memang mau," ujarnya lembut.
Kukatakan padanya, "sulit, karena sampai saat ini belum ada yang melarangku."

Aku terdiam. Dia juga.

"Kamu mau jadi pelarangku untuk merokok?" tanyaku lirih.
Banyak harap tumbuh di dada. Aku ingin dia memintaku berhenti merokok. Aku ingin dia jadi motivasi yang menyelamatkan degup jantungku.

"Sebaiknya keinginan dan kekuatan untuk berhenti merokok itu datang dari diri sendiri," jawabnya lembut.
"Kenapa? Bukankah usaha akan semakin berenergi jika ada dorongan?" tanyaku sambil mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan cricket-nya dari saku celana.
"Kelak, jika kita sudah tidak bersama, pendorongmu juga akan tak ada. Pada akhirnya, kamu akan kembali bersahabat dengan asap itu," paparnya sambil tersenyum lembut.

Rasanya ingin lanjut bertanya, "memangnya kamu mau kemana? Apa yang akan jadi pemisah kita?" Tetapi, kupikir itu akan sangat memperluas ranah pembicaraan.

"Oke kalau begitu. Sepertinya sekarang aku belum bisa merokok," ujarku sedikit tergesa sambil memantik cicket.

Api menyala, lalu menjalar di ujung rokok yang satu sisinya sudah melekat di bibirku.

No comments:

Post a Comment